Pilgrims on Christ’s Mission

Pelayanan Spiritualitas

Pelayanan Spiritualitas

Day 7: Kebaruan di Tengah Kesunyian

Paskah tahun ini terasa amat berbeda bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Kidung pujian yang penuh gegap gempita tak kita nyanyikan. Lonceng gereja yang meriah pun tak terdengar dentangnya. Kita berdiam di rumah masing-masing bersama keluarga terdekat atau bahkan hanya seorang diri. Kesunyian menyelimuti perayaan kita. Dalam kesunyian jugalah Yesus beralih dari kematian menuju kebangkitan. Kehidupan baru-Nya tidak berawal dengan perayaan meriah, tetapi dalam keheningan makam. Kebaruan hidup pertama-tama bukan soal perayaan meriah. Sebaliknya, sebagaimana dinyatakan oleh Pater Arturo Sosa, kebaruan hidup terjadi manakala “kita menjadi sadar akan pentingnya menjaga Kebaikan Bersama (Common Good) dan bersikap serius terhadap tanggung jawab pribadi masing-masing.” Sikap ini adalah buah dari kesungguhan mengubah diri dalam kehidupan sehari-hari.  Ini perlu kita lakukan bukan hanya untuk melewati krisis saat ini, melainkan juga untuk menciptakan dunia yang lebih baik setelah krisis ini berlalu. Pater Arturo Sosa mengingatkan, “Virus yang lebih mengerikan dari Covid-19 adalah ketidakadilan dunia yang menyebabkan begitu banyak orang tidak bisa hidup secara manusiawi.” Kita bisa mengusahakan kehidupan yang lebih baik bagi mereka apabila kita menjadikan krisis ini sebagai kesempatan memperbarui relasi-relasi dan struktur-struktur hidup bersama yang tidak adil. Inilah perutusan rekonsiliasi dan keadilan yang diemban Serikat Jesus pada zaman ini.  Suasana senyap Paskah kali ini boleh jadi merupakan undangan dari Tuhan agar kita berani meninggalkan hiruk-pikuk perayaan dan mulai mengusahakan perubahan nyata dalam hidup pribadi, komunitas, dan karya kita. Perubahan-perubahan apakah yang bisa kita lakukan bersama, agar dunia sungguh bisa menjadi “Rumah Kita Bersama”? #solidaritascovid19 #JesuitIndonesia #SerikatYesus #JesuitStories #lawancorona #IndonesiaLawanCovid19 #BersatuMelawanCovid19

Pelayanan Spiritualitas

Day 6: Pandanglah Yesus yang tersalib.

Bagi Pater Arturo Sosa, sosok Kristus yang tersalib adalah pewahyuan Allah yang paling dalam. Dalam diri Yesus yang tersalib, kita melihat bagaimana Allah merelakan hidup-Nya, agar kita dapat hidup. Di tengah suasana kepekatan hari-hari ini, Pater Arturo Sosa mengundang kita untuk menempatkan diri di hadapan Yesus yang tersalib dan memandang Dia dalam-dalam. “Saat kita memandang Yesus yang tersalib, kita akan bisa melihat orang-orang yang tersalib dalam pandemi ini dan akibat ketidakadilan yang ada di dunia.” Dalam penderitaan merekalah kita menemukan Tuhan di tengah-tengah krisis ini; Tuhan yang memanggil kita untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Pater Arturo Sosa mengajak kita menatap penderitaan Yesus bukan hanya sebagai peristiwa sejarah yang terjadi dua ribu tahun lalu. Beliau mengingatkan kita bahwa hari-hari ini Kristus yang tersalib hadir sangat dekat dengan kita. Kenalan, sahabat, ataupun keluarga kita mungkin tengah berada di rumah sakit atau sudah wafat karena wabah Covid-19. Situasi ini bisa membuat kita merasa betul-betul tidak berdaya. Namun, setiap hari kita juga melihat bagaimana tenaga medis mengorbankan diri untuk membantu mereka yang menjadi korban Covid-19. Seperti Hamba Yahweh (Yes 52), merekalah yang hari-hari ini menanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita. Berkat wafat Kristus, kita beroleh hidup. Kini, Ia meminta kita memberikan diri, agar mereka yang menderita juga dapat memperoleh hidup. Apakah tindakan nyata yang dapat kita lakukan sebagai wujud solidaritas pada Kristus yang tersalib dan mereka yang tengah menderita? #solidaritascovid19 #JesuitIndonesia #SerikatYesus #JesuitStories #lawancorona #IndonesiaLawanCovid19 #BersatuMelawanCovid19

Pelayanan Spiritualitas

Day 5: Keberanian Mengambil Risiko

“Kita tidak boleh membiarkan diri didikte oleh ketakutan. Kita harus dibimbing oleh keberanian.” Pesan yang amat menantang dari Pater Arturo Sosa ini didasarkan pada kutipan dari Surat kepada Orang Ibrani (Ibr 2:14-18) yang menegaskan bahwa Kristus telah membebaskan kita dari perhambaan pada rasa takut akan maut. Menurut Pater Jenderal, “kalau kita membiarkan diri dipenjara oleh rasa takut, kita hanya akan menjadi budaknya.” Kita menjadi jauh dari Roh Allah yang ingin membimbing kita untuk berani mengambil risiko dan memunculkan inisiatif-inisiatif baru yang dituntut oleh krisis ini. Pada hari Kamis Putih ini, kita juga diingatkan bahwa Yesus pun memilih untuk berani mengambil risiko. Ia bukannya tidak mengalami ketakutan saat berdoa di Taman Getsemani. “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh dalam berdoa” (Luk 22:44). Doa memberikan Dia kekuatan, sehingga pada akhirnya, Ia berani memilih untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu kecuali apabila Aku meminum-Nya, jadilah kehendak-Mu” (Mat 26:42). Yesus menunjukkan bahwa doa dapat memberikan kita karunia keberanian untuk melaksanakan kehendak Allah dan menanggung segala risikonya. Keberanian Yesus memberikan hidup-Nya ini kita kenangkan dalam Perayaan Ekaristi. Namun, Ekaristi bukan hanya sekadar mengenangkan pemberian diri Yesus. Ekaristi juga merupakan saat menghadirkan kembali pemberian diri Yesus, sehingga kita dikuatkan dalam mengikuti Dia. Maka dari itu, kita bisa bertanya: Apakah kita lebih cenderung dikuasai ketakutan? Atau, apakah kita berani mengambil risiko berinisiatif, sehingga hidup kita menjadi kesaksian kasih Allah yang tanpa batas?  #dirumahaja #solidaritascovid19 #JesuitIndonesia #JesuitSolidarity #JesuitStories #JesuitInitiatives #lawancorona #IndonesiaLawanCovid19 #bersatumelawancovid19

Pelayanan Spiritualitas

Day 4: Allah Hadir di Rumah

Selama beberapa pekan terakhir, cukup banyak kita yang mencoba bekerja dan belajar dari rumah. Bagi sebagian orang, situasi ini boleh jadi terasa janggal. Namun, Pater Arturo Sosa mengingatkan bahwa “komunitas itu sendiri adalah perutusan.” Pesan ini ia serukan kembali untuk mengingatkan bahwa kedekatan relasi antarpribadi dalam komunitas tidak bisa diandaikan akan muncul begitu saja. Sebaliknya, relasi antarpribadi hanya bisa menjadi dekat apabila diupayakan dari waktu ke waktu. Setelah sekian lama sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing, kini kita memiliki kesempatan untuk mengenal sisi lain dari sahabat-sahabat sekomunitas maupun keluarga kita. Situasi ini memberikan macam-macam peluang yang menantang kita untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Komunitas dan keluarga kini memiliki banyak kesempatan untuk makan bersama, berbagi cerita, dan juga berdoa bersama. Momen-momen semacam ini merupakan saat bagi kita untuk kembali belajar mendengarkan secara penuh perhatian. Menurut Pater Arturo Sosa, latihan semacam ini sangat berharga karena membuat kita lebih peka pada “Roh Allah yang hadir dan berbicara” pada saat komunitas dan keluarga berbagi cerita kehidupan. Ini bisa membuka ruang bagi kemunculan inisiatif-inisiatif baru untuk menunjukkan solidaritas di tengah situasi ini. Pada Pekan Suci ini, kita mengalami secara nyata sabda Yesus, “di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku” (Mat 26:18). Bagaimanakah kita membuka diri pada kehadiran Allah dalam rumah kita selama hari-hari ini? Apakah kita bisa menangkap ini sebagai rahmat untuk disyukuri bersama? Atau, apakah kita justru lebih banyak dikekang oleh perasaan bingung, takut, dan bosan yang menghambat kita untuk sungguh-sungguh bersyukur? #solidaritascovid19 #JesuitIndonesia #SerikatYesus #JesuitStories #lawancorona #IndonesiaLawanCovid19 #BersatuMelawanCovid19

Pelayanan Spiritualitas

Day 3: Kreativitas dalam Berbagi Iman

“Ini menunjukkan kekuatan iman.” Itulah salah satu refleksi Pater Arturo Sosa mengenai pandemi Covid-19. Krisis ini memang menyebabkan banyak orang tidak lagi bisa mengikuti peribadatan di gereja. Namun, di pelbagai penjuru dunia, keluarga-keluarga tetap setia mengikuti Perayaan Ekaristi yang disiarkan melalui media daring. Para Imam juga tetap setia mendoakan intensi yang disampaikan umat lewat media sosial. Dengan cara serupa, orang-orang muda berdoa dan menyanyikan kidung pujian bersama-sama. Segala bentuk kreativitas dalam berbagi iman ini lahir dari kesadaran bahwa iman tidak bisa disimpan rapat-rapat dalam lubuk hati seseorang. Pater Arturo Sosa meyakini bahwa iman yang hidup akan mendorong kita untuk membagikannya kepada sesama. Inilah kekuatan iman. Berkat beragam kreativitas yang muncul, kekuatan ini dapat dibagikan kepada sesama. Obor pengharapan dan semangat kasih tetap bisa menyala-nyala di tengah kegelapan wabah ini. Tanpa diduga, situasi ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memaknai kembali iman sebagai relasi pribadi dengan Allah yang memberikan hidup-Nya kepada kita. Di rumah kita masing-masing, kita diundang untuk mengalami secara pribadi kerahiman Allah yang terus menopang kita. Perjumpaan pribadi dengan Allah inilah yang kita bagikan, dan dengan itu, kita menghidupi panggilan kita untuk “menjadi terang bagi bangsa-bangsa” (Yes 49:6). Di tengah keterbatasan gerak saat ini, bagaimanakah kreativitas kita berbagi iman, sehingga iman bersama semakin hidup dan mewujudkan solidaritas? #solidaritascovid19 #JesuitIndonesia #SerikatYesus #JesuitStories #lawancorona #IndonesiaLawanCovid19 #BersatuMelawanCovid19

Pelayanan Spiritualitas

Day 2: Meninggalkan Kemapanan dan Kenyamanan

Pandemi Covid-19 mengubah cara kita berelasi, cara kita bekerja, cara ekonomi dunia dijalankan, cara kita berdoa, dan cara kita menjalankan perutusan Serikat Jesus dalam Gereja. Di tengah berbagai perubahan ini, Pater Arturo Sosa mengundang kita untuk berani terus melangkah maju dalam upaya kita menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi. Ia menegaskan, “Saya tidak menginginkan Serikat Jesus yang terlalu takut-takut dan berhati-hati. Seperti Bapa Suci yang menginginkan Gereja menjadi rumah sakit darurat yang pergi ke tempat-tempat gelap dan penuh bahaya, saya memimpikan Serikat Jesus yang dapat mengimajinasikan dan mewujudkan hal-hal besar, seperti Ignasius dan Fransiskus Xaverius, serta banyak Jesuit lain dalam sejarah yang terus berlangsung hingga hari ini.”  Agar dapat bergerak maju, Pater Arturo Sosa mengundang kita untuk terus mengusahakan kemerdekaan batin. Ia mengingatkan kita akan sosok Abraham yang “sanggup meninggalkan segala sesuatu yang telah ia raih dalam hidupnya.” Hati yang sanggup meninggalkan kemapanan dan kenyamanan ini akan terbuka bimbingan Roh. Ini amat penting, karena kita bukanlah pembuat jalan. Tuhanlah yang akan menunjukkan jalan-Nya kepada kita.  Dalam Pekan Suci ini, Pater Arturo Sosa mengingatkan kita bahwa yang kita ikuti adalah Kristus yang kini sedang menyongsong sengsara-Nya demi keselamatan umat manusia. Menemani perjalanan Kristus menuju Yerusalem berarti melangkah maju dalam iman seperti yang dilakukan oleh Abraham. Meskipun tidak ada kepastian tujuan, ia meninggalkan apa yang ada di belakangnya dan melangkah ke depan.  Satu-satunya jaminan Abraham adalah imannya akan Allah. Satu-satunya jaminan Yesus adalah kepercayaan-Nya pada kehendak Bapa-Nya. Ketika wabah Covid-19 menjadikan segala sesuatunya tidak pasti, apakah yang saat ini aku jadikan sebagai jaminan hidupku? #solidaritascovid19 #JesuitIndonesia #SerikatYesus #JesuitStories #lawancorona #IndonesiaLawanCovid19 #BersatuMelawanCovid19

Pelayanan Spiritualitas

Day 1: Menemani Perjalanan Yesus Menuju Yerusalem

Di tengah pandemi Covid-19, Pater Arturo Sosa mengundang Jesuit dan segenap rekan berkarya untuk menjadikan Pekan Suci sebagai saat membaca lagi Injil secara sungguh-sungguh. Dengan membaca Injil, kita bisa “menemani perjalanan Yesus menuju Yerusalem dan merenungkan segala sesuatu yang terjadi di sana”. Permenungan akan realitas pekat yang terjadi di Yerusalem akan membantu kita semakin dekat dengan realitas krisis yang tengah kita jalani, karena “sejarah Yesus bukanlah sejarah pribadi, melainkan sejarah kemanusiaan.” Melalui hidup-Nya, Allah menunjukkan kepada kita bahwa penderitaan dan kematian merupakan jalan menuju kepenuhan hidup. “Kepenuhan hidup itu adalah hidup kebangkitan yang dianugerahkan Allah kepada kita,” tutur Pater Arturo Sosa. Pada hari Minggu Palma ini, pesan Pater Arturo Sosa mengingatkan kita akan kata-kata Yesus di Taman Getsemani, “Tinggalah di sini dan berjaga-jagalah bersama Aku” (Mat 26:9). Ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, ia disambut dengan meriah. Mereka yang mengikuti Dia ikut menikmati sorak-sorai itu. Namun, apakah kita juga mau mengikuti Dia di sepanjang perjalanannya dari Yerusalem menuju Golgota? #solidaritascovid19 #JesuitIndonesia #SerikatYesus #JesuitStories #lawancorona #IndonesiaLawanCovid19 #BersatuMelawanCovid19

Pelayanan Spiritualitas

Renungan Pekan Suci bersama Pater Jenderal Arturo Sosa

“Peganglah Kitab Suci dalam genggaman tanganmu!” Memasuki Pekan Suci, Pater Jenderal Arturo Sosa mengundang segenap Jesuit, rekan berkarya, dan keluarga besar Ignasian  untuk membuka kembali Kitab Suci dan merenungkan segala sesuatu yang terjadi dalam perjalanan Yesus memasuki Yerusalem, menuju Golgota, hingga akhirnya sampai pada Misteri Kebangkitan. Dengan merenungkan Misteri Paskah serta berdialog dengan Tuhan yang memanggil kita, kita mengikuti undangan Pater Arturo Sosa untuk menjadikan masa krisis ini sebagai sebuah kesempatan untuk menanggapi secara serius undangan yang diberikan oleh Preferensi Apostolik Universal dan krisis yang terjadi akibat Covid-19. Pater Arturo Sosa mendorong kita untuk berefleksi secara mendalam, baik secara spiritual maupun intelektual, sehingga kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik sesudah krisis ini berlalu. Selama Pekan Suci, kami mengundang Anda semua untuk merenungkan Pesan Pater Jenderal Serikat Jesus di tengah zaman yang penuh ketidakpastian akibat pandemi Covid-19. Seperti yang ditegaskan oleh Pater Arturo Sosa, dalam kebersamaan kita bisa menampakkan solidaritas pada dunia yang tengah tersalib dan menjadikannya lebih baik. #solidaritascovid19 #JesuitIndonesia #SerikatYesus #JesuitStories #lawancorona #IndonesiaLawanCovid19 #BersatuMelawanCovid19