Pengalaman Baru Penuh Cinta 

Date

Refleksi ini saya awali dengan ungkapan syukur kepada Tuhan karena boleh dipercaya untuk mewakili SMA Kolese de Britto dalam menjalin hubungan internasional melalui program live in pegawai de Britto di sekolah luar negeri. Perasaan dominan saya sebelum berangkat adalah tertantang, sedangkan setelah pulang adalah senang.

Sebagai pegawai di Yayasan de Britto, saya pernah mendengar cerita dan menyaksikan para guru dikirim ke luar negeri untuk acara-acara tertentu. Dengan kecintaan saya dalam mempelajari Bahasa Inggris, tentu saya berharap mendapat kesempatan untuk bertugas ke luar negeri. Saya merasa tertantang, saat Pak Catur selaku kepala sekolah memanggil saya dan menyampaikan bahwa saya adalah salah satu guru yang ditunjuk menjadi peserta live in di luar negeri.

Persiapan demi persiapan saya lalui dengan antusias. Kurang lebih enam bulan diliputi dengan perasaan yang tak menentu karena situasi pandemi yang membuat syarat-syarat perjalanan bisa berubah-ubah kapan saja tergantung kondisi. Ada kemungkinan bisa berangkat dan tidak berangkat yang sangat tipis. Saya kerap kali membawanya dalam doa. Apalagi H-1 menjelang keberangkatan tiba-tiba mendapat kabar bahwa kami harus menjalani PCR sebagai syarat keberangkatan. Walaupun akhirnya puji Tuhan kami semua dinyatakan negatif covid, sehingga kami bisa berangkat.

Senin siang, 20 Juni 2022 sekitar pukul 12.00 WIB akhirnya kami berangkat ke negara tujuan. Saya adalah salah satu dari tiga rekan yang ditugaskan ke Joseph Upatham School (JS) Thailand. Sesampainya di tujuan, kami langsung disambut hangat, seolah-olah kami telah lama saling kenal, oleh Ibu Rorik. Beliau adalah guru di JS yang berasal dari Jogja. Hal ini membawa ketenangan tersendiri bagi saya karena walaupun di negara asing namun kami bisa berkomunikasi dengan bahasa ibu kami. Penyambutan hangat dimulai. Ibu Rorik langsung memberikan pengalaman mencoba makanan khas Thailand dengan mengajak kami makan malam di sebuah foodcourt di salah satu swalayan besar di sana. Kami pun mulai menyesuaikan dengan rasa makanan di sana. Selanjutnya kami diajak untuk berbelanja kebutuhan karena esoknya kami diminta untuk melakukan karantina mandiri sebelum berkegiatan di lingkungan sekolah JS. Kami beruntung karena mendapat fasilitas penginapan khusus tamu sekolah yang letaknya berada di dalam kompleks sekolah. Kami sangat terkejut melihat infrastruktur JS yang sangat luas dan banyak gedung-gedung tinggi. Sayangnya, saat itu kami disambut dengan hujan yang sangat lebat.

Di awal masa karantina, beberapa orang dari JS mendatangi kami untuk menjelaskan proses distribusi makanan kami sehari-hari nantinya. Pada saat karantina ini kami mendapat jadwal kegiatan selama satu minggu ke depan secara detail. Di hari pertama tertulis bahwa kami akan diberi waktu untuk memperkenalkan diri dan institusi. Kami mencoba menyusun bahan untuk presentasi di acara penyambutan di hari pertama tersebut. Kami memutuskan untuk banyak bercerita tentang kegiatan formasi di de Britto.

Rabu, 22 Juni 2022, kami bersiap berangkat menuju ke sekolah. Kami kembali tertegun saat memasuki lingkungan sekolah dengan kantin yang sangat luas dan pembayaran secara cashless. Kami sarapan di kantin dengan diberi fasilitas kartu sebagai alat pembayaran. Pada acara penyambutan ini, kami disambut oleh para romo dan para guru yang merupakan direksi dari berbagai unit sekolah di JS. Kami senang ketika pihak JS sudah membuatkan kartu anggota JS bagi kami masing-masing yang bisa dipakai selama program ini. Sungguh saya merasa benar-benar diterima dan tidak merasa sebagai orang asing ketika berada di lingkungan JS. Setelah penyambutan selesai, kami pun langsung diberi waktu untuk refreshing dengan mengunjungi sebuah tempat wisata yang tidak jauh dari lokasi JS yaitu Elephant Ground and Zoo. Beberapa guru pun bersedia menemani kami.

Para guru SMA Kolese de Britto bersama siswi-siswi Joseph Upatham School (JS) Thailand.
Dokumentasi : Humas SMA Kolese de Britto

Di hari kedua, kami mulai berkegiatan di kelas untuk melakukan observasi. Saya berkesempatan untuk masuk ke kelas Matematika di kelas gifted (siswa dengan kemampuan akademik excellent), kelas English Program (EP), dan JS-girls (sekolah khusus untuk perempuan). Setiap pagi, biasanya akan ada upacara bendera di setiap unit. Pada kesempatan itulah kami diminta untuk memperkenalkan diri kepada warga sekolah.

Saya mendapatkan banyak pengalaman berharga setiap melakukan observasi di kelas. Kelas pertama yang saya kunjungi adalah kelas gifted, tidak heran jika guru mengajar dengan ritme cepat dan soal-soal dengan tingkat kesulitan sukar. Para siswa terlihat sangat memperhatikan pembelajaran. Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan kuis singkat. Segera setelah siswa selesai mengerjakan guru langsung berkeliling dan memberikan feedback. Di kelas ini para guru mengajar dalam bahasa Thai, maka saya didampingi oleh Mr. Ta yang membantu saya untuk menjelaskannya dalam Bahasa Inggris. Selanjutnya saya masuk kelas di program EP, di sini para guru menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Kami berkesempatan masuk ke kelas Science bersama guru dari luar Thailand. Pembelajaran Science itu sangat menarik, para siswa langsung bereksperimen dan guru telah memberikan beberapa kata kunci yang akan dibahas sambil menekankan kosakata istilah tersebut juga dalam Bahasa Inggris. Di program ini, saya mendapati para guru menanyakan hal yang sama selama pembelajaran, “Apakah anda mengikuti saya?” Ini semacam pertanyaan untuk memastikan apakah para siswa masih fokus dalam pembelajaran.

Hari Senin kami berkesempatan masuk ke kelas di JS-girls. Berbeda dengan hari sebelumnya di mana kami banyak berinteraksi dengan guru, di unit ini sekolah meminta beberapa siswinya untuk menemani kami saat melakukan observasi. Para siswi ini menunjukkan sikap sangat antusias ketika bersama kami. Saya berkesempatan menanyakan banyak hal kepada para siswi ini, dari hal sederhana mengapa nama panggilan mereka tidak mesti diambil dari nama panjangnya, sampai pertanyaan bagaimana para guru di JS mengajar mereka. Para siswi ini bercerita layaknya kita saling kenal dan rupa-rupanya mereka mengatakan bahwa ini memang kultur mereka. Saya merasa mereka adalah siswi-siswi saya.

Di unit JS-girls, saya mencoba berkomunikasi dengan salah satu guru di sana. Saya menanyakan tentang projek di kelas matematika. Guru tersebut langsung mengarahkan ke Ruang Matematika (Math Room) atau seperti Laboratorium Matematika. Di sana saya ditunjukkan hasil proyek dari siswa yang mengikuti “Math Camp.” Guru tersebut menyampaikan hanya siswa yang memiliki ketertarikan pada Matematika saja yang bergabung dalam pembuatan proyek matematika. Saya tertarik untuk mencoba salah satu proyek yaitu Math Art. Guru tersebut dengan senang hati menyiapkan bahannya dan meminta saya untuk kembali lagi setelah istirahat. Singkatnya, saya bersama guru matematika tersebut berkolaborasi membuat pola kurva dengan media kertas, benang, dan jarum. Proyek yang sederhana namun mampu menunjukkan bahwa matematika dekat dengan kehidupan kita.

Para guru dan siswa di sana sangat “low profile“. Saya melihat pribadi-pribadi yang rendah hati dan itu tampak dalam komunikasi. Selama program ini berlangsung, melalui pertemuan dengan orang-orang baru di sana, saya merasa banyak dicintai. Bahkan selama proses persiapan live in ini pun, saya juga merasa dicintai oleh panitia kegiatan ini. Saya teringat satu kutipan yang mengatakan ini, “Hidup ini tidak mudah, maka kita butuh cinta untuk menguatkan.” Saya ingin mempunyai lebih banyak cinta dalam diri, sehingga saya lebih mudah juga memberikannya untuk orang lain.

Kontributor: Agnes Reswari Ingkansari – SMA Kolese de Brito

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *