Pilgrims on Christ’s Mission

Formasi Iman

Formasi Iman

KEMURAHAN HATI YANG MENGUATKAN

Pada 26-28 Desember 2019 lalu diselenggarakan pertemuan para yesuit imam dan bruder muda di Rumah Retret Hening Griya Batu Raden. Pertemuan ini dihadiri 53 yesuit muda, bersama dengan Rama Edi Mulyono sebagai delegatus Imam Muda dan Rama Provinsial.

Formasi Iman

INIKAH YANG NAMANYA KONSOLASI – DESOLASI?

Kamis, 21 November 2019 Komunitas Kolese Hermanum, unit Pulo Nangka mengadakan Café Puna dengan judul “Konsolasi atau Desolasi, Kedalaman Rasa a la Ignasian”. Acara ini dihadiri oleh sekitar 81 orang. Selain dari umat lingkungan sekitar unit skolastik SJ Pulo Nangka, peserta merupakan anggota kelompok Magis, para sahabat yang tertarik pada spiritualitas Ignasian, dosen STF Driyarkara dan para frater skolastik Kolman (Kampung Ambon, Johar Baru dan Wisma Dewanto) sendiri. Sebagai langkah lanjutan dari bedah buku Trilogi Ignasian yang diadakan bulan September 2019, di Paroki St. Bonaventura Pulomas lalu, Café Puna kali ini menyasar orang muda; mengajak mereka ke kedalaman dengan memperkenalkan cara bertindak Ignasian. Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB ini dipandu oleh Fr. James, skolastik tingkat II dari Myanmar. Di awal acara, Rm. Widy memperkenalkan kepada umat yang hadir susunan anggota keluarga unit Pulo Nangka yang baru dan menyampaikan bahwa acara Café Puna ini merupakan kesempatan untuk belajar membagikan kedalaman hidup dan merajut persaudaraan. Bermula dari keprihatinan bahwa banyak di antara orang muda tidak tahu metode apa yang harus digunakan untuk masuk ke kedalaman, Fr. Wahyu Santosa membagikan pengenalannya atas diskresi Ignasian dan bagaimana cara mempraktikkannya. Harapannya, dengan memberi perhatian pada pengalaman hidup harian sederhana dan rasa-perasaan yang menyertainya, orang muda dimampukan untuk masuk ke kedalaman dengan semboyan yang baru, yakni simple is better, yet deeper. Fr. T.B. Pramudita sebagai presentator kedua berangkat dari keprihatinan atas banyak orang muda yang tidak memahami dengan tepat makna konsolasi dan desolasi. Fenomena ini ditandaskan oleh Survei Café Puna yang diadakan secara online pada tanggal 11-12 November 2019 yang melibatkan 124 orang muda. Berdasarkan data tersebut, ada 81% orang muda yang masih perlu mendapatkan penjelasan yang tepat mengenai konsolasi dan desolasi. Bagi Fr. TB, pengertian yang salah tentang konsolasi dan desolasi harus diluruskan agar orang muda dibantu bergerak maju dalam hidup rohani. Presentasi berjalan dengan baik. Para peserta tampak antusias dan nyaman selama Frs. Wahyu dan TB membagikan pengalaman dan refleksi mereka terkait dengan pedoman I-IV (LR 314-317). Beberapa pertanyaan dari pendengar dan tanggapan dari Rm. Guido dan Rm. Widy menandaskan bahwa cara bertindak Ignasian ini bukan suatu hal yang sekali jadi. Dibutuhkan ketekunan untuk melatihkannya hari demi hari sehingga menjadi semakin terampil, peka dan titis dalam mengenali gerak-gerak roh. Sekitar pukul 21.30, kebersamaan dilanjutkan dengan ramah tamah. Obrolan, canda dan tawa mewarnai ruang makan unit Pulo Nangka. Kami bersama menikmati bubur Manado, empek-empek Palembang, bakmi, puding, pastel, risoles dan beberapa kue lain yang telah disiapkan dengan baik oleh umat. Kami, komunitas unit Pulo Nangka, menyediakan racikan kopi nusantara dan Thai Tea. Sebagai oleh-oleh, ada booklet yang dibagikan kepada para peserta yang hadir. Harapannya, para peserta bisa mencecap kembali perjumpaan malam itu dalam waktu-waktu luang keseharian. Kendati tidak banyak wajah baru yang hadir, kami bersyukur ada orang muda yang tertarik untuk ikut dan mendengarkan pelbagai presentasi dari kami. Denganya, kami semakin disemangati untuk menekuni cara bertindak Serikat yang canggih ini: menjadikan warisan rohani St. Ignatius Loyola milik kami sendiri yang menyatu dalam kelemahan dan kekuatan diri. Nemo dat quod non habet, kami merasa tertantang untuk terus bertekun dalam eksamen harian karena sungguh, tidak ada yang bisa kami bagikan sebelum hal tersebut kami miliki. Yohanes Ignasius Setiawan, SJ

Formasi Iman

Belajar dari Alam untuk Merajut Kebangsaan

Pada 13-15 September 2019, Kolese Hermanum, yang diwakili oleh Rm. Suyadi, Br. Suprih dan sembilan frater-bruder filosofan, mengikuti Jambore Kebangsaan yang dilaksanakan di Pesantren Ekologi Ath Thaariq di Garut, Jawa Barat. Kolese Hermanum menjadi salah satu penyelenggara acara tersebut bersama Pesantren Ath Thaariq, Festival Musik Rumah, PMK HKBP Jakarta, Aliansi Mahasiswa Jawa Barat (ALAM JABAR) dan Buruan Bumi Manglayang. Jambore ini diikuti oleh lebih dari 110 peserta dari pelbagai macam kelompok, suku dan agama. Jambore Kebangsaan ini mengusung tema “Menjaga Ekologi Indonesia dan Kemanusiaan”. Pemrakarsa acara ini, Pesantren Ekologi Ath Thaariq, meyakini bahwa menjaga ekologi merupakan pintu masuk dari arah mana pun untuk menjawab persoalan-persoalan saat ini. Menurut Umi Nissa Wargadipura, (Pimpinan Pesantren Ekologi Ath Taariq) pemulihan ekologi mampu mengakomodasi perbedaan karena ekologi menghargai ekosistem yang berbeda-beda, tapi saling menyelamatkan dan saling menghormati. Ekosistem memberikan keuntungan bagi semua yang ada dalam lingkarannya. Terputusnya satu rantai dalam rantai makan tersebut mengakibatkan kekacauan. Acara berlangsung dengan lancar. Makanan yang dinikmati selama Jambore Kebangsaan adalah makanan lokal tanpa bahan pengawet, pestisida, dan penyedap rasa. Kesederhanaan tempat dan masakan memberikan kedamaian dalam setiap acara yang dilaksanakan. Kebersamaan dalam alunan musik dan gelak tawa setiap obrolan dan tampilan stand up comedy menghangatkan persaudaraan antar peserta yang hadir. Memang udara di Sukagalih dua hari kemarin sangat dingin bagi kami yang terbiasa hidup di Jakarta, namun hawa dingin tersebut rasa-rasanya teratasi oleh bara semangat untuk bersama merajut kebangsaan melalui wawasan ekologis. Selain semangat menjaga ekologi, semangat menghargai perbedaan juga sangat terasa selama acara. Doa pembuka dan penutup dipimpin oleh anggota ALAM JABAR sebagai wakil Islam dan oleh frater Kolman sebagai wakil Katolik. Selama dua hari di sana, kami pun dipersilakan merayakan Ekaristi di dalam rumah utama dan di aula. Umi Nissa tak segan-segan untuk menyebut para frater Kolman juga sebagai santri-santrinya. Sesi pertama jambore diisi oleh Abi Ibang Lukmanurdin (kyai pesantren tersebut sekaligus suami Umi Nissa) dan Rm. Yadi yang bergantian menyampaikan pandangan agama Islam dan Katolik mengenai ekologi. Abi Ibang menegaskan bahwa agama dan alam tidak bisa dipisahkan karena hanya keyakinan yang bisa menyelamatkan alam. Rm. Yadi menyampaikan materi dengan bertitik tolak dari Ensiklik Laudato Si’. Ditekankan bahwa dosa merupakan runtuhnya hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan, sehingga diperlukan pertobatan ekologis. Keesokan harinya, Abi dan Umi mengajak seluruh peserta menyelami visi mereka di balik pendirian pesantren ekologi. Mereka berangkat dari keprihatinan terhadap pangan. Keprihatinan yang dimaksud berupa kenyataan bahwa pangan masyarakat sudah didominasi pangan berpestisida dan keterjebakan kita dalam lingkaran kapitalisme (dalam arti, benih harus membeli yang buatan pabrik, monokultur untuk mengejar keuntungan, impor beras kerena produksi dalam negeri tidak cukup, ketergantungan pada makanan instan, dsb.) Oleh karena itu, mereka ingin menciptakan kedaulatan pangan mulai dari skala pesantren mereka sendiri. Abi dan Umi menghitung bahwa satu hektar sawah mereka cukup untuk memberi makan tiga puluh orang penghuni pesantren. Lahan mereka pun tidak hanya ditanami padi, karena karbohidrat mereka juga berasal dari ketela, sorgum, dsb. Hal ini juga mendukung terjaganya kualitas tanah karena sistem pertanian yang tidak monokultur. Para peserta juga dibagi dalam kelompok-kelompok untuk saling berbagi mengenai upaya mereka menjaga alam dan apa yang mau dilakukan selanjutnya. Banyak dari peserta memang berasal dari kalangan aktivis yang sudah melakukan aneka kegiatan di lingkungan mereka masing-masing sehingga dapat memperkaya satu sama lain. Dari hasil diskusi tersebut, disusunlah sebuah deklarasi untuk berupaya menjaga alam. Memang belum banyak hal “besar” yang bisa dilakukan dalam konteks Kolman. Akan tetapi jambore ini bisa mengingatkan kita semua untuk senantiasa memasukan pertimbangan mengenai keutuhan alam ciptaan dalam diskresi-diskresi kita, baik yang sehari-hari maupun yang besar. Teilhard (Tete), SJ dan Yohanes Setiawan (Anes), SJ

Formasi Iman

BERBAGAI PELATIHAN MEDIA DI SAV PUSKAT

Film-film pendek yang mereka hasilkan mengangat tema-tema tentang lingkungan hidup, masalah-masalah psikologi, dan fenomena post truth. Pada akhir pelatihan mereka mendapatkan sertifikat dan kredit 2 SKS yang diakui oleh STF Driyarkara dan Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Formasi Iman

Kaul Pertama SJ 2019: Berjalan Bersama-Mu

Tema yang mereka ambil untuk perayaan Kaul Pertama mereka adalah “Berjalan Bersama-Mu”. Fr Septian mengatakan dalam sambutannya bahwa “berjalan bersama-Mu” ingin mengungkapkan diri manusia yang rapuh, lemah, dan tidak bisa berjalan sendirian. Mereka sadar bahwa Allah selalu menuntun dan membimbing hidup hidup mereka semenjak kecil.

Formasi Iman

Café Puna Launching Tiga Buku

Kamis, 9 Mei 2019, kami para Pater, Frater, dan Bruder Unit Pulo Nangka baru saja menyelenggarakan event semesteran Café Puna yang sangat spesial. Café Puna kali ini didedikasikan untuk launching 3 buku (trilogi) hasil dari bunga rampai makalah-makalah Café Puna tentang Pembedaan Roh dan Doa Examen karya para skolastik Unit Pulo Nangka (Kolese Hermanum) sejak tahun 2011 s.d. 2018. Trilogi ini diterbitkan oleh OBOR.

Formasi Iman

Homili Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam Tahbisan Diakon Serikat Yesus Rabu, 8 Mei 2019

Salah satu hal yang penting ketika orang ditahbisakan menjadi Diakon atau menjadi Imam adalah soal ketaatan. Dalam bacaan Injil dikatakan oleh Yesus, ketika kamu masih muda, kamu bisa mengatur diri sendiri, pergi kemana pun kamu mau. Namun ketika sudah menjadi dewasa atau sudah ditahbiskan maka kita tidak bisa berbuat semaunya kita. Sebaliknya kita akan ditali, diikat dan ditarik kemana Tuhan mengundang. Akhirnya Tahbisan menjadi tanda Ketaatan kita yang paling total kepada Kristus.

tersiat provinsi indonesia di girisonta
Formasi Iman

TERTIAT PROVINSI INDONESIA

Konstitusi Serikat Yesus dan Norma Pelengkap merumuskan apa itu masa Tersiat sebagai berikut:”…mereka melatih diri lebih saksama dalam sekolah hati (affectus) dan mengutamakan hal-hal rohani dan pekerjaan jasmani, yang membawa kemajuan dalam kerendahan hati dan pengingkaran seluruh cinta jasmani…