MERAYAKAN KESETIAAN ALLAH: 60 Tahun dalam Serikat Jesus Rm. Udyasusanta, SJ

IMG_6281

Pada Senin, 7 September 2020, Komunitas St. Stanislaus Girisonta merayakan pesta 60 Tahun dalam Serikat Jesus bagi Rm. Udyasusanta, SJ. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Superior komunitas, Rm. M. Yumartana, SJ dan Rm. Udyasusanta, SJ sebagai konselebran di Kapel Emaus.

Dalam kotbah, Rm. Udyasusanta memberikan refleksi tentang kesetiaan Allah. Baginya, 60 tahun dalam Serikat Jesus merupakan rasa syukur mendalam karena

Saat Rm. Udya sharing panggilannya

jumlah tahun-tahun itu adalah bukti atas kesetiaan yang pantas disyukuri, bukan kesetian kita atas panggilan kita, melainkan kesetiaan Tuhan yang tetap memanggil kita, tetap menerima kita meskipun kita lemah dan rapuh. Saya bersyukur dan bangga atas Serikat Jesus, tetapi saya sulit membayangkan apakah Serikat Jesus bangga atas keanggotaan saya. Mungkin banyak kecewa dan malu, dalam perjalanan hidup saya dalam berserikat dari komunitas ke komunitas. Tetapi saya sadari Tuhan begitu baik dan tetap memanggil dan menerima saya.

Rm. Udya kemudian menambahkan, “Kesetiaan Tuhan dapat saya rasakan bersama komunitas-komunitas yang saya lewati dalam perjalanan perutusan, khususnya Girisonta, yang menjadi komunitas di mana saya tinggal paling lama.”

Rm. Udya resmi menjadi penghuni Emaus sebagai pendoa bagi serikat sejak 2017. Ia sebelumya tinggal di Domus Patrum selama 5 tahun dan berkarya sebagai sub minister Emaus selama 13 tahun. Ketika mendapat tugas menjadi pendoa bagi Serikat dan Gereja, Rm. Udya berucap “Wah…ini akan menjadi pendoa profesional, bagaimana ya caranya?” Saat itu, Rm. Udya banyak membaca buku tentang cara-cara berdoa yang efektif dan mencoba mempraktikkan. Namun, saat itu, ia sendiri belum menemukan metode yang paling tepat, sebagai cara berdoa yang pas. Kemudian Rm. Udya kembali mengenang lagi 60 tahun lalu saat masih novis dan didampingi oleh Rm. Soemarno, SJ. Beliau saat itu memberi puncta kepada para novis. Saat itu ada novis yang mengeluh sulit menjalankan meditasi dan dengan entengnya beliau menjawab “Nek ora iso meditasi, sembahyang tesbèh wae” Kalau tidak bisa meditasi, berdoa rosario saja. Para novis spontan menertawakan jawaban tersebut karena pasti tidak disetujui Rm. Jonckbloedt, SJ, Magister saat itu. Namun bagi Rm. Udya, itulah yang mengena, dan dilakukannya ketika mencari-cari bentuk doa ketika di Emaus. Inilah bentuk doa yang diras pas baginya dan membuatnya mantap dan bertekun untuk berdoa melalui perantaraan Bunda Maria dalam doa rosario.

Rm. Udya berterima kasih atas Serikat dan komunitas yang telah memestakannya. Ia merasa gembira berada di Komunitas Emaus karena dipenuhi segala kebutuhan jasmani dan rohani, dimanjakan. Namun ia dapat menjamin kesetiaannya dalam berdoa untuk Serikat dan Gereja.

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *