Pilgrims on Christ’s Mission

English

Fan into flame the gift of God in you

On Monday, January 26, 2026, during the Solemnity of St. Timothy and St. Titus, the Archbishop of Semarang ordained four Jesuit scholastics, along with 11 others from various religious orders and congregations, including the Archdiocese of Semarang and the Discalced Carmelite Order, to the diaconate. The four Jesuit ordinands are Schs. Andreas Agung Nugroho, Amadea Prajna Putra Mahardika, Frederick Ray Popo, and Klaus Heinrich Raditio. The ordination was led by the Archbishop of Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, accompanied by the Rector of St. Paul’s Major Seminary, Fr. Alexius Dwi Aryanto, and Fr. Ignatius Triatmoko, MSF. The deacons’ families and friends were present to celebrate this moment.     Taking the theme “Fan into flame the gift of God which is in you,” the ordinands are determined to actively maintain God’s gift for the service of the people. In his homily, the archbishop emphasized the important qualities for deacons, including a respectable and whole life, vigilance against worldly pleasures, collaboration in service, trust in keeping the secrets of the faith, and a holy and humble life.     During the celebration, each deacon made a promise of obedience before the archbishop. They received the laying on of hands, liturgical vestments, and the Holy Scriptures. Through this rite, the deacons received the authority to assist priests and proclaim the Gospel. The celebration ended with a reception in their own community, encouraging the deacons to ignite God’s gifts and pray that God Himself would complete His good work in them.   Contributor: IDO Communication Office

Pelayanan Spiritualitas, Penjelajahan dengan Orang Muda

Menemukan Damai di Tengah Ketidakpastian

Refleksi Pertemuan Magis Asia Pacific 2025 Mendapat kesempatan untuk mewakili Magis Indonesia di pertemuan Magis Asia Pacific 2025 adalah suatu berkat besar yang Tuhan berikan untukku. Sebelum kabar ini aku terima, aku sedang berada di momen desolasi namun Tuhan hadir melalui perantara Pater Koko untuk memberi tahu bahwa aku salah satu yang akan mewakili Magis Indonesia. Pada saat itu aku merasa Tuhan memberiku hadiah besar atas kesabaran dan keihklasanku menerima kejadian yang aku alami akhir-khir ini. Menyambut kabar itu dengan gembira aku mempersiapkannya dari awal dengan tim Magis Indonesia. Kami kooperatif dalam membantu sama lain selama masa persiapan dan semua dipermudah dengan urusan kami masing-masing baik itu urusan pekerjaan di kantor, pengurusan visa, dan berbagai koordinasi lain. Ketika semuanya sudah siap aku mulai memberitahukan kepada orang tua dan beberapa teman terdekatku untuk memohon doa mereka selama aku 10 hari di Taiwan. Mereka semua juga menyambut kabar ini dengan sukacita dan ikut mendoakan perjalananku.   Hari pun tiba saat kami sampai di Taiwan disambut dengan cuaca dingin, mendung, dan sedikit hujan. Kami dijemput oleh panitia di Bandara dan diajak menggunakan MRT hingga sampai di venue pertama yaitu Sekolah St. Ignatius Loyola. Aku sekamar dengan perwakilan Magis Jepang dan Magis Singapore. Kegiatan pun dimulai dengan berkumpul di aula sekolah dan bertemu dengan beberapa perwakilan dari negara lain. Kami bisa saling mengenal menambah relasi pertemanan baru dan bertukar informasi dengan budaya negara kami masing-masing. Total kurang lebih ada 11 negara. Kegiatan berikutnya diisi dengan materi yang diberikan oleh perwakilan imam, refleksi pribadi, sharing dalam kelompok, misa harian dan sampailah pada kegiatan inti yaitu Magis Experiment.     Dalam Magis Experiment ini aku memilih melayani kaum marginal pada urutan pertamaku dan aku ditempatkan sesuai dengan kelompok yang aku pilih. Kelompokku didampingi koordinator, seorang imam, dan beberapa teman dari Magis Singapura, Korea, dan Filipina. Sebelum kami melakukan kegiatan Magis Experiment, kami diminta untuk menulis beberapa ketakutan dan aku menulis ketakutanku adalah kendala bahasa jika berkomunikasi langsung dengan para tuna wisma dan akan tempat tinggal selama kegiatan. Pada hari pertama, kami diajak untuk mengunjungi salah satu NGO dan kami dibantu oleh salah satu pendamping kami dalam menerjemahkan bahasa Mandarin ke bahasa Inggris. Ternyata ketakutanku mulai memudar karena kami bisa memahami selama kami berkomunikasi dan pesannya dapat kami terima dengan baik. Kami diajak berkeliling ke beberapa tempat dengan mengunjungi salah satu kuil bersejarah sambil menikmati jalanan dan kota Taiwan. Hal ini terasa istimewa karena ini adalah kunjungan pertamaku ke Taiwan. Malamnya kami menyiapkan makanan untuk diberikan kepada para tuna wisma di pinggir stasiun.   Malam itu kami keluar naik MRT kemudian berjalan kaki untuk menemui beberapa tuna wisma. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan ditemani imam pendamping. Selama aku memberikan makanan dan sedikit berkomunikasi dengan mereka, aku merasa Tuhan hadir dengan mengingatkanku akan kenyamanan rumah yang aku miliki. Punya kamar, ruangan hangat, punya tempat tidur tidak kedinginan dan tidak kehujanan tetapi mereka tidur hanya beralaskan kardus dan payung sebagai pelindung hujan. Aku merasa tersentuh ketika mereka merasa sukacita akan kehadiran kami membawa sedikit makanan. Aku mengucap syukur pada Tuhan atas tempat tinggal yang aku miliki dan keluarga masih utuh setia mendampingiku.   Pada hari berikutnya, kami diajak ke sebuah pelabuhan untuk bertemu dengan beberapa nelayan dan pekerja home care di Taiwan. Semua yang kami temui adalah pekerja Indonesia dan aku senang bisa bertegur sapa dengan mereka. Sebagai seorang nelayan yang tidurnya hanya di kapal, jauh dari keluarga di Indonesia dan pulang setelah beberapa bulan mengingatkanku akan pekerjaan dan kenyamanan yang aku miliki saat ini. Kadang aku mengeluhkan pekerjaan dan ternyata itu tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Aku sempat mengobrol juga dengan salah satu pekerja migran perempuan Indonesia yang bekerja mengurus lansia. Ia harus meninggalkan anaknya yang masih kecil berusia 2 tahun di Indonesia untuk bekerja di Taiwan mencari nafkah. Namun dia punya cita-cita untuk menyekolahkan anaknya di Taiwan agar bisa menjadi guru mandarin di Indonesia. Hal itu menyentuhku akan cinta seorang Ibu untuk anaknya. Setelah selesai berbincang-bincang, kami semua makan malam bersama dengan tema makanan Indonesia dan teman-temanku dari negara lain menyukai makanan tempe. Para pekerja migranlah yang menyiapkan dan memasak makan malam untuk kami semua. Kekeluargaan sangat terasa dalam momen ini.     Tak terasa dua malam Magis Experiment yang kami jalani bisa kami lalui. Ternyata semua ketakutanku yang aku sempat tulis di awal tidak terjadi. Tuhan menyertaiku menyelesaikan tugas ini dengan banyak berkat, seperti kekeluargaan dalam kelompok, relasiku dengan orang-orang yang aku jumpai, dan kenyamanan dalam tempat tinggal, makanan, kebutuhan lainnya semua dicukupkan. Tuhan benar-benar hadir dalam tiap waktu yang aku lalui hingga bisa memiliki pengalaman spiritual selama Magis Experiment ini. Banyak cinta yang aku terima dan bisa aku bagikan lagi ke orang lain saat kembali ke Indonesia. Aku semakin terpanggil untuk melayani kaum marginal. Aku semakin bisa merasakan nilai-nilai yang Tuhan kehendaki dalam hidup pelayananku. Waktu 10 hari sebagai seorang peziarah di Taiwan tidak terasa aku lalui. Ada momen di mana aku merindukan orang tua, tempat tinggal, kebiasaan yang aku lakukan di rumah tapi berkat Tuhan, aku bisa lalui. Aku belajar untuk rendah hati dan menikmati momen saat ini.     Semua pengalaman selama mengikuti Magis Asia Pacific adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tempat-tempat di Taiwan yang aku kunjungi, makanan, cuaca, teman-teman Magis dari berbagai negara, panitia Magis Taiwan yang selalu siap membantu, pelayanan yang diberikan panitia. Secara keseluruhan, acara terasa mudah dan lancar. Aku pulang ke Indonesia membawa semangat Magis yang baru dan ada perasaan damai dalam hati yang aku rasakan. Aku merasa momen desolasiku sebelum pergi disembuhkan melalui kegiatan ini. Aku merasa lebih tenang dan mulai bisa melepaskan pelan-pelan ketakutanku dengan bisa melihat kehadiran Tuhan dalam momen keheningan yang aku rasakan.   Kontributor: Magdalena Prita – Delegasi Magis Indonesia

Pelayanan Gereja

Menemukan Tuhan dalam Keheningan

Perjalanan Sahabat Ignatian Bongsari Finding God in all things. Inilah salah satu kutipan dari St. Ignatius Loyola yang senantiasa dijalani oleh para Sahabat Ignatian di Paroki St. Theresia Bongsari, Semarang. Menemukan Tuhan di dalam segala hal, termasuk dalam keheningan sekalipun.   Dari total 32 peserta, terdapat 16 peserta yang berhasil menjaga komitmen untuk mengikuti dan menyelesaikan program kegiatan Ignatian Remaja 2025. Mereka adalah para remaja dari lingkup paroki Bongsari dan wilayah Panjangan yang berusia 17-21 tahun. Mereka telah menjalani proses belajar dan pendampingan rohani mulai dari bulan Mei sampai Desember 2025.   Selama tujuh bulan tersebut, para Ignatian Remaja atau yang disebut sebagai tim Salmeron, belajar mengenai spiritualitas Ignatian serta mengenal diri sendiri melalui buku The 7 Habits of Highly Effective Teens (Sean Covey). Mereka juga diajarkan untuk mendengar suara Tuhan melalui latihan meditasi serta doa hening.   Dalam proses pendampingan, pada awalnya banyak dari tim Salmeron yang merasa kesulitan menjalani doa hening. Beberapa dari mereka kesulitan untuk fokus berdoa akibat suhu ruang yang terasa panas atau adanya suara-suara di sekitar ruang doa. Ada pula yang masih kesulitan untuk menjaga tubuh pada posisi yang sama selama sesi doa, entah karena pegal atau kesemutan.   Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, pendamping tim Salmeron memberikan pesan bahwa hal tersebut memang perlu dirasakan karena pengalaman-pengalaman itu membuktikan bahwa mereka menyadari keadaan mereka pada saat melakukan doa. Doa hening mengajarkan mereka untuk membangun kesadaran akan situasi dan kondisi diri pada saat itu.     Selain belajar meditasi dan doa hening, tim Salmeron juga diajak oleh Pater Agustinus Sarwanto, S.J. untuk melihat dan merenungkan kehidupan pribadi. Topik yang sering diangkat adalah tentang ketakutan. Pater Sarwanto sempat memberikan materi ini dengan membahas tiga ketakutan yang umum dirasakan banyak orang, yaitu fear of missing out (FOMO), fear of people’s opinion, dan you only live once (YOLO).   Kemudian Pater Sarwanto memberikan pertanyaan reflektif pada tim Salmeron, yaitu apa saja ketakutan yang muncul dari dalam dan luar diriku? Dari pertanyaan tersebut, muncul jawaban yang dominan dari para peserta yaitu ketakutan akan masa depan.   Setelah menjalani beberapa pertemuan dan retret pertama di Rumah Retret KSED, para peserta merasakan beberapa perubahan di dalam hidup mereka. Berbagai ketakutan yang pernah mereka rasakan sebelumnya sudah bisa mereka hadapi dengan keberanian. Mereka lebih mudah untuk memasrahkan hasil akhirnya pada Tuhan setelah mengusahakan semuanya dengan maksimal.   Puncak perjalanan adalah Retret Ignatian di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten pada 12-14 Desember 2025. Dalam retret ini, mereka menerapkan segala ilmu yang telah mereka pelajari dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, khususnya mengenai doa hening. Pater Sarwanto meminta tim Salmeron untuk melakukan self-guided retreat dimana mereka menjalani retret pribadi selama tiga hari dalam situasi hening, tanpa komunikasi verbal dengan orang lain selain hal mendesak.     Pasca puncak kegiatan Ignatian Remaja, buah-buah dari segala usaha yang dilakukan para pendamping serta tim Salmeron dapat dirasakan oleh banyak pihak. Mereka terlibat aktif dalam kegiatan menggereja dan Orang Muda Katolik (OMK). Dampak yang baik ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditularkan pada generasi berikutnya agar kehidupan dalam Gereja dapat berkembang dan terus berlangsung.   Kontributor: Anastasia Adristri – Paroki St. Theresia Bongsari, Semarang

Pelayanan Gereja

Pesta Umat yang Menghidupkan Kembali Sejarah

Amazing Race Gedangan: Halaman Gedung Bintang Laut Gereja Katolik St. Yusuf Gedangan pagi itu berbeda dari biasanya. Umat berbondong-bondong berkumpul dengan aneka atribut unik, mulai pakaian adat hingga kostum menarik lainnya. Mereka bersiap mengikuti Amazing Race, sebuah acara jalan sehat sambil menelisik kembali sejarah Gereja Katolik St. Yusuf Gedangan yang merupakan salah satu rangkaian acara menuju 150 Tahun Pemberkatan Gereja Gedangan pada 12 Desember 2025 lalu.   Pada awalnya, kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada September 2025. Meski persiapannya sudah matang dan umat sudah begitu bersemangat, situasi sosial politik ternyata tidak kondusif sehingga panitia memutuskan menunda acara ini. Akhirnya, pada Jumat pagi, 16 Januari 2026, acara ini dapat dilaksanakan. Meski tahun telah berganti, semangat dan gairah untuk bergerak dan belajar bersama melalui Amazing Race tetap sama.   Menjelang dini hari tanggal 16 Januari lalu, umat dan panitia harap-harap cemas. Cuaca sulit diprediksi karena Kota Semarang setiap hari diguyur hujan. Pepatah Gusti Allah mBoten Sare meyakinkan para panitia dan umat bahwa cuaca akan baik selama acara. Benar saja, cuaca selama pelaksanaan Amazing Race sejuk, tidak sepanas biasanya, tetapi juga tidak mendung. Pas untuk berolahraga!     Mengenal Sejarah Pekikan yel-yel dari seratus sembilan puluhan peserta yang terbagi dalam 18 kelompok di depan Gedung Bintang Laut membuka semarak Amazing Race Gedangan. Dari depan Gedung Bintang Laut, setiap kelompok melewati sejumlah rute yang berbeda dengan beberapa pos yang sama, di mana masing-masing pos menawarkan keseruannya sendiri.   Pos “memecahkan kode” yang dibuat dalam bentuk sandi Morse bertujuan untuk mengundang umat memahami bahwa iman menjangkau semua bangsa manusia, termasuk yang memiliki cara dan bahasa komunikasi yang berbeda. Pos “menyusun puzzle” agar utuh membuat peserta menyusun puzzle foto Gereja Gedangan pada tahun 1900-an untuk menyadarkan umat bahwa berdirinya Gereja Gedangan yang megah adalah bagian dari kepingan-kepingan usaha berbagai pihak dan karya Allah sendiri.   Tempat-Tempat Bersejarah Karena Amazing Race adalah sarana umat untuk mengenal lebih dekat histori Gereja Katolik Gedangan, pos yang dituju merupakan tempat bersejarah dan erat kaitannya dengan perkembangan iman dan pembangunan Gereja Katolik Gedangan.   Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, atau yang dikenal sebagai Gereja Blenduk, adalah salah satu posnya. Di bangunan gereja yang berdiri kokoh dengan kubah merah dan dinding putih menjulang ini, umat Katolik awal di Semarang merayakan Ekaristi.   Taman Srigunting No. 5-6 ini pernah menjadi gereja sekaligus tempat tinggal para imam, di mana lantai satu menjadi tempat peribadatan dan lantai dua menjadi rumah tinggal. Saat ini, bangunan tersebut menjadi salah satu destinasi wajib karena di sana rutin diadakan pameran karya seni rupa kontemporer dan kini ditempati oleh PT EMKL Marabunta.   Lokasi Gereja Katolik St. Yusuf, Gedangan yang kini berada, diusahakan oleh seorang imam diosesan dari Belanda, Romo J. Lijnen, Pr. Ia membeli lahan yang lebih strategis yang dulunya adalah kebun pisang.   Dua tempat lain yang menjadi pos permainan adalah Teater Oudetrap dan Rumah Akar. Oudetrap Theatre merupakan sebuah ruang untuk seni pertunjukan atau teater, sekaligus salah satu gedung cagar budaya bernuansa bangunan Belanda di kawasan Kota Lama Semarang yang difungsikan sebagai galeri kesenian dan kebudayaan. Kedua bangunan ini, gedung teater dan Rumah Akar, memang tidak memiliki kaitan langsung dengan perkembangan Gereja Gedangan, akan tetapi tempat-tempat ini adalah bagian dari saksi sejarah perkembangan dan pertumbuhan iman Katolik di Gedangan, tempat umat tinggal, dan para misionaris menjalankan karya luhur mereka.     Kembali ke Rumah Setelah lelah menyusuri gedung dan lokasi bersejarah di Kota Lama, semua peserta dan panitia berkumpul di dalam Gereja Gedangan. Ternyata, meski telah lama menjadi umat Gedangan, tidak semua umat mengenal dengan baik sejarah gerejanya. Amazing Race menjadi jalan bagi umat untuk semakin mengenal dan merasakan jejak-jejak perkembangan dan pertumbuhan iman Katolik yang berawal dari kawasan pusat Kota Lama Semarang. Bukankah untuk mengenal dan dekat, umat perlu menelusuri sendiri tempat-tempat bersejarah gereja mereka sendiri?   Pesta Umat Rangkaian Amazing Race dilanjutkan dengan lomba yel-yel antarkelompok. Semua kelompok mencoba menampilkan aneka yel-yel terbaik mereka, lengkap dengan gerakannya. Lingkungan Benedictus Banjarsari dan Marta Mlayu Darat yang lebih dominan diisi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu menampilkan yel-yel unik disertai gerakan atraktif yang begitu menghibur. Hadiah-hadiah yang dibagikan dalam doorprize berasal dari kalangan umat sendiri yang dengan penuh sukacita dan rela hati berbagi. Pengumuman juara Amazing Race menjadi penutup rangkaian keseruan pesta umat ini.     Mimpi yang Jadi Kenyataan Siang itu umat Gedangan pulang dengan penuh kegembiraan. Mimpi untuk jalan sehat sambil belajar sejarah yang sudah dinantikan sejak tahun 2025, kini sudah jadi kenyataan. Ini adalah pesta umat, pesta bersama. Tuhan sudah menyelenggarakan waktu yang tepat. Ini menjadi pegangan bagi semua, bahwa Tuhan selalu punya rancangan yang terbaik bagi umat-Nya.   Akhirnya, melalui Amazing Race, jalan sehat dan napak tilas sejarah Gedangan, semua umat semakin mantap untuk melangkah bersama, memeluk, dan mencintai gereja dan sejarahnya. Sejarah Gereja Katolik Gedangan dan sejarah Kota Lama Semarang merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan. Dari sudut-sudut Kota Lama itulah iman Katolik di Semarang ini bertumbuh dan berkembang hingga sampai pada generasi sekarang ini.   Semoga, lewat momen bersejarah ini, Amazing Race: Napak Tilas Sejarah dan Perkembangan Iman Katolik, setiap pribadi umat Katolik di Gedangan khususnya semakin mantap menjadi penopang iman dan cinta bagi satu sama lain, sebagaimana tiang-tiang gereja yang menopang Gereja Gedangan yang gagah dan megah.     Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Karya Pendidikan

Merawat Tradisi, Merayakan Kebersamaan di Borobudur

Harmoni Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola, Semarang Balkondes Ngadiraharjo, Borobudur, Magelang (16/11/2025) – Kelompok musik gamelan modern dari SMA Kolese Loyola Semarang, yang dikenal sebagai Gamelan Soepra (Gamsoep), baru saja menorehkan pengalaman berharga dengan tampil memukau sebagai bintang penutup dalam rangkaian acara “ANGKRINGAN BOROBUDUR: Nglaras Raga, Nglaras Rasa, Nglaras Wirama” yang diselenggarakan oleh LONGRUNRANGERS, sebuah komunitas lari yang didirikan pada tahun 2018. Panggung utama yang berlokasi di Balkondes Ngadiraharjo ini menjadi saksi perpaduan antara semangat olahraga, perjalanan, dan ekspresi seni budaya di kawasan yang dikelilingi pemandangan indah.   Maraton Persiapan dan Puncak Acara Persiapan telah dilakukan oleh tim Gamsoep dua bulan sebelum acara, yaitu sejak bulan September. Walaupun ada berbagai tugas dan ulangan yang menanti, kami tetap menyempatkan waktu untuk latihan rutin pada sela-sela jam istirahat dan jam ekstra Soepra. Seluruh anggota Gamsoep sangat bersemangat berlatih dan menghafalkan sepuluh lagu yang akan ditampilkan dengan harapan dapat menampilkan yang terbaik pada waktu pelaksanaan acara.   Perjalanan tim Gamsoep dimulai pada Minggu pagi, tepat pukul 06.00 WIB. Rombongan yang menggunakan bus tiba di Balkondes Ngadiraharjo sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah perjalanan panjang, kami langsung melakukan check sound untuk memastikan setiap instrumen siap. Sesi check sound berlangsung hingga pukul 12.30 WIB.   Usai santap siang dan rias wajah, suasana venue di Ngadiraharjo sudah ramai menyambut puncak acara. Pukul 18.00 WIB, acara Angkringan Borobudur resmi dibuka, menampilkan berbagai talenta pendukung, mulai dari band hingga tarian.   Puncak yang paling dinantikan, yakni penampilan Gamelan Soepra, tiba menjelang akhir rangkaian acara. Tepat pukul 20.30 WIB, Gamsoep mengambil alih panggung dan bertindak sebagai penampil sebelum penutupan. Selama satu jam penuh, Gamsoep sukses menyajikan sepuluh lagu dengan aransemen gamelan yang inovatif dan enerjik.     Pada acara Angkringan Borobudur ini, Gamsoep membawakan 10 lagu hits lintas genre yang digubah ulang, termasuk: Anoman Obong, Kala Cinta Menggoda, Selalu Ada di Nadi, Can’t Take My Eyes Off of You, Final Countdown, Rungkad, Gethuk, Jogja Istimewa, Bendera, dan Laskar Pelangi.   Perpaduan unik antara gamelan dengan lagu-lagu bersemangat ini sukses membuktikan bahwa musik tradisional mampu beradaptasi dan menjadikannya penutup yang sempurna untuk perayaan acara. Malam itu ditutup dengan momen kebersamaan yang hangat. Para pemain Gamsoep, penonton, pelari yang baru menyelesaikan acara lari, dan grup musik Alfakustik berbaur menjadi satu, menari dan bernyanyi bersama. Momen ini sukses merayakan semangat kebersamaan dan seni yang inklusif.     Eksplorasi Candi dan Pulang ke Semarang Keesokan harinya, para anggota Gamsoep melakukan perjalanan wisata budaya. Setelah check out dari Balkondes pada pukul 09.00 WIB, kami segera berangkat menuju kompleks Candi Borobudur. Ditemani oleh pemandu wisata, kami melakukan kunjungan ke museum sebelum menapaki anak tangga dan mencapai puncak candi. Di museum, kami belajar sejarah, menemukan fakta menarik terkait pelajaran hidup seperti hukum Karma, mekanisme pembangunan Candi Borobudur, dan mematahkan mitos-mitos mengenai Candi Borobudur.   Kami mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga pada sesi ini. Baru setelah itu, kami mendaki ke puncak Candi, memahami makna dan nilai yang ada secara langsung, serta ikut menjaga dan menghormati adat-istiadat yang berlaku. Kunjungan ke situs warisan dunia ini menjadi sesi cool down dan refleksi atas warisan budaya yang telah direpresentasikan di atas panggung. Tidak hanya itu, perjalanan ini juga turut memupuk dan mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangga terhadap keragaman budaya Indonesia di dalam diri kami sebagai generasi muda.   Tepat pukul 12.00 WIB, rombongan Gamsoep bertolak kembali ke Semarang. Suasana di dalam bus sepanjang perjalanan pulang dipenuhi gelak tawa dan kebersamaan yang erat. Seluruh anggota tim sepakat bahwa kunjungan kerja sekaligus wisata ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.     Gamelan Soepra di Tengah Modernisasi Penampilan Gamelan Soepra, yang memadukan gamelan dengan lagu-lagu hits lintas genre, telah membuktikan bahwa seni tradisi tidaklah kaku dan tak lekang oleh waktu. Sebagai generasi muda yang memiliki minat dalam bermusik, kami para anggota Gamelan Soepra sangat bangga dan senang dapat tampil menjadi perantara yang membawa gamelan ke ranah musik modern dan populer. Kami pun turut bersyukur atas respons positif para penonton yang turut menari dan bernyanyi bersama dalam penampilan Soepra.   Ke depan, kami berharap agar Gamelan Soepra dapat menjadi wadah yang tepat dan suportif bagi banyak orang di masa depan untuk menghargai dan mempelajari seni tradisi gamelan, serta mengembangkan talenta bermusik. Dari semua latihan dan penampilan tadi, kami berharap senantiasa dapat menciptakan semangat kolaborasi dan kebersamaan dari para pemain dan juga penonton. Semoga Gamelan Soepra semakin dapat berkolaborasi dan berjejaring dengan berbagai komunitas dan acara-acara lainnya untuk menyebarkan semangat kebersamaan, bermusik, berkolaborasi, dan berbudaya kepada khalayak umum yang lebih luas.       Kontributor: Felicia Edita Arga & Jason Alexander Cahyadi Santoso – SMA Kolese Loyola

Pelayanan Spiritualitas

Vatikan Luncurkan ‘Berdoa Bersama Bapa Suci’ dalam Format Audio-video

Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia dan Dikasteri Komunikasi meluncurkan proyek “Berdoa Bersama Bapa Suci”, sebuah inisiatif baru untuk melayani misi Bapa Suci. Mulai bulan Januari 2026, dan sebagai kelanjutan dari misi yang diluncurkan oleh Paus Fransiskus, Paus Leo XVI akan membagikan intensi doa bulanannya melalui video dan audio. Inisiatif ini mengundang Gereja Universal dan semua orang yang berkehendak baik untuk bersatu secara spiritual dalam doa yang sama.   Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas intensi doa Bapa Suci, menggunakan bahasa yang sesuai untuk berdoa, dalam format baru, sehingga dapat menjangkau umat beriman di seluruh dunia dengan lebih baik, terutama di dunia komunikasi digital saat ini. Dalam peluncuran ini, Direktur Internasional Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia, Pater Cristóbal Fones, SJ, menjelaskan bahwa “Berdoa Bersama Bapa Suci” adalah inisiatif Bapa Suci untuk membantu setiap orang bergabung secara konkret dalam niat doa yang beliau usulkan setiap bulan, dan dengan demikian membuka hati mereka terhadap tantangan yang dihadapi umat manusia dan misi Gereja.   Sebuah Karya Kolaborasi Video dan audio “Berdoa Bersama Bapa Suci” adalah sarana untuk menyatukan Gereja Universal untuk bersatu hati dalam doa. Proyek ini juga merupakan karya kolaborasi antara Dikasteri Komunikasi dan Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia. Karya ini adalah indikasi nyata bagaimana upaya komunikasi Takhta Suci memupuk persekutuan seluruh Gereja dan berjalan bersama secara sinodal. Doa Bapa Suci yang intim dan universal ditawarkan dengan cara baru, sederhana namun ampuh, sebagai instrumen nyata persatuan dan persekutuan kita di dalam Tuhan. Video dan audio ini diharapkan dapat menjadi titik temu bagi jutaan orang, anggota tubuh yang sama, yang sepenuhnya hadir di dunia digital dan di tempat-tempat fisik di mana mereka tinggal, dimulai dari dalam hati setiap orang. Harapannya, video dan audio ini dapat digunakan dalam kegiatan-kegiatan lingkungan, wilayah, paroki, atau komunitas basis.     Kolaborasi dalam mempromosikan Video Bapa Suci bukanlah hal baru bagi Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia – Indonesia. Sejak 2023, Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia – Indonesia telah berkolaborasi dengan Karya Misi Kepausan Indonesia untuk menerjemahkan subtitle video dalam Bahasa Indonesia. Video ini lalu diunggah di kanal YouTube Missio Nusantara, serta Instagram @pwpn.indonesia.   Keterlibatan ini adalah wujud nyata dukungan Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia selama lebih dari 180 tahun. Kini, jejaring ini terus memperbarui misinya melalui konten dan sumber daya baru, guna mendorong partisipasi dan akses yang lebih luas lagi bagi seluruh umat.     Kontributor: Tim PWPN Indonesia

Formasi Iman

Pabrik Roti Tuhan

Roti sourdough adalah sejenis roti yang proses pembuatannya memanfaatkan ragi alami yang terbentuk dari campuran air dan tepung. Tidak seperti jenis roti lainnya yang relatif lebih mudah dibuat karena menggunakan ragi instan, roti sourdough ini lebih sulit karena membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Namun jika berhasil, roti ini memberikan rasa yang unik serta khasiat kesehatan yang lebih banyak dibandingkan roti-roti lainnya.   Pada Minggu, 28 Desember 2025, di Kapel Kolese Hermanum, Johar Baru, Sch. Alfa Almakios Dwi Prawira Leton mengikrarkan Kaul Pertama-nya di dalam Serikat Jesus. Ia menyusul kesembilan teman angkatan novisiatnya yang sudah mengucapkan Kaul Pertama di Kapel La Storta, Girisonta enam bulan sebelumnya. Misa Kaul Pertama Sch. Alfa dipimpin secara konselebran dengan selebran utama P Benediktus Hari Juliawan, S.J., didampingi oleh P Augustinus Setyo Wibowo, S.J., Rektor Kolese Hermanum dan P Dominico Savio Octariano Widiantoro, S.J., Magister Novisiat St. Stanislaus Kostka. Para skolastik Kolese Hermanum beserta keluarga Sch. Alfa juga ikut serta dalam misa tersebut. Di dalam homilinya, Pater Provincial memberikan analogi menarik yang membandingkan proses formasi dengan pembuatan roti sourdough. “Bagaikan membuat roti sourdough yang membutuhkan kesabaran, waktu yang lama, serta ketelitian, begitu pula proses formasi yang harus dijalankan seorang Jesuit,” ucap Pater Benny, panggilan akrabnya, sembari mengingat pengalamannya belajar membuat roti sourdough.     Setelah melewati masa penundaan pengucapan kaul dengan perasaan harap-harap cemas, Sch. Alfa akhirnya diperkenankan untuk mengikrarkan janjinya untuk hidup murni, taat, dan miskin. Ia juga berjanji untuk masuk ke Serikat Jesus dan hidup seturut Konstitusi Serikat Jesus. Kaul pertama di dalam Serikat Jesus itu unik karena langsung bersifat kekal. Kaul dalam ordo atau kongregasi lain bersifat sementara, sehingga setiap anggotanya harus membuat surat lamaran pembaruan kaul kepada pimpinan setiap tahun sampai diperkenankan untuk mengucapkan kaul kekal. Seorang Jesuit tidak perlu membuat surat lamaran setiap tahun. Namun, dari pihak Serikat, Serikat belum menerima kaul pertama ini karena kaul ditujukan langsung kepada Allah. Baru setelah melewati proses formasi yang lebih panjang, setelah Serikat yakin bahwa memang Jesuit ini layak untuk menjadi bagian dari Serikat Jesus secara defintif, Serikat akan mengundang Jesuit tersebut untuk kaul akhir. Pada saat kaul akhir, Serikat Jesus menerima secara penuh anggotanya.   Di zaman modern ini, tiga kaul yang diucapkan oleh seorang Jesuit mungkin membuat orang menjadi bertanya-tanya, “Buat apa hidup miskin, murni, dan taat? Bukannya hidup itu harus bebas, kaya, dan nikmat?” “Apakah mengucapkan kaul itu masih relevan di tengah dunia yang menawarkan berbagai macam hal?” Bagi Serikat Jesus, kaul-kaul yang diucapkan oleh para anggotanya justru menjadi semakin relevan dan profetis. Para Jesuit berani mengambil sebuah sikap serta nilai yang diyakini dapat membawa diri mereka sekaligus orang lain pada sebuah kedalaman. Di kala banyak orang memperebutkan materi dan kekuasaan demi kepentingan diri, lewat kaul kemiskinan seorang Jesuit dipanggil untuk menyadari bahwa harta duniawi adalah milik Tuhan sendiri yang harus dijadikan sarana untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Kaul kemurnian tidak melarang para Jesuit untuk merasakan cinta. Sebaliknya, cinta menjadi dasar dari kaul kemurnian. Lewat cinta, timbulah hasrat untuk memberikan diri dalam pelayanan secara penuh. Ketaatan tidak menjadikan seorang Jesuit seperti sebuah robot yang tidak bisa berpikir. Justru lewat ketaatan, seorang Jesuit diajak untuk hidup secara kreatif dan setia (creative fidelity).     Seperti analogi roti sourdough di atas, kaul-kaul itu bagaikan tepung dan air. Bahan-bahannya sudah tersedia. Tinggal bagaimana bahan-bahan tersebut mau diolah supaya dapat menghasilkan ragi yang baik. Seorang Jesuit diajak untuk mengolah dirinya terus-menerus lewat kaul-kaulnya. Jika dapat diolah dengan baik, Jesuit tersebut dapat memberikan khasiat dan manfaat yang banyak bagi keselamatan jiwa-jiwa, seperti roti sourdough.   Apakah kaul menjadikan seorang Jesuit suci? Tentu tidak. Kenyataannya, pergulatan dan pergumulan terjadi di sana-sini. Namun, setidaknya kaul-kaul memberikan dasar sekaligus orientasi kehidupan yang hendak dicapai oleh Jesuit. Pada akhirnya, yang paling penting adalah memohon rahmat kepada Tuhan agar membimbing setiap Jesuit dalam menghidupi kaul. Dalam salah satu bagian rumusan kaul pertama, ada kalimat indah yang bunyinya, “Dan sebagaimana Engkau berkenan menganugerahkan untuk mengingini dan mempersembahkan ini, juga menganugerahkan rahmat selimpah-limpahnya untuk melaksanakannya.” Semoga Tuhan yang sudah memulai berkenan untuk menyelesaikannya.     Kontributor: Sch. Adrianus Raditya I., S.J.

Formasi Iman, Provindo

Program Tersiat Serikat Jesus Provinsi Indonesia 2026

Dalam Serikat Jesus, formasi tersiat adalah periode formasi ketiga dan terakhir sebelum seorang Jesuit mengucapkan kaul akhir. Setelah bertahun-tahun studi dan berkarya, para Jesuit yang menjalani formasi tersiat diajak kembali mencecap sumber-sumber utama Serikat Jesus, termasuk kehidupan Santo Ignatius, Latihan Rohani, dan sejarah Serikat Jesus. Selama periode ini, para tersiaris merenungkan panggilan mereka, hubungan mereka dengan Tuhan, dan pengalaman dalam karya pelayanan. Mereka juga sejenak undur diri, berdoa, dan merenungkan perjalanan pribadi mereka. Para tertian berbagi refleksi mereka dan menerima bimbingan rohani dari Direktur Program Tersiat. Tahun ini, program tersiat Provinsi Indonesia, yang berlangsung dari Januari hingga Juli, diikuti 8 imam dari negara lain, termasuk India, Italia,  Malaysia, dan Amerika Serikat, dan akan didampingi oleh Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J.   Berikut profil delapan Jesuit yang mengikuti Program Tersiat 2026 Provinsi Indonesia: P. Sujay Daniel D.G., S.J. Bangalore, Karnataka, India – 09 Januari 1982 Pater Sujay, S.J. ditahbiskan pada 1 Desember 2016. Ia pernah berkarya dalam pengelolaan pendidikan dan asrama pendampingan komunitas marjinal (Siddi), pelayanan pastoral kaum muda, serta formasi calon imam, sambil menempuh studi doktoral Neurosains yang memperkaya pendekatan pendampingannya dengan perspektif ilmiah.   Saya berharap dapat memberikan diri dengan tulus kepada Tuhan. Setelah itu, apapun yang terjadi, terjadilah!!!     P. Martinus Dam Febrianto, S.J. Lampung, Indonesia – 17 Februari 1981 Pater Dam, S.J. yang ditahbiskan pada 19 Agustus 2021, berkarya bersama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia dalam pelayanan bagi pengungsi dengan memberikan dukungan emosional dan pemenuhan kebutuhan dasar. Sejak 2022 menjabat sebagai Direktur Nasional JRS Indonesia sambil tetap terlibat langsung dalam pendampingan di berbagai wilayah.   Saya ingin sepenuhnya menyerahkan diri kepada Tuhan, secara bebas dan jujur, membiarkan diri dibentuk, ditantang, dan diperbarui. Di luar itu, saya hanya ingin menikmati momen syukur ini!     P. Parthasarathi N, S.J. Chennai, India – 22 April 1986 Ditahbiskan pada 26 Agustus 2017, Pater Sarathi, S.J. menekuni karya pastoral dan kerasulan orang muda melalui pelayanan paroki, serta pendampingan komunitas. Selain itu, ia juga terlibat dalam AICUF Tamil Nadu (Perkumpulan Universitas Katolik Seluruh India), pengembangan karya digital dan pembelajaran global Jesuit, sembari menjalani studi doktoral di bidang Manajemen dengan fokus kewirausahaan sosial.   Saya ingin semakin mendengarkan panggilan Allah, orang-orang yang tersisih, terutama kaum muda, dan diri sendiri dalam terang iman, demi keterbukaan yang lebih besar pada perutusan universal Serikat dan Gereja.     P. Luigi Territo, S.J. Genova (Italia) – 27 April 1980 Ditahbiskan pada 22 Februari 2020, Pater Luigi, S.J. berkarya dalam pendampingan rohani, formasi calon imam, dan dunia akademik di Italia Selatan. Ia melayani sebagai pembimbing rohani di sekolah menengah di Naples, formator di Seminari Tinggi Pontifikal Antar-regio Campania, serta dosen teologi di Fakultas Kepausan di Naples, Italia, dengan subjek Trinitas dan dialog dengan Islam.   Saya ingin berhenti sejenak dan kembali kepada Tuhan untuk berada bersama-Nya sebagai seorang novis.     P. Joseph Koczera, S.J. New Bedford, Massachusetts, USA – 27 Mei 1980 Dari tahun 2009 hingga 2012, sebagai TOKer, Pater Joseph, S.J. mengajar filsafat di Universitas St. Joseph, Philadelphia (AS). Setelah ditahbiskan imam, ia menyelesaikan studi doktoral teologi di Centre Sèvres di Paris, dan sejak 2023 mengajar di Pontificia Università Gregoriana, Roma. Ia juga bekerja paruh waktu di paroki-paroki di Kanada, Prancis, dan Italia, serta bertanggung jawab mereksa Gereja Paroki Sant’Antonio Abate all’Esquilino, sebuah gereja kecil di Roma.   Saya berharap cinta saya kepada Allah semakin bertumbuh dan sebagai Jesuit saya makin mampu menjawab panggilan untuk melayani-Nya secara tulus, melalui keinginan mengikuti Latihan Rohani secara penuh sebagai pembaruan pengalaman Retret Agung yang terakhir saya jalani lebih dari dua puluh tahun lalu saat masih novis.     P. Rafael Mathando Hinganaday, S.J. Jakarta, Indonesia – 13 November 1988 Pater Rafael, S.J. memulai pelayanan apostoliknya di Kolese Mikael Surakarta, kemudian melanjutkan studi Magister Manajemen di Universitas Trisakti sambil menjadi ekonom Kolese Hermanum. Selain itu, ia bekerja sebagai anggota staf Yayasan Dana Pensiun (Yadapen), Semarang.   Saya ingin semakin bertumbuh dan menjadi seorang Jesuit yang mencintai Allah, Serikat Jesus, Gereja, dan karya di manapun saya ditugaskan.     P. Philipus Bagus Widyawan, S.J. Klaten, Indonesia – 18 November 1990 Segera setelah ditahbiskan imam, Pater Bagus, S.J. ditugaskan ke Paroki Santa Maria Bunda Allah di Botong, Keuskupan Ketapang, Kalimantan. Di sana, ia melakukan pelayanan paroki, pendampingan iman di kelompok-kelompok komunitas setempat.   Saya ingin semakin mencintai Serikat Jesus dan menjadi lebih siap diutus ke manapun sebagai seorang Jesuit untuk melayani Gereja.     P. Leslie Joseph Bingkasan, S.J. Sabah, Malaysia Pater Leslie, S.J. adalah Jesuit dari Regio Malaysia–Singapura. Beberapa kenangan terindahnya sebagai Jesuit adalah ketika ia menjalani pelayanan paroki, baik selama masa diakonat di Sabah maupun dalam karya pastoralnya saat ini. Sejak 2021, ia bertugas di Paroki St. Ignatius, Singapura, dan sejak 2023 menjadi pastor rekan. Keragaman demografis paroki yang tinggi menunjukkan kepadanya bahwa tidak ada pendekatan seragam dalam pelayanan. Hal ini memberikan ruang konkret baginya untuk menghidupi semangat lepas bebas Ignasian.   Saya berharap semakin terbantu untuk mengintegrasikan pengalaman hidup Jesuit dan pelayanan pastoral yang telah dijalani selama bertahun-tahun sehingga hidup dan panggilan saya sebagai Jesuit kembali disegarkan.     Kontributor: Tim Komunikator Jesuit Indonesia & Ha Wahyaka