BERBAGI ITU TIDAK RUGI

Pada 26 April s.d. 2 Mei 2019 lalu, Politeknik ATMI Surakarta menjadi tempat rujukan bagi 17 Sekolah Madrasah Aliyah Kejuruan maupun Madrasah Aliyah plus keterampilan se-Indonesia untuk melaksanakan bimbingan teknis pengelolaan madrasah vokasi/keterampilan.
atmi 1

Pada 26 April s.d. 2 Mei 2019 lalu, Politeknik ATMI Surakarta menjadi tempat rujukan bagi 17 Sekolah Madrasah Aliyah Kejuruan maupun Madrasah Aliyah plus keterampilan se-Indonesia untuk melaksanakan bimbingan teknis pengelolaan madrasah vokasi/keterampilan. Kegiatan ini diprakarsai oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, bekerja sama dengan Kementerian Agama, kerja sama Jerman (Deutsche Zusammenarbeit), dan GIZ (Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit GmbH). Madrasah rujukan ini nantinya bertanggung jawab untuk menyebarluaskan penerapan instrumen atau pendekatan pendidikan vokasi pada lebih dari 180 Madrasah Aliyah Kejuruan dan Madrasah Aliyah plus Keterampilan lainnya.
Model bimbingan teknis (bimtek) yang diajarkan berupa pembelajaran teaching factory. Penerapan model pembelajaran teaching factory bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang menguasai kompetensi tertentu sesuai dengan standar industri serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Lebih jauh lagi penerapan model pembelajaran ini akan meningkatkan keselarasan antara pengembangan keterampilan (skills), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude).


Dalam pelaksanaan bimtek itu, instruktur atau rekan ATMI yang mendampingi mengajarkan prosedur, standar, dan urutan kerja sebagaimana dilaksanakan di industri untuk menghasilkan suatu produk. Para peserta bahkan dilatih bekerja secara mandiri dan berkelompok untuk menangani suatu tugas dengan standar industri. Mereka juga ditunjukkan bagaimana menghasilkan produk berkualitas melalui jadwal belajar yang telah ditentukan (jadwal blok). Sekembalinya dari pelatihan ini, mereka sangat diharapkan melakukan peningkatan mutu pendidikan vokasi di madrasahnya, serta memperbarui cara belajar-mengajar. Jadi, sementara keterampilan guru bertambah baik, terlebih lagi peningkatan kualitas itu menular juga pada anak didik mereka. Dengan demikian setiap lulusan lembaga pendidikan kejuruan akan memiliki kemampuan untuk menangani suatu tugas sesuai dengan standar industri.
Kita tentu bisa melihat bahwa penunjukan ATMI sebagai tempat untuk menimba ilmu bagi perwakilan dari berbagai madarasah ini adalah bentuk kepercayaan pemerintah dan institusi lain. Mereka merasa perlu mencari menggali dari sumber yang berkualitas karena teruji. Harapannya semua orang yang datang ke ATMI akan mendapatkan kejernihan sekaligus terbuka pemahamannya sehingga apa yang tadinya menggelisahkan sekarang menemukan solusinya.


Maka, ATMI membuka diri pada siapa saja yang ingin mereguk ilmunya. Pesan keterbukaan inilah yang coba ditawarkan ATMI dalam rangka merajut nilai-nilai keberagaman. Melayani tanpa pandang bulu adalah pesan perdamaian yang juga sejalan dengan prioritas Provindo 2018-2024, yaitu mengembangkan keterbukaan pada keberagaman di level pribadi dan institusi. Dengan menjadi tidak eksklusif, ATMI mencoba ikut andil membangun dunia dan Indonesia yang lebih damai. Jika mereka ingin maju dan kita melihat itu baik, pastilah akan kita bantu. Tentu dengan pelayanan prima dan penuh hospitalitas, pesan perdamaian itu akan memancar keluar. Ketika melihat kebaikan ada di sini, mereka tidak akan takut dan justru membuka diri dengan terus bekerja sama. Kita tak akan pernah rugi karena berbagi. Jika tidak menjalani apa yang disediakan hari ini, kita tak akan pernah punya pijakan melangkah untuk hari depan.

Fr. V. Doni Erlangga, SJ

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print