Pilgrims on Christ’s Mission

Pelayanan Gereja

Pelayanan Gereja

Beda Pola Pikir: Minggu Palma Gereja Stasi St. Maria Assumpta Glodogan

“Apa perbedaan antara perayaan Minggu Palma di masa pandemi dengan masa normal?” Jelas sangat berbeda! Saya dapat menyaksikannya yang terjadi di gereja Stasi Maria Assumpta, Glodogan tahun ini.  Pertama, selama pekan suci pelaksanaan Misa dilaksanakan dengan 2 gelombang. Ini dilakukan agar jumlah umat yang hadir tetap menaati prokes. Hanya setengah dari kapasitas biasanya. Tidak ada lagi penambahan tenda di luar gereja. Kedua, tidak ada lagi perarakan Minggu Palma dari luar gereja. Tentu saja, tidak ada lagi Pastur menunggang kuda dari titik awal perarakan menuju gereja.  Namun, bagi saya itu tidak jadi soal yang krusial. “Toh, itu hanya sebatas ritual. Sebab kadangkala bila ritual tidak dipahami secara mendalam, tidak mampu menyentuh sisi spiritual diriku,” begitu kilahku dalam hati. “Bukan berarti saya mengabaikan soal ritual, tetapi ritual perlu diimbangi adanya upaya menemukan sisi spiritualnya,” tambahku menyikapi perayaan Minggu Palma di gereja stasiku tahun ini. “Apa makna Minggu Palma tahun ini? Apa penemuan terbaruku dibandingkan perayaan Minggu Palma tahun-tahun sebelumnya?” Itulah dua pertanyaan yang saya coba jawab. Dan inilah jawabannya.  Beda pola pikir. Ya, Bangsa Israel –termasuk dalam hal ini, para Murid Yesus kala itu- terjadi perbedaan pola pikir dalam memaknai ajakan Yesus memasuki pusat kota Bangsa Israel, Yerusalem. Mereka berpikir, “Yes… Penantian panjang kita, akhirnya jadi kenyataan segera. Sang pembebas Bangsa Israel yang sudah dinubuatkan oleh para nabi ratusan tahun sebelumnya akan segera terlaksana. Bangsa pilihan Allah memiliki raja yang sangat hebat. Bisa menyembuhkan berbagai penyakit, penuh kuasa mengusir kuasa jahat, bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Kita akan kembali menjadi bangsa yang disegani oleh para musuh. Tidak lagi jadi bangsa inferior yang dijajah oleh bangsa lain. Mesias bagi bangsa kita sudah datang. Kita akan segera terbebas dari belenggu penjajah dari Bangsa Romawi”. Mereka mengelu-elukan kedatangan raja “versi” pola pikir mereka. Mereka memuja-Nya, dengan harapan versi mereka. Dan kita tahu ending cerita sejarah yang terjadi. Cuma hitungan hari raja mereka ternyata wafat di kayu salib.  Ternyata, pola pikir mereka berbeda. Bahkan bertolak belakang dengan pola pikir Tuhan.  Bukankah itu juga gambaran diri kita? Seringkali kita memahami Tuhan dan kehendak-Nya dengan sudut pandang versi diri kita. Bukannya menyelaraskan dan mencari tahu bagaimana pola pikir Tuhan. Semoga Minggu Palma tahun ini dapat membawa kesadaran kita agar menyelaraskan pola pikir kita kepada Tuhan. Bukan sebaliknya, atau bahkan memaksakan pola pikir kita kepada Tuhan. (Master Lilikz, seorang umat di Glodogan).

Pelayanan Gereja

Inkarnasi Allah

Perayaan Natal bagi banyak orang merupakan kesempatan untuk menyebarkan pesan kasih dan semangat penuh harapan, tidak terkecuali kami di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB), Tangerang. Tentu saja, perayan natal kali ini berlangsung sangat sederhana dengan mengikuti protokol yang berlaku, tanpa dihadiri oleh anak-anak dan orang lanjut usia. Walaupun demikian, kami tetap merayakan kebersamaan natal yang bersumber dari cinta Allah. Inkarnasi Allah sebagai bukti cinta Allah pada manusia menjadi pesan utama dalam misa malam natal di HSPMTB. Dalam pesan homilinya, Rm. Cahyo mengatakan bahwa kehadiran Allah di dunia merupakan bentuk kecintaan-Nya kepada manusia. “Allah konsisten mencintai manusia sejak asal mula, juga pada saat manusia jatuh ke dalam dosa.” Allah tetap hadir dan merelakan Putra-Nya untuk memulihkan dunia dengan cara tidak mudah dipahami manusia, yaitu inkarnasi. Rm. Cahyo juga mendambahkan, “Secara rohani peristiwa inkarnasi adalah jawaban cinta Allah kepada manusia. Allah menunjukan betapa berartinya manusia bagi Allah. Kehadiran Allah di dunia bukan untuk menunjukkan keagungan-Nya melainkan kerelaan dan kerendahan hati Allah demi manusia,” tandasnya. Perayaan natal di tengah-tengah pandemi ini bagi umat Paroki Tangerang juga menjadi momentum merefleksikan kehadiran Allah. Umat Paroki Tangerang sudah banyak sekali membantu orang-orang yang terdampak pandemi sehingga momentum Natal ini membawa kami, para umat, mampu memahami Allah yang hadir dalam hati setiap umat untuk berbela rasa dan peduli pada orang-orang yang terdampak pandemi. Rm. Cahyo juga menekankan bahwa peristiwa natal kali ini merupakan  momentum yang tepat agar kita dapat menciptakan semangat belarasa kepada sesamanya karena duka dan derita mereka adalah duka dan derita kita juga. Kesederhanaan Yesus lahir di kandang domba mendorong kita semua berempati dengan yang lain. Kita diundang menjadi tanda kehadiran Allah di dunia dan diutus untuk menyatakan cinta Allah ke sesama. Ario – Komsos Tangerang

Pelayanan Gereja

Para Jesuit Nabire Merayakan Natal di Pedalaman

Para Jesuit di Papua berkarya di beberapa tempat di wilayah Keuskupan Timika, yaitu di kota Nabire dan di pedalaman Waghete, tepatnya di Kabupaten Deiyai. Di kota Nabire sendiri telah ada 11 Jesuit yang terdiri dari 3 Jesuit yang berkarya di Paroki Kristus Sahabat Kita, dan 8 Jesuit lainnya berkarya di SMA YPPK Adhi Luhur, Kolese Le Cocq d’Armandville. Sedangkan di pedalaman Waghete, ada satu Jesuit yang berkarya di Paroki St. Yohanes Penginjil. Perayaan Natal di Nabire tentu saja tidak lepas dari pandemi COVID-19 yang situasinya tidak separah di pulau besar lainnya. Dari data Tim Gugus COVID-19 Kabupaten Nabire bisa dikatakan bahwa jumlah yang terpapar tidak segawat di kabupaten lain seperti Timika dan Jayapura. Per 30 Desember 2020 terdapat total 398 kasus COVID-19. 328 orang di antaranya dinyatakan sembuh dan 57 orang lainnya dirawat di RSUD Nabire. Jumlah kasus yang meninggal terdapat 13 orang. Walaupun demikian, paroki-paroki di Nabire tetap menyelenggarakan misa Natal dengan mengikuti protokol COVID-19. Di kota Nabire sendiri, para Jesuit yang berkarya di SMA membantu pelayanan Natal di beberapa paroki, antara lain Paroki Kristus Sahabat Kita, Paroki Kristus Raja, dan Paroki St. Antonius Bumi Wonorejo.  Namun, di Paroki pedalaman situasinya berbeda dengan di kota. Berdasarkan data dari Tim Gugus COVID-19 Nabire, dari total 398 kasus ada 26 kasus dari kabupaten Paniai dan 14 dari Deiyai. Namun semuanya telah dirawat di RSUD Nabire. Masyarakat pedalaman merasa bahwa COVID-19 bukan sebagai masalah yang perlu ditakuti. Mereka menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah dan kegiatan peribadatan seperti biasanya. Orang yang menggunakan masker justru disalahpahami sebagai orang yang terpapar Corona. Rm. Ferdinandus Tuhu Jati dari Nabire membantu Rm. Adrianto Dwi Mulyono melayani misa di pedalaman Waghete. Rm. Harry Setianto membantu melayani misa di paroki Bomomani, pedalaman Mapiha, yaitu karya yang dipercayakan oleh Keuskupan Timika untuk dikelola oleh Imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta. Paroki Bomomani dan Waghete masing-masing berjarak kurang lebih 150 km dan 200 km dari kota Nabire. Keduanya ditempuh dengan mobil. Pelayanan Natal lainnya di luar kabupaten Nabire dilakukan oleh Rm. Y. Sudriyanto di Pulau Serui. Penerbangan dari Nabire menuju Serui membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Rm. Sudri melayani di stasi Dawai, Yapen Timur. Untuk menuju ke stasi tersebut, dibutuhkan waktu kurang lebih 7 jam perjalanan darat dari pusat paroki bahkan harus menyeberangi beberapa sungai. Harry Setianto Sunaryo, SJ

Pelayanan Gereja

Menyambung Asa, Mewujudkan Cita, Bersama OTA

Acara Ngobrol Bareng Kotabaru hadir kembali bersama kedua host cantik yaitu Natalia dan Tunjung melalui live streaming di kanal YouTube Gereja St. Antonius Padua Kotabaru , Minggu (22/11) pukul 18.30 WIB. #NgobarKobar episode 4 ini mengambil tema “Menyambung Asa, Mewujudkan Cita, Bersama OTA”. Pada kesempatan kali ini #Ngobarkobar kedatangan tamu istimewa, yaitu Ibu Lucia Arianititi atau yang kerap disapa Tante Ari. Beliau adalah perwakilan dari Tim Program OTA atau Orang Tua Asuh. Program OTA yang ada di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta ini merupakan salah satu program pelayanan di bidang pendidikan. Meskipun sempat vakum, dengan berkat Tuhan, pada 2018, OTA kembali aktif. Bidang Kemasyarakatan n bekerja sama dengan Tim Pendidikan Kotabaru menjadi aktor yang membangkitkan kegiatan ini. Tujuannya ialah mengajak umat untuk turut bergerak membantu sesama yang kurang mampu dalam melanjutkan pendidikan dan juga memberikan pendampingan psikologis, pendidikan, dan kerohanian. Hal ini selaras dengan program subsidi pendidikan yang juga bergerak di paroki. Ketika membahas soal bantuan, tentu saja tidak lepas dari seorang donatur. Tante Ari menjelaskan bahwa donatur boleh datang dari mana saja dan dengan fleksibilitas yang beragam. Mekanisme untuk menjadi donatur juga cukup mudah. Pertama, bisa dengan menghubungi salah satu contact person dari OTA, kemudian dilanjutkan dengan pengisian MOU. Pada MOU sudah tertera minimal nominal Rp100,000,- untuk didonasikan setiap bulan. Pada tahap terakhir, akan diberi kode unik yang bisa dicantumkan saat mengirim bantuan via transfer. Cara kedua ialah dengan datang ke sekretariat gereja yang berlokasi di samping pastoran dan mengikuti instruksi yang sama dengan cara pertama. Tante Ari menambahkan bahwa program OTA memberi subsid pendidikan bagi murid-murid yang bersekolah di SD, SMP dan SMA swasta. Sedangkan bagi yang bersekolah di sekolah negeri, subsidi hanya diberikan pada mereka yang berada di SMK. Pemberian bantuan dilakukan dengan saringan dan survei sehingga tepat saran. “Saya sungguh sangat senang karena banyak dari orang-orang muda yang turut tergerak hatinya untuk menyisihkan sedikit uang jajan mereka untuk berdonasi. Tidak peduli besar atau kecil, tetapi niat dan ketulusan mereka sungguh patut diapresiasi.” tambah Tante Ari. Telah banyak umat yang mendapatkan bantuan dari program OTA ini. Banyak diantaranya adalah anak-anak SD dan SMP yang tinggal di sekitar wilayah Gereja St. Antonius Padua Kotabaru. Dalam salah satu cuplikan video yang mereka buat, mereka menyampaikan rasa terimakasihnya atas bantuan pendidikan ini. Maria Ludwina

Pelayanan Gereja

PCF (Pastoral Counsellor Formation) 2020 di PPY

Tahun 2020 adalah tahun penuh tantangan. Sebenarnya kita tidak hanya mengalami darurat Covid 19, tetapi juga mengalami darurat dalam hampir seluruh aspek hidup kita. Kita mengalami beragam persoalan mental-psikologis, sosial-kultural, dan spiritual lain yang tidak kalah mencemaskan. Data kekerasan, pengguguran kandungan, perselingkuhan, perceraian, korupsi, intoleransi, konflik antar kelompok, dan kecanduan (games, judi, pornografi) mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Paradigma manusia yang integral dan kesehatan holistik mendorong kita untuk menyadari bahwa darurat persoalan kehidupan kita di atas pasti saling terkait dan tidak dapat dilepaskan dari aspek mental-psikologis, sosial-budaya-politik, dan spiritual-religiositas. Kehadiran tenaga profesional yang terdidik dan terlatih dalam menangani persoalan kompleks dan multidimensional semakin dibutuhkan. Sayangnya, jumlah tenaga profesional yang mampu melakukan program dan kegiatan pencegahan, peningkatan (enrichment), penyembuhan-pengobatan-terapi sangat terbatas. Dengan latar belakang tersebut, Pusat Pastoral Yogyakarta (PPY) bekerja sama dengan Asosiasi Konselor Pastoral Indonesia (AKPI) menyelenggarakan Pastoral Counsellor Formation (PCF) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penolong psiko-sosial-spiritual. Program PCF hendak memberi kesempatan kepada pengemban profesi pertolongan dan masyarakat luas yang ingin memahami makna, tempat, dan peran konseling psikospiritual dalam era perubahan dahsyat dan cepat. Dengan program PCF, para peserta diharapkan memiliki komitmen untuk menjadi konselor pastoral profesional yang mampu melakukan pertolongan secara sistematis, metodis, dan akuntabel melalui program dan kegiatan konseling terpadu (preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif). Covid 19 memaksa PPY untuk berinovasi dalam pelaksanaan kursus. Kursus dilaksanakan secara online dengan menggunakan platform Zoom pada tanggal 5-17 Oktober 2020 pada pukul 09.00 sampai pukul 12.30. Bahan-bahan yang disampaikan pada PCF Angkatan 17 meliputi: Perubahan Cepat dan Dahsyat Era Milenial. Spiritualitas dan Sejarah Konseling Pastoral. Theology of Caring. Pengertian dan Ruang Lingkup Konseling Pastoral. Proses Konseling Pastoral. Diagnosa Konseling Pastoral. Pengertian dan Peran Sikap Empati dalam Konseling. Pengertian dan Ketrampilan Mendengarkan dalam Konseling. Pengantar Pendekatan Konseling. Penggunaan Pendekatan dan Teknik Integratif dalam Konseling. Penggunaan Sarana Religius dalam Konseling. Mengembangkan Kerjasama. Kode Etik Pendampingan dan Konseling. Materi yang menantang tersebut disampaikan oleh para ahli yang sudah menggeluti bidang pendampingan profesional: Dr. Totok S. Wiryasaputra M. Th, Kon. Pas (Direktur Eksekutif AKPI) J.B. Mardikartono S.J Dra. Liana Poedjihastoeti P.G.Dip of Psychology Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari M.Si, Ph.D (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM) Shirley Angeline Kusuma M.Psi Drs. Afthonul Afif, M.A Lidia M. Santosa S.Pd, M.Si, Kon.Pas PCF Angkatan 17 diikuti oleh 30 peserta tetap dan 2 peserta tambahan. Dari 30 peserta tetap, 7 orang dari Gereja Katolik, sedangkan 23 orang dari Gereja Kristen dengan berbagai denominasi. Komposisi peserta adalah 16 perempuan dan 14 laki-laki. Kita juga melihat keterlibatan dan minat kaum awam dengan komposisi 16 awam, 11 pendeta, 2 imam, dan 1 frater. Keuskupan Agung Semarang (Paroki Kumetiran) mengirimkan perwakilan (2 awam) untuk secara serius belajar menjadi konselor pastoral. Program PCF masih berlanjut sampai bulan Mei 2021 karena para peserta yang ingin menjadi konselor pastoral profesional masih harus melaksanakan praktikum (400 jam konseling) dan mengambil 4 Modul Lanjutan. Modul Lanjutan menawarkan beberapa tema: Spiritual Direction. Terapi Trauma. Orang dengan Gangguan Jiwa. Konseling Peka Budaya. Konseling Anak. Konseling Remaja. Pendampingan Lansia. Pendampingan Kedukaan. Melalui program PCF, PPY ingin menanggapi tantangan-tantangan jaman secara konkret melalui pendampingan psikologis-spiritual. PPY mengajak paroki-paroki yang dikelola oleh rekan-rekan Jesuit untuk menawarkan program Modul Lanjutan kepada pelayan pastoral atau umat yang berminat untuk menambah ketrampilan dalam pendampingan terhadap sesama. Ernest Justin, SJ

Pelayanan Gereja

EKM Semongko: Semangat Orang Muda untuk Berkolaborasi!

Ekaristi Kaum Muda (EKM) dengan tagline “Semongko: Semangat Orang Muda Untuk Berkolaborasi” diselenggarakan oleh tim EKM Gereja Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta bersama Kolese St. Ignatius pada Rabu (28/10/2020). Kegiatan ini dilakukan dalam partisipasi parayaan hari Sumpah Pemuda sekaligus juga memperingati Pesta Santo Simon dan Santo Yudas, Para Rasul. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Effendi Kusuma S, SJ serta didampingi oleh Diakon Hugo Bayu, SJ. Sebelum perayaan Ekaristi, narasi singkat kisah Santo Simon dan Yudas dibacakan. Kemudian dilanjutkan dengan doa mohon perlindungan dari wabah virus corona dan pemutaran video visualisasi singkat yang isinya mengingatkan kita akan pentingnya Ekaristi, meskipun kini hanya dapat diikuti melalui live streaming. Hal tersebut tidaklah boleh menurunkan semangat untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Tak hanya itu juga, Rm Effendi dalam homilinya mengingatkan kaum muda untuk tetap semangat dan produktif dalam hidup keseharian kita di masa pandemi ini. Dalam homilinya, Rm. Effendi mengajak kita untuk selalu mengingat bahwa kita dipanggil dengan cara yang istimewa oleh Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk membangun Kerajaan Allah di bumi Indonesia. Iman Katolik itu menggerakkan kita dan membuat kita mampu mengatakan “Saya 100% Indonesia, saya 100% Katolik!” Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa keanekaragaman yang kita miliki ialah sebuah potensi kekayaan yang sangat besar. Pada akhir homili, Rm. Effendi berpesan, “Hiduplah dalam 3K; Kasih, Komunitas, dan Kolaborasi.” Kemudian homili ditutup dengan beberapa pantun untuk menyemangati para umat, khususnya kaum muda. Misa pun berlangsung dengan khidmat dan diakhiri dengan menyanyikan lagu Bangun Pemuda-Pemudi. Cornelia Marissa

Pelayanan Gereja

94 Tahun Gereja Kotabaru: Aksi, Refleksi, dan Bertanggung Jawab

Sabtu, 26 September 2020, Gereja Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta merayakan ulang tahun ke-94, dengan tema “Aksi, Refleksi, dan Bertanggung Jawab”. Acara diawali dengan Perayaan Ekaristi pukul 16.30 WIB dan dilanjutkan dengan perayaan malam puncak pukul 19.00 WIB. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini umat hanya mampu mengikuti seluruh rangkaian acara melalui live streaming dari kanal YouTube Santo Antonius Kotabaru. Namun, hal itu tidak menyurutkan antusiasme para umat dan semangat pelayanan para panitia dalam menyelenggarakan perayaan pesta ulang tahun ini. Perayaan pesta ulang tahun ke-94 ini diawali dengan video slide show selama kurang lebih tiga menit yang menampilkan foto-foto Gereja Kotabaru tempo dulu. Selesai pemutaran, Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh empat romo, yakni Rm. Macarius Maharsono, SJ, Rm. Floribertus Hasto R., SJ, Rm. Mario Tomi, SJ, Rm. Thomas, SJ dan Diakon Pieter Dolle pun dimulai. Seperti biasa, misa diawali dengan lagu pembuka, tanda salib dan sapaan singkat yang pada kesempatan ini disampaikan oleh Romo Mahar. Kemudian dilanjutkan dengan bacaan pertama dari Flp 2: 1-5 oleh lektor, bacaan injil dari Mat 21: 28-32, dan homili oleh Rm. Hasto. Dalam homilinya, Rm. Hasto mengajak umat untuk merefleksikan bacaan injil hari itu. Beliau mengatakan “kita harus berani untuk meneliti dan memeriksa diri kita secara sungguh, serta mau untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Yesus tidak pernah menuntut kesempurnaan dari para umatnya. Banyak murid Yesus yang melakukan kesalahan namun berani untuk kembali kepada Yesus dan bertobat. Itulah yang diinginkan Yesus dari umat-umatnya.” Hal inilah yang tampak pada Gereja Katolik Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta yang pada usianya ke-36 menyebut dirinya sebagai “Gereja Terbuka”. Maksudnya adalah gereja harus bisa menjadi pintu rumah Bapa yang selalu terbuka kepada umat yang datang untuk mencari Allah dan memperluas pelayanannya. Hal ini pun terbukti hingga sekarang. Banyak dari para pengurus atau tim pelayanan Gereja Kotabaru yang berasal dari berbagai Gereja. Gagasan ini dicetuskan oleh Rm. Wiryapranata kala itu yang ternyata sejalan dengan gagasan dari Paus Fransiskus. Bagi beliau menjadi umat katolik yang baik bukanlah seseorang yang taat mengikuti segala bentuk pertemuan iman di gereja atau mengikuti misa sebanyak enam kali pada masa itu, melainkan dengan menghayati imannya secara konkret dalam kehidupan bermasyarakat. “Keberanian untuk berubah tidak ditentukan oleh usia melainkan Roh Kudus yang berkarya dalam hati seseorang,” lanjut Rm. Hasto untuk mengakhiri homilinya. Perayaan Ekaristi pun berjalan khidmat hingga akhir dan ditutup dengan pengumuman dari perwakilan mudika mengenai acara malam puncak HUT Gereja. Selang satu setengah jam, kanal YouTube Gereja Santo Antonius Kotabaru kembali memulai siaran langsung Malam Puncak. Acara dibuka dengan sambutan dari Severina Jenita atau yang kerap disapa Kak Jeje, selaku pembawa acara pada malam hari ini. Kemudian dilanjutkan dengan video storytelling dari beberapa umat, pengumuman lomba-lomba yang telah diadakan, dan selingan lagu. Melalui video yang ditampilkan, umat diajak untuk bersama sama merefleksikan kembali segala tindakan yang dilakukan sehari-hari, melalui berbagai kisah yang diperankan oleh tokoh. Dengan berbagai latar belakang dan keresahan yang dialami tokoh dalam visualisasi, diharapkan dapat menjangkau berbagai lapisan umat, dari anak-anak, orang muda, hingga dewasa, dengan berbagai permasalahan yang banyak dijumpai. Di penghujung acara ditampilkan video koor virtual dari perwakilan lingkungan dan ucapan selamat dari para romo serta harapan bagi umat maupun gereja. Tak hanya itu, para umat pun banyak yang mengirimkan ucapan selamat yang dibacakan oleh MC, sebelum akhirnya ia pamit undur diri dan menutup acara. Maria Ludwina & Maria Angelique

Pelayanan Gereja

Serah Terima Paroki St. Petrus Kanisius, Wonosari dari Serikat Jesus kepada Keuskupan Agung Semarang

Minggu, 9 Agustus 2020, penggembalaan Paroki St. Petrus Kanisius, Wonosari resmi diserahkan dari Serikat Jesus ke Keuskupan Agung Semarang. Ekaristi konselebrasi dipimpin oleh uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko didampingi oleh Provinsial Serikat Jesus Rm. B. Hari Juliawan, SJ, pastor paroki lama dan baru serta para pastor paroki di Gunungkidul. Dalam sambutannya, Mgr. Rubiyatmoko sangat mengapresiasi kerja keras para Jesuit di Wonosari. Pada hari sebelumnya, 8 Agustus 2020 dilakukan timbang terima paroki dengan disaksikan oleh Vikaris Episkopal Yogyakarta Rm. Adrianus Maradiyo, Pr, Ekonom Serikat Yesus Rm. J. Sigit Prasaja, SJ, dan Ekonom Keuskupan Agung Semarang Rm. I. Aria Dewanto, SJ. Sesudah timbang terima dan serah terima paroki, dua Jesuit terakhir di Wonosari, Rm. M. Irwan Susiananta, SJ dan Rm. JB. Clay Pareira, SJ kemudian digantikan oleh dua imam diosesan, Rm. N. Sukarno Siwi, Pr dan Rm. I. Sapta Adi, Pr. Sejak akhir tahun 1923, dua imam Serikat Jesus, Rm. Henricus van Driessche, SJ dan Rm. Franciscus Xaverius Strater, SJ mulai berkarya di Wonosari. Dengan dibantu oleh para katekis awam mereka mewartakan Injil di seluruh penjuru Gunungkidul. Mulai tahun 1932 rumah Bapak Wongsosugoto disewa dan dijadikan kapel. Sekolah misi (Kanisius) juga bertumbuh subur di pelbagai penjuru Gunungkidul. Pada 28 Desember 1935, gedung gereja Wonosari seluas 12 X 15 m diberkati oleh Rm. Strater, SJ. Gereja ini merupakan stasi dari Paroki Kotabaru, Yogyakarta. Kemandirian sebagai paroki ditetapkan pada 12 Juli 1957 lewat pengesahan PGPM Paroki Wonosari. Gunungkidul Handayani yang identik dengan tiwul, belalang, pantai, dan pegunungan karst, mencakup 46,63 % dari luas DIY. Kepak sayap Paroki Wonosari sebagai paroki induk melebar dengan mekarnya dua paroki baru. Stasi St. Petrus dan Paulus Kelor di bagian Timur menjadi paroki mandiri pada 2 Agustus 2006. Stasi St. Yusuf Bandung di bagian Barat menjadi paroki mandiri pada 8 Oktober 2017. Jumlah umat Paroki Wonosari sendiri tercatat setidaknya 4.900 jiwa. Gedung gereja yang baru diberkati pada 27 April 2006 menggantikan gedung gereja lama yang kini menjadi Aula St. Ignatius Loyola. Setelah Serikat Jesus melakukan pemetaan dan pengukuran dalam eksamen karya, dengan diskresi yang panjang, akhirnya diputuskan bahwa paroki ini diserahkan kembali dalam pangkuan Keuskupan Agung Semarang. Selain Jesuit, sudah cukup banyak para imam Diosesan dan MSF yang sebelumnya pernah berkarya bersama di Paroki Wonosari. Kiprah bruder Jesuit juga sangat menguatkan pelayanan para pastor paroki. Selama 97 tahun, puluhan panggilan imam, suster, dan bruder (Pr, SJ, SCJ, SVD, MSF, MSC, AK, OSA, OP, CB, SFS, SMFA, FIC, CSA, dll.) bersemi di tanah Gunungkidul Handayani. Gua Maria Tritis yang diprakarsai sejak 1973 kian berkembang menjadi tempat ziarah yang menawan. Benih iman yang ditanamkan dan dipupuk Serikat Yesus selama 97 tahun di Wonosari akhirnya dikembalikan ke empunya Gereja, yakni Bapak Uskup, agar dilanjutkan dan dikembangkan oleh para imam diosesan. Salah satu katekis senior, Bapak Heribertus Subari yang tinggal di dekat gereja mengatakan bahwa Jesuit sangat berperan dalam kehidupannya. Tuturnya, “Pengalaman paling berkesan dengan Rm. Widiyana, SJ. Beliau yang membimbing saya sebagai menjadi guru dan katekis. Saya diminta mengajar agama katolik di sekolah-sekolah negeri, tanpa imbalan / gaji. Saya hanya diberi jas hujan, payung dan senter oleh Romo. Kondisi jalan waktu itu belum seperti ini. Saya waktu itu naik sepeda onthel  dan mengajar ke lingkungan sampai malam.” Br. Yohanes Sunari, SJ, bruder Jesuit asli Pulutan, Wonosari mengisahkan masa kecilnya. “Saya mengalami pelayanan SJ sejak di SD Kanisius Pulutan II. Para pastor, Rm. Bratakartana atau Rm. Mardiwidayat memimpin misa lingkungan dan pendalaman iman dengan semangat.  Rm. L. Sutarno, SJ sebagai romo muda melayani misa lingkungan sampai terperosok di jalan gelap dan licin sehabis hujan. Kami bersama umat menarik dan mendorong mobil jip tua tersebut. Saya juga mengikuti pendalaman iman lingkungan setiap minggu ketiga di hari Kamis malam oleh Br. Kirja. Minat umat sangat luar biasa sehingga lesehan di halaman luar rumah. Pendalaman iman lingkungan lebih diminati daripada rekoleksi di kapel.” Sebagai suster kelahiran Gunungkidul dan pernah berkarya di sana, Sr. M. Magda, AK mengatakan, “Romo-romo SJ adalah pelayanan total, semangat kemiskinan, kesederhanaan, kerja keras, kalau misa itu komunikatif dengan umat, semua disapa. Romo-romo SJ memberi kekuatan iman. Saya ingin jadi Suster supaya bisa ramah, lembut seperti Rm. Puja Harsana, SJ. Romo-romo SJ sangat membantu, mendukung, ngopeni karya, dan hidup para Suster AK.” Adieu, Paroki Wonosari! Terima kasih atas kebersamaan, suka dan duka bersama Serikat Yesus selama 97 tahun.  Terima kasih karena turut menggemblengku dengan baptisan, keceriaan sekolah Minggu, keseruan lomba misdinar, misa pelajar hari Jumat, dan tempatku merayakan misa perdana. Dengan langkah haru aku menyaksikanmu berpisah dari Serikat Yesus, tetapi engkau selalu menjadi Rahim imanku. Rm. Surya Awangga, SJ, Jesuit kelahiran Wonosari. Pemegang Kartu Baptis Paroki Wonosari LB XX/ No. 168.