Pilgrims on Christ’s Mission

Pengumuman A24

Tahbisan Imam 2023

Para Nostri, Sebagaimana diatur dalam PQ 6.3.5. diberitahukan kepada kita semua bahwa pada tanggal 16 Februari 2023 jam 09.00 bertempat di Gereja St. Antonius, Kotabaru, Yogyakarta, Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr akan menahbiskan lima orang diakon dari Serikat Jesus yaitu: 1. Diakon Yohanes Deodatus, SJ., berasal dari Paroki St. Yosef Mojokerto, Keuskupan Surabaya.2. Diakon Fransiskus Asisi Wylly Suhendra, SJ., berasal dari Paroki St. Odillia, Citra Raya, Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta.3. Diakon Agustinus Daryanto, S.J., berasal dari Paroki St. Isidorus, Sukorejo, Keuskupan Agung Semarang.4. Diakon Yulius Suroso, S.J., berasal St. Maria Bunda Penasihat Baik, Wates, Keuskupan Agung Semarang.5. Diakon Antonius Siwi Dharma Jati, S.J., berasal Paroki St. Maria Assumpta, Gamping, Keuskupan Agung Semarang. Jika ada yang mengetahui adanya halangan untuk tahbisan, diharapkan untuk memberitahu Pater Provinsial atau Pastor Paroki calon tertahbis. Tahbisan imam ini juga akan disiarkan melalui Kanal Youtube Jesuit Indonesia. Marilah kita dukung saudara-saudara kita ini dengan doa-doa kita.  Bambang A. Sipayung, S. J.Socius Provinsial SJ Indonesia

Penjelajahan dengan Orang Muda

The First “NOEL”

Natal OMK Mengunjungi Lansia The first Noel, the Angels did say,  was a certain poor shepherd in fields as they lay~ Pasti kita sudah tahu dengan lagu The First Noel ini. Kalimat pertama dari lagu ini mengingatkan kita akan perhatian Allah pada umat-Nya, terutama mereka yang lemah dan tersingkir. Sebagai anak-anak Allah, hendaknya kita juga berlaku seperti sifat Allah yang memperhatikan kondisi mereka. Berangkat dari kesadaran akan tugas sebagai anak-anak Allah dan terinspirasi oleh semangat dasar ARDAS KAJ 2022-2026 untuk semakin mengasihi, semakin peduli, semakin bersaksi, Orang Muda Katolik (OMK) Katedral Jakarta ingin mewujudnyatakannya tidak hanya sebagai semboyan belaka tetapi menjadi sebuah gerakan nyata, sederhana namun kreatif. Pater Hani Rudi Hartoko, S.J. sering mengingatkan perhatian pada yang 4 S+1D (senior, sendiri, sakit, sekolah dan disabilitas). The First “NOEL” (natal OMK mengunjungi lansia) demikian kami menyebutnya. Gerakan ini adalah salah satu “jalan lain” yang dipilih oleh OMK Katedral Jakarta selama persiapan menyambut Natal dan jalan ini adalah sarana untuk belajar tumbuh bersama dan memiliki peran di dalam komunitas di paroki dengan memberikan perhatian kepada para lansia (usia 70 tahun atau lebih), disabilitas, serta mereka yang terbaring sakit dan tidak dapat pergi ke gereja.  Berawal dari obrolan santai sambil ngopi-ngopi dan bertukar pikiran tentang kondisi anak muda, ide untuk bergerak, hadir, menyapa pun muncul. Jika dibayangkan tentulah dalam waktu yang singkat tidaklah cukup (kurang dari 1 bulan): harus membentuk panitia, mengumpulkan data lansia, mengumpulkan donasi hingga sponsorship. Namun kami percaya gerakan baik untuk membantu pasti menular dengan cepat dan kami berpikir untuk berusaha saja dulu, dan kalaupun tidak cukup uang yang dibutuhkan, paroki pasti juga mau membantu. Orang-orang muda mulai tertantang untuk berjalan bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain yang membutuhkan.  Selain menyumbangkan waktu dan tenaga, kami juga menyisihkan sebagian uang jajan untuk berbagi walaupun kecil dan masih jauh dari cukup. Benar-benar tidak terbayangkan semuanya berjalan dengan lancar dan dalam waktu kurang dari 1 bulan: donasi terkumpul dan dapat dibelikan handuk, mug stainless steel dan tas (totebag). Menjelang akhir pun banyak perusahaan maupun individu memberikan donasinya dalam bentuk barang mulai dari minyak “kajoe poetih” Ambon, selimut, puding inaco, biskuit roma, pasta dan sikat gigi dari pepsodent, sensodyne, biskuit dari nutrifood, wings group (emeron, ciptadent, sabun fres). Sungguh kami merasakan rahmat yang begitu besar dari Tuhan. Belum berhenti disitu, selanjutnya kami masih harus berkoordinasi dengan litbang paroki untuk membantu kami mengelompokkan nama-nama para lansia yang akan dikunjungi berdasarkan usia dan lingkungan mereka. Setelah itu meminta bantuan ketua lingkungan untuk menghubungi mereka yang akan kami kunjungi. Kami sedikit berseloroh, “Ah kalau 50 saja mungkin mudah, tapi kalau ada 500 kita harus kunjungi satu persatu kapan selesai ya? Dan bagaimana kalau kami ditolak?”  Pater Bernadus Christian Triyudo Prastowo, S.J., sebagai penasihat, memberikan dukungan dan berbagi pengalamannya. Beliau berkata “Kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi? Inilah momen anak muda bangkit dan bergerak memilih “jalan lain” yang sederhana dan kreatif. Akan ada banyak pengalaman baru dan kita bisa saling belajar.” Ternyata ketua lingkungan juga dengan senang hati membantu kegiatan OMK dengan menghubungi para lansia untuk membuat janji kedatangan, bahkan ikut menemani kami para OMK berkunjung satu per satu dari rumah ke rumah. Blessing in disguise juga loh, di sini kami bertemu dan berkenalan dengan OMK di lingkungan yang belum aktif melayani di paroki.  Pater Yudo, S.J.  mengatakan dalam pembekalan, “Kunjungan ini bukanlah pertama-tama untuk membagikan bingkisan, tetapi untuk hadir bagi para senior di paroki kita yang kadang mersakan kesepian karena ditinggal anaknya. Bisa saja bingkisan ini dikirim oleh kurir, tapi ga ada faedahnya. Berbeda pastinya kalau OMK turun langsung berkunjung dan mengenal para lansia ini. Banyak lansia di paroki kita yang sering merasa ditinggalkan anaknya dan bila kita bayangkan betapa bahagianya mereka kalau ada anak muda yang berkunjung, mendengarkan kisah mereka. Kehadiran orang muda akan membuat mereka merasa tidak sendirian. Selain itu, diharapkan kita orang muda yang ikut serta juga bisa akhirnya menghargai orang tua kita masing-masing serta berlatih menjadi pribadi yang lebih memiliki ‘rasa’.” Selain itu kami juga dibekali mengenai karateristik lansia oleh om Albert Budiman supaya kami tau bagaimana menghadapi mereka, dan apa yang harus kita lakukan saat kunjungan. Beberapa pertanyaan, gerak tubuh yang sopan dan tak lupa mendoakan mereka agar selalu sehat juga diingatkan oleh om Albert dalam pembekalan. Jadwal kunjungan untuk 57 lingkungan dimulai dari tanggal 5 Desember hingga 23 Desember 2022 pukul 17.00 – 20.00 WIB. Bukan waktu yang terlalu ideal memang untuk para oma opa, tetapi sebagian dari kami ada yang masih sekolah, kuliah dan juga bekerja. Puji Tuhan dalam 4 minggu kunjungan ini berjalan dengan lancar. Memang kadang cuaca kurang bersahabat tetapi tidak menyurutkan semangat orang muda untuk mendatangi oma opa yang sudah menunggu kami di rumahnya. Ada senyum bahagia saat oma dan opa menyambut kami, ada yang terbaring sakit namun masih tersenyum dalam keterbatasannya, ada yang masih lincah dan senang bercerita tentang masa mudanya, beberapa di antaranya sudah berkurang pendengaran dan ingatannya, mengeluh kaki sakit dan mata sudah tidak bisa melihat dengan baik, ada yang bermain boneka, bahkan ada pula oma yang meminta salah satu dari kami untuk memanjat pohon jambu ketika kunjungan. Rasanya semua senyum, keceriaan oma opa ini menghilangkan rasa lelah yang kadang harus kami tempuh dalam perjalanan. Beraneka ragam kondisi mereka. Banyak pengalaman yang kami dapatkan dan cerita-cerita menarik serta menyentuh dari teman-teman sesama OMK. Sharing dalam perjumpaan meneguhkan satu dengan yang lain dan semakin meyakinkan bahwa kepedulian perlu diwujudnyatakan dalam langkah sederhana namun terus-menerus. Satu hal yang kami sadari juga bahwa mereka (para senior/lansia) mengajarkan arti kehidupan yang tidak ada dalam buku sekolah atau kuliah. Semangat hidup mereka memberikan bekal nyata bagi anak muda untuk mengarungi kehidupan. Mereka mengajarkan kami untuk terus memiliki rasa. Sungguh pengalaman menyiapkan Natal yang berharga. Kontributor: Xenia dan Stephanie – OMK Katedral Jakarta

Pelayanan Masyarakat

Fall in Love!

Summarizing my experience at Realino in just one page is very complicated because it has been so beautiful, so significant and transformative, that all the words in the world fall short to tell you how this whole adventure has been. First, I want to tell you about the two communities I have had the opportunity to be in, Bongsuwung and Pingit. Both have a natural charm, incredibly kind and welcoming people. But above all, both have a gigantic resilience ability despite all the difficulties they experience on the daily basis, they continue to fight hard to be better humans and have a better future for their children. There are children with whom we do the workshops and classes. They are incredible. Sometimes a little unruly, distracted and hyperactive. But they really value our efforts and are happy with our presence. receive us with hugs and smiles, showing us that we are doing a good job with them and that this work is completely worth it. Also, it is important to talk about Realino and all the people who are part of the team. The excellent work they have done is impressive. Everything is very organized, well planned. They manage everything we need The most important thing is that each project, each idea, each aspect, reflect the love and passion of their service. Regarding the volunteers, they are all very kind people, who love the children, and give their best every day so the children can have a positive impact in their lives. They are people who know how to work as a team and are fully committed to Realino’s activities. They also seek ways to improve the community. They are the youth who would like to partake in making the world a better place. To finish, I would like to say that I am very grateful for having the opportunity to be part of Realino. Despite not speaking as a foreigner, everyone welcomed me in such a nice way. I feel them like my family. In addition, they have taught me so many things, I have learned to value more each aspect of my life. I have been able to see the depths of Indonesia. I have learned to be flexible, to enjoy each moment more. And above all, to love more, to give the best of me in each thing I do. Thank you Realino for allowing me to fall more in love with Indonesia, its inhabitants, its culture, its places and what you are building together. I dedicate this poem to you, which is in Spanish (my mother language) and is by a Jesuit whom I love very much: ¡Enamórate! Nada puede importar más que encontrar a Dios. Es decir, enamorarse de Él de una manera definitiva y absoluta. Aquello de lo que te enamoras atrapa tu imaginación, y acaba por ir dejando su huella en todo. Será lo que decida qué es lo que te saca de la cama en la mañana, qué haces con tus atardeceres, en qué empleas tus fines de semana, lo que lees, lo que conoces, lo que rompe tu corazón, y lo que te sobrecoge de alegría y gratitud. ¡Enamórate! ¡Permanece en el amor! Todo será de otra manera. Pedro Arrupe, S.J. The translation Fall in love! Nothing is more practical than finding God, than falling in Love in a quite absolute, final way. What you are in love with, what seizes your imagination, will affect everything. It will decide what will get you out of bed in the morning, what you do with your evenings, how you spend your weekends, what you read, whom you know, what breaks your heart, and what amazes you with joy and gratitude. Fall in Love, stay in love, and it will decide everything. Pedro Arrupe, S.J. I dedicate this poem to them because for me it represents what the experiences with Realino have left in my heart. I will never forget them. I hope one day I can give them back a little of the abundance that I received from them. written with love, Alejandra Maria Serrano Dussan Colombian woman Realino 2022 Volunteer

Pelayanan Masyarakat

Anugerah Kebudayaan Indonesia untuk Majalah BASIS

Pada 9 Desember 2022, majalah BASIS menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Ditjen Kebudayaan Kemdikbudristek) bersama dengan 29 pekerja seni dan budaya dalam pelbagai bidang. Penetapan majalah BASIS sebagai salah satu penerima anugerah kebudayaan ini diambil setelah sebelumnya dilakukan penilaian, baik secara administratif maupun substantif. Pemerintah—melalui Ditjen Kebudayaan Kemdikbudristek— setiap tahun memberikan anugerah kebudayaan kepada individu, kelompok, atau lembaga yang telah mendedikasikan diri mereka untuk berkarya bagi kemajuan budaya di Indonesia. Tahun ini, terdapat tujuh kategori penghargaan, antara lain: Gelar Tanda Kehormatan dari Presiden RI, Pelopor dan Pembaru; Maestro Seni Tradisi; Pelestari; Anak dan Remaja; Lembaga; dan Media. Majalah BASIS menjadi salah satu penerima penghargaan dalam kategori media. Selama lebih dari 70 tahun (sejak Maret 1951), majalah BASIS konsisten menerbitkan tulisan-tulisan bertema budaya, filsafat, teologi, seni, dan sastra. Selama itu pula, majalah BASIS melayani pencerahan bangsa dan kini termasuk majalah budaya nasional yang masih eksis di tengah tantangan disrupsi digital. Oleh Tim Penilai Ditjen Kebudayaan, majalah BASIS dinilai telah menyebarkan literasi kebudayaan dan juga turut merefleksikan masalah-masalah kemanusiaan serta keadilan dengan tulisan-tulisan yang tajam dan kontekstual. Penyerahan dan penerimaan anugerah kebudayaan dilangsungkan di Gedung A Kemdikbudristek pada acara resmi bertajuk “Malam Apresiasi Kebudayaan Indonesia”. Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan) secara langsung menyerahkan apresiasi kepada setiap penerima anugerah kebudayaan yang hadir di tempat. Hadir juga dalam acara ini Gubernur Jawa Barat (Ridwan Kamil) dan Gubernur Sumatera Barat (Mahyeldi Ansharullah). Apresiasi untuk majalah BASIS berupa piagam penghargaan, plakat, dan juga dana sebesar 50 juta rupiah diterima oleh Pater Setyo Wibowo, S.J. (Pemimpin Redaksi BASIS). Penghargaan ini telah melengkapi dua penghargaan lain yang tahun lalu sudah diterima oleh majalah BASIS, yakni Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY (18 November 2021) dan Anugerah Kebudayaan Walikota Yogyakarta (16 Desember 2021). “Wis komplit tenan iki. Tahun wingi wis entuk penghargaan seka Walikota Yogyakarta lan Gubernur DIY. Saiki entuk meneh seka Pemerintah Pusat,” ujar Pater Sindhunata, S.J. menanggapi anugerah kebudayaan yang baru saja diterima oleh majalah BASIS. Bagi Pater Setyo, S.J. anugerah kebudayaan ini sangat penting. Anugerah ini meneguhkan komitmen dan upaya untuk terus menemukan kedalaman yang menembus fakta dalam melihat segala fenomena atas dampak budaya baik bagi redaksi maupun bagi pembaca setia majalah BASIS. Kita tentu bersyukur pula karena BASIS juga merupakan majalah Jesuit, yang menjadi wadah bagi banyak dari kita, para Jesuit, untuk mencurahkan pemikiran intelektual. ajalah BASIS turut ambil bagian dalam kerasulan intelektual kita yang nyata. Dengan cekelan (pegangan) pokok Small is Beautiful, semoga majalah BASIS terus lestari, biarpun kecil tetapi tetap eksis. Kontributor: Antonius Siwi Dharma Jati, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Oleh-Oleh dari Chiang Rai

Pada 19-26 Desember 2022, perwakilan skolastik SJ di JCAP berkesempatan mengikuti workshop SBC (Scholastics and Brothers Circle) di Chiang Rai, Thailand. SBC edisi 2022 diadakan di Xavier Learning Community (XLC), sebuah tempat berudara sejuk yang menjadi rumah pendidikan khas Jesuit bagi orang muda di Thailand. Dalam SBC tersebut, sekitar 50 skolastik dari berbagai negara terlibat untuk saling berjumpa dan menimba inspirasi. Tema yang diangkat dalam SBC kali ini adalah Kerasulan Orang Muda dan Promosi Panggilan. Kami tidak bisa membawakan khanom jeen naam ngiaw, khao soi, jin tup atau makanan khas Thailand utara lainnya. Aneka makanan itu ya paling enak dinikmati di ‘habitatnya’ langsung. Namun demikian, semoga cerita singkat ini boleh menjadi oleh-oleh yang bisa dinikmati bersama. Gereja, Rumah bagi Orang Muda Kegiatan workshop dalam SBC dibuka dengan audiensi bersama Mgr. Silvio Siripong Charatsri, Uskup Keuskupan Chanthaburi. Meskipun keuskupannya berada cukup jauh dari Chiang Rai, beliau berkenan hadir karena sangat menaruh perhatian pada orang muda. Dalam kesempatan tersebut, Mgr. Siripong mengatakan bahwa ada tiga hal yang hendaknya perlu disadari dalam diskusi yang terjadi. Pertama, orang muda sebagai bagian pokok dalam Gereja. Kedua, Gereja sebagai rumah bagi orang muda. Ketiga, membangun prakarsa untuk membuat Gereja terbuka bagi orang muda. Mgr. Siripong juga menekankan pentingnya para Jesuit untuk berakar dalam Kristus dan dengannya bertumbuh dalam iman. Hanya dengannya, kita dapat menemani orang muda di dalam karya-karya kerasulan kita. Untuk memperkaya diskusi, para skolastik juga diminta untuk membagikan pengalamannya dalam kerasulan orang muda di Provinsi masing-masing. Para skolastik Indonesia dan para skolastik dari berbagai Provinsi juga membagikan pengalaman kerasulan-kerasulan orang muda dalam konteks masing-masing. Presentasi terasa menarik karena kami semakin mengetahui prakarsa-prakarsa kreatif dari berbagai negara untuk lebih menyapa semakin banyak orang muda di tengah tantangan dan peluang yang ada. Energi orang muda makin terasa ketika diadakan presentasi budaya dari masing-masing negara dan perayaan natal bersama para siswa-siswi XLC. Mendengarkan dan Menjadi Teladan Kebijaksanaan Orang Muda Diskusi yang terjadi selama SBC menjadi semakin kontekstual karena menghadirkan berbagai narasumber. Salah satu yang inspiratif adalah hadirnya seorang imam diosesan dan beberapa kolaborator awam yang begitu menaruh perhatian pada kerasulan orang muda di Thailand dimana Katolik merupakan agama minoritas. Pada sesi lain, Mrs. Montira Hokjarean mengajak kami untuk menyadari pentingnya lebih banyak “mendengarkan” orang muda yang hidup di tengah situasi dunia dewasa ini. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, generasi muda menjadi lebih beragam dan unik. Oleh karena itu, mendengarkan menjadi kunci untuk memahami orang muda. Kehadiran para narasumber awam yang kompeten dalam dunia orang muda, membawa kami pada sebuah kesadaran bahwa generation gap dapat terjadi meskipun kerasulan orang muda ditangani oleh orang muda. Dalam diskusi dan perbincangan selanjutnya, para peserta SBC semakin menyadari bahwa para Jesuit diundang untuk terlibat dalam konteks kehidupan muda sebagai representasi Gereja. Dalam suatu diskusi, P Ted Gonzales, S.J., imam Jesuit dari Filipina, menyampaikan refleksinya bahwa orang muda pada dasarnya memerlukan teladan kebijaksanaan. Di situlah para Jesuit harus berperan di zaman ini. Sementara itu saudari Meechar Moppo, seorang murid XLC, memberikan konfirmasi bahwa yang orang muda paling butuhkan adalah para religius yang tak sekadar meminta mereka untuk membaca Kitab Suci dan menghadiri kelas katekismus. Orang muda butuh diajak dan diinspirasi ketika menghidupi iman dalam tindakan konkret. Dia berharap supaya para Jesuit menemani orang muda untuk menjadi men and women for and with others. Urgensi Promosi Panggilan Aspek Promosi Panggilan juga menjadi salah satu menu utama dalam workshop SBC. Dalam sharing pengalamannya, P Sarayuth Konsupap, S.J., seorang mam Jesuit muda dari Thailand jebolan STF Driyarkara yang lebih populer dengan sebutan “Romo Thep”, mengajak kami untuk merenungkan hidup orang muda dalam konteks Promosi Panggilan. Sebagai Jesuit kita masing-masing merupakan promotor panggilan dan oleh karena itu Promosi Panggilan yang terbaik adalah dengan kesaksian hidup kita sehari-hari sebagai Jesuit. Kami sungguh terkesan dengan cerita P Miguel Garaizábal, S.J. (Superior Regio Thailand) tentang bagaimana para Jesuit mengembangkan panggilan di Thailand dengan kesaksian hidup mereka. Menarik bahwa P Garaizábal dan Romo Thep merefleksikan panggilan di Thailand itu ibarat seekor gajah yang sedang mengandung. Lama sekali baru melahirkan, itupun hanya melahirkan satu. Pelayanan orang muda dan promosi panggilan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Sejalan dengan pelayanan orang muda, P Eric Escandor, S.J. sebagai Jesuit yang saat ini berkarya sebagai full-timer Promotor Panggilan (vocation promoter) bagi Provinsi Filipina mengatakan bahwa yang terpenting dalam promosi panggilan orang muda adalah menemani mereka untuk mengalami perjumpaan personal (personal encounter) dengan Allah sendiri. Pada akhirnya, pilihan menjadi Jesuit atau tidak merupakan buah perjumpaan itu. Apa yang ditegaskan oleh Romo Thep dan P Eric Escandor menggugah kami. Muncul pertanyaan yang menggugat kami, yaitu apakah aku selama ini sudah menjadi Promotor Panggilan melalui sikap dan cara bertindakku? Bukan Hanya di Indonesia SBC adalah kesempatan untuk mengalami perjumpaan dengan Jesuit dari berbagai negara dan latar belakang. Sepuluh hari kami merasakan apa yang disebut dengan Serikat Jesus Universal. Di tengah perbedaan yang ada, kami hadir di Chiang Rai dalam kesatuan dengan orang-orang yang menjiwai Latihan Rohani St. Ignatius Loyola dan menghidupi nilai-nilai keserikatan. Dalam sambutan penutup SBC 2022, P Tony Moreno, S.J., Presiden JCAP, memberi pesan bahwa, “Panggilan kita itu universal, tidak hanya terbatas dalam provinsi tempat asal masing-masing. Marilah kita mohon rahmat Roh Kudus supaya membesarkan hati siapapun untuk berani diutus ke luar dan ke dalam di tempat yang semakin membuahkan rahmat.” Kontributor: Frs. Andre Mantiri SJ, Robert Kalis Jati SJ, Ferry Setiawan SJ, Peter Seng Dan SJ

Provindo

Perayaan Jubilaris di Girisonta

Kamis, 8 Desember 2022, Serikat ikut bergembira dalam Perayaan Yubileum yang diselenggarakan di Gereja St Stanislaus Kostka Girisonta. Pesta Yubileum ini dipimpin oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., sebagai selebran utama dan ditemani Pater Markus Yumartana, S.J., Superior Komunitas St Stanislaus Kostka Girisonta serta para Yubilaris. Para Yubilaris yang menjadi konselebran adalah Pater Martinus Sumarno Darmasuwarna, S.J., Pater Gabriel Possenti Sindhunata, S.J., dan Pater Albertus Budi Susanto, S.J. (50 tahun dalam Serikat); Pater Agustinus Budi Nugroho, S.J. dan Pater Yustinus Rumanto, S.J. (25 tahun dalam Serikat); Pater Josephus Darminta, S.J. (50 tahun imamat); dan Pater Agustinus Sigit Widisana, S.J. (25 tahun imamat). Selain itu hadir pula Bruder Martinus Hadiprayitna, S.J. yang merayakan pesta 50 tahun dalam Serikat. Bagi Pater Darminta, S.J., 8 Desember 2022 itu bertepatan dengan 50 tahun ulang tahun tahbisan imamatnya. Beliau pernah menjadi Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia pada tahun 1984-1989. Dalam homilinya beliau bercerita perjuangan dan lika-liku perjalanannya menjadi Jesuit selama 50 tahun ini. Beliau memberi pesan untuk para Jesuit muda agar mau menempatkan dirinya sebagai karya Tuhan, menjadi penolong, dan pembantu Gereja. Di akhir homilinya, Pater Darminta dengan humor khasnya berkata, “Jadi Jesuit itu boboknya kurang, kalau suci sekali dipanggil Tuhan, kalau masih hidup itu artinya belum suci.” Perayaan syukur ini ditutup dengan makan bersama di depan novisiat dan dihadiri oleh para Jesuit dari Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta, keluarga Jubilaris, serta para umat. Ini adalah perayaan syukur kali kedua tahun ini, dimana sebelumnya perayaan diselenggarakan di Gereja Theresia, Jakarta. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator SJ Provindo

Pelayanan Spiritualitas

Ziarah dalam Gelisah

Seri Webinar ketujuh Ziarah dalam Gelisah kembali digelar pada Jumat, 16 Desember 2022 di Gereja St. Theresia, Bongsari, Semarang. Webinar pendalaman Spiritualitas Ignatian ini, yang merupakan buah kerja sama antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Yayasan Basis, dan beberapa karya Jesuit, cukup menarik minat para pencinta Spiritualitas Ignatian. Narasumber untuk seri terakhir ini adalah Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia dengan moderator Ibu Elizabeth Indira. Tema yang diangkat adalah Mengolah Gerakan-gerakan Batin: Menekuni Latihan Pembedaan Roh secara Ignatian dalam Hidup Sehari-hari. Pater Benny, S.J. mengajak kita untuk lebih mengamati gerakan-gerakan batin yang sering muncul dalam hidup kita sehari-hari, terutama dalam pengambilan keputusan. Terkadang kita tidak menyadari bahwa setiap hari kita mengambil begitu banyak keputusan. Sebenarnya gerakan batin atau perasaan apa yang muncul ketika kita akan memilih sesuatu? Apakah kita senang atau sedih atau berat? Lalu bagaimanakah realitas yang ada sebenarnya? Baru setelah itu, kita melakukan pembedaan roh dan mengambil keputusan. Namun adakalanya kita dihadapkan dalam pilihan yang sulit dan membuat ragu. Saat hal ini terjadi, sebaiknya kita mengumpulkan semua informasi dan kemudian melakukan pembedaan roh serta mengamati bagaimana perasaan kita sesungguhnya. Proses ini akan membutuhkan waktu yang agak lama. Apabila kita masih ragu-ragu, ambil saja keputusan namun kita harus berani menanggung konsekuensinya karena setiap keputusan yang kita ambil selalu mengandung konsekuensi. Semakin besar tanggung jawab kita maka semakin besar pula konsekuensinya. Di akhir webinar Pater Benny, S.J. berpesan agar kita tidak perlu khawatir akan apa yang dipikirkan Allah tentang diri kita. Yang terpenting adalah kita memberi ruang bagi Allah untuk bekerja dalam diri kita lewat pembedaan roh dan Allah pasti bekerja saat kita harus menentukan keputusan. Acara ini diselenggarakan secara hybrid dan dimeriahkan dengan iringan musik dari Bongsari Music Ministry. Para umat yang hadir dan bergabung dalam zoom pun terlibat aktif dalam sesi tanya-jawab. Pater Sindhunata, S.J., perwakilan Yayasan Basis dan penulis buku, serta Andi Tarigan, perwakilan Gramedia Pustaka Utama turut hadir dalam webinar ini, sekaligus menutup rangkaian seri Ziarah Dalam Gelisah. Rangkaian seri webinar ini menjadi bedah buku terpanjang dengan peserta terbanyak yang diselenggarakan oleh Gramedia. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator SJ Provindo

Provindo

88 Tahun Julius Kardinal Darmaatmadja

Dalam peristiwa penuh syukur untuk merayakan HUT ke-88 Julius Kardinal Darmaatmadja, Serikat Jesus Provinsi Indonesia menyelenggarakan acara 88+ Jesuit dan Sahabat Berlari. Para peserta berlari sejauh 88 kilometer mulai 27 November-20 Desember 2022. Ada 144 peserta dengan rentang usia 21-88 tahun berpartisipasi dalam even ini. Selain beberapa orang yang biasa berlari marathon internasional dan banyak Jesuit Indonesia, ada pula sejumlah Jesuit dari Myanmar, Thailand, Pakistan, Vietnam, Korea Selatan, Kamboja, dan Kenya ikut memeriahkan acara ini. Salah satunya adalah Presiden JCAP, Pater Antonio Moreno, S.J. Mereka semua berkomitmen untuk berlari atau berjalan sejauh 88 km. Hingga 20 Desember 2022 para peserta telah menempuh jarak sejauh 12.702 km dan itu sudah melebihi target awal 12.672 km. Kegiatan ini sekaligus memecahkan rekor baru dalam sejarah lari Jesuit sedunia. Intensi dari seluruh donasi yang terkumpul dari even ini adalah untuk dana pendidikan atau formasi semua skolastik Indonesia, Myanmar, Thailand, dan Pakistan. Total donasi yang terkumpul sampai saat ini adalah 2,1 miliar rupiah. Melalui acara ini, Bapak Kardinal ingin mendorong tumbuhnya “kaderisasi panggilan” dan berharap bahwa “kado istimewa” ini akan mampu mengetuk lebih banyak putra tanah air agar bergabung dan berkarya bersama Serikat Jesus. Selain 88+ Jesuit dan Sahabat Berlari, diselenggarakan pula Retret Advent Virtual dan Fun Run 8,8 km Girisonta bertema In Nomine Jesu. Setiap minggu, para peserta Retret Advent Virtual diberi bahan doa secara virtual. In Nomine Jesu ini menjadi motto Pater Darmaatmadja semenjak dilantik Kardinal hingga sekarang. Dalam puncta setiap minggu yang diikuti lebih dari 100 orang, setiap peserta retret diajak mencecap semangat atau kharisma hidup dan perutusan Julius Kardinal Darmaatmadja. Di akhir puncta, setiap peserta mendapatkan bahan refleksi dan bahan doa pribadi agar mereka semakin siap menjadi Betlehem untuk bayi Yesus yang segera lahir. Even ini dipuncaki dengan FUN RUN 8,8 Km Girisonta sekaligus merayakan ulang tahun Bapak Kardinal ke-88 pada Selasa, 20 Desember 2022 di Kolese Stanislaus, Girisonta. Lebih dari 100 Jesuit dari Semarang, Jakarta, Surakarta, dan Yogyakarta hadir memeriahkan acara ini. Sebelum mulai start, Pater Effendi Kusuma Sunur, Ketua Panitia dan Koordinator Development Office SJ Provindo, memberi aba-aba “In Nomine Jesu” dan para runners pun berlari sejauh 8,8 km di daerah sekitar Girisonta. Di akhir acara para peserta merayakan ulang tahun dan mendapatkan berkat dari Bapak Kardinal. Ia menyatakan kekagumannya karena banyak orang muda rela bersusah payah dan berpartisipasi memeriahkan acara ini. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para donatur yang telah menunjukkan rasa kasihnya bagi Gereja. Di akhir acara, dilaksanakan peluncuran buku Umat Katolik Memuliakan Manusia karya Julius Kardinal Darmaatmadja. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator SJ Provindo