Pilgrims on Christ’s Mission

Pelayanan Spiritualitas

Pelayanan Spiritualitas, Penjelajahan dengan Orang Muda

Menemukan Damai di Tengah Ketidakpastian

Refleksi Pertemuan Magis Asia Pacific 2025 Mendapat kesempatan untuk mewakili Magis Indonesia di pertemuan Magis Asia Pacific 2025 adalah suatu berkat besar yang Tuhan berikan untukku. Sebelum kabar ini aku terima, aku sedang berada di momen desolasi namun Tuhan hadir melalui perantara Pater Koko untuk memberi tahu bahwa aku salah satu yang akan mewakili Magis Indonesia. Pada saat itu aku merasa Tuhan memberiku hadiah besar atas kesabaran dan keihklasanku menerima kejadian yang aku alami akhir-khir ini. Menyambut kabar itu dengan gembira aku mempersiapkannya dari awal dengan tim Magis Indonesia. Kami kooperatif dalam membantu sama lain selama masa persiapan dan semua dipermudah dengan urusan kami masing-masing baik itu urusan pekerjaan di kantor, pengurusan visa, dan berbagai koordinasi lain. Ketika semuanya sudah siap aku mulai memberitahukan kepada orang tua dan beberapa teman terdekatku untuk memohon doa mereka selama aku 10 hari di Taiwan. Mereka semua juga menyambut kabar ini dengan sukacita dan ikut mendoakan perjalananku.   Hari pun tiba saat kami sampai di Taiwan disambut dengan cuaca dingin, mendung, dan sedikit hujan. Kami dijemput oleh panitia di Bandara dan diajak menggunakan MRT hingga sampai di venue pertama yaitu Sekolah St. Ignatius Loyola. Aku sekamar dengan perwakilan Magis Jepang dan Magis Singapore. Kegiatan pun dimulai dengan berkumpul di aula sekolah dan bertemu dengan beberapa perwakilan dari negara lain. Kami bisa saling mengenal menambah relasi pertemanan baru dan bertukar informasi dengan budaya negara kami masing-masing. Total kurang lebih ada 11 negara. Kegiatan berikutnya diisi dengan materi yang diberikan oleh perwakilan imam, refleksi pribadi, sharing dalam kelompok, misa harian dan sampailah pada kegiatan inti yaitu Magis Experiment.     Dalam Magis Experiment ini aku memilih melayani kaum marginal pada urutan pertamaku dan aku ditempatkan sesuai dengan kelompok yang aku pilih. Kelompokku didampingi koordinator, seorang imam, dan beberapa teman dari Magis Singapura, Korea, dan Filipina. Sebelum kami melakukan kegiatan Magis Experiment, kami diminta untuk menulis beberapa ketakutan dan aku menulis ketakutanku adalah kendala bahasa jika berkomunikasi langsung dengan para tuna wisma dan akan tempat tinggal selama kegiatan. Pada hari pertama, kami diajak untuk mengunjungi salah satu NGO dan kami dibantu oleh salah satu pendamping kami dalam menerjemahkan bahasa Mandarin ke bahasa Inggris. Ternyata ketakutanku mulai memudar karena kami bisa memahami selama kami berkomunikasi dan pesannya dapat kami terima dengan baik. Kami diajak berkeliling ke beberapa tempat dengan mengunjungi salah satu kuil bersejarah sambil menikmati jalanan dan kota Taiwan. Hal ini terasa istimewa karena ini adalah kunjungan pertamaku ke Taiwan. Malamnya kami menyiapkan makanan untuk diberikan kepada para tuna wisma di pinggir stasiun.   Malam itu kami keluar naik MRT kemudian berjalan kaki untuk menemui beberapa tuna wisma. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan ditemani imam pendamping. Selama aku memberikan makanan dan sedikit berkomunikasi dengan mereka, aku merasa Tuhan hadir dengan mengingatkanku akan kenyamanan rumah yang aku miliki. Punya kamar, ruangan hangat, punya tempat tidur tidak kedinginan dan tidak kehujanan tetapi mereka tidur hanya beralaskan kardus dan payung sebagai pelindung hujan. Aku merasa tersentuh ketika mereka merasa sukacita akan kehadiran kami membawa sedikit makanan. Aku mengucap syukur pada Tuhan atas tempat tinggal yang aku miliki dan keluarga masih utuh setia mendampingiku.   Pada hari berikutnya, kami diajak ke sebuah pelabuhan untuk bertemu dengan beberapa nelayan dan pekerja home care di Taiwan. Semua yang kami temui adalah pekerja Indonesia dan aku senang bisa bertegur sapa dengan mereka. Sebagai seorang nelayan yang tidurnya hanya di kapal, jauh dari keluarga di Indonesia dan pulang setelah beberapa bulan mengingatkanku akan pekerjaan dan kenyamanan yang aku miliki saat ini. Kadang aku mengeluhkan pekerjaan dan ternyata itu tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Aku sempat mengobrol juga dengan salah satu pekerja migran perempuan Indonesia yang bekerja mengurus lansia. Ia harus meninggalkan anaknya yang masih kecil berusia 2 tahun di Indonesia untuk bekerja di Taiwan mencari nafkah. Namun dia punya cita-cita untuk menyekolahkan anaknya di Taiwan agar bisa menjadi guru mandarin di Indonesia. Hal itu menyentuhku akan cinta seorang Ibu untuk anaknya. Setelah selesai berbincang-bincang, kami semua makan malam bersama dengan tema makanan Indonesia dan teman-temanku dari negara lain menyukai makanan tempe. Para pekerja migranlah yang menyiapkan dan memasak makan malam untuk kami semua. Kekeluargaan sangat terasa dalam momen ini.     Tak terasa dua malam Magis Experiment yang kami jalani bisa kami lalui. Ternyata semua ketakutanku yang aku sempat tulis di awal tidak terjadi. Tuhan menyertaiku menyelesaikan tugas ini dengan banyak berkat, seperti kekeluargaan dalam kelompok, relasiku dengan orang-orang yang aku jumpai, dan kenyamanan dalam tempat tinggal, makanan, kebutuhan lainnya semua dicukupkan. Tuhan benar-benar hadir dalam tiap waktu yang aku lalui hingga bisa memiliki pengalaman spiritual selama Magis Experiment ini. Banyak cinta yang aku terima dan bisa aku bagikan lagi ke orang lain saat kembali ke Indonesia. Aku semakin terpanggil untuk melayani kaum marginal. Aku semakin bisa merasakan nilai-nilai yang Tuhan kehendaki dalam hidup pelayananku. Waktu 10 hari sebagai seorang peziarah di Taiwan tidak terasa aku lalui. Ada momen di mana aku merindukan orang tua, tempat tinggal, kebiasaan yang aku lakukan di rumah tapi berkat Tuhan, aku bisa lalui. Aku belajar untuk rendah hati dan menikmati momen saat ini.     Semua pengalaman selama mengikuti Magis Asia Pacific adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tempat-tempat di Taiwan yang aku kunjungi, makanan, cuaca, teman-teman Magis dari berbagai negara, panitia Magis Taiwan yang selalu siap membantu, pelayanan yang diberikan panitia. Secara keseluruhan, acara terasa mudah dan lancar. Aku pulang ke Indonesia membawa semangat Magis yang baru dan ada perasaan damai dalam hati yang aku rasakan. Aku merasa momen desolasiku sebelum pergi disembuhkan melalui kegiatan ini. Aku merasa lebih tenang dan mulai bisa melepaskan pelan-pelan ketakutanku dengan bisa melihat kehadiran Tuhan dalam momen keheningan yang aku rasakan.   Kontributor: Magdalena Prita – Delegasi Magis Indonesia

Pelayanan Spiritualitas

Vatikan Luncurkan ‘Berdoa Bersama Bapa Suci’ dalam Format Audio-video

Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia dan Dikasteri Komunikasi meluncurkan proyek “Berdoa Bersama Bapa Suci”, sebuah inisiatif baru untuk melayani misi Bapa Suci. Mulai bulan Januari 2026, dan sebagai kelanjutan dari misi yang diluncurkan oleh Paus Fransiskus, Paus Leo XVI akan membagikan intensi doa bulanannya melalui video dan audio. Inisiatif ini mengundang Gereja Universal dan semua orang yang berkehendak baik untuk bersatu secara spiritual dalam doa yang sama.   Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas intensi doa Bapa Suci, menggunakan bahasa yang sesuai untuk berdoa, dalam format baru, sehingga dapat menjangkau umat beriman di seluruh dunia dengan lebih baik, terutama di dunia komunikasi digital saat ini. Dalam peluncuran ini, Direktur Internasional Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia, Pater Cristóbal Fones, SJ, menjelaskan bahwa “Berdoa Bersama Bapa Suci” adalah inisiatif Bapa Suci untuk membantu setiap orang bergabung secara konkret dalam niat doa yang beliau usulkan setiap bulan, dan dengan demikian membuka hati mereka terhadap tantangan yang dihadapi umat manusia dan misi Gereja.   Sebuah Karya Kolaborasi Video dan audio “Berdoa Bersama Bapa Suci” adalah sarana untuk menyatukan Gereja Universal untuk bersatu hati dalam doa. Proyek ini juga merupakan karya kolaborasi antara Dikasteri Komunikasi dan Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia. Karya ini adalah indikasi nyata bagaimana upaya komunikasi Takhta Suci memupuk persekutuan seluruh Gereja dan berjalan bersama secara sinodal. Doa Bapa Suci yang intim dan universal ditawarkan dengan cara baru, sederhana namun ampuh, sebagai instrumen nyata persatuan dan persekutuan kita di dalam Tuhan. Video dan audio ini diharapkan dapat menjadi titik temu bagi jutaan orang, anggota tubuh yang sama, yang sepenuhnya hadir di dunia digital dan di tempat-tempat fisik di mana mereka tinggal, dimulai dari dalam hati setiap orang. Harapannya, video dan audio ini dapat digunakan dalam kegiatan-kegiatan lingkungan, wilayah, paroki, atau komunitas basis.     Kolaborasi dalam mempromosikan Video Bapa Suci bukanlah hal baru bagi Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia – Indonesia. Sejak 2023, Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia – Indonesia telah berkolaborasi dengan Karya Misi Kepausan Indonesia untuk menerjemahkan subtitle video dalam Bahasa Indonesia. Video ini lalu diunggah di kanal YouTube Missio Nusantara, serta Instagram @pwpn.indonesia.   Keterlibatan ini adalah wujud nyata dukungan Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia selama lebih dari 180 tahun. Kini, jejaring ini terus memperbarui misinya melalui konten dan sumber daya baru, guna mendorong partisipasi dan akses yang lebih luas lagi bagi seluruh umat.     Kontributor: Tim PWPN Indonesia

Pelayanan Spiritualitas

Syukur, Panggilan, dan Semangat Magis

Merayakan 17 Tahun Perjalanan MAGIS Indonesia: Sabtu, 23 Agustus 2025, suasana syukur dan sukacita memenuhi Aula Kolese Kanisius, Jakarta. Komunitas MAGIS Indonesia menggelar Misa Syukur 17 Tahun sebagai ungkapan terima kasih atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan komunitas ini sejak 2008, yang dihadiri oleh para alumni MAGIS Jakarta dan Yogyakarta. Perayaan ini menjadi momen istimewa, tidak hanya karena komunitas yang telah menapaki 17 tahun, tetapi juga mengucap syukur atas Misa Perdana Pater Leo Tanjung Perkasa, S.J.—pendamping MAGIS Jakarta tahun 2017–2018, Pater Septian Marhenanto, S.J.—alumnus MAGIS Jakarta 2011, serta ucapan syukur atas pengucapan Kaul Akhir Pater Alexander Koko Siswijayanto, S.J.—moderator MAGIS Indonesia.   Dalam homilinya, Pater Leo menyampaikan pemaknaan kata magis yang terus mengalami pengembangan. Dulu, kata magis dimaknai sebagai “lebih”—lebih aktif, lebih terlibat. Namun seiring perjalanan panggilannya, makna itu semakin mendalam menjadi, “Berjuang lebih untuk mengabdi Raja Abadi.” Kini, magis memiliki arti untuk, “Semakin menyerupai Kristus dalam kenyataan hidup sehari-hari.” Pater Leo mengajak agar setiap Magister perlu menjawab panggilan “Be More” sesuai konteks hidup masing-masing.   Pater Septian, dalam sharing panggilannya, turut menyampaikan rasa syukur karena MAGIS menjadi sarana di mana ia secara pribadi “menjumpai dan dijumpai Tuhan.” Ia menyampaikan, bahwa motivasi awalnya mengikuti MAGIS adalah keinginan untuk ikut World Youth Day. Namun, Tuhan justru membelokkan arah hidupnya menuju panggilan selibat.   Sementara itu, di akhir sesi homili, Pater Koko menekankan bahwa kerendahan hatilah yang membuka jalan menuju semangat magis. “MAGIS itu tidak mungkin menjadi magis tanpa magis. Artinya, Komunitas MAGIS itu tidak mungkin memiliki spirit magis tanpa semangat untuk menjadi “lebih.” Dan semua itu tidak bisa diwujudkan, jika tidak didasari oleh kerendahan hati Ignasian. Kerendahan hati yang melihat apakah setiap keputusan praktis maupun keputusan besar kita sudah selaras dengan kehendak Allah.” Sebagai penutup, seluruh umat bersama-bersama mendaraskan Doa Kerendahan Hati (Santo Ignatius Loyola), sebagai bentuk permohonan agar terus bertekun dalam kehendak Tuhan.   Setelah misa, acara dilanjutkan dengan sesi tumpengan sebagai simbol syukur, kebersamaan, sekaligus nostalgia. Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan angkatan pertama (MAGIS 2011) dan angkatan terbaru (MAGIS 2025). Perayaan ini ditutup dengan penuh khidmat dan sukacita. Harapannya, setiap pribadi yang hadir terus membawa semangat magis—semangat untuk terus bertumbuh, melayani, dan menjadi “lebih”, dalam kerendahan hati, seturut teladan Santo Ignatius Loyola.       Kontributor: Humas MAGIS Jakarta

Pelayanan Spiritualitas

Lintas Komunitas Ignatian: Studi Surat-surat dan Instruksi St Ignatius

Berlokasi di Rumah Retret Wisma Samadi Abdi Kristus, Gedanganak-Ungaran, pada 12-14 Juli 2024 diadakan acara semi retret bertajuk Studi Surat-surat dan Instruksi St Ignatius. Ditemani oleh Pater L. A. Sardi, S.J., acara ini dihadiri 46 peserta awam dan religius dari berbagai komunitas Ignatian, yaitu: CLC (Christian Life Community), LRP (Latihan Rohani Pemula), SBS (Schooled by the Spirit), KD (Kerasulan Doa-Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia), SIS (Sahabat Ignatian Sabah), MI (Mitra Ignatian), para alumnus sekolah Jesuit, Mendaki Jalan Sukacita Arrupe, dan ziarah Ignatian yang pernah diadakan oleh Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Pertemuan ini bertujuan mempelajari delapan surat St. Ignatius Loyola yang dikelompokkan ke dalam enam bagian, yaitu: pentingnya Latihan Rohani, Cara Bertindak Seorang Anggota Serikat dalam Perutusan, Kemiskinan, Pembinaan Anggota Serikat, Tentang Kesehatan, dan di bagian akhir Ajakan St Ignatius untuk Berusaha Mencari dan Merasakan Kehadiran Tuhan di dalam Aktivitas Hidup Sehari-hari. Surat-surat yang dipelajari diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh panitia dari Mitra Ignatian yang kemudian dikoreksi dan disempurnakan serta diberi pengantar oleh Pater Sardi, S.J. Para peserta terlibat dalam diskusi mendalam dan refleksi tentang isi surat-surat yang memberikan wawasan berharga tentang spiritualitas Ignatian dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.     Dengan jumlah peserta yang dibatasi hanya 46 orang, terjadilah proses dan dinamika studi yang lebih intens. Suasana retret sangat terasa di saat-saat silentium makan pagi dan juga di saat-saat renungan pribadi. Adapun di saat makan siang dan malam peserta membaur dengan suasana yang nyaman dan sangat cair. Terasa ada koneksi satu sama lain walaupun berasal dari daerah-daerah yang berjauhan dan banyak yang baru pertama kali bertemu. Mengenai peserta yang datang dari beragam komunitas ini, Pater Sardi, S.J. menulis di bagian penutup buku studi. “Keberagaman asal dan kelompok peserta studi surat-surat dan instruksi St. Ignatius ini, secara pribadi membuat saya merasa bersyukur dan bergembira karena diingatkan kembali akan salah satu bab dari buku Arturo Sosa, SJ, Berjalan Bersama Ignatius (Kanisius, 2021); bab 11 tentang “Perutusan Bersama: Sekolah Dialog dan Keterbukaan.” Aktivitas formasi spiritualitas Ignatian ini terasa meneguhkan kebenaran yang termuat dalam bab buku tersebut, terutama peneguhan oleh kehadiran peserta dari beragam kelompok Ignatian untuk bersekolah bersama dari sang guru, St. Ignatius sendiri, melalui surat-surat dan instruksinya.”   Acara ini memberikan pengalaman dan menambah wawasan yang bermakna bagi semua peserta, terlebih dengan hadirnya Pater Nano atau Pater Agustinus Setyodarmono, S.J., yang mempersembahkan misa penutup. Kehadirannya sebagai Koordinator Formasi Awam Sahabat Ignatius di tengah-tengah utusan dari berbagai komunitas Ignatian semakin menguatkan kesan dan pesan ikatan kebersamaan dan persaudaraan yang didasari spiritualitas yang sama. Umpan balik dari peserta sangat positif, dengan banyak yang merasa terinspirasi dan termotivasi untuk menerapkan ajaran St. Ignatius dalam kehidupan mereka. Rencana tindak lanjutnya antara lain akan diadakan pertemuan rutin untuk terus mempelajari dan mendalami spiritualitas Ignatian.   Kontributor: Adela Riana – Mitra Ignatian

Pelayanan Spiritualitas

Ziarah dalam Gelisah

Seri Webinar ketujuh Ziarah dalam Gelisah kembali digelar pada Jumat, 16 Desember 2022 di Gereja St. Theresia, Bongsari, Semarang. Webinar pendalaman Spiritualitas Ignatian ini, yang merupakan buah kerja sama antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Yayasan Basis, dan beberapa karya Jesuit, cukup menarik minat para pencinta Spiritualitas Ignatian. Narasumber untuk seri terakhir ini adalah Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia dengan moderator Ibu Elizabeth Indira. Tema yang diangkat adalah Mengolah Gerakan-gerakan Batin: Menekuni Latihan Pembedaan Roh secara Ignatian dalam Hidup Sehari-hari. Pater Benny, S.J. mengajak kita untuk lebih mengamati gerakan-gerakan batin yang sering muncul dalam hidup kita sehari-hari, terutama dalam pengambilan keputusan. Terkadang kita tidak menyadari bahwa setiap hari kita mengambil begitu banyak keputusan. Sebenarnya gerakan batin atau perasaan apa yang muncul ketika kita akan memilih sesuatu? Apakah kita senang atau sedih atau berat? Lalu bagaimanakah realitas yang ada sebenarnya? Baru setelah itu, kita melakukan pembedaan roh dan mengambil keputusan. Namun adakalanya kita dihadapkan dalam pilihan yang sulit dan membuat ragu. Saat hal ini terjadi, sebaiknya kita mengumpulkan semua informasi dan kemudian melakukan pembedaan roh serta mengamati bagaimana perasaan kita sesungguhnya. Proses ini akan membutuhkan waktu yang agak lama. Apabila kita masih ragu-ragu, ambil saja keputusan namun kita harus berani menanggung konsekuensinya karena setiap keputusan yang kita ambil selalu mengandung konsekuensi. Semakin besar tanggung jawab kita maka semakin besar pula konsekuensinya. Di akhir webinar Pater Benny, S.J. berpesan agar kita tidak perlu khawatir akan apa yang dipikirkan Allah tentang diri kita. Yang terpenting adalah kita memberi ruang bagi Allah untuk bekerja dalam diri kita lewat pembedaan roh dan Allah pasti bekerja saat kita harus menentukan keputusan. Acara ini diselenggarakan secara hybrid dan dimeriahkan dengan iringan musik dari Bongsari Music Ministry. Para umat yang hadir dan bergabung dalam zoom pun terlibat aktif dalam sesi tanya-jawab. Pater Sindhunata, S.J., perwakilan Yayasan Basis dan penulis buku, serta Andi Tarigan, perwakilan Gramedia Pustaka Utama turut hadir dalam webinar ini, sekaligus menutup rangkaian seri Ziarah Dalam Gelisah. Rangkaian seri webinar ini menjadi bedah buku terpanjang dengan peserta terbanyak yang diselenggarakan oleh Gramedia. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator SJ Provindo

