Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

Lebaran, Hari Kemenangan yang #dirumahaja

Tahun 2020 adalah tahun yang spesial. Tahun di mana saya merayakan Hari Kemenangan, Idul Fitri, dalam suasana tenang, di rumah aja. Saat di mana saya merasakan kehangatan keluarga yang dalam dan juga saat saya menjadikan gadget sebagai barang yang banyak sisi positifnya. Tahun yang unik yang memang harus dialami namun tahun yang saya sendiri tidak ingin kembali lagi. Yang jelas, saya ingin dalam menjalani tahun ini, saya dan keluarga tetap sehat walafiat. Puasa di masa pandemi memang menyenangkan karena tidak banyak aktivitas berat karena kuliah bisa di rumah aja. Namun lebaran di masa pandemi sangatlah tidak menarik karena kami merayakan hari kemenangan dalam suasana tenang dan biasa aja. Tidak ada kemeriahan dan silaturahmi yang sangat menggembirakan sehingga setelah lebaran, saya tidak dapat membeli barang-barang yang saya suka. Setelah salat Ied pun, kami langsung berada di rumah dan semuanya terjadi seperti hari-hari biasa saja. Mungkin ini takdir dari Allah yang membuat kami harus merayakan Idul Fitri dengan penuh kesederhanaan, namun saya yakin bahwa Allah punya rencana yang akan menyelesaikan semua masalah pandemi ini dengan sangat bijaksana. Saya bersyukur karena masih diberikan hidup sampai saat ini. Tentu saja, selama pandemi ini, kami taat pada protokol yang diberikan. Di desa saya, di Turi, protokol ini sangat berlaku. Kadang, beberapa orang yang ngeyel ditakut-takuti akan bahaya penularan Covid yang sangat mengerikan. Saya sendiri tidak terlalu memikirkan hal-hal yang mengerikan tersebut karena saya tetap bersyukur selama pandemi suasana keluarga, di rumah, menjadi semakin hangat. Kebersamaan sangat kuat dan kami saling mendukung satu sama lain untuk mengikuti protokol yang ditentukan. Kakak saya yang sudah bekerja, saat sampai rumah, selalu diminta cuci tangan dan setelah itu mandi sebelum bertemu dengan anggota keluarga lainnya. Kebisingan di desa ini juga semakin berkurang karena polusi suara dan polusi udara menjadi berkurang. Saya menikmati indahnya suasana alam di desa ini. Begitu juga dengan hubungan dengan tetangga-tetangga di desa. Banyak orang di rumah aja dan sebagai orang muda saya sering terlibat dalam kegiatan solidaritas desa. Karena aktivitas tersebut, saya menjadi semakin mengenal orang-orang yang ada di desa saya. Biasanya kami sangat sibuk, pergi pagi pulang malam, namun dengan pandemi ini, kami menjadi saling mengenal satu sama lain. Tentu saja, Idul Fitri kali ini jauh berbeda dari harapan. Saya merasa ada suasana yang hilang, ada yang kurang dalam suasana kemenangan kali ini. Saya tidak terlalu nyaman dengan adanya silaturahmi via gadget, saya juga tidak terlalu nyaman dengan kuliah online, dan saya juga tidak suka dengan salat yang berjarak. Secara umum, saya sendiri tidak suka dengan suasana yang membatasi gerak seperti ini yang tidak sesuai dengan jiwa muda saya. Namun saya percaya hal baik akan datang pada waktunya sehingga saya tetap stay at home dan tidak melakukan aktivitas-aktivitas yang diluar protokol. Fitri Kusuma (Mahasiswi Sanata Dharma, FKIP Biologi)

Karya Pendidikan

Belajar Bermurah Hati Seperti Sang Ibu

Refleksi Relawan Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Oleh Andi Suryadi, Arya Nugraha, Dyah Andriani, dan Stanislaus Dio Zevalukito “Menjadi muda tidak hanya berarti mencari kesenangan sementara dan kesuksesan yang dangkal. Supaya kemudaan dapat mewujudkan tujuannya dalam perjalanan hidup kalian, kemudaan itu haruslah menjadi waktu pemberian yang murah hati, persembahan yang tulus, pengorbanan yang sulit namun membuat kita berbuah.”  Penggalan kalimat di atas berasal dari dokumen Christus Vivit yang ditulis oleh Paus Fransiskus. Dokumen tersebut memang untuk orang muda dan itu mengikat rasa akan pentingnya waktu pemberian yang murah hati, persembahan tulus dan pengorbanan berbuah. Sungguh rasanya konteks tersebut relevan saat memaknai perjalanan kami hari-hari belakangan ini.  Kami mengelola kemurahan hati Universitas Sanata Dharma dan para donaturnya yang dijembatani oleh Bruder Yohanes Sarju, SJ, MM, selaku Kepala Lembaga Kesejahteraan Mahasiswa (LKM) Universitas Sanata Dharma (USD). Pandemi Covid-19 ini telah membuat banyak mahasiswa/i Sadhar mengalami kesulitan, entah karena daerah rumah mereka di lockdown sehingga tidak bisa pulang atau keluarga mereka ada yang terkena PHK sehingga tidak bisa mengirimkan uang bulanan. Mereka datang ke kampus dan Br. Sarju menerima mereka dengan baik. Saat pagi menyingsing hingga sebelum fajar menyapa kami, ditemani Br. Sarju, menanti mereka yang datang dengan kekhawatiran di Pasturan Kapel Robertus Bellarminus, Kampus 1 USD. Kami memberikan mereka paket makanan. Lebih dari 1.700 paket bahan makanan telah disalurkan kepada mahasiswa USD yang kesulitan akibat terdampak pandemi Covid-19. Perjalanan ini setidaknya telah mencoba membangun harapan di tengah kesulitan.  Realisasi penyediaan bahan pangan tersebut dilakukan secara kontinyu, terutama dengan tujuan meringankan beban mahasiswa yang mengalami karantina wilayah hingga pergeseran alokasi belanja. Sebab, realitas yang dihadapi menuntut cara bertahan dan melangkah dalam segala keterbatasan. Para Mahasiswa harus beradaptasi dengan mekanisme kuliah daringyang tidak murah, apalagi saluran keuangan terkendala karantina wilayah dan lainnya.  Pusparagam ceritera kian mengolah rasa jauh di sanubari kami. Tak jarang kami pun harus keluar dari penantian. Sebagian mahasiswa mengalami kesulitan lebih jauh, seperti kendala transportasi dan keterbatasan harta. Kami dipanggil bukan hanya untuk menyalurkan sembako kepada mereka, tetapi menjadi sahabat yang bersedia merangkul mereka. Dalam keterbatasan kami, kami coba mengakomodir kesulitan lanjut itu dengan mengantar paket kebutuhan ke tempat tujuan atau sekadar memanfaatkan jasa ojek daring. Sebab, kami menyadari bahwa goresan-goresan peristiwa yang kami alami sejatinya sedang membentuk sebuah narasi cinta. Rentetan kisah yang kami lalui berangkat dari rasa syukur atas kemurahan hati. Perjalanan kami juga dilandasi kemauan untuk mengambil peran agar mampu memberikan kemanfaatan hidup bagi sesama. Pengalaman terlibat dalam distribusi sembako ini membawa kami pada kesadaran untuk mendengarkan, berbagi energi positif dan saling menguatkan, serta mengelola secara bijak cinta kasih universitas dan para donatur.  Perjalanan memaknai semangat muda ini didampingi oleh Bruder Sarju yang senantiasa memberikan warna berbeda. Bruder mengajarkan pentingnya bela rasa dan jejaring dalam situasi sulit. Nilai kebersamaan perlu dihidupi untuk melangkah bersama dalam pengharapan. Anak muda tidak boleh berhenti berharap dalam masa-masa sulit. Selain itu, Bruder juga mematri nilai bela rasa yang mampu menumbuhkan harapan dan meyakinkan bahwa hari esok akan selalu ada matahari terbit dari timur. Warna itu kian bercorak dengan ragam kisah nan-indah yang kami dengarkan dari Romo Bambang Irawan, SJ, Romo H. Angga Indraswara SJ, Romo Heri Setyawan SJ, Romo Antonius Subanar SJ. Narasi-narasi yang dibangun kerap kali mampu menembus tingkap cakrawala pengetahuan kami dan mengisi perbendaharaan pemaknaan hidup. Situasi seperti ini sekiranya menuntut setiap kami memiliki kebesaran hati seorang ibu. Bruder Sarju SJ senantiasa menyiratkan makna untuk memandang masalah dengan diri kita sebagai solusi. Artinya, dalam segala kesulitan, kita perlu mengambil peran lebih dari sekadar penggembira, tetapi melayani dalam keterbatasan.  Mengalami pengalaman yang nadir membawa kami seutuhnya menjadi diri sendiri. Prudentia bukan proses yang natura non facit saltum. Belarasa juga bukan perkara baperan yang tidak berlanjut pada aksi nyata. Keduanya menyiratkan kegembiraan hati yang terkoneksi pada sesama, sehingga dapat mengambil posisi dan berbagi hidup. 

Karya Pendidikan

Semarang Hebat, Loyola Asri

Kerjasama SMA Kolese Loyola dan Pemerintah Kota Semarang (Rabu, 03 Juni 2020) – Yayasan Loyola dan Pemerintah Kota Semarang mengadakan kerja sama untuk membangun pedestrian di depan Loyola yang semula kumuh menjadi lebih asri dan nyaman bagi pejalan kaki dan para siswa. Visi untuk bergerak bersama menjadi suatu kolaborasi yang indah antara Yayasan Loyola dan Pememerintah Kota Semarang. Pada 3 Juni 2020, secara resmi Pemerintah Kota Semarang melakukan serah terima hibah pembangunan infrastruktur di halaman depan SMA Kolese Loyola. Infrastruktur yang dibangun adalah trotoar di depan SMA Kolese Loyola sepanjang 150 meter dan lebar 1,7 meter di Jalan Karanganyar. Pembangunan trotoar baru tersebut menggunakan material ekologis dan terdapat biopori di bawah trotoar sebagai resapan air. Yayasan Loyola melihat keprihatinan yang nyata bahwa di depan SMA Kolese Loyola tatanan trotoar sangat kumuh yakni dipakai sebagai tempat mengecat mobil dan juga berdagang. Atas inisiatif Yayasan Loyola maka terciptalah ide untuk membangun dan mempercantik kawasan di depan SMA Kolese Loyola dengan berkolaborasi bersama Pemerintah Kota Semarang. Pak Hendrar Prihadi selaku Wali Kota Semarang yang sekaligus membuka acara serah terima tersebut mengatakan bahwa merasa senang karena Yayasan Loyola memberikan dukungan dan ikut program KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat Bersama Pemerintah Kota) untuk meningkatkan infrastruktur Kota Semarang. Pak Hendi berharap bahwa kelompok-kelompok lain juga meniru apa yang dibuat oleh Yayasan Loyola sehingga bukan saja pemerintah yang peduli melainkan juga ada partisipasi aktif dari masyarakat untuk menjaga dan memperindah tata kota di Kawasan Kota Semarang. Fr. Antonius Bagas Prasetya

Karya Pendidikan

Money Is COINED FREEDOM

Terlepas dari dinamika jatuh-bangun memenuhi tuntutan profesionalitas bekerja dan susah payah mengembangkan karya kerasulan, formasi TOK  adalah  masa yang menyenangkan. Mengapa? Dari segi tuntutan objektif lembaga, kami bukanlah penanggung jawab utama. Kami hanya membantu dan berpartisipasi dalam tugas seorang direktur karya. Tanggung jawab penuh tetap ada pada mereka. Namun, di sisi lain, sejumlah wewenang (otoritas) di unit kerja memberi perasaan berkuasa/powerful. Kami punya rekan kerja, asisten kerja, maupun siswa/umat dampingan yang posisinya sub-ordinatif dengan kami. Misalnya, sebagai sub pamong Kolese (asisten wakil kepala sekolah bidang kesiswaan), saya punya wewenang untuk memberi perlakuan/ proses formatif bagi siswa yang melanggar tata tertib. Saya punya wewenang untuk memberi persetujuan atau tidak pada permohonan siswa untuk siswa tidak  masuk sekolah atau kegiatan seputar persekolahan lainnya. Setiap jam istirahat atau pulang sekolah para siswa antre mencari saya. Ini memberi rasa dibutuhkan.  Sering kali mereka datang dengan gesture tubuh yang merunduk, memelas, dan memohon-mohon. Itulah momen-momen konkret ketika saya merasakan bahwa ditaati itu sungguh menyenangkan. Ya… sebagai manusia, hal-hal semacam itu memberi rasa berkuasa dan dihormati.  Hal menyenangkan lain, yang kadang malu-malu kami akui, adalah memegang uang dan mendapat gaji. Ya…bagi  saya yang berasal dari seminari, masa TOK adalah pengalaman pertama mendapat gaji dan uang  jajan yang relatif besar (setidak-tidaknya tiga kali lipat dibandingkan uang saku ketika masih dalam masa studi filsafat). Selain uang jajan itu, kami juga mendapat upah dari jabatan struktural kami di karya kerasulan. Jumlahnya tentu saja ditentukan dengan standar penggajian sesuai ijazah kesarjanaan yang saya miliki.  Memang, sebagai seorang Jesuit, gaji profesional yang kami peroleh tidak pernah langsung masuk dompet kami. Kami juga tidak mengelola (baca: menggunakan) gaji tersebut secara mandiri. Gaji langsung diserahkan atau otomatis ditransfer oleh Yayasan kepada bendahara/ekonom komunitas untuk menunjang kehidupan bersama sebagai komunitas Jesuit. Meskipun demikian, setiap bulan kami menerima slip gaji yang menunjukkan digit-digit nominal. Pundi-pundi rupiah itu memunculkan perasaan senang, karena merasa diri berkontribusi dan menghasilkan sesuatu untuk Serikat/komunitas. Ada bagian dari diri yang serasa teraktualisasikan. Ada kepuasan ketika jerih keringat selama sebulan dihargai. Bagi sebagian besar orang, tentu hal semacam itu  sudah terasa sangat biasa. Tetapi, sekali lagi, bagi orang-orang seperti saya, ini adalah pengalaman pertama yang membawa serta sensasi unik. Saya rasa sensasi unik ini secara tepat terbahasakan dalam ungkapan tentang uang oleh Fyodor Dostoevsky. Money is coined freedom. Secara jeli, novelis asal Rusia ini menyingkapkan relasi erat uang dan kebebasan, Pengalaman menunjukkan pada kita bahwa bebas adalah suatu sifat umum dari hal-hal yang dapat didatangkan dengan uang. Rasanya sulit menyangkal Dostoevsky. Ada kebebasan tertentu yang kita rasakan ketika kita mempunyai uang. Dengan uang saku saat ini,  saya tidak lagi terburu-buru menekan tombol skip untuk setiap iklan aneka perlengkapan hobi dari toko daring yang melintas di layar gawai. Posting-an teman di IG tentang tongkrongan baru, tidak lagi sekadar menimbulkan rasa iri atau kepingin, tetapi juga merangsang otak merancang  ke mana weekend ini pergi. Aneka pernak-pernik elektronika tampak ada dalam jangkauan untuk dibeli sebagai “pendamping” bagi buku-buku yang mulai kusam karena jarang dibelai di sudut-sudut kamar. Youtube bukan lagi satu-satunya pelipur diri. Netflix dan Spotify premium ada dalam genggaman. Dengan kekuatan finansial saat ini, kami bisa sungguh merealisasikan sebagian keinginan untuk memiliki atau melakukan itu dan itu –sesuatu yang ketika masa studi filsafat relatif terbatas, tak terjangkau.  *** Magis: Etos Keunggulan Iya… beginilah nuansa khas dari formasi TOK. Ada suatu keleluasaan yang kami peroleh melalui uang dan kenikmatan yang inheren dalam otoritas (meskipun tentu saja kebebasan tidaklah identik dengan uang dan otoritas)[1].  Namun, pada saat yang sama, sebenarnya persis tergelar di depan mata suatu gelanggang latihan olah diri, yang disebut oleh Ignatius; “discernment”. Di hadapkan keleluasaan ini, apakah aku  menggunakannya untuk mengembangkan diri sebagai pribadi yang penuh cinta? Apakah kewenangan dan jabatan ini aku pakai untuk semakin menjadi sahabat dan pelayan bagi sesama? Apakah hari ini aku bergairah bekerja atas alasan-alasan yang melampau uang dan status? Atau sebaliknya, keleluasaan (otoritas, uang, anugerah diri) ini justru semakin menjadi pusat hidupku dan menggusur pelayanan dan menghalangiku untuk bertumbuh sesuai tujuan hidupku, AMDG? Kerap kali permenungan a la meditasi Asas dan Dasar dalam Latihan Rohani St. Ignatius semacam itu berdering nyaring di sela-sela euforia bekerja. Idealisme magister Ignatius Loyola menantang saya, dan para skolastik TOK lain, untuk mampu menjawab iya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selain gelanggang olah hidup rohani dalam konteks yang real, masa TOK juga digariskan oleh pihak Serikat Jesus sebagai tahap kami belajar bekerja sebagai seorang Jesuit. Sebelum menjalani masa TOK, frase “belajar bekerja” ini memberi penghiburan tersendiri. Namanya juga fase belajar, tentu tidak serius-serius amat. Akan tetapi, belakangan ini, saya menyadari bahwa sebenarnya frase yang lebih mau ditekankan pada tahap formasi ini adalah bekerja sebagai Jesuit yang ditandai dengan semangat magis (etos keunggulan). Hal ini saya tangkap dalam suatu percakapan rohani saya dengan Pater Provinsial.  “Saat ini bukanlah saat belajar bekerja, tetapi ini memang saatnya kamu bekerja sebagai Jesuit!” tegas Pater Provinsial. Lebih lanjut, Pater Provinsial menantang kami, para Toker untuk mewujudkan semangat kerja keras dengan bercermin pada tahap pencobaan bagi staf funding officer baru suatu bank. Sebagai ilustrasi, setiap pegawai baru divisi funding officer bank pada tahap awal karier diberi target mencari dan mengumpulkan dana sekian kali dari gajinya. Etos kerja yang sama dapat menjadi bingkai masa TOK-mu. “Sebagai pegawai baru Serikat Jesus, kamu saya undang untuk bekerja hingga menghasilkan suatu mutu pelayanan yang bernilai secara nominal setidak-tidaknya 4 sampai 5 kali gaji profesionalmu di Kolese”    Pembicaraan ini begitu terngiang dalam hati saya. Dalam percakapan waktu itu, pemahamanku dikoreksi. Sejak saat itu, setiap Sabtu, akhir pekan, saya selalu mengevaluasi kinerja mingguanku sebagai sub pamong di Kolese De Britto dan ekonom komunitas Pastoran De Britto. Bagaimana mutu pelayananku minggu ini? Apakah mutu kerjaku bulan ini sudah cukup layak untuk dihargai 5 kali lipat gaji yang kuterima? Inilah hal yang membuat masa TOK tidak serta-merta hora-hore karena punya uang dan status. Ada saat-saat di mana, bekerja dengan tuntutan mutu tinggi seperti itu terasa bagai beban. Ada saat-saat bangun pagi terasa begitu berat. Ada saat di mana seluruh tanggal di kalender berwarna hitam.  Ada saat aku mencecap dalam-dalam sabda Yesus “tidak ada tempat untuk meletakkan kepala

Karya Pendidikan

Sembako untuk Mahasiswa Sanata Dharma

Universitas Sanata Dharma Realisasikan Sembako Bagi Mahasiswa Yang Membutuhkan di Masa Wabah Covid-19⁣⁣Universitas Sanata Dharma (USD) membentuk Tim Pencegahan Penyebaran Virus Corona yang meliputi Tim Akademik diketuai Wakil Rektor 1, Tim Kesehatan diketuai Wakil Rektor 2, dan Tim Kemahasiswaan diketuai Wakil Rektor 3. ⁣⁣Dalam melaksanakan tugasnya, Tim Kemahasiswaan melalui Lembaga Kesejahteraan Mahasiswa (LKM) merealisasikan penyediaan bahan makanan untuk mahasiswa, bahan makanan ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang benar-benar membutuhkan (terutama yang tinggal di kost). ⁣⁣Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk meringankan mahasiswa dalam menghadapi realitas yang hanya bisa berada di kost saja serta banyaknya warung-warung makan yang tutup.⁣ ⁣@usd_official⁣⁣#Sadharcare⁣#solidaritascovid19⁣#JesuitIndonesia⁣#JesuitSolidarity⁣#JesuitStories⁣#JesuitInitiatives⁣#IndonesiaLawanCovid19⁣#bersatumelawancovid19

Karya Pendidikan

BERSIAP SEDARI DINI

Sabtu, 14 Maret 2020 Walikota Surakarta, Bapak FX. Hadi Rudyatmo, menetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) sehubungan ditemukannya pasien positif COVID-19 di wilayah Surakarta. Sejak saat itu, Kolese Mikael mulai mengikuti dengan lebih intens apa yang menjadi himbauan dan larangan baik dari Pemerintah Surakarta, Pemerintah Jawa Tengah, pusat bahkan edaran dari Keuskupan Agung Semarang. Maka mulailah sejak Senin dan Selasa, 16 dan 17 Maret 2020, diadakan rapat di Politeknik ATMI untuk mengambil kebijakan terkait dengan sistem pembelajaran yang akan diterapkan dan pembentukan tim gugus penanggulangan COVID-19 di lingkungan Kolese. Sedangkan tanggal 17 Maret 2020, Ketua Yayasan Karya Bakti Surakarta, yayasan yang menaungi Kolese Mikael, yaitu Romo Vincentius Istanto Pramuja, SJ, mengeluarkan edaran resmi mengenai upaya pencegahan penularan COVID-19 di lingkungan Kolese Mikael. Dua bunyi edaran yang cukup penting menjadi perhatian bagi warga Kolese adalah karyawan yang flu/batuk wajib memeriksakan diri ke dokter dan harus beristirahat di rumah, serta setiap unit karya dan unit usaha wajib menyediakan sarana untuk mencegah penyebaran COVID-19. Maka dengan diedarkannya himbauan resmi ini, Kolese Mikael yang terdiri dari beragam karya, mulai dari pendidikan sampai dengan produksi memiliki gerak yang seragam dalam berjuang menahan laju penyebaran virus. Peristiwa ini menjadi sarana bagi warga dan tiap unit di tempat kami untuk bekerja sama menelurkan gagasan-gagasan kreatif dan mempelopori berbagai gerakan nyata mewujudkan upaya pencegahan. Dibawah koordinasi kepala sekolah dan direktur masing-masing karya, para karyawan mulai bergerak mengambil langkah-langkah cepat namun terarah. Di SMK Mikael mulai diterapkan pembelajaran daring sejak 16 Maret sampai sementara 13 April. Para guru dan karyawan pendidikan juga diminta bekerja dari rumah. Ujian sekolah juga dilaksanakan dengan sistem daring. Sementara di Politeknik ATMI mahasiswa-mahasiswi diminta belajar melalui daring sejak 17 Maret s.d. 29 Mei 2019. Dikarenakan sekolah vokasi, maka Politeknik ATMI yang pada awalnya mengalami kesulitan bagaimana membuat daring sistem praktek, akhirnya memutuskan sampai tanggal 29 Mei 2020 seluruh pembelajaran daring adalah pelajaran teori. Pelajaran praktek akan diadakan setelah 29 Mei atau menunggu instruksi lebih lanjut. Sedangkan para karyawan Politeknik diminta bekerja dari rumah setidaknya selama 3 hari dalam 5 hari kerja. Pembelajaran daring di rumah bukan tanpa risiko. Berbagai hal mulai dari kemungkinan terburuk dan dampak-dampaknya sudah dipertimbangkan masak-masak. Selain karena Kolese patuh pada edaran resmi dari Pemerintah, Kolese sadar bahwa anak-anak muda yang berasal dari beragam wilayah ini rentan menjadi pembawa virus yang tidak kelihatan. Mereka bisa saja sehat namun ternyata membawa virus sehingga bisa menulari siapapun yang berada di dekatnya yang kondisi tubuhnya sedang tidak fit. Dan tentu saja physical distancing menjadi tidak mudah dilaksanakan karena Kolese tidak mempunyai jumlah kelas banyak untuk mengadopsi sistem tersebut. Baik SMK Mikael maupun ATMI juga sadar bahwa mereka harus mulai dari nol untuk menggarap sistem kelas jarak jauh ini. Di SMK para guru ada yang menggunakan moodle, google classroom, google form, dll. Sedangkan para dosen ATMI sepakat menggunakan google classroom. Tentu masih ada banyak kelemahan di sana-sini, misalnya siswa yang sulit mengakses tugas melalui internet, pengeluaran membeli kuota membengkak, siswa merasa lelah karena tugas menumpuk, rasa bosan karena tidak bertemu teman-teman, sampai pada tenaga pengajar yang kesulitan menjelaskan materi melalui internet. Karena hal ini adalah baru sama sekali, tidaklah mengherankan jika kami semua bergulat dengan mempertanyakan bagaimana dengan kualitas pembelajarannya? Dalam masa pandemi ini, kualitas memang jelas berbeda dari sistem pembelajaran di masa normal. Namun demikian kami tidak boleh menurunkan semangat dalam memberikan yang terbaik pada anak didik sesuai kemampuan mereka. Sementara itu, gugus Tim HK (Housekeeping) Politeknik ATMI bersinergi bahu membahu dengan HK unit produksi menyediakan berbagai sarana pencegahan secara bertahap. Langkah pertama merumuskan prosedur penanganan suspect COVID-19. Di ruang Guest House pastoran ATMI disiapkan 1 kamar khusus untuk isolasi pasien jika kedapatan suhunya di atas 37.1° C sebelum dirujuk ke RS. Moewardi, Solo. Kemudian dipasang poster-poster bahaya virus COVID19 dan poster cara mencuci tangan yang benar di dekat toilet, washtafel, dan di dinding-dinding di mana hand sanitizer dipasang. Pada pagi hari, setiap karyawan dan tamu yang masuk dicek suhunya. Bila kedapatan di atas 37.1° C, maka yang bersangkutan diminta pulang, memeriksakan diri, dan melakukan isolasi selama 14 hari sesuai anjuran dokter. Selanjutnya setiap pagi ruang-ruang publik dan kelas dibersihkan dengan cairan disinfektan. Setiap kendaraan yang masuk disemprot dengan cairan tersebut dan pengendaranya diminta turun untuk mengukur suhu tubuh dan masuk ke bilik disinfektan. Bilik ini juga diperuntukkan bagi setiap karyawan yang masuk dan keluar kompleks Kolese tanpa terkecuali. Bilik ini adalah kreasi dari PT. ATMI Solo. Di dalam Guest House (pastoran ATMI) juga diterapkan physical distancing, terutama ketika duduk saat misa harian di kapel dan saat makan di meja makan. Kami juga menyediakan hand sanitizer, masker dan sarung tangan karet. Kebutuhan gizi dan vitamin diperhatikan sungguh-sungguh oleh Romo Minister agar tetap bisa melakukan pelayanan yang optimal sesuai dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan Kolese Mikael, Serikat Yesus Provindo, dan Pemerintah Indonesia. Kami sadar, jika tidak memulai langkah ini dengan serius, maka kami pula yang akan merasakan dampak-dampak yang berkepanjangan. Kami ingin melayani siswa, mahasiswa, karyawan seperti semula namun untuk itu kedisiplinan mesti ditegakkan dan pengorbanan mesti diperjuangkan. Tak terhitung biaya yang mungkin akan dikeluarkan bila kita tidak serius dari sekarang. Semua ini dilakukan demi menjawab panggilan ibu pertiwi yang sedang menangis berduka meminta bantuan semua pihak untuk terbangun dan segera sadar dari mimpi bahwa virus COVID-19 ini bukan hal yang main-main. Virus ini bisa merenggut siapa saja bahkan orang-orang yang sangat kamu cintai. Maka jika kita tidak ingin kehilangan generasi bangsa yang potensial di masa depan, kita perlu melakukannya sekarang juga sebelum semuanya terlambat. Sesuai dengan namanya pandemi, maka kita perlu bahu-membahu tanpa terkecuali berbuat yang terbaik untuk untuk mereka yang telah memperjuangkan diri di garis terdepan, yaitu dokter, perawat, dan semua tenaga medis yang kelelahan merawat pasien. Jadikan semua himbauan dan larangan Pemerintah sebagai komitmen diri agar kita tidak akan semakin kehilangan bangsa tercinta ini. V. Doni Erlangga Satriawan

Karya Pendidikan

PERTOBATAN SEJATI MEMERDEKAKANKU

Mengapa kita perlu bertobat? Apa untungnya pertobatan bagi kita? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita perlu mengacu pada Asas dan Dasar St. Ignatius. Beliau merumuskan secara jelas bahwa manusia itu diciptakan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan dan itulah yang menyelamatkannya. Maka dengan pertobatan kita diajak untuk kembali pada asas dan dasar kita diciptakan. Jadi, kita semua memiliki hakekat yang sama untuk bertobat dan kembali kepada Allah.