Kisah Tertiat 2020

20200731_091558

Perjalanan Tertiat Girisonta angkatan 2020 secara resmi telah berakhir pada Kamis (30/7) dan ditutup dengan Ekaristi sekaligus pembaruan kaul. Ekaristi dipimpin oleh Rm. Priyo Poedjiono. Selain beliau, kami bertujuh (Rm. Adri, Rm. Andri, Rm. Niko, Rm. Sani, Rm. Suryadi, Rm Suryanto, Rm. Tomi) juga merasa didukung dengan kehadiran Rm. Putranto secara langsung dan Rm. Wiryono dalam doa.

Pengalaman Tertiat tahun 2020 ini terasa unik dan menarik. Unik karena sebagian besar Tertiat berlangsung dalam suasana pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan akan berakhir. Pandemi ini mengubah banyak program, terutama probasi dan aktivitas ke luar. Pelayanan Pekan Suci di Keuskupan Ketapang dan Banjarmasin yang menjadi probasi luar tidak dapat dilaksanakan; begitu juga dengan rencana untuk mengunjungi keluarga setiap Tersiaris. Setelah Retret Agung yang berakhir pada 31 Maret, praktis kedua instruktur, Rm. Priyo dan Rm. Putranto, dan para tersiaris melanjutkan program di Girisonta. Jadi, bisa dikatakan bahwa selama 5 bulan kami “di-lockdown”. Langkah ini diambil juga sebagai bagian dari upaya untuk menjadikan Komunitas Girisonta sebagai rumah aman.

Foto bersama setelah Misa Penutupan Tertiat 2020

Apa yang menarik dari Tertiat 2020? Kondisi “lockdown lokal” menantang para instruktur dan tersiaris untuk tidak menjadi mutung atau nglokro. Kreativitas kemudian muncul untuk menyikapi langkah Komunitas Girisonta yang mengurangi keterlibatan karyawan di kompleks Novisiat, Domus Patrum (DP), dan Emaus. Dalam koordinasi dengan Minister, beberapa tugas yang biasanya dikerjakan oleh karyawan kemudian ditangani oleh para tersiaris dan instruktur. Tugas tersebut berupa menyapu taman dalam DP dan taman Emaus, mengepel selasar, ruang rekreasi, serta ruang tamu.

Ada juga pengalaman “nguli” untuk angkut-angkut berkardus-kardus anggur dari lantai dua perpustakaan ke gudang anggur di belakang wash yang cukup membuat menggeh-menggeh para tersiaris yang berbadan subur. Menyapu, mengepel, dan mengangkat kardus lalu menjadi opera sekaligus pengganti probasi luar. Biasanya opera mulai pukul 07.30 sampai 08.15 lalu ada waktu jeda sebelum kelas yang berlangsung dari pukul 10.00 sampai sebelum makan siang. Yang juga menarik, ternyata dua instruktur kami ini juga ikut melakukan tugas opera. Rm. Putranto, yang notabene sampun sepuh, juga tanpa canggung ikut mengepel selasar sebelah selatan Kapel Ignatius. Sementara itu, Rm. Priyo mengambil tugas mengepel selasar sebelah utara Kapel Ignatius dan selasar depan Kapel Maria. Jadilah para tersiaris dan instruktur berubah menjadi ‘James Bon’ atau istilah plesetan dari ‘jaga mes dan kebon‘, menggantikan tugas dan pekerjaan karyawan rumah. Opera dan beberapa pekerjaan harian yang dikerjakan secara mandiri lalu kami sadari sebagai latihan untuk hidup lebih sederhana, untuk mengasah kesadaran akan peranan sebagai abdi, untuk memelihara rumah bersama, dan menjadi sebuah bentuk solidaritas dengan mereka yang harus bekerja dan berjerih payah setiap hari.

Situasi pandemi dan lockdown juga memunculkan kreativitas untuk tetap dapat menerima masukan dari beberapa nostri, yaitu secara daring atau online. Dengan cara itu, Rm. Suyadi memberi kami wawasan dan refleksi tentang karya sosial; Rm. Herry Priyono mengajak kami mendalami KJ 36 dan Preferensi Apostolis Universal; Rm. Haryatmoko menuntun kami untuk mengenali pengaruh disrupsi digital yang mengubah sistem pendidikan; Rm Wiryono mengundang kami untuk kembali mendalami dan merefleksikan Laudato Si. Metode daring juga menjadi sarana bagi kami, tersiaris, untuk menemani para frater dan bruder di Kolese Hermanum dalam oktiduum. Oktiduum kali ini mengajak para skolastik untuk menyadari dan menyikapi aneka distraksi sehingga kembali menempatkan Allah sebagai pusat. Setiap hari setiap tersiaris memberikan bahan dan mengadakan pembicaraan rohani dengan setiap frater dan bruder yang didampingi secara daring. Ini menjadi pengalaman baru bahwa retret terbimbing secara penuh (full guided retreat) dilaksanakan secara daring.

Kami bersyukur atas olah raga bersama para Novis, Bruder, Rama, dan pegawai; juga atas rekreasi-rekreasi bersama di Girisonta. Dari beberapa anggota komunitas ini, kami menerima juga masukan berharga; dari Bapak Kardinal Darmaatmadja tentang gubernasi; dari Rm. Krispurwana tentang Sejarah Serikat; dari Rm. Nano tentang pars ketiga Konstitusi; dari Rm. Zahnweh tentang mimpi dan kemurnian; dari Rm. Eko tentang protokol safeguarding. Kami mengucapkan terima kasih kepada Komunitas Girisonta yang telah menerima dan menemani selama tertiat ini. Terima kasih kepada Rm. Sunu yang telah mengundang kami untuk memasuki “sekolah afeksi” ini; kepada Rm Beni yang mengutus kami kembali atau masuk perutusan baru; juga kepada Anda semua para nostri Provindo atas dukungan dan doa-doa Anda.

Rikhardus Sani Wibowo, SJ

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *