Biarawan dan Biarawati Abad 21: Menjadi Wahyu Dalam Kerapuhan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Hari Hidup Bakti dalam Gereja Katolik dirayakan setiap 2 Februari. Di bawah ini adalah refleksi Bruder Emili Turú, FMS mengenai makna hidup religius saat ini. Bruder Turú adalah Sekretaris Jenderal para Superior Jenderal (USG-Roma) dan ia diwawancarai oleh Sekretaris Eksekutif para Superior Jenderal Kongregasi Biarawati, Suster Patricia Murray. 

Dimensi Profetis Hidup Bhakti

Hidup di tengah krisis global karena pandemi Covid, rasisme, kekerasan, dan perpecahan menuntut jawaban profetis dari para biarawan dan biarawati. George Floyd yang lirih berteriak, “Aku tidak bisa bernapas,” memperjelas betapa jutaan orang yang terinfeksi Covid dan mereka yang mengalami berbagai bentuk penindasan sungguh berjuang demi hidup mereka. Di berbagai belahan dunia, oksigen sebagai penopang kehidupan juga semakin menipis. Lalu bagaimanakah respon kita sebagai religius? Bagaimana caranya menghidupi kaul kita di tengah dunia yang sedang menderita ini? 

Patricia Murray, IBVM

Suster Patricia Murray dan Bruder Emili Turú, FMS

Pandemi Covid-19 menunjukkan kemiripan berakhirnya sebuah zaman, yaitu perubahan peradaban. Sejarah mencatat bahwa masa dekadensi senantiasa menandai lahirnya peradaban baru. Masa dekadensi adalah waktu yang penuh kekacauan dan ketidakpastian, persis seperti saat ini di mana kita berusaha menemukan diri kita sendiri.  

Saya berkaca pada jemaat Kristen Perdana ketika merefleksikan masa-masa ini. Bahkan dalam masa sulit yang melebihi situasi kita saat ini, jemaat Kristen Perdana mampu berkembang pesat dengan cara yang sulit dijelaskan.

Terkait dengan hal ini, saya merasa terkejut ketika membaca sebuah refleksi mendalam seorang pastor Lutheran untuk menemukan neologisme “anti-rapuh” yang dapat diterapkan pada Gereja kita. Ia menyimpulkan bahwa sistem-sistem mekanis itu cenderung rapuh sedangkan sistem-sistem organik justru sebaliknya karena mereka memang dirancang untuk tumbuh dalam tekanan. Beberapa bagian tubuh kita, seperti otot dan tulang, memerlukan beban tertentu agar tetap sehat dan kuat. Demikian halnya dengan Gereja Perdana. Mereka ini “amat kuat” dan justru tumbuh pesat ketika tekanan semakin kuat. 

Kita dapat menerapkan daya juang “anti rapuh” ini di lingkungan sekitar dan kongregasi kita. Kita terlahir dalam keadaan penuh tekanan dan kita justru bertumbuh subur di bawah keadaan demikian. Jikalau keadaan senantiasa nyaman, maka kita cenderung santai lalu kehilangan daya juang dan akhirnya kita menjadi sakit. 

Jika orang Kristiani menganggap hidup di bawah tekanan itu wajar agar tumbuh semakin kuat, maka wajarlah juga ketika Gereja Perdana sangat menghargai sikap sabar, yang maknanya adalah kemampuan untuk tetap bertahan menghadapi penderitaan secara tenang. 

Orang-orang kudus, misalnya Siprianus, Yustinus, Clemens, Origenus, dan Tertulianus semuanya berbicara mengenai kesabaran dan meyakini bahwa kesabaran adalah nilai kristiani paling utama. Kesabaran memampukan kita berpasrah diri secara total kepada Tuhan, hidup damai tanpa kegelisahan dan rasa benci, dan bahkan tidak pernah terlalu memaksa diri meraih apa yang kita inginkan. St. Yustinus menggambarkan kesabaran sebagai hal “aneh” yang telah banyak menobatkan orang yang tidak percaya.    

Kesaksian tersebut bagai ragi pada adonan roti. Baik para jemaat Kristen Perdana maupun para pendiri kongregasi kita secara aktif telah terlibat dalam proses kelahiran kebaruan dalam dekadensi dunia seperti saat ini. 

Meskipun secara lahiriah mungkin menunjukkan kebalikannya, namun menjadi seorang biarawan atau biarawati masihlah sangat relevan saat ini. Inti panggilan kita adalah menjawab apa yang dibutuhkan sesama kita. Sedangkan inti hidup kita adalah serangkaian hal yang tidak bisa ditawar-tawar, di mana dalam hidup kita yang otentik, kita memiliki daya tumbuh yang besar. Orkestra hidup demikian merupakan kontras kenabian terhadap dekadensi yang terjadi saat ini dan menjadi ragi kesabaran bagi datangnya perubahan. 

Saya tetap berharap bahwa kita akan senantiasa “membangunkan dunia” karena tanda utama dari hidup bakti adalah bernubuat. Sebagaimana saya sampaikan kepada para Superior Jenderal yaitu bahwa tuntutan hidup injili secara radikal bukanlah melulu ditujukan bagi para religius atau biarawan dan biarawati melainkan bagi semua orang. Benarlah bahwa para religius mengikuti Tuhan dengan cara yang khusus, yaitu jalan kenabian. “Inilah prioritas yang perlu diperhatikan saat ini, yaitu menjadi utusan yang memberi kesaksian bagaimana Yesus hidup di dunia ini. Seorang religius janganlah pernah meninggalkan panggilan kenabiannya.” (Surat Apostolik Paus Fransiskus kepada para Biarawan dan Biarawati, II, 2)

Bukan soal radikalitas, tetapi lebih kepada kenabian. Atau tepatnya radikalitas kenabian. Namun demikian, ini bukanlah perkara kenabian demi menjadikan diri kita sebagai teladan utama dalam Gereja, tetapi lebih sebagai utusan kecil dan rapuh yang menjadi saksi belas kasih Allah. Menjadi nabi, seperti dikatakan Br. Michaeldavide Semeraro, berarti mampu untuk hidup berdampingan dengan kematian, kegagalan, yang tak terlihat, yang dipinggirkan, dan melakukan hal-hal tersebut sebagai pilihan kekal sepanjang hayat.                   

Emili Turú, FMSDiterjemahkan oleh Herman Wahyaka dari artikel berbahasa Inggris “Religious Life in the 21st Century: The Prophey of Fragility” dalam https://www.jesuits.global/2021/02/02/religious-life-in-the-21st-century-the-prophecy-of-fragility/ akses terakhir Rabu, 3 Februari 2021 pkl 14.30 WIB.