Kaul Pertama SJ 2019: Berjalan Bersama-Mu

Tema yang mereka ambil untuk perayaan Kaul Pertama mereka adalah “Berjalan Bersama-Mu”. Fr Septian mengatakan dalam sambutannya bahwa “berjalan bersama-Mu” ingin mengungkapkan diri manusia yang rapuh, lemah, dan tidak bisa berjalan sendirian. Mereka sadar bahwa Allah selalu menuntun dan membimbing hidup hidup mereka semenjak kecil.
Novices Vow 1

Pada Senin, 24 Juni 2019, sembilan novis secundi mengikrarkan Kaul Pertama mereka di hadapan Pater Provinsial. Mereka terdiri dari 1 bruder dan 8 frater Novis. Mereka adalah Br. Robertus Sigit Adi Nugroho (Paroki St. Mikael, Semarang), Fr. Lambertus Alfred (Paroki St. Odilia, Bandung), Fr. Theilard “Tete” Aurobindo Soesilo (Paroki St. Paulus Miki, Salatiga), Fr. Yohanes Krisostomus Septian Kurniawan (Paroki St. Maria, Kartasura), Fr. Yohanes “Anes” Ignatius Setiawan (Paroki Hati Kudus Yesus, Palasari), Fr. Petrus “Upet” Craver Swandono (Paroki St. Petrus dan Paulus, Temanggung), Fr. Engelbertus “Egi” Viktor Daki (Paroki Hati Kudus Yesus, Maunori, Flores), Fr. Klemens Yuris Widya Denanta (Paroki St. Yosef, Ngawi), dan Fr. Daud Kefas Raditia (Paroki St. Mikael, Kranji, Bekasi). Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah di kompleks Domus Patrum dengan berbagai hidangan yang mengundang selera.

dari kiri ke kanan: Fr.Alfred, Br. Sigit, Fr. Tete, Fr. Upet, Fr. Septian, Fr. Yuris, Fr.Keyfas, Fr. Eki, Fr. Anes

Tema yang mereka ambil untuk perayaan Kaul Pertama mereka adalah “Berjalan Bersama-Mu”. Fr Septian mengatakan dalam sambutannya bahwa “berjalan bersama-Mu” ingin mengungkapkan diri manusia yang rapuh, lemah, dan tidak bisa berjalan sendirian. Mereka sadar bahwa Allah selalu menuntun dan membimbing hidup hidup mereka semenjak kecil. Untuk itulah, pengalaman 2 tahun di Novisiat mengajak mereka mengalami perjumpaan dengan Tuhan lewat berbagai probasi. Mereka percaya bahwa dengan menghidupi panggilan dan melepaskan keinginan-keinginan mereka, Tuhan justru hadir. “Untuk itu, hidup ini ternyata bukan untuk kami sendiri atau untuk keluarga kami saja, melainkan untuk semua orang, yaitu sesama kami yang membutuhkan,” kata Fr. Septian.

Pater Provinsial, dalam homilinya, sangat bersyukur karena 9 pemuda ini berani menyatakan ikrar setia atau Kaul Kekal kepada Allah. Serah setia ini tentu saja bukanlah sesuatu perkara yang diucapkan secara spontan, melainkan telah melalui permenungan dan refleksi selama dua tahun dengan pendampingan dan probasi yang intensif. Mereka diajak untuk menemukan panggilan mereka dengan menggali dan memaknai sejarah hidup. Di sana mereka kemudian menemukan Allah yang selalu berjalan bersama mereka. Allah yang sama pula yang menginginkan mereka hidup sebagai Jesuit.

Pater Provinsial juga menegaskan bahwa lewat pengalaman peregrinasi, mereka menemukan bahwa keindahan hidup ini. Ketika mereka berjalan sepanjang sekitar 350 km tanpa membawa apa-apa, Allah terap hadir dan memelihara mereka lewat orang-orang yang mereka jumpai. Pengalaman mereka ini terasa dahsyat karena mereka merasakan dan mengalami Allah yang sungguh bermurah hati.

Ibu Eliana, orangtua dari Fr. Alfred, juga memberi sambutan sebagai wakil dari orangtua para novis yang mengucapkan kaul. Ia amat bahagia karena melihat wajah ceria para skolastik baru ini. Menurutnya, tidak ada yang menampakkan raut muka sedih, walaupun ke depannya pasti akan mendapatkan tantangan dan tempaan yang lebih berat. Rasa syukur dan terima kasih juga ia sampaikan kepada Rm. Nano yang mendampingi anak-anak mereka dengan baik sebagai Magister Novis. “Pendampingan Serikat Jesus yang sangat hebat untuk anak-anak yang masih kami cintai ini, membuat kami rela melepaskan mereka untuk Allah. Rm. Nano selama 2 tahun ini tidak hanya mendampingi para novis, melainkan juga kami, orangtua, untuk mau menerima rahmat panggilan Allah ini,” demikian refleksi mendalam darinya. Fr. Septian, mewakili teman-temannya, juga mengakui pendampingan luar biasa dari para formator di bawah pimpinan Rm. Nano. Ia mengatakan, “Dalam pendampingan Rm. Nano, kami mengalami banyak perubahan. Walaupun Panjenengan (Rm. Nano) bukan ayah kami, tapi kami merasa diperlakukan dengan baik seperti oleh ayah kami sendiri.”

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print