Pilgrims on Christ’s Mission

Formasi Iman

Formasi Iman

Menimba Rahmat Bulan Imamat

Program Bulan Imamat (Arrupe Month) adalah salah satu bagian integral dalam formasi sebagai calon imam Serikat Jesus. Program ini dilaksanakan pada tahap akhir formasi imamat, yaitu formasi teologi. Kami, enam frater teologan dan seorang bruder tahun pertama dari Kolese St. Ignatius Yogyakarta, menjalani program Bulan imamat pada 2-31 Januari 2025 di Rumah Retret Kristus Raja, Girisonta. Selama satu bulan, kami menjalani rangkaian acara dan didampingi oleh Pater Paul Suparno, S.J. selaku Prefek Spiritual Kolsani.   Pengalaman menjalani Bulan Imamat merupakan pengalaman istimewa. Program ini memberikan kesempatan berharga bagi kami untuk semakin menghayati panggilan imamat dalam Serikat Jesus dengan rangkaian sesi diskusi dengan beragam pembicara, sharing rohani, dan ditutup dengan retret delapan hari (octiduum). Ada empat pertanyaan besar yang menjadi arah dasar program ini. Dari mana inspirasi dan Roh imamat Jesuit? Imamat dan hidup membiara untuk siapa? Siapa rekan pelayanan imam? Ruang dialog mana saja yang bisa dilibati?     Menggali Inspirasi dan Roh Imamat Jesuit Pertanyaan “Dari mana inspirasi dan Roh imamat Jesuit?” mengajak kami untuk melihat kembali akar spiritualitas Serikat Jesus dan merefleksikan tentang kekhasan imamat Jesuit.    Dalam sesi pengantar, Pater C. Kuntoro Adi, S.J. selaku Rektor Kolese Ignatius menunjukkan bahwa panggilan imamat dalam Serikat Jesus berbeda dibandingkan dengan tarekat religius lain. Beliau mengangkat kisah para Jesuit yang masuk ke Kerajaan Siam pada abad XVII sebagai astronom kerajaan. Hal tersebut menunjukkan kekhasan imamat Serikat Jesus yang bukan pertama-tama imamat kultis, melainkan imamat ministerial.   Bersama Pater L.A. Sardi, S.J., kami menelusuri perjalanan para Primi Patres serta dokumen-dokumen Serikat. Lebih dari sekadar peran fungsional, imamat Jesuit berakar pada spiritualitas Ignasian yang mengutamakan perjumpaan dengan Tuhan dalam segala. Relasi pribadi dengan Allah menjadi hal yang sangat penting agar pelayanan para Jesuit bukan sekadar tugas melainkan perutusan yang lahir dari perjumpaan dengan Sang Sumber Hidup.   Selain itu, secara Istimewa kami juga merefleksikan tentang relasi antara imam dan bruder dalam Serikat Jesus. Pater Sardi menegaskan bahwa para bruder Jesuit juga berkontribusi melalui semangat partisipatif dalam tugas para imam. Baik imam maupun bruder Jesuit sama-sama menghidupi misi Tuhan dalam Serikat. Perjumpaan kami dengan Br. Marsono, S.J. yang berkarya di Kolese PIKA, Semarang, semakin menegaskan semangat partisipatif tersebut.   Panggilan imamat Jesuit melihat perutusan dari pembesar sebagai perutusan dari Tuhan sendiri. Dalam kunjungan kami ke Provinsialat S.J., kami diajak untuk melihat kembali perjalanan Provindo dalam mewujudkan Rencana Apostolik Provindo (RAP) bersama Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. selaku Provinsial. Dalam kesempatan tersebut, kami juga diberi gambaran tentang tata kelola gubernasi Serikat oleh Pater Sigit Prasadja, S.J., sebagai Ekonom Provinsi, dan Pater Melkyor Pando, S.J., sebagai Socius Provinsial.     Menjawab Panggilan di Tempat yang Paling Membutuhkan Dalam semangat Preferensi Apostolik Universal (UAP), Bulan Imamat 2025 juga mengajak kami untuk bertanya: Imamat dan hidup membiara untuk siapa? Pertanyaan ini semakin menyadarkan kami bahwa Jesuit dipanggil untuk melayani di tempat paling membutuhkan, di tapal batas atau frontiers.   Dalam kunjungan kami ke Paroki St. Antonius, Muntilan, kami bersyukur bisa mendengar sharing dari para Jesuit yang berpengalaman sebagai misionaris. Kami mendengarkan sharing dari Pater Mardi Santosa, S.J. yang pernah menjadi misionaris di Papua dan Kalimantan serta Pater Sarjumunarsa, S.J. yang pernah menjadi formator para seminaris di Kalimantan. Kami merasa bersyukur dan kagum kepada kedua sosok tersebut yang selalu siap sedia diutus dan gembira mengemban misi Serikat.   Tapal batas tidak selalu diartikan secara geografis. Di tengah kota besar sekalipun, ada suara-suara orang yang terpinggirkan, tertindas, dan membutuhkan. Kami mendengar sharing dari Pater Suyadi, S.J. yang berkarya di Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta. Di LDD, Pater Suyadi dan rekan-rekannya melayani orang-orang miskin dan tersingkir di tengah gemerlap kota Jakarta.   Selain itu, di dalam tubuh Gereja pun, ada pihak-pihak yang termasuk ke dalam kelompok rentan. Kami mendengar sharing dari Sr. Luciana, RGS yang telah memiliki banyak pengalaman dalam mendampingi para korban kekerasan seksual. Kami juga mendapat kesempatan Istimewa untuk mendengarkan pengalaman Pater James Martin, S.J., seorang Jesuit Amerika dan penulis, yang berjuang menghayati semangat sinodalitas dalam Gereja dan memberi perhatian pada kelompok LGBT.   Berhadapan dengan tapal batas, kami perlu sadar bahwa kami ini juga bisa menjadi pihak yang rentan. Oleh karena itu, sangat penting bagi para imam dan calon imam untuk bisa menjaga kesehatan dan kematangan psikologis. Kami dibantu oleh Bu Agnes Indar Etikawati, dosen psikologi Universitas Sanata Dharma untuk mengenali dan mengembangkan diri kami agar bisa menjadi pribadi dan calon imam yang sehat secara psikologis.     Rekan Pelayanan Imam Kami menyadari bahwa imam bukanlah seorang pekerja soliter. Sebagai bagian dari Gereja, kami dipanggil untuk berjalan bersama umat dan rekan-rekan sepelayanan. Oleh karena itu, refleksi mengenai siapa saja rekan pelayanan imam menjadi aspek penting dalam Bulan Imamat 2025.   Kami mendengarkan pengalaman Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, Uskup Pangkal Pinang, yang menjadi peserta Sinode tentang Gereja Sinodal. Kami mendapat gambaran tentang bagaimana sinode berlangsung dan gagasan-gagasan apa saja yang dilahirkan dalam sinode tersebut. Dari situ kami semakin disadarkan pentingnya membangun kerjasama yang tulus dengan rekan-rekan imam maupun religius dari keuskupan maupun tarekat lain dalam kehidupan menggereja.   Semangat sinodalitas juga kami temui ketika berkunjung ke Paroki St. Yusuf Gedangan, Semarang. Di sana, kami mendapat gambaran tentang dinamika karya paroki Jesuit, termasuk kerja sama antara para Jesuit dengan dewan paroki. Pater Cahyo dan rekan-rekan dewan paroki terus mencari cara-cara kreatif untuk menghidupkan Paroki Gedangan yang sudah berusia 150 tahun.   Kami juga mendapatkan kesempatan Istimewa untuk mendengarkan sharing dari Pater Ed Quinnan, S.J., Jesuit Amerika yang menjadi superior misi di Micronesia. Dalam kesempatan tersebut, Pater Ed mengajak kami untuk menyadari pentingnya penghayatan ketaatan yang benar dan pentingnya percakapan rohani dalam membangun hidup komunitas. Ketaatan dan percakapan rohani adalah hal yang sangat krusial bagi para Jesuit yang berada dalam satu komunitas untuk bekerja bersama mengemban misi Tuhan sendiri.   Selanjutnya, kami juga mendengar sharing dari Ibu Karlina Supelli. Bu Karlina berbagi pengalamannya dalam dua sudut pandang, yaitu sebagai ibu dari seorang religius dan awam yang bekerja bersama dengan para religius. Kami merasa sangat tersentuh dengan sharing dari Bu Karlina karena bisa membahasakan dan mewakili perasaan yang tak terkatakan dari keluarga kami masing-masing. Di sisi lain, mengingat

Formasi Iman

Mewujudkan Mimpi Provindo

PERTEMUAN JESUIT MUDA 2024 31 Juli-3 Agustus 2024, setelah acara tahbisan, kami, para imam dan bruder muda berkumpul di Kampoeng Media untuk mengikuti Program Pengembangan Kepemimpinan (LDP). Suasananya menggembirakan dan fun. Kami dibantu Pater Nano, S.J. selaku delegat Rencana Apostolik Provindo (RAP) untuk berbagi pengalaman dan inspirasi terkait RAP ini. Dalam sharing kelompok gugus karya (paroki, pendidikan, dosen, karya sosial, formasi) kami mendengarkan satu sama lain bagaimana RAP ini bergema dalam hidup dan perutusan yang kami jalani. Meski gema RAP ini belum terdengar nyaring, kami melihat bahwa RAP ini memberikan jalan dan harapan dalam menghidupi kesatuan hati dan budi dalam hidup perutusan Serikat saat ini. Bahkan dalam sambutannya, Pater Provinsial mendorong Jesuit muda untuk berani berimajinasi bagi karya kerasulan Serikat.   Dalam kesempatan LDP ini hadir juga teman-teman Jesuit dari Thailand dan Vietnam (Pipat, Sarayuth Konsupap, Sakda, Luong, Josep Doan Tam) yang menambah keakraban. Secara khusus PP Thep dan Pipat yang pernah menempuh studi filsafat di STF Driyarkara tahun 2009-2013, juga membagikan pengalaman berkarya di Thailand dalam terang UAP di hari terakhir.   Pada hari Kamis, 1 Agustus, Pater Nano, S.J. mengajak kami untuk memperhatikan mimpi kecil Jesuit dan juga mimpi Serikat Provindo serta Serikat Universal. Kami juga diharapkan untuk memberikan perhatian besar kepada mimpi Serikat Provindo yang tertuang dalam RAP. Salah satu rekomendasinya ialah setelah LDP ini Pater Nano, S.J. akan mengajak kami untuk mengadakan pertemuan online demi mewujudkan mimpi itu dalam karya kerasulan kami masing-masing.     Pater Sigit, S.J. sebagai ekonom provinsi mengajak kami belajar dan menengok lagi pedoman dalam pengelolaan harta benda Serikat secara tepat berdasarkan IAF (Instruction for Administration and Finances) dan sesuai dengan penghayatan kaul kemiskinan kita.   Untuk menambah kegembiraan kami, pada Jumat, 2 Agustus, kami mengadakan outing ke beberapa tempat, seperti Lava Tour, rafting di Sungai Elo-Magelang dan beberapa kelompok jalan-jalan wisata rohani serta kuliner.   Pada hari terakhir, Pater Daryanto memperkaya imajinasi kami dengan sharing kerasulan orang muda, khususnya pendampingan kaderirasasi bagi mahasiswa-mahasiswi katolik di Yogyakarta. Br. Dieng berbagi refleksi tentang menemukan Tuhan dalam karya KPTT sekaligus mempromosikan sei babi yang terkenal enak. Terakhir, PP Thep, Pat, dan Sakda bercerita upaya-upaya Jesuit Thailand dalam menemukan bentuk yang relevan terkait RAP di konteks sana, misalnya membangun ecology center dalam salah satu karya di sana.   LDP ini ditutup dengan misa yang dipimpin oleh PP Sakda dan Dam. Selamat berimajinasi dan berkarya.   Kontributor: Panitia LDP Jesuit Muda 2024

Formasi Iman

Persembahan Diri Penuh Para Jesuit

Pada 2 Februari 2024, bertepatan dengan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah dan Ekaristi Jumat Pertama, pesta Kaul Akhir empat imam anggota Serikat Jesus dirayakan dengan khidmat di Gereja Santa Theresia Bongsari Semarang. Keempat kaules itu adalah Pater Rudy Chandra Wijaya, S.J., Pater Joseph Mangatur Mangisi Tua Situmorang, S.J., Pater Alexander Hendra Dwi Asmara, S.J., dan Pater Eduardus Didik Cahyono, S.J. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Provinsial Benedictus Hari Juliawan, S.J. tersebut dihadiri oleh umat, keluarga, dan tersiaris dari Filipina, Thailand, Malaysia, Slovakia, serta Nigeria. Jika Kaul Pertama Serikat Jesus dimaknai sebagai janji Jesuit untuk bergabung dengan Serikat Jesus, Kaul Akhir dimaknai sebagai persembahan secara penuh para Jesuit kepada Serikat. Melalui pengucapan kaul, Jesuit diharapkan meneladani sikap Yesus Kristus yang dengan sukarela mempersembahkan dirinya untuk kemuliaan Allah seperti saat Ia dipersembahkan di Bait Allah dan saat Ia wafat di kayu salib. Dalam homilinya, Pater Benny membawa cerita kehidupan Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus, yang perlu dicontoh semangatnya. Santo Ignatius yang pada awalnya merupakan prajurit menghadapi tantangan hidup ketika bom kanon mengenai salah satu kakinya dan membuatnya pincang. Setelah mengalami semua itu, Santo Ignatius mendapat panggilan untuk bertobat. Saat hendak berdoa di sebuah gua Maria, ia menanggalkan pedang dan mantel yang merupakan simbol jiwa prajurit dan pangkatnya. Beberapa waktu setelah itu, Santo Ignatius sepenuhnya mengabdikan diri kepada Tuhan dengan membentuk Serikat Jesus. Pater Benny mengajak umat dan para Jesuit untuk memperhatikan kesanggupan Santo Ignatius dalam melepaskan segala kepunyaannya, keinginan, dan cita-citanya demi mempersembahkan diri kepada Tuhan. Pater Benny mengingatkan bahwa pada akhirnya, setiap manusia akan mempersembahkan diri kepada Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Kesulitan atau tantangan yang akan kita alami dalam upaya tersebut merupakan hal wajar seperti yang terjadi pada Santo Ignatius Loyola. “Pada akhirnya, kita diminta menyerahkan kemerdekaan kita untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan,” ujar Pater Benny. Di akhir Perayaan Ekaristi, Pater Hendra sebagai perwakilan kaules, mengucapkan syukur dan terima kasih kepada keluarga yang telah mendukung perjalanan mereka, komunitas Jesuit tempat mereka melayani, umat, tokoh-tokoh lintas agama, panitia Kaul Akhir Serikat Jesus, dan petugas liturgi yang bertugas selama Perayaan Ekaristi. Pater Hendra memaknai penerimaan Kaul Akhir sebagai keyakinan Serikat Jesus kepada Jesuit untuk hidup seterusnya dalam serikat demi pengabdian dan kemuliaan Allah yang lebih besar. Ia juga memohon doa dan dukungan para seluruh umat yang hadir supaya mereka dapat sungguh-sungguh setia untuk mengemban tugas dalam Serikat Jesus. Kontributor: Agatha Nuansa Natnesia Daniswara – Bongsari

Formasi Iman

Pertemuan Bruder Jesuit Indonesia di Kolese Loyola Semarang

Pertemuan Bruder Jesuit Indonesia tahun 2023 diadakan di Kolese Loyola Semarang, dari tanggal 29 – 31 Oktober 2023. Ada 16 Bruder yang hadir dalam acara tersebut dan berasal dari beberapa komunitas. Hadir pula seorang Bruder Novis, yang diutus oleh Magister dan Socius Magister di komunitas formasi Novisiat Girisonta. Walaupun ada beberapa Bruder yang tidak hadir dalam acara ini, karena kesibukan maupun karena lokasi yang terlalu jauh (luar pulau), namun acara ini tetap berjalan dengan menggembirakan dan lancar.

Formasi Iman

Berjalan Bersama Sahabat Seperutusan

QUINDIN 2023 Pada tanggal 27 Juli – 2 Agustus 2023 para Frater dan Bruder Serikat Jesus Provinsi Indonesia mengikuti rangkaian acara Quindin 2023. Quindin adalah kesempatan rekreasi bersama yang bertujuan untuk membangun komunitas persaudaraan antarskolastik sembari membahas isu yang sedang berkembang. Quindin 2023 dengan tema “Berjalan Bersama Sahabat Seperutusan” ini diikuti oleh 53 peserta. Ada 22 Filosofan, 15 TOKER, 13 Teologan, dan 3 orang Romo). Artificial Intellegence:Berjalan Bersama Dunia yang Berkembang Quindin 2023 diawali dengan kegiatan studi bersama mengenai Artificial Intellegence (AI). AI berkembang pesat dan telah masuk ke semua lini kehidupan mulai dari bidang kesehatan, teknologi, ilmu pengetahuan, eksplorasi, transportasi, industri, bahkan dalam bidang peribadatan. Dalam proses study ini, para peserta Quindin didampingi oleh beberapa akademisi dan praktisi AI profesional. Dr. Ir. Lukas, MAI, CISA, IPM yang merupakan ketua dari IAIS (Indonesia AI Society) menjadi pembicara pertama. Selanjutnya, Pater Hari Suparwito, S.J. menjelaskan etika penggunaan teknologi, khususnya AI. Praktisi AI seperti Yulianus Ladung, Arbain Rambey, dan Yohanes Paganda Halasan Harahap turut berbagi pengalaman penerapan AI dalam bidang seni, fotografi, dan media informasi. Dalam proses study ini, ada antusiasme yang cukup dominan. Para skolastik terlibat aktif dengan menanggapi, melontarkan pertanyaan, dan mempraktikkan materi serta mencoba teknologi VR (Virtual Reality). Seorang skolastik berkomentar bahwa perkembangan dunia digital harus diikuti oleh Serikat Jesus agar relevan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa di era teknologi global zaman ini. AI bisa menjadi ancaman dan peluang untuk sebuah dunia yang lebih baik. Kami pergi ke Bali, sambil Melihat Ke-mbali Rangkaian kedua acara Quindin 2023 adalah rekreasi ke Pulau Dewata, Bali. Dalam perjumpaan antarangkatan skolastik, terlihat jelas keakraban dan keinginan untuk saling mengenal satu sama lain, serta menimba semangat dengan saling membagikan cerita. Selain mengenal keragaman budaya dan karya serikat di Indonesia, Quindin kali ini juga diwarnai dengan aktualia teman-teman ekspatriat dari Myanmar, Thailand, dan Pakistan. Melalui perjumpaan antar skolastik lintas angkatan, lintas negara, serta lintas tugas perutusan ini, kami semakin mengenal satu sama lain. Semoga ini menjadi awal dari persahabatan dan perjalanan bersama sahabat seserikat. Semoga melalui Quindin yang telah diselenggarakan ini, tugas perutusan Allah semakin mampu dilaksanakan dalam semangat Kasih Persaudaraan. Kontributor: SS. Petrus Guntur Supradana, S.J. dan Feliks Erasmus Arga, S.J.

Formasi Iman

Berani Berjumpa di Tempat Mereka Berada

Perjumpaan, walau sederhana dan sekecil apapun, dapat mengubah jalan hidup seseorang dan bahkan menjadi sarana keselamatan. Sebagaimana perjumpaan sederhana Bunda Maria dan Elisabeth saudarinya, serta Yesus dan Yohanes Pembaptis yang “berjumpa” selagi masih di dalam kandungan ibu mereka masing-masing, berlanjut dengan karya keselamatan Allah bagi dunia, diharapkan perjumpaan-perjumpaan kita sehari-hari dengan siapa saja menjadi sebuah perjumpaan yang membawa keselamatan. Itulah salah satu renungan yang ditawarkan Pater Provinsial, P. Benedictus Hari Juliawan S.J. kepada seluruh umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi Pengucapan Kaul Akhir lima imam Jesuit pada 31 Mei 2023 mulai pukul 17.30 WIB di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. Mereka yang mengucapkan kaul akhir adalah P. Ignatius Suryadi Prajitno, S.J. (Pastor Rekan Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Tangerang), P. Yohanes Adrianto Dwi M., S.J. (Pastor Kepala Paroki St. Yohanes Pemandi Waghete, Papua), P. Mario Tomi Subardjo, S.J. (Mahasiswa Doktoral Pontificio Instituto Liturgico Sant’ Anselmo, Roma, Italia), P. Julius Mario Plea Lagaor, S.J. (Direktur/Kepala SMA Seminari Mertoyudan Magelang), dan P. Yustinus Rumanto, S.J (Direktur CampusMinistry Universitas Sanata Dharma Yogyakarta). Melalui kaul akhir, kelima imam Jesuit ini mempersembahkan diri untuk sepenuhnya menggabungkan diri atau berinkorporasi ke dalam Serikat Jesus. Dalam Ekaristi yang bertepatan pula dengan Pesta Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabeth ini, Pater Provinsial sebagai selebran utama didampingi P. Paul Suparno, S.J. (Acting Superior Kolese St. Ignatius atau Kolsani) dan P. Adrianus Maradiyo, Pr (Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur) serta para imam kaules (yang mengucapkan kaul) sebagai konselebran. Perayaan ini ditayangkan juga secara langsung di kanal YouTube Jesuit Indonesia dan Gereja St. Antonius Padua Kotabaru. Selanjutnya Pater Provinsial mengajak terutama para imam kaules agar dalam karya pelayanan mereka bersedia berjumpa dengan siapa saja tanpa terkecuali. Mengutip homili Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, Pater Provinsial berharap agar para kaules mau menjumpai mereka di tempat mereka berada, bukannya di tempat yang kita pikir mereka berada. “Maksudnya, dalam pelayanan dan perutusan kita harus selalu siap berhadapan dengan situasi yang tidak nyaman, tidak mudah, tidak menyenangkan, ataupun tidak sesuai dengan keinginan kita. Sebab, hanya dengan cara itulah kita dapat sungguh terlibat menjadi sarana kasih Allah bagi orang-orang di sekitar kita,” ujar Pater Provinsial. Di akhir Ekaristi, Pater Tomi mewakili para kaules mengucapkan terima kasih kepada Serikat Jesus, keluarga, sahabat, rekan kerja, serta seluruh umat yang telah mendukung panggilan dan perutusan mereka hingga akhirnya mereka diperkenankan mengikrarkan kaul akhir. Selanjutnya ia masih terus mohon doa agar para kaules tetap setia dalam panggilan dan karya pelayanan dengan baik hingga akhir hayat. Selepas Perayaan Ekaristi, seluruh umat yang hadir yang meliputi para nostri Serikat Jesus, keluarga kaules, rekan kerja, perwakilan umat paroki tempat para imam kaules sedang atau pernah berkarya, serta umat Paroki Kotabaru beramah tamah di halaman sayap utara Gereja Kotabaru. Kontributor: Amadea Prajna Putra Mahardika, S.J.

Formasi Iman

Menyambut Anggota Keluarga yang Baru

Tanggal 15 Juni 2022 adalah hari yang istimewa bagi Komunitas Novisiat St. Stanislaus Kostka Girisonta dan juga bagi Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Tujuh pemuda datang ke Novisiat dan memulai peziarahan formasi awal mereka dalam Serikat Jesus. Mereka bertujuh datang dan diantar oleh beberapa anggota keluarga mereka. Sukacita kehadiran mereka juga menjadi kesempatan bagi kami, para novis, untuk berlatih melayani dengan sepenuh hati. Harapannya, anggota keluarga baru kami dapat cepat kerasan dan nyaman dalam rumah barunya sehingga mendukung tekad bulat mereka untuk mengabdi Allah dalam Serikat Jesus. Sukacita dalam penyambutan mereka juga tidak bisa dilepaskan dari perhatian pada situasi pandemi covid yang masih tidak menentu. Meskipun keadaan pandemi tidak separah dan setinggi masa-masa sebelumnya, kami tetap menerapkan protokol kesehatan dalam acara tersebut. Protokol ini diterapkan dengan semangat untuk melindungi dan menjaga kesehatan keluarga novis baru lebih daripada kesehatan kami sendiri, walaupun kesehatan kami juga sama pentingnya. Kami berusaha agar semua keluarga yang mengantar dan juga kami tidak beresiko terpapar mengingat kami datang dari berbagai tempat. Kiranya pengalaman acara serupa di tahun sebelumnya menjadi pembelajaran yang penting bagi kami. Namun, apakah dengan adanya protokol covid ini menjadi hal yang mempersempit dan membatasi ruang interaksi kami dengan novis baru dan keluarganya, juga novis baru dan keluarganya dengan lingkungan novisiat? Tentunya tidak. Semua anggota komunitas novisiat terlibat untuk menyambut. Bahkan anggota keluarga para novis baru diberi kesempatan untuk berkeliling di kompleks Novisiat. Semua tampak antusias dan gembira. Ada keluarga yang sungguh tertarik dengan tanam-menanam, menanyakan berbagai hal mengenai tanaman-tanaman yang diolah di sawah, green house, dan kebun, bahkan ada yang memetik dan meminta beberapa tanaman novisiat untuk dibawa pulang. Ada keluarga yang sungguh terkesan dengan area dalam novisiat, melihat kebun dan halaman dalam, bahkan karena melihat sekilas kerapian kamar tidur (dormit) dan ruang kubikel (ruang komunitas basis) yang digunakan oleh para novis. Masing-masing keluarga mempunyai kesannya masing-masing dalam berkeliling area novisiat. Acara penyambutan ditutup dengan perjumpaan novis baru beserta keluarga dengan Pater Magister dan Socius Magister. Kesempatan menyambut kedatangan para novis baru ini menjadi kesempatan berharga dalam membangun persaudaraan sebagai satu keluarga dalam Serikat Jesus. Anggota keluarga baru yang kami dapatkan bukan hanya para novis baru tetapi juga keluarga mereka. Dengan semakin saling mengenal, entah itu pribadi maupun tempat, harapannya kami dapat saling mendukung proses menjesuit dan pengabdian kepada Allah. Kontributor : Agustinus Satria Bagus D.S., nS.J.

Formasi Iman

Pelayanan yang Membuahkan Persahabatan

Tujuh orang novis mengikrarkan kaul pertama mereka di dalam Serikat Jesus, setelah menjalani formasi novisiat selama dua tahun, pada Sabtu, 25 Juni 2022. Para kaules mengikrarkan kaul-kaulnya dalam perayaan ekaristi yang dihadiri oleh keluarga kaules, nostri, dan para skolastik baru dari Myanmar, Pakistan, dan Thailand. Perayaan Ekaristi ini dipimpin langsung Pater Provinsial Benny didampingi oleh Pater Magister Sunu dan Pater Superior Yumartana. Gelora semangat perayaan ini didukung pula oleh koor dari siswa-siswi SD Kanisius Girisonta yang menyanyikan lagu-lagu perayaan ekaristi dengan merdu dan indah.  Kamulah Sahabat-sahabat-Ku. Itulah tema yang dipilih oleh Frs. Andre, Michael, Neno, Feliks, Petrus, Hari, dan Yohan untuk kesempatan berharga ini. Mereka bertujuh merefleksikan bahwa “… kami bukanlah manusia-manusia ampuh. Namun sekuntum lembut panggilan-Nya telah menjadi curahan kasih yang amat besar, semerbak di hati kami hingga kami tak mengingini apapun lagi selain penyerahan diri di tangan-Nya. Melalui lembaran ini, kami hendak berbagi tentang segenggam harum manis cinta Tuhan bagi kami, sahabat-sahabat-Nya yang rapuh ini. … Dia menyebut kami sahabat. Banyak kerapuhan, pergulatan dan ketidak-ampuhan kami diterima dan diampuni. Hingga kami pun bisa bersahabat dengan diri kami apa adanya. Serikat Jesus telah menjadi sahabat kami juga. Kami dibantu dan didukung mendiskresikan inti panggilan kami untuk mengabdi Dia lebih sungguh dalam segala. … kami mantap berlantang merdu mengungkapkan janji setia kami kepada Yesus sahabat kami yang tergantung di Salib. Kasih seorang sahabat yang memberikan nyawa-Nya ini, kami mohonkan mewujud pula di dalam perjalanan kami menghayati hidup kaul bersama Dia.” Dalam homilinya, Pater Benny juga mengingatkan pentingnya persahabatan dalam hidup menjesuit. Hanya sahabat kita yang bisa menanggung kerapuhan kita. Beberapa probasi selama di Novisiat telah menjadi miniatur sekaligus bukti kebenarannya. Setelah perayaan Ekaristi para skolastik baru mendapat kesempatan untuk bertemu dengan keluarga mereka, melepas rindu, dan bergembira bersama. Banyak rasa syukur yang muncul karena peristiwa hari ini. Bagi kami para novis, kesempatan ini menjadi latihan bagi kami untuk melayani kaules sebagaimana mereka telah terlebih dahulu melayani kami. Harapannya, kami dapat terus saling melayani dan menghidupi semangat pelayanan ini dalam tugas perutusan selanjutnya. Kehadiran para skolastik dari Myanmar, Pakistan, dan Thailand juga memberi suasana baru dan menambah wawasan universalitas Serikat bagi kami para novis. Kami senang bisa saling mengenal dan bercerita satu sama lain. Meskipun sesekali terkendala bahasa, kami tetap berusaha saling menghormati dan melayani. Sesekali kami saling menertawakan meskipun kami tidak paham apa yang kami tertawakan. Kami bersyukur karena sebagai tuan rumah kami mendapat kesempatan untuk melayani mereka dan mengembangkan hospitalitas kami. Kelancaran acara dan persahabatan dalam perjumpaan-perjumpaan baru yang menggembirakan menjadi buah dari pelayanan, proses memberikan diri untuk orang lain (for others). Ketika orang mampu melayani dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati maka orang di sekitarnya pun merasakan buah sukacita. Dari pengalaman ini, ternyata, pelayanan membuahkan sukacita baik bagi yang dilayani maupun yang melayani. Tentunya mengembangkan semangat pelayanan seperti ini tidak hanya diperlukan dalam acara-acara penting dan besar saja tetapi juga harus membadan dalam pilihan tindakan hidup sehari-hari. Kontributor : Christoforus Kevin Hary Hanggara, nS.J.