Pilgrims on Christ’s Mission

Penjelajahan dengan Orang Muda

100 Tahun Kolsani: Terlibat dalam Ruang Publik

Menyongsong 100 Tahun Kolsani Pada 18 Februari 2023 mendatang Kolsani akan genap berusia 100 tahun. Perjalanan sejarah Kolese Ignatius Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari peran dan keterlibatannya, baik dalam konteks Gereja Lokal maupun dalam sejarah bangsa Indonesia terutama sebagai tempat formasi teologi bagi para frater Jesuit. Peringatan ini menjadi momen penting bagi Kolsani untuk menelusuri dan merefleksikan lagi jejak sejarah keterlibatan Kolsani dalam urusan-urusan publik. Pada peringatan 100 tahun ini, Kolsani hendak memaknai kembali keterlibatan yang dilakukan dalam ruang-ruang publik, terutama dalam upaya pembangunan refleksi teologis yang semakin kontekstual. Sejak semula telah disadari bahwa sejatinya kehadiran Kolsani bukan semata-mata untuk kepentingan Gereja, tetapi hadir secara luas untuk kepentingan publik. Dalam upaya untuk meneropong keterlibatan Kolsani dalam ruang publik, Kolsani menggunakan kerangka teologi publik sebagai kerangka merefleksikan proses pembangunan iman dan kehidupan bersama di bumi Nusantara ini. Peristiwa peringatan 100 tahun Kolsani ini menjadi sarana refleksi atas pengalaman masa lalu dan apa yang telah berjalan selama ini sehingga harapannya, Kolsani semakin mampu memberikan terobosan penting bagi Gereja Lokal dan bangsa ini di waktu mendatang. Harapan lainnya, Kolsani dapat sungguh-sungguh terlibat dalam segala urusan publik, bersama dengan pihak-pihak lain yang berkehendak baik, yang sama- sama mau memperjuangkan kesejahteraan bersama. Pembukaan Acara 100 Tahun Kolsani dan Talkshow Interaktif Pada 24 September 2022, acara 100 Tahun Kolsani resmi dibuka. Dalam acara ini, Pater Antonius Sumarwan, S.J. selaku ketua umum peringatan 100 Tahun Kolsani memberi gambaran singkat mengenai semangat dasar di balik perayaan 100 Tahun Kolsani dengan menjelaskan makna logo yang dipakai. Penjelasan Logo 100 Tahun Kolsani: Setelah pemaparan singkat dari Pater Marwan, S.J. itu, Pater Aria Dewanto, S.J. selaku Rektor Kolsani, membunyikan lonceng legendaris yang ada di Ruang Rekreasi Frater untuk menandai dibukanya rangkaian acara 100 Tahun Kolsani. Setelah pembukaan rangkaian kegiatan 100 Tahun Kolsani, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif bersama orang-orang muda yang menjadi kolaborator Kolsani. Banyak orang muda yang hadir dalam acara ini, mulai dari muda-mudi HKBP Kotabaru, muda-mudi Masjid Syuhada, OMK Kotabaru, muda-mudi Ahmadiyah, YIPC (Youth Interfaith Peace Camp), mahasiswa UIN Kalijaga, mahasiswa UKDW, volunteer Pingit dan Realino, dan lain sebagainya. Kurang lebih ada 100 orang muda berkumpul dan berpartisipasi dalam acara ini. Talkshow yang bertajuk “Orang Muda dalam Gerakan Sosial dan Dialog Lintas Iman” ini dimoderatri oleh Fr. Amadea Prajna Putra Mahardika, S.J. Dua sahabat dari YIPC, yakni Ahmad Daeng dan Riston Nainggolan berbagi pengalaman tentang gerakan orang muda dalam dialog lintas iman. Ahmad dan Riston memberikan penekanan penting bahwa dialog itu hanya mungkin ketika ada perjumpaan serta ada keberanian untuk bertanya secara jujur dan tulus. Hanya dalam cara seperti itu, proses untuk saling memahami akan dapat berjalan dan prasangka-prasangka akan bisa dihilangkan. Tak ketinggalan, kami juga mengundang teman-teman dari volunteer Pingit yang diwakili oleh Claudia Lado dan Andanta Anggitiarsa untuk memberikan sharing tentang pengalaman mereka dalam pendampingan sosial bagi anak-anak di Pingit. Kedua sahabat kita ini menegaskan bahwa segala aksi kemanusiaan bisa memberikan ruang makna dan motivasi bagi anak-anak muda untuk terus bertumbuh, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain yang membutuhkan. Pada akhir sesi, Pater Bambang Irawan, S.J. memberikan simpul penegasan supaya orang muda tidak cenderung “mendem ilmu” atau mabuk ilmu. Pater Bambang Irawan, S.J. mengajak orang muda untuk berani bermimpi dan membuat proyek kehidupannya sendiri. Rangkaian Acara 100 Tahun Kolsani Untuk memeriahkan acara 100 Tahun Kolsani, panitia telah menyiapkan acara-acara yang bisa diikuti oleh khalayak umum. Dalam bidang akademik, kami akan memulai penelitian tentang kehidupan orang-orang muda dalam gerakan sosial dan dialog lintas iman yang diteropong lewat kerangka teologi publik. Hasil penelitian ini akan menjadi bahan seminar pada bulan Maret 2023 mendatang. Dalam bidang sosial, kami akan mengadakan bakti sosial seperti kerja bakti bersama dan sembako murah yang kami tujukan kepada warga sekitar Kolsani. Kami akan menggandeng warga sekitar dan para pemuda di wilayah Kotabaru untuk menggarap acara ini. Harapannya, acara ini menjadi sarana untuk memperkuat jaringan relasi yang selama ini sudah ada. Bagi orang muda yang ingin mengembangkan kreativitasnya, ada juga lomba-lomba yang bisa diikuti seperti fotografi, desain poster, cover lagu, dan menulis cerpen. Pokoknya, jangan lupa daftarkan dirimu dan menangkan hadiah-hadiahnya! Dalam rangkaian perayaan ini, akan ada pula acara tahbisan imam di bulan Februari 2023 mendatang. Perayaan tahbisan ini menjadi ungkapan syukur Kolsani atas segala proses formasi yang telah dijalankan selama 100 tahun. Pada bulan April 2023 nanti, acara puncak perayaan 100 Tahun Kolsani akan diselenggarakan. Acara akan dimulai dengan misa syukur dan dilanjutkan dengan pentas kebudayaan dari para kolaborator Kolsani dan Serikat. Akhirnya, semoga perayaan 100 Tahun Kolsani ini menjadi ruang perjumpaan bagi kita semua untuk semakin mengakrabkan diri dan membuka ruang-ruang kolaborasi yang bisa kita tujukan bagi kebaikan Gereja serta bangsa dan negara ini. Kontributor: Yulius Suroso, S.J. – Skolastik Jesuit

Obituary

Selamat Jalan Pater Joannes Salib Suci Prapta Diharja, S.J.

Pater Prapta Diharja atau akrab dipanggil Romo Prapta dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan apa adanya. Kesederhanaan ini ia tunjukkan dengan kesetiaan menghayati panggilannya sebagai seorang imam Jesuit. Kesederhanaan ini membuatnya dengan gampang bergaul dan diterima banyak orang. Pater Prapta adalah imam Jesuit yang telah melayani umat beriman, baik dalam karya paroki maupun karya pendidikan. Dalam karya paroki, Pater Prapta pernah bekerja di Paroki Ambarawa, sedangkan dalam karya pendidikan, Pater Prapta lebih banyak diutus untuk melayani di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pater Prapta memiliki keahlian dalam bidang bahasa Indonesia, maka ketika di Universitas Sanata Dharma ia pun mengampu mata kuliah yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Selain pendidikan tinggi, Pater Prapta pernah juga pernah bekerja di lingkup pendidikan menengah, antara lain di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan. Pater Prapta Diharja dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah pada 23 November 1952 dari pasangan suami istri Bapak Federicus Supi Harjasumarta dan Ibu Feronika Supirah Harjasumarta. Dua hari setelah kelahirannya, ia dibaptis di Gereja Paroki Wedi, Klaten (24/11/1952). Sakramen Penguatan juga ia terima di gereja yang sama. Pendidikan dasar ia tempuh di Sekolah Dasar Kanisius, Wedi (1959-1964) dan pendidikan menengah pertama ia tempuh di SMP Pangudi Luhur, Wedi (1964-1968). Setamat SMP, Pater Prapta ingin menjadi guru, oleh karena itu ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) van Lith, Muntilan (1969-1971). Karena ingin menjadi imam, ia memutuskan untuk mendaftar ke Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan (1972-1973) pada Kelas Persiapan Atas (KPA). Tertarik untuk bergabung dengan Serikat Jesus, setelah menyelesaikan program KPA-nya, Pater Prapta melamar menjadi anggota Serikat Jesus di Novisiat Santo Stanislaus, Girisonta dan diterima. Ia kemudian secara resmi memulai masa novisiat pada 31 Desember 1973. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1 Januari 1976, Pater Prapta mengucapkan kaul pertama. Formasi Filsafat dijalani Pater Prapta di STF Driyarkara, Jakarta (1976-1978). Setelah menyelesaikan formasi filsafat, Pater Prapta diutus untuk menjalani formasi Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) dengan belajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia (UI), Jakarta (1979-1985). Setelah lulus dari UI, Pater Prapta menjalani formasi teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta selama tiga tahun (1985-1988). Tahbisan diakon ia terima pada 27 Januari 1988 di Yogyakarta dari tangan Mgr. Blasius Pujaraharja, Pr. dan tahbisan imam ia terima pada 21 Juli 1988 dari tangan Uskup Agung Semarang, JuliusDarmaatmaja di Gereja St. Antonius Padua, Purbayan, Surakarta. Pater Prapta menjalani formasi akhir/tersiat di Kolese Stanislaus, Girisonta di bawah bimbingan P Darminta, S.J. selama lebih kurang sebelas bulan (3 September 1990-13 Agustus 1991). Kemudian pada 2 Februari 1995, Pater Prapta mengucapkan kaul terakhirnya di Kapel Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik (STFK) Pradnyawidya (sekarang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma) dan diterima oleh Wakil Provinsial Pater Josephus Ageng Marwata, S.J. dengan gradus spiritual coadjutor. Riwayat tugas Pater Prapta Diharja, S.J. setelah TahbisanPastor Rekan Gereja St. Yusup Ambarawa 1988-1991Dosen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 1991-1998Studi Khusus program Magister di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 1998-2000Minister Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan 2000-2001Anggota pendamping siswa-siswi dari Le Cocq, Nabire Yogyakarta 2002Bendahara Pengurus Yayasan Pembimbing Tenaga Pembangunan Masyarakat (PTPM) Yogyakarta 2008-2020Pembimbing Rohani teologan Kolese Santo Ignatius Yogyakarta 2018-2021Dosen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2001-wafatnya Pater Prapta Diharja didiagnosis mengidap penyakit kanker. Senin pagi, 12 September 2022 pukul 03.33 WIB. Pater Joannes Salib Suci Prapta Diharja, S.J. menghadap Bapa dengan damai. Pater Prapta Diharja, selamat beristirahat dalam damai Tuhan. Doakan kami agar bisa menekuni dengan setia hidup dan ziarah di bumi ini. Misa Requiem dan PemakamanMisa Requiem akan dilaksanakan padatempat : Gereja St. Antonius, Kotabaru, Yogyakartahari, tanggal : Selasa, 13 September 2022waktu : pukul 08.30 WIBSetelah itu, jenazah akan dibawa untuk disemayamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir di TamanMakam Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Ungaran.

Obituary

Selamat Jalan Pater P.S. Hary Susanto, S.J.

Pater Hary Susanto dikenal sebagai pribadi yang ceria, senang bersepeda saat harus mengajar dari tempat dia tinggal di Residensi SJ di Mrican ke Kampus USD di Paingan atau di kampus IAIN. Dia juga senang memotret baik dalam acara Provinsi seperti tahbisan, Forum Provinsi ataupun pada kesempatan lain. Dia juga dikenal karena amat rajin berolah raga untuk menjaga kesehatan badannya. Pater Hary Susanto adalah seorang imam Jesuit yang banyak menangani karya pendidikan tinggi. Selama lebih dari 20 tahun ia menjalani perutusan di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia memiliki keahlian dalam bidang teologi moral, dan oleh karena itu, selama berada di Universitas Sanata Dharma ia mengajar dalam bidang-bidang humaniora. Selama itu pula, Pater Hary tidak berpindah-pindah residensi selain di Residensi Kolese Bellarminus, Yogyakarta. Pater Hary Susanto dilahirkan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur pada 25 Oktober 1954 dari pasangan suami-istri Bapak Paulus Liem Tjhing An Soetodjo dan Ibu Maria Oeniati Soetodjo. Sekitar dua belas tahun setelah kelahirannya, ia dibaptis di Gereja Santa Maria Bintang Samodera, Paroki Situbondo (20/12/1966) dan dua tahun kemudian, ia menerima Sakramen Penguatan (4/4/1968) di gereja yang sama. Pendidikan dasar ia tempuh selama enam tahun (1961-1967) di sebuah sekolah dasar Situbondo, dana pendidikan menengah pertama ia tempuh selama tiga tahun (1967-1970), juga di Situbondo. Setemat SMP, Pater Hary melanjutkan pendidikannya di Seminari Menengah di Lawang dan kemudian Malang (1970-1974). Tertarik untuk bergabung dengan Serikat Jesus, setamat seminari Pater Hary melamar menjadi anggota Serikat di Novisiat Santo Stanislaus, Girisonta dan diterima. Ia kemudian secara resmi memulai masa novisiat pada 31 Januari 1975. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1 Januari 1978, Pater Hary mengucapkan kaul pertama.Formasi Filsafat dijalani Pater Hary di STF Driyarkara, Jakarta (1978-1985) sekaligus ia menyelesaikan formasi Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) di Kolese Kanisius, Jakarta. Kemudian selama tiga tahun (1985-1988), ia menjalani formasi teologi di Universitas Gregoriana, Roma. Ia kemudian ditahbisakan sebagai diakon pada 28 Maret 1988 di Gereja Gesu, Roma oleh Mgr. Eduardo Card. Pironio dan ditahbiskan imam pada 21 Juli 1988 oleh Bapa Kardinal Darmojuwono di Gereja St. Antonius, Purbayan, Surakarta. Formasi tersiat dijalani di Jepang di bawah bimbingan P David Flemming, S.J. selama lebih kurang sebelas bulan (Agustus 1999-September 2000). Dan pada 31 Juli 2005, Pater Hary Susanto mengucapkan kaul terakhirnya di Gereja Santo Antonius Padua, Purbayan dan diterima oleh Pater Agustinus Priyono Marwan, S.J. dengan gradus spiritual coadjutor. Riwayat tugas Pater Hary Susanto, S.J. setelah TahbisanPastor Rekan Gereja St. Perawan Maria Ratu, Blok Q Jakarta 1988 – 1990Studi Moral di Universitas Gregoriana Roma 1991 – 1997Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 1999 – 2022Konsultor Superior Komunitas Kolese Santo Robertus Bellarminus Yogyakarta 2011 – 2011Pemulihan Kesehatan di Wisma Emmaus Girisonta 2022-wafatnyaPater Hary Susanto didiagnosa mengidap penyakit kanker sejak akhir tahun 2020. Dia kemudian menjalani pengobatan di RS Panti Rapih. Kondisinya sempat membaik sebelum akhirnya kembali harus mendapat perawatan di RS Panti Rapih. Kondisinya terus memburuk sejak pertengahan tahun 2022 dan kemudian dipindahkan ke Wisma Emmaus. Jumat 9 September 2022. jam 06.25 pagi, Pater Petrus Stephanus Hary Susanto, S.J. menghadap Bapa dengan damai. Pater Hary Susanto, selamat beristirahat dalam damai Tuhan. Doakan kami agar bisa menekuni dengan setia hidup dan ziarah di bumi ini. Misa Requiem dan PemakamanMisa Requiem akan diadakan ditempat : Gereja St. Stanislaus, Girisontahari, tanggal : Sabtu, 10 September 2022waktu : 10.00 WIBdan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Ungaran. Seluruh anggota Provinsi dimohon merayakan Ekaristi khusus bagi kedamaian jiwa Pater Petrus StephanusHary Susanto, S.J.

Feature

Cinta, Kepedulian, dan Keteladanan di Xavier School

Berkunjung ke Xavier School San Juan dan Nuvali di Filipina merupakan momen yang sangat berharga bagi saya dan rekan-rekan yang mengikuti program live in di Filipina. Perjalanan ini awalnya terasa cukup menegangkan. Akan tetapi justru memberi banyak pengalaman yang mengesan. Keramahan, kelincahan, dan semangat muda dapat saya rasakan begitu tiba di dua sekolah Xavier ini.  Rekan-rekan di Xavier, baik yang di Nuvali maupun San Juan, dengan keramahannya, terbuka menerima kami. Sejak awal, saya merasakan cinta sebagai keluarga baru. Direksi, guru, karyawan, hingga siswa senang dengan kehadiran kami di sana. Bahkan, kepala sekolah dari dua sekolah ini, sengaja mengenakan batik sebagai bentuk apresiasi bagi kami. Mereka tampak antusias dengan cerita kami tentang Indonesia, Yogyakarta, dan terutama tentang de Britto. Begitu pula ketika mereka mengenalkan kebiasaan dan program-program yang dilakukan sekolah dalam mendampingi para siswa. Keramahan para guru di sana juga dikerahkan dengan sepenuh hati. Ada salah satu guru yang makan bersama kami bercerita tentang hal-hal yang dia ketahui tentang Indonesia tentang politik dan prestasi Presiden Indonesia. Bahkan kami juga sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Ada pula seorang siswa yang merupakan putra salah satu guru di Nuvali, yang ternyata belajar Bahasa Indonesia agar bisa berkomunikasi dengan kami.  Perwujudan cinta juga begitu kentara dalam proses belajar sehari-hari di sekolah. Sejak hari pertama sekolah, guru membiasakan diri untuk menjemput para siswa kelas kecil di depan pintu gerbang. Tidak jarang ada siswa TK yang menangis ketika ditinggal orang tua tetapi para guru bahkan pimpinan di TK dengan sabar berusaha menenangkan dan mengajak anak tersebut untuk mau belajar di kelas. Ruang – ruang kelas, baik ruang kelas untuk TK hingga SMA, didesain oleh para wali kelas sesuai dengan kebutuhan para siswa di setiap angkatannya. Hal ini bertujuan untuk membuat siswa merasa lebih nyaman dalam belajar di kelas. Penyediaan sarana belajar dan ruang–ruang lain juga menunjukkan cinta sekolah pada para siswa. Salah satunya adalah perpustakaan untuk masing-masing tingkat. Desain setiap perpustakaan dan buku–buku yang disediakan juga berbeda untuk tiap angkatan, bahkan aplikasi atau alat pencarian buku pun didesain dengan tampilan yang ramah anak khususnya di perpustakaan tingkat dasar. Selain itu, gymnasium dan sarana olahraga lain, seperti stadion bola basket, lapangan bola yang luas, kolam renang berstandar atlit, dibangun untuk mendukung siswa yang memiliki kemampuan khusus di tiap olahraga tersebut. Selalu ada program pengamanan ataupun alat yang bisa mengamankan siswa dari cedera, antara lain dengan adanya sistem lifeguard di kolam renang, adanya bantalan pengaman di setiap sudut gymnasium. Sensor kebakaran, alat pemadam, dan alat penyelamatan dari kebakaran juga disiapkan dengan baik.  Di setiap bangunan dan ruang yang ada di dua sekolah ini selalu mempunyai namanya masing-masing. Umumnya nama ini diambil dari nama seseorang atau keluarga yang menjadi donatur atas bangunan atau ruang–ruang tersebut. Kesediaan keluarga atau alumni menjadi donatur dalam membangun sekolah dan memberi beasiswa bagi siswa tidak mampu merupakan buah dari pengalaman para alumni maupun keluarganya yang merasakan cinta dari sekolah mereka. Keteladanan dari para pendidik juga menjadi kerja keras mereka.  Misalnya, para guru kelas dan asistennya mengajak para siswa kelas kecil (TK dan primary grade level) untuk berjalan berkeliling sekolah melalui sisi kanan jalan dan dengan tertib tanpa banyak bicara. Proses pembiasaan ini membentuk pribadi para siswa ketika berada di tingkat lebih tinggi. Tanpa perlu banyak instruksi dari para guru, para murid sudah menjalankannya karena sudah terbiasa menghidupi. Keteladanan juga ditunjukkan sekolah dengan mengenalkan values sekolah kepada para siswa melalui tulisan atau gambar atau media lain yang banyak dihadirkan hampir di setiap sudut dan dinding sekolah. Bahkan, ada juga di anak tangga yang dilalui siswa setiap harinya, dan dihadirkan pada setiap misa sekolah.  Dari berbagai pengalaman berinteraksi dengan warga sekolah Xavier dan melihat sarana yang disiapkan sekolah untuk para siswa, saya melihat cinta sekolah yang diwujudkan dalam kepedulian para guru, karyawan, bahkan alumni atau keluarganya kepada para siswa. Kepedulian ditunjukkan secara langsung melalui keteladanan dan bukan hanya kata–kata hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Cinta, kepedulian, dan keteladanan yang dibangun oleh warga sekolah Xavier, sepertinya tidak lepas dari teladan para tokoh Jesuit pendiri sekolah ini. Cinta yang dulu dirasakan oleh guru atau karyawan senior, ditularkan pada para juniornya, termasuk pada para siswa melalui berbagai sarana yang dibangun di sekolah, seperti dibangunnya patung beberapa tokoh pendiri sekolah yang diletakkan di beberapa area sekolah dan juga adanya gambar atau poster para tokoh tersebut di beberapa bagian dinding sekolah. Bahkan ada tempat sembahyang khusus bagi para tokoh ini di salah satu sudut sekolah. Hal inilah yang menurut saya bisa membangun keramahan, kelincahan, dan semangat muda yang ada dalam jiwa hampir semua warga sekolah ini. Saya rasa, semangat Santo Ignatius Loyola yang mengungkapkan bahwa “Bagi mereka yang mencintai, tidak ada yang terlalu sulit, terutama ketika itu dilakukan untuk cinta Tuhan kita Yesus Kristus”, dilakukan dan dihayati sungguh oleh guru dan karyawan sekolah Xavier dalam mendampingi para siswa dengan penuh energi meskipun dihadapkan pada banyak tantangan, salah satunya adalah kelas hybrid yang pada tahun ajaran baru ini sedang dimulai oleh seluruh warga di sekolah Xavier.  Bagi mereka yang mencintai, tidak ada yang terlalu sulit, terutama ketika itu dilakukan untuk cinta Tuhan kita Yesus Kristus. Ignatius Loyola Kontributor: Antonita Ardian Nugraheni – Guru SMA Kolese de Britto

Feature

Pengungsi Butuh Teman untuk Berdaya

Saat masih remaja, saya pernah menjadi pengungsi bencana erupsi Gunung Merapi di Muntilan selama beberapa bulan. Saat itu, saya melihat banyak orang dari berbagai organisasi datang membantu. Salah satunya adalah Jesuit Refugee Service (JRS). Saya sulit  mengingat bantuan barang apa saja yang saya terima, tetapi saya masih dapat mengingat jelas keramahan para relawan JRS yang datang dan menemani para pengungsi saat itu. Meski susah, ternyata saat itu saya bisa menikmati masa pengungsian. Saya menikmati kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh para relawan. Saya merasa sungguh ditemani.  Kini, sebagai Frater Jesuit, saya ikut menjadi bagian dari JRS dalam melayani para pengungsi dari luar negeri. Bagi pengungsi luar negeri, penemanan adalah hal yang sangat berharga. Sebagai pengungsi, hak mereka sangat terbatas. Mereka tidak boleh bekerja dan tidak banyak yang bisa dilakukan selama di Indonesia. Setelah terlibat dalam berbagai pelayanan JRS, saya pun memahami bahwa selain bantuan material, pengungsi pun membutuhkan teman untuk “berjalan bersama.” Sekarang saya dapat mengerti mengapa dulu saat saya mengungsi, saya juga begitu menghargai penemanan yang terjadi. Penemanan adalah pintu agar pengungsi merasa dihargai sehingga bisa semakin percaya diri dan lebih berdaya.  Penemanan di Jesuit Refugee Service Keutamaan penemanan ini ternyata tidak hanya saya rasakan ketika saya menjadi pengungsi atau ketika saya menjadi bagian dari JRS di Indonesia. Pada Juli 2022, saya mengikuti Pedro Arrupe Summer School tentang pengungsi dan migrasi di Campion Hall, Universitas Oxford. Di sana saya berjumpa dengan beberapa Jesuit muda, para dosen-akademisi, dan peneliti yang berkarya dalam bidang pengungsi. Dari setiap diskusi dan kelas, saya menangkap bahwa keutamaan penemanan ternyata terus dibicarakan dan menjadi napas bagi setiap anggota JRS di berbagai negara.  Seorang teman dari JRS Inggris, Meghan Knowles, bercerita bahwa JRS selalu ingin hadir sebagai teman yang berjalan bersama pengungsi yang menghadapi sistem suaka yang tidak memanusiakan para pengungsi. Dalam sistem yang tidak ramah, “JRS berusaha membangun relasi yang setara dan berjalan bersama pengungsi, tidak hanya sekadar memberikan bantuan,” ujar Knowles.  Kita sadar bahwa selalu ada relasi yang tidak setara antara pemberi layanan dan pengungsi. Namun melalui penemanan dan kerendahan hati, JRS berusaha menempatkan diri sebagai teman yang setara. Nicholas Austin, Direktur Campion Hall, mengungkapkan bahwa penemanan harus dimulai dari usaha untuk membangun relasi saling percaya yang berdasarkan martabat manusia yang sama. Atas dasar martabat yang sama, penemanan mendorong pengungsi agar lebih berdaya dan bisa berkontribusi dalam masyarakat.1 Penemanan vs Capaian  Sebagai seorang teman, kita harus sabar mendengarkan keluhan dan kebutuhan pengungsi. Kita harus siap dengan berbagai curahan hati. Kita harus menghargai setiap waktu yang kita habiskan bersama pengungsi. Dalam praktiknya, terkadang proses penemanan menyita banyak waktu. Mungkin beberapa organisasi bisa saja sekadar memberikan bantuan yang dibutuhkan pengungsi tanpa perjumpaan dan penemanan agar efisien. Namun, JRS tetap memilih perjumpaan dan penemanan. Dalam kunjungan ke rumah pengungsi, saya bisa berbincang dan mendengarkan kisah pengungsi selama berjam-jam. Ryan Birjoo, seorang frater yang berkarya di JRS Lebanon, juga bercerita bahwa meski butuh banyak waktu, tetapi penemanan JRS adalah hal yang membuat pengungsi di Lebanon diperlakukan secara manusiawi. Dari perspektif pencapaian, mungkin penemanan bukan hal yang efisien. Penemanan harus disertai dengan pemberian layanan dan upaya advokasi, sebagaimana misi JRS.  JRS memilih penemanan dengan tujuan “menciptakan komunitas kasih.”2 Penemanan dapat “mengkomunikasikan cinta kasih dan persahabatan.”3 Penemanan hanya bisa dilakukan lewat perjumpaan. Hal ini sejalan dengan gagasan Paus Fransiskus tentang “budaya perjumpaan.”4 Dalam penemanan terdapat proses timbal-balik memberi dan menerima. JRS tidak hanya ingin sekadar menyalurkan bantuan, tetapi juga ingin memberdayakan dan belajar bersama pengungsi. Melalui penemanan, JRS tidak ingin mengikuti jejak para “’developmentalists’ dengan merencanakan proyek yang menurut mereka membantu orang miskin dan memobilisasi bantuan untuk sekadar memenuhi kebutuhan.”5 Menurut Maryanne, pengajar di Boston College, kita harus menggunakan pendekatan aspirasional (bottom up) dengan menguatkan komunitas-komunitas di akar rumput.  Selain itu, dengan melihat nilai-nilai dalam Populorum Progressio hingga Fratelli Tutti, penemanan JRS tidak ingin berhenti pada “doing for” tetapi juga “doing and being with.” Melalui penemanan, JRS menempatkan pengungsi sebagai subjek, bukan sekadar mendiktenya sebagai objek penerima bantuan. Pengungsi ditemani untuk mengenali situasi, potensi, keterampilan, dan tujuan hidup mereka. Dengan demikian, pengungsi bisa lebih berdaya, menyadari peran agensinya untuk berkontribusi dalam komunitas, dan berkembang secara integral sebagai manusia utuh.  Kontributor: Ishak Jacues Cavin, S.J. – JRS Indonesia 1 Nicholas Austin, “Integral Human Development: From Paternalism to Accompaniment”, Theological Studies, 2019, Vol. 80(1), 138, DOI: 10.1177/0040563918819798. 2 Nick Jones, “Cambodia: Accompaniment Creates ‘Communities of Love,’” Jesuit Refugee Service News (March 17, 2016), http://www.jrsap.org/news_detail?TN=NEWS-20160316102931.  3 Nicholas Austin, “Integral Human Development: From Paternalism to Accompaniment”, 140.  4 Pope Francis, “Morning Meditaion in The Chapel of The Domus Sanctae Marthae: For a culture of encounter”, L’Osservatore Romano (September 13, 2016), https://www.vatican.va/content/francesco/en/cotidie/2016/documents/papa-francesco-cotidie_20160913_for-a-culture-of-encounter.html  5 Nicholas Austin, “Integral Human Development: From Paternalism to Accompaniment,” 124. 

Pelayanan Masyarakat

Cerita Pengalaman dan Refleksi Kegiatan Kemanusiaan di Jombor

Tim Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma bermitra dengan SPM Realino menjalankan program kampus merdeka pada kegiatan kemanusiaan yang sudah diprogramkan dan dijalankan oleh SPM Realino di daerah Jombor. Saya adalah salah satu mahasiswa yang mendapat kepercayaan untuk berkegiatan di Jombor berdasarkan kesepakatan antara saya dan dosen dengan pimpinan lembaga mitra.  Nama saya Joni Halawa. Saya mahasiswa dari Pendidikan Matematika angkatan 2018. Saya mengikuti kegiatan di Jombor setiap hari Kamis sejak 23 September 2021 hingga 16 Desember 2021. Kegiatan yang kami laksanakan berupa pembelajaran bahasa Inggris untuk tingkat SD-SMP dan menggambar/mewarnai bagi anak-anak usia TK. Kami dari USD fokus untuk mengajari anak-anak tingkat SD. Materi bahasa Inggris yang kami ajarkan berupa kosakata yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja ini berbeda  dengan materi yang diajarkan oleh pendamping lain pada anak di tingkat SMP. Anak-anak yang mengikuti kegiatan berjumlah sekitar 15 hingga 20 orang. Mereka sangat gembira, demikian juga saya. Sebenarnya, saya tidak pernah berdinamika bersama anak SD sebelumnya. Saya tidak punya kemampuan untuk menghadapi sikap mereka yang ribut, tiba-tiba teriak, saling berkejaran, dan minta pulang. Selama di kampus, saya selalu menghindari kesempatan bersama mereka dengan tidak mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh prodi. Namun, diluar dugaan saya, kegiatan yang berlangsung di Jombor justru mengantar saya pada dunia anak-anak dan betapa sederhananya kebahagiaan mereka. Saya (dengan satu orang teman) menyiapkan kosakata sederhana dalam bahasa Inggris dan mengajarkannya pada mereka. Waktu belajar, beberapa siswa memiliki semangat yang tinggi, beberapa yang lain saling berkejaran dan ada yang mau pulang saja. Bagi saya, sikap mereka yang sangat beragam itu menjadi bukti bahwa anak-anak memiliki semangat yang tinggi dan membutuhkan perhatian dari orang sekitar.  Selain belajar, kami juga bermain. Saya menyiapkan permainan yang bertujuan untuk membuat suasana menjadi seru, anak-anak tidak bosan, menjadi lebih ekspresif, dan terbiasa berhubungan dengan teman seusianya untuk saling mengenali. Keceriaan mereka dapat dilihat dari upaya mereka untuk memenangkan permainan (jika yang diharapkan dari permainan adalah kalah atau menang), teriakan tawa mereka yang melengking, pergerakan mereka yang cepat, dan raut wajah mereka. Ini menjadi pengalaman berharga bagi saya mengingat di kampus atau di kegiatan saya sebelumnya, tidak saya jumpai hal seperti ini. Adapun hasil belajar anak-anak, menurut saya, sangat baik. Mereka bisa menyebutkan kosakata dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Mereka bisa menyelesaikan tugas dengan cukup baik. Mereka tetap ceria ketika pelajaran dimulai. Mereka saling mengenal satu sama lain dan juga kami para pendamping.  Bagi saya, pengalaman penting lainnya adalah tentang mengenali karakter anak-anak. Ada satu orang anak yang pada pertemuan pertama sibuk mengurusi giginya yang goyang ketika kami menyampaikan materi, dan pada pertemuan Minggu berikutnya giginya itu sudah tanggal. Ada anak kakak-beradik yang ributnya bukan main. Jika kakaknya mengacaukan barisan, adiknya menarik baju kakaknya kemudian tertawa terbahak-bahak. Ada juga yang pendiam, sama sekali tidak mau berbicara, kecuali bila diminta terus-menerus. Ada banyak karakter unik lainnya yang mengingatkan saya pada masa kecil dulu dan itu menjadi pelajaran bagi saya untuk menghargai anak-anak sebagai individu yang harus didampingi.  Pelajaran yang saya dapat tidak hanya mengarah pada latar belakang jurusan saya (karena saya pendidikan matematika, tapi saya mengajari bahasa Inggris), tapi lebih pada pelajaran sosial kemanusiaan untuk pengembangan diri dan saya yakin ini sangat berguna bagi saya ke depan ketika saya sudah masuk dunia kerja, bergabung dalam masyarakat, dan ketika menjadi guru. Pelajaran lain yang saya dapatkan juga adalah keterampilan mengendalikan diri pada situasi yang dekat dengan anak-anak, cara mengkoordinasi agar tidak terjadi keributan yang tidak dapat dikendalikan, dan public speaking jika pendengarnya adalah anak-anak. Di sisi lain, saya juga memiliki kesempatan untuk berdinamika bersama dengan mahasiswa lain dari beberapa universitas dengan tingkatan dan disiplin ilmu yang berbeda. Mereka adalah relawan yang juga bergabung menjadi pendamping. Kami bekerja sama dalam hal pelaksanaan kegiatan dan ini meningkatkan keterampilan saya untuk bekerja dalam tim.  Terakhir, kegiatan MBKM ini berhasil meningkatkan keterampilan sosial saya dan memberikan pelajaran selain hal yang saya dapatkan pada mata kuliah prodi. Lembaga yang menjadi mitra juga meningkatkan relasi prodi dengan komunitas di luar kampus, relasi mahasiswa dari prodi dengan mahasiswa dari prodi lain dari universitas yang berbeda, dan kemungkinan untuk bekerja sama dalam proyek lain pada masa yang akan datang. Ke depan, saya berniat untuk meneruskan kegiatan kemanusiaan di kampung saya dengan mengumpulkan beberapa anak dan memberikan mereka pelajaran (untuk saat ini, saya sudah memulai kegiatan sendiri yang serupa dengan kegiatan di Jombor ini pada 13 orang anak di Sidomoyo, Godean). Saya tetap berusaha meningkatkan keterampilan yang saya dapat sehingga benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Kontributor: Joni Halawa – Volunteer SPM Realino

Pelayanan Spiritualitas

Membawa Api Iman di CC Ketapang

Catholic Centre (CC) Ketapang pada 24 – 26 Agustus 2022 mengadakan lokakarya kaderisasi angkatan 1 tahap ke-2. Lokakarya ini adalah kelanjutan dari lokakarya sebelumnya yang bertema peran awam dalam hidup menggereja. Dengan konteks ini, Gereja ingin mengajak para imam dan juga umat di wilayah Keuskupan Ketapang untuk menyadari pentingnya kolaborasi dalam hidup beriman. Ini terjadi mengingat di Keuskupan Ketapang jumlah imam dan panggilan masih sangat sedikit sehingga sangat diperlukan keterlibatan awam untuk membantu berjalannya pelayanan di tingkat paroki. Tentu saja, hal ini dapat berjalan mulus ketika umat menyadari bahwa iman harus dikembangkan bersama-sama atau dengan kata lain, perkembangan iman bukanlah semata-mata hanya tugas imam.  Kaderisasi tahap kedua ini hendak menggarisbawahi timbulnya keyakinan bahwa paroki membutuhkan kolaborasi. Hal inilah yang dikembangkan dalam kaderisasi tahap kedua di mana mereka diajak untuk merasakan pentingnya kehadiran dan kebersamaan satu sama lain yang saling menguatkan. Mereka diajak untuk saling menciptakan support system di lingkungan paroki yang akan menguatkan pelayanan gerejawi.  Dalam lokakarya tahap kedua ini, semua peserta diajak untuk mengandalkan Tuhan dengan menyadari kekuatan spiritualitas kekatolikan. Arahnya adalah peserta dapat menemukan Tuhan dalam berbagai pelayanan bersama sehingga mereka tetap mampu berdinamika dalam parokinya masing-masing. Mereka diajak untuk memiliki keterampilan berkomunikasi dan juga mendengarkan karena ini menjadi skill dasar yang patut dimiliki setiap orang. Untuk pengembangan skill ini, CC Ketapang mengundang Lawrence Chandra dari katolikvidgram untuk memberikan pengetahuan dasar dalam berkomunikasi, mendengarkan, manajemen waktu, dan menggali potensi dari orang-orang yang kita hadapi. Peserta sangat antusias dengan kehadiran beliau karena mereka mendapatkan ilmu baru untuk berhadapan dengan umat yang “sulit” atau umat yang mulai meninggalkan Gereja.  Di malam terakhir kegiatan ini, peserta diajak untuk membangun sebuah kolaborasi dengan mengadakan Ibadat Syukur Kreatif. Mereka dengan antusias menciptakan bentuk-bentuk kreatif dalam beribadat. Ada yang menyimbolkannya dalam bentuk tarian, minuman, air, dan berbagai hal lainnya. Di sini mereka sama-sama berperan dan mengusahakan diri untuk berbagi rahmat Tuhan melalui doa-doa. Ibadat ini berjalan selama dua jam lebih dan para peserta sama sekali tidak merasakan kebosanan. Iman yang muncul dari kolaborasi yang kreatif yang bersumber pada rahmat Tuhan tidak akan mengalami kebosanan, melainkan selalu memunculkan hasrat untuk berkembang dan semakin berpasrah kepada Tuhan.  Acara ini ditutup dengan misa syukur bersama Uskup Ketapang, Bapak Uskup Pius Riana Prapdi. Bapak Uskup berpesan lewat bacaan Injil tentang lima wanita bijak dan lima wanita bodoh. Baginya, para peserta diharapkan untuk menjadi seperti wanita bijak yang selalu sedia mempersiapkan minyak agar tidak ketinggalan momen. Menurut Bapak Uskup, minyak adalah pengalaman iman yang dibawa terus-menerus setiap saat sehingga hidup kita tidak akan mati dan terus menerangi banyak orang. Pengalaman wanita bodoh adalah pengalaman yang menyatakan cukup memiliki satu pengalaman saja dan itu tidak dimunculkan menjadi iman yang menguatkan dirinya dan sesama.  Kontributor: Pater Advent Novianto, S.J.

Karya Pendidikan

Beraksi Untuk Vokasi dengan LAUDATOSI

LAUDATOSI dalam konteks ini adalah singkatan dari acara Lari Untuk Donasi Pendidikan Tinggi Vokasi yang diadakan oleh Politeknik Industri ATMI Cikarang. Acara ini dilatarbelakangi oleh keadaan pandemi yang melanda negeri ini dan mengakibatkan banyak mahasiswa/i (atau masyarakat sekitar) mengalami kesulitan pembiayaan dalam melanjutkan pendidikan/kuliah.  LAUDATOSI sendiri sebenarnya memiliki arti dimana kita harus menjaga bumi sebagai rumah kita, seperti yang disampaikan Santo Fransiskus dari Asisi “Rumah kita (Bumi) bersama bagaikan saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan bagaikan ibu yang jelita yang menyambut kita dengan tangan terbuka.” Dengan kegiatan lari ini, diharapkan kita dapat semakin  mampu mengajak sesama kita untuk hidup lebih sehat dan bersinergi dengan alam. Dalam kegiatan Lari untuk Donasi Pendidikan Tinggi Vokasi beberapa “KAMI” yang terdiri atas beberapa instansi AAJI (Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia) berlari selama kurun waktu 24 jam untuk penggalangan dana bagi dunia pendidikan vokasi. Lewat tema “Beraksi untuk Vokasi,” diharapkan seluruh pemerhati pendidikan dapat ikut beraksi atau berpartisipasi untuk berdonasi membantu para generasi muda yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk melanjutkan pendidikannya sehingga dapat membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama untuk pendidikan vokasi.  Acara ini dilaksanakan pada 19-20 Agustus 2022. Start dan finish berlokasi di kampus Politeknik Industri ATMI Cikarang. Setiap pelari yang mencapai finish mendapatkan medali unik hasil karya mahasiswa/i dan dosen Politeknik Industri ATMI yang berasal dari daur ulang sampah plastik. Kegiatan  ini diikuti oleh tujuh Romo (Pater T. Agus Sriyono, S.J., Pater. Yakobus Rudiyanto, S.J., Pater Kristiono Puspo, S.J., Pater Hendricus Satya Wening Pambudi, S.J., Pater Laurentius Sutarno, S.J., Pater Guido Chrisna Hidayat, S.J. dan Pater Antonius Suhardi Antara, Pr.), para frater Jesuit,  300 pelari (kategori 5k dan 10k) dan 9 pelari (kategori 80k). Event ini mendapatkan berjalan dengan lancar atas dukungan luar biasa dari kawasan industri JABABEKA, Romo – Frater Jesuit, Paroki Ibu Teresa Cikarang, dan sponsorship, antara lain dari Yayasan Adeline, IKAMI (ikatan Alumni Mikael), PT ATMI Mikael Fortuna, Memory Furniture, RS Permata Keluarga, dan lain sebagainya. Perasaan bahagia, haru, dan penuh semangat bercampur saat pelari-pelari mencapai garis finish. Peserta lari tidak mengejar penghargaan karena acara ini dikemas dalam bentuk charity run. Mereka berlari dengan segala keikhlasan karena sebagian dari uang pendaftaran untuk donasi pendidikan tinggi vokasi.   Salah satu hal yang menarik dalam kegiatan ini adalah perjuangan sembilan pelari 80k yang berlari dalam waktu 24 jam yaitu Ardi Nugroho (Komunitas Playon ATMI Cikarang), Hugo Avianto (Canirunners), Caroline F. Sunarko (Recisrunners), Soetrisno (Michael Runners), Agus Murcahyono (JB Playon), Patric Priya Darmanto (JB Playon, Michael Runner), George Surjopurnomo (Canirunners), Yoyok (JB Playon, Michael Runners), dan Edoardo (Gonz Runners). Mereka belum memiliki pengalaman dalam berlari 80k tetapi mereka memiliki keyakinan bahwa mereka mampu menyelesaikan sampai finish. “Pengalaman yang luar biasa buat saya, sesuatu yang dilakukan dengan keteguhan hati dan atas kehendak Allah tidak ada yang mustahil. Proficiat bagi kita semua. Always be a Man and Woman for others,” ujar Ardi Nugroho, pelari 80k LAUDATOSI.  Donasi yang terkumpul dari event LAUDATOSI ini akan diberikan kepada para mahasiswa Politeknik Industri ATMI dari keluarga prasejahtera. Pemberian beasiswa untuk keluarga pra sejahtera ini, salah satunya kita salurkan melalui Program ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah) Keuskupan Agung Jakarta. Kontributor: Fransisca Victoria – Humas Politeknik Industri ATMI Cikarang