Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Berawal dari pertanyaan sederhana di atas, Komunitas St. Ignatius Loyola, Semarang, mengadakan triduum Peringatan 500 Tahun Pertobatan St. Ignatius Loyola sekaligus sebagai rangkaian acara yang mengantarkan kami pada permenungan Hari Ignatius Loyola (31 Juli). Triduum yang disiarkan secara daring pada 28– 30 Juli 2021, diisi dengan tiga tema renungan yang berbeda-beda setiap harinya. Yang khas pada rangkaian acara ini adalah tradisi penyediaan air berkat yang dinamai sebagai “Air Ignatius” dan kegiatan Vaksinasi Anti-Virus Covid-19 untuk civitas academica SMA Kolese Loyola dan SMK PIKA Semarang.

Renungan di hari pertama triduum adalah “Bertobat itu Berubah”. Hari kedua, “Bertobat itu Merencanakan Hidup”. Akhirnya hari ketiga, “Bertobat itu Berbuat.” Dalam homili di hari pertama triduum, Pater Bas Sudibyo, SJ, mengajak kita semua memaknai bahwa “Bertobat itu Berubah” berarti menanggalkan identitas lama, yang penuh dosa, dan mulai mengenakan identitas baru sebagai pengikut Kristus. Renungan hari pertama diwarnai dengan renungan mengenai perjalanan sejarah perubahan identitas dari Inigo de Loyola menjadi Ignatius Loyola. Perubahan identitas tersebut diawali dengan melihat Peristiwa Canonball Inigo sebagai “blessing in disguise”, yang menjadi titik awal dari perubahan hidup Inigo. Ketidakberdayaan Inigo diisinya dengan permenungan mengenai kehidupan Yesus (Imitatio Christi) dan Kisah Santo-Santa (Flos Sanctorum). Setelah itu, kami merenungkan terhadap pengalaman penyerahan pakaian perang Inigo di hadapan Bunda Maria & pengalaman latihan rohaninya di Manresa. Kematangan diskresi Ignatius untuk memutuskan mengabdi Allah membawanya pada perubahan baru di hidupnya.

Screening kesehatan sebelum dilakukan vaksin.

Renungan di atas menjadi pintu masuk lebih dalam pada permenungan di hari kedua, “Bertobat itu Merencanakan Hidup.” Dalam homili di triduum hari kedua, Pater Vico Cristiawan, SJ, mengajak untuk mencermati dan memaknai momen “perubahan” rancangan Ignatius Loyola. Kegagalan rancangannya untuk tinggal di Yerusalem oleh karena kehendak Allah melalui keputusan Gereja Katolik, justru semakin membuatnya sadar: Apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki padaku? Perencanaan hidup sebagai bagian jalan pertobatan senantiasa memberikan momen atau waktu untuk lebih banyak dan semakin peka mendengarkan kehendak Allah melalui pengalaman-pengalaman yang membentur atau menyentuh diri kita. Perencanaan hidup yang didasarkan pada kehendak Allah ditandai dengan upaya melatihkan terus-menerus proses berdiksresi dan memutuskan langkah-langkah hidup baru dan lebih baik, yang akan dilakukan ke depannya. Beberapa langkah atau semacam tips yang dilakukan Ignatius Loyola bersama 9 temannya adalah melalui Ekaristi dan Latihan Rohani, mereka mencoba berdiskresi dengan hening keputusan hidup baru yang mereka lakukan.

Renungan di atas membantu kami merenungkan bahwa pertobatan tidak cukup berhenti pada perencanaan semata, melainkan harus dilakukan dalam tindakan konkret. Dalam homilinya pada hari ketiga Triduum, Pater Yakobus Rudyanto, SJ, mengajak kami merenungkan bahwa “Bertobat itu Berbuat.” Menyatakan cinta dan kehendak untuk mengikuti Tuhan tidak cukup berhenti pada kata-kata atau perencanaan semata, melainkan harus diwujudkan dalam perbuatan konkret. Pater Rudy mengajak kami mencecap-cecap secara mendalam bahwa “cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan, daripada kata-kata.” Kami diajak untuk melihat pengalaman Vaksinasi Anti-Virus Covid-19 bagi civitas academica SMA Kolese Loyola dan SMK PIKA, Semarang. Kerja keras para panitia penyelenggara dan kehendak para peserta vaksinasi untuk menjadi lebih sehat menjadi bukti nyata bahwa Tuhan mengajari kami bahwa cinta dan kepedulian akan upaya melawan pandemi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa cinta dan kepedulian untuk melawan pandemi dapat menjadi sarana untuk mencintai dan memuliakan Tuhan. 

Akhirnya rangkaian Triduum tersebut ditandai dengan pemberkatan air sebagai Air Ignatius. Harapannya, melalui sarana Air Ignatius, kami dibantu untuk berdevosi dan berupaya memekakan hati, budi, kehendak, dan tindakan kami untuk semakin mencintai Allah dalam hidup kami sehari-hari. Air Ignatius tersebut dibagikan kepada siapapun yang membutuhkan bantuan devosi akan St. Ignatius Loyola.

Triduum permenungan 500 Tahun Pertobatan Ignatius Loyola kami simpulkan pada dalam Perayaan Ekaristi 31 Juli 2021 dalam Peringatan St. Ignatius Loyola secara daring. Bersama dengan para civitas academica SMA Kolese Loyola, Pater Rudy, SJ, mengajak umat untuk merenungkan bahwa mengikuti Tuhan adalah senantiasa berdiskresi, membuat keputusan, dan kemudian melaksanakan rancangan-rancangan hidup yang sudah didasari pada keyakinan bahwa Allah mengehendakinya demikian. Peringatan St. Ignatius Loyola tersebut ditutup dengan pemberian penghargaan terhadap para staff SMA Kolese Loyola yang telah 25 tahun bekerja dan melayani seluruh civitas academica SMA Kolese Loyola. Merekalah inspirasi konkret bahwa cinta pada Allah melalui pelayanan harus senantiasa diwujudkan dalam perbuatan daripada sekadar kata-kata. Ad Maiorem Dei Gloriam!

Kontributor : Br. Nicolaus David, SJ – St. Ignatius Loyola Community, Semarang