Pilgrims on Christ’s Mission

jesuit indonesia

Pelayanan Gereja

Mewujudkan Mimpi melalui Konser Rohani

Memiliki gedung pusat pelayanan paroki serta penunjang aktivitas menjadi impian para umat Paroki Santa Theresia Bongsari. Selang setahun setelah penggempuran aula lama, proses ini senantiasa masih berjalan. Rabu, 16 Agustus 2023, konser rohani untuk menggalang dana bertajuk Maria Bunda Pemersatu digelar di Gumaya Tower Hotel Semarang dengan menampilkan Edward Chen, Grezia Epiphania, Maria Priscilla, dan Vanessa Axelia. Keempat penyanyi tersebut melantunkan pujian-pujian rohani dengan alunan musik dari CBC Band. Sebelumnya, konser dibuka dengan penampilan talenta-talenta suara dan musik dari Paroki Santa Theresia Bongsari yang tergabung dalam komunitas Bongsari Music Ministry. Konser yang dihadiri oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang (KAS), Bapa Uskup Robertus Rubiyatmoko, menjadi simbol merajut mimpi terwujudnya Gedung Pelayanan Pastoral. “Keringat” panitia pembangunan dan panitia konser diusap oleh perolehan dana melalui penjualan tiket, pelelangan ruangan dan lukisan, serta donasi dari para donatur. Satu hal yang unik adalah bahwa konser rohani ini menunjukkan wajah Paroki Santa Theresia Bongsari sebagai paroki yang inklusif melalui keterlibatan pelukis disabilitas dalam pelelangan lukisan. Tak hanya itu, sebuah kejutan bagi semua pihak ketika Kardinal Julius Darmaatmadja melelang cincin imamatnya sebagai bantuan dana pembangunan gedung. Perjuangan belum usai. Langkah demi langkah, bergerak dan bersinergi. Melalui Bunda Sang Pemersatu – seperti tema konser Maria Bunda Pemersatu – mimpi untuk memiliki Gedung Pelayanan Pastoral disatukan melalui kolaborasi berbagai pihak sebagai wujud kehidupan paroki. Kontributor: Adeane Yuna – Paroki Santa Theresia Bongsari

Karya Pendidikan

“Cahaya bagi Sesama Menuju Masa Depan Keselamatan Jiwa-jiwa Generasi Muda”

PUNCAK LUSTRUM XV SMA KOLESE DE BRITTO Menyambut ulang tahun yang ke-75, SMA Kolese de Britto mengadakan beberapa kegiatan acara yang dimulai dari hari Kamis, 17 Agustus 2023 hingga Sabtu, 19 Agustus 2023. Rangkaian kegiatan ini diawali dengan upacara Kemerdekaan Indonesia, bakti sosial, kenduri, misa akbar, peluncuran buku, dan ditutup dengan malam ekspresi. Tema acara Lustrum XV SMA Kolese de Britto kali ini adalah Fiat Lux “Jadilah Terang”. Dasar tema ini yaitu ungkapan syukur bahwa di usianya yang ke 75 tahun ini SMA Kolese de Britto masih bisa berbagi dan merefleksikan diri sehingga menjadi terang untuk sekitarnya. Rangkaian kegiatan Lustrum XV dimulai tanggal 17 Agustus 2023 ditandai dengan upacara HUT RI yang ke-78 tahun. Upacara dilaksanakan menggunakan baju profesi dan dihadiri oleh seluruh Civitas Academica SMA Kolese de Britto dan dipimpin oleh Bapak F.X. Catur Supatmono, selaku kepala sekolah. Dalam upacara ini dibacakan pula amanat berupa sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan refleksi Sejarah de Britto oleh Bapak J. Sumardianta. Beliau adalah penulis buku sejarah SMA Kolese de Britto yang berjudul “Masa Lalu Yang Mencahayai Masa Depan: Sejarah SMA Kolese de Britto Tahun 1948-1958”. SMA Kolese de Britto berdiri untuk memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, hal ini ditekankan oleh Bapak Sumardianta dalam refleksinya. Ketika masa itu sudah ada 3 siswa dan seorang gugur yang ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Bapak Sumardianta mengingatkan kami kembali bahwa kebesaran nama SMA Kolese de Britto tidak lepas dari peran para Pater Serikat Jesus. Salah satunya peran founding father SMA Kolese de Britto yaitu Pater Rudolphus Willem van Thiel, SJ. Bukan hal yang mudah untuk mendirikan sekolahan ini karena membutuhkan dana yang besar. Pater van Thiel, SJ ikut mencari dana bahkan beliau sampai dihina dan dicaci maki oleh orang-orang sebangsanya. Bahkan Kardinal De Jong menuliskan dalam St. Claverbond tahun 1957 untuk membedakan kepentingan politik dengan kepentingan misi. Mengenang sejarah SMA Kolese de Britto merupakan bagian dari mengingat masa lalu yang mampu membawanya bagi masa yang akan datang. Kegiatan selanjutnya adalah pawai budaya di mana para siswa mengenakan pakaian profesi dan berjalan dari Jalan Laksda Adisucipto 161 menuju Jalan Demangan. Yang unik ialah bahwa para siswa mengenakan pakaian profesi sesuai dengan impiannya kelak di masa depan, Ada yang ingin menjadi romo, tentara dan dokter. Ini adalah bukti bahwa para siswa juga turut hadir dalam mewarnai rangkaian puncak lustrum kali ini. Pawai ini ingin mengingatkan kembali kepada para siswa bahwa SMA Kolese de Britto ini lahir untuk memperjuangkan bangsa Indonesia dan menumbuhkan jiwa nasionalis. Di umur yang tidak lagi muda, SMA Kolese de Britto berusaha untuk hadir di tengah masyarakat, yang ditunjukkan dengan kegiatan bakti sosial. Kegiatan ini mengikutsertakan para guru, karyawan, siswa dan masyarakat sekitar SMA Kolese de Britto. Bakti sosial ini terbuka secara umum didukung kehadiran orang tua siswa. Rangkaian kegiatan bakti sosial meliputi donor darah, berbagi sembako, pelayanan cek kesehatan gratis dan kenduri. Kegiatan ini menjadi bukti konkrit bahwa para siswa-siswa de Britto bisa menjadi terang bagi orang-orang sekitarnya, serta mengobarkan semangat dan spirit untuk membantu sesama. Puncak kegiatan ini ditutup dengan misa akbar dan malam ekspresi. Perayaan ekaristi misa akbar dipimpin oleh R.D. Yohanes Rasul Edy Purwanto, Pr. dengan konselebran R.P. Benedictus Hari Juliawan, SJ. , R.D. FX. Alip Suwito, Pr dan seluruh imam alumni dan imam yang pernah berkarya di SMA Kolese de Britto. Misa dihadiri oleh seluruh civitas akademika SMA Kolese de Britto beserta para tamu undangan dari SD, SMP, dan SMA swasta Katolik yang berada di wilayah Yogyakarta. Perayaan Ekaristi lustrum ke-XV SMA Kolese de Britto diselenggarakan secara kolaboratif bersama SMA Santa Maria Yogyakarta dan SMP Kanisius cabang Yogyakarta. Harapannya SMA Kolese de Britto ingin berbagi berkat dan menjadi cahaya lembaga pendidikan swasta Katolik di Yogyakarta. Sejalan dengan homili Romo Alip Suwito, Pr, alumni SMA Kolese de Britto, pentinglah menjadi terang bagi generasi mendatang dan sesama di sekitar kita, tidak hanya untuk lembaga sendiri saja. Semoga di usianya sekarang ini diharapkan SMA Kolese de Britto mampu bertransformasi di tengah situasi zaman yang semakin maju. Sebuah pengantar dari Pater Benedictus Hari Juliawan, SJ memberikan daya tarik mengenai bagaimana terjunnya Jesuit ke dunia pendidikan adalah sebuah “kecelakaan”. Fokus awal pelayanan Jesuit bukanlah pendidikan melainkan karya kerasulan paroki dan pewartaan. Namun kembali lagi bahwa pendidikan menjadi bagian dari spirit Ayudar de las Almas atau demi keselamatan jiwa-jiwa yang menjadi dasar pelayanan Serikat Jesus. SMA Kolese de Britto menjadi bagian dari pelayanan keselamatan jiwa-jiwa dalam bentuk rumah formasi pribadi-pribadi yang siap dibentuk, ditempa, dan akhirnya terbang ke tempat perutusan yang adalah cita-citanya. Tujuh puluh lima tahun SMA Kolese de Britto telah menghasilkan buah dari benih yang disemaikan oleh para founding fathers untuk bertumbuh bagi masa depan bangsa yang lebih baik. Maka tidak jarang banyak alumni memiliki kiprah yang besar bagi bangsa dan Gereja saat ini. Selain itu SMA Kolese de Britto telah menghasilkan benih-benih panggilan imamat di dalam murid-muridnya. Perayaan misa akbar ini menjadi sangat istimewa karena yang hadir mendapatkan berkat perdana dari Romo Mateus Seto Dwiadityo, Pr. Beliau salah satu alumni SMA Kolese de Britto 2012 yang baru ditahbiskan menjadi imam 15 Agustus 2023. Rangkaian perayaan Ekaristi diakhiri dengan pelepasan lima belas ekor merpati putih oleh para imam sebagai bentuk ungkapan syukur. Seusai misa dilanjutkan dengan pentas seni dari sekolah swasta Katolik di Kabupaten Sleman dan sekitarnya. Rangkaian puncak lustrum ditutup dengan malam ekspresi yang dibuka untuk umum. Para siswa menunjukan bakatnya dalam bermusik serta para artis undangan ikut memeriahkan suasana. Mulai dari band Langit Sore bersama Anas Glasean, Nidji, kemudian ditutup oleh Guyon Waton. Penonton sangat antusias dengan penampilan para artis dan band yang menambah semarak lustrum-XV SMA Kolese de Britto. Tak hanya para siswa, para guru pun menunjukan bakatnya dalam bermusik. Penonton sangat senang dan antusias dengan penampilan yang diberikan oleh guru. Puncak lustrum ialah kemeriahan yang disuguhkan oleh para artis undangan hingga membuat penonton sukaria berdendang. Penampilan band Langit Sore bersama Anas Glasean, menghibur penonton dengan melodi indah mereka. Kemudian, Nidji mengambil alih panggung dengan energi yang memukau, menggetarkan seluruh ruangan dengan lagu-lagu hits mereka. Tak kalah pentingnya, Guyon Waton yang membuat suasana semakin pecah dengan lagu bergenre dangdut akustik.

Karya Pendidikan

Ragamuda: Suara Pemuda Merdeka

Jakarta, HUMAS CC – OSIS SMA Kolese Kanisius kembali mengadakan acara Ragamuda bersama SMA Al-Izhar Pondok Labu. Ragamuda kali ini diadakan bersama kolaborator baru yaitu SMA Pangudi Luhur Brawijaya. Kegiatan Ragamuda terdiri atas acara pembukaan di Kolese Kanisius, pawai kebudayaan selama acara CFD (Car Free Day), dan penutupan dengan penampilan budaya di Sarinah. Ragamuda merupakan acara rutin kerja sama antara SMA Kolese Kanisius bersama SMA Al-Izhar Pondok Labu yang diselenggarakan untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi pemuda bangsa. Tema yang diangkat dalam acara Ragamuda kali ini adalah “Suara Pemuda Merdeka.” Tema yang diangkat tidak semata-mata berarti bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan kebebasan dari penjajah kolonial, akan tetapi juga mengajak pemuda-pemudi untuk berperan aktif dalam merawat dan memperkuat demokrasi dengan semangat kebebasan, toleransi, dan keadilan. Pembukaan acara Ragamuda diselenggarakan di Kolese Kanisius Jakarta dengan beberapa kata sambutan dari masing-masing perwakilan sekolah. “Kalian akan menjadi api-api kecil yang nanti akan menjadi api-api besar kemerdekaan Indonesia,” ujar Bapak Thomas Gunawan selaku Direktur Kolese Kanisius. Senada dengan itu perwakilan-perwakilan dari SMA Al-Izhar dan SMA Pangudi Luhur juga menyambut dengan mengatakan bahwa keberagaman harus ada di Indonesia dan harus selalu dijaga, tidak lepas dari genggaman generasi muda. Peresmian yang dilakukan tepat pukul 07.08 WIB dilanjutkan dengan doa lima agama dan persiapan pawai kebudayaan. Pawai kebudayaan yang dilakukan pada saat CFD bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia mengenai aspirasi-aspirasi para pemuda dan pemudi. Pawai kebudayaan dibuat oleh siswa-siswi dari masing-masing sekolah. Banyak pesan yang disampaikan melalui pawai, seperti seruan kemerdekaan, ajakan untuk bertoleransi, dan lain-lain. Berbagai penampilan kebudayaan pun juga dilakukan selama kegiatan Pawai Kebudayaan. Tarian kuda lumping, ondel-ondel, dan bentuk keberagaman lainnya ditampilkan untuk menunjukkan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Puncak acara Ragamuda dilakukan di teras Sarinah. Semangat kolaborasi tak luput dalam sesi acara ini. Para siswa dari berbagai sekolah, termasuk dari sekolah-sekolah selain ketiga sekolah inisiator utama kegiatan, menyumbangkan penampilan-penampilan yang menarik. Beberapa di antaranya adalah penampilan dari CWE (Canisius Wind Ensemble), keroncong SMA Pangudi Luhur, modern dance SMA Al-Izhar, tarian tradisional SMAN 6, dan pembacaan puisi kebangsaan dari SMAN7. Esensi Ragamuda pada akhirnya merupakan wadah bagi para pemuda dan pemudi Indonesia untuk menyuarakan keprihatinan, aspirasi, maupun seruan kepada masyarakat luas. Acara yang merupakan kolaborasi antara tiga sekolah berbeda merupakan kerja sama yang merupakan langkah baik dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang abadi. “Saya berharap acara Ragamuda ini tidak mati tetapi bisa berlanjut terus,” ujar Alya Larasati Biwastho selaku Ketua Umum Ragamuda SMA Al-Izhar Pondok Labu ketika menutup kegiatan Ragamuda 2023. Kontributor: Yarra Wiryadenta & Maximillian Calisto – SMA Kolese Kanisius

Penjelajahan dengan Orang Muda

Jangan Takut, Tegarlah, Jangan Takut!

Sebuah Catatan Perjalanan Magis & WYD 2023 “Berjalan bersama Orang Muda” adalah salah satu gema yang sejak empat tahun ini menggerakkan preferensi Serikat Jesus. Proses-proses kreatif untuk “berjalan bersama” terus menerus dibuat oleh para Jesuit baik individu maupun bersama untuk lebih menggemakan preferensi itu. Dalam kelompok Magis Indonesia, berjalan bersama orang muda tampak dalam salah satu event dunia di bulan Juli dan Agustus 2023, Magis Gathering dan World Youth Day. Magis Gathering 2023 bertema “Menciptakan Masa Depan yang Penuh Harapan” dimulai pada 22 Juli dan berakhir pada 31 Juli. Magis adalah acara pra-WYD yang mempertemukan sekitar dua ribu anak muda dari sekitar 80 negara ke Lisbon, Portugal. Acara ini dibagi menjadi 3 bagian utama: pembukaan yang berlangsung di Lisbon (22-24 Juli), kemudian peserta dibagi menjadi sekitar 80 komunitas kecil yang terlibat dalam eksperimen berbeda (24-29 Juli) dan acara terakhir yang mengumpulkan seluruh peserta sekali lagi (29-31 Juli) tepat sebelum dimulainya World Youth Day 2023 (1-6 Agustus). WYD 2023 ini bertemakan “Maria Bangkit dan Pergi dengan Bergegas” (Lukas 1:39).  Informasi mengenai event Magis Gathering & WYD 2023 menyebar sejak tahun 2022. Dari proses pendaftaran Magis Jogja dan Magis Jakarta, kemudian terpilih sebelas peserta orang muda. Mereka telah melewati proses seleksi dan berkomitmen untuk aktif dalam proses persiapan selama 6 bulan sejak Januari 2023. Kesadaran penting yang dibangun oleh para peserta sejak awal adalah pengalaman ini merupakan sarana untuk memperdalam Spiritualitas Ignatian dan Latihan Rohani serta menjadi upaya untuk on going formation.  Dalam proses persiapan selama enam bulan sejak Januari 2023, peserta kembali membaca autobiografi St. Ignatius, Catatan Rohani St. Ignatius, Surat-surat St. Ignatius dan yang terakhir melihat dan mendengarkan tema-tema dari Buku Latihan Rohani melalui video dalam sepuluh video dengan tema berbeda. Para peserta membuat catatan-catatan dan refleksi atasnya. Setiap dua minggu sekali, ada pertemuan melalui zoom untuk melakukan percakapan tiga putaran. Proses persiapan ini membawa kami pada sikap syukur yang mendalam. Allah sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan dan menemani kami selangkah demi selangkah.  Magis Gathering Dengan semangat berkobar kami berangkat ke Lisbon, Portugal pada tanggal 19 Juli 2023. Perjalanan kami cukup melelahkan karena kami sampai di Lisbon pada tanggal 20 Juli 2023 pada sore hari. Kami sampai di Villa Magis, tempat yang kami pakai untuk Magis Gathering. Tempat ini adalah Kolese St. Yohanes de Britto (Colégio São João de Brito), salah satu kolese di Lisbon. Kami tinggal di kelas-kelas selama pertemuan ini. Kami dibagi dalam kelas-kelas dan tidur di sana dengan beralaskan matras dan berselimutkan sleeping bag.  Hari pertama kegiatan Magis Gathering diawali dengan Ekaristi yang dipimpin oleh P Miguel Almeida, S.J., Provinsial Serikat Jesus Provinsi Portugal. Pada hari ini, kami juga mendapat pesan dari Paus Fransiskus. Ia menantang kami untuk “benar-benar menjadi diri mereka sendiri: masa depan yang penuh harapan”. Untuk mencapai hal ini, kaum muda “harus menjadi, bukan pahlawan super, namun orang-orang yang tulus, sejati, dan bebas; orang-orang yang memiliki masa depan penuh harapan.”  Pada tanggal 24-29 Juli, kami meninggalkan Villa Magis dan menjalani eksperimen. Ada sekitar 80 kelompok yang dibagi di seluruh keuskupan di negara tersebut dan juga di Spanyol. Eksperimen ini berfokus pada lima bidang kegiatan: iman dan spiritualitas, ekologi dan lingkungan, peregrinasi dan perjalanan, seni dan budaya, serta solidaritas dan pelayanan. Dalam kelompok yang terdiri dari 20 hingga 25 orang muda dari berbagai bangsa dan latar belakang, kami mendalami salah satu tema di atas. Kami diajak untuk belajar lebih banyak tentang diri kami sendiri dan dunia tempat kami tinggal supaya semakin mampu menemukan makna hidup yang lebih dalam dan utuh.  Setelah enam hari bereksperimen, kami kembali ke Villa Magis dan mempersiapkan diri untuk festival of nations. Dalam acara ini setiap perwakilan negara mempunyai waktu 5 menit untuk menampilkan sesuatu yang khas dari negara mereka. Dari Indonesia, kami menampilkan tarian dari berbagai suku yang mencirikan keberagaman Indonesia. Dari Magis Gathering 2023 menuju WYD 2023 Dengan penuh semangat dan sukacita kami meninggalkan Villa Magis menuju tempat WYD 2023. Kepanitiaan WYD 2023 berbeda dengan kepanitiaan Magis Gathering. Magis Gathering dikelola oleh Jesuit Portugal sedangkan WYD 2023 dikelola oleh Gereja Katolik di Portugal. Di berbagai tempat dan di jalan-jalan logo “JMJ Lisbon 2023” sudah terpasang. JMJ adalah akronim dari Jornada Mundial da Juventude (World Youth Day). World Youth Day 2023 dimulai pada tanggal 1 Agustus 2023. Kami semua mengadakan perayaan ekaristi pembukaan di Colina do Encontro. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Kardinal D. Manuel Clemente. Salah satu doa umat dibawakan oleh orang Indonesia dalam bahasa Indonesia. Ada dua rangkaian acara penting selama WYD ini, acara pilihan dan acara bersama seluruh peziarah. Tiga acara pilihan tersebut adalah City of Joy, Youth Festival, Rise Up meetings. City of Joy adalah tempat perjumpaan dengan Yesus di mana para peziarah akan menemukan pengalaman hidup dan sukacita Kristiani yang berbeda. Mereka akan terpancing untuk melihat kehidupannya sendiri dan menemukan jalan sebagai respon terhadap Tuhan yang memanggil kita masing-masing dengan nama kita sendiri. Melewati City of Joy berarti bertemu dengan Tuhan yang hidup yang mengundang untuk mengalami pengampunan dan belas kasihan-Nya serta memberikan hidup kita dengan murah hati sebagai respons terhadap rancangan cinta-Nya. City of Joy berada di dekat Belem Tower, salah satu objek wisata terkenal di Lisbon. Di sini ada taman yang dijadikan tempat pengakuan dosa. Bapa Suci sempat memberikan pengakuan dosa bersama para Romo lainnya. Di sini juga ada kapel dan Jeronimos Monastery, makam dari St. Hieronimus. Di sini para peziarah juga bisa melihat Vocational Fair berupa stand-stand promosi panggilan dari puluhan bahkan ratusan ordo/kongregasi imam/suster/bruder/ordo ketiga. Youth Festival adalah serangkaian acara budaya, keagamaan, dan olahraga. Youth Festival ingin memberikan kepada para peziarah WYD dan kota Lisbon pengalaman sukacita, universalitas, dan iman. Gereja Katolik adalah gereja yang hidup dan muda, mampu menggunakan bahasa dan bentuk seni masa kini tanpa mengorbankan pesan yang ingin disampaikan. Di sini, kita dapat menemukan acara-acara di bidang musik, film, pameran, teater, tari, dan acara keagamaan (doa, kesaksian, adorasi, pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok doa tertentu).  Dalam bidang musik ada lebih dari 100 grup musik dari lima benua di 9 panggung. Ada juga konser doa, dimana musik sangat membantu untuk berdoa. Ada acara konferensi yaitu kesaksian. Kesaksian dari mereka

Provindo

Protecting Children and Vulnerable Adults bagi Jesuit Muda

Safeguarding Workshop Pada 1-4 Agustus 2023, sebanyak 46 Jesuit muda mengikuti Leadership Development Program (LDP) dengan tema Workshop Orientasi Dasar terkait Safeguarding (Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan) di Rumah Retret Syalom, Bandungan, Kabupaten Semarang. Acara ini merupakan bagian ongoing formation imam dan bruder muda yang belum berkaul akhir dan dilaksanakan setiap tahun sebagai sarana pembekalan keterampilan dan kepemimpinan para Jesuit muda dalam karya. Tahun 2022 tema yang diangkat adalah perihal tata kelola keuangan dalam Serikat Jesus. Tahun ini, tema yang akan dibahas adalah safeguarding the minors and vulnerable adults. Para pemateri adalah Tim Safeguarding di bawah koordinasi Pater Eko Sulistyo, S.J. dan Pater Bambang Irawan, S.J., yakni Bapak Sigit Widiarto (Fakultas Hukum UAJY), Ibu Hotmauli Sidabalok (Fakultas Hukum dan Komunikasi Unika Soegijapranata), Ibu Titik Kristiyani (Fakultas Psikologi USD), dan Ibu Iswanti. Pada hari pertama, acara dibuka secara resmi oleh Pater Provinsial. Pater Yusup Edi Mulyono, S.J. Koordinator ongoing formation Jesuit muda, memberikan pengarahan umum. Tak kalah menarik adalah sambutan Pater Jenderal Arturo Sosa yang dikirimkan dari Lisbon. Peserta kemudian mengadakan sharing mengenai pemahaman dan praktik safeguarding di tempat karya masing-masing. Pada hari kedua, Ibu Titik memberikan materi mengenai boundaries, Tripod of Relational Safety Model, dan menganalisis Faktor Risiko dan Faktor Protektif pelaku dan korban kekerasan seksual. Ibu Iswanti melanjutkan pemaparan dengan mempergunakan studi kasus dalam kelompok. Para peserta diajak menganalisis bentuk kekerasan, bentuk relasi, dampak, faktor penyebab, dan pencegahannya. Pada hari ketiga, Ibu Hotmauli dan Bapak Sigit memberikan perspektif hukum sipil tentang safeguarding. Ada banyak undang-undang yang dirujuk mulai dari KUHP, UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, UU Perlindungan Anak, UU ITE, Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, dan sebagainya. Pater Bambang Sipayung, S.J. memberikan pedoman penanganan kasus safeguarding menurut hukum Serikat Jesus. Ada banyak diskusi menarik pada hari ini yang memberi insight bagi para peserta. Acara hari ketiga dilanjutkan dengan outing. Peserta membentuk kelompok sendiri seturut minat. Ada yang memilih wisata kuliner, wisata heritage, dan wisata alam. Ternyata, minat tertinggi ialah tanding sepakbola di Novisiat Girisonta. Lebih dari 20 orang memilih sepakbola ke Girisonta. Sesudah pertandingan kolaborasi imam muda dan Novis SJ, dilanjutkan pertandingan nostri KAJ vs KAS. Acara hari keempat lebih merupakan acara sharing dan pengendapan. Pater Philipus Bagus Widyawan, S.J. Romo Kepala Paroki Botong dan Pater Stephanus Advent Novianto, S.J. yang bertugas di Pusat Pastoral Ketapang, Kalimantan Barat memberikan sharing mengenai misi SJ di Bumi Borneo. Pater Martinus Dam Febrianto, S.J. yang baru pulang dari Inggris memberikan update mengenai JRS dan karya kerasulan sosial di Indonesia. Mereka memberi peluang kerja sama bagi para imam dan bruder lain untuk terlibat. Acara ditutup dengan pengarahan umum Pater Edi Mulyono, S.J. dan pemutaran film dokumenter workshop ini. Kontributor: P Surya Awangga, S.J.

Feature

Jalan Sutra Perdagangan Manusia di Thailand

Sore hari saat bersepeda menuju kediaman saya di sebuah perumahan, saya tiba-tiba dicegat seseorang bersepeda motor. Saya didekati sambil dipaksa mengangkat telepon saya. Yang bersangkutan berusaha meyakinkan bahwa sayalah orang yang dicari. Saya baru dilepas setelah yakin bahwa saya bukanlah yang dicari. Ini terjadi di Mahachai, sebuah kota pelabuhan ikan yang terbesar di Provinsi Samutsakhon, Thailand. Ratusan ribu pekerja imigran asal Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam dipekerjakan baik secara legal maupun ilegal di berbagai perusahan penangkapan dan pengolahan ikan dan makanan laut. Sampai saat itu, Thailand masih menjadi negara pengekspor makanan laut kedua terbesar di dunia. Para imigran khususnya para imigran gelap dijanjikan pekerjaan dan gaji yang besar. Mereka biasanya didatangkan oleh agen atau broker asal Myanmar dan dihubungkan dengan broker di Thailand atau pihak kedua sebelum diserahkan ke perusahaan atau employers. Karena status hubungan kerja yang sangat labil, mereka kemudian sangat mudah ‘diperjualbelikan’ dari satu employer ke employer lain dengan melewati jejaring broker–broker yang lainnya pula. Kasus penghilangan paksa, penyiksaan, dan pembunuhan para nelayan yang berasal dari provinsi Timur (Isan), utara Thailand dan terkhusus imigran Myanmar baik yang terjadi di laut maupun di daratan harus dipahami dalam konteks perdagangan buruh kerja. Perdagangan buruh kerja bisa dikatakan bagian ‘hilir’ dari aliran perdagangan manusia yang diantaranya menghulu dari daerah-daerah perbatasan antara Thailand dan negara-negara tetangga di sepanjang semenanjung Indocina. Pengusutan kasus perdagangan manusia dalam industri perikanan mulai serius ditanggapi hanya setelah WTO dan US Department of State men-downgrade Thailand ke level 2 pada tahun 2015 pasca laporan beberapa LSM seperti EJF (Environmental Justice Foundation) dan Seafarers. Menanggapi sanksi tersebut, pemerintah Thailand berusaha membenahi diri dengan mencabut izin operasi semua perusahan penangkapan ikan sampai investigasi setiap kasus selesai. Kurang lebih selama dua tahun, industri perikanan Thai mengalami paceklik serius. Pemerintah berusaha meyakinkan dunia bahwa negaranya bukan lagi menjadi terminal perdagangan manusia dan beroperasinya sindikat penangkapan ikan ilegal di dunia. Selain itu pemerintah kerajaan Thailand meratifikasi perjanjian Organisasi Internasional untuk Buruh Kerja/ILO (protokol nomor 29 tentang kerja paksa) – yang menjanjikan perlindungan terhadap buruh kerja dan sanksi kepada para pelanggar – dan perjanjian tentang Pekerjaan dalam Industri Perikanan yang menetapkan standar fundamental untuk para pekerja dalam industri perikanan. Sayang sekali inisiatif pemerintah ini tidak diimbangi dengan penerapan yang terpadu di semua provinsi-provinsi pelabuhan karena kompleksnya jaringan sindikat perdagangan manusia yang sudah terlanjur merembes dalam struktur-struktur birokrasi lokal. Inisiatif-inisiatif yang disebutkan diatas seringkali berhenti pada taraf formal dan publisitas dengan tujuan mengembalikan kepercayaan pasar. Akan tetapi, dalam kenyataannya, perdagangan buruh tetap terjadi meski dalam taraf yang lebih invisible daripada sebelumnya. Alasan utamanya tidak lepas dari prinsip ekonomi, yaitu modal sekecil-kecilnya, keuntungan sebesar-besarnya. Tentu perusahan-perusahan penangkapan ikan lokal tetap ingin mendapatkan keuntungan yang besar dengan cara merekrut buruh-buruh murah yang didapatkan dari jaringan perdagangan dan penyelundupan manusia. Pengalaman saya bersentuhan dengan realitas perdagangan buruh ini terjadi awalnya semata-mata dari pengalaman hidup selama enam bulan di tengah perumahan buruh imigran Myanmar di Ban Uea Athorn, di sekitar Mahachai. Sambil menekuni tahun belajar bahasa Thai, saya berusaha memahami realitas yang ada di depan mata saya, yaitu anak-anak buruh migran yang miskin, para buruh imigran legal yang hidup berdesak-desakan di kontrakan bersebelahan dengan kontrakan saya. Melalui sebuah meetup group untuk para peneliti independen tentang masalah-masalah sosial di Bangkok, saya akhirnya terdorong membuat penelitian kasus kecil tentang buruh-buruh migran di perusahan perikanan Thailand. Atas permintaan, seorang teman saya pernah diminta mencari kabar seorang nelayan asal Indonesia yang dikabarkan hilang di Selatan Thailand. Pencarian terhadap seorang nelayan yang hilang ini tanpa dibayangkan justru mengantar saya pada penemuan yang lebih besar. Ada sekitar sepuluh nelayan asal Indonesia dan tujuh nelayan asal Filipina yang ditahan pihak imigrasi Thailand di Phuket atas tuduhan illegal fishing. Mereka pada saat itu ditahan di dalam kapal mereka yang disita – sambil menunggu proses hukum. Dengan bantuan seorang nelayan Indonesia di selatan, saya mulai mengatur proses advokasi mereka. Mengingat otoritas diplomatik Indonesia terkesan lamban membantu proses advokasi saat itu, akhirnya saya berhasil meminta bantuan Seafarers Thailand dan EJF untuk memfasilitasi proses legal dan bantuan kemanusiaan sampai pada proses pemulangan mereka yang berlangsung selama lebih dari setahun. Dalam proses pendampingan itu, saya memilih bekerja undercover mengingat kompleksnya jaringan perdagangan manusia yang bahkan bisa menjalar ke otoritas diplomatik. Misalnya broker asal Indonesia yang mengontrol perdagangan buruh nelayan asal Indonesia adalah seorang yang dikenal baik oleh otoritas diplomatik Indonesia dan juga oleh aparat hukum Thailand. Kenyataan bahwa meskipun orang yang bersangkutan sudah diberi red notice oleh interpol, buktinya dia tetap tidak ditahan. Bekerja undercover adalah pilihan yang cukup aman untuk tetap memonitor kerja mereka. Sampai saat ini saya tetap bekerja undercover menjadi konsultan organisasi lokal dan internasional untuk kasus perdagangan manusia. Pemahaman saya tentang skala dan kompleksitas perdagangan manusia mulai sungguh-sungguh terbentuk setelah saya tinggal di Utara Barat Daya di perbatasan antara Thailand dan Myanmar. Maesod, Maesai, Maehongsong, Chiangmai, Ranong, Kanchanaburi dan Prachuabkirikhan yang merupakan pintu masuk imigran Myanmar baik legal maupun ilegal ke Thailand. Belum dihitung lagi pintu-pintu masuk yang sifatnya natural dan liar sepanjang hutan-hutan perbatasan. Perlu diketahui bahwa jika ditarik garis lurus dari Utara Barat Daya hingga Selatan Barat daya Thailand, terdapat Karen State atau Provinsi Etnik Karen yang sebagian besar dikuasai oleh Gerakan Separatis Karen yang sudah berseteru dengan Pemerintah Myanmar lebih dari tujuh puluh tahun. Imigran ilegal jika ingin masuk melalui pintu imigrasi di kota-kota di atas harus membayar dua kali lipat dari tarif normal. Sementara imigran ilegal harus menempuh resiko yang besar dan biaya yang juga tidak kecil melewati hutan-hutan sebelum tiba di Thailand dan dibawa oleh calo-calo atau broker kerja ke tujuan akhir. Instabilitas politik di Myanmar yang melemahkan ekonomi negara, kemiskinan, dan perang sipil biasanya menjadi faktor pemicu migrasi orang Myanmar ke Thailand. Disebut pemicu karena kalau ketiga hal tersebut absen, orang Myanmar tentu enggan ke luar negeri mencari hidup yang lebih baik. Situasi ini menjadi ladang pancingan para calo kerja, traffickers, and smugglers. Faktor pendorong dan penarik umumnya adalah kondisi kehidupan imigran pendahulu yang lebih baik. Dengan gaji yang besar mereka bisa menopang hidup keluarga di Myanmar. Gaya hidup kosmopolitan seperti Bangkok, Kualalumpur, dan Malaysia adalah faktor yang ikut mendorong

Feature

Mereka yang Martabatnya Dirampas

“Kita merasa apa yang kita lakukan tak lebih hanya ibarat setetes air di lautan. Tetapi lautan itu sendiri merasa kurang tanpa adanya tetesan yang hilang itu.” Bunda Teresa Saya ingin mengawali tulisan ini dengan kutipan Ibu Teresa di atas dan bagaimana beliau memberi pelajaran jatuh bangun menemani orang-orang kecil yang seakan-akan sia-sia. Di awal beliau memulai pelayanannya, ia dan para suster tidak dipercaya dan bahkan ditertawakan karena dianggap sebagai pelayanan yang tidak masuk akal. Saat saya memulai tugas pastoral anti human trafficking, saya bingung mau melakukan apa. Saya memulainya dengan memanfaatkan beberapa data yang saya miliki. Persoalan trafficking dan pekerja migran tidak dapat dipisahkan terutama ketika bertemu para pekerja non-prosedural di lapangan. Acapkali mereka menjadi korban yang mengalami kekerasan fisik, psikis bahkan meninggal dunia. Meskipun beberapa waktu lalu sudah ada kesepakatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Labuan Bajo untuk melindungi para pekerja migran dan menangkap pelaku perdagangan manusia, kondisi saat ini cenderung memburuk. Saya pribadi belum melihat adanya upaya penanganan serius untuk memerangi perdagangan manusia. Lima tahun belakangan ini, jenazah-jenazah pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur yang merantau di negeri jiran cenderung meningkat setiap tahunnya. Per 31 Juli 2023, sudah ada 82 jenazah pekerja migran non prosedural yang tiba di bandara El Tari Kupang. Saya membantu mengurus dan mendampingi jenazah-jenazah pekerja migran yang tiba. Di awalnya orang-orang memandang miring karya ini karena dirasa sangat sia-sia. Tidak hanya jenazah saja yang saya dampingi namun juga mereka korban yang hidup. Tiga tahun terakhir selama melakukan pendampingan, saya menemukan beberapa jenis kekerasan yang dialami pekerja migran seperti kekerasan fisik, seksual, verbal dan diskriminasi dalam penanganan kesehatan. Pengalaman seperti ini membuat pekerja migran kadang sampai ke titik terendah dalam hidup mereka dan tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Ada faktor-faktor lain yang, sejauh pengamatan saya, memperburuk situasi, seperti keberangkatan yang bermasalah (lewat calo), ketidaktahuan para pekerja migran akan hak-hak mereka, lemahnya posisi tawar mereka karena sangat tergantung kepada majikan dan calo, dan tidak sabar untuk menjalani proses resmi (prosedural) untuk bekerja di negara asing karena urusannya dirasakan panjang, ribet, dan susah. Pekerja migran menjadi korban yang mengalami kekerasan saat tinggal di penampungan maupun di tempat kerja. Mereka (korban) yang tidak tahan akan melarikan diri mencari tempat perlindungan. Ketika mendapat tempat perlindungan, mereka akan ditampung dan didampingi selama beberapa hari. Bila korban mengalami depresi parah mereka bisa didampingi sampai lebih dari tiga bulan. Mereka akan diantar kembali ke Indonesia setelah mulai membaik. Saya dan tim biasanya akan melanjutkan proses pendampingan setelah mereka sampai di Indonesia dan sebelum dipulangkan ke rumah orang tua mereka. Korban yang mengalami depresi parah kami dampingi sesuai proses pendampingan di shelter terlebih dahulu sebelum dikembalikan ke keluarganya. Bila ada permasalahan dengan hukum sebisa mungkin kami juga akan mendampingi baik saat BAP maupun persidangan di pengadilan. Ada satu peristiwa yang sampai saat ini masih menjadi keprihatinan saya. Seorang cucu dari sebuah keluarga sudah lebih sepuluh tahun tidak diketahui keberadaannya. Berita terakhir yang diperoleh oleh keluarga ialah bahwa sang cucu pamit ke Kupang untuk merayakan pesta ulang tahun temannya. Ternyata ia dibawa calo untuk dipekerjakan di Malaysia dan sampai sekarang tidak ada kejelasan nasibnya. Berhadapan dengan kasus seperti ini saya biasanya menanyakan foto terakhir orang yang dicari untuk melakukan penelusuran dan pencarian. Keluarga itu hanya punya foto ijazah SD cucu mereka. Mereka juga tidak punya informasi di wilayah Malaysia bagian mana sang cucu itu berada. Kalau kami punya sedikit informasi lebih, kami bisa perlahan-lahan untuk menemukan titik terang keberadaan orang yang dicari. Sejauh ini, ada sepuluh orang yang bernasib seperti ini dalam data kami. Selalu mengiang kata-kata keluarga mereka “Suster saudara saya, cucu saya, anak saya, suami saya tidak ada kabar beritanya sampai saat ini, entah hidup atau meninggal.” Pekerja migran perempuan sangat rentan mengalami kekerasan ketika mereka kehilangan posisi tawar mereka. Saat dokumen mereka dipegang oleh majikan atau calo yang membawa mereka, praktis mereka tidak punya kekuatan tawar apapun. Mereka hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh majikan. Perlawanan akan berakibat penganiayaan seperti dipukul, ditampar, dan bahkan ditendang yang bukan hanya berakibat kesakitan tapi juga meregang nyawa. Yang lebih mengerikan ialah ada di antara pekerja migran perempuan yang dituduh membunuh dan difitnah sehingga mereka harus mendekam di penjara seperti kasus Wilfrida Soik, Nirmala Bonat, dll. Beberapa korban yang mengalami kekerasan hingga meninggal dunia kebanyakan perempuan yang tak berdaya untuk dapat membela dirinya sendiri. Pekerja migran non prosedural laki-laki terkadang masih bisa membela diri atau lari. Namun tak jarang pula, mereka mengalami kekerasan saat ditangkap polisi di negara asing. Beberapa bahkan menjadi korban perdagangan organ tubuh manusia. Saat ini kami sedang menangani para migran yang dideportasi dari Malaysia Timur dan Barat. Lingkungan dan makanan di rumah detensi sangatlah jelek sehingga para deportan ini sakit. Ketika sakit, mereka harus membayar sendiri pengobatan mereka. Karena tidak punya uang, mereka kerap dieksploitasi dengan memberi pinjaman uang untuk membeli obat. Kami bekerjasama dengan komunitas migran yang punya keprihatinan untuk menangani para deportan di daerah Sabah, Tawau dan Sandakan (Malaysia Timur). Meskipun demikian mereka yang sudah dipulangkan biasanya akan kembali lagi dengan jalur non-prosedural untuk bekerja di luar negeri. Seluruh upaya sosialisasi untuk migrasi yang aman tampaknya berhadapan dengan realitas di lapangan di mana orang-orang memilih jalur non-prosedural yang dianggap lebih mudah dan cepat. Belum lagi situasi kemiskinan memaksa orang-orang untuk mencari kebutuhan hidup. Jika kamu ingin pergi dengan cepat, berjalanlah sendiri tetapi jika kamu ingin pergi jauh, berjalanlah bersama orang lain. “Janganlah biarkan persaudaraan kita dirampas.” Pendampingan korban kasus human trafficking atau human smuggling tidak bisa sendirian. Kami membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak, baik keluarga, pemerintah, maupun lembaga masyarakat baik di dalam maupun luar negeri. Pendampingan yang seringkali kami lakukan pertama kali adalah membangun kepercayaan dengan korban melalui komunikasi yang menjunjung tinggi martabat manusia. Menjadi teman dan saudari ketika mereka mengalami ketakutan, kebingungan, dan ketidakberdayaan. Kami mencoba merangkul dan mendengarkan keluh kesah mereka. Ketika sudah aman dan nyaman baru kami melakukan proses pendampingan. Bila korban sudah siap maka kami antar ke kampung halamannya. Dalam proses dialog, kami akan memberikan bekal keterampilan dengan kursus sesuai keinginan korban, jika masih memungkinkan. Jika yang kami dampingi

Feature

Perdagangan Manusia dan Perpindahan Paksa

Ketika seseorang yang terpaksa pindah diperjualbelikan atau dieksploitasi, misalnya oleh sindikat yang menyelundupkannya, ia menjadi sekaligus pengungsi dan korban perdagangan manusia. Di sinilah isu pengungsi dan perdagangan manusia bersinggungan. Pada akhir Mei yang lalu, atas undangan Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, saya menghadiri pertemuan jaringan Caritas se-Indonesia di Batam. Perdagangan manusia menjadi salah satu isu utama yang dibicarakan dalam pertemuan ini. Kami berkesempatan untuk mendengarkan langsung sharing Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus Esong, Ketua Komisi Keadilan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantau (KKPPMP) Keuskupan Pangkalpinang, terkait praktik penyelundupan dan perdagangan orang, yang masif terjadi di Kepulauan Riau, serta usaha-usaha perlindungan terhadap korban yang telah dilakukan. Mendapati keterlibatan oknum aparat untuk melanggengkan praktik perdagangan orang, pada Januari lalu Romo Paschal mengirimkan surat pengaduan kepada 12 instansi pemerintah dan penegak hukum terkait praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kepulauan Riau. Tindakan ini sempat membuatnya dilaporkan ke kepolisian oleh Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Kepulauan Riau dengan tuduhan menyebarkan berita bohong dan melakukan pencemaran nama baik, meskipun kemudian dicabut setelah pelaporan ini menjadi keprihatinan publik. Romo Paschal berkarya di Batam yang merupakan salah satu pintu utama pengiriman pekerja migran non-prosedural. Selama 13 tahun belakangan ini ia berupaya menyelamatkan para korban dan berjuang agar praktik perdagangan orang dihentikan. Namun, usaha ini tidak mudah karena praktik ini telah menjadi kejahatan terorganisasi yang melibatkan aparat penegak hukum. Menurutnya, sindikat perdagangan orang tidak hanya menyelundupkan pekerja migran tanpa dokumen melalui pelabuhan gelap atau pelabuhan tikus, namun juga menyelundupkan mereka melalui pelabuhan resmi yang bekerja sama dengan aparat. Sejak Mei 2022, sedikitnya 200 pekerja migran non prosedural setiap hari diberangkatkan dari pelabuhan internasional di Batam ke Tanjung Pengelih, Malaysia. Romo Paschal bersama dua orang frater yang tengah menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP), telah “mencoba” jalur resmi penyelundupan ini dengan menumpang kapal yang membawa penumpang resmi sekaligus pekerja migran tanpa dokumen. Dua frater tadi sempat masuk ke bagian kapal yang menampung calon pekerja migran dan berbincang secara sembunyi-sembunyi dengan beberapa dari mereka. Menurut para frater ini, suasana di ruangan itu dan wajah para penumpangnya tampak tegang. Mereka tidak tahu akan dibawa ke mana sesampainya di Malaysia, sementara paspor dan telepon genggam mereka telah disita “petugas” kapal. Pengungsi dan Tindak Perdagangan Orang Saya harus mengakui bahwa sebagai Jesuit yang berkarya di JRS (Jesuit Refugee Service), isu perdagangan manusia bukanlah area yang saya libati sehari-hari. Namun, bukan berarti tidak ada persinggungan antara isu pengungsi dan isu perdagangan manusia. Sebagaimana diketahui, JRS bekerja di antara para pengungsi dan orang-orang yang terpaksa pindah lainnya dengan menemani, melayani, dan membela hak-hak mereka. JRS tidak secara khusus menangani kasus tindak perdagangan manusia dalam konteks Indonesia yang menjadi korban umumnya adalah para pekerja migran. Namun, perlu dicatat bahwa dalam perjalanan meninggalkan negara asal dan tinggal dalam situasi tidak menentu, para pengungsi rawan menjadi korban penipuan, pemerasan, dan berbagai bentuk eksploitasi yang termasuk dalam kategori perdagangan orang. Pertama-tama perlu dibedakan antara penyelundupan manusia (human smuggling) dan perdagangan manusia (human trafficking), meskipun keduanya saling terkait. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa penyelundupan manusia, meskipun mengandung risiko besar terhadap keselamatan jiwa, sifatnya sukarela (voluntary), sedangkan perdagangan manusia sifatnya paksaan (involuntary) dan para korbannya dieksploitasi. Suatu tindakan penyelundupan manusia dapat menjadi tindakan perdagangan manusia apabila para korbannya dieksploitasi, misalnya ditahan demi memperoleh tebusan atau dipaksa bekerja (pada banyak kasus sebagai pekerja seks) demi membayar hutang kepada penyelundupnya. Sekadar untuk diketahui, Protokol PBB mengenai perdagangan manusia mendefinisikan perdagangan manusia sebagai: “perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penampungan atau penerimaan orang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk pemaksaan lainnya, penculikan, penggelapan, tipu muslihat, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau pemberian atau penerimaan pembayaran atau manfaat untuk memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. Eksploitasi meliputi, sekurang-kurangnya, eksploitasi meliputi, sekurang-kurangnya, eksploitasi melacurkan orang lain atau bentuk lain dari eksploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ tubuh.” (UN Trafficking Protocol (n 6,) art 3(a)) Mengapa para pengungsi dan orang-orang terpaksa pindah lainnya rawan menjadi korban perdagangan manusia? Ketika orang meninggalkan negeri mereka karena keterpaksaan, mereka tidak hanya meninggalkan rumah dan kehilangan kampung halaman, namun juga sering kali kehilangan komunitas yang mendukung mereka. Mereka terisolasi baik secara sosial maupun kultural, kesulitan dalam mengakses kebutuhan dasar, kesempatan bekerja atau memperoleh penghasilan, dan juga kehilangan status sebagai warga negara. Situasi seperti ini membuat pengungsi rawan menjadi target sindikat perdagangan manusia, yang mengeksploitasi situasi sulit mereka. Selain itu, mereka yang meninggalkan negeri mereka karena konflik, penganiayaan, atau kekerasan terpaksa memakai cara-cara tak resmi untuk mencari perlindungan di negeri lain. Para pengungsi sering kali terpaksa menggunakan jasa penyelundup manusia. Dengan memakai jasa penyelundup, para pengungsi menjadikan diri mereka rentan untuk diperdagangkan atau jatuh menjadi korban kejahatan serius terhadap kemanusiaan. JRS tidak memiliki mandat secara spesifik untuk menangani korban penyelundupan atau perdagangan orang, sehingga saya katakan sebelumnya bahwa kami sehari-hari tidak terlibat dalam isu ini. Namun demikian, sebagai lembaga yang berkarya di antara orang-orang terpaksa pindah—yang rentan menjadi korban perdagangan manusia—kami mesti menyadari dan menaruh perhatian terhadap fenomena perdagangan manusia. Para pencari suaka atau pengungsi yang berpotensi atau telah menjadi korban pemerasan atau perdagangan manusia patut mendapat perhatian khusus dalam pelayanan kami. Belum lama ini, JRS di Jakarta telah merespons permintaan bantuan dari sejumlah pencari suaka asal Suriah yang diduga menjadi korban perdagangan orang atau setidaknya mengalami pemerasan dari para penyelundup mereka. Bersama dengan umat Paroki St. Perawan Maria Ratu Blok Q, Lembaga Daya Dharma (LDD), Kongregasi FMM, OFM, dan beberapa komunitas Katolik atau Kristiani lainnya, kami mengusahakan rumah aman dan fasilitas yang diperlukan bagi para pencari suaka tersebut. Kami ingin mengamankan mereka dari jerat sindikat penyelundup yang berpotensi mengeksploitasi mereka dalam berbagai bentuk demi meraup keuntungan finansial, sekaligus berkoordinasi dengan UNHCR agar status mereka menjadi lebih jelas. Kelindan Isu Pengungsi, Pekerja Migran, Penyelundupan, dan Perdagangan Manusia Awal Juni lalu, Tim Gabungan TNI AL dan BAIS TNI menggagalkan penyelundupan empat pengungsi Rohingya dan satu calon pekerja migran Indonesia yang hendak berangkat ke Malaysia di sekitar pedalaman hutan bakau Kelurahan Pelitung, Dumai. Empat orang Rohingya ini terdiri dari 3 perempuan dan 1 anak laki-laki. Sebelumnya, pada