Membawa Api Iman di CC Ketapang

Date

Catholic Centre (CC) Ketapang pada 24 – 26 Agustus 2022 mengadakan lokakarya kaderisasi angkatan 1 tahap ke-2. Lokakarya ini adalah kelanjutan dari lokakarya sebelumnya yang bertema peran awam dalam hidup menggereja. Dengan konteks ini, Gereja ingin mengajak para imam dan juga umat di wilayah Keuskupan Ketapang untuk menyadari pentingnya kolaborasi dalam hidup beriman. Ini terjadi mengingat di Keuskupan Ketapang jumlah imam dan panggilan masih sangat sedikit sehingga sangat diperlukan keterlibatan awam untuk membantu berjalannya pelayanan di tingkat paroki. Tentu saja, hal ini dapat berjalan mulus ketika umat menyadari bahwa iman harus dikembangkan bersama-sama atau dengan kata lain, perkembangan iman bukanlah semata-mata hanya tugas imam. 

Kaderisasi tahap kedua ini hendak menggarisbawahi timbulnya keyakinan bahwa paroki membutuhkan kolaborasi. Hal inilah yang dikembangkan dalam kaderisasi tahap kedua di mana mereka diajak untuk merasakan pentingnya kehadiran dan kebersamaan satu sama lain yang saling menguatkan. Mereka diajak untuk saling menciptakan support system di lingkungan paroki yang akan menguatkan pelayanan gerejawi. 

Peserta mendengarkan dengan antusias pemaparan dari pembicara.
Dokumentasi : CC Ketapang

Dalam lokakarya tahap kedua ini, semua peserta diajak untuk mengandalkan Tuhan dengan menyadari kekuatan spiritualitas kekatolikan. Arahnya adalah peserta dapat menemukan Tuhan dalam berbagai pelayanan bersama sehingga mereka tetap mampu berdinamika dalam parokinya masing-masing. Mereka diajak untuk memiliki keterampilan berkomunikasi dan juga mendengarkan karena ini menjadi skill dasar yang patut dimiliki setiap orang. Untuk pengembangan skill ini, CC Ketapang mengundang Lawrence Chandra dari katolikvidgram untuk memberikan pengetahuan dasar dalam berkomunikasi, mendengarkan, manajemen waktu, dan menggali potensi dari orang-orang yang kita hadapi. Peserta sangat antusias dengan kehadiran beliau karena mereka mendapatkan ilmu baru untuk berhadapan dengan umat yang “sulit” atau umat yang mulai meninggalkan Gereja. 

Di malam terakhir kegiatan ini, peserta diajak untuk membangun sebuah kolaborasi dengan mengadakan Ibadat Syukur Kreatif. Mereka dengan antusias menciptakan bentuk-bentuk kreatif dalam beribadat. Ada yang menyimbolkannya dalam bentuk tarian, minuman, air, dan berbagai hal lainnya. Di sini mereka sama-sama berperan dan mengusahakan diri untuk berbagi rahmat Tuhan melalui doa-doa. Ibadat ini berjalan selama dua jam lebih dan para peserta sama sekali tidak merasakan kebosanan. Iman yang muncul dari kolaborasi yang kreatif yang bersumber pada rahmat Tuhan tidak akan mengalami kebosanan, melainkan selalu memunculkan hasrat untuk berkembang dan semakin berpasrah kepada Tuhan. 

Acara ini ditutup dengan misa syukur bersama Uskup Ketapang, Bapak Uskup Pius Riana Prapdi. Bapak Uskup berpesan lewat bacaan Injil tentang lima wanita bijak dan lima wanita bodoh. Baginya, para peserta diharapkan untuk menjadi seperti wanita bijak yang selalu sedia mempersiapkan minyak agar tidak ketinggalan momen. Menurut Bapak Uskup, minyak adalah pengalaman iman yang dibawa terus-menerus setiap saat sehingga hidup kita tidak akan mati dan terus menerangi banyak orang. Pengalaman wanita bodoh adalah pengalaman yang menyatakan cukup memiliki satu pengalaman saja dan itu tidak dimunculkan menjadi iman yang menguatkan dirinya dan sesama. 

Kontributor: Pater Advent Novianto, S.J.

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.