Belajar me-manage PEOPLE

Saya lebih condong kepada “me-manage people”. Selain lebih halus, istilah ini juga lebih cocok dalam kepemimpinan, tidak hanya mengatur teman-teman agar sama persis dengan apa yang saya inginkan, namun lebih kepada mengelola berbagai visi dan pemikiran teman-teman (termasuk visi saya sendiri) menjadi sebuah hal baru yang menghasilkan suatu harmoni
dbl2

MICOMANIA…

            Sebuah kata yang awalnya asing di telinga saya kala pertama kali masuk di SMK Mikael. Namun ternyata ada banyak cerita yang dapat saya petik dan simpan dalam memori bersama teman-teman di Mico Mania. Kelas sepuluh saya hanya dapat merasakan menjadi “pengikut” yang baik, yang hanya bisa menurut pada perintah panitia yang saat itu dipegang oleh MICO51. Naik kelas sebelas, adalah masa yang tanggung dalam perjalanan saya di Mico Mania, saya merasa sudah tidak menjadi “bawahan” tapi juga belum bisa ikut andil dalam kepengurusan Mico Mania. Dan beranjak ke kelas dua belas, saya merasakan benar apa itu leadership di Mico Mania. Pada refleksi ini saya akan menceritakan perjalanan saya sebagai pengurus Mico Mania dengan segala suka dukanya.

            Menjadi seorang pengurus dalam bayangan saya sangatlah mudah. Saya hanya tinggal memberikan perintah, dan semua orang akan patuh menjalankan apa yang saya inginkan. Namun semuanya berbalik total, tak seperti gambaran di pikiran saya. Saya ternyata tidak hanya menghadapi segelintir orang yang sepaham, namun harus bisa mengarahkan berbagai pribadi dengan bermacam-macam pemikirannya masing-masing. Inilah yang sering disebut “mengatur orang-orang” dalam kepemimpinan. Namun saya lebih condong kepada “me-manage people”. Selain lebih halus, istilah ini juga lebih cocok dalam kepemimpinan, tidak hanya mengatur teman-teman agar sama persis dengan apa yang saya inginkan, namun lebih kepada mengelola berbagai visi dan pemikiran teman-teman (termasuk visi saya sendiri) menjadi sebuah hal baru yang menghasilkan suatu harmoni dalam Mico Mania, yang dapat diterima semua orang dan dijalankan dengan tulus dan gembira.

            Dalam proses saya menjadi pengurus Mico Mania, saya dapat mengetahui ada beberapa tipe orang. Ada yang mudah diatur sampai sangat sulit diatur, ada yang sangat aktif dan ekspresif juga yang sangat pasif dan sulit diajak bekerja sama. Tingkat kesulitan mengatur orang-orang itu sendiri tergantung pada posisi orang yang kita pimpin. Contohnya setiap kegiatan Mico Mania pasti yang sangat mendukung ialah kelas sepuluh yang masih takut-takut dan penurut serta teman-teman kelas dua belas karena semangat kebersamaan satu angkatan. Namun pasti kelas sebelas lah yang sulit diajak untuk bersama, karena saya menyadari jika saya berada pada posisi yang sama, saya juga pasti agak sulit diajak kerja sama. Dan hal itu semacam sebuah tradisi dalam perjalanan Mico Mania dari tahun ke tahun. Satu hal yang harus saya sadari walaupun sulit, itulah yang menjadi tugas kami para pengurus untuk mempersatukan berbagai tipe orang-orang tersebut menjadi satu keluarga.

            Saya berjuang sekuat tenaga dalam mengurus Mico Mania. Dan dalam perjuangan saya itu muncul berbagai perasaan dalam diri saya. Pada awalnya saya sangat bersemangat mengetahui Mico Mania boleh tampil pada DBL 2017, walaupun tanpa dukungan dana dari sekolah. Pada rapat-rapat pengurus sebelum event dimulai, kami sangat yakin akan bisa menampilkan yang terbaik dengan bermacam-macam ide yang menurut kami fantastis. Memasuki match day pertama mulailah kendor semangat kami, ternyata apa yang sudah kami persiapkan tidak berjalan sesuai rencana, semua berantakan dan menurut kami memalukan. Kami para pengurus malah saling emosi dan bertengkar tidak jelas. Sampai-sampai angkatan 51 ikut membantu dalam penampilan koreo. Hari pertama juga diwarnai dengan ruginya kami dalam penjualan tiket. Jujur saat itu saya malu pada angkatan-angkatan terdahulu yang tahu bahwa kepengurusan Mico Mania 53 sangat “payah” dalam mengatur teman-teman.

            Di tengah kendornya semangat kami, menuju match day kedua, kami tidak memiliki koreo yang akan ditampilkan karena waktu yang sangat mepet. Saya saat itu emosi pada bagian kreativitas, karena dulu saya sudah katakan bahwa harus kita siapkan sungguh-sungguh koreo untuk beberapa hari sampai final, namun salah satu pengurus mengatakan, “Sing penting dina pertama sik!” dan pada akhirnya hari kedua kita tidak memiliki koreo yang bagus dan hanya menampilkan giant flag peninggalan angkatan 52. Kekacauan ditambah dengan kurangnya jumlah teman-teman yang datang. Namun satu hal yang membuat saya kaget, di dalam kekacauan itu ternyata kami malah semakin kompak dan teman-teman pun semakin mudah diarahkan. Kami dapat bernyanyi dengan sangat lantang walau dengan jumlah yang sangat sedikit. Match day kedua kami tutup dengan kegembiraan dan optimisme di hati kami.

            Kami memulai match day ketiga dengan semangat kami yang kembali bangkit. Kami berhasil menampilkan koreo two in one bertuliskan “RI 72” karena bertepatan dengan hari kemerdekaan 17 Agustus. Namun sayangnya tim basket kami kalah, tentunya kami bersedih. Tapi seperti biasa, walaupun tim basket kalah, Mico Mania akan terus berjuang untuk supporter award. Hari itu juga, Pio mengumumkan bahwa Mico Mania akan tetap tampil pada battle supporter. Tetapi saat rapat evaluasi, justru keputusan berbalik total, kami memutuskan untuk tidak berangkat battle. Jujur saya kecewa atas inkonsistensi teman-teman saat itu. Tapi disinilah saya belajar bahwa kepemimpinan membutuhkan solidaritas. Sikap yang mau meninggalkan apa yang kita ingin, untuk bisa selaras dengan kawan-kawan seperjuangan kita. Solidaritas itu membuahkan sikap rendah hati. Dimana apa yang saya inginkan rela saya lepaskan, karena teman-teman memiliki visi yang berbeda. Dan semua itu dilakukan untuk sebuah arti kebersamaan.

            Dalam perjalanan saya dan teman-teman mengurus Mico Mania, saya belajar banyak hal. Banyak pelajaran yang tidak bisa kita dapatkan dengan hanya duduk diam di dalam kelas mendengarkan berbagai nasihat dan wejangan dari guru. Yang saya dapatkan adalah dalam me-manage people, ada empat hal yang dibutuhkan. Yang pertama kita membutuhkan semangat dalam diri yang senantiasa membara untuk terus bangkit dalam berbagai kondisi. Lalu kita harus berpegang teguh pada apa yang dinamakan solidaritas, kebersamaan dalam satu tujuan. Juga kita harus rendah hati, mau merelakan apa yang kita inginkan demi kesatuan dan keutuhan bersama. Dan terakhir kita harus mau berubah, selalu berubah dari hari ke hari, selalu bergerak maju demi tercapainya cita-cita bersama. Dalam satu nama, MICOMANIA.

Gabriel Tyo Renaldi (Siswa SMK Mikael)

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *