Surat Mgr. Charles Kardinal Maung Bo Kepada Rakyat Myanmar & Komunitas Internasional

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

3 Februari 2021

Teman-teman yang terkasih, 

Sebagai seorang pemimpin rohani, saya menuliskan surat ini sebagai ungkapan empati jutaan orang saat ini. Saya menulis surat ini untuk bangsaku yang tercinta, para pemimpin sipil, Tatmadaw (tentara Myanmar) dan komunitas internasional. 

Saya telah menyaksikan dengan penuh kesedihan hatia peristiwa kelaman dan sejarah kita dan menyaksikan dengan penuh harapan daya juang bangsa kita dalam perlawanan mereka mempertahankan martabat. Kita berjalan melalui saat-saat yang menantang dalam sjearah. Saya menuliskan surat ini dengan penuh kasih terhadap semua dalam upaya mencari jalan keluar yang bertahan lama sambil berdoa agar masa kekelaman yang melingkupi bangs akita bisa berakhir selama-lamanya. 

  1. Kepada Bangsa Myanmar yang tercinta

Saya ingin membagikan rasa persahabatan saaat ini bagi kalian semua yang sedang menghadapi peristiwa mendadak, dan mengejutkan yang sedang terbentang dihadapan kita. Saya mengajak masing-masing dari anda untuk tetap tenang dan menjauhi kekerasan. Sudah cukup banyak darah yang kita tumpahkan. Jangan lagi ada darah yang tertumpah di negeri ini. Bahkan pada saat genting sekarang inipun, saya meyakini bahwa perdamaian adalah satu-satunya cara, perdamaian itu mungkin. Selalu ad acara-cara tanpa kekerasan untuk mengungkapkan protes-protes kita. Peristiwa yang terjadi ini adalah akibat dari kurangnya dialog dan komunikasi dan perdebatan tanpa akhir dari pandangan-pandangan yang berbeda. Saat ini hendaknya kita tidak memperpanjang kebencian. Hendaknya semua pemimpin komunitas dan pemimpin agama berdoa dan menggerakan komunitas-komunitas untuk bereaksi secara damai atas peristiwa-peristiwa ini. Berdoalah bagi semua, berdoa bagi segalanya, dan menjauhi segala bentuk provokasi. 

Kita juga sedang menghadapi pandemi. Tenaga-tenaga medis kita yang gagah berani telah menyelamatkan banyak nyawa. Kami memahami penderitaan anda. Beberapa telah mengundurkan diri sebagai bentuk protes, tapi saya mohon jangan tinggalkan bangsamu saat mereka membutuhkan anda saat ini. 

  1. Kepada Jenderal Tatmadaw dan Keluarga para Tatmadaw

Dunia terkejut dan bersedih atas apa yang terjadi. mengungkapkan kemarahan mereka atas apa yang terjadi ini. Dunia sangat kagum ketika tahun 2015, militer menjalankan transisi damai kepada pemerintah yang terpilih. Saat ini dunia mencoba untuk memahami apa yang salah setelahnya. Apakah Tatmadaw dan otoritas sipil kurang berdialog? 

Kita telah melihat banyak penderitaan dalam konflik. Tujuha decade pertumpahan dan penggunaan kekerasan tidak menghasilkan apa-apa. Kalian menjanjikan perdamaian dan demokrasi sejati. Demokrasi adalah lapisan harapan bagi penyelesaian masalah-masalah di negeri yang dulu kaya ini. Saat ini, jutaan orang memilih demokrasi. Bangsa kita percaya pada peralihan kekuasaan secara damai.

Saat ini Tatmadaw secara sepihak telah mengambil alih. Peristiwa ini mengejukan dunia dan bangsa Myanmar. Tuduhan atas kecurangan Pemilu dapat diselesaikan lewat dialog di hadapan pengamat yang netral. Suatu kesempatan besar hilang. Banyak pemimpin dunia mengecam dan akan terus mengecam langkah yang mengejutkan ini. 

Sekarang anda, (Tatmadaw), menjanjikan demoraksi yang lebih besar – setelah penyelidikan dan pemilihan yang lain. Bangsa Myanmar capek dengan janji-janji kosong. Mereka tidak pernah menerima pernyataan palsu. Anda menjanjikan akan mengadakan pemilihan multi partai setelah satu tahun. Bagaimana anda akan mendapatkan kepercayaan bangs akita? Mereka hanya akan percaya saat kata-kata diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang tulus. 

Derita dan kekecewaan mereka harus dipahami. Tindakan anda perlu membuktikan bahwa anda mencintai mereka, memperhatikan mereka. Sekali lagi saya mohon kepada anda, perlakukanlah mereka dengan damai dan penuh martabat. Jangan lagi ad kekerasan antara bangsa Myanmar yang terkasih. 

Sayang sekali, para wakil rakyat yang terpilih dari partai NLD kiniditahan. Demikian juga para penulis, aktivis, dan kaum muda. Saya sungguh meminta agar Anda menghargai hak mereka dan membebaskan mereka. Mereka bukanlah tawanan perang; mereka adalah tahanan proses demokratis. Anda menjanjikan demokrasi, maka mulailah dengan membebaskan mereka. Dunia akan memahami Anda.

  1. Kepada Daw (Nyonya) Aung San Suu Kyi, Presiden U Win Myint, dan para Pemimpin yang terkasih

Yang terkasih para pemimpin Partai NLD: Anda semua berada dalam situasi tak menguntungkan dari perjuangan tanpa henti untuk membawa demokrasi ke negeri ini. Peristiwa tak terduga ini telah menjadi anda semua tahanan. Kami berdoa dan memohon dengan sangat agar para pihak terkait segera membebaskan Anda secepatnya.

Daw Aung San Suu Kyi, Anda hidup dan mengorbankan hidupmu bagi bangsa kita. Anda akan selalu menjadi suara bangsa kita. Hari ini adalah hari yang menyakitkan. Anda tahu dengan jelas kegelapan, dan anda mengenal terang di dalam bangs aini. Bukan saja Anda menjadi puteri tercinta dari bapa bangsa ini, Jenderal Aung San, tetapi Anda juga menjadi Amay (Ibu) Suu bagi bangs aini. Kebenaran akan terungkap. Tuhan adalah hakim akhir bagi kebenaran. Tapi Tuhan menunggu. Saat ini saya ingin bersimpati dengan kesusahanmu dan berdoa semoga anda sekali berjalan di tengah bangsamu dan membangkitkan semangat mereka. 

Pada saat ini, saya ingin menegaskan bahwa insiden ini terjadi karena kurangnya dialog dan komunikasi, dan kurangnya penerimaan satu sama lain. Mohon dengarkanlah satu sama lain. 

  1. Kepada Seluruh Komunitas Internasional

Kami sungguh berterima kasih atas segala bentuk keprihatinan dan perhatian anda semua. Kami juga berterima kasih atas penemanan anda yang penuh bela rasa. Semua itu sungguh berarti bagi kami.

Tetapi sejarah secara menyakitkan telah menunjukkan bahwa kesimpulan dan penilaian yang terburu-buru pada akhirnya tidak membawa keuntungan bagi bangsa kami. Sanksi dan dan kutukan hanya membawa sedikit hasil, dan terlebih menutup pintu bagi dialog. Tindakan-tindakan kerasa semacam ini menjadi kesempatan yang besar bagi negara-neara adi daya yang mengincar sumber-sumber daya kami. Kami mohon jangan paksa orang-orang yang menjadi keprihatinan anda menukarkan kedaulatan mereka. Komunitas internasional perlu masuk dalam realitas, memahami dengan baik sejaran dan politik ekonomi Myamar. Sanksi beresiko pada kehancuran ekonomi, dan mencampakkan jutaan orang ke dalam kemiskinan. Satu-satunya cara ialah dengan ikut serta dalam rekonsiliasi.

Apa yang terjadi ini sungguh menyakitkan dan memporak-porandakan bangsa kami. Saya menuliskan surat ini untuk membesarkan hati semua orang. Saya tidak menulisnya sebagai seorang politikus. Saya percaya semua pihak yang berkepentingan di negara ini menginginkan yang terbaik untuk seluruh rakyat. Saya menuliskan surat ini dalam doa dan harapan bagi bangsa ini, bahwa tanah berharga dari orang-orang yang penuh rahmat ini akan memasuki panggung global sebagai sebuah komunitas yang berdamai dengan penuh harapan dan damai. Mari kita selesaikan segala pertengkaran ini dengan jalan dialog.    

Perdamaian itu mungkin. Perdamaian adalah satu-satunya jalan. Demokrasi adalah satu-satunya terang yang menuntun pada jalan itu. 

Mgr. Charles Kardinal Maung Bo

Uskup Agung Keuskupan Agung Yangon, Myanmar

Ketua Presidium Konferensi Waligereja Myanmar

Ketua Presidium Konferensi Uskup se-Asia

Tokoh Agama untuk Perdamaian Myanmar dan Wakil Ketua RfP Internasional

Sumber foto: https://xnnnewsblog.com