Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Proses-proses Pendidikan Karakter yang lazim terjadi pada masa sekolah offline, secara substansial dapat diselenggarakan di tengah himpitan pandemi. Problem hilangnya tatap muka dapat disiasati dengan kemitraan dengan orang tua dan modul bersama. Namun bagaimana dengan hasil dan efektifitasnya?

Menurut hemat saya, tuntutan untuk menunjukkan pengukuran yang objektif dan komprehensif sebenarnya tampak sebagai sesuatu yang tidak etis pada masa-masa sulit dan penuh ketidakpastian seperti ini. Selain waktu dan energi yang terbatas untuk melakukannya, hal ini seolah juga akan terasa kurang menghargai para guru yang dengan segala keterbatasannya telah berdarah-darah berjuang, mulai dari rapat-rapat yang berderet menyiapkan strategi, usaha besar dalam penguasaan sarana teknologi, hingga waktu kerja yang hampir tidak berjeda. Meskipun demikian, demi kemajuan tetaplah pertanyaan tersebut penting dan perlu ditemukan jawabannya. Oleh karena itu, bolehlah untuk sementara pertanyaan mengenai hasil dan efektifitas model ini kita lihat cukup dari produk yang dihasilkan dan umpan balik dari berbagai pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam program ini.

Pertama, gambaran hasil ini dapat kita lihat dari ketercapaian tujuan pendampingan, yakni kedalaman emosional, intelektual, spiritual, dan sosial. Tujuan tersebut dikonkretkan di setiap jenjang kelas secara berbeda di awal penyusunan program. Untuk kelas X, target formasi yang diharapkan adalah kemampuan siswa mengenal dan mencintai diri. Sementara untuk kelas XI, target yang diharapkan adalah siswa mampu menemukan orientasi hidupnya. Dan siswa kelas XII diharapkan mampu mengambil keputusan secara matang untuk langkah studi selanjutnya. Apabila diukur dari target tersebut, secara umum dapat dikatakan program-program formasi online dapat membantu siswa mencapainya.

Percakapan rohani di keluarga yang dilakukan oleh siswa kelas X.

Melalui menulis autobiografi diri, mendalami biografi Santo Ignatius dan percakapan rohani di keluarga, tampak sebagian siswa kelas X mampu mengidentifikasi unsur-unsur penting dalam hidupnya: Bahasa Kasih, Pola Relasi dengan Orangtua, Model Parenting yang Diterima, Peristiwa Penting. Hal ini dapat kita rasakan dalam refleksi atau laporan percakapan mereka dengan orang tua di keluarga.

Saat saya melakukan refleksi bersama keluarga, saya bersama ibu saya dan bapak saya, kakak saya sedang pergi. Percakapan kami berjalan dengan lancar, kami membahas tentang karakter masa depan saya dan juga bahasa kasih. Ibu dan bapak saya memberitahu saya bahwa mereka melihat seberapa besar saya sudah berkembang. Mereka juga akan selalu support saya dalam membangun karakter pada masa remaja ini.

Saya juga mengangkat topik Bahasa Kasih. Dalam topik ini saya membawa 2 bahasa kasih saya, yaitu Touch dan Quality Time. Dalam poin Touch, saya membahas bahwa sebuah pelukan dari orang tua itu sangat membantu saya untuk tenang dan juga membuat saya semangat untuk menjalani apapun yang saya hadapi. Dalam poin Quality Time, saya dan orang tua saya sangat setuju bahwa quality time bersama keluarga adalah salah satu hal terpenting dalam memperketat hubungan keluarga. Saya sangat mencintai orang tua saya.

Hasil baik lain juga tergambar dalam sebuah refleksi siswa kelas XI. Setelah mengikuti seri webinar tentang berbagai macam prospek karier dan profesi, para siswa mampu menentukan orientasi hidup dan pilihan profesi melalui perspektif asas dan dasar Ignatian.

Hidup yang aku dambakan adalah hidup sederhana dengan penuh makna dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Bidang yang aku merasa mampu adalah bidang sejarah terutama pada cabang arkeologi dan antropologi. Sementara, bidang sejarah adalah bidang 7 yang aku minati, karena setiap mempelajarinya ada ikatan emosional yang membuat aku jatuh cinta pada bidang ini. Profesi atau karier yang aku inginkan adalah menjadi arkeolog di bidang epigrafi sekaligus penulis majalah seperti: National Geographic. Untuk itu, komitmenku adalah menguasai bahasa inggris.

Aku akan berusaha mempelajarinya hingga aku lulus standar TOEFL yang baik, dan aku benar-benar profesional dalam bidang ini. Nantinya bahasa Inggris akan menunjang studi lanjutan dan profesi yang aku pilih. Aku juga akan akan mencoba untuk mengikuti perlombaan-perlombaan untuk mengasah kemampuanku dan aku akan mencoba untuk pergi ke situs sejarah yang menunjang profesiku kelak. Setidaknya aku belajar mengenal lingkungan profesiku terlebih dahulu.

Sementara dalam tulisan refleksi siswa kelas XII atas percakapannya bersama orang tua, terbaca kemampuan dan keberanian mengambil keputusan terkait jurusan dan pilihan perguruan tinggi melalui metode discernment Ignatian.

Saya mempresentasikan hasil pemikiran saya mengenai keputusan pengambilan jurusan kepada kedua orang tua saya (ibu yang mengambil gambar). Saya menerangkan bagaimana cara agar masuk ke perguruan yang saya inginkan dan alasan saya mengambil jurusan itu. Saya sampaikan perimbangan pro-kontra setiap pilihannya.

Ibu saya setuju dengan apa yang saya pilih, karena beliau yakin saya sudah bisa berpikir matang dan bisa mengambil keputusan dengan baik. Bapak saya memberi saya saran dan beberapa kritikan, seperti apa saja risiko yang bisa didapat jika mengambil jurusan kedokteran. Bapak juga menyarankan beberapa jurusan lain seperti STAN, PNS, dll.

Dalam tulisan refleksi para siswa tersebut kita bisa melihat ‘hasil’ pendampingan. Siswa mampu mendeskripsikan siapa dirinya, mengkomunikasikan keinginan terdalamnya dan pada akhirnya juga berani mengambil keputusan penting untuk hidupnya. Kemampuan-kemampuan praktis tersebut dapatlah merupakan muara dari serangkaian proses yang telah didesain dan telah dijalani sebelumnya. Fakta lain yang menggembirakan adalah bahwa sebagian besar siswa dapat mencapai tuntutan tersebut. Di setiap kelas, hampir tidak ada siswa yang tidak mampu mengumpulkan worksheet pengembangan diri untuk setiap programnya yang diminta.

Siswa bersama dengan keluarga berjalan kaki bersama sambil merenungkan kembali kisah perjalanan St. Ignatius.

Umpan balik lain yang perlu ditampilkan di sini adalah testimoni para orang tua. Selama 1,5 tahun menjalankan berbagai program formasi non-akademis online, rasanya kami lebih banyak menerima apresiasi daripada kritik terkait program formasi kesiswaan. Misalnya, salah satu orang tua memberikan testimoni tentang program ‘Ignatian Virtual Pilgrimage.’ Inti program ini adalah mengajak para siswa bersama orang tua mengenal biografi Santo Ignatius Loyola melalui kegiatan rutin 30-60 menit berjalan kaki sambil merenungkan kisah perjalanan Ignatius dari kota ke kota (walking meditation).

Rupanya, di mata orangtua program ini menjawab keprihatinan mendalam yang muncul selama sekolah online, yakni siswa jarang bergerak/olah raga. Dengan adanya penugasan dan target mengumpulkan jarak jalan kaki melalui aplikasi Strava per kelas, para orang tua punya kesempatan untuk lebih mendorong anak aktif bergerak setiap harinya. “Menurut kami program ini sangat tepat dan perlu dilanjutkan. Selain mengajak anak bergerak dan membangun gaya hidup sehat, melalui program ini saya sebagai orangtua menjadi punya kesempatan bercakap-cakap dengan anak secara lebih mendalam.

Demikianlah gambaran hasil dan efektifitas berbagai program formasi online. Selain feedback yang bersifat kualitatif dan subjektif dalam refleksi siswa dan testimoni orang tua tersebut, sebenarnya ada pula umpan balik yang bersifat kuantitatif dari perangkat-perangkat evaluasi masing-masing program. Secara umum siswa dan orang tua merasakan terbantu mengembangkan diri dan mendapat manfaat dari program-program tersebut. Contoh yang paling mudah ditunjuk di sini adalah program orientasi profesi yang bertujuan membantu siswa kelas XI menentukan kecenderungan pilihan karier dan menyusun rencana strategis untuk meraih jurusan-universitas yang diharapkan. Melalui serangkaian acara webinar, psikotes, bimbingan psikolog, dinamika kelompok peer dan berbagai worksheet refleksi atasnya, sebagian besar siswa terbantu menentukan orientasinya dengan rincian 9% siswa merasa sangat teguh dengan pilihannya, 66% siswa merasa yakin, 24% siswa masih ragu-ragu, dan 1% masih bingung. Tergambar dalam angka tersebut 75% siswa dapat merumuskan orientasi dan rencana hidupnya untuk satu tahun ke depan. Di sisi lain, program ini juga dapat memotret 25% siswa lain yang masih membutuhkan pendampingan.

Kontributor : S. Isidorus Bangkit Susetyo Adi Nugroho, S.J.