Homili Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam Tahbisan Diakon Serikat Yesus Rabu, 8 Mei 2019

Salah satu hal yang penting ketika orang ditahbisakan menjadi Diakon atau menjadi Imam adalah soal ketaatan. Dalam bacaan Injil dikatakan oleh Yesus, ketika kamu masih muda, kamu bisa mengatur diri sendiri, pergi kemana pun kamu mau. Namun ketika sudah menjadi dewasa atau sudah ditahbiskan maka kita tidak bisa berbuat semaunya kita. Sebaliknya kita akan ditali, diikat dan ditarik kemana Tuhan mengundang. Akhirnya Tahbisan menjadi tanda Ketaatan kita yang paling total kepada Kristus.

Selamat pagi, Berkah Dalem

Tahbisan Diakon Serikat Jesus Provindo 2019
Dialog saat Homili, Mgr Robertus Rubyatmoko dengan Fr Henry, Fr Paul dan Fr Dodo

Hari ini dalam rangka tahbisan ke-enam Saudara kita, mereka telah memilih motto sebagai hasil permenungan yaitu “Jadikanlah aku saksi kasih-Mu”. Motto yang sangat bagus sekali. Apakah Saudara semua tahu apa maksud dari motto ini? Mari kita tanyakan kepada mereka, mengapa frater-frater memilih motto itu.

Mgr Ruby:    Mengapa kok Anda ber-enam memilih motto itu?

Fr. Tino :        Kami memilih motto itu karena selama masa formasi kami, kami merasakan jatuh bangun dalam mengikuti pangilan Tuhan Yesus

Mgr Ruby:    Jadi pernah jatuh dan bangun ya? Sepertinya jatuh bangunnya berkali-kali.

Mgr Ruby:    Itu pengalaman yang sangat konkrit sekali bahwa dalam menjalani panggilan memang penuh jatuh bangun. Berapa lama itu (menjalani formasi)?

Fr Tino:          Lebih kurang 11 tahun. Juli ini menjadi pas 11 tahun.

Mgr Ruby:    Kalau Paul Prabowo bagaimana? Beda sekali tentunya dengan Prabowo yang lain. Akan deklarasi apa hari ini? Fr Prabowo, apakah yang sudah disampaikan Fr Tino sudah lengkap?

Fr Paul:          Sudah. Sudah mewakili.

Mgr Ruby:    coba ulangi

Fr Paul :         Kami memikirkan motto ini bersama-sama, fokus permenungan kami adalah pengalaman kami dicintai Allah. Kurang lebih sama dengan Santo Petrus, Yesus memanggil dia bukan karena kesempurnaannya. Justru karena ketidaksempurnaannya itu, Yesus memanggil Petrus. Itulah pengalaman kami, bahwa kami dipanggil dan diutus karena ketidaksempurnaan kami. Pengalaman Petrus ini mewakili pengalaman yang ada dalam hati kami, untuk bersedia menjadi Saksi Kasih-Nya. Pengalaman kami yang berbeda-beda, dari berbagai daerah, tempat TOK kami juga berbeda, ada yang di luar negeri hingga saat ini kami dipertemukan di Kolsani. Semua pengalaman kami ini membuat kami berefleksi bagaimana kami dicintai dan kemudian dipanggil untuk menjadi saksi kasih-Nya.

Mgr Ruby :   Terima kasih atas sharingnya yang konkrit sampai hatinya tergores. Penuh rasa haru. Terima kasih untuk teman-teman ber-enam yang mempunyai pengalaman yang bagus dan berarti. Namun masih ada pertanyaan yang bagi saya penting. Jadikanlah aku saksi kasih-Mu. Saksi kasih-Mu itu maksudnya apa? Apakah itu berarti menjadi penonton yang menyaksikan orang sedang mengasihi? Apakah frater-frater juga maksudnya seperti itu, menjadi saksi itu berarti menjadi penonton atau penikmat kasih Tuhan ataukah ada kasih yang lain?

Fr Benny:      Menjadi saksi bukan hanya menonton. Kata jadikanlah ini bukan hanya pengalaman kami konkrit tetapi juga mohon rahmat agar Allah sendiri menjadikan kami saksi kasih-Nya. Menjadi saksi tentu lewat pelayanan-pelayanan sebagai Diakon, yaitu tiga pelayanan sebagai Diakon. Yang pertama sebagai pelayan sabda, yaitu membaca kita suci, merenungkannya dan mewartakannya kepada umat. Kemudian sebagai pelayan di altar, walaupun belum full. Kemudian yang ketiga dalam pelayanan amal kasih sebagaimana dalam bacaan pertama untuk melayani yang miskin dan tersingkir.

Sangat menarik bagaimana para frater, calon Diakon, pergulatan imannya dalam mendalami kasih Tuhan dari waktu ke waktu, penuh jatuh bangun. Ketika mereka memohon menjadi saksi kasih berarti tidak hanya menjadi penonton atau penikmat saja namun juga berusaha untuk mewujudkannya dalam keseharian melalui berbagai bentuk pelayanan-pelayanannya. Tadi sudah dijelaskan oleh Fr Beny menjadi pewarta Sabda. Kemudian pelayanan di altar dan ketiga adalah amal kasih. Tentu tugas mereka masih sangat terbatas dibandingkan nanti setelah mereka ditahbiskan menjadi Imam. Jadi kita-kira amat pas dengan bacaan tadi, Petrus menjawab, “Ya, aku mengasihi Engkau.” Tidak cukup dengan ungkapan itu tok, tidak cukup dengan rumusan itu, harus ada bentuk nyata. Maka Yesus mengatakan, “Gembalakanlah domba-dombaku”. Kasih kepada Yesus nampak nyata dalam penggembalaan. Para frater akan ditahbiskan menjadi seorang gembala. Maka tugasnya adalah bagaimana menggembalakan umat. Secara konkrit seperti apa. Kita bisa lihat dalam teks misa ini.

Ada pertanyaan, bersediakah Saudara-Saudara dengan rendah hati penuh kasih sayang melaksanakan tugas diakon sebagai pembantu uskup dan para imam.  Membantu Uskup dan Imam dan tidak nyusahke. Maka penting sekali itu dihayati, diresapkan betul-betul supaya nanti bisa menghayati panggilan dengan sepenuh hati.

Bersediakah Saudara dengan hati tulus berkembang teguh pada iman para rasul seperti yang diajarkan Kitab Suci dan tradisi Gereja, serta mewartakannya melalui kata dan perbuatan. Para Frater ditahbiskan masuk ke dalam hirarki, menjadi gembala umat untuk membela dan mewartakan iman, maka penting sekali untuk memahami ini, memegang teguh dalam perjalanan, entah nanti sebagai Diakon mupun nanti menjadi imam. Mewartakannya dalam kata dan perbuatan.  Maka menjadi penting bagaimana mencoba memberikan pelayanan melalui tidakan yang konkrit dan memberikan contoh kehidupan yang baik, yang berpegang teguh dengan ajaran iman, ajaran moral, dan mewujudkannya dalam pelayanan kehidupan. Harapannya tidak hanya sekedar ngomongke tetapi juga melaksanakannya sehingga orang melihat langsung contoh konkritnya.

Membangun hidup yang selaras dengan standar hidup Kristus yang Tubuh dan Darahnya akan Anda terimakan kepada Umat. Akhirnya Yesus menjadi teladan sesungguhnya. Ini berkaitan dengan Ekaristi, menjadi tanda bagaimana Yesus mengorbankan diriNya untuk keselamatan umat manusia. Menjadi Diakon artinya untuk berbagi kasih, untuk memberikan diri seutuhnya.

Jadikanlah aku saksi kasih-Mu. Menjadi saksi bukan hanya menjadi penonton namun melakukan sesuatu, mewujudkan kasih kepada Tuhan lewat kegiatan yang nyata, lewat pelayanan yang nyata. Mudah-mudahan, dengan doa kita, mereka semakin dimampukan untuk menjadi saksi dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan kasih yang nyata, menjadikan kasih Tuhan nyata bagi orang-orang yang kita layani.

Tahbisan Diakon Serikat Jesus Provindo 2019
Penyerahan Stola Diakon dari Mgr Ruby kepada Diakon Wahyu

Tentu saja dalam melaksanakan itu tidaklah begitu mudah. Pengalaman para Rasul pada bacaan pertama mengungkapkan hal ini, bagaimana dalam mengalami penganiayaan, bagaimana mereka mengalami kesengsaraan. Tapi mereka tidak pernah lelah, tidak pernah putus asa bahkan para murid pergi, tersebar kemana-mana sambil mewartakan Injil. Ini menjadi salah satu inti pelayanan kita. Dalam menjalankan tugas ini pasti akan mengalami banyak kesulitan dan banyak tantangan, mungkin pengalaman jatuh bangun di masa formasi akan terkenang lagi, dengan berbagai bebannya. Demikian juga dengan para rasul dan para murid yang berani untuk pergi menghadapi kesulitan namun dengan mewartakan Injil. Tuhan memanggil kita tidak akan tinggal diam sebaliknya akan mendampingi kita dan menguatkan kita asalkan kita tetap bersimpuh dan datang kepada-Nya.  

Salah satu hal yang penting ketika orang ditahbisakan menjadi Diakon atau menjadi Imam adalah soal ketaatan. Dalam bacaan Injil dikatakan oleh Yesus, ketika kamu masih muda, kamu bisa mengatur diri sendiri, pergi kemana pun kamu mau. Namun ketika sudah menjadi dewasa atau sudah ditahbiskan maka kita tidak bisa berbuat semaunya kita. Sebaliknya kita akan ditali, diikat dan ditarik kemana Tuhan mengundang. Akhirnya Tahbisan menjadi tanda Ketaatan kita yang paling total kepada Kristus dan ketaatan ini kita wujudkan, termasuk ketaatan kita kepada wakil Tuhan, yaitu para pemimpin kita, Romo Provinsial dan Jendral.

Hal ini menjadi mudah dilihat, apakah kita taat atau tidak ketika kita menerima tugas perutusan. Berulang kali ketika saya mencoba untuk bertemu dengan Romo-Romo dan memberikan tugas baru. Kadang-kadang mudah dan kadang-kadang tidak mudah. Mereka mengatakan, “sendika dawuh”, “saya manut kersanipun Uskup dimana pun, kapan pun, siap berangkat”. Namun yang terjadi malah tawar menawar bahkan ada yang mencoba untuk menolak. Mengapa saya di sana? Mengapa bukan orang lain? Ini tanda-tanda yang bisa menggambarkan apakah orang ini begitu menghayati tahbisannya atau tidak. Ketika kita dilantik menjadi gembala umat maka kita harus menyediakan diri sepenuhnya untuk perutusan, apapun itu bentuknya, kemana pun kita diutus.

Maka Saudara/i terkasih, marilah kita memohon rahmat Tuhan agar melalui Tahbisan ini kita dicurahi Roh Kudus yang memampukan kita untuk menjadi saksi kasih Tuhan yang kita wujudkan dalam ketaatan kita pada kehendak Allah dan sekaligus mewujudkannya lewat pelayanan-pelayanan penuh kasih. Semoga dengan doa-doa kita, dengan berkat-Nya, kita semakin mendalam dalam iman.  

Untuk melihat foto-foto Tahbisan Diakon, bisa cek di Gallery kami, https://jesuits.id/gallery/

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *