Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

Donor Darah Serentak Seluruh Dunia

Di tengah pandemi Covid-19, Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia (AAJI) memberanikan diri untuk menyelenggarakan donor darah. Kebutuhan darah selalu penting baik saat tidak ada pandemi dan terlebih saat pandemi. Seperti motto sekolah-sekolah Jesuit “men and women for and with others,” AAJI mengajak alumni delapan Kolese Jesuit dan satu universitas untuk membantu sesama yang membutuhkan melalui kegiatan donor darah.  Kegiatan ini awalnya diinisiasi oleh rekan-rekan KEKL (Keluarga Eks Kolese Loyola) yang pernah mengadakan kegiatan serupa tahun 2019. Tahun ini, KEKL mengajak kolese-kolese lain untuk berkolaborasi bersama dalam kegiatan donor darah lintas Alumni Kolese dan Universitas. Ini menjadi tugas dan tantangan besar bagi Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia, yaitu membangun kolaborasi antar-alumni kolese dan universitas Jesuit. Dicari 1000 Pahlawan Dunia Masa Kini menjadi tagline kegiatan ini. Tercatat lebih dari 1200 yang mendaftar untuk berpartisipasi dalam kegiatan donor darah ini. Kegiatan ini diselenggarakan serentak pada 6-7 November 2021 di 48 kota di Indonesia dan dua kota mancanegara yaitu Singapura dan Hongkong. Koordinasi antar panitia di berbagai kota dan negara ini tidaklah mudah. Syukurlah kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Kantong darah yang terkumpul total sebanyak 807 buah. Ada banyak yang ingin mendonorkan darahnya namun terkendala tekanan darah tinggi, HB kurang, dan lain-lain. Pelaksanaan donor darah ini dibuka oleh Provinsial Serikat Jesus, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. di SMA Kolese Loyola, Semarang. Beliau begitu antusias mendukung kegiatan ini, salah satunya dengan mengajak rekan-rekan awam agar terlibat dalam kegiatan ini. Pater Beni pun menjadi pendonor pertama dalam kegiatan ini.  Ada satu kejadian mengharukan sekaligus membahagiakan, yaitu ketika di PMI R.S. Fatmawati, dikoordinasi oleh rekan-rekan IKAGONA (Ikatan Alumni Gonzaga), seorang ibu dengan gembira menghampiri panitia. Ia mengucapkan terima kasih karena dengan terselenggaranya kegiatan ini, kebutuhan darah untuk putrinya menjadi tercukupi. Hal ini membuat kami tersadar dan mengingat kembali pesan dari Pater Beni yang dikutip dari ucapan St. Ignatius Loyola, “Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada kata-kata.” Kita tidak perlu menunggu hal besar untuk membantu dan memberikan cinta untuk sesama. Kita dapat memulainya dengan hal kecil tetapi berdampak bagi hidup orang lain. Sekali lagi, terima kasih untuk Anda yang sudah bergerak bersama seluruh Alumni Jesuit Indonesia dan menjadi pahlawan pembaru dunia masa kini! Kontributor : Adrianus Roy – AAJI

Karya Pendidikan

Perayaan 103 Tahun Yayasan Kanisius di YKC Surakarta : Peziarahan Batin Insan Kanisius

21 Oktober adalah tonggak peringatan berdirinya Yayasan Kanisius yang berkarya di bidang pendidikan. Pada kesempatan ini, Yayasan Kanisius Cabang (YKC) Surakarta mengadakan Perayaan Ekaristi Syukur 103 tahun berdirinya Yayasan Kanisius yang dilaksanakan pada hari Kamis, 21 Oktober 2021 pukul 09.00 WIB di Gereja St Antonius Padua Purbayan Surakarta. Perayaan Ekaristi ini istimewa karena dilaksanakan secara selebrasi bersama Pater Joseph M.M.T. Situmorang, S.J. (Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta), Pater Clement Budiarta, S.J., dan Pater Fransiskus Kristino, S.J. (Romo Paroki Santo Antonius Padua Purbayan), dan Pater Robertus Budi Haryana, Pr. (Vikep Kevikepan Surakarta) sebagai selebran utama.  Semua Kepala Sekolah yang berada di YKC Surakarta, perwakilan guru karyawan dan siswa yang berada di Surakarta, dan tamu undangan hadir dalam perayaan Ekaristi ini. Selain perayaan ekaristi secara offline, dilakukan juga proses live streaming perayaan ekaristi ini sehingga bisa diikuti oleh sekolah-sekolah di luar regio Solo serta para pemerhati pendidikan.  Tema Perayaan ulang tahun ke 103 adalah “103 Tahun Yayasan Kanisius dalam Semangat Universal Apostolik Preferences (UAP)”. Tema ini  hendak meneguhkan peziarahan batin insan Kanisius guna menunjukkan bagaimana menemukan dan mengikuti Yesus Kristus melalui Latihan Rohani dan diskresi, memberikan kepedulian bagi yang terkucilkan, merawat lingkungan dan ciptaan Tuhan serta mendampingi kaum muda untuk menciptakan masa depan yang penuh harapan. Dalam homilinya Pater Joseph Situmorang, S.J. mengajak para guru untuk merefleksikan kembali keteguhan hati Pater van Lith yang meletakkan cikal bakal pendidikan di Indonesia serta usahanya untuk memanusiakan manusia. Semua guru dipanggil untuk menyalakan api cinta kasih dan damai, yang didasari prinsip pilihan-pilihan nilai yang tegas, kesediaan berkorban sama seperti Yesus yang mengalami luka-luka untuk membawa damai. Para guru yang berjalan bersama Yayasan Kanisius akan ditempuh sebagai jalan ketekunan melatih diri seperti Santo Paulus, Jalan ini bukan mengejar prestasi dan prestise duniawi, bukan mengejar hadiah mahkota dunia fana. Melalui panggilan sebagai guru, Yayasan Kanisius hendak mendampingi peserta didik menghalau kegelapan dan mengajak anak didik bertemu Tuhan dengan kecerahan akal budi melalui pendidikan. Di akhir Perayaan Ekaristi Syukur 103 tahun Yayasan Kanisius, Pater Joseph Situmorang, S.J. sebagai Kepala YKC Surakarta, meluncurkan buku Bunga Rampai Refleksi Guru Mendidik di Masa Pandemi. Buku ini merupakan kumpulan refleksi para guru dan karyawan YKC Surakarta mengenai pengalaman mendidik sebagai peziarahan batin yang meneguhkan serta memaknai masa pandemi sebagai pengalaman hidup yang memiliki kekayaan makna. Buku Bunga Rampai Refleksi Guru Mendidik berbentuk buku elektronik dan hanya dicetak beberapa eksemplar saja. Pater Joseph berharap tulisan ini bisa menghibur bagi yang sedih, memberikan  semangat bagi yang terkadang kehilangan pengharapan, dan memberikan inspirasi bagi yang mencari cara-cara baru sebagai guru di zaman sekarang.  Selain Perayaan Syukur Ekaristi 103 Tahun Yayasan Kanisius, di bulan Oktober Yayasan Kanisius mengajak insan Kanisius, baik guru maupun karyawan di  sekolah masing-masing, untuk melakukan kegiatan Hari Rohani. Kegiatan ini dilakukan dalam berbagai cara seperti berziarah ke berbagai Gua Maria atau rekoleksi, yang tidak hanya dilakukan oleh sekolah-sekolah di YKC Surakarta namun juga karyawan kantor yayasan. Hari Rohani dimaksudkan sebagai hari yang dipilih untuk melakukan refleksi, pendekatan diri pada Tuhan, maupun “peziarahan batin’ menimba spirit pelayanan dari teladan pendidik Santo Petrus Kanisius, Romo van  Lith,  dan Santo Ignatius dari Loyola dalam diskresi serta latihan rohani. Selain itu juga diselenggarakan lomba video kreatif untuk para siswa dan sekolah yang berada di YKC Surakarta guna meramaikan peringatan 103 tahun Yayasan Kanisius. Kontributor : F.X. Juli Pramana – SMK Kanisius Surakarta

