Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

102 Tahun Yayasan Kanisius: Terus Hadir Melayani Anak-anak Indonesia

Yayasan Kanisius yang bergerak di bidang pendidikan kini telah berusia 102 tahun, tepatnya pada tanggal 21 Oktober 2020. Pada 1918 telah didirikan Canisius Vereniging di Muntilan dan pada 21 Oktober 1918 di kediamannya di Cipanas. Gubernur Hindia Belanda menandatangani akta pendirian Canisius Vereniging sehingga dengan demikian memberi status hukum resmi. Perasaan syukur atas segala hal baik yang ditaburkan sejak awal pendiriannya hingga saat ini patut dirayakan secara sepantasnya. Bagi Romo Mintara SJ, puncak syukur ini harus dirayakan dengan Ekaristi karena itulah puncak syukur perayaan 102 tahun Yayasan Kanisius. Segala rencana yang telah dicanangkan pada masa sebelum merebaknya pandemi, terutama kegiatan-kegiatan untuk menyambut perayaan ulang tahun Yayasan Kanisius, banyak yang tidak terjadi dan tidak terlaksana. Akan tetapi, hal tersebut tidak mengurangi rasa syukur dari lubuk hati terdalam guru-guru dan para siswa siswi yang bernaung di bawah Yayasan Kanisius bahkan juga alumni sekolah-sekolah Kanisius serta para donatur yang dengan murah hati selalu membantu Yayasan Kanisius. Setidaknya ada beberapa hal yang diusahakan untuk menandai rasa syukur ini. Yayasan Kanisius Cabang Semarang dan Surakarta membuat frame foto digital atau twibbon sehingga semua yang terlibat di dalam Yayasan Kanisius dapat mengunggah foto mereka di media sosial dengan bertuliskan “Selamat Ulang Tahun Ke-102 Yayasan Kanisius”. Berbagai model foto yang diunggah dalam sosial media mereka ada berbagai macam, ada yang model selfie maupun model foto bersama. Hal ini bukan semata untuk pamer atau menunjukkan kegembiraan secara dangkal, melainkan sebagai sarana menunjukkan kesatuan hati dan budi di antara masing-masing pribadi di dalamnya. Selain itu, guru, murid, warga sekitar lingkungan sekolah, alumni, mitra kerja dan juga donatur memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Yayasan Kanisius dalam video yang diunggah di channel Youtube Yayasan Kanisius Pusat Semarang. Selain photo twibbon tersebut, Yayasan Kanisius Cabang Semarang mengadakan webinar bekerja sama dengan Penerbit-Percetakan PT Kanisius, yaitu launching Buku Home Visit pada 20 Oktober 2020. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa guru mengenai pengalaman mereka mengajar para murid di tengah pandemi ini. Guru-guru mengunjungi murid-muridnya karena tidak bisa melakukan pembelajaran daring. Banyak kisah menarik dan menyentuh tentu bisa dibaca secara menyeluruh di dalam buku yang diberi judul Home Visit tersebut.Yayasan Kanisius Cabang Semarang juga mengadakan rekoleksi berantai untuk semua guru dan karyawan, di mulai dari rekoleksi ketua rayon yang dipimpin oleh Romo Mintara SJ, kemudian ketua rayon memimpin rekoleksi untuk kepala sekolah dan kemudian kepala sekolah memimpin rekoleksi di unit sekolah masing-masing untuk para guru dan karyawan sekolah. Tepat 102 tahun Yayasan Kanisius, yaitu Rabu, 21 Oktober 2020, kami mengadakan misa syukur yang dipimpin oleh Romo Provinsial Serikat Jesus Indonesia, Romo Beni SJ dan didampingi oleh Romo Martin SJ serta Romo Mintara SJ. Dalam homili, Romo Beni bercerita sedikit mengenai dirinya sebagai seorang alumnus sekolah Kanisius dan juga berkisah tentang ayahnya yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah SMK SPP Kanisius Ambarawa. Pengenangan tersebut adalah bagian dari nostalgia. Tentu, dengan umur yang sudah tidak lagi muda, ada banyak hal yang bisa dikenang dan disyukuri. Namun, Romo Beni SJ mengajak kita untuk tidak berhenti hanya pada hal tersebut, tetapi mengajak semua untuk semakin bersemangat dan maju. Mgr. Rubiyatmoko juga berpesan kepada Yayasan Kanisius Kanisius untuk terus maju agar semakin menarik bagi anak-anak Katolik. Tentu semua hal itu adalah undangan bagi siapa saja yang berada di dalam Yayasan Kanisius yang bergerak di bidang pendidikan, yang sekarang ini menegakkan tiang-tiang penopang Kanisius untuk selalu hadir melayani anak-anak Indonesia, mendidik mereka untuk menjadi orang muda penerus bangsa ini. Di usia yang sedemikian panjang, lebih tua daripada usia kemerdekaan Indonesia, Yayasan Kanisius sudah hadir untuk mendidik orang-orang muda serta menjadi sarana bagi para misionaris untuk mengembangkan Gereja lokal di tanah misi. Romo Beni SJ mengajak semua saja yang terlibat di dalam Yayasan Kanisius ini untuk menegakkan fondasi yang kokoh di bidang pendidikan, terutama dalam mendidik anak-anak negeri ini. Semoga nantinya semua dari kita, masih dapat menantikan ulang tahun-ulang tahun yang berikutnya sambil terus berjalan bersama orang muda dan juga menunjukkan jalan kepada Allah melalui sarana pendidikan di Yayasan Kanisius. Terima kasih atas segala doa, perhatian dan jerih payah untuk terus menegakkan fondasi yang dulu telah dicanangkan oleh para pendahulu. Selamat ulang tahun Kanisiusku. Joseph Marendra Dananjaya, SJ

