Pilgrims on Christ’s Mission

Prompang

Panggilan Profetis dan Siap Sedia

Dalam satu tubuh Serikat Jesus terdapat sepasang sayap, yaitu sayap para imam dan sayap para bruder. Keduanya sama-sama mempunyai peran penting. Betapa pun tubuh Serikat berciri klerikal, namun para Bruder ikut serta dalam imamat umum umat beriman (imamat baptisan). Jati diri imamat dikembalikan pada pelayanan, bukan hanya status. Panggilan Bruder di sini memberi sumbangan akan aspek perutusan (misioner), kemendasaran identitas panggilan (to be, more than to do). Ada dua ciri dasar yang menyertai yaitu profetis dan kesiapsediaan. Kedua ciri ini menjadi landasan pelayanan. Bukan semata apa yang kita lakukan atau perbuat, namun siapa kita ini, jati diri, dan hidup kita. Kesadaran akan identitas Bruder Jesuit di atas menjadi salah satu tema yang didalami saat pertemuan para bruder Provindo. Selain studi bersama, ada juga kegiatan outing dan rekoleksi untuk merenungkan kisah hidup St. Alfonsus Rodriguez, pelindung Para Bruder Jesuit. Pertemuan ini dihadiri oleh tujuh belas bruder, dua novis bruder, dan Pater Krispurwana Cahyadi, S.J. sebagai pendamping. Pada hari pertama pertemuan, para bruder saling berbagi suka-duka dalam perutusan. Br. Rajak Spendoyo, S.J. membagikan pengalaman karyanya di Rumah Retret Civita. Ia menceritakan tantangan pandemi yang menerpa karya rumah retret dan strategi apa saja yang dapat dilakukan untuk tetap dapat menjalankan karya tersebut. Br. Norbertus Mujiyana, S.J. menceritakan pengalaman perutusannya di Seminari Mertoyudan yang tak lepas dari pergumulan menghidupi panggilan sebagai bruder Jesuit di tengah para siswa yang bercita-cita menjadi imam. Masih banyak lagi kisah-kisah suka duka para bruder. Jika tertarik untuk mendengarkannya, bisa langsung menjumpai para Bruder Jesuit. Pada hari kedua, dua belas bruder ber-outing ria ke Sidomukti Bandungan sembari menikmati kopi dan pemandangan yang indah. Para bruder dapat bercengkrama dengan penuh keakraban. Yang menarik, meski rentang usia antar bruder terpaut cukup jauh, namun rasanya tidak ada jarak. Yang muda bisa dengan mudah bercengkrama dengan yang senior dan sebaliknya. Sorenya, di hari yang sama, para bruder berkumpul lagi di Girisonta untuk membahas strategi Promosi panggilan Bruder SJ. Ada beberapa ide dan gagasan yang muncul, yaitu (1) panggilan menjadi Jesuit adalah panggilan yang utama sedangkan menjadi bruder dan imam adalah sarana. Oleh karena itu, panggilan menjadi bruder semestinya juga menjadi tanggung jawab semua Jesuit. Pandangan yang keliru adalah bahwa panggilan bruder itu berarti yang bertanggungjawab hanyalah para bruder saja. (2) Para bruder perlu terlibat secara lebih aktif ke luar, bertemu dengan semakin banyak orang, khususnya orang muda, agar panggilan bruder semakin dikenal. Misalnya, membentuk tim kecil untuk mengisi kegiatan-kegiatan retret, rekoleksi, live in bagi para siswa kolese atau pun sekolah-sekolah lain. (3) Perlu meningkatkan atau mengintensifkan lagi kegiatan kunjungan ke keluarga-keluarga (baik itu keluarga Jesuit maupun umat) dan menjadikan keluarga sebagai basis panggilan dalam hidup menggereja, khususnya untuk panggilan bruder Jesuit. Malam harinya Pater Krispur, S.J. memberikan puncta permenungan yang berisikan poin-poin penting pertemuan para bruder di Roma serta bahan-bahan audiensi para bruder dengan Pater Jenderal dan Paus Fransiskus. Di hari ketiga, para bruder lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdoa dan sharing mengenai (1) Apa yang membuat saya bangga dan bahagia sebagai bruder? (2) Bagaimana saya bisa semakin belajar menjadi kecil, memberi dari yang sedikit, dan setia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan biasa dan harian dalam kesederhanaan? dan (3) Bagaimana kehadiran bruder dapat semakin menumbuhkan tubuh rasuli Serikat, dan menyuburkan panggilan Jesuit (juga kesuburan hidup para imam)? Di hari terakhir ini, para bruder merayakan sukacita pertemuan dengan perayaan Ekaristi peringatan St. Alfonsus Rodriguez, S.J. di Kapel Domus Patrum Novisiat St. Stanislaus Kostka. Para bruder sepakat bahwa kerendahan hati dan kesederhanaan keutamaan yang harus diusahakan dan diteladani dari St. Alfonsus. Sebelum misa, para bruder berfoto bersama terlebih dahulu. Istimewanya, kali ini semua bruder mengenakan jubah. Selamat Pesta St. Alfonsus Rodriguez, S.J. Kontributor: Br. Antonius Dieng Karnedi, S.J. – Prompang SJ

Prompang

Perjumpaan dengan Jesuit di Paroki Sukasari Bogor & Kolese de Britto

Perjumpaan pertama selalu menjadi peristiwa penting yang akan menentukan langkah selanjutnya. Jika perjumpaan pertama tersebut menyentuh sanubari seseorang, biasanya dia akan melanjutkannya ke relasi yang lebih dalam. Akan tetapi, jika tidak menyentuh, maka orang tersebut cepat atau lambat akan menjauh dan berhenti pada perjumpaan itu saja. Acara “Expo Panggilan” di Paroki Santo Fransiskus Asisi Sukasari Bogor dan Edufair di SMA Kolese de Britto Yogyakarta menjadi kesempatan bagi para Jesuit untuk membuat perjumpaan-perjumpaan, bahkan mungkin perjumpaan pertama. Perjumpaan ini menjadi kesempatan untuk saling memperkenalkan diri dan semoga menjadi pondasi relasi yang lebih dalam dengan berbagai pribadi dari latar belakang berbeda, termasuk juga para religius dari berbagai ordo/ tarekat/ diosesan. Dalam kesempatan inilah masing-masing pribadi dapat saling mengenal dan mengetahui keunikannya. Acara “Expo Panggilan” di Paroki Sukasari, Bogor diadakan pada Jumat, 14 Oktober 2022 hingga Minggu, 16 Oktober 2022. Empat Jesuit dari Kolese Hermanum (Frs. Cahyo, Mikael, Hari, dan Yohan) berpartisipasi dalam acara ini. Acara ini juga diadakan dalam rangka memeriahkan rangkaian acara Hari Ulang Tahun (HUT) Paroki Santo Fransiskus Asisi Sukasari Bogor ke-60. Ada beberapa komunitas religius lainnya yang juga hadir dalam acara ini, yaitu para religius dari OFM, FMM, RGS, SFS, PRR, Seminari Tinggi Petrus Paulus Bogor, dan Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Setelah saling berkenalan satu sama lain di aula paroki, para peserta expo ini menjalani live in di rumah-rumah umat. Selama live in, kami menikmati setiap perbincangan dengan anggota keluarga dan ikut berdinamika dalam kegiatan lingkungan. Dalam dinamika inilah, kami dapat saling meneguhkan setiap peran dan panggilan hidup kami masing-masing. Sabtu, 15 Oktober 2022, semua peserta live-in berkumpul kembali di aula paroki untuk mempersiapkan stand yang disediakan untuk masing-masing ordo/ tarekat religius. Setiap komunitas religius menunjukkan daya kreatifnya dalam mengatur, menata, dan menghias stand-nya. Setiap stand memiliki kekhasannya masing-masing. Jesuit menampilkan stand dengan konsep “Ngopi bareng Jesuit”. Ada beberapa menu andalan di dalamnya, seperti “Kopi Gratis,” “Ngobrol Asyik,” “Foto Narsis,” dan “Tik-Tok Eksis”. Tampaknya konsep “Ngopi bareng Jesuit” cukup menarik dan memikat perhatian umat. Banyak umat dari berbagai kalangan datang ke stand Jesuit. Ternyata banyak dari mereka yang belum mengetahui siapa itu Jesuit dan apa itu Serikat Jesus. Wajarlah kalau belum banyak yang tahu karena saat ini Ordo Serikat Jesus tidak hadir dan berkarya secara langsung di Keuskupan Bogor. Pada waktu yang bersamaan, kegiatan perjumpaan dengan Jesuit juga dilaksanakan di SMA Kolese de Britto pada Sabtu-Minggu, 15-16 Oktober 2022 dalam kegiatan edufair. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi Tim Promosi Panggilan (Prompang) SJ Yogyakarta untuk membuka stand sebagai ruang perjumpaan antara Jesuit dan para siswa Kolese de Britto. Beberapa Jesuit yang terlibat dalam acara ini yaitu Frs. Andre, Adit, Danang SJ. Hadir juga Pater Pieter Dolle, S.J., Pater Edy Anthony, S.J., dan Bruder Ulrig Jumeno, S.J. Dalam perjumpaan ini, Tim Prompang SJ berharap agar corak atau model hidup religius juga bisa menjadi salah satu pilihan dan cara hidup masa depan bagi para alumni Kolese de Britto. Para siswa Kolese de Britto terlihat antusias mengunjungi stand Prompang SJ. Kehadiran Buder Jumeno dalam acara tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa di sana untuk mengenal bahwa dalam Serikat Jesus juga terdapat panggilan menjadi seorang bruder yang sama pentingnya dengan panggilan sebagai imam. Antusiasme para siswa juga ditunjukkan dengan rasa ingin tahu yang tinggi akan Spiritualitas Ignatian, Autobiografi Santo Ignasius, dan informasi-informasi penting lainnya mengenai Serikat Jesus. Untuk mendukung suasana perjumpaan, acara di Yogyakarta juga diwarnai “Ngopi bareng Jesuit”. Sembari ngopi bersama, para siswa dapat berjumpa dan bincang-bincang santai dengan para Jesuit. Salam “sruput” dari Tim Prompang Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Kontributor: Frs. Mikael Tri Karitasanto, S.J. & Ag. Lanang Panji Cahyo, S.J. – Prompang SJ

Feature

Pengalaman Baru Penuh Cinta 

Refleksi ini saya awali dengan ungkapan syukur kepada Tuhan karena boleh dipercaya untuk mewakili SMA Kolese de Britto dalam menjalin hubungan internasional melalui program live in pegawai de Britto di sekolah luar negeri. Perasaan dominan saya sebelum berangkat adalah tertantang, sedangkan setelah pulang adalah senang. Sebagai pegawai di Yayasan de Britto, saya pernah mendengar cerita dan menyaksikan para guru dikirim ke luar negeri untuk acara-acara tertentu. Dengan kecintaan saya dalam mempelajari Bahasa Inggris, tentu saya berharap mendapat kesempatan untuk bertugas ke luar negeri. Saya merasa tertantang, saat Pak Catur selaku kepala sekolah memanggil saya dan menyampaikan bahwa saya adalah salah satu guru yang ditunjuk menjadi peserta live in di luar negeri. Persiapan demi persiapan saya lalui dengan antusias. Kurang lebih enam bulan diliputi dengan perasaan yang tak menentu karena situasi pandemi yang membuat syarat-syarat perjalanan bisa berubah-ubah kapan saja tergantung kondisi. Ada kemungkinan bisa berangkat dan tidak berangkat yang sangat tipis. Saya kerap kali membawanya dalam doa. Apalagi H-1 menjelang keberangkatan tiba-tiba mendapat kabar bahwa kami harus menjalani PCR sebagai syarat keberangkatan. Walaupun akhirnya puji Tuhan kami semua dinyatakan negatif covid, sehingga kami bisa berangkat. Senin siang, 20 Juni 2022 sekitar pukul 12.00 WIB akhirnya kami berangkat ke negara tujuan. Saya adalah salah satu dari tiga rekan yang ditugaskan ke Joseph Upatham School (JS) Thailand. Sesampainya di tujuan, kami langsung disambut hangat, seolah-olah kami telah lama saling kenal, oleh Ibu Rorik. Beliau adalah guru di JS yang berasal dari Jogja. Hal ini membawa ketenangan tersendiri bagi saya karena walaupun di negara asing namun kami bisa berkomunikasi dengan bahasa ibu kami. Penyambutan hangat dimulai. Ibu Rorik langsung memberikan pengalaman mencoba makanan khas Thailand dengan mengajak kami makan malam di sebuah foodcourt di salah satu swalayan besar di sana. Kami pun mulai menyesuaikan dengan rasa makanan di sana. Selanjutnya kami diajak untuk berbelanja kebutuhan karena esoknya kami diminta untuk melakukan karantina mandiri sebelum berkegiatan di lingkungan sekolah JS. Kami beruntung karena mendapat fasilitas penginapan khusus tamu sekolah yang letaknya berada di dalam kompleks sekolah. Kami sangat terkejut melihat infrastruktur JS yang sangat luas dan banyak gedung-gedung tinggi. Sayangnya, saat itu kami disambut dengan hujan yang sangat lebat. Di awal masa karantina, beberapa orang dari JS mendatangi kami untuk menjelaskan proses distribusi makanan kami sehari-hari nantinya. Pada saat karantina ini kami mendapat jadwal kegiatan selama satu minggu ke depan secara detail. Di hari pertama tertulis bahwa kami akan diberi waktu untuk memperkenalkan diri dan institusi. Kami mencoba menyusun bahan untuk presentasi di acara penyambutan di hari pertama tersebut. Kami memutuskan untuk banyak bercerita tentang kegiatan formasi di de Britto. Rabu, 22 Juni 2022, kami bersiap berangkat menuju ke sekolah. Kami kembali tertegun saat memasuki lingkungan sekolah dengan kantin yang sangat luas dan pembayaran secara cashless. Kami sarapan di kantin dengan diberi fasilitas kartu sebagai alat pembayaran. Pada acara penyambutan ini, kami disambut oleh para romo dan para guru yang merupakan direksi dari berbagai unit sekolah di JS. Kami senang ketika pihak JS sudah membuatkan kartu anggota JS bagi kami masing-masing yang bisa dipakai selama program ini. Sungguh saya merasa benar-benar diterima dan tidak merasa sebagai orang asing ketika berada di lingkungan JS. Setelah penyambutan selesai, kami pun langsung diberi waktu untuk refreshing dengan mengunjungi sebuah tempat wisata yang tidak jauh dari lokasi JS yaitu Elephant Ground and Zoo. Beberapa guru pun bersedia menemani kami. Di hari kedua, kami mulai berkegiatan di kelas untuk melakukan observasi. Saya berkesempatan untuk masuk ke kelas Matematika di kelas gifted (siswa dengan kemampuan akademik excellent), kelas English Program (EP), dan JS-girls (sekolah khusus untuk perempuan). Setiap pagi, biasanya akan ada upacara bendera di setiap unit. Pada kesempatan itulah kami diminta untuk memperkenalkan diri kepada warga sekolah. Saya mendapatkan banyak pengalaman berharga setiap melakukan observasi di kelas. Kelas pertama yang saya kunjungi adalah kelas gifted, tidak heran jika guru mengajar dengan ritme cepat dan soal-soal dengan tingkat kesulitan sukar. Para siswa terlihat sangat memperhatikan pembelajaran. Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan kuis singkat. Segera setelah siswa selesai mengerjakan guru langsung berkeliling dan memberikan feedback. Di kelas ini para guru mengajar dalam bahasa Thai, maka saya didampingi oleh Mr. Ta yang membantu saya untuk menjelaskannya dalam Bahasa Inggris. Selanjutnya saya masuk kelas di program EP, di sini para guru menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Kami berkesempatan masuk ke kelas Science bersama guru dari luar Thailand. Pembelajaran Science itu sangat menarik, para siswa langsung bereksperimen dan guru telah memberikan beberapa kata kunci yang akan dibahas sambil menekankan kosakata istilah tersebut juga dalam Bahasa Inggris. Di program ini, saya mendapati para guru menanyakan hal yang sama selama pembelajaran, “Apakah anda mengikuti saya?” Ini semacam pertanyaan untuk memastikan apakah para siswa masih fokus dalam pembelajaran. Hari Senin kami berkesempatan masuk ke kelas di JS-girls. Berbeda dengan hari sebelumnya di mana kami banyak berinteraksi dengan guru, di unit ini sekolah meminta beberapa siswinya untuk menemani kami saat melakukan observasi. Para siswi ini menunjukkan sikap sangat antusias ketika bersama kami. Saya berkesempatan menanyakan banyak hal kepada para siswi ini, dari hal sederhana mengapa nama panggilan mereka tidak mesti diambil dari nama panjangnya, sampai pertanyaan bagaimana para guru di JS mengajar mereka. Para siswi ini bercerita layaknya kita saling kenal dan rupa-rupanya mereka mengatakan bahwa ini memang kultur mereka. Saya merasa mereka adalah siswi-siswi saya. Di unit JS-girls, saya mencoba berkomunikasi dengan salah satu guru di sana. Saya menanyakan tentang projek di kelas matematika. Guru tersebut langsung mengarahkan ke Ruang Matematika (Math Room) atau seperti Laboratorium Matematika. Di sana saya ditunjukkan hasil proyek dari siswa yang mengikuti “Math Camp.” Guru tersebut menyampaikan hanya siswa yang memiliki ketertarikan pada Matematika saja yang bergabung dalam pembuatan proyek matematika. Saya tertarik untuk mencoba salah satu proyek yaitu Math Art. Guru tersebut dengan senang hati menyiapkan bahannya dan meminta saya untuk kembali lagi setelah istirahat. Singkatnya, saya bersama guru matematika tersebut berkolaborasi membuat pola kurva dengan media kertas, benang, dan jarum. Proyek yang sederhana namun mampu menunjukkan bahwa matematika dekat dengan kehidupan kita. Para guru dan siswa di sana sangat “low profile“. Saya melihat pribadi-pribadi yang rendah hati dan itu tampak

Feature

Angin Segar dari Arah Jombor

Kegiatan volunteer di SPM (Seksi Pengabdian Masyarakat) Realino bagiku adalah sekolah formasi kehidupan. Sebelum aku mengenal kegiatan mengajar anak-anak dampingan di SPM Realino aku selalu berpikir bagaimana caranya memberi waktu, pikiran, tenaga, dan materi untuk orang lain. Dengan berpikir demikian, tanpa sadar ternyata aku “menutup pintu” bagi orang lain untuk memberi inspirasi pada hidupku. Bagai sedang berada dalam ruangan yang pintunya tertutup sehingga tidak ada sirkulasi udara, seringkali aku merasa pengap dan lelah sendiri. Kemudian, ketika aku ikut kegiatan volunteer di SPM Realino pelan-pelan aku “membuka pintu” dan membiarkan angin segar masuk ke dalam ruanganku. Aku merefleksikan bahwa angin segar yang memasuki ruanganku adalah anak-anak yang selama ini aku dampingi selama menjadi sukarelawan di Realino. Hembusan angin segar datang dari arah Jombor. Sedikit gambaran saja, di sana kami mengajar Bahasa Inggris sederhana bagi anak-anak dampingan. Anak-anaknya sangat bersemangat. Aku masih ingat ketika pertama kali datang ke sana, ada beberapa anak yang menyambut dengan antusias. “Yeay! Kakaknya datang! Mau ngajar Bahasa Inggris, kan Kak?” ucap anak kecil yang kini kukenal bernama Syafa. Aku merasakan semangat yang besar sejak awal kedatanganku. Mereka mudah untuk diajak bermain. Mereka juga mudah untuk dikondisikan saat pembelajaran akan dimulai. Mereka juga antusias ketika ada soal yang sengaja kami siapkan untuk menguji materi pembelajaran yang sudah kami sampaikan. Suatu kali, bahkan ada anak yang meminta lembar soal lagi untuk dikerjakan di rumah. Yang membuatku lebih terkesan lagi adalah semangat itu tidak hanya besar di awal lalu mengecil kemudian. Tiap kali datang ke sana, semangat itu selalu aku temukan pada diri anak-anak dampingan. Semangat belajar anak-anak dampingan di Jombor konsisten. Pernah terjadi saat hari pendampingan (Kamis) diliburkan karena para volunteers ada agenda lain. Kemudian di hari Kamis selanjutnya mereka bertanya, “Kok kemarin (minggu lalu) gak dateng kenapa, Kak?” Pengalaman lain, pada bulan Desember 2021, ada beberapa anak yang mengungkapkan kesedihannya setelah Pater Pieter Dolle, S.J. mengumumkan bahwa pendampingan harus libur sejenak dan akan bertemu lagi pada akhir bulan Januari 2022. “Yah, kak, kenapa harus libur?” ucapnya. Jujur saja, konsistensi semangat mereka mengingatkan aku pada masa-masa di mana semangatku berkobar tetapi kobarannya tidak bertahan lama. Aku biasanya menyebut semangat obor blarak. Ketika aku sedang on fire semua pekerjaan atau tugas bisa diselesaikan dengan mudah. Tetapi, ketika sedang padam fire-nya semua pekerjaan atau tugas bisa terbengkalai atau ditunda-tunda terus. Aku merasa kalah dari anak-anak dampinganku yang mempunyai semangat yang konsisten, tidak sangat berkobar tapi kobarannya juga tidak pernah mengecil hingga hampir padam. Ketika merefleksikan pengalaman melihat konsistensi mereka selama kurang lebih setahun ini, aku bertanya mengapa semangat anak-anak dampingan di Jombor begitu konsisten? Barangkali karena pintu (baca: diri) mereka selalu terbuka pada apa yang sedang mereka hadapi. Bisa saja, sebelum datang ke tempat pendampingan, mereka sedih karena bertengkar dengan temannya. Bisa saja, mereka sedang tidak mood hari itu. Akan tetapi mereka tidak larut pada perasaan-perasaan negatif itu. Mereka terbuka pada apa yang sedang mereka hadapi dan semangat mereka terbangun lagi. Ketika datang ke tempat pendampingan, mereka semangat karena barangkali materi-materi yang volunteer bawakan itu menarik. Mungkin juga karena mereka bisa bermain. Karena mereka bisa belajar Bahasa Inggris dengan menyenangkan. Karena mereka bisa bertemu dengan teman-teman mereka dan kami para volunteer yang datang. Karena mereka bisa mengerjakan soal. Banyak hal. Aku tidak tahu pasti yang mana penyebabnya karena pasti berbeda dari hari ke hari. Yang aku tahu semangat mereka konsisten karena mereka terbuka pada apa yang sedang mereka hadapi. Mereka tidak larut pada perasaan-perasaan negatif. Barangkali inilah yang dimaksud dalam Kitab Suci dimana dikatakan “jadilah seperti anak kecil.” Terima kasih, angin dari Jombor. Hembusan anginmu membuatku tersadar bahwa terlalu larut dalam kekalutan itu hanya membuat semangat hidup padam. Anginmu mengingatkanku untuk terbuka pada hal-hal yang sedang terjadi, jangan terlalu larut dalam kekalutan, agar mampu menemukan hal-hal yang membuat semangat terus konsisten. Kontributor: Fr. Alam Panji Utama, Pr – Frater Projo KAS

Pelayanan Masyarakat

Berlari Bersama, Membangun Harapan Bersama

“Hari ini kami bahagia bersama kalian, bersama orang-orang Indonesia” -Mubarak, Somalia Mubarak, Somalia Sabtu, 24 September 2022—Even Lari Kolese Kanisius pada tahun ini cukup spesial. Bukan hanya karena menjadi even pertama setelah pandemi, tetapi juga dilangsungkan bertepatan dengan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia yang diperingati oleh Gereja Katolik seluruh dunia. Paus Fransiskus menyatakan bahwa tema Hari Migran dan Pengungsi Sedunia 2022, adalah “Membangun Masa Depan dengan Migran dan Pengungsi.” Kegiatan ini diselenggarakan oleh alumni Kolese Kanisius bekerja sama dengan JRS Indonesia dan Suaka Indonesia serta didukung oleh berbagai kalangan. CC5K, demikian kami menyebut kegiatan ini, menandai kolaborasi pertama antara alumni Kolese Kanisius dan Suaka Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak seluruh pihak, termasuk warga Indonesia dan pengungsi, membangun harapan bersama, setidaknya harapan ini diawali dengan lari bersama sejauh lima kilometer. Kegiatan ini ternyata juga membawa kegembiraan bagi para pengungsi yang turut berlari. “Saya sangat menghargai momen ini dan berterima kasih kepada semua staf di JRS dan organisasi lain yang berpartisipasi untuk memastikan bahwa program ini berjalan dengan sukses. Semoga Tuhan memberkati Anda semua.“ kata Dembele (31), seorang pencari suaka asal Pantai Gading. Aktivitas lari dimulai pukul 06.00 pagi dari lapangan Kolese Kanisius yang dibuka secara khusus oleh Rektor Kanisius, Pater Leonardus Evert Bambang Winandoko, S.J., dengan mars Kolese Kanisius dan lagu Indonesia Raya. Peserta yang mengikuti kegiatan ini diperkirakan mencapai sekitar 1.300 pelari di mana 29 diantaranya adalah pengungsi yang berasal dari Somalia, Sudan, Pantai Gading, dan Togo. Para pengungsi tidak perlu membayar biaya pendaftaran karena mereka mendapatkan dukungan pembayaran dari peserta umum. Para pengungsi menyambut baik acara kolaboratif ini. Mubarak, pencari suaka asal Somalia mengatakan, “Hari ini kami bahagia bersama kalian, bersama orang-orang Indonesia. Kami bersyukur dan terima kasih banyak kepada masyarakat Indonesia, JRS, Canirunners, Suaka, telah mengizinkan kami berpartisipasi dalam acara ini dan mengenal lebih banyak orang Indonesia.” Pada kesempatan ini, JRS juga memperkenalkan makanan asal Afghanistan yang dibuat oleh Bolani dan Kheer, pengungsi Afghanistan, yang dibagikan gratis bagi peserta yang turut meramaikan marathon. Selain itu, beberapa karya kerajinan pengungsi di Bogor turut ditampilkan di stand Refutera – JRS. “Lomba CC5K kali ini diselenggarakan dalam rangka membantu, menolong, membela, menyemangati, memanusiakan orang-orang yang tersingkir, terusir dari tempat kelahiran mereka. Orang-orang yang tersingkir itu antara lain dari Sudan, Afghanistan dan banyak lagi. Alhamdulillah wasyukurillah kita telah dapat berbuat sesuatu,” kesan Irwan Ismaun Soenggono, sesepuh Pramuka Kanisius yang juga adalah peserta tertua CC5K. Para pengungsi pun bahagia sebagaimana kesan Michael Maciva, pengungsi asal Nigeria, ”Saya sangat senang mengikuti acara lari ini. Merupakan pengalaman yang luar biasa untuk bertemu dengan banyak teman Indonesia. Kami berharap lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang tahu tentang pengungsi dan kita bisa membangun hubungan yang baik.” Kegiatan ini juga menjadi upaya perwujudan pesan Paus Fransiskus untuk melibatkan pengungsi dalam komunitas lokal sehingga tidak ada seorang pun yang ditinggalkan (No one must be excluded). Berlari bersama pengungsi menjadi kesempatan membuka ruang perjumpaan untuk membangun harapan dan masa depan pengungsi. Kontributor: Melani W. Wulandari & Ishak Jacues Cavin, S.J.

Karya Pendidikan

Michael Day: Berkarya dan Bergerak dalam Kolaborasi Mewujudkan Bakti Mikael untuk Vokasi

Michael Day merupakan sebuah perayaan Santo Pelindung yang setiap tahun dirayakan pada 29 September. Selama pandemi Covid-19, Michael Day dirayakan secara terbatas dan tidak seperti perayaan-perayaan sebelumnya. Maka, di saat pandemi sudah mulai mereda, di tahun 2022 ini perayaan Michael Day diputuskan untuk dirayakan secara lebih meriah. Perayaan Michael Day tahun 2022 kali ini bersamaan dengan perayaan Lustrum XII SMK Mikael dengan tema “Berkarya dan Bergerak dalam Kolaborasi Mewujudkan Bakti Mikael untuk Vokasi”. Secara garis besar, “KOLABORASI” menjadi tema umum Michael Day tahun 2022 ini. Rangkaian kegiatan Michael Day 2022 dimulai dengan beberapa perlombaan dan kegiatan-kegiatan pra-event, antara lain pertandingan bulutangkis yang diikuti oleh beberapa warga Kolese Mikael, pertandingan sepak bola, basket, futsal, dan tenis meja yang menjadi kegiatan olahraga favorit warga Kolese Mikael. Ada pula lomba mewarnai untuk anak-anak warga Kolese Mikael tingkat TK dan SD. Selain itu ada pula lomba fotografi bagi yang mempunyai hobi di bidang fotografi. Untuk lomba fotografi sendiri tema yang diusung adalah “social human interest.” Selain beberapa kegiatan perlombaan pra-event, diadakan pula bhakti sosial berupa pembagian sembako kepada beberapa karyawan purna karya yang sudah lama membaktikan diri bagi Kolese Mikael. Bakti Sosial kepada para purna karya ini juga sebagai tanda terima kasih atas dedikasi dan karya untuk Kolese Mikael. Menjelang acara puncak Michael Day, kelompok Michael Cyclist menyelenggarakan Gowes Michael Day pada 24 September 2022. Rute Gowes Michael Day kali ini mulai dari kampus ATMI Karangasem sampai finish di Pantai Goa Cemara Yogyakarta. Terdapat dua pit stop selama perjalanan jauh itu yaitu di Panti Semedi Klaten dan di kampus ISI Yogyakarta. Gowes Michael Day diikuti oleh banyak orang, tidak hanya karyawan, tetapi juga beberapa alumni anggota kelompok Michael Cyclist. Berbagai persiapan dilakukan saat mendekati acara puncak Michael Day 2022. Kurang lebih 60 orang anggota paduan suara sudah mulai berlatih dengan iringan gamelan dan band dari SMK Mikael. Paduan suara untuk misa puncak Michael Day dan Lustrum XII SMK Mikael juga menjadi tanda kolaborasi dari berbagai unit usaha di Kolese Mikael, antara lain dari Politeknik ATMI, SMK Mikael, PT ATMI SOLO, PT ATMI IGI Center, dan Yayasan Karya Bakti Surakarta. Seluruh warga Kolese Mikael sangat antusias mendukung perayaan Michael Day 2022 mengingat ini adalah perayaan pertama setelah pandemi. Puncak Michael Day 2022 jatuh pada 29 September 2022 yang diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh selebran utama Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Misa puncak Michael Day 2022 dan Lustrum XII SMK Mikael ini begitu meriah dan dihadiri oleh semua warga Kolese Mikael serta beberapa tamu undangan. Kurang lebih dua ribu orang mengikuti Misa Puncak Michael Day 2022 dan Lustrum XII SMK Mikael ini. Selain misa, ada pula kegiatan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) hasil kerja sama dengan Puskesmas Pajang, yaitu pemeriksaan kesehatan (cek tekanan darah, gula darah, tinggi badan, berat badan, dan lemak tubuh) dan edukasi kesehatan penerapan GERMAS. Warga Kolese Mikael yang tidak mengikuti misa dapat mengikuti kegiatan ini. Tidak ketinggalan, KPTT Salatiga ikut memeriahkan Michael Day tahun ini. Setelah perayaan Ekaristi, ada pula lomba mengikir, menggergaji, dan memancing. Para peserta tampak sangat antusias. Mereka menyalurkan rasa rindu mereka kepada Michael Day yang semarak seperti sebelum pandemi. Setelah altar dibersihkan dan diturunkan, maka dimulailah pentas seni yang ditunggu-tunggu. Pentas seni diisi oleh band internal seperti Dadakan Band dari SMK MIKAEL, keroncong Orong Geong dari Politeknik ATMI, serta band bintang tamu. Acara berjalan sangat meriah dan berakhir pukul 15.00 WIB. Selamat merayakan Michael Day 2022…! Kontributor: Ika Hattary Kirana dan Maria Theresia Rika Pangesti – Panitia Michael Day

Kuria Roma

Katekese tentang Discernment atau Pembedaan Roh: Ignatius Loyola Sang Teladan

Paus Fransiskus dalam audiensi publik di Lapangan Santo Petrus-Vatikan pada Rabu, 7 September 2022. Saudara saudari terkasih, selamat pagi. Kita hendak melanjutkan refleksi tentang discernment atau pembedaan roh. Mulai saat ini discernment akan kita bahas setiap hari Rabu. Untuk discernment ini kita mengacu pada satu saksi khusus. Santo Ignatius Loyola memberikan teladan terbaik melalui episode paling menentukan dalam hidupnya. Waktu itu Ignatius harus tinggal di rumah untuk pemulihan cedera kaki karena pertempuran. Untuk menghilangkan rasa jenuh, dia meminta buku-buku bacaan. Sebenarnya ia lebih menyukai kisah-kisah para ksatria, tetapi di rumah itu hanya ada bacaan tentang kisah para kudus. Mulanya ia ragu untuk membaca buku-buku itu. Meski begitu, ia tetap membacanya dan perlahan-lahan mulai menemukan sebuah ‘dunia lain’. Kisah orang kudus dan kisah para ksatria saling tarik-menarik merebut perhatian Ignatius. Dalam kisah orang kudus, ia begitu terpesona oleh sosok Santo Fransiskus dan Santo Dominikus. Timbul keinginan besar dalam hatinya untuk meneladani mereka. Meski demikian, kisah para ksatria nampaknya juga terus memberikan daya tariknya. Jadi, ia merasakan pikirannya bergejolak karena kisah para kudus dan para ksatria sama-sama sangat menarik perhatiannya. Meski demikian, Ignatius mulai melihat beberapa perbedaan. Dalam Autobiografinya, dengan kata ganti orang ketiga, ia menulis, “Ketika ia memikirkan hal-hal duniawi” – dan segala hal tentang keperwiraan, orang mengerti bahwa “itu memberinya kesenangan besar, tetapi setelah itu ia merasa kering dan murung. Sebaliknya, ketika ia berpikir untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem dan hidup hanya dengan makan sayur-mayur dan matiraga, ia merasakan kebahagiaan bukan hanya ketika ia memikirkannya, tetapi juga ketika ia sudah tidak memikirkannya” (Bab 8). Kesemuanya itu memberinya kegembiraan. Ada dua hal yang bisa kita catat dari pengalaman tersebut, yang pertama adalah waktu. Pada awalnya keduniawian itu memang sangat menarik hati, tetapi lama-kelamaan akan kehilangan daya tariknya dan hanya menyisakan kekosongan serta ketidakpuasan. Semuanya tampak kosong. Tetapi sebaliknya, pikiran-pikiran kita yang tertuju kepada Tuhan pada awalnya membuat kita merasa enggan, “Ah, aku tidak mau membaca buku kisah para kudus.” Akan tetapi, sesaat setelah kita membacanya, ternyata kita mengalami semacam rasa damai yang tidak kita ketahui namun berlangsung lama. Kedua adalah titik akhir gagasan. Awalnya situasinya tampak tidak begitu jelas. Muncul perkembangan penegasan atau discernment, misalnya kita memahami apa yang baik bagi kita bukan secara abstrak, secara umum, tetapi secara nyata dalam perjalanan hidup kita. Dalam aturan pembedaan roh atau discernment, buah dari pengalaman mendasar ini adalah bahwa Ignatius meletakkan sebuah premis penting untuk membantu memahami proses ini. “Pada orang-orang yang silih berganti melakukan dosa berat yang satu ke dosa berat lainnya, roh jahat biasanya menggunakan ‘kenikmatan’ untuk menarik minat mereka dan meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Ini membuat mereka terus memikirkan tentang kenikmatan indrawi dan menjebak mereka untuk melakukan dosa lebih banyak sehingga mereka tumbuh dalam kejahatan dan dosa. Sebaliknya, Roh Baik akan menggunakan cara yang berlawanan, menusuk dan menggigit hati nurani melalui proses nalar” (Latihan Rohani 314). Akan tetapi ini memang tidak mudah. Ada sejarah penting yang mendahului seseorang sebelum ber-discernment atau melakukan pembedaan roh. Sejarah ini penting karena kebijaksanaan bukanlah hasil uji laboratorium atau semacam ramalan, fatalisme seperti melemparkan nasib pada dua kemungkinan. Pertanyaan-pertanyaan besar muncul ketika kita telah menempuh perjalanan hidup yang panjang dan kita harus kembali untuk memahami apa yang kita cari. Jika kita membuat sedikit kemajuan dalam hidup, maka dapat diajukan dua pertanyaan reflektif, “Mengapa saya berjalan ke arah ini dan apakah yang saya cari?” Di situlah discernment terjadi. Ketika terluka dan berada di rumah ayahnya, Ignatius tidak pernah berpikir sama sekali tentang Tuhan atau bagaimana ia hendak mengubah hidupnya sendiri. Ia memiliki pengalaman pertamanya tentang Tuhan dengan cara mendengarkan hatinya sendiri yang membalikkan dirinya secara asing atau aneh, yaitu bahwa hal-hal yang pada pandangan pertama terlihat menarik justru membuatnya kecewa, sedangkan hal-hal yang tampak kurang mempesona baginya, ternyata di situ ia menemukan kedamaian abadi. Kita juga memiliki pengalaman semacam ini. Tidak jarang kita mulai memikirkan sesuatu dan kita tetap memikirkan hal tersebut namun akhirnya kita merasa kecewa. Sebaliknya, saat kita berderma, melakukan sesuatu yang baik dan merasakan suatu kebahagiaan, maka pikiran yang baik datang kepada kita. Setelah itu kebahagiaan atau sesuatu yang menggembirakan datang melingkupi kita dan itu menjadi pengalaman milik kita sepenuhnya. Ignatius memiliki pengalaman tentang Tuhan dengan mendengarkan hatinya sendiri dan memunculkan rasa penasaran dalam dirinya. Inilah yang harus kita pelajari, yaitu mendengarkan hati kita sendiri demi mengetahui apa yang terjadi kemudian mengambil keputusan serta membuat evaluasi atas suatu situasi dalam hidup kita. Agar dapat melakukannya, seseorang harus mendengarkan hatinya sendiri. Kita menonton televisi, mendengarkan radio, telepon genggam dan kita ini ahli dalam mendengarkan, tetapi saya ingin bertanya kepada Saudara sekalian, “Apakah kita tahu cara mendengarkan hati kita? Ataukah kita berhenti bertanya “Bagaimana situasi hati saya? Apakah puas, sedih, ataukah sedang mencari sesuatu?” Agar mampu membuat keputusan yang baik, kita perlu mendengarkan hati kita. Inilah mengapa Ignatius terus menyarankan kita membaca kisah hidup orang-orang kudus. Hal itu karena kisah-kisah tersebut menunjukkan cara Tuhan bekerja dalam hidup orang-orang yang tidak jauh berbeda dengan kita dengan narasi yang dapat dipahami. Bukankah orang-orang kudus juga tercipta dari daging dan darah seperti kita. Tindakan mereka menjadi teladan kita, dan keteladanan itu membantu kita memahami maknanya. Dalam episode terkenal mengenai dua perasaan Ignatius ketika membaca kisah tentang ksatria dan tentang kehidupan para santo, kita dapat mengenali aspek penting lainnya dari pembedaan roh seperti telah saya sebut terakhir. Ada semacam keacakan yang jelas dalam peristiwa hidup, yaitu bahwa segala sesuatu tampaknya berasal dari peristiwa biasa. Tidak ada buku tentang ksatria melainkan hanya ada buku-buku tentang kehidupan orang kudus. Namun demikian, itu menjadi sebuah peristiwa yang memunculkan titik balik. Hanya beberapa waktu setelah Ignatius menyadari hal ini, lantas ia mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap hal itu. Sungguh Tuhan bekerja melalui peristiwa yang tidak direncanakan dan terjadi secara kebetulan. Kebetulan hal ini terjadi pada saya. Kebetulan saya bertemu orang ini. Kebetulan saya menonton film ini. Semua itu tidak kita rencanakan. Namun demikian, Tuhan bekerja melalui peristiwa yang tidak direncanakan dan bahkan melalui kemalangan. “Seharusnya saya bisa berjalan-jalan tetapi kaki saya terluka parah, saya tidak bisa …”. Kemalangan: apa yang dikatakan Tuhan kepadamu? Apa yang sebenarnya hidup ingin katakan? Hal ini juga

Pelayanan Spiritualitas

Pendalaman Spiritualitas Ignatian: Ziarah dalam Gelisah

Dalam rangka memperkenalkan tiga buku baru karya Pater G.P. Sindhunata, S.J. (Anak-anak Ignatius, Jalan Hati Jesuit, dan Sisi Sepasang Sayap), Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) bekerja sama dengan Yayasan BASIS dan Serikat Jesus Provinsi Indonesia mengadakan acara “Pendalaman Spiritualitas Ignatian” secara berseri dalam tujuh kali pertemuan (hybrid: onsite dan online). Tema besar yang diangkat dalam pendalaman ini ialah “Ziarah dalam Gelisah: Berdamai dengan Diri dalam Perspektif Spiritualitas Ignatian.” Selain untuk mempromosikan tiga buku di atas, acara ini juga bertujuan untuk: (1) mengenalkan kepada umat siapakah Jesuit, biarawan yang berziarah di dunia sebagai penggembala umat, pelayan sosial, pembimbing rohani, pendidik, peneliti, filsuf, teolog, dan budayawan. Dalam bidang karya yang bermacam-macam itu, para Jesuit tetap digerakkan oleh satu semangat yang sama: Latihan Rohani. Dalam semangat itulah, para Jesuit dipanggil untuk menemukan Tuhan dalam segala; (2) Mengenalkan kepada umat Spiritualitas Ignatian yang bersumber dari Latihan Rohani. Spiritualitas Ignatian sendiri sangat dekat dengan kehidupan umat sehari-hari. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Spiritualitas Ignatian sebenarnya adalah semacam spiritualitas awam. Dalam arti itu, umat diharapkan dapat menemukan diri dalam berbagai pergulatan dan tantangan, dan kemudian dipanggil untuk berziarah menemukan Tuhan dalam segala, apapun tugas dan pekerjaan mereka; (3) Mendukung Promosi Panggilan Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Acara ini diadakan setiap hari Jumat minggu kedua dan keempat, mulai dari bulan September sampai dengan Desember 2022, di beberapa paroki Jesuit di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Agung Semarang, serta di Perkumpulan Strada. Para pembicara yang akan mengisi setiap seri dalam acara ini antara lain: Pater Franz-Magnis Suseno, S.J.; Pater A. Setyo Wibowo, S.J.; Pater Antonius Sumarwan, S.J.; Pater P. Sunu Hardiyanta, S.J.; Pater O. Bei Witono, S.J.; Pater G.P. Sindhunata, S.J. dan Pater B. Hari Juliawan, S.J. Sejauh ini, acara sudah berlangsung sebanyak dua seri. Dari dua seri awal ini, kami menangkap antusiasme yang cukup besar dari umat yang hadir baik secara onsite (110-an) maupun online (180-an) di setiap seri. Seri pertama dilangsungkan di Paroki St. Theresia Jakarta dengan pembicara Pater Franz-Magnis Suseno, S.J. dan host Monica Maria Meifung. Pada seri pertama ini, Pater Magnis, S.J. mengajak para peserta untuk berziarah, bertekun, dan bersetia tanpa lelah dalam menghadapi aneka tantangan zaman ini. Sementara itu, seri kedua dilangsungkan di Paroki Katedral Jakarta dengan pembicara Pater A. Setyo Wibowo, S.J. dan host Ayu Utami. Di akhir acara, host memberikan highlight atas sharing dan peneguhan dari Pater Setyo, S.J. “Kita semua gelisah dan dalam kegelisahan itu kita tetap bisa menemukan makna hidup. Setiap orang memiliki bakat yang harus diterima dengan sikap netral. Sekalipun bakat itu tidak dihargai oleh orang lain, kita tetap perlu menemukan kepenuhan dari bakat itu.” Seluruh rekaman acara dari kedua seri ini dapat diakses di kanal Youtube “Jesuit Indonesia”, “Gramedia Pustaka Utama,” dan Komsos Paroki setempat. Berikut terlampir poster acara untuk lima seri ke depan. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam membantu pelaksanaan acara ini, terutama kepada Pastor Paroki (dan Pastor Rekan) St. Theresia dan Katedral, Jakarta, yang telah menyediakan ruangan, fasilitas pendukung, dan perangkat komunikasi visual. Kontributor: Antonius Siwi Dharma Jati, S.J.