Serikat Jesus Provinsi Indonesia

MENJADIKAN PAROKI JESUIT… JESUIT!

Menjadikan paroki Jesuit itu memiliki cita rasa Jesuit tentu saja tidak mudah dan harus diusahakan. Untuk itu, dibutuhkanlah pintu masuk, yaitu UAP yang diberikan oleh Pater Jenderal beberapa saat lalu.
DSC05819

Menjadikan paroki Jesuit itu memiliki cita rasa Jesuit tentu saja tidak mudah dan harus diusahakan. Untuk itu, dibutuhkanlah pintu masuk, yaitu UAP yang diberikan oleh Pater Jenderal beberapa saat lalu. Penjelasan dari Rm. Beni sangat menekankan tentang UAP: showing the way to God, walking with the excluded, journeying with youth, caring for our common home. Beliau mengajak para rama paroki untuk menggunakan UAP no. 3 sebagai pintu masuk ke nomor-nomor UAP lainnya. Kita perlu memahami preferensi sebagai penunjuk arah/panggilan, bukan pilihan atau prioritas. UAP hendaknya dipahami sebagai arah gerak Serikat. Hal-hal yang tidak disebut di UAP tetap dijalankan dengan memaknai 4 arah itu. Maka, pertanyaan reflektifnya: sejauh mana karya saya terinspirasi oleh 4 arah itu? UAP ini bukan hal yang harus dikerjakan melainkan inspirasi bagaimana mengerjakan hal tersebut. Bukan hanya tentang doing tetapi juga tentang being. Namun yang lebih penting adalah adanya perubahan, pertobatan individu, institusi.

Menemani orang muda
Kaum muda dan orang miskin menjadi locus theologicus. Artinya, meminjam kacamata orang muda untuk melihat dunia. Melalui orang muda dan situasi yang mereka hadapi, Gereja membaca gerak Roh. Misalnya, menurut orang muda, seperti apakah pastor paroki itu?
Mengapa penting melihat dari sisi orang muda? Karena kaum muda adalah wajah perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat dan Gereja: transformasi antropologis yang digerakkan budaya digital. Gadget bukan sekedar alat, tapi juga pengubah diri kita. Cara kerja kita pun berubah, misalnya berbagi informasi melalui grup Whatsapp, bukan lagi melalui e-mail. Selain itu, orang muda perlu diberi tempat di Gereja, membuka atau menciptakan ruang dalam Gereja dan Serikat bagi diskresi agar kaum muda bisa tumbuh.

Dunia dalam kacamata orang muda
Kelihatannya orang muda apolitis, tetapi ternyata tidak. Orang muda yang berpolitik tampak dalam Gerakan Gejayan memanggil. Koordinasi mereka lakukan lewat media sosial. Uniknya, informasi untuk gerakan itu baru dua atau tiga hari sebelumnya. Maka orang muda memiliki kekhasan spontanitas. Sementara kita terbiasa dengan planning yang jangka panjang. Pada tahun 2013, ada penelitian tentang bagaimana medsos menggerakkan orang. Medsos bisa menggerakkan dengan tiga syarat: tema non-mainstream, kemasan simple dan tindakan tidak berisiko seperti menandatangani petisi, koin untuk Prita. Anehnya, peristiwa Gejayan Memanggil justru berkebalikan: temanya mainstream (politis), kemasan berat (menuntut pemerintah yang berkuasa, 7 tuntutan), dan tindakan berisiko. Peristiwa itu bahkan mengundang kecurigaan pemerintah yang berkuasa.
Akun Jesuit Insight mencoba memasuki dunia orang muda. Kesuksesan medsos adalah followers. Dari followers Jesuit Insight, usianya 25-34 (perempuan 36%, 54% laki). Padahal harapannya lebih muda dari itu. Tema yang di-like juga malah tema-tema tradisional dari pada tema sosial atau intelektual. Dari data ini, orang muda yang suka dengan kita adalah orang muda yang suka dengan tema keagamaan tradisional.
Dari 150 juta pengguna Internet di Indonesia, 142 juta orang memanfaatkan Internet melalui handphone. Artinya, kebanyakan orang Indonesia mengenal Internet lewat handphone mereka. Mereka rata-rata bahkan dapat menghabiskan waktu 4 jam untuk mengakses media sosial. Lalu, bagaimana kita bisa menemani kaum muda dengan profil seperti ini?
a. Di mana mereka berada, bukan di mana kita kira mereka berada. Kita yang harus datang menjumpai mereka.
b. Remaja belasan tahun paling sulit diraih. Alasan pertama, Ghettoisasi: terjebak dalam identitas ekslusif, yaitu katolik. Alasan kedua, mager. Mereka mengalami overstimulated, terlalu banyak rangsangan dari luar. Kalau tidak ada stimulus, mereka mager. Stimulus sekarang adalah medsos. Persoalan anak zaman sekarang bukan dolan sampai pagi, tapi di kamar main medsos. Alasan ketiga, kesepian dalam konektivitas. Anehnya, dalam zaman terkoneksi ini, orang mengalami kesepian, kesepian yang kolektif.
c. Apakah tawaran kita? Membangun identitas inklusif lewat memper-temukan orang muda Katolik dengan pemeluk agama lain. Kemudian orang muda kita ajak untuk menemukan sukacita dan transendensi. Untuk melawan isolasi, kesepian, ajaklah orang muda untuk membangun komunitas, membangun perjumpaan offline.
d. Materialitas. Tantangan kita adalah mengajak orang muda untuk menemukan Allah dalam rutinitas konkret. Selanjutnya, program dan kegiatan yang disusun perlu memiliki objek atau referensi material. Misalnya, Jesuit insight sesekali memberikan hadiah untuk pemenang kuis. Berikutnya adalah “receh namun berisi”. Misalnya, kita dapat mencontoh akun media sosial Katolik Garis Lucu dengan 25 ribu followers-nya, yang memuat topik-topik remeh, tetapi digarap secara serius.

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *