Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

Pelayanan Gereja

HUT ke-150 Tahun pemberkatan Gedung Gereja St. Yusup, Gedangan

Dari Blenduk ke Gedangan: Pada Jumat, 12 Desember 2025, Gereja Katolik St. Yusup Gedangan merayakan sebuah puncak sejarah: 150 tahun pemberkatan gedung gereja bergaya neogotik yang megah. Perayaan yang dihadiri oleh Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J., Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr, Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dan sejumlah imam dan biarawan-biarawati, bukan sekadar pesta ulang tahun bangunan. Ini adalah perayaan syukur atas perjalanan iman yang telah mengalirkan kehidupan, pengharapan, dan pendidikan bagi banyak generasi.   Embrio Iman dan Pendidikan di Tanah Jawa Sebelum gedung kokoh berdiri, umat Katolik Gedangan telah berkumpul sejak 217 tahun lalu, merayakan Ekaristi di Gereja Blenduk yang merupakan gereja Protestan Gereformeerd. Perjalanan dimulai dari rumah sederhana yang dibeli Pater Lambertus Prinsen, Pr (kini menjadi Semarang Art Gallery), yang kemudian dilanjutkan dengan pembelian sebidang kebun pisang untuk lokasi gereja saat ini oleh Pater J. Lijnen (yang kelak menjadi Monsinyur). Pembangunan Gereja St. Yusup Gedangan yang dimulai pada 1 Oktober 1870, kemudian diresmikan pada 12 Desember 1875.     Di bawah asuhan Serikat Jesus sejak 1877, Gedangan bertransformasi menjadi “lokakarya iman dan budaya”. Tempat ini menjadi sekolah bagi misionaris Eropa untuk mendalami budaya dan bahasa Jawa sebelum melanjutkan karya. Dari ruang diskusi dan persiapan di Gedangan inilah, mimpi besar tentang pusat pendidikan dan iman di Muntilan yang dicita-citakan oleh Pater van Lith, S.J. dan Pater Hoevenaars, S.J. dimatangkan. Lebih dari itu, Gedangan menjadi titik tolak misi ke berbagai penjuru Nusantara seperti Flores, Maluku, dan Papua. Gereja Gedangan layaknya embrio yang melahirkan tidak hanya paroki, tetapi juga sistem pendidikan Katolik dan pewartaan yang kontekstual di Jawa.   Merayakan Akar, Menghidupi Masa Kini Perayaan 150 tahun ini disiapkan dengan serangkaian kegiatan selama setahun, mulai dari jelajah sejarah, rekoleksi, hingga kegiatan sosial, yang melibatkan seluruh unsur umat, mulai dari anak-anak hingga lansia. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan, mulai dari Launching Rangkaian Acara, Sayembara Desain Logo dan Merchandise HUT, Buka Puasa Pasar Tiban, Talkshow Pasar Tiban, Minggu Panggilan dan Café Gedangan, Jelajah Gereja St. Yusup Gedangan, Misa Novena, Rekoleksi Ignatian, Audisi Gedangan’s Got Talent, Donor Darah, Ziarah Gua Maria Blitar, Mini Talk Show Sejarah Gereja Gedangan, Perayaan Puncak, dan Amazing Race sebagai penutup pada 16 Januari 2026 nanti.   Dalam perayaan Ekaristi puncak, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr. mengingatkan bahwa gereja ini berdiri karena kesetiaan Allah dan ketaatan, serta cinta para perintis dan umat yang bahu-membahu. Mereka adalah “rekan kerja Allah” yang menjadikan bangunan ini hidup.   Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Provinsial Jesuit Indonesia, menegaskan bahwa perayaan ini adalah pesta iman leluhur. Di Gedanganlah, pada 1896, Pater Hebrans dengan haru menyaksikan pembaptisan anak-anak pribumi Jawa, layaknya sebuah momen kemenangan kasih yang inklusif. Dari Gedangan, iman kemudian menyebar ke Ambarawa, Solo, dan daerah lainnya di Jawa Tengah.   Panggilan untuk Terus Mengalirkan Kasih Kini, dengan 3.387 umat yang tersebar di 11 wilayah, Gereja Gedangan menghadapi zaman baru. Tema perayaan, “Gereja St. Yusup Gedangan Berziarah Mengarungi Zaman dalam Pengharapan”, adalah kompas untuk masa depan. Gereja Gedangan dipanggil untuk terus berbenah, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi teladan konkret yang membawa sukacita Injil.   Sebagaimana St. Yusup, sang pelindung, yang kuat dalam keheningan, taat, dan bekerja untuk kebaikan banyak orang, Gereja Gedangan diingatkan untuk tetap menjadi oase pengharapan di tengah teriknya tantangan zaman. Gereja Gedangan adalah saksi bahwa dari sebuah sebidang tanah berisi kebun pisang, kasih Allah dapat bertumbuh, mengalir, dan menghidupi banyak orang.     Perayaan 150 tahun ini adalah pengingat bagi kita semua tentang kekuatan akar sejarah, ketekunan dalam pendidikan, dan panggilan bersama untuk terus menjadi saluran kasih yang relevan bagi dunia masa kini. Dari Gedangan, kita belajar bahwa warisan terbesar adalah iman yang hidup, yang berziarah, dan yang berbuah bagi sesama.   Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Formasi Iman

Sukacita Sejati di Cafe Puna

Memetik Buah Discernment: Pada hari Kamis, 27 November 2025, komunitas Serikat Jesus (SJ) Pulo Nangka kembali menyelenggarakan acara Cafe Puna. Ruang belajar bersama yang terbuka untuk umum ini berlangsung pukul 19.30–21.00 WIB dan dihadiri secara luring maupun daring oleh umat paroki, kelompok kategorial, serta peserta dari beragam latar belakang usia dan profesi.   Pertemuan edisi ini mengangkat tema “The Fruits of Discernment: True Joy in Living God’s Will”, yang diambil dari bagian ketiga buku Discerning the Will of God: An Ignatian Guide to Christian Decision Making karya P. Timothy M. Gallagher, O.M.V. Tema ini sekaligus menutup rangkaian pembahasan buku tersebut, setelah peserta diajak mendalami disposisi dan proses discernment pada dua pertemuan sebelumnya. Melalui tema penutup ini, para peserta diajak untuk melihat bahwa discernment bukan sekadar metode mengambil keputusan, melainkan sebuah cara hidup yang menuntun seseorang untuk semakin selaras dengan kehendak Allah dan mengalami sukacita sejati.     Sebagai narasumber utama, hadir dua frater dari Komunitas SJ Pulo Nangka, yaitu Frater Wishal, S.J. dan Frater Yuhan, S.J. Dalam pemaparannya, Frater Wishal mengawali dengan menjelaskan pentingnya discernment sebagai landasan dalam mengambil keputusan hidup. Melalui proses ini, seseorang diajak untuk mengenali pilihan-pilihan yang selaras dengan kehendak Tuhan, yang pada gilirannya menumbuhkan kejernihan batin, kedamaian hati, dan pertumbuhan rohani.   Merujuk pada tulisan Gallagher, Frater Wishal menjabarkan tiga tanda penting dari discernment yang sejati, yaitu: rasa damai (bukan kesenangan sesaat, melainkan kejernihan batin yang mendalam atau inner clarity), konsolasi, dan rasa terpenuhi atau ditemukan (being found). Ia mengilustrasikannya dengan pengalaman Santo Ignatius Loyola, yang justru menemukan kekosongan dalam imajinasi tentang kejayaan duniawi, sementara refleksi atas hidup para kudus membawanya pada kedamaian dan arah hidup yang baru.     Frater Yuhan Felip, S.J. kemudian melengkapi pemaparan tersebut dengan menekankan bahwa discernment merupakan bagian dari hidup sehari-hari yang tak terpisahkan. Ia menggambarkannya sebagai “rumah” di saat keraguan, batu pijakan untuk sebuah keputusan berharga, dan yang terpenting, sebagai “a way of living”. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati akan dicapai karena melalui discernment, seseorang bersatu dengan kehendak Tuhan.   Pater Widy, S.J. menanggapi pertanyaan dalam sesi tanya jawab Acara Cafe Puna. (Dokumentasi: Penulis)   Sesi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif yang dipandu oleh Pater Guido Chrisna Hidayat, S.J. dan Pater Widyarsono, S.J. Beragam pertanyaan yang mengalir, baik dari peserta luring maupun daring, mencerminkan antusiasme dan ketertarikan yang luas terhadap topik ini. Partisipasi aktif dari peserta muda hingga senior menunjukkan bahwa tema discernment tetap relevan bagi berbagai lapisan usia dan pengalaman rohani.     Sebagai penutup acara, para peserta diajak untuk hening sejenak merefleksikan gerak batin yang muncul selama sesi berlangsung. Suasana kemudian berlanjut menjadi obrolan ringan dan hangat sembari menikmati hidangan kecil di ruang makan. Melalui Cafe Puna, komunitas SJ Pulo Nangka terus berupaya menghadirkan ruang yang edukatif, reflektif, dan inspiratif, sekaligus membangun jejaring yang lebih luas dengan akademisi, umat beriman, dan masyarakat umum.   Kontributor: Sch. Sirilus Hari Prasetyo, S.J. – Humas Cafe Puna

Jesuit Global

Kunjungan Pater Jenderal Arturo Sosa ke Tanah Suci

Lebih dari 500 tahun yang lalu, tepatnya 1 September 1523, Ignatius Loyola melakukan ziarah ke Tanah Suci. Ia memiliki keinginan yang kuat untuk hidup dan bekerja di sana sebagai pelayan Tuhan yang sederhana hingga akhir hayatnya. Namun, dengan perang yang mengancam di wilayah tersebut, ia terpaksa kembali ke Eropa, di mana ia mendirikan apa yang kemudian menjadi Serikat Jesus. Meskipun ia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Tanah Suci, api keinginannya untuk melayani terus berkobar sepanjang sisa hidupnya. Mungkin tidak mengherankan bahwa selama puluhan tahun, Serikat Jesus telah mengutus sekelompok kecil Jesuit yang tekun bekerja di Tanah Suci. Dari para Jesuit ini, Pater Jenderal Arturo Sosa ingin belajar selama kunjungannya ke Tanah Suci.   Hal pertama yang didengarkan oleh Pater Jenderal adalah suara para Bruder De La Salle di Universitas Bethlehem. Tiga Jesuit mengajar di universitas ini, yang melayani lebih dari 3.300 mahasiswa dan semuanya warga Palestina. 50% di antaranya tinggal di Yerusalem, dan 20% di antaranya adalah Kristen. Universitas dan komunitasnya sedang menghadapi masa sulit. Ketakutan yang ditimbulkan oleh situasi masa kini bahkan berisiko membahayakan perutusan pendidikan mereka sebagai penjaga harapan untuk masa depan.   Wakil Rektor Br Hernán Santos González FSC, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Br Jack Curran FSC, dan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Br Peter John Iorlano FSC bertemu dengan Pater Sosa dan delegatnya, dan mengadakan percakapan hangat tentang kondisi Universitas setelah dua tahun konflik terbuka. Meskipun jumlah mahasiswa tetap stabil, semakin sulit bagi mahasiswa, dosen, dan staf untuk melewati berbagai pos pemeriksaan dan langkah keamanan yang telah diterapkan sejak meletusnya perang. Jika perjalanan ke kampus memungkinkan, maka pos pemeriksaan dapat mengubah perjalanan pulang pergi harian yang biasanya memakan waktu 30 menit menjadi 5 jam.   Bahkan di tengah tantangan tersebut, Universitas terus berupaya mewujudkan misinya tidak hanya di kampus, tetapi juga melalui nilai-nilai yang ditanamkan pada mahasiswanya melalui kurikulum yang mengintegrasikan keterampilan profesional dengan formasi sosial dan etika. Br Jack membagikan kisah seorang mahasiswa yang menyelesaikan program kedokterannya dan saat ini sedang menempuh program spesialis onkologi sambil tinggal di tenda dan bekerja di rumah sakit yang hancur akibat bom di Gaza. Kisah ini menggema di kalangan alumni Universitas Bethlehem dan menjadi bukti bahwa universitas tidak hanya mentransfer pengetahuan dan keahlian, tetapi juga semangat melayani perutusan tersebut.     Pada akhir pertemuan, para Bruder berbagi cerita lain yang menyoroti urgensi karya ini. Pada masa terburuk perang, Universitas Bethlehem menerima seruan bantuan dari Palestina di Gaza. Yang mereka minta bukanlah makanan, pakaian, atau tempat tinggal. Sebaliknya, yang paling mereka butuhkan dari Universitas Bethlehem adalah pendidikan. Mereka menyadari bahwa pendidikan, sebagaimana pendidikan yang diselenggarakan oleh Universitas Bethlehem, adalah masa depan bagi rakyat mereka.   Tergerak oleh percakapan tersebut, Pater Jenderal bertanya kepada para Bruder apa yang dapat dilakukan oleh Serikat Jesus untuk membantu misi tersebut. Sebagai tanggapan, Bruder Jack menjawab dengan tegas, “Kirimkan lebih banyak Jesuit ke sini.” Karena Universitas Bethlehem merupakan salah satu dari sedikit kontak pastoral langsung yang dimiliki Serikat Jesus dengan rakyat Palestina, sasaran tersebut menggema sebagai panggilan yang mendesak.   Lima ratus tahun yang lalu, pria yang kelak menjadi Santo Ignatius Loyola ditolak keinginannya untuk hidup dan bekerja di Tanah Suci demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar. Dengan lembaga-lembaga seperti Universitas Bethlehem, harapannya keinginan tersebut akan semakin terpenuhi oleh generasi Jesuit di masa depan.   Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel Jesuits in the Holy Land dalam https://www.jesuits.global/2025/12/02/jesuits-in-the-holy-land/ Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat dan Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, pada tanggal 17 Desember 2025.

Jesuit Global

Pertemuan Ignite the Way Usai, Misi Formasi Discernment Dimulai

Setelah 9 hari berkumpul di Salamanca, Spanyol, hampir 100 orang fasilitator proses discernment menutup pertemuan pembuka Ignite the Way pada 3 Desember. Para peserta yang terdiri dari Jesuit, imam diosesan, biarawati, dan awam dari berbagai belahan dunia kini bersiap membawa pulang pengalaman mereka dan menyelenggarakan program formasi di komunitas masing-masing.   “Sembilan hari ini menjadi pengalaman mendalam untuk belajar bersama,” kata Ketua Penyelenggara, Pater John Dardis. “Kami melihat banyak orang dari latar belakang beragam mulai dari Asia, Amerika Latin, Afrika, Eropa, Amerika Utara, hingga Asia Selatan, menemukan kesamaan dalam pendekatan mereka untuk mendampingi proses discernment. Maka pekerjaan sesungguhnya dimulai saat kita semua kembali ke Provinsi, keuskupan, dan organisasi kita untuk membagikan apa yang telah dipelajari.”   Pertemuan tersebut berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu mengidentifikasi unsur-unsur inti untuk pengembangan kurikulum yang dapat disesuaikan dengan konteks budaya berbeda. Peserta membahas studi kasus yang beragam, mulai dari pendampingan orang muda hingga menjadi fasilitator Sinode Keuskupan, dari membantu kongregasi religius mengidentifikasi prioritas masa depan hingga mendampingi komunitas paroki dalam mengambil keputusan penting.   “Yang paling mengesankan bagi saya adalah kerendahan hati dan kemurahan hati,” demikian refleksi peserta Avovome Blessing dari Nigeria. “Kekuatan dan ikatan yang tercipta melalui praktik beberapa unsur discernment bersama memberikan harapan besar untuk masa depan Gereja dalam berbagai konteks dan keragaman.”     Selama tahun 2026, tim regional akan mulai menyelenggarakan program formasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks lokal. Situs web baru, ignitetheway.org akan berfungsi sebagai pusat sumber daya yang menyediakan materi yang dapat digunakan dan disesuaikan oleh tim untuk karya formasi mereka.   “Menarik sekali sebab pendekatannya benar-benar sinodal,” kata Pater Roy Ragas, S.J. dari Filipina. “Kami tidak memaksakan satu model dari pusat. Sebaliknya, kami mengakui keragaman konteks dan dapat berjalan bersama dalam mendiskusikan apa yang dibutuhkan oleh Gereja dan komunitas kami.”   Pater Jenderal Arturo Sosa, yang meluncurkan inisiatif tiga tahun ini, menekankan bahwa inisiatif ini mewakili kontribusi Serikat Jesus dalam perjalanan sinodal Gereja. “Discernment bersama bukanlah teknik yang harus dikuasai,” kata Pater Sosa dalam pesannya kepada para peserta. “Ini adalah praktik spiritual yang membutuhkan formasi hati. Para fasilitator nantinya akan membantu banyak orang untuk belajar mendengarkan satu sama lain dan juga mendengarkan Roh Kudus, di mana kemampuan mendengarkan semacam itu sangat dibutuhkan.”     Menatap ke depan, proyek ini dipersiapkan untuk mengantisipasi pertumbuhan dan perkembangan berkelanjutan. Seiring tim regional mendapat pengalaman sepanjang 2026-2027, pola akan terlihat mengenai di mana kebutuhan spesifik paling mendesak, baik dalam formasi, kerja sama dengan kongregasi religius, atau dukungan bagi lembaga pendidikan dan sosial. Pengalaman ini akan membantu mengarahkan evolusi berkelanjutan inisiatif ini, termasuk kemungkinan identifikasi pusat sumber daya regional yang dapat menjadi tempat formasi lebih mendalam.   Saat ini, fokus tetap pada tugas mendesak, yaitu membekali para fasilitator yang baru saja terhubung ini agar dapat segera memulai perutusan mereka. Setiap peserta meninggalkan Salamanca dengan sumber daya, jaringan, dan yang paling penting, visi bersama untuk mendampingi Gereja dalam perjalanan sinodalnya.   “Kami menanam benih,” kata Selia Paludo dari Brasil yang bekerja di Chile. “Kami tidak tahu persis bagaimana benih-benih ini akan tumbuh di setiap tempat, tetapi kami percaya Roh Kudus akan membawa pertumbuhan.”   Artikel ini merupakan terjemahan dan adaptasi dari artikel “Ignite the Way” Salamanca Meeting Concludes: Regional Teams Ready to Take Formation Forward dalam https://www.jesuits.global/2025/12/03/ignite-the-way-salamanca-meeting-concludes-regional-teams-ready-to-take-formation-forward/   Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat dan Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, pada tanggal 17 Desember 2025.

Provindo

Mengenali Kehendak Roh Kudus

Catatan dari Pertemuan Extended Consult Provindo:   Dalam semangat doa dan discernment bersama, sebanyak 33 Jesuit Provinsi Indonesia berkumpul di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten, pada 15-17 Desember 2025. Pertemuan Extended Consult ini bertujuan mencari bimbingan Roh Kudus untuk mempersiapkan suksesi kepemimpinan, menyongsong pergantian Provinsial Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. pada pertengahan 2026.   Sesuai dengan tradisi lama Serikat, setiap anggota extended consult diperkenankan untuk melakukan discernment pribadi dan bersama, serta mengajukan tiga nama Jesuit yang dianggap layak untuk menjadi provinsial. Proses ini mencerminkan keyakinan Ignatian bahwa kepemimpinan dalam Serikat muncul melalui proses mendengarkan secara cermat terhadap Roh Kudus di dalam tubuh Gereja.     Pada hari pertama, peserta bersama-sama merenungkan tantangan yang dihadapi Serikat di tingkat global, nasional, dan provinsi. Identifikasi tantangan ini membantu mengklarifikasi prioritas perutusan Provinsi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan dan profil pemimpin yang dibutuhkan.   Pater José Magadia, S.J., Asisten Jenderal untuk Asia Pasifik yang mendampingi proses, memimpin Ekaristi pada hari kedua. Dalam homilinya, ia mengutip pidato Paus Leo XIV dalam Pertemuan Para Superior Mayor di Roma (24 Oktober 2025), menyoroti seruan Bapa Suci agar para Jesuit tetap siap sedia bagi perutusan Gereja hingga batas paling tepi. Batas-batas ini bukan hanya bersifat geografis, misalnya di tempat menantang seperti Kalimantan dan Papua, tetapi juga dalam konteks akademik, sosial, budaya, dan spiritual di mana kehadiran Injil sangat dibutuhkan. Menanggapi pesan Paus Leo XIV, Pater Magadia mendorong para Jesuit untuk siap sedia menerima misi-misi baru dan menantang dengan keberanian apostolik dan kepercayaan penuh kepada Allah.     Selama sesi tertutup, setiap kandidat—yang hadir tetapi tidak selama pembicaraan tentang dirinya—diberi penilaian yang jujur dan penuh hormat. Mereka kemudian diundang kembali untuk menyatakan kesediaan. Meski beberapa menyiratkan keraguan, semua menanggapi dengan syukur atas kepercayaan rekan-rekan dan menegaskan kesiapan untuk melayani di mana pun Tuhan, melalui Serikat, menempatkan mereka. Doa bersama pun dipanjatkan, menyerahkan setiap nama kepada bimbingan Roh.   Pada hari terakhir, setelah discernment lanjutan, setiap peserta menyerahkan surat suara tertutup berisi hingga tiga nama. Hasilnya akan ditelaah dalam beberapa hari mendatang sebelum diajukan kepada Pater Jenderal. Diharapkan penunjukan Provinsial baru dapat diumumkan sebelum Pekan Suci 2026.   Dalam kata penutup, Pater Magadia menegaskan bahwa proses discernment Ignatian telah digunakan selama berabad-abad dalam berbagai budaya dan konteks untuk memilih Provinsial. Ia mengucapkan terima kasih kepada Pater Beni dan Pater Melkyor Pando, S.J. sebagai socius atas persiapan dan koordinasi yang cermat dalam pertemuan ini.   Pertemuan extended consult ini ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. yang mengucapkan terima kasih kepada para peserta atas komitmen mereka dan mengundang mereka untuk melanjutkan perutusan Serikat dengan kepercayaan yang diperbarui melalui bimbingan Roh Kudus.     Para peserta merefleksikan proses Extended Consult ini sungguh terasa sebagai sebuah proses diskresi. Pater Socius mempersiapkan doa dan ibadat setiap kali memulai dan menutup sesi. Termasuk setiap kali selesai membicarakan kandidat tertentu, selalu diakhiri dengan doa untuk kandidat tersebut. Extended consult ini juga ditandai dengan refleksi dan doa pribadi. Setiap peserta diajak untuk sungguh-sungguh mendengarkan Roh Kudus, membebaskan diri dari segala bentuk kepentingan pribadi dan atau kelompok dan memikirkan yang terbaik untuk masa depan Provinsi.   Kontributor: Sch. Klaus Heinrich Raditio, S.J.

English

Rest In Peace Father Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J.

On Sunday, December 28, 2025, at 8:43 p.m., Father Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J., passed away at Carolus Hospital, Jakarta, at the age of 71. He was a member of the Apostolic Community of St. Peter Canisius College in Jakarta. Fr. Mudji is a Jesuit who made significant contributions to higher education, particularly as a lecturer in cultural philosophy in postgraduate programs at several universities, including the Driyarkara School of Philosophy, the University of Indonesia, the State University of Jakarta, and the Surakarta Institute of the Arts. Father Mudji was born in Surakarta on August 12, 1954, and was baptized at St. Anthony of Padua Church in Purbayan.   He completed his primary education in Surakarta, followed by junior high and high school at the St. Peter Canisius Seminary, Mertoyudan. He then applied to become a Jesuit and was accepted into the St. Stanislaus Novitiate in Girisonta in 1973. After completing his novitiate formation and making first vows in 1975, Father Mudji continued his studies in philosophy and theology at various institutions, including Driyarkara School of Philosophy, Gregorian Pontifical University, and Wedabhakti Faculty of Theology. After being ordained a priest on December 30, 1982, Fr. Mudji was assigned to Wonogiri as an associate parish priest before continuing his doctoral studies in philosophy at Gregorian University in Rome. Since 1987, he has taught philosophy at STF Driyarkara and is a cultural figure known for writing numerous books and articles on cultural philosophy. He is also often involved in painting exhibitions and comments on cultural issues in the national media.   A requiem mass for Father Mudji will be held on December 29 and 30, 2025, at the Kanisius College Chapel in Jakarta. His body will be transported to Girisonta on the evening of December 30 and buried on December 31, 2025, at the Maria Ratu Damai Cemetery in Girisonta, Central Java. All members of the Province are asked to celebrate the Eucharist for the repose of his soul.

Obituary

Selamat Jalan Pater Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J.

Pada hari Minggu, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB, telah dipanggil Tuhan di Rumah Sakit Carolus, Jakarta:  PATER FRANCISCUS XAVERIUS MUDJI SUTRISNO, S.J.  dalam usia 71 tahun    anggota Komunitas Kolese Santo Petrus Kanisius, Jakarta. Pater Mudji adalah seorang Jesuit yang banyak berkiprah dalam karya pendidikan tinggi, terutama sebagai pengajar filsafat kebudayaan di STF Driyarkara, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, dan Institut Seni Indonesia, Surakarta. Lahir di Surakarta, 12 Agustus 1954, Pater Mudji adalah putera dari pasangan suami-istri Bapak Marcellianus Mudji Tjitroaditenaja dan Ibu Antonia Kasijem Tjitroaditenaja. Ia dibaptis pada 17 Agustus 1954 di Gereja Santo Antonius Padua, Purbayan. Pendidikan dasar ia tempuh di Surakarta (1960-1966) dan kemudian setamat SD, Pater Mudji melanjutkan pendidikan di SMP dan SMA Seminari Santo Petrus Canisius, Mertoyudan (1967-1972).     Tertarik menjadi Jesuit, ia melamar ke Novisiat Santo Stanislaus, Girisonta dan diterima. Ia memulai formasi novisiat pada 5 Januari 1973 dan mengucapkan kaul pertamanya pada 1 Januari 1975. Setelah mengucapkan kaul pertama, ia diminta untuk melanjutkan ke jenjang formasi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta (1975-1976).    Selesai formasi filsafat, Pater Mudji menjalani formasi Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) sebagai sub-moderator sementara di SMA Seminari Mertoyudan dan kemudian ke Universitas Gregoriana untuk studi khusus bidang filsafat (1976-979). Setelah selesai menjalani studi khusus dan Pater Mudji diutus menjalani formasi teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta (1979-1982).     Dalam masa akhir studi teologi ini, Pater Mudji menerima tahbisan diakon pada 30 Oktober 1982 di  Yogyakarta dari tangan Bapak Uskup Justinus Kardinal Darmojuwono dan dua bulan kemudian, 30 Desember 1982, ia menerima tahbisan imam, juga dari tangan Bapak Uskup Justinus Kardinal Darmojuwono, di Gereja Santo Antonius Kotabaru–Stadion Kridosono, Yogyakarta.     Setelah ditahbiskan imam, Pater Mudji ditugasi menjadi Vikaris Parokial Paroki Wonogiri (1982-984) dan kemudian diutus menjalani studi khusus program doktorat filsafat di Universitas Gregoriana, Roma (1984-1987). Mulai tahun 1987, Pater Mudji menjadi pengajar filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Pada periode 15 Mei 1987-15 Februari 1988, Pater Mudji menjalani formasi tersiat di Kolese Stanislaus, Girisonta di bawah bimbingan Pater Ferdinandus Heselaars, S.J. Dua tahun setelah tersiat, tepatnya pada 31 Juli 1989, di hadapan Provinsial Pater J. Darminta, S.J., Pater Mudji mengucapkan kaul akhir sebagai professed di Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta.    Pater Mudji dikenal sebagai imam dan budayawan Indonesia yang telah banyak menulis ragam buku dan artikel, terutama yang bertema filsafat kebudayaan. Ia juga beberapa kali dari tahun 2008-2020 terlibat dalam pameran karya lukisan di Bali, Jakarta, Magelang, dan Yogyakarta. Beliau juga kerap tampil di media-media nasional untuk memberikan pandangannya mengenai budaya dan tema-tema ke-Indonesian-an.   Pater Mudji meninggal karena sakit. Selanjutnya, misa requiem untuk mengantar kepergian Pater Mudji akan diadakan pada:  hari, tanggal : Senin, 29 Desember 2025 dan Selasa, 30 Desember 2025  waktu  : pukul 19.00 WIB  tempat  : Kapel Kolese Kanisius, Jakarta      Jenazah Pater Mudji akan diberangkatkan ke Girisonta pada Selasa malam, 30 Desember 2025, pukul 21.00 WIB. Perayaan Ekaristi sebelum pemakaman akan diadakan pada:  hari, tanggal  : Rabu, 31 Desember 2025   waktu  : pukul 10.00 WIB  tempat  : Gereja St Stanislaus, Girisonta   dan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta.    Seluruh anggota Provinsi dimohon merayakan Ekaristi khusus bagi kedamaian jiwa Pater Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J.  

English

Rest In Peace Father Franciscus Xaverius Arko Sudiono, S.J.

On Friday, December 12, 2025, at 12:00 PM, Father Franciscus Xaverius Arko Sudiono, S.J., passed away at the age of 69 at Wisma Emmaus in Girisonta, Central Java. He was born on July 28, 1956, in Yogyakarta to the late Mr. Saja Wongsorejo and Mrs. Chatarina Raminah Wongsorejo, and spent his childhood there. He completed his basic and secondary education in Yogyakarta. After graduating from Kolese de Britto High School, he pursued further studies at the Minor Seminary of St. Petrus Canisius in Magelang, as he aspired to be a priest.   Fr. Arko began his Jesuit formation on July 15, 1979, at the Novitiate of St. Stanislaus in Girisonta, and two years later, on July 16, 1981, he made his First Vows. He did his philosophical formation at Driyarkara School of Philosophy in Jakarta from 1981 to 1984. After completing his first studies in philosophy, he made his regency formation at Xavier High School in Chuuk, Federated States of Micronesia, from 1984 to 1986. He later completed his second studies in theology at Wedabhakti Pontifical Faculty of Theology in Yogyakarta from 1986 to 1989. He received diaconal ordination on January 25, 1989, and sacerdotal ordination on July 24, 1989.   His service included roles as the parish priest of various parishes, including St. Robertus Bellarminus in Cililitan, St. Yusup in Baturetno, St. Ignatius in Danan, St. Martinus in Weleri, St. Yusup in Gedangan, and St. Antonius in Muntilan, as well as positions in education at Canisius College, Jakarta, and provincial secretarial services in Semarang. As his health deteriorated, in 2021, he was assigned to reside at Wisma Emmaus for health recovery and to be a prayerful member of the Church and the Society of Jesus until his death.   A Requiem Mass was held at St. Stanislaus Kostka Church in Girisonta on Sunday, December 14, 2025, at 10:00 AM, followed by burial at Maria Ratu Damai Cemetery in Girisonta, Bergas, Ungaran. All members of the Province are requested to celebrate a special Eucharist for the peace of Fr. Arko’s soul.