Pilgrims on Christ’s Mission

Formasi Iman

Formasi Iman

Menyambut Anggota Keluarga yang Baru

Tanggal 15 Juni 2022 adalah hari yang istimewa bagi Komunitas Novisiat St. Stanislaus Kostka Girisonta dan juga bagi Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Tujuh pemuda datang ke Novisiat dan memulai peziarahan formasi awal mereka dalam Serikat Jesus. Mereka bertujuh datang dan diantar oleh beberapa anggota keluarga mereka. Sukacita kehadiran mereka juga menjadi kesempatan bagi kami, para novis, untuk berlatih melayani dengan sepenuh hati. Harapannya, anggota keluarga baru kami dapat cepat kerasan dan nyaman dalam rumah barunya sehingga mendukung tekad bulat mereka untuk mengabdi Allah dalam Serikat Jesus. Sukacita dalam penyambutan mereka juga tidak bisa dilepaskan dari perhatian pada situasi pandemi covid yang masih tidak menentu. Meskipun keadaan pandemi tidak separah dan setinggi masa-masa sebelumnya, kami tetap menerapkan protokol kesehatan dalam acara tersebut. Protokol ini diterapkan dengan semangat untuk melindungi dan menjaga kesehatan keluarga novis baru lebih daripada kesehatan kami sendiri, walaupun kesehatan kami juga sama pentingnya. Kami berusaha agar semua keluarga yang mengantar dan juga kami tidak beresiko terpapar mengingat kami datang dari berbagai tempat. Kiranya pengalaman acara serupa di tahun sebelumnya menjadi pembelajaran yang penting bagi kami. Namun, apakah dengan adanya protokol covid ini menjadi hal yang mempersempit dan membatasi ruang interaksi kami dengan novis baru dan keluarganya, juga novis baru dan keluarganya dengan lingkungan novisiat? Tentunya tidak. Semua anggota komunitas novisiat terlibat untuk menyambut. Bahkan anggota keluarga para novis baru diberi kesempatan untuk berkeliling di kompleks Novisiat. Semua tampak antusias dan gembira. Ada keluarga yang sungguh tertarik dengan tanam-menanam, menanyakan berbagai hal mengenai tanaman-tanaman yang diolah di sawah, green house, dan kebun, bahkan ada yang memetik dan meminta beberapa tanaman novisiat untuk dibawa pulang. Ada keluarga yang sungguh terkesan dengan area dalam novisiat, melihat kebun dan halaman dalam, bahkan karena melihat sekilas kerapian kamar tidur (dormit) dan ruang kubikel (ruang komunitas basis) yang digunakan oleh para novis. Masing-masing keluarga mempunyai kesannya masing-masing dalam berkeliling area novisiat. Acara penyambutan ditutup dengan perjumpaan novis baru beserta keluarga dengan Pater Magister dan Socius Magister. Kesempatan menyambut kedatangan para novis baru ini menjadi kesempatan berharga dalam membangun persaudaraan sebagai satu keluarga dalam Serikat Jesus. Anggota keluarga baru yang kami dapatkan bukan hanya para novis baru tetapi juga keluarga mereka. Dengan semakin saling mengenal, entah itu pribadi maupun tempat, harapannya kami dapat saling mendukung proses menjesuit dan pengabdian kepada Allah. Kontributor : Agustinus Satria Bagus D.S., nS.J.