Karya Pendidikan

Membangun Fondasi Pendidikan di Tanah Papua (Bagian 2)

Selain itu, pola asuh yang mengandalkan kekerasan menciptakan rasa frustasi (frustration) karena anak tidak bisa menghindar dari situasi tersebut dan harus bertahan. Anak-anak di asrama seringkali membenarkan pola asuh model kekerasan di keluarga dengan mengatakan bahwa itu adalah demi pendidikan. Mekanisme emosi dominan ini mereka bawa saat masuk asrama atau sekolah di Kolese. Kebiasaan dan tuntutan baru di asrama maupun sekolah mudah membuat mereka frustasi karena mereka tidak memiliki pondasi literasi yang dibutuhkan. Akibatnya antara 30-50% siswa asrama di Waghete dan Nabire serta SMA Kolese Le Cocq rontok di tengah jalan.   Emosi dominan lainnya adalah keras kepala (stubbornness). Ketika mulai membandingkan dengan kemampuan orang lain atau tingkat pencapaian yang harus diraih, mereka merasa minder. Mereka yang berhasil mengatasinya, memperkuat nilai kemandirian yang potensinya sudah mereka miliki. Mereka yang gagal biasanya menjadi keras kepala, tukang protes, dan semau-maunya sendiri.  Emosi dominan yang tidak diolah ini seringkali dibawa sampai usia dewasa dan membentuk kecenderungan untuk mau bebas sebebas-bebasnya (compulsive freedom). Banyak tanah misi atau tanah gereja di wilayah Mee Pago dipalang. Sekolah dipalang, Jalan dipalang. Proyek dipalang. Main hakim sendiri. Kalau mereka punya kemauan, mereka bisa berbuat apa saja meskipun merugikan orang lain. Tindakan ini bisa dibaca sebagai reaksi masyarakat kecil akibat keterdesakan karena kehadiran pendatang dan protes terhadap para elit pemerintahan yang tidak menjawab aspirasi mereka. Polisi sebagai representasi negara tidak berbuat apa-apa. Sementara para elit pemerintahan punya cara yang lebih canggih dalam mengekspresikan compulsive freedom-nya untuk mencari perolehan bagi diri sendiri. Misalnya, menggunakan dana negara bukan sesuai intensinya.  Pentingnya membangun fondasi kesehatan dan pendidikan sejak di keluarga perlu dilakukan oleh lembaga-lembaga Gereja karena merekalah yang saat ini punya akses langsung kepada masyarakat. Kita tidak bisa banyak mengharapkan pemerintah melakukannya sebagai kewajiban sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang, karena banyak elit tersandera oleh  kepentingan ego masing-masing. Kepentingan keluarga dan kelompoknya sendiri lebih dipentingkan daripada urusan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Tentu ada beberapa bupati atau kepala dinas dalam jumlah kecil yang berbeda dari kebanyakan lainnya. Mereka bisa diajak berkolaborasi untuk memajukan pendidikan dan kesehatan.  Para pemimpin gereja Katolik di tanah Papua di LoC 199, para pemimpin agama Kristen Protestan LoC 156, dan para pemimpin agama Islam LoC 99. Sedangkan bupati dan gubernur masing-masing di LoC 98 dan 77. Melihat kondisi ini tidak mudahlah menggerakkan para pemimpin di lembaga-lembaga agama dan pemerintahan untuk mau berbasah tangan untuk  meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan.  Bagi pengelola asrama dan sekolah Kolese Le Cocq d’Armandville, tidak ada pilihan selain membangun fondasi pendidikan dan kesehatan dalam diri siswa yang didampingi meski sebenarnya sudah terlambat. Selain menambah asupan gizi, berbagai program untuk melatih kebiasaan baru mendesak diperlukan. Otak kita tidak berbeda dari otak homo sapiens 600.000 tahun  lalu. Apabila anak-anak diajak melakukan praktik kesadaran dengan berfokus pada nilai-nilai kejujuran, integritas, dan altruisme, maka LoC (level of consciousness) mereka akan naik di atas 200+ (dari skala Hawkins 1-1000) dan sel-sel otaknya  mengalami transformasi signifikan. Saat ini kebanyakan siswa berasal dari wilayah adat Mee Pago dengan LoC 140 dan wilayah adat Saereri (Nabire dan sekitarnya) LoC 68. Pendidikan karakter sekolah Kolese Le Cocq saat ini mencapai LoC 199, sama dengan SMA YPK Anak Panah Nabire. Sementara sekolah-sekolah lain di dua wilayah adat ini berada di bawahnya.  Nilai-nilai cukup baik ditangkap oleh para siswa lewat latihan-latihan hidup berkesadaran dasar, seperti bangun lebih pagi  dan mandi, menjaga hidup rohani dengan misa harian di asrama, memperhatikan kepentingan orang lain atau kepentingan  bersama dengan menjalankan tugas memasak, membuang sampah di tempatnya, mengucapkan salam dan membalas salam,  berani meminta maaf, mengatakan terimakasih, tepat waktu hadir di sekolah atau kelas, memuji teman, membantu teman  yang sakit, melakukan refleksi melalui pemeriksaan batin (Examen Conscientiae) setiap hari, mengenal diri lebih intensif  dalam kesempatan rekoleksi tahunan, dst.   Rangkaian demo atau protes terbesar oleh siswa Kolese Le Cocq selama 21 tahun terakhir, setidaknya tahun 2015 dan 2020, apapun pemicunya dan siapapun yang bermain di air keruh, menunjukkan bahwa pengelola asrama dan sekolah masih  gamang dalam membantu pengolahan emosi-emosi dasar siswa. Ini pekerjaan yang tidak mudah karena kondisi politik dan budaya sangat berpengaruh.  Oleh karena itu penting dan mendesak dibuat modul-modul latihan berkesadaran dasar. Modul-modul ini juga penting supaya sistem pendidikan karakter berjalan tanpa bergantung pada guru atau pendamping yang terus berganti. Misalnya, modul-modul pendidikan ekologi, modul-modul apresiasi, teknik-teknik relaksasi dan pelepasan emosi atau ketegangan, modul pengampunan radikal dan rekonsiliasi, modul pengembangan seni dan kecakapan kinestetik, dst.   Model pembelajaran kinestetik (paling dominan), auditif, dan visual setiap kali perlu digunakan sesuai kebutuhan masing masing siswa. Cura personalis menjadi kuncinya.  3. Akses pada Teknologi Digital  Era Revolusi Industri 4.0 memaksa manusia saat ini untuk hidup dalam dunia digital. Saat ini produk digital dan internet begitu lekat dengan manusia. Bahkan penduduk di Papua yang di banyak wilayah tak mendapat akses internet dan listrik, dapat menonton video kesukaannya dari kanal Youtube yang sudah diunduh terlebih dahulu dari handphone mereka.  Informasi juga menjadi mudah didapatkan dan disebar. Banyak buku yang sudah didigitalisasi dan disebar juga via internet sehingga dapat diakses gratis.   Salah satu tantangan akses teknologi digital di Papua adalah faktor geografis yang menyebabkan variasi topografi. Hal ini membuat pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi tak bisa dilakukan di 64% wilayah karena tak ada internet.  Jaringan internet tersedia di pusat-pusat kota di sepanjang pesisir pantai. Di pinggiran kota, apalagi di wilayah pegunungan, jaringan internet tidak tersedia. Sebenarnya cukup banyak bantuan VSat untuk sekolah-sekolah pedalaman. Namun teknologi ini banyak tidak terpakai, kecuali hanya sebatas untuk sms atau Whatsapp. Kebijakan kuota gratis yang diberikan Kemendikbud pun tidak maksimal manfaatnya di Papua. Karena itu perlu kreativitas untuk menyiasati keterbatasannya.   PNE 4.0 (Pustaka Neo EduTech) sebagai sebuah platform sharing materi digital tanpa sambungan ke internet, adalah salah satu inovasi yang dibutuhkan di Papua. Adalah fakta bahwa semakin terpencil sebuah wilayah, semakin tidak berkualitas pendidikannya. Semakin ke pinggir, semakin sulit penduduk punya akses teknologi.  Namun demikian, berbagai penelitian menyebutkan bahwa anak punya kemampuan belajar mandiri, asal mereka mau dan ada teknologi yang mendukung. Kita tidak perlu menunggu anak mengerti Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris untuk  bisa membuka internet atau materi digital. Teknologi digital justru bisa mempercepat literasi membaca.   Teknologi digital tanpa sambungan ke jaringan internet

Karya Pendidikan

Gonzaga Festival 2021 : Jatuh Satu, Tumbuh Seribu

Setiap tahunnya, kompleks bangunan di Jalan Pejaten Barat 10A menjadi saksi bisu kemeriahan pagelaran Gonzaga Festival (Gonzfest). Ratusan anak muda tumpah ruah dan terlibat di dalamnya. Ada pekik gembira lantaran bertemu kawan lama. Ada histeria karena bertemu idola, mendapati teman-teman sepermainannya naik panggung, atau karena bisa menunjukkan kebolehannya. Akan tetapi, pandemi tahun ini membungkam segalanya. Kompleks bangunan yang terletak di Jalan Pejaten Barat 10A itu kini sunyi, sepi, dan nyaris tak berpenghuni. Tidak ada lagi antrean body checking, pembelian tiket, maupun lorong-lorong yang penuh sesak oleh tenant yang menjajakan berbagai kudapan. Lapangan-lapangan olahraga yang biasa menjadi medan laga kontingen dari berbagai sekolah, kini ditinggalkan kosong. Demikian pula dinding-dinding SMA Gonzaga tidak lagi bersolek dengan dekorasi meriah. Ia ditinggalkan pucat pasi tanpa riasan. Pada malam hari, tidak ada lagi sorot lampu warna-warni di halaman sekolah. Hanya pendar samar-samar lampu taman yang menerangi jalan setapak yang sesekali dilewati orang. Sekali lagi, pandemi tahun ini membungkam segalanya.  Pandemi memang membuat anak jatuh, terpuruk, kesepian, dan bahkan kehilangan harapan. Gonzfest 2021 pun menjadi monumen mereka tumbuh, menyongsong hari baru yang masih akan datang, dan merawat api harapan yang masih berpendar dalam diri mereka. Keinginan untuk tetap tumbuh di tengah ketidakpastian inilah yang membuat mereka sampai pada rumusan tema “Jatuh satu, Tumbuh seribu”. Gonzfest ditandai dengan kegiatan ZADARI (Gonzaga Sepeda Lari). Kegiatan ZADARI berlangsung satu bulan dari tanggal 9 Agustus 2021 s/d 12 September 2021. Seluruh Komunitas Kolese Gonzaga diundang untuk berolahraga sambil mengumpulkan donasi. Olahraga yang dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah sesuai protokol kesehatan yang dibuat.  Donasi yang terkumpul sebesar Rp. 111.320.000,- (Seratus sebelas juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) dan disumbangkan melalui LDD KAJ (Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta) bagi keluarga-keluarga pra-sejahtera yang terdampak pandemi.  Rangkaian perayaan Gonzfest pun berlanjut dengan berbagai agenda sejak tanggal 13 hingga 18 September 2021. Pekan Gonzfest ini ditandai dengan diselenggarakannya pengumpulan donasi. Ada dua metode yang digunakan, yaitu melalui donasi secara langsung dan melalui Gonzcart. Dalam kegiatan ini, siswa/siswi Gonzaga mengupayakan adanya e-canteen yang menjajakan berbagai kudapan. Keuntungan yang dihasilkan dari Gonzcart inilah yang nantinya turut akan disumbangkan bagi keluarga pra-sejahtera. Pekan Gonzfest diawali dengan webinar mengenai Perubahan Iklim oleh pendiri Greenwalfare.id, Nala Amira Putri dan workshop pembuatan kompos oleh anggota komunitas Kertabumi, Santi Novianti. Dalam kegiatan ini, semua peserta disadarkan kembali identitas mereka sebagai bagian dari alam semesta. Semua peserta diingatkan akan adanya tuntutan untuk terus berkontribusi aktif terhadap kelestarian lingkungan. Setiap orang dipanggil untuk terlibat dalam merawat bumi, rumah bersama ini. Selanjutnya, dinamika Gonzfest diisi dengan berbagai perlombaan pada hari kedua hingga kelima, antara lain: Solo vocal, Poster, English Debate, E-Sport, Visualisasi Puisi, Short Film, Pidato Virtual, Fotografi, Solo dance, dan Makeup. Meskipun penyelenggaraan lomba dilakukan secara daring tetapi tidak menurunkan animo para peserta yang terlibat. Perlombaan dan kompetisi Gonzfest diikuti oleh 36 SMP, 121 SMA, dan 12 perguruan tinggi. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Bali, Bajawa, Lampung, Aceh, Jambi, Pare, dan Nabire. Rangkaian Gonzfest ditutup dengan Charity Concert pada hari Sabtu, 18 September 2021 secara daring. Di ruang virtual inilah, siswa-siswi Gonzaga menunjukkan kebolehan mereka, baik dalam bentuk nyanyian, tarian, maupun visualisasi puisi. Secara khusus, konser ini dimeriahkan oleh penampilan Hindia sebagai bintang tamu. Penutupan Gonzfest ini menandai pula akhir dari pengumpulan donasi bagi keluarga pra-sejahtera yang terdampak oleh pandemi Covid-19.  Meski warga Kolese Gonzaga tidak lagi dapat mengekspresikan kemeriahan Gonfest Gonzfest seperti di tahun-tahun sebelumnya, akan tetapi jiwa muda kawula muda Kolese Gonzaga tetap dapat diungkapkan dalam tindakan nyata untuk membantu sesama. Gonzfest tidak lagi hanya diperjuangkan demi kemeriahan maupun gengsi belaka. Gonzfest tahun ini terus mengupayakan agar mereka yang putus asa dan terpuruk karena pandemi dapat menemukan dan menyalakan sekali lagi harapan mereka. Akhirnya, kompleks bangunan di Jalan Pejaten Barat 10A inilah yang menjadi saksi bisu geliat anak muda yang gelisah atas keprihatinan dunia. Kompleks bangunan di Jalan Pejaten Barat 10A juga menjadi rumah bagi orang muda yang tidak gentar memberikan diri bagi sesama. Mereka inilah nyala-nyala api di tengah kabut ketidakpastian, yang siap menyalakan api harapan dunia yang mulai pudar nyalanya.   Kontributor : Gregorius Agung Satriyo Wibisono, S.J.

Karya Pendidikan

Membangun Fondasi Pendidikan di Tanah Papua (Bagian 1)

Kondisi pendidikan dan kesehatan di wilayah Indonesia Timur berbeda dengan wilayah Indonesia Barat. Mengapa kemajuan SDM (Sumber Daya Manusia) di wilayah Indonesia Timur, terutama di Papua, lambat berjalan? Ada banyak sebab.  Sekurang-kurangnya tiga faktor yang akan kami cermati berikut ini memberi kontribusi yang signifikan: geografi, pendidikan dan kesehatan, serta teknologi digital.   1. Geografi  Peradaban yang kita kenal sekarang ini baru mulai sejak nenek moyang kita mengenal budaya pertanian. Pada 13.000 tahun yang lalu di Afrika, terjadi disrupsi yang mengubah sejarah. Hal ini dipicu oleh kekeringan hebat yang mengubah cara bertahan  hidup. Homo Sapiens yang bertahan hidup dengan berburu dan meramu, dipaksa keadaan untuk mencari benih-benih tanaman yang kemudian dapat dibibitkan dan jenis hewan-hewan yang dapat didomestikasi. Maka, mulailah budaya bertani dan beternak. Dari sana berkembang kebutuhan untuk menciptakan teknologi pertanian, peternakan, transportasi, alat senjata, dst. Berbeda dengan Afrika, di Papua tidak pernah terjadi kekeringan dan kelaparan – setidaknya ketika mereka masih memilih untuk memaksakan diri memakan nasi. Hujan sepanjang tahun. Hutan lebat. Kekayaan alam melimpah. Orang di Papua sudah bisa hidup tanpa perlu bertani atau beternak. Alam memanjakan mereka. Tidak dibutuhkan inovasi teknologi agar bisa bertahan hidup. Kondisi masyarakat dengan kultur berburu dan meramu di Papua saat ini, sebanyak 16% (kal.) dari  populasi OAP (Orang Asli Papua), tidak berbeda jauh dari nenek moyang kita sebelum 13.000 tahun yang lalu.  Selain kultur berburu dan meramu, terdapat pula kultur petani 28% (kal.) dan kultur urban 56% (kal.). Menurut data resmi Badan Pusat Statistik tahun 2020, di seluruh tanah Papua, 67% penduduk tinggal di desa, sedangkan 33% di kota. Di Papua sendiri sebanyak  68.8% penduduk tinggal di desa, sedangkan di Papua Barat 65.1%. Artinya, kultur modernitas urban sudah mempengaruhi lebih dari separuh populasi OAP baik di perkotaan maupun di pedesaan.  Kultur urban yang berciri serba praktis, cepat dan instan mulai mengubah pola kebiasaan konsumsi OAP. Cukup banyak OAP mengonsumsi nasi, bukan lagi ubi atau nota, sebagai akibat kebijakan politik “beras-isasi” Papua. Mama-mama Papua menjual nota untuk membeli indomie. Ikan dari danau dijual untuk ditukar dengan sarden. Pisang dijual untuk membeli pisang goreng. Banyak orang dari pedalaman senang pergi ke pusat-pusat kota kabupaten atau dari kabupaten pedalaman ke kota di pesisir pantai karena berbagai alasan atau tujuan. Ada yang ingin melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa, mencari akses internet, mencari tempat yang dirasa lebih aman, atau hanya sekedar jalan-jalan melihat keramaian. Moda transportasi modern telah membuat kebutuhan untuk bergerak dengan cepat terlayani dengan relatif mudah. Bentang alam di Papua juga luar biasa kaya. Di Indonesia, hanya Papua yang mempunyai topografi pesisir pantai dan juga pegunungan hingga glacier. Bahkan Puncak Mandala (5050 mdpl), yang tertinggi di Indonesia, ada di Papua. Papua mempunyai rawa, hutan hujan dataran rendah dan dataran tinggi, terumbu karang, dan mangrove. Variasi bentang alam memisahkan satu daerah dengan daerah lainnya. Baik itu dibatasi oleh pegunungan dan perbukitan, danau, sungai yang lebar dengan arusnya yang deras hingga bentangan laut dengan musim anginnya. Selain itu, tanah Papua kaya dengan potensi tambang yang meliputi minyak dan gas bumi, emas, tembaga, batubara, nikel, pasir besi dan sebagainya. Faktor geografis Papua dengan kekayaan alam yang melimpah dan mendukung penghidupan masyarakatnya juga berkontribusi pada pemerataan akses kebutuhan hidup yang esensial.  Melihat kekayaan alam seperti ini, siapa tidak tergiur? Selain Free Port, banyak perusahaan mencari keberuntungan di Papua. Mereka bermain di segala sektor, entah di pengelolaan hasil hutan, tambang, atau laut. Ketika kepentingan ekonomi berkoalisi dengan kekuasaan negara, konflik terbuka tak bisa dihindarkan. Konflik bersenjata seperti yang terjadi saat ini di Intan Jaya, misalnya, ditengarai sarat dengan kepentingan ekonomi.  2. Pendidikan dan Kesehatan  Di manapun di dunia ini, pendidikan dan kesehatan selalu membantu masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Bagaimana dengan kondisi pendidikan dan kesehatan secara umum di Papua?  Keluarga-keluarga yang mempunyai motivasi agar anaknya memiliki peluang lebih besar dan bisa mendapat pekerjaan yang lebih  baik di era modern, akan mengirimkan anaknya ke sekolah-sekolah yang dianggap berkualitas di daerahnya. Meskipun  demikian, keinginan mendapat hasil tanpa proses panjang atau pemahaman bahwa pendidikan merupakan proses barter untuk  mendapat ijazah karena sudah membayar—warisan kultur berburu dan meramu–juga masih banyak terjadi. Biasanya mereka menuntut sekolah agar anaknya tetap lulus atau naik kelas, meskipun tidak bisa membaca atau jarang masuk  sekolah.   Masih banyak didapati, meskipun sudah usia SMA atau bahkan perguruan tinggi, mereka tidak lancar membaca dan berhitung. Banyak gedung sekolah berdiri tetapi tidak ada KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Kurangnya guru baik dari segi kuantitas maupun kualitas.  Guru yang ada terlalu sering absen. Banyak murid tidak memiliki buku pelajaran meskipun dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) disediakan. Guru memberi nilai bagus supaya anak naik atau lulus meskipun anak tidak bisa membaca. Situasi tersebut umum terjadi di banyak tempat di tanah Papua.  Prevalensi Malaria, TBC, dan HIV/AIDS cukup tinggi. Namun pengobatan penyakit seperti ini pada umumnya hanya tersedia di pusat-pusat kota. Di pedalaman banyak gedung puskesmas berdiri tetapi tidak ada obat, tidak ada dokter, tidak ada perawat.  Faktor geografis di poin pertama tadi, berkontribusi terhadap tersedianya fasilitas bagi tenaga kesehatan dan tenaga pendidik, juga distribusi obat atau buku. Nakes dan nadik di pedalaman harus mau hidup cukup terisolasi, jauh dari keluarganya. Penyediaan alat pendidikan dan kesehatan lebih mahal karena biaya transportasi. Oleh karena itu, semakin jauh dari pusat kota, semakin sedikit tenaga guru dan kesehatan yang mau mengabdikan diri. Guru-guru lokal yang diangkat sebagai ASN/PNS sering tidak masuk. Di Pulau Jawa guru tidak masuk paling sehari atau dua hari; di Papua bisa satu bulan atau lebih. Banyak tenaga kesehatan yang bersedia mengabdi di tempat terpencil akhirnya harus menyerah dan kembali ke kota karena minimnya fasilitas.  Belum ada kebijakan publik di Papua yang membawa dampak perubahan positif, kecuali proyek infrastruktur jalan trans Papua (LoC 495). Kebijakan-kebijakan lain di level yang rendah. Kondisi pendidikan di level terendah LoC 38, kesehatan LoC 49. Pengiriman TNI ke Intan Jaya dan lokasi-lokasi konflik untuk memerangi OPM/KKB LoC 89. Otonomi Khusus LoC 99. Semua kebijakan publik di bawah level 200 belum akan mendatangkan perubahan yang positif bagi masyarakat.  Pulau Papua terkaya dibanding semua pulau di Nusantara. Pulaunya sebesar 4-5 kali pulau Jawa. Populasinya tidak sampai ½ dari penduduk Jakarta.

Karya Pendidikan

Kolaborasi HUT ke-73 SMA Kolese de Britto dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta : Tigre Arciera

Kamis, 19 Agustus merupakan hari Ulang Tahun SMA Kolese de Britto dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Pada perayaan HUT yang ke-73 kali ini, Presidium SMA Kolese de Britto dan OSIS SMA Stella Duce 1 Yogyakarta berkolaborasi menyelenggarakan acara bersama dengan tajuk “Tigre Arciera”. Kegiatan HUT Ke-73 SMA Kolese De Britto dan SMA Stella Duce 1 ini mengusung tema “Bertumbuh dalam Semangat Magis melalui Pribadi yang Bersyukur dan Bersolidaritas.” Tema ini mengambil empat poin penting, yaitu tumbuh, magis, bersyukur, dan solidaritas. Keempat poin ini dipilih karena dinilai memiliki makna yang dapat dikembangkan oleh siswa maupun siswi dalam keadaan saat ini. Kegiatan “Tigre Arciera” dilaksanakan selama 3 hari, yaitu pada 17 Agustus 2021,  18 Agustus 2021, dan 20 Agustus 2021. Untuk kegiatan-kegiatan yang ada dalam rangkaian perayaan HUT SMA Kolese de Britto dan SMA Stella Duce 1, serta HUT RI akan dilakukan secara online, mengingat situasi pandemi COVID-19 yang belum usai. Berbagai kegiatan yang sudah dirancang, antara lain pada 17 Agustus terdapat upacara bendera bersama secara online, kemudian terdapat webinar dengan tema “Timeless Relationship” dengan narasumber Mas Andre dan Mbak Siska. Pada 18 Agustus ada webinar kembali, mengusung tema “A Way to Success: before 30” dengan narasumber Kak Gusti Arirang dari Tashoora Band dan Kak Laksamana Mustika, lalu disertai dengan kegiatan forum angkatan. Untuk hari terakhir, 20 Agustus, diadakan misa, penampilan-penampilan, pemutaran video pemenang lomba video kreatif, titip salam/question box, dan makrab (games & forum). Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadi sarana mempererat tali persaudaraan antara keluarga SMA Kolese de Britto dan SMA Stella Duce 1. Selain tentu saja, acara ini diadakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan terhadap sekolah yang sudah berdiri selama 73 tahun dan juga syukur atas kemerdekaan Indonesia yang ke-76. Kontributor : Alif dan Sherly – Panitia Tigre Arciera

Karya Pendidikan

Dari Pustaka Digital ke Sekolah Digital

Pandemi meluluhlantakkan dan menunggangbalikkan banyak sendi kehidupan. Namun, di sisi lain pandemi juga telah memacu dan memicu terciptanya banyak karya, inovasi, dan pemikiran baru. Siapa sangka dari Papua yang lama terbelakang dalam banyak sendi kehidupan bisa muncul karya yang mulai dilirik orang dalam dunia pendidikan? Maret 2020, Pater Sudriyanto, S.J. terjebak di Jakarta setelah menghadiri pertemuan. Dia tak bisa langsung kembali ke Nabire. Dalam keterkurungan, tak bisa ke mana-mana, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukan untuk mengisi waktu. Sukhri, volunteer yang seharusnya mulai bergabung bulan Juli 2020, diajak bergabung di Jakarta. Sukhri mengenal Pater Sudri, S.J. ketika beliau bertugas di JRS Aceh.  Mereka berpikir untuk mengembangkan “sekolah rakyat.” Konsepnya, anak-anak harus tetap bisa belajar walaupun terhalang oleh pandemi dan akses internet. Mulailah pustaka digital digarap. Namanya Pustaka Neo-EduTech atau disingkat PNE 4.0.  Dukungan dan sumbangan, baik dana, fasilitas, maupun pemikiran, perlahan mengalir.  Para pentolan Asosiasi Alumni Sekolah Jesuit (AAJI) dan beberapa aktivis pendidikan lainnya terlibat sejak awal. Juga beberapa alumni Kolese Le Cocq dan sobat dari Papua yang berada di Jakarta. Mereka seringkali datang di markas kerja PNE di Jl. Canadyanti, Jakarta Selatan. Bersama mereka tim PNE banyak berdiskusi, merumuskan visi, dan mencari strategi agar PNE ini nantinya bisa terwujud dan terdistribusi di Papua dan wilayah-wilayah lain tanpa akses internet. Akhirnya, setelah 6 bulan kerja keras sepanjang hari, jadilah perangkat wifi pendidikan yang mampu menyebarkan materi digital tanpa sambungan internet. Sebanyak 50 ribu buku dan video, tentang pendidikan mulai dari PAUD sampai SMA/SMK, dan pengetahuan umum. Sesudah berhasil menciptakan platform wifi pendidikan ini, tim merasa perlu untuk melakukan uji coba. Ternyata Yayasan Strada sangat tertarik dan merasa platform ini dibutuhkan di sekolah-sekolah Strada di pinggiran Jakarta dan Tangerang. Jadilah Yayasan Strada memesan 10 unit. Misi SJ di Kalimantan Timur juga sudah memakai 3 unit dan Lembaga Daya Dharma 8 unit. Melihat visi PNE 4.0 untuk menyediakan layanan akses wifi pendidikan di wilayah-wilayah tanpa akses internet, para petinggi PT Primacom sangat terkesan. Mereka kemudian mendukung program PNE 4.0 dengan menyediakan VSat untuk update materi digital dan menyediakan layanan kompresi data. Dalam 6 bulan sejak PNE 4.0 didistribusikan di Papua, sudah 4 titik VSat terpasang, yaitu di Kabupaten Nabire, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Deiyai, dan Kabupaten Paniai. Kerja sama tim PNE 4.0 dan PT Primacom telah menghasilkan kontribusi yang sangat berharga. Dalam periode Januari-Juli 2021, sebanyak 110 unit PNE 4.0 Versi 1 (versi mobile) sudah terdistribusi di sekitar 100 sekolah di 9 kabupaten di Papua (Serui, Nabire, Deiyai, Dogiyai, Paniai, Intan Jaya, Manokwari, Sorong, dan Fakfak). Keterlibatan Bupati, Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah mempermudah pengenalan pustaka digital ini. CARA KERJA Platform wifi pendidikan PNE 4.0 ini mudah dioperasikan. Tidak membutuhkan instalasi. Tinggal plug and play, colok ke listrik dan siap pakai. Tidak membutuhkan pulsa data atau sambungan ke internet. Bisa diakses di mana saja, entah di tengah hutan, di pulau terpencil, atau di pinggir pantai, yang penting ada alur listrik, entah listrik PLN, generator, atau tenaga surya (solar cell). PNE Versi 1 bisa diakses 10-15 pengguna sekaligus. Pengguna bisa streaming, downloading, uploading, dan chatting. Sistem intranet ini sangat berguna bagi sekolah-sekolah yang mengalami kesulitan mengakses internet. Anak-anak atau orang tua/wali bisa datang ke sekolah untuk mengunduh materi yang diperlukan secara gratis atau tanpa pulsa data. Sangat umum didapati bahwa anak-anak di Papua tidak memiliki buku pelajaran. Dengan adanya PNE 4.0 ini, mereka bisa memiliki buku pelajaran dan video pembelajaran dalam jumlah yang berlimpah. HAK CIPTA Buku-buku dan video yang tersedia dalam PNE 4.0 berasal dari sumber open source, sehingga tidak ada masalah hak cipta yang dilanggar. Sebagai contoh, buku paket dari Kementrian Pendidikan Nasional, tertulis dalam watermark, diunduh dari psmk.kemdikbud.go.id/psmk. MINAT BACA Pemunculan PNE 4.0 ini menimbulkan pertanyaan besar. Apa gunanya pustaka digital kalau anak-anak tidak mempunyai minat baca? Menunggu anak memiliki minat baca yang tinggi membutuhkan waktu panjang. Menurut Sugata Mitra, peneliti dan pendidik di India, pendidikan adalah sebuah proses yang berjalan dengan sendirinya asal anak punya motivasi atau punya dorongan ingin tahu dan ada teknologi yang tepat. Sugata melakukan eksperimen ini dengan menempatkan perangkat desktop usang dengan akses internet yang cukup, di sebuah tembok luar di beberapa wilayah pedalaman India. Tanpa bantuan guru atau orang dewasa, awalnya anak-anak saling mengajar bagaimana menggunakan desktop, kemudian mengakses materi-materi menarik. Perlahan kemampuan membaca dan berpikir mereka berkembang (lih. Sugata Mitra, Kids can teach themselves, Ted.com). Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa anak tidak harus bisa membaca terlebih dahulu untuk bisa menggunakan perangkat digital. Sebaliknya, teknologi digital justru dapat mempercepat literasi membaca.  ADI LUHUR DAN SEKITARNYA Saat ini dengan bantuan VSat Primacom, SMA Adi Luhur bisa menggunakan internet lebih lancar dan bisa mengakses pustaka digital PNE 4.0. Jaringan PNE 4.0 ini disebarkan dari Wisma SJ ke tujuh titik, yaitu Pastoran KSK, Asrama Putri, Asrama Putra, SMA YPPK Adi Luhur, SMP YPPK St. Antonius, dan SD YPPK St. Petrus. PENGEMBANGAN Pada Juli 2021 sudah selesai platform wifi pendidikan PNE 4.0 Versi 2. Platform Versi 2 ini dibuat untuk mendukung terciptanya sekolah digital. Fungsinya bukan hanya untuk menyebarkan materi digital tanpa internet, tetapi untuk memfasilitasi KBM berbasis digital.  Pada bulan Juli 2021 ini, dua sekolah tingkat SMA di Nabire sudah menggunakan PNE 4.0 Versi 2 ini untuk mendukung KBM berbasis digital. Sebanyak lebih dari 300 murid di masing-masing sekolah beserta gurunya mulai memanfaatkan platform wifi pendidikan dan materi pendidikan yang disediakan. Tanpa sadar semangat save paper (hemat kertas) mulai merasuk. Apabila pandemi Covid-19 berakhir, diharapkan sekolah digital ini tetap berlangsung. Karena dunia di masa depan tidak bisa dilepaskan dari penguasaan digital. Dengan demikian sekolah mulai saat ini harus membiasakan anak didik terampil dalam menggunakan teknologi digital. Tim PNE sudah merencanakan untuk memperluas distribusi PNE 4.0 ini ke seluruh tanah Papua, baik Versi 1 maupun Versi 2. Luasnya wilayah dan sulitnya medan tidak menyurutkan semangat tim PNE. Mengapa? Perangkat dan konten PNE 4.0 bukan hanya relevan di tanah Papua, tetapi juga mendesak di berbagai daerah. Tim bertemu dengan fakta ini, yaitu bahwa literasi membaca anak-anak Papua tergolong paling rendah, langkanya buku pelajaran sekolah bagi murid, susahnya akses internet di banyak wilayah pedalaman, tersendatnya KBM karena tingginya ketidakhadiran

Karya Pendidikan

Asa dalam Pendidikan Daring

Proses-proses Pendidikan Karakter yang lazim terjadi pada masa sekolah offline, secara substansial dapat diselenggarakan di tengah himpitan pandemi. Problem hilangnya tatap muka dapat disiasati dengan kemitraan dengan orang tua dan modul bersama. Namun bagaimana dengan hasil dan efektifitasnya? Menurut hemat saya, tuntutan untuk menunjukkan pengukuran yang objektif dan komprehensif sebenarnya tampak sebagai sesuatu yang tidak etis pada masa-masa sulit dan penuh ketidakpastian seperti ini. Selain waktu dan energi yang terbatas untuk melakukannya, hal ini seolah juga akan terasa kurang menghargai para guru yang dengan segala keterbatasannya telah berdarah-darah berjuang, mulai dari rapat-rapat yang berderet menyiapkan strategi, usaha besar dalam penguasaan sarana teknologi, hingga waktu kerja yang hampir tidak berjeda. Meskipun demikian, demi kemajuan tetaplah pertanyaan tersebut penting dan perlu ditemukan jawabannya. Oleh karena itu, bolehlah untuk sementara pertanyaan mengenai hasil dan efektifitas model ini kita lihat cukup dari produk yang dihasilkan dan umpan balik dari berbagai pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam program ini. Pertama, gambaran hasil ini dapat kita lihat dari ketercapaian tujuan pendampingan, yakni kedalaman emosional, intelektual, spiritual, dan sosial. Tujuan tersebut dikonkretkan di setiap jenjang kelas secara berbeda di awal penyusunan program. Untuk kelas X, target formasi yang diharapkan adalah kemampuan siswa mengenal dan mencintai diri. Sementara untuk kelas XI, target yang diharapkan adalah siswa mampu menemukan orientasi hidupnya. Dan siswa kelas XII diharapkan mampu mengambil keputusan secara matang untuk langkah studi selanjutnya. Apabila diukur dari target tersebut, secara umum dapat dikatakan program-program formasi online dapat membantu siswa mencapainya. Melalui menulis autobiografi diri, mendalami biografi Santo Ignatius dan percakapan rohani di keluarga, tampak sebagian siswa kelas X mampu mengidentifikasi unsur-unsur penting dalam hidupnya: Bahasa Kasih, Pola Relasi dengan Orangtua, Model Parenting yang Diterima, Peristiwa Penting. Hal ini dapat kita rasakan dalam refleksi atau laporan percakapan mereka dengan orang tua di keluarga. Saat saya melakukan refleksi bersama keluarga, saya bersama ibu saya dan bapak saya, kakak saya sedang pergi. Percakapan kami berjalan dengan lancar, kami membahas tentang karakter masa depan saya dan juga bahasa kasih. Ibu dan bapak saya memberitahu saya bahwa mereka melihat seberapa besar saya sudah berkembang. Mereka juga akan selalu support saya dalam membangun karakter pada masa remaja ini. Saya juga mengangkat topik Bahasa Kasih. Dalam topik ini saya membawa 2 bahasa kasih saya, yaitu Touch dan Quality Time. Dalam poin Touch, saya membahas bahwa sebuah pelukan dari orang tua itu sangat membantu saya untuk tenang dan juga membuat saya semangat untuk menjalani apapun yang saya hadapi. Dalam poin Quality Time, saya dan orang tua saya sangat setuju bahwa quality time bersama keluarga adalah salah satu hal terpenting dalam memperketat hubungan keluarga. Saya sangat mencintai orang tua saya. Hasil baik lain juga tergambar dalam sebuah refleksi siswa kelas XI. Setelah mengikuti seri webinar tentang berbagai macam prospek karier dan profesi, para siswa mampu menentukan orientasi hidup dan pilihan profesi melalui perspektif asas dan dasar Ignatian. Hidup yang aku dambakan adalah hidup sederhana dengan penuh makna dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Bidang yang aku merasa mampu adalah bidang sejarah terutama pada cabang arkeologi dan antropologi. Sementara, bidang sejarah adalah bidang 7 yang aku minati, karena setiap mempelajarinya ada ikatan emosional yang membuat aku jatuh cinta pada bidang ini. Profesi atau karier yang aku inginkan adalah menjadi arkeolog di bidang epigrafi sekaligus penulis majalah seperti: National Geographic. Untuk itu, komitmenku adalah menguasai bahasa inggris. Aku akan berusaha mempelajarinya hingga aku lulus standar TOEFL yang baik, dan aku benar-benar profesional dalam bidang ini. Nantinya bahasa Inggris akan menunjang studi lanjutan dan profesi yang aku pilih. Aku juga akan akan mencoba untuk mengikuti perlombaan-perlombaan untuk mengasah kemampuanku dan aku akan mencoba untuk pergi ke situs sejarah yang menunjang profesiku kelak. Setidaknya aku belajar mengenal lingkungan profesiku terlebih dahulu. Sementara dalam tulisan refleksi siswa kelas XII atas percakapannya bersama orang tua, terbaca kemampuan dan keberanian mengambil keputusan terkait jurusan dan pilihan perguruan tinggi melalui metode discernment Ignatian. Saya mempresentasikan hasil pemikiran saya mengenai keputusan pengambilan jurusan kepada kedua orang tua saya (ibu yang mengambil gambar). Saya menerangkan bagaimana cara agar masuk ke perguruan yang saya inginkan dan alasan saya mengambil jurusan itu. Saya sampaikan perimbangan pro-kontra setiap pilihannya. Ibu saya setuju dengan apa yang saya pilih, karena beliau yakin saya sudah bisa berpikir matang dan bisa mengambil keputusan dengan baik. Bapak saya memberi saya saran dan beberapa kritikan, seperti apa saja risiko yang bisa didapat jika mengambil jurusan kedokteran. Bapak juga menyarankan beberapa jurusan lain seperti STAN, PNS, dll. Dalam tulisan refleksi para siswa tersebut kita bisa melihat ‘hasil’ pendampingan. Siswa mampu mendeskripsikan siapa dirinya, mengkomunikasikan keinginan terdalamnya dan pada akhirnya juga berani mengambil keputusan penting untuk hidupnya. Kemampuan-kemampuan praktis tersebut dapatlah merupakan muara dari serangkaian proses yang telah didesain dan telah dijalani sebelumnya. Fakta lain yang menggembirakan adalah bahwa sebagian besar siswa dapat mencapai tuntutan tersebut. Di setiap kelas, hampir tidak ada siswa yang tidak mampu mengumpulkan worksheet pengembangan diri untuk setiap programnya yang diminta. Umpan balik lain yang perlu ditampilkan di sini adalah testimoni para orang tua. Selama 1,5 tahun menjalankan berbagai program formasi non-akademis online, rasanya kami lebih banyak menerima apresiasi daripada kritik terkait program formasi kesiswaan. Misalnya, salah satu orang tua memberikan testimoni tentang program ‘Ignatian Virtual Pilgrimage.’ Inti program ini adalah mengajak para siswa bersama orang tua mengenal biografi Santo Ignatius Loyola melalui kegiatan rutin 30-60 menit berjalan kaki sambil merenungkan kisah perjalanan Ignatius dari kota ke kota (walking meditation). Rupanya, di mata orangtua program ini menjawab keprihatinan mendalam yang muncul selama sekolah online, yakni siswa jarang bergerak/olah raga. Dengan adanya penugasan dan target mengumpulkan jarak jalan kaki melalui aplikasi Strava per kelas, para orang tua punya kesempatan untuk lebih mendorong anak aktif bergerak setiap harinya. “Menurut kami program ini sangat tepat dan perlu dilanjutkan. Selain mengajak anak bergerak dan membangun gaya hidup sehat, melalui program ini saya sebagai orangtua menjadi punya kesempatan bercakap-cakap dengan anak secara lebih mendalam.” Demikianlah gambaran hasil dan efektifitas berbagai program formasi online. Selain feedback yang bersifat kualitatif dan subjektif dalam refleksi siswa dan testimoni orang tua tersebut, sebenarnya ada pula umpan balik yang