Karya Pendidikan

TETAP BERKARYA DAN BERSYUKUR DI TENGAH PANDEMI

“Ketika Mas Yanto (Suyanto—ketua panitia Michael Day 2020) bertanya kepada saya, ‘Apakah Michael Day nanti akan ada misa?’, saya menjawab, ‘Ada!’” Demikian Pater V. Istanto Pramuja, SJ membuka homili dalam perayaan Ekaristi Michael Day 2020 di Kolese Mikael Surakarta. Bagi beliau, perayaan Ekaristi Michael Day 2020 memperlihatkan masih adanya suatu kegiatan yang dapat dilakukan bersama pada masa pandemi seperti saat ini. Dan, kegiatan bersama itu merupakan ungkapan iman seluruh warga Kolese Mikael. Perayaan Ekaristi yang diselenggarakan pada hari Selasa, 29 September 2020 lalu merupakan puncak dari rangkaian kegiatan dalam rangka Michael Day 2020. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh lima imam yang berkarya di Kolese Mikael, yaitu PP. V. Istanto Pramuja, SJ; T. Agus Sriyono, SJ; Andreas Sugijopranoto, SJ; R. Mathando Hinganaday, SJ; dengan selebran utama Pater F. Kristino Mari Asisi, SJ. Mengambil tema “Tetap Berkarya dan Bersyukur di Tengah Pandemi”, perayaan tahunan ini dijalankan dengan protokol kesehatan, baik pembatasan jumlah peserta kegiatan, keharusan menjaga jarak, memakai masker, maupun penggunaan QR code bagi umat untuk mengakses teks perayaan Ekaristi. Dekorasi altar yang didominasi buah-buahan dan sayur-mayur untuk menyimbolkan ungkapan syukur dan persembahan warga kolese kepada Tuhan. Ungkapan syukur itu diperjelas Pater Istanto di dalam homilinya, mulai dari bersyukur karena tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di kolese hingga masih adanya pesanan untuk dikerjakan oleh ATMI. Sebelum perayaan puncak, kegembiraan Michael Day telah dimulai dengan penyelenggaraan lomba-lomba online. Sebut saja, misalnya, lomba membuat backdrop acara dan fotografi untuk warga kolese, serta mewarnai untuk anak-anak pegawai kolese. Rangkaian lomba tersebut masih disambung dengan Hari Alumni. Di dalam acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 September 2020 malam itu, beberapa perwakilan dari Ikatan Keluarga Alumni Kolese Mikael (IKAMI) berbagi pengalaman mengenai jatuh bangun mereka di dunia kerja. Selain itu, mereka juga menceritakan pengalaman bekerja sama dengan almamater mereka tercinta, khususnya dalam menerima siswa atau mahasiswa magang. Perayaan Michael Day 2020 tetap terasa khidmat di dalam kesederhanaannya. Di dalam perayaan ini, harap-cemas karena pandemi dilebur dalam rasa syukur kepada Tuhan dan komitmen untuk tetap melayani sesama. Rafael Mathando Hinganaday, SJ

Karya Pendidikan

Technical Competence is My Life

Sabtu 26 September 2020 menjadi hari yang membahagiakan bagai teman-teman mahasiswa ATMI Angkatan 50. Setelah menjalani studi selama tiga tahun di ATMI, mereka akhirnya lulus dan diwisuda dengan gelar ahli madya. Mereka yang diwisuda berjumlah 146 orang yang berasal dari tiga program studi yaitu, Teknik Mesin Industri, Teknik Mekatronika, dan Perancangan Manufaktur. Acara wisuda berlangsung dari pukul 8.00 hingga pukul 11.00 siang. Beda dari tahun-tahun sebelumnya, wisuda kali ini dilakukan dengan metode drive thru. Hal ini mengingat pandemi COVID-19 masih melanda dunia sekarang ini. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, para mahasiswa yang diwisuda hadir secara bergantian dengan menggunakan kendaraan masing-masing. Live streaming wisuda juga ditayangkan melalui kanal Youtube untuk mengakomodasi para sahabat dan kerabat yang tidak bisa hadir pada momen bersejarah itu. Selain menayangkan proses wisuda, panitia wisuda juga memperlihatkan tugas akhir para wisudawan di sela-sela proses wisuda. Sama seperti wisuda pada umumnya, para wisudawan tetap menggunakan toga dari rumah. Selain itu, para orangtua juga hadir memberikan dukungan bagi buah hati mereka. Meskipun tidak bisa ikut menemani di atas panggung, para orangtua tetap terlihat bahagia menunggu anak-anak mereka di dalam kendaraan. Wajah semringah dan lega terlihat dengan jelas pada wajah orang tua. Dalam sambutan yang disampaikan perwakilan mahasiswa, Alloysius Rizky Susetya mengatakan, “kekecewaan karena tidak bisa merayakan wisuda secara meriah tentu ada. Akan tetapi, kekecewaan tersebut tidak menutupi rasa syukur yang begitu besar karena bisa menikmati kelulusan.” Selain itu, Alloysius menambahkan bahwa dirinya merasa bersyukur bahwa di masa-masa mendekati terselesaikannya masa studi yang diwarnai pandemi, ATMI tetap mengusahakan kompetensi yang terbaik bagi para mahasiswanya. Meskipun ada perubahan dalam sistim pembelajaran, kualitas lulusan ATMI tetap dijaga sebaik mungkin. Hal ini sejalan dengan yang diharapkan oleh Rm. T. Agus Sriyono, SJ, selaku direktur Politeknik ATMI Surakarta. Rm. Agus dalam sambutan wisuda mengatakan bahwa kompetensi adalah hal yang dicari dan didapatkan oleh para lulusan selama menjalani studi di ATMI. Kompetensi tersebut adalah fondasi bagi perjalanan hidup dan karier selanjutnya. Tidak hanya itu, karakter-karakter yang diolah dan didapatkan selama di ATMI juga harus terus diperjuangkan. Sesuai dengan misinya, ATMI berharap bahwa para lulusannya dapat langsung mendapatkan lapangan pekerjaan setelah menyelesaikan masa studi. Setelah didaftar, data menunjukkan bahwa 83% mahasiswa yang diwisuda ini memutuskan untuk bekerja di berbagai perusahaan, 7% ingin memulai usaha mandiri, dan 10% melanjutkan jalur akademis. Pandemi memang membuat penyerapan tenaga kerja berjalan lebih lambat, namun syukur bahwa ATMI masih bisa membantu para lulusan untuk mendapatkan pekerjaan dan mengarahkan langkah ke depan. Selain itu, dalam wisuda ini pula, ATMI Surakarta secara resmi mengumumkan bahwa di tahun ajaran baru mendatang satu program studi baru, yakni Sarjana Terapan Mekatronika (Program 4 tahun) akan mulai dibuka. Hal ini menjadi kegembiraan tersendiri dan suatu kehormatan bagi keluarga besar Politeknik ATMI Surakarta. Meskipun wisuda Angkatan 50 ini berjalan secara berbeda dan sederhana, tetapi makna, kegembiraan, dan rasa syukur dapat terlihat dengan jelas di wajah para panitia, mahasiswa, maupun keluarga. Wisuda bukan hanya menandakan kelulusan, tetapi juga sebuah perutusan untuk menjalankan tugas yang lebih besar. Keberhasilan sebuah institusi pendidikan dilihat dari para lulusannya. Semoga Angkatan 50 yang memiliki moto, “Technical Competence is My Life”, dapat sungguh menunjukkan kompetensinya di dunia kerja demi kesejahteraan bersama. Mari kita dukung para wisudawan dalam doa-doa kita. Barry Ekaputra, SJ

Karya Pendidikan

TILIK.

Hari Orang Tua Seminaris KPP & KPA 2020 Harta yang paling berharga adalah keluarga Istana yang paling indah adalah keluarga Puisi yang paling bermakna adalah keluarga Mutiara tiada tara adalah keluarga Selamat pagi Emak Selamat pagi Abah… Para Nostri Provindo terkasih, lirik lagu karangan (alm.) Arswendo Atmowiloto (OST Film ‘Keluarga Cemara’ yang super hits di layar kaca pada masanya) terdengar mengalun indah di GOR Laudato Si’ Seminari Mertoyudan siang itu. Setelah bernyanyi, para seminaris KPA turun panggung dan memberikan setangkai mawar pada orang tua masing-masing. Suasana syukur, sukacita, dan haru menyelimuti para seminaris Kelas Persiapan Pertama (KPP) & Kelas Persiapan Atas (KPA) beserta keluarga yang hadir. Hari Orang Tua (HOT) menjadi acara tahunan yang diselenggarakan sebagai tanda berakhirnya 40 hari masa inisiasi awal di Seminari Mertoyudan. Para Seminaris KPP dan KPA telah memulai proses formasi sejak tanggal 12 Juli 2020 yang lalu. Selama masa karantina, mereka tidak berkontak dengan “dunia luar” dan orang tua. Apalagi bagi hampir semua seminaris KPP-KPA, ini adalah pengalaman pertama berpisah jauh dari bapak-simbok. Oleh karena itu, HOT yang dilangsungkan hari Minggu, 23 Agustus 2020 ini menjadi obat rindu sekaligus momen tilik (kunjungan) yang penuh rahmat bagi 57 seminaris KPP dan 17 seminaris KPA. “Berani Melangkah karena Cinta-Nya”. Nostri terkasih, tema ini dipilih karena lahir dari refleksi para seminaris selama menjalani masa karantina di Seminari. Inilah “vibrasi” pengalaman yang paling kuat dirasakan oleh para seminaris KPP 109 dan KPA 106 selama 40 hari. Para seminaris telah berani melangkahkan kaki di Seminari untuk menanggapi panggilan Tuhan meski harus meninggalkan orangtua, saudara dan sahabat (bdk. Mat 19:29). Rahmat dan cinta Tuhan sendirilah yang dialami, disyukuri dan menggerakkan para seminaris untuk berani menjadi pribadi yang baru, beradaptasi menghayati hidup dan panggilan di Seminari Mertoyudan.   Di tengah Covid-19 ini, HOT dilangsungkan secara sederhana. Acara berjalan cukup lancar dan dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan antara lainmembatasi jumlah kehadiran, mewajibkan rapid test, menggunakan masker dan menjaga jarak fisik. Acara HOT diawali dengan Ekaristi syukur yang dipimpin oleh Rm. Provinsial Serikat Jesus, Benedictus Hari Juliawan didampingi oleh Rm. Sardi sebagai Rektor yang akan purna tugas Rm. Budi Go sebagai rektor seminari yang baru dan para pamong (MP & MU). Dalam homilinya, Rm. Benny menekankan bahwa salah satu ciri kesejatian panggilan adalah ketika seseorang mengalami dirinya berubah. Perjumpaan dengan Jesus selalu mengubah pribadi seseorang. Sama halnya para murid yang diwakili Petrus dalam bacaan Injil, mengalami transformasi dalam hidupnya sebagai abdi Tuhan. Peneguhan lain disampaikan oleh Rm. Budi Go dalam sambutannya bahwa panggilan adalah peristiwa iman yang harus disyukuri karena ini sesuatu yang luhur, personal dan dihayati dalam kemerdekaan batin Panggilan tidak tumbuh karena paksaan dari siapapun termasuk orang tua. Pada dasarnya, kami semakin yakin bahwa keluarga adalah “seminari kecil”, tempat benih panggilan ditabur. Seminari menjadi “rumah formasi” untuk membantu merawat, menyemai benih itu agar tumbuh dan kelak berbuah baik. Boleh menyaksikan dari dekat bagaimana Tuhan sendiri berkarya dalam transformasi hidup dan panggilan seorang seminaris tentulah merupakan konsolasi terbesar bagi kami semua yang berkarya di Seminari Mertoyudan ini. Semoga acara tilik dan perjumpaan hangat seminaris KPP-KPA dengan orangtua meneguhkan langkah orang-orang muda yang kita temani untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Dia lebih dekat lagi. Salam dalam perutusan. St. Petrus Kanisius, doakanlah kami. Paul Prabowo, SJ

Karya Pendidikan

Senyuman De Britto di Tengah Pandemi

SMA Kolese De Britto genap berusia ke-72. Perayaan ulang tahun kali ini agak berbeda karena dilakukan di tengah pandemi corona. Meskipun demikian, semaraknya tidak kalah istimewa. Perayaan yang mengusung nama Nawa Windu JB ini terasa istimewa dengan perayaan ekaristi konselebrasi Romo Kuntoro Adi SJ selaku Rektor bersama delapan romo alumni De Britto secara live stream di channel youtube De Brito. Para romo dari berbagai tempat misi termasuk Romo Tito SJ dari Nabire dapat secara lancar membawakan doa-doa ekaristi secara bergantian. Malam harinya,  perayaan dilanjutkan dengan acara sharing Lintas Masa sembilan Alumni De Britto. Pada kesempatan ini acara daring para guru dan alumni saling bertukar energi melalui sharing dari para alumni De Britto lintas generasi, mulai dari angkatan pertama yaitu angkatan 1951 hingga akan termuda yaitu angkatan 2020. Untuk para siswa panitia menyelenggarakan lomba antar kelas membuat video ucapan selamat ulang tahun SMA Kolese De Britto ke-72. Pemenang lomba video terbaik ditentukan oleh tim guru De Britto, sedangkan untuk kategori video ter favorit ditentukan dari jumlah like terbanyak. Pemenang dari lomba ini mendapat hadiah berupa pulsa bagi anggota kelas, yang kelasnya menjadi juara dari salah satu dua kategori itu. Selain berbagai acara di ruang virtual, perayaan Nawa Windu juga berlangsung secara luring pada hari sebelumnya, yakni acara olahraga bersama para guru di lapangan sepak bola SMA Kolese De Britto. Dengan tetap mengikuti protokol covid-19, para guru dan karyawan JB antusias mengikuti berbagai cabang olahraga bersama mulai dari lari, senam bersama, badminton, ping-pong, dan tentunya gowes atau bersepeda ke Sambi Sari dan Lava Bantal, Brebah. Perayaan Nawa Windu kali ini juga menjadi lebih berkesan dengan beberapa  penyerahan penghargaan kepada para guru yang telah mengajar selama sepuluh tahun, dua puluh tahun dan bahkan tiga puluh tahun. Itulah beberapa mometum kegembiraan kami. Di tengah pandemi Covid-19, kami masih menemukan senyum satu sama lain. AMDG.    Genesius Bagas Waradana (XI MIPA 1)

Karya Pendidikan

Bangga Produk Vokasi

Semua orang merasa bangga menjadi bagian dari pendidikan vokasi. Entah sebagai pelajar ataupun pekerja. Baik sebagai penghasil maupun konsumen produk vokasi. Kira-kira pesan itulah yang ingin disampaikan oleh Wikan Sakarinto, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, saat berkunjung ke Kolese Mikael Surakarta, Selasa (18/8) lalu. Kunjungan tersebut diadakan dalam rangka peluncuran (launching) program “pernikahan” pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan industri (DUDI). Selain beliau, hadir pula kepala-kepala SMK di Surakarta, beberapa perwakilan politeknik dan  pelaku industri. Beberapa SMK dan politeknik di Surakarta juga memamerkan karya andalannya. Sebut saja, antara lain, SMK St. Mikael dan Poltek ATMI dengan mesin CNC-nya, SMK Farmasi dengan obat parem kocok yang hangatnya tahan lama, dan Sekolah Vokasi Universitas Negeri Surakarta (UNS) dengan printer 3D. SMKN 8 yang fokus pada seni juga menampilkan tarian Cakilnya. Sementara itu, PT. ATMI Solo dan PT. ATMI-IGI hadir dan secara simbolis mewakili DUDI dalam acara tersebut. Dalam sambutannya, P. V. Istanto Pramuja, SJ sebagai ketua Yayasan Karya Bakti Surakarta mengingatkan mengenai komitmen. “Pernikahan menuntut komitmen,” demikian pesan beliau. Memang diharapkan bahwa “pernikahan” vokasi dan DUDI tidak berhenti menjadi slogan belaka. Lebih dalam lagi, dibutuhkan keberanian pihak yang “menikah”: vokasi berkomitmen meningkatkan kualitas SDM-nya, DUDI berkomitmen menggunakan produk vokasi. Bangga dengan Vokasi “Pesta pernikahan” vokasi dengan DUDI ini memang sarat dengan pesan. Selain menggugah, pesan itu pun menggugat. Pesan Wikan yang disarikan pada awal tulisan ini, misalnya. Pada satu sisi, pesan tersebut menggugah para pelaku vokasi agar terus bersemangat dalam menghasilkan SDM siap kerja dan produk-produk inovatif. Rasa minder dan perasaan diri sebagai warga kelas 2 (di bawah SMA atau S1) dibuang jauh-jauh. Di sisi lain, pesan tersebut juga menggugat mereka yang selama ini enggan mendukung pendidikan vokasi. Pihak-pihak yang meremehkan atau tidak melihat kontribusi pendidikan vokasi bagi kemajuan bangsa ini diajak untuk membuka mata dan pemahaman mereka. Dengan riset berkelanjutan sebagai bentuk kerja sama sekolah vokasi-DUDI-pemerintah, diharapkan kualitas produk vokasi pun meningkat dan layak guna. Tantangan pun diberikan oleh Wikan: menunjukkan kebanggaan sebagai orang Indonesia dengan menggunakan produk vokasi, yang pasti merupakan produk buatan Indonesia. “Pesta pernikahan” vokasi dengan DUDI ini pun menjadi momen yang tepat untuk bersyukur atas kontribusi kita melalui karya-karya vokasi, khususnya lewat Kolese PIKA Semarang dan Kolese Mikael Surakarta. Belum lagi kalau menyebut institusi yang menaungi pendidikan kejuruan, baik yang sedang atau pernah kita layani, seperti Universitas Sanata Dharma, ATMI Cikarang, Strada Jakarta, dan Kanisius Semarang. Rasa syukur tersebut kiranya akan memunculkan kedekatan dan rasa memiliki terhadap karya-karya vokasi, bersama dengan kebanggaan kita atas sumbangsih Serikat kepada masyarakat dan Gereja melalui karya-karya lainnya. Rafael Mathando Hinganaday, SJ

Karya Pendidikan

PERESMIAN KAMPUS TIGA POLITEKNIK ATMI SURAKARTA

Bulan Agustus 2020 menjadi momen bersejarah bagi Politeknik ATMI Surakarta. Kampus 3 Politeknik ATMI Surakarta yang terletak di utara Kampus 2 (Kampus Gonzaga, atau yang dulu dikenal dengan Kampus Intercamp, Blulukan) telah selesai dibangun dan siap digunakan. Pembangunan gedung yang memakan waktu sekitar setengah tahun ini bisa terwujud oleh karena hibah yang diberikan oleh Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dalam rangka Polytechnic Education Development Project. Kampus 3 ini secara khusus akan digunakan oleh para mahasiswa ATMI dari prodi Mekatronika, Teknik Perancangan Mekanik dan Mesin, dan Perancangan Manufaktur. Sebelum  resmi digunakan, upacara pemberkatan gedung dilaksanakan pada hari Senin, 10 Agustus 2020. Pemberkatan gedung dihadiri oleh para romo, frater, kaprodi, beberapa staf, dan juga perwakilan mahasiswa. Acara yang dihadiri kurang lebih 30 orang tersebut berjalan dengan hikmat dan tentu dengan protokol COVID-19 yang lengkap. Dalam upacara pemberkatan ini, Kampus 3 juga secara resmi disebut sebagai Kampus Arrupe. Pater Pedro Arrupe dipilih menjadi pelindung sekaligus teladan dari kampus ini. Politeknik ATMI menyadari bahwa Politeknik semakin dipanggil untuk berjalan dengan orang miskin dan tersingkir, sesuai dengan Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus. Oleh karena itu, Pater Pedro Arrupe, seorang Jesuit yang sangat peduli pada orang miskin dan tersingkir, diharapkan menjadi teladan sekaligus pemberi semangat untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Secara khusus, Politeknik ATMI Surakarta ingin mengembangkan pendidikan vokasi maupun industri yang terarah kepada tiga bidang, yakni pertanian, kesehatan, dan teknologi informasi. Ketiga hal tersebut dipilih untuk menjawab tantangan zaman sekarang ini. Pertanian pertama-tama dipilih dengan kesadaran bahwa pertanian menjadi  sumber utama gizi bagi orang muda Indonesia. Tanpa adanya gizi yang baik, tentu orang muda tidak dapat berkembang secara maksimal. Sementara itu, kesehatan dipilih dengan maksud menanggapi situasi pandemi sekarang ini. Terakhir, teknologi informasi dipilih karena melihat perkembangan teknologi yang memang niscaya di dunia kita sekarang ini. Untuk mewujudkan hal-hal tersebut, diharapkan para dosen, instruktur, maupun mahasiswa secara aktif melakukan penelitian maupun inovasi guna memajukan dan mengembangkan ketiga bidang tersebut. Semoga dengan kehadiran Gedung Arrupe ini, Politeknik ATMI Surakarta bertransformasi menjadi institusi yang semakin peka mendengar panggilan zaman dan memberikan wajah yang semakin manusiawi pada teknologi dan dunia industri. Barry Ekaputra, SJ

Karya Pendidikan

TELADAN MARIA DI MATA PEREMPUAN ATMI

Bunda Maria adalah sosok yang melampaui zaman. Teladannya terus hidup hingga saat ini. Era kolaborasi teknologi Internet, nirkabel, dan mesin otomatis yang kita hidupi saat ini jelas belum terbayangkan ketika Maria masih hidup bersama Yusuf, Yesus, dan para rasul. Akan tetapi, kecanggihan zaman, yang dikenal sebagai Era Revolusi Industri 4.0, ini tidak menjadikan teladan Sang Bunda tampak kuno. Justru teladan itu lestari dan selalu menginspirasi lintas zaman. Berlanjutnya teladan Bunda Maria itu, antara lain, ditunjukkan oleh tiga perempuan yang berkarya di lingkungan Kolese Mikael. Ketiga perempuan itu adalah Maria Marcelina Widyastuti (Politeknik ATMI Solo), Asworo Wahyunindyah (PT. ATMI Duta Engineering), dan Hartanti (ATMI-IGI Centre). Akhir Mei 2020, mereka diwawancarai oleh tim Michael College Ministry (MCM). Wawancara tersebut merupakan salah satu program kelompok campus ministry Kolese Mikael yang dikoordinasi oleh Fr. Vincentius Doni Erlangga, SJ ini dalam rangka Bulan Maria yang lalu. Maria Marcelina Widyastuti merasa diinspirasi oleh semangat pelayanan, kesederhanaan, jiwa yang penuh syukur, dan kerendahan hati Bunda Maria. Semua itu terangkum dalam ungkapan Sang Bunda, “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku seturut perkataan-Mu.” Sebagai seorang instruktur muda di politeknik, ia lalu terdorong untuk menciptakan iklim belajar yang nyaman bagi para mahasiswa dan mahasiswinya. “Mahasiswa dapat berkonsultasi apabila memiliki permasalahan atau kesulitan dalam memahami pelajaran yang diberikan,” ujarnya. Lain lagi dengan Asworo Wahyunindyah. Staf Human Resources Department (HRD) di PT. ATMI Duta Engineering (ADE) ini melihat Maria sebagai sosok pemberani. Keberanian Maria ditunjukkan dengan mau mengambil risiko menerima perutusan untuk mengandung Yesus, walaupun belum bersuami. Sang Bunda menjalaninya dengan sukacita. Mencoba mengaitkan dengan hidup dan karyanya di PT. ADE, Asworo menyadari hidupnya yang juga penuh risiko dan tantangan. “Ini terus terang saya di staf HRD baru. […] Sebelumnya saya berada di staf administrasi marketing. […] Awalnya sih saya merasa ‘Kayaknya nggak mungkin, saya tidak punya background sama sekali di bidang hukum ataupun psikologi ataupun untuk menangani, menghadapi teman-teman.’ Cuma akhirnya, dengan semangat dari keluarga, dengan dukungan dari teman-teman, akhirnya saya memutuskan untuk ‘Oke, saya mengambil tantangan ini.’” Ia pun menambahkan, “Yang penting saya tahu apa yang saya lakukan itu benar dan bermanfaat bagi orang banyak.” Sementara itu, Hartanti mengagumi Bunda Maria sebagai sosok yang beriman dan taat pada kehendak Allah. Oleh karena itu, sebagai pegawai ATMI-IGI Centre, ia berusaha pula untuk melaksanakan perintah atasan sebaik-baiknya. “Karena pekerjaan yang kita lakukan tidak semata-mata hanya untuk mencari uang atau mematuhi perintah atasan, tetapi bekerja dengan iman adalah bagaimana kita setia terhadap pekerjaan itu sehingga kita dapat berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri, sesama, dan terlebih untuk kemuliaan Allah.” Hartanti juga berpesan, “Bekerja harus ikhlas, bekerja tidak semata-mata mencari uang, tetapi bisa menjadi berkat bagi sesama.” Ketiga perempuan perkasa ini adalah sebagian dari sedikit pegawai perempuan di tengah belantara mesin, yang kerap dianggap identik dengan dunia lelaki. Memang, tidak semuanya berhadapan dengan mesin pendukung Revolusi Industri 4.0 di lingkungan Kolese Mikael. Ada pula yang berhadapan dengan para operator mesin-mesin tersebut. Akan tetapi, entah itu berhadapan dengan mesin ataupun manusia, teladan dari Bunda Maria menginspirasi mereka di tempat karya masing-masing. Inspirasi itu pun tidak disimpan menjadi kekayaan rohani pribadi. Mereka terdorong pula untuk menyebarkannya kepada orang-orang di sekitar. Seperti diungkapkan Asworo, “Meskipun kita hanyalah segelintir wanita, yakinlah kita bisa membawa perubahan yang baik untuk lingkungan sekitar kita.” Rafael Mathando Hinganaday, SJ