Pilgrims on Christ’s Mission

Feature

Feature

Berkunjung ke Pedalaman Papua

Pada tanggal 23 Desember 2021 yang lalu, aku berkesempatan pergi ke Waghete  untuk mengunjungi salah satu karya Jesuit di Papua. Bagiku, ini adalah kesempatan berharga karena aku dapat melihat kehidupan masyarakat atau Orang Asli Papua (OAP) yang tinggal jauh dari keramaian kota. Dalam taraf tertentu, aku sudah melihat dan mengalami kehidupan bersama OAP selama kurang lebih setengah tahun berada di Nabire. Namun, Nabire adalah kota pesisir. Di sana sudah terdapat banyak pendatang yang hidup berdampingan dengan OAP. Kondisi dan dinamika kehidupan di Nabire sudah lebih “maju” dan modern. Saat akan pergi ke Waghete, aku berharap akan berjumpa dengan corak kehidupan OAP yang berbeda daripada yang aku temui di Nabire. Perjalanan dari Nabire menuju Waghete membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam melalui jalan darat melintasi tiga kabupaten, yaitu Nabire, Dogiyai, dan Deiyai. Waghete sendiri adalah ibukota Kabupaten Paniai. Aku berangkat ke Waghete pukul 7.00 WIT menggunakan mobil sewaan dan ditemani oleh dua orang relawan. Sepanjang perjalanan, kami menikmati pemandangan yang indah dan lebatnya hutan yang masih belum banyak terjamah. Jalanan berkelok-kelok karena kontur tanah yang berbukit-bukit. Untungnya, jalanan dari Nabire menuju Waghete sudah beraspal sehingga akses menjadi lebih mudah. Aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya perjalanan tanpa aspal yang membelah hutan tersebut. Setelah 2 jam perjalanan, kami singgah di Kilometer 100 untuk sarapan. Konon inilah tempat terakhir untuk dapat membeli makanan atau minuman. Empat jam perjalanan selanjutnya, sudah tidak ada lagi kios-kios atau warung makan yang tersedia sepanjang perjalanan. Salah satu hal berkesan yang aku dan teman-teman relawan alami selama perjalanan adalah terkena palang. Ketika ada babi atau anjing yang mati di jalanan, masyarakat biasanya memalang jalan untuk meminta uang kepada mobil-mobil yang lewat sepanjang jalan. Biasanya mereka akan meminta uang sebesar Rp 100.000,00. Dalam perjalanan, kami sempat terkena palang beberapa kali. Kami sempat merasa was-was. Untunglah sopir yang mengantar kami sudah berpengalaman menghadapi situasi seperti ini sehingga bisa bernegosiasi dengan masyarakat setempat. Kami sampai di Pastoran Waghete sekitar pukul 13.00 WIT. Udara dingin langsung terasa menusuk. Kami berpindah dari daerah pesisir yang panas ke pegunungan yang dingin. Aku pun harus tidur dengan menggunakan jaket dan 2 selimut di malam pertama menginap di sana. Meski demikian, aku disambut hangat oleh Rm. Adri, Fr. Wahyu, dan empat volunteer di sana. Kami diajak berkeliling pastoran dan gereja paroki serta mengenal beberapa pengurus paroki. Selain untuk menikmati jeda akhir semester, aku juga diminta untuk ikut membantu melayani dalam perayaan Natal di sana. Karena di Paroki Waghete hanya ada 1 pastor paroki, maka perayaan Natal di stasi-stasi hanya akan dipimpin oleh frater, suster, dan para gembala. Aku sendiri mendapat bagian untuk melayani di Stasi Mugouda. Stasi ini adalah stasi yang paling dekat dengan gereja paroki, namun akses menuju stasi ini hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Untuk menuju ke stasi ini, aku dan teman-teman relawan harus menaiki bukit yang cukup curam dan terjal.  Perayaan Natal di Stasi Mugouda dirayakan dengan sederhana. Hal yang menarik adalah beberapa umat mempertahankan kebiasaan untuk menggunakan pakaian adat setempat. Bacaan-bacaan, lagu, dan kotbah pun disampaikan dengan Bahasa Mee. Ketika pertama kali mendengar paduan suara mereka, aku sangat kagum pada keindahan paduan suara mereka. Untuk kotbah, aku pun perlu didampingi oleh penerjemah. Pengalaman memimpin ibadat bersama orang asli tersebut sungguh menjadi pengalaman yang unik dan berharga. Setelah ibadat perayaan Natal selesai, masyarakat biasanya berkumpul untuk acara bakar batu. Mereka menimbun beberapa ekor babi yang telah dipotong-potong dan sayur-sayuran bersama dengan batu yang sudah dibakar terlebih dahulu, tanpa bumbu tambahan. Selain melayani perayaan Natal, kesempatan pergi ke Waghete ini juga menjadi kesempatan untuk mengunjungi beberapa rumah siswa-siswi SMA Adhi Luhur yang berasal dari sekitar sana. Tidak semuanya bisa kami kunjungi karena ada beberapa anak yang rumahnya sangat jauh di perbukitan dan tidak bisa ditempuh dengan kendaraan. Kami hanya berhasil mengunjungi siswa-siswi yang rumahnya ada di sekitar Paroki Waghete saja. Akan tetapi, suatu hari ketika kami sedang berjalan-jalan ke pasar di tepi Danau Paniai, secara tidak sengaja kami justru bertemu dengan beberapa siswa SMA Adhi Luhur yang sedang nongkrong di pasar. Awalnya kami hendak mengunjungi rumah mereka, tetapi jaraknya amat jauh. Untuk mencapai rumah mereka, kami harus menyeberangi danau dengan perahu motor. Kami pun mengurungkan niat kami. Selain untuk jalan-jalan, ternyata mereka pergi ke pasar untuk mengisi daya HP karena di tempat tinggal mereka belum ada listrik. Pada 29 Desember 2021, kami mengakhiri petualangan kami di Waghete. Kami kembali ke Nabire dengan menggunakan pesawat karena lebih murah dan waktu tempuh yang lebih singkat. Pesawat yang kami naiki adalah Cessna Caravan. Aku sempat merasa was-was apakah pesawat kecil ini bisa mengangkut kami beserta penumpang-penumpang lain. Dari dalam pesawat, aku bisa menikmati pemandangan pedalaman Papua yang begitu indah. Aku sempat melihat pemandangan yang tampaknya seperti penambangan emas milik warga lokal. Dari ketinggian langit, kami sungguh disuguhi keindahan dan kekayaan Tanah Papua. Kami mendarat dengan selamat di Nabire dan segera disambut oleh panasnya terik matahari daerah pesisir. Aku bersyukur dapat menyaksikan dan berjumpa dengan masyarakat Papua di Waghete Dari perjalanan singkat ini, aku seperti diingatkan kembali tentang salah satu Preferensi Kerasulan Universal, khususnya berjalan bersama mereka yang tersingkir. Problematika kompleks yang melingkupi Tanah Papua membuat masyarakat di tempat seperti Waghete, dalam hal ini Suku Mee, harus berjuang untuk tetap hidup di tengah gempuran kebudayaan lain, kencangnya laju pembangunan, dan derasnya arus informasi, dan tuntutan modernitas di zaman ini. Preferensi Kerasulan Universal mengingatkanku bahwa kepada atau untuk merekalah pandangan dan hati Serikat seharusnya tetap tertuju. Koyao! Kontributor: Frater Arnold Lintang Yanviero, SJ Dokumentasi: Pribadi