Formasi Iman

Pelayanan yang Membuahkan Persahabatan

Tujuh orang novis mengikrarkan kaul pertama mereka di dalam Serikat Jesus, setelah menjalani formasi novisiat selama dua tahun, pada Sabtu, 25 Juni 2022. Para kaules mengikrarkan kaul-kaulnya dalam perayaan ekaristi yang dihadiri oleh keluarga kaules, nostri, dan para skolastik baru dari Myanmar, Pakistan, dan Thailand. Perayaan Ekaristi ini dipimpin langsung Pater Provinsial Benny didampingi oleh Pater Magister Sunu dan Pater Superior Yumartana. Gelora semangat perayaan ini didukung pula oleh koor dari siswa-siswi SD Kanisius Girisonta yang menyanyikan lagu-lagu perayaan ekaristi dengan merdu dan indah.  Kamulah Sahabat-sahabat-Ku. Itulah tema yang dipilih oleh Frs. Andre, Michael, Neno, Feliks, Petrus, Hari, dan Yohan untuk kesempatan berharga ini. Mereka bertujuh merefleksikan bahwa “… kami bukanlah manusia-manusia ampuh. Namun sekuntum lembut panggilan-Nya telah menjadi curahan kasih yang amat besar, semerbak di hati kami hingga kami tak mengingini apapun lagi selain penyerahan diri di tangan-Nya. Melalui lembaran ini, kami hendak berbagi tentang segenggam harum manis cinta Tuhan bagi kami, sahabat-sahabat-Nya yang rapuh ini. … Dia menyebut kami sahabat. Banyak kerapuhan, pergulatan dan ketidak-ampuhan kami diterima dan diampuni. Hingga kami pun bisa bersahabat dengan diri kami apa adanya. Serikat Jesus telah menjadi sahabat kami juga. Kami dibantu dan didukung mendiskresikan inti panggilan kami untuk mengabdi Dia lebih sungguh dalam segala. … kami mantap berlantang merdu mengungkapkan janji setia kami kepada Yesus sahabat kami yang tergantung di Salib. Kasih seorang sahabat yang memberikan nyawa-Nya ini, kami mohonkan mewujud pula di dalam perjalanan kami menghayati hidup kaul bersama Dia.” Dalam homilinya, Pater Benny juga mengingatkan pentingnya persahabatan dalam hidup menjesuit. Hanya sahabat kita yang bisa menanggung kerapuhan kita. Beberapa probasi selama di Novisiat telah menjadi miniatur sekaligus bukti kebenarannya. Setelah perayaan Ekaristi para skolastik baru mendapat kesempatan untuk bertemu dengan keluarga mereka, melepas rindu, dan bergembira bersama. Banyak rasa syukur yang muncul karena peristiwa hari ini. Bagi kami para novis, kesempatan ini menjadi latihan bagi kami untuk melayani kaules sebagaimana mereka telah terlebih dahulu melayani kami. Harapannya, kami dapat terus saling melayani dan menghidupi semangat pelayanan ini dalam tugas perutusan selanjutnya. Kehadiran para skolastik dari Myanmar, Pakistan, dan Thailand juga memberi suasana baru dan menambah wawasan universalitas Serikat bagi kami para novis. Kami senang bisa saling mengenal dan bercerita satu sama lain. Meskipun sesekali terkendala bahasa, kami tetap berusaha saling menghormati dan melayani. Sesekali kami saling menertawakan meskipun kami tidak paham apa yang kami tertawakan. Kami bersyukur karena sebagai tuan rumah kami mendapat kesempatan untuk melayani mereka dan mengembangkan hospitalitas kami. Kelancaran acara dan persahabatan dalam perjumpaan-perjumpaan baru yang menggembirakan menjadi buah dari pelayanan, proses memberikan diri untuk orang lain (for others). Ketika orang mampu melayani dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati maka orang di sekitarnya pun merasakan buah sukacita. Dari pengalaman ini, ternyata, pelayanan membuahkan sukacita baik bagi yang dilayani maupun yang melayani. Tentunya mengembangkan semangat pelayanan seperti ini tidak hanya diperlukan dalam acara-acara penting dan besar saja tetapi juga harus membadan dalam pilihan tindakan hidup sehari-hari. Kontributor : Christoforus Kevin Hary Hanggara, nS.J.

Formasi Iman

Libur sebagai Kesempatan untuk Masuk ke Kedalaman

Libur akademik bukanlah alasan bagi para frater untuk berhenti mengembangkan diri mereka. Justru dalam waktu-waktu ini para frater diberi kesempatan untuk mengikuti tiga jenis kursus untuk mengembangkan pribadi dalam tiga aspek berbeda, yaitu spiritual, keuangan, dan psikoseksual. Aspek spiritual didalami lewat kursus spiritualitas daring bersama dengan Pater Leo Agung Sardi, S.J. (19-20 Jan 2022). Pater Sardi mengajak para frater untuk semakin menyadari betapa pentingnya kedalaman dalam menjalani formasi studi di Kolese Hermanum. Kedalaman dalam proses formasi studi ini tidak hanya dicapai dalam kedalaman intelektual belaka, tapi juga kedalaman spiritual. Kualitas dan aspek kedalaman inilah yang pada akhirnya membuat kontribusi kita sebagai Jesuit bisa semakin maksimal, semakin berdampak, berlangsung lama, dan menginspirasi. Kedalaman ini sungguh diperlukan oleh para frater, dan juga semua Jesuit, terlebih untuk bisa menjalankan dan menghidupi UAP. Bagaimana caranya kita bisa membantu orang untuk menunjukkan jalan kepada Tuhan bila kita sendiri tidak punya kedalaman? Itulah pesan utama yang coba disampaikan Pater Sardi lewat kursus spiritualitas kemarin, yaitu untuk mencapai kedalaman intelektual dan spiritual agar dapat membantu sesama menemukan jalan menuju Tuhan.  Kursus kedua yang diikuti oleh para frater filosofan adalah kursus finance bersama dengan Pater Ignasius Aria Dewanto, S.J. (21-22 Jan 2022). Kursus ini menjadi cukup spesial karena untuk pertama kali dalam dua tahun, kursus diadakan secara offline di salah satu ruang kuliah STF Driyarkara. Dalam kesempatan kursus kemarin, Pater Aria membagikan beberapa pengalamannya yang bersinggungan dengan persoalan keuangan di PIKA dan Keuskupan Agung Semarang. Pengalaman-pengalaman yang dimiliki Pater Aria menjadi jembatan bagi para frater untuk mulai membayangkan tugas-tugas perutusan Jesuit yang tidak pernah jauh dari urusan keuangan. Rasa-rasanya, kesempatan kursus ini menjadi tepat waktu karena kita semua mendapat ajakan Pater Jenderal untuk merenungkan kembali praktik kaul kemiskinan Serikat dalam waktu-waktu ini. Terakhir, para frater diberi kesempatan untuk mengikuti kursus psikoseksual bersama Bu Ineke Suhati. Sebagai seorang psikolog, Bu Ineke memiliki segudang cerita untuk dibagikan kepada para frater. Sharing pengalaman dari Bu Ineke tidak hanya menjadi tambahan cerita bagi para frater, tapi juga menjadi bahan refleksi pribadi mengenai perkembangan psikoseksual masing-masing untuk dapat melihat kembali bagaimana diri berkembang dari tahap ke tahap hingga saat ini. Kursus ini sungguh penting, mengingat kita semua perlu untuk terus menghidupi budaya safeguarding dalam pelayanan kita masing-masing. Salah satu cara konkret untuk menghidupi budaya safeguarding adalah dengan menyadari terlebih dahulu perkembangan psikoseksualitas diri dan berusaha untuk terus mengembangkannya ke arah yang lebih baik.  Sebagian materi yang didapat selama kursus-kursus tersebut bukanlah hal yang benar-benar baru. Akan tetapi, bukan berarti materi yang diulang tidak ada manfaatnya sama sekali. Justru sebaliknya, pengulangan memungkinkan para frater untuk memiliki pemahaman yang semakin mendalam. Hanya dengan menyelam ke kedalaman kita bisa mendapat apa yang sungguh berharga. Kontributor : Leander Emanuel Arya Wikan P., S.J.

Formasi Iman

Babak Baru Peziarahan Novisiat St. Stanislaus Kostka Girisonta

Selasa, 21 September 2021 menjadi kesempatan istimewa bagi Komunitas Novisiat St. Stanislaus Kostka Girisonta. Kami merayakan ulang tahun ke-90 Novisiat Girisonta. Perayaan ulang tahun kali ini dilakukan secara sederhana. Kami menggunakan kesempatan ini bukan sebagai titik puncak perayaan tetapi justru sebagai awal proses perjalanan yang baru dengan mendalami semangat Peziarahan St. Ignatius. Hal ini sekaligus menjadi tanggapan atas undangan Pater Jenderal untuk menyiapkan formasi menghadapi tantangan Serikat ke depan. Kami tergerak untuk menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh seperti Bapa Ignatius, sekaligus terbuka pada banyak kemungkinan yang tak terduga. Dengan membaca buku Berjalan Bersama Ignatius yang telah diluncurkan pada peringatan 50 tahun Provindo yang lalu, para novis belajar membatinkan semangat jiwa besar hati rela berkorban. Begitu pula melalui pendalaman bersama Rm. Priyo Poedjiono, para novis diajak untuk menyerap proses internalisasi Autobiografi, Latihan Rohani dan Konstitusi yang terarah untuk Missio Dei.  Begitulah kami komunitas Novisiat merayakan 90 tahun Novisiat Girisonta menyongsong undangan untuk bertransformasi bersama seluruh tubuh serikat Universal. Berikut ini selayang pandang Novisiat St. Stanislaus Girisonta: Novisiat SJ di Indonesia dibuka pertama kali pada tahun 1922 di suatu rumah sewaan di Yogyakarta. Novis Indonesia pertama yang masuk Novisiat SJ di Yogyakarta adalah Frs. Hardjasoewanda, Poespadihardja, Reksaatmadja, dan Soemarna serta beberapa novis dari Belanda. Mereka dibina oleh Pater F. Strater. Lalu pada tahun 1931 Novisiat mulai dibangun di samping rumah retret Girisonta di Ungaran. Pada bulan September, Novisiat dan Yuniorat pindah dari Yogyakarta ke kompleks yang baru ini. Magister novis pertama di Novisiat Girisonta adalah Pater Gregorius Schmedding, yang sejak tahun 1932 telah berkarya di bidang formasi sampai dengan akhir hidupnya, tahun 1934. Para novis pertama yang menikmati formasi di kompleks ini adalah enam orang yang berasal dari Indonesia. Masuk SJ pada 3 September 1931, mereka ini adalah Leonardus Daroewenda, Antonius Sontoboedoyo dan Servatius Tjakrawirjana. Tiga orang lainnya merupakan bruder Indonesia pertama yang diterima pada 10 Mei 1931. Mereka adalah Neo Kardis, Matheus Tirtasumarta, dan Hermanus Wirjapoespita. Pada tahun 1932, beberapa novis Belanda, yaitu Cornelis Jeuken, Carolus Krekelberg Kiswara, Joannes Overes, Bernardus Schouten, Alphonsus Smetsers, dan Laurentius van der Werf menjalani formasi di Novisiat Girisonta. Dalam buku Girisonta: Dari Novisiat Menatap Taman Getsemani, Pater Henricus Suasso memberikan gambaran tentang Novisiat awal di tahun 1937. Novisiat sederhana yang dibangun seperti asrama biasa ditambah kapel dan dihias sehingga tercipta suasana yang tidak menekan (tenang). Pada saat itu, para novis dididik untuk mengalami komunitas antarbudaya di mana penyesuaian diri menjadi tantangan utamanya. Selain itu, Pater Widyana menambahkan bahwa suasana silentium amat ditekankan dan semua harus menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar dan jika ingin berbicara harus menggunakan bahasa Latin. Novisiat Girisonta pernah mengalami masa-masa perang kemerdekaan. Pada tahun 1948, suasana yang santai tersebut berubah ketika Pater Schonhoff tiba di Novisiat dengan menerobos garis demarkasi perang. Dalam catatan Pater Harry van Voorst tot Voorst, adat kebiasaan novisiat pada tahun tersebut menjadi para novis memakai jubah setiap saat kecuali olahraga; makan pagi, siang, dan malam dengan silentium; adanya penitensi di refter (parva mensa); dan terakhir adanya lectio saat awal makan. Dalam hari-hari khusus ada rekreasi sesudah makan. Kebiasaan-kebiasaan dalam novisiat mengalami perubahan dan penyesuaian dari masa ke masa. Dalam perjalanan Novisiat tersebut, beberapa formator magister yang terlibat dalam formasi para Jesuit adalah Pater Magister Petrus Sunu Hardiyanta, Agustinus Setyodarmono, Leo Agung Sardi, Laurensius Priyo Poedjiono, Sartopandoyo, Warnabinarja, Ignatius Haryoto, dan Chrysantus Prawirasuprapta.  Tidak terasa usia 90 tahun itu telah dicapai oleh Novisiat ini. Dalam prosesnya itu, sudah dan masih ada begitu banyak orang yang terlibat dalam mewarnai peziarahan formasi para Jesuit di Provinsi Indonesia. Hasilnya, Novisiat ini telah melahirkan para Putra Ignatius yang dibakar dengan semangat Latihan Rohani, untuk terus melayani Tuhan melalui Gereja dan Negara. Memang, perayaan ke 90 ini harus dirayakan secara sederhana di tengah keterbatasan karena pandemi. Namun, dalam suasana 500 tahun pertobatan St. Ignatius, kita diajak untuk melihat segala sesuatu secara baru di dalam Kristus. Dalam suasana penuh syukur kita diminta untuk menghayati tegangan yang kreatif dan semangat bersungguh-sungguh dan terbuka terhadap sesuatu yang tidak terduga.  Kontributor : Hendricus Satya Wening, S.J.

Formasi Iman

Biarawan dan Biarawati Abad 21: Menjadi Wahyu Dalam Kerapuhan

Hari Hidup Bakti dalam Gereja Katolik dirayakan setiap 2 Februari. Di bawah ini adalah refleksi Bruder Emili Turú, FMS mengenai makna hidup religius saat ini. Bruder Turú adalah Sekretaris Jenderal para Superior Jenderal (USG-Roma) dan ia diwawancarai oleh Sekretaris Eksekutif para Superior Jenderal Kongregasi Biarawati, Suster Patricia Murray.  Dimensi Profetis Hidup Bhakti Hidup di tengah krisis global karena pandemi Covid, rasisme, kekerasan, dan perpecahan menuntut jawaban profetis dari para biarawan dan biarawati. George Floyd yang lirih berteriak, “Aku tidak bisa bernapas,” memperjelas betapa jutaan orang yang terinfeksi Covid dan mereka yang mengalami berbagai bentuk penindasan sungguh berjuang demi hidup mereka. Di berbagai belahan dunia, oksigen sebagai penopang kehidupan juga semakin menipis. Lalu bagaimanakah respon kita sebagai religius? Bagaimana caranya menghidupi kaul kita di tengah dunia yang sedang menderita ini?  Patricia Murray, IBVM Pandemi Covid-19 menunjukkan kemiripan berakhirnya sebuah zaman, yaitu perubahan peradaban. Sejarah mencatat bahwa masa dekadensi senantiasa menandai lahirnya peradaban baru. Masa dekadensi adalah waktu yang penuh kekacauan dan ketidakpastian, persis seperti saat ini di mana kita berusaha menemukan diri kita sendiri.   Saya berkaca pada jemaat Kristen Perdana ketika merefleksikan masa-masa ini. Bahkan dalam masa sulit yang melebihi situasi kita saat ini, jemaat Kristen Perdana mampu berkembang pesat dengan cara yang sulit dijelaskan. Terkait dengan hal ini, saya merasa terkejut ketika membaca sebuah refleksi mendalam seorang pastor Lutheran untuk menemukan neologisme “anti-rapuh” yang dapat diterapkan pada Gereja kita. Ia menyimpulkan bahwa sistem-sistem mekanis itu cenderung rapuh sedangkan sistem-sistem organik justru sebaliknya karena mereka memang dirancang untuk tumbuh dalam tekanan. Beberapa bagian tubuh kita, seperti otot dan tulang, memerlukan beban tertentu agar tetap sehat dan kuat. Demikian halnya dengan Gereja Perdana. Mereka ini “amat kuat” dan justru tumbuh pesat ketika tekanan semakin kuat.  Kita dapat menerapkan daya juang “anti rapuh” ini di lingkungan sekitar dan kongregasi kita. Kita terlahir dalam keadaan penuh tekanan dan kita justru bertumbuh subur di bawah keadaan demikian. Jikalau keadaan senantiasa nyaman, maka kita cenderung santai lalu kehilangan daya juang dan akhirnya kita menjadi sakit.  Jika orang Kristiani menganggap hidup di bawah tekanan itu wajar agar tumbuh semakin kuat, maka wajarlah juga ketika Gereja Perdana sangat menghargai sikap sabar, yang maknanya adalah kemampuan untuk tetap bertahan menghadapi penderitaan secara tenang.  Orang-orang kudus, misalnya Siprianus, Yustinus, Clemens, Origenus, dan Tertulianus semuanya berbicara mengenai kesabaran dan meyakini bahwa kesabaran adalah nilai kristiani paling utama. Kesabaran memampukan kita berpasrah diri secara total kepada Tuhan, hidup damai tanpa kegelisahan dan rasa benci, dan bahkan tidak pernah terlalu memaksa diri meraih apa yang kita inginkan. St. Yustinus menggambarkan kesabaran sebagai hal “aneh” yang telah banyak menobatkan orang yang tidak percaya.     Kesaksian tersebut bagai ragi pada adonan roti. Baik para jemaat Kristen Perdana maupun para pendiri kongregasi kita secara aktif telah terlibat dalam proses kelahiran kebaruan dalam dekadensi dunia seperti saat ini.  Meskipun secara lahiriah mungkin menunjukkan kebalikannya, namun menjadi seorang biarawan atau biarawati masihlah sangat relevan saat ini. Inti panggilan kita adalah menjawab apa yang dibutuhkan sesama kita. Sedangkan inti hidup kita adalah serangkaian hal yang tidak bisa ditawar-tawar, di mana dalam hidup kita yang otentik, kita memiliki daya tumbuh yang besar. Orkestra hidup demikian merupakan kontras kenabian terhadap dekadensi yang terjadi saat ini dan menjadi ragi kesabaran bagi datangnya perubahan.  Saya tetap berharap bahwa kita akan senantiasa “membangunkan dunia” karena tanda utama dari hidup bakti adalah bernubuat. Sebagaimana saya sampaikan kepada para Superior Jenderal yaitu bahwa tuntutan hidup injili secara radikal bukanlah melulu ditujukan bagi para religius atau biarawan dan biarawati melainkan bagi semua orang. Benarlah bahwa para religius mengikuti Tuhan dengan cara yang khusus, yaitu jalan kenabian. “Inilah prioritas yang perlu diperhatikan saat ini, yaitu menjadi utusan yang memberi kesaksian bagaimana Yesus hidup di dunia ini. Seorang religius janganlah pernah meninggalkan panggilan kenabiannya.” (Surat Apostolik Paus Fransiskus kepada para Biarawan dan Biarawati, II, 2) Bukan soal radikalitas, tetapi lebih kepada kenabian. Atau tepatnya radikalitas kenabian. Namun demikian, ini bukanlah perkara kenabian demi menjadikan diri kita sebagai teladan utama dalam Gereja, tetapi lebih sebagai utusan kecil dan rapuh yang menjadi saksi belas kasih Allah. Menjadi nabi, seperti dikatakan Br. Michaeldavide Semeraro, berarti mampu untuk hidup berdampingan dengan kematian, kegagalan, yang tak terlihat, yang dipinggirkan, dan melakukan hal-hal tersebut sebagai pilihan kekal sepanjang hayat.                    Emili Turú, FMS – Diterjemahkan oleh Herman Wahyaka dari artikel berbahasa Inggris “Religious Life in the 21st Century: The Prophey of Fragility” dalam https://www.jesuits.global/2021/02/02/religious-life-in-the-21st-century-the-prophecy-of-fragility/ akses terakhir Rabu, 3 Februari 2021 pkl 14.30 WIB.

Formasi Iman

Kaul Pertama dan Kaul Akhir Serikat Jesus

Pada 25 Desember 2020, Pater Provinsial, Benedictus Hari Juliawan, SJ menerima Kaul Pertama Skolastik Albertus Alfian Ferry Setiawan, SJ di Kapel St. Ignatius Loyola, Girisonta dan pada 1 Januari 2020 menerima Kaul Akhir dari 5 Jesuit yaitu, Elias Ambirat Duhkito, SJ, Agustinus Budi Nugroho, SJ, Herbertus Dwi Kristanto, SJ, Fransiskus Wawan Setyadi, SJ dan Ignatius Windar Santoso, SJ. Semangat Kaul dalam Serikat Jesus merupakan sebuah motivasi atau komitmen yang unggul yang berasal dari dalam. Kaul bukanlah ancaman bagi seorang anggota Jesuit ataupun pembatasan yang membelenggu. Serikat Jesus sendiri tidak mengenal meritokrasi. Dengan mengikuti nasehat Santo Ignatius, Serikat Jesus lebih condong menekankan pemberian diri sebagai motivasi untuk mengikuti Kristus, motivasi untuk pelayanan. Pater Provinsial menekankan bahwa kaul adalah sebuah bentuk empowerment, yang menjadi motor di dalam batin yang menggerakan orang untuk maju. Kaul itu bukan usaha untuk menahan diri atau ngampet, melainkan sebuah empowerment agar para Jesuit menjadi orang-orang yang merdeka. Kaul bukan pembatasan melainkan sebuah pembebasan dari kelekatan dari harta benda, keinginan untuk berkuasa dan juga relasi-relasi yang toxic. Untuk melihat foto-foto Kaul Pertama di Girisonta dan Kaul Akhir di Purbayan, silahkan klik di sini.

Formasi Iman

Ngopi (Daring) Bareng Bruder Jesuit

Pada hari Jumat (30/10) yang lalu, tim Promosi Panggilan (Prompang) bersama para bruder Serikat Jesus Provinsi Indonesia mengadakan acara bincang-bincang daring dengan judul “Ngopi Bareng Bruder Jesuit”. Acara yang diadakan via Zoom dan disiarkan juga di kanal Youtube Prompang ini diselenggarakan sebagai vigili peringatan St. Alfonsus Rodriguez yang jatuh pada keesokan harinya. Webinar dipandu oleh Fr. Barry dan Nina (OMK Girisonta). Acara “Ngopi Bareng” kali ini mengangkat tema seputar identitas, hidup komunitas, dan perutusan para bruder Jesuit. Para Bruder – diwakili oleh Br. David, Br. Marsono, dan Br. Sarju – memperkenalkan teladan hidup St. Alfonsus Rodriguez dan profil beberapa bruder terdahulu Provindo. Ketiga bruder narasumber ini kemudian membagikan pengalaman dan refleksi pribadi mereka terkait dengan ketiga aspek hidup bruder Jesuit.  Sharing tersebut lalu diikuti sesi tanya-jawab, sebelum akhirnya Rm. Sindhunata menyampaikan refleksinya atas kehadiran para bruder dalam Serikat Jesus. Acara ditutup dengan pemutaran video pewayangan Ki Suprih (Br. Suprih) dan doa mohon panggilan bruder. Salah satu diskusi menarik yang terjadi sepanjang webinar adalah tentang jati diri bruder Jesuit. Umat sering bertanya, “Apa itu bruder?” atau “Apa sih bedanya bruder dengan frater atau dengan imam?” Br. Marsono mengakui, tidaklah mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Walaupun para bruder Provindo pernah mencoba merumuskan bersama identitas mereka sebagai bruder, nyatanya masing-masing bruder tetap memiliki jawaban personal atas pertanyaan “Siapakah itu bruder?” Sementara itu Rm. Sindhu, penulis buku Sisi Sepasang Sayap, merefleksikan inspirasi khas para bruder senior yang karena menyadari betul keterbatasan diri mereka, justru memiliki semangat luar biasa dalam mempersembahkan diri dalam menjalankan perutusan Tuhan. Bisa jadi, kedalaman identitas para bruder Jesuit memang tidak dapat dirangkum secara utuh dengan ungkapan kata-kata yang nyatanya memang sangat terbatas. Kharisma khas para bruder baru dapat dirasakan dan dipahami ketika kita berjumpa langsung dengan mereka, sama seperti ketika para tamu Kolese Montesion menjumpai totalitas pelayanan dan kerendahan hati Bruder Alfonsus Rodriguez. Dengan menjumpai para bruder secara langsung jugalah kita dapat lebih mengerti bagaimana Serikat Jesus sungguh-sungguh tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa kepakan salah satu sayapnya ini. Sekali lagi, selamat merayakan pesta St. Alfonsus Rodriguez bagi para bruder Serikat Jesus. Selamat menghayati hidup sebagai bruder-bruder yang gembira dalam pelayanan! Fr. Lambertus Alfred, SJ

Formasi Iman

“Ini aku, Utuslah aku!”

Sembilan frater ditahbiskan diakon pada 23 Oktober lalu dan 4 di antaranya adalah skolastik Serikat Jesus. Mereka adalah Fr. Hugo, Fr. Jupri, Fr. Ale dan Fr. Ardi. Mereka dengan gembira dan bebas menyatakan kesiap-sediaannya untuk menjadi pelayan Gereja demi kemuliaan Allah dan keselamatan umat manusia. Mereka menjadikan ungkapan Nabi Yesaya sebagai motto tahbisan ini, yaitu “Inilah aku, utuslah aku!” (Yes 6:8). Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam homilinya menyatakan bahwa motto ini sangatlah to the point dengan makna tahbisan diakon karena motto ini sangat menyentuh langsung tugas pelayanan. Seperti orang mengatakan, menjadi diakon artinya kita harus rela dan berani untuk “di-akon dan di-kongkon” untuk kepentingan Allah dalam melayani umat manusia. Mgr. Rubi juga menambahkan dalam motto tersebut tersirat kemauan dan kehendak bebas yang menjadi modal awal kegembiraan dan sukacita dalam pelayanan. Jika melayani tidak dengan bebas, seorang diakon akan merasakan suasana berat dan tidak kerasan dalam pelayanan. Juga, tema ini menyatakan seorang diakon itu tidak pilih-pilih tugasnya. Siap diutus kemana pun karena kita menjalankan semua ini untuk kepentingan Allah dan umat manusia. Karena itu, seorang diakon perlu memiliki kesiap-sediaan dan kerelaan untuk berjuang sebaik mungkin demi kemuliaan Allah dan keselamatan umat manusia. Ciri seorang diakon yang disemangati dengan pesan nabi Yesaya ini adalah seseorang yang penuh semangat melayani dan tidak leda-lede atau santai-santai saja. Mgr. Rubi mengakhiri dengan pesan bahwa walaupun kita punya semangat yang besar namun tanpa rahmat Allah kita tidak bisa apa-apa. “Dengan iman, kita percaya, Allah yang memanggil dan mengutus akan membekali kita dengan berbagai karunia dalam pelayanan. Inilah yang akan membuat kita tetap dalam kegembiraan dan suka cita sampai akhir hayat kita. Kita tidak akan pernah kering atau surut pelayanannya karena Allah selalu hadir beserta kita.” Ditahbiskan Diakon dan menjadi pelayan Gereja, bagi Fr. Hugo, merupakan impiannya saat kecil. Akun bernama Maria Magdalena dalam chat-nya di Youtube menyapa Fr. Hugo dan mengatakan, “Selamat melayani Tuhan Yesus seperti yang dicita-citakan dari kecil”. Para diakon menyatakan kesiapsediaan mereka untuk mengabdi Tuhan dalam Gereja dengan jawaban serempak penuh semangat saat ditanya Bapak Uskup. Bapak Uskup Rubi juga menambahkan bahwa mengimplementasikan motto ternyata tidaklah mudah. Ada beberapa imam yang meminta secara langsung, “Mbok saya jangan di sini lah atau mbok saya di tempat yang itu aja”. Berbagai macam permintaan yang menunjukkan ketidaksediaan dalam perutusan. Maka dengan demikian, Bapak Uskup berpesan bahwa, “Kita jangan sampai meleset jauh dari jati diri tugas pelayanan kita”. Setelah upacara tahbisan, di kolsani dilangsungkan makan siang bersama secara sederhana yang dihadiri komunitas besar Kolsani, para karyawan dan juga keluarga para diakon. Acara makan siang berlangsung dengan hangat yang diisi dengan persembahan lagu-lagu dari para skolastik, karyawan dan beberapa tamu undangan. Sekali lagi, Proficiat kepada para Diakon. Selamat menjadi gembala dalam Gereja. Windar Santoso