Beda Pola Pikir: Minggu Palma Gereja Stasi St. Maria Assumpta Glodogan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

“Apa perbedaan antara perayaan Minggu Palma di masa pandemi dengan masa normal?” Jelas sangat berbeda! Saya dapat menyaksikannya yang terjadi di gereja Stasi Maria Assumpta, Glodogan tahun ini. 

Pertama, selama pekan suci pelaksanaan Misa dilaksanakan dengan 2 gelombang. Ini dilakukan agar jumlah umat yang hadir tetap menaati prokes. Hanya setengah dari kapasitas biasanya. Tidak ada lagi penambahan tenda di luar gereja.

Kedua, tidak ada lagi perarakan Minggu Palma dari luar gereja. Tentu saja, tidak ada lagi Pastur menunggang kuda dari titik awal perarakan menuju gereja. 

Namun, bagi saya itu tidak jadi soal yang krusial. “Toh, itu hanya sebatas ritual. Sebab kadangkala bila ritual tidak dipahami secara mendalam, tidak mampu menyentuh sisi spiritual diriku,” begitu kilahku dalam hati. “Bukan berarti saya mengabaikan soal ritual, tetapi ritual perlu diimbangi adanya upaya menemukan sisi spiritualnya,” tambahku menyikapi perayaan Minggu Palma di gereja stasiku tahun ini.

“Apa makna Minggu Palma tahun ini? Apa penemuan terbaruku dibandingkan perayaan Minggu Palma tahun-tahun sebelumnya?” Itulah dua pertanyaan yang saya coba jawab. Dan inilah jawabannya. 

Beda pola pikir. Ya, Bangsa Israel –termasuk dalam hal ini, para Murid Yesus kala itu- terjadi perbedaan pola pikir dalam memaknai ajakan Yesus memasuki pusat kota Bangsa Israel, Yerusalem. Mereka berpikir, “Yes… Penantian panjang kita, akhirnya jadi kenyataan segera. Sang pembebas Bangsa Israel yang sudah dinubuatkan oleh para nabi ratusan tahun sebelumnya akan segera terlaksana. Bangsa pilihan Allah memiliki raja yang sangat hebat. Bisa menyembuhkan berbagai penyakit, penuh kuasa mengusir kuasa jahat, bahkan membangkitkan orang yang sudah meninggal. Kita akan kembali menjadi bangsa yang disegani oleh para musuh. Tidak lagi jadi bangsa inferior yang dijajah oleh bangsa lain. Mesias bagi bangsa kita sudah datang. Kita akan segera terbebas dari belenggu penjajah dari Bangsa Romawi”.

Mereka mengelu-elukan kedatangan raja “versi” pola pikir mereka. Mereka memuja-Nya, dengan harapan versi mereka. Dan kita tahu ending cerita sejarah yang terjadi. Cuma hitungan hari raja mereka ternyata wafat di kayu salib. 

Ternyata, pola pikir mereka berbeda. Bahkan bertolak belakang dengan pola pikir Tuhan. 

Bukankah itu juga gambaran diri kita? Seringkali kita memahami Tuhan dan kehendak-Nya dengan sudut pandang versi diri kita. Bukannya menyelaraskan dan mencari tahu bagaimana pola pikir Tuhan.

Semoga Minggu Palma tahun ini dapat membawa kesadaran kita agar menyelaraskan pola pikir kita kepada Tuhan. Bukan sebaliknya, atau bahkan memaksakan pola pikir kita kepada Tuhan. (Master Lilikz, seorang umat di Glodogan).