Feature

Melihat Segala Sesuatu Baru di dalam Kristus: Benih Panggilan dalam Formasi Bersama

Pengantar Akhir abad lalu kebanyakan tarekat ‘memvonis’ kalau ada calon yang mau masuk dengan latar belakang keluarga ruwet dan keruh (butheg) tidak akan diterima atau diterima dengan uji coba. Sikap seperti ini mungkin dipengaruhi cara berpikir yang disebut determinisme ala predestinasi (ketentuan Tuhan atau takdir). Sikap determinisme banyak dilacak dalam interaksi hidup sehari-hari dengan sesama kita. Kita cepat-cepat menyimpulkan sesuatu secara sempit entah secara deduktif atau induktif. Yang dikorbankan ialah ruang perkembangan, pertobatan dan menyediakan ruang untuk  ‘rahmat’. Seseorang akan memunculkan label, kacamata hitam atau putih atas suatu perkara dan menutup diri terhadap fakta-fakta baru. Tidak ada penyebab tunggal baik bagi keberhasilan atau kegagalan. Banyak faktor seperti keluarga, ekonomi, budaya, politik, sosial, pendidikan, iman/agama yang mempengaruhi dan mewarnai kisah sukses dan gagal. Semua hal ini mempengaruhi pula formasi para religius. Tidak bisa serta-merta bahwa latar belakang keluarga sempurna tanpa cacat cela ‘pasti’ akan menghasilkan proses formasi yang mudah. Sebaliknya, kalau latar belakang keluarga, maaf seribu maaf, gelap suram seperti perceraian orang tua, single parent, yatim, piatu atau keduanya, tidak rukun, penuh kekerasan dan lain-lain, ‘pasti’ akan sulit bahkan gagal dalam proses formasi. Keduanya adalah determinisme, hanya isi berbeda, tapi bentuknya ‘sebelas duabelas’, alias identik. Keduanya menutup kran atau pintu ‘rahmat’, campur tangan Allah. Zaman sekarang ini ditandai oleh kompleksitas dan multi dimensi kehidupan. Tidak ada hal yang begitu saja mudah dijelaskan tanpa kait mengait dengan banyak faktor lain. Karena itu, pola berpikir hendaknya tidak terkurung oleh paradigma pribadi, tradisi, prasangka dan lain-lain. Sobat saya Pater Haryatmoko menyarankan berpikir pola abuktif, yaitu mencari solusi alternatif dan kreatif. Dalam kerangka teologis, kita diajak untuk menyediakan ruang bagi rahmat dan campur tangan Allah. Muncul labelisasi, tidak terbuka akan fakta-fakta baru, apalagi kalau ada rasa ‘tidak suka’, bahkan yang baik pun dilihat dengan kacamata minus-plus-silindris, gelap atau kabur. Tentu saja ada alasan-alasan yang sangat masuk akal untuk menerima atau tidak menerima. Ilmu psikologi dengan perkembangan yang super cepat menyajikan horison ilmu yang sangat berguna bagi formasi. Zaman sekarang formasi kita sangat kompleks dan rumit, atau dengan kata lain multi dimensi.        Allah adalah Formator “par excellence” Ignatius menyimpulkan seluruh perjalanan formasi, baik rohani maupun ‘hal-hal praksis’ selalu dalam konteks Allah Sang Formator, melalui diskresi, mencari kehendak-Nya. Bahkan Allah sebagai guru dengan penuh kebapaan dan kesabaran menuntun dan mendidiknya (Autobiografi. 27,4). Dari sudut pandang tersebut, Ignatius sampai pada puncak sekaligus sumbernya, yaitu pengalaman mistiknya, “Melihat Segala Sesuatu Baru dalam Kristus” (Autobiografi.30), motto Tahun Pertobatan Ignatian. Pater Kolvenbach merumuskan Allah sebagai pendidik ‘par excellence’ yang menggunakan sarana-sarana manusiawi. Lebih jauh dia melukiskan bahwa formasi adalah sharing dalam konteks Allah Bapa, melalui Roh Kudus, mempertontonkan serta memoles sikap batin dan cara bertindak Sang Putra dalam hati orang-orang muda (Kolvenbach, The Formation of Jesuits, Roma, 2003, hal. 2-3). Melalui pendekatan lain, Pater Kolvenbach merumuskan sekaligus menyimpulkan empat kategori ‘penulis’ proses internalisasi dua unsur rahmat dan seni, mystical and ascetical aspect, yaitu Ignatius penulis buku Latihan Rohani Pembimbing penulis kedua Retretan atau kita penulis ketiga Tuhan, par excellence penulis utama dan pertama Saya mau melihat dan menggunakan dua kisah orang kudus Jesuit yaitu St. Ignatius dan St. Alfonsus Rodriguez untuk melihat proses penulisan unsur rahmat dan seni. Sebagai anak, keduanya hidup di bawah asuhan single parent. St. Alfonsus Rodriguez bahkan kemudian ditinggal mati oleh anak-anak dan istrinya. Kita lihat contoh-contoh di bawah ini. (1). Ignatius Loyola Kita lihat latar belakang Ignatius di masa kecilnya, dia anak bungsu dari 13 bersaudara. Ibunya meninggal saat dia, dapat dikatakan, masih bayi. Hal ini tampak dalam kesaksian proses kanonisasinya dari perempuan, istri seorang petani sederhana yang menyusuinya, Maria Gorin (Hugo Rahner, 1980, hal. 2-10). Dari data sejarah tidak diketemukan laporan kapan ibunya meninggal. Ditambah lagi Ayahnya meninggal pada saat Ignatius berusia 16 tahun (1507) atau setahun setelah dia meninggalkan Loyola ke Arevalo atas ‘perintah’ ayahnya. Usia bayi kehilangan ibu dan usia remaja kehilangan ayah memperlihatkan bahwa dia mengalami absennya figur ayah dan ibu dalam masa-masa penting pertumbuhan Ignatius. Tinggal kita menafsirkan dari sudut mana, positif atau negatif? Karena kurangnya sentuhan afeksi dari kedua orang tuanya, lantas muncul pertanyaan apakah ini mutlak ‘kutuk’ atau sebaliknya ‘rahmat tersembunyi’ atau keduanya, dan di antaranya? Idigoras (Solo y a Pie ‘Alone and on Foot’, hal. 17-18), mengutip pandangan ‘tokoh kedokteran psikosomatik’, Juan Rof Carballo yang memberikan pandangan bahwa Inigo kecil mempunyai kekurangan pengalaman afektif dalam jiwanya yang terdalam. Ada kekurangan (defisit) kehadiran ibu yang melindungi, membebaskan, dan menumbuhkan dalam pribadi Ignatius. Idigoras menambahkan bahwa defisit figur ibu seperti bisa memunculkan kebiasaan depresi dalam kehidupan nantinya. Selain itu, defisiti ini juga mendorong bayangan perasaan-perasaan bersalah. Idigoras lebih jauh mempertanyakan apakah jiwa petualangan Ignatius yang menjelajahi satu tempat ke tempat lain itu merupakan kerinduan akan kehadiran ibu yang penuh kehangatan. Meissner (1992, hal.9-12) menyatakan bahwa kehilangan figur ibu di masa bayi, dan pengalaman masa remaja ‘dibuang’ dan kehilangan sosok ayah, ‘bisa menciptakan bayang-bayang hitam atau depresi dalam seluruh hidupnya.  Seperti kita tahu Ignatius keluar dari kemelut ini dengan prinsip utama “Melihat segala sesuatu baru dalam Kristus” (Auto.30). Dengan bekal pengalaman tersebut Ignatius berjalan terus dan menapaki hari demi hari dengan bantuan terang Ilahi tersebut. Kerapuhan dalam dirinya yang diwarisi dari keluarga tidak berlaku bagi Allah. Kelemahan-kelemahannya dipersembahkan kepada Allah. Dia menjadi seorang santo besar dan pendiri Serikat Jesus, meski dia sendiri tidak mengakui bahwa dia pendirinya, melainkan Yesus sendiri. Di artikel lain, Meissner menyebut bahwa dalam soal rahmat, iman mempunyai peran yang penting dalam rangka memahami pribadi Ignatius. Hal ini ditambah dengan latar belakang keluarga yang terpandang dan suci. Kakaknya seorang rohaniwan di kotanya dan keluarga ibunya para Fransiskan. Sejak kecil dia dilatih berdoa oleh Maria Gorin, pengasuhnya. (2). Br Alfonso Rodriguez si Tragis sekaligus Magis; Si Rapuh yang Tangguh Ayahnya seorang pedagang wool yang kaya, meninggal dunia ketika Rodriguez berusia 14 tahun. Sebenarnya dia ingin menjadi imam Jesuit, karena itu ia pergi bersekolah di Kolese Jesuit di Alcala. Di sana, dia menerima pelajaran persiapan komunitas pertama tentang keutamaan-keutamaan dari Pater Petrus Faber, salah seorang teman-teman pertama Ignatius. Kematian ayahnya membuat dia kemudian dipanggil pulang untuk mengambil alih pekerjaan ayahnya. Ia lalu menikah dan mempunyai tiga

Feature

Allah bagi Keluarga dengan Orangtua Tunggal

PENDAHULUAN Menjadi orangtua tunggal pada umumnya bukanlah pilihan. Ini menandai perubahan besar dalam hidup seseorang entah disebabkan cerai hidup, cerai mati, ditinggal merantau, tugas studi, dinas militer, dan sebagainya. Jumlah orangtua tunggal dewasa ini meningkat. Di Indonesia ada sekitar 7 juta orangtua tunggal dan lebih dari 70 persennya adalah perempuan. Mereka harus berperan ganda menjadi ibu sekaligus bapak, atau sebaliknya. Para orangtua tunggal berjuang menghidupi keluarga dengan melibatkan banyak faktor, antara lain faktor sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan iman atau agama. Tulisan ini bermaksud mengulas tentang orangtua tunggal dari perspektif iman kristiani.   TINJAUAN BIBLIS  Dalam tradisi Yahudi, janda adalah salah satu kelompok yang wajib mendapat perhatian dan santunan. Seorang janda dianggap memiliki banyak kelemahan, antara lain statusnya di mata hukum, kehidupan sosial bermasyarakat, dan masa depannya. Hagar (isteri kedua Abraham) menjadi orangtua tunggal bagi anaknya, Ismael, akibat diusir oleh Abraham atas permintaan Sara (isteri pertama) yang tidak menghendaki Hagar tinggal bersama mereka. Karena kehabisan air minum, Ismael hampir dibuang oleh Hagar. Berkat bimbingan malaikat Tuhan, Hagar membatalkan niatnya lalu mengambil kembali dan mengasuh Ismael sampai Ismael menjadi orang yang berkenan di mata Allah. Maria menjadi orangtua tunggal bagi Yesus setelah Yusuf wafat. Maria setia menemani anaknya Yesus di jalan salib dan bahkan sampai wafat-Nya. Kisah janda di Sarfat yang berani berbagi dari kekurangannya (1 Raj 17:7-16), persembahan janda miskin di bait Allah (Mrk 12:41-44), dan permohonan janda di Nain kepada Yesus bagi kesembuhan anaknya yang sakit (Luk 7:11-17) memberikan banyak inspirasi dan memperlihatkan dampak besar iman kepada Allah dalam kehidupan para janda.  Belum ada kesepakatan dari para ahli mengenai pendidikan iman anak dalam tradisi Yahudi, apakah hal tersebut berlangsung dalam studi formal di sekolah atau lainnya. Beberapa teks Perjanjian Lama (Ul 32:7; Ams 3:1-3; Mzm 78:3-7) mengacu pada kesimpulan bahwa hal tersebut merupakan sebuah pewarisan iman yang semula dilaksanakan orangtua di tengah-tengah keluarga, juga oleh kelompok orang beriman pada tataran lebih luas yaitu jemaat. Keluarga dan komunitas Gereja menjadi sekolah iman bagi anak agar berkembang dengan baik dalam pengetahuan, keterampilan, dan karakter.  KENAKALAN REMAJA DAN HUBUNGAN SEKS PADA USIA DINI Dua isu utama mengenai dampak negatif terhadap anak dari keluarga dengan orangtua tunggal adalah munculnya kenakalan remaja dan kecenderungan melakukan hubungan seks pada usia dini. Ketidakhadiran salah satu orangtua berpotensi memicu stress dan perasaan tidak stabil serta inferiority (rasa rendah diri) pada anak, yang kemudian membangkitkan berbagai bentuk kenakalan sebagai kompensasi untuk memenuhi perasaan tidak lengkap di dalam dirinya.  Sebuah penelitian di Amerika Serikat membandingkan kehidupan seks seribu anak remaja usia 14 tahun yang dibesarkan tanpa ayah. Sebanyak 63,2% mengaku telah melakukan hubungan seks pada usia dini. Pada masa remaja, anak laki-laki memasuki fase pueral  (dari kata “puer” yang berarti laki-laki) di mana mereka mengalami perubahan besar yakni meningkatnya hormon seksualitas dan berkembangnya organ-organ seksual serta reproduksi. Juga muncul kebutuhan atau keinginan kuat untuk memisahkan diri dari orangtua dan membentuk kelompok sendiri dengan berbagai rahasia dan keunikan di dalam kelompoknya. Ketika mengalami kesulitan, anak-anak remaja dari orangtua tunggal cenderung bercerita kepada teman dekatnya, bukan kepada orangtuanya. Sumber-sumber bantuan yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasinya adalah keteladanan hidup orangtua tunggal, peran sistem keluarga besar (extended family system), komunikasi yang tepat antara orangtua tunggal dan anak, pendidikan seks pada usia dini, pembelajaran iman sejak dini, katekese khusus anak-anak dari orangtua tunggal, dan pengalaman berjumpa dan membangun relasi dengan role model orangtua seperti paman, bibi, guru, pemuka agama yang dapat dipercaya.  ALLAH ADALAH SEKALIGUS AYAH DAN IBU Tidak utuhnya orangtua dalam sebuah keluarga juga mempengaruhi proses identifikasi dalam pencarian jati diri, relasi-relasi sosial, dan perkembangan iman anak-anak mereka. Dalam hidup doa misalnya, ada sebuah kecenderungan bahwa anak-anak yang tidak mengalami kasih sayang ayahnya menjadi sulit menghayati Allah sebagai Bapa dan anak-anak yang kurang mengalami kedekatan dengan ibunya sulit menghayati Allah sebagai Ibu atau tidak tertarik untuk berdevosi kepada Bunda Maria. Karena keluarga adalah seminari pertama untuk anak maka penghayatan iman perlu dimulai dari orangtua. Proses kehilangan dan pemulihan membutuhkan formasi kehidupan batin yang baik di pihak orangtua tunggal. Kerja sama Hagar, Maria, dan janda di Nain masing-masing dengan rahmat Allah melalui para utusan-Nya membuahkan kehidupan iman yang matang di mana para orangtua tunggal dan anak-anak mereka hidup berkenan kepada Allah.  Allah selalu disebut sebagai Bapa dan Yesus disebut sebagai Putera yang kedua-duanya berjenis kelamin laki-laki. Bagaimana anak-anak yang tidak mengalami figur ibu dapat menangkap gambaran Allah sebagai Ibu? Roh yang menyatukan Allah Bapa dan Allah Putera memuat sifat dan karakteristik feminin dalam banyak ungkapan seperti Bapa penuh kasih sayang, Allah Maharahim, Allah Pengasih dan Penyayang, Yesus yang manis dan lemah lembut, Allah Pemelihara Kehidupan, dan sebagainya. Roh Kudus adalah dimensi feminin Allah Tritunggal sehingga kita dapat menyapa Allah sebagai Bapa dan Ibu bagi semua orang beriman. Gereja juga disebut sebagai Ibu yang memberi kita kelahiran baru melalui Sakramen Baptis. Kata ganti subjek ketiga untuk Roh Kudus dan Gereja dalam teks-teks bahasa Inggris adalah “She” (dia, perempuan), bukan “He” (dia, laki-laki). TANGGUNG JAWAB BERSAMA Banyak institusi memanfaatkan tiga tahap akhir perkembangan psikososial yang ditawarkan Erikson, sebagai titik tolak untuk membantu para orangtua tunggal melakukan rekonstruksi terhadap makna dan nilai-nilai kehidupan sehingga dapat berproses dengan baik dari tahap kehilangan menuju pemulihan yang efektif serta produktif. Tiga tahap tersebut adalah Intimasi (dalam cinta), Generativitas (dalam pekerjaan), dan Integritas (dalam spiritualitas).    Selain itu, keluarga sebagai persekutuan hidup dan cinta perlu mengembangkan self supporting agar makna dan nilai-nilai kehidupan dapat dihayati secara kreatif dan bertanggung jawab oleh semua anggota keluarga dengan orangtua tunggal. Dalam Marriage Encounter (ME) ada sebuah metode yang disebut Deeper Dialogue, yaitu metode yang terdiri atas lima langkah dengan tujuan membangun relasi yang produktif dan lebih akrab. Lima langkah tersebut adalah saling mengomunikasikan mengenai 1) bagaimana perasaanku, 2) bagaimana pikiranku, 3) bagaimana sikap dan perilaku, 4) kebutuhan apa yang sedang aku kejar, dan 5) bagaimana saya menangani kebutuhan tersebut. Deeper Dialogue bukan hanya bermanfaat bagi pasangan suami-isteri melainkan dapat sungguh efektif bila dilakukan oleh orangtua tunggal bersama anak-anak mereka. Tanggung jawab membangun relasi yang positif bukan melulu berada di pundak orangtua tunggal, namun sejak dini perlu diperkenalkan kepada anak dan diajarkan sebagai tanggung jawab bersama.

Feature

Hidup adalah Pesta harus Dirayakan!!

Single parent, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Pasanganku seorang eksekutif muda yang bekerja di luar negeri. Kami menikah bulan Februari tahun 2004. Setelah sebulan menikah, ia kembali lagi ke luar negeri untuk bekerja dan aku sudah hamil. Namun setelah beberapa bulan, aku kehilangan kontak dengan dia dan keluarganya walaupun sebenarnya tidak ada masalah di antara kami. Akhirnya aku memutuskan untuk fokus pada kehamilanku. Aku menukar kemarahan dan kejengkelanku untuk menyiapkan kelahiran dengan terus berdoa agar diberi kekuatan dan memaafkan yang sudah terjadi. Aku memutuskan untuk melahirkan di Jogja, di kota kelahiranku, ditemani oleh kedua orang tuaku. Dan anakku pun lahir ke dunia, seorang bayi laki-laki tampan yang kunanti selama ini. Setelah tiga bulan menemani bayi mungilku, aku kembali mengadu nasib ke Jakarta dan kembali menjadi wartawan. Anakku kutitipkan kepada kedua orang tuaku di Jogja. Selama tujuh tahun, dengan naik pesawat atau juga kereta api kelas ekonomi, setiap akhir pekan aku pulang pergi Jakarta-Jogja untuk menemui buah hatiku. Saat bertemu dengan anakku, rasanya semua rasa lelah karena perjalanan, bekerja, dan kuliah terbayarkan.   Aku sering meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk membawa anakku ke Jakarta dan  tinggal bersama denganku namun mereka tidak pernah memperbolehkannya karena aku belum memiliki tempat tinggal sendiri. Suatu hari ada seorang teman menawariku apartemennya yang akan ia jual karena tidak cukup luas untuk ditinggali bersama keluarganya. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli apartemen itu. Aku pun kembali meminta izin kepada orang tua untuk membawa anakku tinggal di Jakarta, namun tetap saja tidak diperbolehkan karena aku belum memiliki pasangan. Di umurnya yang menginjak tujuh tahun, anakku belum bisa membaca dan menulis sampai orang tuaku bingung mengatasinya. Akhirnya aku meminta izin kembali untuk membawa anakku tinggal bersamaku di Jakarta agar aku bisa mengajarinya membaca dan menulis. Kali ini mereka mengizinkannya. Dalam waktu sebulan anakku sudah bisa membaca dan menulis. Bukan hal yang mudah menjadi seorang single parent. Ada banyak tantangan yang harus dilalui. Salah satunya adalah ketika anak baru berusia tiga tahun, ia bertanya, “Aku gak punya ayah ya?” Hal yang berat untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi ketika dia masih kecil. Namun aku mencoba jujur dari awal untuk menceritakan bagaimana kondisi sebenarnya. Selain itu, ada rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata ketika menatap anak yang melihat temannya dijemput atau bermain dengan ayahnya. Anakku sepertinya merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Namun aku selalu berusaha untuk mengajak dia bermain atau melakukan sesuatu untuk mengalihkan kerinduannya kepada sosok ayah.  Tantangan tidak hanya datang dari anakku saja, namun juga dari orang-orang sekitar. Terlepas dari semua itu aku memiliki prinsip bahwa segala sesuatu hal yang dibicarakan di belakangku aku anggap tidak ada. Jika memang membutuhkan penjelasan atau tidak nyaman denganku silakan berbicara langsung di depanku. Toh, sampai berapa lama mereka akan bertahan dan membicarakan aku. Dan aku beruntung berada di lingkunganku yang respek dengan kondisiku sebagai seorang single parent. Ketika aku mendaftarkan dia sekolah, aku menceritakan statusku yang single parent dan meminta pihak sekolah untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap anakku. Dan aku mengajarkan ke anakku bahwa proses dan kejujuran dalam mengerjakan sesuatu lebih penting daripada hasil. Nah, waktu itu anakku mendapatkan nilai 2,5 untuk ulangan matematikanya. Saat aku tanya, ia jawab bahwa itu sudah naik karena sebelumnya hanya mendapat nilai 2 dan bahkan temannya ada yang mendapat nilai di bawahnya. Ia menggarisbawahi bahwa ia telah mengerjakan ulangan dengan jujur. Menurutku jawabannya keren meskipun dalam hati  aku merasa geli.  Sejak ia masih kecil aku selalu berpesan kepadanya bahwa sekolah menyenangkan atau tidak menyenangkan tergantung bagaimana kita menikmati dan menjalaninya. Karena di sekolah bukan bagaimana kita mencari nilai, tidak harus pintar di pelajaran ini atau itu. Yang terpenting adalah kita bisa menikmati proses belajar, berteman, dan membentuk karakter. Dari situ, ia mulai menentukan sendiri di mana ia akan bersekolah dan mengurus sendiri semua kebutuhan untuk mendaftar sekolah. Dalam hal pendidikan iman Katolik, aku merasa belum begitu maksimal dalam mendampingi anakku. Sejak kecil dia didampingi oleh orangtuaku, diajak ke gereja, diajari berdoa secara Katolik, dan juga bersekolah di sekolah Katolik. Dan ini menjadi PR besar untuk mengajak anak berdiskusi mengenai agama, kemanusiaan, dan berbuat baik. Sejauh ini aku menanamkan hal baik untuk anakku dan dia mau menerima walaupun terkadang kami harus beradu pendapat. Proses menjadi orang tua bukanlah menjadi hal yang mudah karena harus terus-menerus belajar. Cara mendampingi anak pun akan berubah sejalan dengan tahap pertumbuhan mereka. Ketika masih kecil, kita mungkin bisa mendikte mereka, namun ketika mereka menjadi remaja, maka kita belajar untuk menjadi teman mereka. Dan keluarga kudus merupakan sebuah gambaran perjalanan hidup yang penuh kepasrahan yang bukan berarti lemah dan tidak melakukan apa-apa. Mampu pasrah untuk kemudian bangkit kembali. Ini seperti kisah Bunda Maria yang dalam kondisi hamil harus berjalan jauh ditemani Yusuf suaminya. Mereka ditolak di penginapan dan akhirnya Maria harus melahirkan di kandang. Sebuah kepasrahan yang luar biasa yang dimiliki oleh Bunda Maria dan Yusuf. Mereka percaya bahwa ini jalan yang harus mereka tempuh. Yesus lahir di kandang namun kelahirannya disambut para malaikat dan gembala. Seperti halnya hidup, apapun yang menimpa kita, baik suka maupun duka, patutlah untuk dirayakan. Emmy Kuswandhani – Single Mother

Feature

They are CHOSEN by God to be BROKEN

Lahir dan tumbuh dalam keluarga serba kecukupan membuat saya menjadi pribadi yang selalu nyaman dengan fasilitas dan cenderung sombong secara internal. Kenyamanan karena semua fasilitas tersedia ternyata tidak memuaskan hati. Akhirnya semua berubah ketika orang tua memutuskan berpisah. Mama, saya, dan kedua adik saya diusir dari rumah. Papa juga pernah melakukan kekerasan fisik dan mental kepadaku. Semua itu membuat saya menyimpan benci dan dendam yang sangat dalam, terutama dengan pengusiran yang papa lakukan. Sejak itu, kehidupan saya berubah 180 derajat. Berpindah-pindah rumah kontrakan, makan seadanya, dan sering mendapat teguran dari sekolah karena menunggak SPP. Setelah perpisahan itu, mama juga jarang di rumah. Mama akan berangkat pagi untuk bekerja dan kembali pada malam hari. Ketika kami berada di sekolah, mama akan menitipkan adik bungsuku pada tetangga. Di satu sisi, hal ini membuatku kecewa dengan mama. Namun dengan kondisi seperti itu, mama masih tetap mengajak kami untuk pergi ke gereja setiap hari Minggu, mengunjungi pastoran, dan memberikan sumbangan kepada anak-anak panti asuhan. Lambat laun, saya menemukan kebahagiaan pada komunitas suster-suster sepuh di paroki. Sukacita, kesederhanaan, dan keramahan mereka membuat saya ingin menjadi seperti mereka. Inilah salah satu motivasi awal saya menjadi biarawati, yaitu rasa bahagia. Perlahan saya juga merasa hidup saya diubah menjadi pribadi pemaaf, murah hati, dan sederhana. Selain itu, saya mendapat rahmat terbesar dalam diri ketika bisa merasakan cinta dan pengorbanan yang Tuhan berikan kepada saya. Saya tidak lagi menyesal dengan keluarga yang saya miliki, tetapi justru rasa syukur. Mama dan kedua adik merestui apa yang saya inginkan. Saya juga bisa merasakan kehadiran doa dan dukungan dari mereka. Syukur kepada Allah, tiga bulan sebelum mengucapkan kaul perdana, mama memutuskan untuk bergabung dalam komunitas TOC (Third Order of Carmelite). Di usianya yang sekarang, mama masih bisa membagi waktunya bagi keluarga dan komunitas. Tentu saja, hal ini menjadi salah satu penguat panggilan saya. Refleksi atas Keluarga Kudus juga membantu saya untuk semakin mampu menemukan rahmat dalam situasi yang kurang ideal itu. Keluarga kudus harus kita teladani sebagai umat Kristiani. They are CHOSEN by God in order to be BROKEN for the perfection of God’s love. Saya rasa, kita semua juga punya “KE-BROKEN-AN” masing-masing; BROKEN FAMILY, INTELLECTUAL, BROKENNESS, MORAL BROKENNESS, EMOTIONAL BROKENNESS, CHARACTER BROKENNESS, ECONOMICAL BROKENNESS, SOCIAL BROKENNESS, SPIRITUAL BROKENNESS, CULTURAL BROKENNESS, dan lain sebagainya. All of us are BROKEN, and yet CHOSEN by the Lord. Sr. Yohana Evita Veron Silaban, CAE – Komunitas Napoli, Italia

Feature

Keluarga Kudus itu seperti Puzzle

Aku lahir di sebuah keluarga kecil sebagai anak tunggal. Tahun 2005 bapak mulai berubah sikapnya dan berakhir dengan meninggalkan rumah. Akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai dan aku tinggal bersama ibu di Bekasi. Setelah bapak pergi aku merasa seperti mati rasa, karena aku tidak bisa mengetahui perasaan yang sedang kurasakan. Ibu menjadi satu-satunya orang tempat aku bergantung. Beliau berusaha mengajariku berdoa, tapi aku tak pernah mau. Ibu juga konsisten mengajakku ke gereja walaupun aku sering menolak. Beliau tidak pernah menyerah mengajakku agar aku ke gereja. Beliau yang mencukupi segala kebutuhan dan memperjuangkan hidup yang layak untukku selama ini. Aku tahu, beliau mengalami pergulatan yang amat panjang. Namun di satu sisi aku merasa kesepian karena ibu jarang sekali menemaniku dengan ritme kerjanya yang berangkat pagi pulang malam. Untuk mengurangi rasa sepiku ini aku lebih sering main bareng teman-teman, terkadang aku main juga ke rumah mereka. Ketika menjumpai keluarga temanku yang utuh, aku selalu bingung saat bertemu dengan seorang bapak. Ada rasa canggung, apa yang harus aku lakukan dan menentukan topik pembicaraan ketika aku bertemu dengan ayah dari teman-temanku. Mungkin karena aku dekat dengan ibu menjadikanku tidak begitu canggung ketika bertemu dengan ibu teman-temanku. Walaupun aku dibesarkan oleh single parent, namun aku bangga dengan ibuku. Beliau selalu berjuang yang terbaik untuk anaknya dan aku bangga kami bisa sampai di tahap ini. Dan aku sudah bisa menerima perpisahan orang tuaku. Bisa saja kalau mereka tidak berpisah aku tidak akan menjadi seseorang seperti sekarang ini. Beliau memberi kebebasan penuh kepadaku untuk menentukan jalan hidup. Beliau selalu mendukungku. Demikian pula keluarga besar ibuku. Tantanganku dalam menjalani pilihanku ini tidak berasal dari ibu atau keluarga besar ibuku, namun dari keluarga besar bapak. Mereka mengekang dan tidak mendukungku masuk ke novisiat. Menurutku keluarga kudus tidak tunggal seperti ayah yang menggambarkan figur Yusuf atau ibu yang menggambarkan figur Maria. Mungkin karena aku tidak memiliki figur ayah. Aku bisa menemukan figur Maria di sosok ibu, nenek, tante, atau sosok perempuan yang dekat denganku. Sosok-sosok ini saling melengkapi kekurangan dan kelebihan satu sama lain sehingga membentuk figur Maria yang sempurna. Begitu pula figur Yusuf, bisa kudapatkan dari sosok laki-laki yang ada di sekitarku, yaitu kakek, om, pakde, pendamping rohani, dan lainnya. Dalam bayanganku, keluarga kudus itu tidak tunggal, namun seperti puzzle yang dirangkai membentuk keluarga kudus yang sebenarnya. Fr. Daud Kefas Raditya, S.J. – Skolastik Jesuit

Feature

Keluargaku Melengkapiku

Ibu meninggal karena sakit ketika aku masih kelas V SD. Sejak itu aku hanya memiliki ayah dan kakak yang tinggal satu rumah denganku. Dalam keseharian, ayah atau kakak yang membuat makanan dan terkadang makanan ini bisa bertahan sampai 3 hari. Ayah adalah yang paling berperan besar dalam keluarga dan mencukupi kebutuhan kami sehari-hari. Beliau menanggung beban keluarga yang berat sebagai orang tua tunggal. Awal aku kehilangan ibu, aku kesulitan untuk menerimanya bahkan sampai SMP masih sering teringat ibu. Seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menerima keadaan dan menganggap keluargaku utuh. Utuh bukan dalam arti jumlah, tetapi utuh dalam arti kondisi dan suasana. Ketika masuk Seminari, aku sudah bisa menerima keadaan dan mensyukurinya. Yang datang menjengukku adalah kakak dan ayah, namun aku tetap sangat mensyukurinya. Sedari kecil aku sudah diperkenalkan iman katolik oleh keluarga. Ibu mengenalkannya dengan mengajakku ikut doa lingkungan dan ayah mengajak latihan koor lingkungan. Ketika bulan Mei dan Oktober, aku sering diajak untuk rosario bersama dan mengikuti misa mingguan dan harian. Ketika ibu sudah tiada, yang membimbingku hanya satu orang. Ayahku menjadi sekaligus ayah dan ibu untukku dan kakakku. Saat aku di rumah, ayah selalu mengingatkanku untuk berefleksi. Ini membuatku tergerak untuk rajin berefleksi. Salah satunya dengan merefleksikan peran Keluarga Kudus Nazaret. Meskipun Keluarga kudus Nazaret terdiri atas ayah, ibu, dan anak. sementara keluargaku yang tanpa ibu, aku dibantu untuk lebih memahami bahwa keluarga kudus tidak hanya soal jumlah orang yang ada di dalamnya, namun bagaimana perannya untuk melengkapi hidupku. Seperti ayahku yang menjadi sosok ayah sekaligus ibu bagi keluarga kami. Ayah yang mencukupi kebutuhan kami dan memperhatikan kami seperti layaknya ibu. Itu semua sudah cukup. Yohanes Robiyantoro – Seminari Mertoyudan

Feature

Penerimaan dalam Keluargaku

Aku lahir di sebuah keluarga dengan empat orang anak. Ketika berusia 4 tahun, ibuku mengalami kecelakaan yang mengakibatkan gegar otak dan tak lama kemudian meninggal. Sejak ibu meninggal, bapak mengambil alih semua peran ibu. Beliau yang mengatur ekonomi keluarga. Keluarga kami juga dibantu oleh saudara-saudara lainnya karena bapak tidak bekerja. Dalam perkembangan pertumbuhanku, terkadang aku merasa mengapa aku berbeda dengan yang lainnya. Mereka memiliki ibu yang menjaga dan mengantarkan anak-anaknya, mengapa ibuku tidak ada. Bahkan ketika masuk Seminari, teman-temanku datang bersama dengan orang tua utuh sedangkan aku hanya datang dengan bapak saja. Sempat muncul pemikiran mungkin enak ya punya keluarga yang utuh, tapi mau bagaimana lagi aku harus menerima kondisi keluargaku. Di Seminari, aku dibantu untuk mengolah semua keresahan dan ketidakberdayaanku dalam menerima kondisi keluargaku. Namun dalam menghayati panggilanku di Seminari, tak lepas juga dari tantangan. Salah satunya ketika mengikuti retret yang bertema keluarga. Saat aku diminta untuk membayangkan orang tua, yang terlintas di pikiranku hanya bapak, dan aku selalu mencari-cari di mana sosok ibuku. Hal ini yang terkadang membuat aku sedih. Aku terbantu banyak menghidupi situasi ini lewat refleksi atas Keluarga Kudus. Keluarga kudus menurutku bukan hanya keluarga yang suci, namun keluarga yang mau dan mampu menerima kehadiran, kekurangan, serta situasi anggota keluarga itu. Polycarpus Benny Wijaya – Seminari Mertoyudan