Pelayanan Spiritualitas

Ziarah dalam Gelisah

Pendalaman Spiritualitas Ignatian bertajuk Ziarah dalam Gelisah yang kelima dan keenam kembali digelar pada Jumat, 11 dan 18 November 2022. Webinar buah kerja sama antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Yayasan Basis, dan beberapa karya Jesuit ini cukup menarik minat para pecinta Spiritualitas Ignatian. Berdamai dengan Diri: Membuka Diri, Belajar Tanpa Henti Seri kelima webinar ini diselenggarakan secara hybrid di Aula Lantai 5 Perkumpulan Strada, Jl. Gunung Sahari No. 88, Jakarta Pusat, pada Jumat, 11 November 2022 dengan tema Berdamai dengan Diri: Membuka Diri, Belajar Tanpa Henti. Narasumber kali ini adalah Pater Odemus Bei Witono, S.J. Pada kesempatan ini, Pater Bei menyampaikan bahwa mendalami semangat Ignatian dalam pendidikan orang muda adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Serikat Jesus. Ada tiga fokus yang disampaikan Pater Bei. Pertama, kekhasan Pedagogi Ignatian. Kedua, bagaimana penerapan pedagogi Ignatian dalam pendidikan orang-orang muda termasuk di lembaga-lembaga pendidikan. Ketiga, terkait dengan cara atau metode Pedagogi Ignatian yang membantu perkembangan orang muda secara utuh dalam dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Dalam pemaparannya, Pater Bei menjelaskan bahwa membuka diri dan belajar tanpa henti mungkin seperti utopia karena sangat tidak mungkin bila kita belajar terus-menerus tanpa henti. Akan tetapi, hati yang penuh sukacita dan semangat yang berkobar-kobar, seperti yang dialami St. Ignatius, akan menggerakkan kita untuk belajar terus-menerus tanpa henti. Ignasius membayangkan bagaimana manusia diselamatkan sejak ia jatuh pada dosa pertama. Dosa itu membuat relasi dunia dengan Tuhan terputus tetapi justru dalam peristiwa ini Tuhan hadir untuk menyelamatkan. Tuhan “memilih” profesinya sebagai guru karena Dia ingin hadir dengan cara mencerdaskan kehidupan umat manusia. Rupanya ini ditangkap oleh Ignatius sebagai cara menolong jiwa-jiwa lewat pendidikan. Dia hadir dalam kehidupan ini meski bukan berarti kehadiran Tuhan itu disambut gembira oleh seluruh umat. Meskipun demikian dalam asas dan dasar disebutkan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Allah. Peristiwa inkarnasi atau kisah penjelmaan menjadi sapaan yang sangat personal yang ditunjukkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, kita patut bersyukur, bergembira, dan bersukacita. Hati yang terbuka itu seperti oase, mata air yang tidak pernah menjadi kering. Berbicara tentang orang muda berarti berbicara tentang orientasi hidup. Menurut Pedro Arrupe manusia bagi dan bersama sesama berarti semakin orang itu cerdas semakin orang itu punya orientasi hidup yang jelas. Semakin seseorang itu terpelajar dan menjadi manusia bagi sesamanya maka hidupnya semakin bermakna. Artinya, kita tidak pernah berhenti untuk belajar karena kalau kita berhenti belajar kita akan ketinggalan dan kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain. Tantangannya adalah bagaimana membangun pondasi itu dalam diri orang-orang muda penerus masa depan. Dalam pendidikan Ignatian, kuncinya adalah cura personalis, AMDG, kesatuan hati dan budi menemukan Tuhan dalam segala. Kalau kita bisa menjadi Leader and Agent of Change, maka seseorang yang tadinya bukan apa-apa akan menjadi luar biasa, karena disapa satu persatu. Kita bisa belajar bagaimana Yesus mengenali seluruh muridnya termasuk kita. AMDG merupakan kunci bagaimana kita belajar tanpa henti. Ada tiga dasar, yaitu pertama manusia terus berproses, kedua belajar pada Yesus yang senantiasa menunjukkan pada kita jalan keselamatan seperti yang dilakukan oleh Ignasius dalam buku latihan rohani, dan ketiga sekolah-sekolah, termasuk sekolah Katolik, mengisi hal-hal yang baik bagi masyarakat dan bagi sesama. Masyarakat berubah dan kita terus ingin memberikan sesuatu, maka kata kunci terakhir adalah menjadi excellent. Pendidikan Ignasian mengarahkan kita untuk menjadi excellent. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Bei. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Lantai 5 Kantor Strada Pusat, Jl. Gunung Sahari No. 88, Jakarta Pusat, menyimak dengan sungguh-sungguh dan secara aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah, dalam pendidikan, apa yang membedakan pendidikan dengan Pedagogi Ignatian dengan pendidikan pada umumnya? Pater Bei memberikan tanggapan dari pengalaman pribadinya. Ketika berumur 10 tahun, waktu pulang sekolah, ia kaget karena rumah sudah dibongkar orang, rata dengan tanah. Terlihat ibunya menangis di balik tumpukan batu bata. Kebahagiaan tercabik-cabik, rasanya marah besar. Cukup lama ia berproses dan berdamai dengan diri sendiri. Bagaimana bisa mengampuni orang yang menggusur rumah. Pater Bei dapat memaafkan orang yang menggusur rumahnya setelah menjadi imam dan melakukan Latihan Rohani. Latihan Rohani dilakukan oleh sekolah yang menerapkan Pedagogi Ignatian. Dalam Latihan Rohani, kita diajarkan tentang asas dan dasar, panggilan Raja, dan kerendahan hati. Guru-guru, karyawan, serta murid-murid yang sudah terbiasa dengan Latihan Rohani, pastinya juga bisa mengampuni orang yang barangkali menyakiti hati dan perasaan kita. Latihan Rohani adalah pergulatan Ignatius sendiri. Kita melihat bagaimana ia meredam seluruh emosi dan cita-citanya hingga akhirnya mampu berdiskresi untuk memutuskan cara mengikuti Tuhan. Sekolah dengan Pedagogi Ignatian tampak dalam nilai-nilai dasar yang ada di sekolah, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan keunggulan. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai Ignatian yang diperjuangkan berdasarkan Latihan Rohani. Belajar tanpa henti bukanlah sesuatu yang tidak nyata atau sesuatu yang mustahil jika kita memiliki cita-cita, niat baik, dan peduli sesama. Kita tetap bisa belajar tanpa henti memaknai hari-hari yang kita lalui dan kita gunakan untuk menjadi berkat bagi sesama yang kita layani, menjadi berkat kemajuan kita semua. Untuk menjadi lebih baik, belajar tanpa henti tidak akan pernah sia-sia. Membuka hati adalah prasyarat untuk belajar tanpa henti. Semoga ini menjadi semangat kita demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan. Berdamai dengan Diri: Iman yang Naif tapi Benar Pada Jumat, 25 November 2022 sore, rangkaian Pendalaman Spiritualitas Ignatian bertema Ziarah dalam Gelisah kembali berlanjut. Bertempat di Gereja Paroki St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, topik yang diangkat dalam acara ini adalah “Iman yang Naif tapi Benar: Mengenal Maria dan Spiritualitas Jalan Hati dalam Tradisi Ignatian. Kali ini Pater G.P. Sindhunata, S.J., penulis dan penyunting tiga buku yang menjadi bahan utama acara ini, menjadi narasumbernya. Acara ini dihadiri sekitar 100 audiens secara langsung di tempat atau on the spot serta disaksikan pula oleh ribuan lainnya secara daring. Selain menjabarkan isi buku yang ditulisnya, Pater Sindhu juga membagikan beberapa pengalaman pribadinya dalam beriman. Ia menegaskan bahwa iman seringkali tidak dapat diukur dengan logika dan nalar, sehingga terkesan naif. Akan tetapi, iman selalu dapat dirasakan kebenarannya melalui hati. Para Jesuit, termasuk St. Ignatius sendiri, selalu dipanggil untuk menghayati spiritualitasnya lewat jalan hati. Tak mengherankan bila Paus Pius IX menugaskan Serikat Jesus untuk mempromosikan Devosi kepada Hati Kudus

Pelayanan Spiritualitas

Ziarah dalam Gelisah

Pendalaman Spiritualitas Ignatian bertajuk Ziarah dalam Gelisah yang ketiga dan keempat kembali digelar pada Jumat, 14 Oktober 2022 dan Jumat, 28 Oktober 2022. Webinar yang merupakan kerja sama antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, dan Yayasan Basis ini cukup menarik minat para pecinta spiritualitas Ignatian. Berdamai dengan Diri: Mengelola Pergulatan Batin dalam Terang Spiritualitas Ignatian Seri ketiga webinar ini diselenggarakan secara hybrid di Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan, Surakarta pada Jumat, 14 Oktober 2022 dengan tema Berdamai dengan Diri: Mengelola Pergulatan Batin dalam Terang Spiritualitas Ignatian. Narasumber kali ini adalah Pater Antonius Sumarwan, S.J. Pada kesempatan ini, ia mengajak para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan menyimak dengan sungguh-sungguh pemaparan kemudian secara aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana membedakan antara kehendak Tuhan dan ego pribadi. Pater Marwan mengingatkan bahwa salah satu dambaan dalam Latihan Rohani St. Ignatius Loyola adalah mencari, menemukan, dan melaksanakan kehendak Tuhan. Pater Sindhunata, S.J. yang hadir dalam kegiatan ini juga menyampaikan dalam kata penutupnya bahwa spiritualitas Ignatian adalah sesuatu yang perlu dilatih terus-menerus. Untuk membantu proses latihan atau olah rohani, salah satu bentuk yang ditawarkan oleh spiritualitas Ignatian adalah Retret Anotasi 19, yang kemudian diolah menjadi Latihan Rohani Pemula. Saat ini komunitas Latihan Rohani Pemula sedang melaksanakan retret sesi ke-8. Pater Marwan yang juga koordinator Latihan Rohani Pemula mengatakan sudah lebih dari 1000 orang menjalani Latihan Rohani Pemula dan merasakan manfaatnya. Harapannya, semoga spiritualitas Ignatian semakin membantu kita untuk menyadari kasih Allah dalam gelap dan terang hidup kita. Hidup adalah Memberi: Mengalami Makna Mendapatkan Cinta dari Latihan Rohani St. Ignatius Jumat, 28 Oktober 2022, menjadi hari yang istimewa terutama bagi Paroki Santa Perawan Maria Ratu (SPMR) Blok Q karena dipercaya menjadi tempat diselenggarakannya seri webinar keempat Ziarah dalam Gelisah: Hidup adalah Memberi dengan subtema Mengalami Makna Mendapatkan Cinta dari Latihan Rohani St Ignatius dan Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J. sebagai narasumber. Acara ini juga merupakan bagian dari acara Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang menerbitkan karya terbaru Pater Sindhunata, Anak Anak Ignasius. Buku ini menceritakan tentang spiritualitas Ignasian dari sosok para Jesuit, antara lain Pater R. Maryono, S.J. (RIP) yang dahulu pernah berkarya di Gereja Blok Q. Kebetulan sekali bahwa Pater Sunu adalah teman seangkatan Pater Maryono. Dalam webinar ini Pater Sunu membahas mengenai kontemplasi untuk mendapatkan cinta. Kontemplasi untuk mendapatkan cinta adalah sebuah bentuk doa, yang oleh Ignasius dibuat untuk membantu retret dan menghidupi semangat latihan rohani dalam hidup sehari-hari. Menurut Pater Sunu, kontemplasi untuk mendapatkan cinta adalah kontemplasi untuk menghidupi cinta, menghidupi cinta Allah dengan prinsip (1) cinta harus diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata dan (2) cinta itu nyata dalam tindak saling memberi. Dalam terang pengalaman hidup St. Ignasius Loyola, sesungguhnya ia adalah seseorang yang jatuh cinta pada Allah atau mendapatkan cinta dari Allah sehingga ia begitu merindukan Allah lewat sesama. Peluru meriam mengenai kakinya di Pamplona sampai ia menjadi seorang pimpinan Jesuit. Ia banyak mengalami cinta Allah, bahkan selalu mengandalkan Allah. Salah satunya setelah ia meninggalkan Loyola, Ignasius hidup dari orang lain, meminta-minta sepanjang hidupnya, dan benar-benar hidup dari kebaikan Allah lewat orang lain. Dengan perjalanan yang begitu istimewa tersebut, maka Ignasius ingin membagikan pengalaman jatuh cintanya dengan sebanyak mungkin orang. Oleh Ignasius, kita diminta untuk mengingat lalu mensyukuri betapa besar karya Tuhan bagi kita, betapa banyak anugerah telah dilimpahkan-Nya. Ingatlah setiap anugerah Allah sejak kita dilahirkan hingga saat ini. Ignasius mengajak kita untuk menimbang dan melihat bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-Nya, di dalam batu, tumbuh-tumbuhan, dan juga manusia. Bersyukur atas segala pemberian karena telah diberi kehidupan hingga saat ini. Lalu bagaimana kita berlatih secara rohani untuk hal ini? Mulailah berlatih untuk bersyukur karena bersyukur akan melahirkan kerendahan hati (mengakui orang lain) dan kerendahan hati pasti melahirkan kemurahan hati, dan kemurahan hati akan melahirkan keterbukaan, baik keterbukaan kepala, kehendak, tangan, maupun tubuh secara keseluruhan yang berarti siap membantu orang lain – to live for others. Materi webinar ini sangat istimewa dan mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari para peserta. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk, baik melalui zoom

Pelayanan Spiritualitas

Pendalaman Spiritualitas Ignatian: Ziarah dalam Gelisah

Dalam rangka memperkenalkan tiga buku baru karya Pater G.P. Sindhunata, S.J. (Anak-anak Ignatius, Jalan Hati Jesuit, dan Sisi Sepasang Sayap), Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) bekerja sama dengan Yayasan BASIS dan Serikat Jesus Provinsi Indonesia mengadakan acara “Pendalaman Spiritualitas Ignatian” secara berseri dalam tujuh kali pertemuan (hybrid: onsite dan online). Tema besar yang diangkat dalam pendalaman ini ialah “Ziarah dalam Gelisah: Berdamai dengan Diri dalam Perspektif Spiritualitas Ignatian.” Selain untuk mempromosikan tiga buku di atas, acara ini juga bertujuan untuk: (1) mengenalkan kepada umat siapakah Jesuit, biarawan yang berziarah di dunia sebagai penggembala umat, pelayan sosial, pembimbing rohani, pendidik, peneliti, filsuf, teolog, dan budayawan. Dalam bidang karya yang bermacam-macam itu, para Jesuit tetap digerakkan oleh satu semangat yang sama: Latihan Rohani. Dalam semangat itulah, para Jesuit dipanggil untuk menemukan Tuhan dalam segala; (2) Mengenalkan kepada umat Spiritualitas Ignatian yang bersumber dari Latihan Rohani. Spiritualitas Ignatian sendiri sangat dekat dengan kehidupan umat sehari-hari. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Spiritualitas Ignatian sebenarnya adalah semacam spiritualitas awam. Dalam arti itu, umat diharapkan dapat menemukan diri dalam berbagai pergulatan dan tantangan, dan kemudian dipanggil untuk berziarah menemukan Tuhan dalam segala, apapun tugas dan pekerjaan mereka; (3) Mendukung Promosi Panggilan Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Acara ini diadakan setiap hari Jumat minggu kedua dan keempat, mulai dari bulan September sampai dengan Desember 2022, di beberapa paroki Jesuit di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Agung Semarang, serta di Perkumpulan Strada. Para pembicara yang akan mengisi setiap seri dalam acara ini antara lain: Pater Franz-Magnis Suseno, S.J.; Pater A. Setyo Wibowo, S.J.; Pater Antonius Sumarwan, S.J.; Pater P. Sunu Hardiyanta, S.J.; Pater O. Bei Witono, S.J.; Pater G.P. Sindhunata, S.J. dan Pater B. Hari Juliawan, S.J. Sejauh ini, acara sudah berlangsung sebanyak dua seri. Dari dua seri awal ini, kami menangkap antusiasme yang cukup besar dari umat yang hadir baik secara onsite (110-an) maupun online (180-an) di setiap seri. Seri pertama dilangsungkan di Paroki St. Theresia Jakarta dengan pembicara Pater Franz-Magnis Suseno, S.J. dan host Monica Maria Meifung. Pada seri pertama ini, Pater Magnis, S.J. mengajak para peserta untuk berziarah, bertekun, dan bersetia tanpa lelah dalam menghadapi aneka tantangan zaman ini. Sementara itu, seri kedua dilangsungkan di Paroki Katedral Jakarta dengan pembicara Pater A. Setyo Wibowo, S.J. dan host Ayu Utami. Di akhir acara, host memberikan highlight atas sharing dan peneguhan dari Pater Setyo, S.J. “Kita semua gelisah dan dalam kegelisahan itu kita tetap bisa menemukan makna hidup. Setiap orang memiliki bakat yang harus diterima dengan sikap netral. Sekalipun bakat itu tidak dihargai oleh orang lain, kita tetap perlu menemukan kepenuhan dari bakat itu.” Seluruh rekaman acara dari kedua seri ini dapat diakses di kanal Youtube “Jesuit Indonesia”, “Gramedia Pustaka Utama,” dan Komsos Paroki setempat. Berikut terlampir poster acara untuk lima seri ke depan. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam membantu pelaksanaan acara ini, terutama kepada Pastor Paroki (dan Pastor Rekan) St. Theresia dan Katedral, Jakarta, yang telah menyediakan ruangan, fasilitas pendukung, dan perangkat komunikasi visual. Kontributor: Antonius Siwi Dharma Jati, S.J.