Society of Love

pulo nangka

Pada tanggal 27 Juli sampai 1 Agustus lalu, para Skolastik Filsafat, TOK, dan Teologi Provindo menjalani Kursus Spiritualitas dengan tema Spirit Looking for Body di bawah bimbingan Pater Hung, SJ, seorang Jesuit Amerika berdarah Vietnam.

Kursus Spiritualitas kali ini diikuti 78 peserta. Mayoritas pesertanya adalah skolastik Indonesia, ditambah beberapa skolastik dan Romo dari Vietnam, Laos, Myanmar, dan Thailand. Tidak lupa juga Fr. Sapto, teologan Provindo yang kini studi di Manila ikut dalam kursus ini.

Pada mulanya, kursus ini diperuntukan bagi Skolastik Provindo saja dan dilaksanakan di Sangkal Putung. Namun, karena pandemi Covid-19, panitia memutuskan untuk melaksanakannya daring.

Kursus Spiritualitas secara online di Unit Solastik SJ

Rahmat Jalur Daring
Tentu saja ada sedikit kekecewaan karena tidak bisa bertemu langsung dengan Pater Hung Pham, SJ dan sahabat yang lain. Namun, rupanya Tuhan sudah menyediakan rahmat luar biasa di balik pertemuan daring ini, skolastik luar negeri dapat turut terlibat; merasakan dan mencecap kembali kharisma dan kekayaan Serikat secara bersama-sama dalam ruang dan waktu yang sama. Ada kesatuan hati dan budi sebagai Friends in the Lord dalam Serikat universal yang menembus batas budaya, ras.

Kembali ke Novisiat
Ada banyak sekali poin menarik dalam kursus kali ini, mulai dari Autobiografi, Latihan Rohani, Konstitusi, Kongregasi Jendral 36, dan nilai-nilai keserikatan lainnya. Pemaparan materi yang diselingi dengan guyonan berisi serta refleksi kritis nan mendalam dari pemateri membuat kursus ini amat menyenangkan.
Dalam percakapan rohani di unit, ada banyak teman yang merasa seperti kembali lagi ke novisiat. Materi-materi seperti Latihan Rohani, Konstitusi, Autobiografi, Kongregasi Jendral digarap dengan serius, tajam. Bahkan ada yang berkata, “Wah kursus seperti mendalami kembali materi-materi di Novisiat dalam waktu yang sangat singkat, lima hari saja.”

Society of Love
Di antara banyaknya hal menarik dalam kursus kali ini, perkataan Rm. Hung bahwa Serikat kita ini bukan hanya Society of Jesus, tetapi juga Society of Love, amat mengesankan. Hal ini tampak sekali dari tingginya frekuensi kata kunci dari para peserta ketika merangkum dinamika selama kursus ini.
Bagi saya pribadi Society of Love itu benar karena pertama, setiap dari anggota Serikat itu dipanggil karena cinta Allah. Karena cinta pada Allah-lah kita menanggapinya dengan bergabung dalam Serikat ini. Tidak ada seorang pun dalam serikat ini yang mau masuk Serikat tanpa adanya cinta pada Allah dan Serikat. Itu satu paket lengkap yang tak terbantahkan.

Kedua, Cura Personalis. Karena cinta yang sama pada Kristus, kita dimampukan untuk mencintai, mendoakan, dan melayani yang lain. Setiap superior dan anggota selalu mendoakan dan memperhatikan keselamatan jiwa saudara-saudara se-Serikat. Perhatian yang personal dan mendalam itu adalah bukti adanya cinta yang hidup dan menyapa. Inilah harta cinta yang indah dalam serikat; setiap pribadi berharga dan pantas dicintai.

Kita ingat St. Fransiskus Xaverius selalu menjatuhkan air mata dan menangis hari ketika membaca surat yang ditulis Ignatius yang disimpan di kalungnya. Ada rasa cinta pada para sahabat dalam Tuhan yang sama-sama berjuang bagi kemuliaan nama Tuhan. Di sini sebagaimana Hung katakan, “Serikat menjadi jalan bagi anggotanya menuju Allah.” Kepedulian antar anggota memampukan kita merasakan Allah yang menyapa.

Ketiga, cinta itu pada Tuhan dan Serikat itu mempersatukan. Perbedaan budaya, ras, bahasa disatukan dalam sebuah misi yang sama, cinta akan Kristus yang mempersatukan dan mengutus kita. Saya sudah sering mendengar sharing Nostri yang ketika pergi ke luar negeri tidak perlu merasa takut, sebab di sana ada saudara dalam Tuhan yang siap menerimanya. Memang dari segi bahasa, budaya, latar belakang tentu berbeda, tetapi kesatuan hati dan budi (cinta) dalam serikat itulah yang membuat mereka bisa saling memahami dan melayani.

Keluar dari Diri Sendiri
Pengalaman pribadi tentang Society of Love ada banyak sekali. Salah satunya saat Paskah tahun ini. Saat itu, tiga anggota komunitas kami sakit, termasuk saya. Di saat yang bersamaan, karyawati masak unit sedang cuti. Demikian, makan-minum komunitas disiapkan oleh anggota komunitas sendiri. Setiap pagi mereka bahu-membahu memasak air panas untuk kami yang sakit agar bisa mandi, menyiapkan makanan; pagi sampai malam, dan mengurus tugas-tugas yang kami tinggalkan untuk sementara waktu.

Saya merasakan cinta Tuhan lewat anggota se-Serikat di dalam komunitas. Saya menemukan Yesus yang menyiapkan sarapan bagi para murid di tepi Danau Tiberias. Adanya rasa cinta terhadap saudara se-Serikat itu amat terasa.

Cinta itu membuat anggota komunitas keluar dari diri sendiri untuk siap melayani yang lain.

Engelbertus VIktor Daki, SJ


Mungkin baik bila kita merenungkan kembali makna Society of Love dan bertanya, apakah aku sebagai pribadi sungguh merasa dicintai? Apakah sudah menghadirkan wajah love ini terhadap yang lain?

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *