Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

Feature

Evangelisasi Digital: Seruan Kenabian di Tengah Perubahan

Modernitas dunia kita saat ini diwarnai dengan derasnya arus perkembangan teknologi. Dari berbagai pemberitaan di media massa dapat diketahui bahwa hampir setiap bulan selalu muncul berbagai macam alat komunikasi dan transportasi baru yang semakin canggih, seperti smartphone, sosial media berbasis internet, dan kendaraan bermotor. Perkembangan teknologi ini membuat seseorang tidak lagi dibatasi hanya oleh ruang maupun waktu tertentu. Teknologi memudahkan seseorang menggapai kecepatan untuk berada di suatu titik. Orang dapat lebih mudah berada di satu tempat dan waktu tertentu bahkan berada di beberapa tempat berbeda dalam waktu yang bersamaan. Perkembangan teknologi bisa menghubungkan seseorang dengan orang lain atau dengan realitas lain secara mudah. Perkembangan teknologi membantu setiap orang meraih banyak hal dengan lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian perkembangan teknologi memberi dampak pada cara berada yang baru.   Di lain sisi, perkembangan teknologi juga bisa memberikan dampak negatif. Salah satunya adalah peningkatan individualisme dalam diri manusia. Teknologi semakin meningkatkan aksesibilitas seseorang dan pemenuhan kebutuhan dirinya. Hal ini bisa mengakibatkan seseorang menjadi semakin cukup diri lewat bantuan teknologi dan semakin melemahkan kemauan seseorang untuk membagikan dirinya bagi orang lain dalam dunia nyata1 . Dengan demikian aspek komunitas dan perjumpaan fisik sehari-hari juga akan ikut terdampak. Teknologi yang awal mulanya diciptakan untuk mempermudah dan membantu manusia bukan hanya kemudian mengubah suasana dan dunia sekitar manusia saja melainkan juga mengubah pola pikir dan perilaku manusia termasuk juga perilaku sosialnya.   Gereja, modernitas, dan evangelisasi Gereja tidak bisa menutup mata begitu saja dari situasi dan perkembangan dunia tersebut. Gereja mengakui adanya perkembangan teknologi yang sangat cepat di dunia. Perkembangan tersebut telah membawa dampak-dampak bagi cara berpikir, bersikap, dan berada manusia. Dalam dokumen Inter Mirifica, disebutkan bahwa penemuan-penemuan teknologi zaman ini sangat mengagumkan. Gereja menyambut dan mengikutinya dengan perhatian yang istimewa khususnya penemuan-penemuan yang menyangkut jiwa manusia. Penemuan-penemuan ini mampu membuka peluang baru untuk menyalurkan segala macam berita, gagasan, dan pedoman-pedoman serta menggerakkan manusia secara massal2 . Bahkan secara tegas disampaikan oleh Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi bahwa dalam pewartaan Injil, Gereja akan merasa bersalah jika tidak memanfaatkan kemampuan-kemampuan manusiawi yang semakin hari semakin membawa pada kesempurnaan3 .   Dalam pesannya di Hari Komunikasi Sosial Sedunia (28 Februari 2011), Paus Benediktus XVI mengajak setiap orang untuk merefleksikan sekali lagi perubahan budaya yang sangat luas akibat perkembangan teknologi baru. Ada cara belajar dan berpikir baru yang berkembang dengan peluang-peluang yang belum ada sebelumnya mengenai pembentukan relasi dan pembangunan persahabatan antarmanusia. Dengan teknologi baru ini orang semakin mudah untuk bertukar dan berbagi informasi. Hal ini dapat dibaca secara positif sebagai dimensi kesaksian atas rahmat Tuhan yang membantu penemuan makna atas hidup mereka. Akan tetapi, hal ini juga bisa membawa pada risiko lainnya. Setiap orang akan menjadi terlihat oleh siapapun sehingga bisa mengakibatkan kehilangan interioritas, membawa pada kedangkalan relasi dan persahabatan yang keluar dari emosionalitas, dan kelaziman pandangan dari banyak orang yang kemudian dipercaya sebagai suatu kebenaran. Tanpa menolak perkembangan teknologi ini, Paus Benediktus XVI mengajak setiap orang untuk mampu menemukan simbol-simbol dan bahasa baru dalam budaya digital ini untuk menjelaskan makna transendensi dan Yang Transenden4 .   Dalam Surat Apostolik The Rapid Development, Paus Yohanes Paulus II melihat bahwa sangat penting bagi Gereja untuk mengintegrasikan pewartaan pesan keselamatan ke dalam “budaya-budaya baru” yang tercipta di zaman ini5 . Dalam Gereja, pewartaan sejarah keselamatan (evangelisasi) menjadi penting karena inilah satu-satunya cara untuk mengomunikasikan kasih Allah bagi manusia sekaligus mengundang setiap manusia untuk mampu menanggapi tawaran kasih itu. Syukurlah bahwa banyak umat yang dengan kreativitasnya mengusahakan hal itu. Banyak content creator Katolik bermunculan di bermacam sosial media, bahkan tidak sedikit gereja mengoptimalkan tim komsos dan sosial media mereka.    Dalam sebuah laporan penelitian yang dilakukan oleh PEW Research Center pada bulan Juni 2023 yang lalu, disajikan data bahwa di Amerika sebanyak 30% orang dewasa menggunakan sarana daring untuk mencari informasi mengenai agama; 21% menggunakannya untuk membaca Kitab Suci atau kitab suci agama lainnya; 15% mendengarkan podcast tentang agama; 14% membantu mereka untuk mengingatkan agar tetap berdoa. Survei ini diadakan pada sebelas ribu orang dewasa di sana sekitar bulan November 20226 . Data ini sebenarnya menunjukkan juga bahwa dunia digital membantu orang untuk tetap terhubung dengan lembaga keagamaan selain menjadi sarana untuk tetap terkoneksi dengan kerabat, teman, atau kolega, khususnya sepanjang pandemi Covid 19. Dunia digital menjadi salah satu sarana penting di zaman ini untuk menggapai realitas dan meningkatkan pemahaman iman mereka. Penulis meyakini bahwa fenomena serupa pasti terjadi di Indonesia. Tidak sedikit anggota Gereja di Indonesia yang akan mencari informasi dan berusaha untuk meningkatkan pemahaman keimanan mereka melalui media digital.   Sejauh penangkapan penulis, di Indonesia memang belum tersedia penelitian yang lebih dalam mengenai dampak dunia digital, khususnya internet dan sosial media, bagi cara beriman dan menggereja. Hal ini tentu menjadi sebuah peluang sekaligus pekerjaan rumah yang besar bagi Gereja Indonesia. Bukan hanya agar tidak ketinggalan zaman tetapi yang lebih penting adalah agar pesan keselamatan tetap relevan bagi orang pada zamannya. Dari sejarah keselamatan umat Allah yang tertuang dalam pengalaman bangsa Israel hingga sekarang, kita tahu bahwa pesan keselamatan Allah masih perlu terus digaungkan di setiap zamannya, bukan karena pesan tersebut sulit untuk ditangkap tetapi karena pertama-tama ada banyak tantangan dan merebaknya budaya kematian di setiap zamannya.   Kegelisahan dan usulan tanggapan Di zaman perkembangan teknologi saat ini beberapa pihak mulai gelisah dan khawatir dengan berbagai dampak dari berbagai macam peralatan digital. Salah satu kekhawatiran atau kegelisahan terbesar adalah digantikannya sesuatu yang sakral, perhatian akan Allah, dan peran dari lembaga keagamaan oleh isi dan informasi yang ditawarkan di dalam gawai dan teknologi digital. Akan tetapi, masih ada satu hal yang sering luput meski sangat mendasar, yaitu mengenai otentisitas dampak yang dihasilkan oleh berbagai macam peralatan digital. Bagaimanapun kecanggihan peralatan digital yang dihasilkan, termasuk dengan adanya kecerdasan buatan, tidak pernah bisa menjawab otoritas atau otentisitas tindakan atau dampak mereka sendiri7 . Kecanggihan peralatan digital tidak akan pernah bisa dilepaskan dari pihak-pihak yang menciptakan berbagai logika yang ditanamkan dan menjadi cara kerja peralatan digital tersebut. Semakin banyak kondisi yang ditanam maka akan memberikan variasi jawaban yang semakin banyak. Hal ini sangat rentan dengan penyalahgunaan bahkan kekurangan. Oleh karena itu,

Feature

Katolik itu Fun!

@majuskatolik adalah salah satu akun Katolik di Instagram yang dimulai sejak April 2023. MAJUS sebenarnya akronim dari nama dari MAteo JUbileo Singgih, inisiator dari akun @majuskatolik. Mateo Jubileo Singgih atau biasa dipanggil Mateo, sebelumnya sering membuat konten mengenai budaya dan tempat-tempat di Indonesia melalui akun @majusberkarya sejak tahun 2022. Dalam proses pembuatan konten untuk @majusberkarya, dia mengunjungi beberapa tempat ziarah Katolik yang sungguh menarik untuk dibahas, seperti patung Yesus di Toraja, patung Tuhan Yesus di Timor Leste, dan tangga St. Yusuf di Amerika. Beberapa konten video tersebut menjadi viral dan secara tidak langsung malah membuka pikirannya untuk lebih fokus membuat konten khusus Katolik. Mateo merasa banyak hal yang bisa dibahas dan didiskusikan mengenai kekatolikan dalam kemasan yang lebih ringan, seru, danorang muda banget. Karena selama ini orang muda melihat bahwa pembahasan mengenai Katolik begitu serius dan struktural. Oleh karena itu konten @majuskatolik berusaha dibuat lebih menarik, singkat, padat, namun informatif.   Awal membuat konten @majusberkarya, Mateo terinspirasi dari konten kreator Nas Daily. Nas Daily adalah sebuah akun di platform media sosial Instagram yang dibuat oleh Nuseir Yassin, seorang Israel pada tahun 2016. Konten yang dibuat berupa video pendek yang bertujuan menginspirasi dan memberikan informasi mengenai berbagai topik dan pengalaman kehidupan sehari-hari di berbagai negara. Konten Nas Daily yang menarik ini menginspirasi Mateo untuk membuat konten-konten video tempat-tempat ziarah yang dikunjungi bersama dengan keluarganya. Awalnya dia tidak tertarik mengenai hal-hal seputar rohani. Sejalan dengan waktu karena perjumpaan dengan komunitas dan teman-teman baru, hidupnya berubah dan imannya pun semakin bertumbuh. Sebagai ungkapan syukurnya, Mateo menggunakan talenta yang dimilikinya untuk membuat akun @majuskatolik. Dari sini Mateo belajar untuk semakin dekat dengan Tuhan melalui cara dan sesuatu yang sederhana. Dia juga ingin membagikan kepada followers-nya bahwa Katolik tidak seserius yang dibayangkan.   Akun @majuskatolik ini dikelola Mateo bersama dengan tiga temannya, yaitu Rara, Andrea, dan Sixtus. Konten-konten yang dibahas dalam akun ini mengenai tempat ziarah, gereja, taman doa, budaya gereja, dan fakta tentang Katolik yang unik. Terkadang juga berbagi pengalaman seperti ikut serta dalam acara World Youth Day (WYD) 2023 di Portugal. Ketika mengikuti WYD 2023 banyak tempat ziarah dan gereja dengan sejarah yang menarik untuk dibahas karena Eropa merupakan pusat perkembangan Katolik. Mereka ingin berbagi pengalaman mengunjungi tempat ziarah dan gereja kepada followers yang mungkin bisa menjadi destinasi impian mereka atau masuk ke bucket list mereka. Dalam setahun membuat konten, akun ini mengalami perkembangan yang begitu cepat hingga mencapai 50.000 followers. Banyak orang muda yang mengikuti dan tak sedikit pula orang tua yang juga menyukai kontennya. Tak jarang mereka juga memberikan rekomendasi destinasi tempat ziarah, gereja atau taman doa agar dikunjungi oleh tim @majuskatolik.   Mengelola akun @majuskatolik bukanlah sesuatu yang mudah, pasang surut dialami. Namun tetap bersyukur karena memiliki tim yang sekarang totalnya berjumlah 7 orang dan bisa diandalkan. Hampir semua anggota tim @majusberkarya masih kuliah sehingga belum bisa berkomitmen 100%. Beban kerja tetap mampu ditangani dengan saling berkomunikasi dan mem-backup satu sama lain agar konten tetap konsisten. Para anggota tim ini melakukannya dengan penuh pelayanan, sukarela, saling menguatkan, dan mendukung. Dari awal membuat konten hingga berkembang sampai sekarang, salah satu rahmat yang disyukuri adalah bisa mengajak beberapa orang muda yang awalnya followers untuk menjadi tim.     Salah satu tantangan yang dihadapi adalah menghadapi komentar negatif dari para netizen, terutama karena membahas mengenai agama. Meskipun demikian ada juga banyak komentar orang-orang Katolik yang senang dengan konten yang diberikan. Bahkan mereka mengucapkan terima kasih. Beberapa OMK atau bahkan pastor paroki gereja yang dibahas dalam akun @majuskatolik terkadang ikut bangga dan senang.   Tim @majuskatolik juga merasa senang karena mendapatkan konten menarik dan gereja atau tempat ziarah semakin dikenal luas. Selain itu, tantangan dalam membuat konten gereja atau tempat ziarah di suatu daerah adalah dana untuk transportasi dan akomodasi ke lokasi. Karena pada dasarnya akun ini tidak berfokus untuk mendapatkan profit atau penghasilan, dana yang digunakan terbatas. Harapannya, setelah ini ada sponsor atau donasi sehingga mereka bisa mengunjungi lebih banyak gereja kecil atau kuno untuk mengangkat dan memberikan nilai tambah untuk gereja ini.   Dari pengalaman ini, Mateo dan tim belajar jika akun ini ingin lebih berkembang dan kuat, perlu adanya komunitas. Ada mimpi besar untuk menjadikan akun ini sebagai sarana kolaborasi dengan followers, berbagi pendapat, tempat sharing, bahkan menjadi tempat berbagi cerita yang mengubah hidup, bisa menjadi inspirasi bagi orang muda lainnya, dan menjadi komunitas untuk mendalami iman katolik dengan cara yang lebih seru dan ringan. Menurut Mateo, orang muda penting memiliki komunitas yang saling merangkul, menerima, dan bertumbuh bersama agar iman semakin berkembang sebab memang ada keprihatinan terkait pertumbuhan iman orang muda. Berdasarkan pengalamannya, kegiatan lingkungan atau pendalaman alkitab hanya dihadiri oleh orang-orang yang sudah tua serta menggunakan bahasa yang kurang sesuai dengan anak muda sehingga mereka menjadi mager untuk mengikuti kegiatan ini. Berawal dari komunitas pula, ia dan teman-temannya memiliki ide untuk membuat @majuskatolik, memulai dengan hal-hal kecil seperti membuat konten mengenai tempat ziarah yang ternyata berdampak bagi banyak orang.   Dalam perjalanan Mateo membuat konten @majuskatolik, pengalaman yang mengena di hati adalah ketika mengikuti World Youth Day 2023 di Portugal. Karena terbiasa berada di lingkungan orang muda Indonesia, ia kaku ketika bertemu dengan teman-teman dari seluruh dunia. Hal ini memberi energi yang berbeda serta membuka pikirannya. Mereka sangat merangkul dan saling mendukung satu sama lain selama WYD berlangsung. Banyak komunitas orang muda Katolik yang tidak ada di Indonesia namun banyak di luar negeri. Dari pengalaman ini, ia menjadi tahu bahwa orang muda Katolik bisa diajak berkolaborasi bersama. Bahkan, dari sini dia berkenalan dengan beberapa konten kreator akun Katolik dari Indonesia seperti @saintpedia. Hal ini mengubah perspektifnya. Ternyata banyak orang muda Katolik yang peduli dan mau membuat konten-konten tentang kekatolikkan secara lebih menarik dan ringan. Pengalamannya berdinamika dengan orang muda katolik, baik di Indonesia maupun luar negeri, membawanya pada sebuah pesan agar orang muda jangan lupa bersyukur. Terkadang sebagai orang muda kita merasa hidup oke, financial freedom karena hasil kerja keras sendiri, merasa tidak puas dengan apa yang didapat saat ini. Padahal, di balik semua kemudahan dan berkat, ada Tuhan yang mendukung kita. Kita sebagai orang muda selalu ingat untuk

Feature

Tidak Perlu Menunggu Sempurna untuk Mulai Melayani

Perkenalkan, nama saya Cliff, salah satu dari admin dan pendiri SaintPedia. Izinkan saya berbagi cerita tentang akun SaintPedia beserta timnya berdasarkan sudut pandang saya dan Hendy, rekan diskusi yang membantu penulisan ini. Mungkin teman-teman yang lain akan menyampaikannya dengan cara yang mirip atau bahkan sangat berbeda. Namun, semoga apa yang saya dan Hendy sampaikan cukup mewakili apa yang hendak disampaikan oleh mereka.   SaintPedia awalnya berasal dari inisiatif dan kerinduan dua admin pertama yakni Reynald dari Semarang dan Alvino dari Padang yang terhubung di sosial media tanpa sengaja, atau mungkin lebih tepatnya, dari penyelenggaraan Ilahi. Keduanya sama-sama berminat akan devosi kepada para kudus dan memiliki beberapa relikwi. Saya kurang tahu bagaimana tepatnya mereka bisa tiba pada obrolan mengenai relikwi, tapi yang pasti mereka sepakat bahwa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia relikwi yang telah mereka terima, mereka hendak membuat suatu akun Katolik di Instagram guna memperluas informasi mengenai devosi-devosi kepada para kudus dan sarana-sarananya. Tidak lama dari pembahasan itu, saya yang berada di Jakarta dihubungi oleh Reynald yang baru saja saya kenal, juga lewat sosial media. Dari sanalah kami membahas dengan lebih serius hingga pada 8 September 2020 kami mulai launching akun dengan nama SaintPedia beserta konten pertamanya, yakni katekese dasar mengenai penghormatan pada para kudus dan relikwi. Orang kudus pelindung kami adalah Beato Carlo Acutis, mengingat beliau sendiri dianggap sebagai perintis dari katekese berbasis daring. Sosok beliau tampak pada logo kami yang didesain oleh Reynald dan Josephine. Ketika tim awal mulai terbentuk, kami juga ingin memastikan bahwa akun kami akan selalu sejalan dengan ajaran Gereja. Oleh karena itu, kami meminta kesediaan RP. Antonius Hermanto, CDD untuk menjadi imam pembimbing sekaligus yang memastikan tulisan-tulisan kami tidak “nyeleneh” atau bertentangan dengan ajaran Gereja.   Lewat bantuan dan kolaborasi dari rekan-rekan akun Katolik lainnya akun kami berkembang. Kami merekrut beberapa tim tambahan dari teman-teman dan followers yang kami rasa dapat membantu kami. Perlahan, jumlah kami bertambah menjadi sepuluh orang, termasuk romo, dengan kontribusi yang berbeda-beda. Xenia membantu kami sebagai admin, Thomas membantu sebagai MC jika kami mesti melakukan live-streaming, Josephine membantu Reynald dalam proses pengeditan Canva, Hendy, Nilsen, Alvino, dan Michael membantu saya dan Reynald dalam proses penulisan artikel. Kami tidak membagi rata sejak awal peran masing-masing. Kami sepakat bahwa semua akan memberi bantuan sesuai kesanggupannya. Grup WhatsApp kami juga tidak pernah kekurangan pembahasan setiap harinya sejak awal, kecuali jika semuanya sedang sibuk dengan kewajiban masing-masing.   Saat ini, saya rasa tim SaintPedia sudah melangkah cukup jauh dari titik awalnya. Peziarahan bersama kami telah memberikan kesempatan untuk melakukan pewartaan, baik sebagai tim maupun secara individu. Beberapa kali kami menerima undangan untuk berkolaborasi dengan akun-akun katekese lainnya, akun-akun Orang Muda Katolik, akun-akun tarekat, dan lain-lain. SaintPedia juga sudah diajak untuk membawakan materi, baik di paroki maupun komunitas-komunitas. Kesempatan untuk memperluas bentuk pelayanan kami, dari hanya upload konten menjadi interaksi dengan dialog secara langsung, baik secara daring maupun luring, menjadi berkat tersendiri. Pada momen-momen seperti ini, kami diteguhkan karena menyadari bahwa kami berbicara kepada sesama saudara dalam Kristus, bukan sebatas username pada akun media sosial.     Jika kami membuka kolom komentar atau DM, kami menemukan bahwa ada juga dari antara followers yang merindukan suatu bentuk interaksi yang lebih manusiawi. Tidak sedikit yang mengambil kesempatan untuk terhubung dengan kami, baik dengan memulai diskusi maupun sekadar sambat kepada admin yang sedang membuka akun. Kami merasa terhormat jika ada di antara mereka yang merasa terbantu lewat dialog yang terjadi sehingga mengalami pertumbuhan iman dan devosinya atau dapat menemukan seorang pendengar pada kami untuk keluh kesah mereka. Kami juga merasa senang atas apresiasi-apresiasi yang sering diungkapkan oleh para followers. Sekadar “Terima kasih, Min!” sudah cukup menyemangati kami. Tentunya, semua ini kami hayati sebagai berkat yang kami terima dari Allah.   Hal lain yang tidak kalah menyenangkan adalah ketika kami berjumpa secara langsung. Meskipun anggota kami akhirnya selain Reynald, Alvino, dan Josephine berasal dari Jakarta, tetapi kebanyakan dari kami memiliki jadwal yang sangat padat. Momen-momen tertentu seperti ketika Reynald yang di Semarang atau Romo Hermanto dari Malang sedang datang ke Jakarta menjadi ajang bagi kami untuk menyempatkan diri bertemu. Reynald sendiri juga biasanya akan menyambut kami jika kami sedang berada di Semarang untuk berziarah bersama. Begitu juga dengan Romo Hermanto. Tambah menyenangkan lagi jika sedang ada event di mana kami bertemu langsung dengan rekan-rekan admin atau tim dari akun Katolik lain. Disaat-saat seperti inilah kebersamaan kami sebagai satu komunitas paling terasa.   Tentu ada saat-saat di mana semangat kami menjadi kendor. Sebagai mahasiswa dan orang muda yang baru memulai karier, kami harus pintar-pintar mengatur waktu. Ada saat di mana beberapa di antara kami terasa ‘menghilang’ karena memiliki kesibukan yang berbeda dengan anggota yang lain. Hal ini terasa menyedihkan, terlebih ketika mengingat waktu saat semuanya masih memiliki waktu senggang yang sama, sehingga terasa lebih ramai. Misalnya, dulu kami akan rutin mengadakan misa daring komunitas, tetapi semenjak pandemi berakhir sudah tidak lagi. Adanya perbedaan waktu senggang ini juga kadang menyebabkan perasaan sedih karena ada kalanya merasa kurang berkontribusi dibanding rekan-rekan yang lain. Ada kalanya juga malah perasaan yang muncul adalah kecewa dengan diri sendiri karena merasa kurang banyak berkontribusi. Meskipun demikian, kami tahu bahwa apa yang kami upayakan adalah sesuatu yang baik sehingga selalu worth it untuk memperjuangkannya.   Ada juga saat-saat di mana umat dan bahkan kalangan klerus yang meragukan atau meremehkan upaya kami. Terkadang ada pihak yang meragukan konten katekese yang kami berikan karena kami awam dan muda. Tentu secara manusiawi kami dapat saja merasa tersinggung. Namun, dalam refleksi bersama, kami menyadari bahwa hal ini merupakan tantangan bagi kami untuk menyikapi bentuk pelayanan ini lebih serius. Kami berupaya untuk memperlengkapi diri kami semaksimal mungkin agar cukup siap untuk melakukan tugas katekese ini, selain selalu memeriksakan draft konten kami kepada Romo Hermanto. Misalnya, beberapa dari kami mengambil kursus-kursus katekese dan saya sendiri mengambil kursus khusus hagiografi (riwayat hidup orang-orang suci). Sebagai pelengkap, kami juga mengambil kelas-kelas cara penulisan, pembuatan konten, dan sejenisnya. Kami berusaha untuk dapat menyajikan katekese dengan baik dan akurat.   Untuk ke depannya, kami berharap dapat terus melayani dengan cara yang sama. Rasanya, dinamika kami, sekalipun tidak sempurna,

Feature

Dunia Digital dalam Masyarakat

1. Dunia digital dan dampaknya bagi penggunaan media digital bagi masyarakat Kini zamannya media, disebut era komunikasi mandiri massal. Media menjadi penting sebagai sarana utama membangun identitas dan berbagi narasi secara online. Pada gilirannya hubungan yang dimediasi ini terwujud dalam kehidupan offline sehari-hari (McQuail & Deuze, 2020). Tanda-tandanya, makin lama makin banyak orang, tapi tidak semua, menggunakan cellphone (HP). Kita mudah menjumpainya, di keramaian, kampus, sekolah, gereja, juga di jalanan.   Itulah sedikit gambaran tentang dunia digital. Para pengguna bertukar pesan atau informasi dengan memakai perangkat digital yang tersambung internet. Berkat internet, pertukaran informasi tak hanya terjadi antarkota, tapi antarnegara. Tanpa batas. Dunia digital juga dikenal sebagai era informasi (information age). Sebuah era masa kini di mana kehidupan kita semakin dikelilingi lebih banyak perangkat digital ketimbang generasi sebelumnya. Keadaan yang membuat kita terhubung dengan dunia yang penuh dengan gagasan, pembelajaran, dan peluang-peluang (dictionary.cambridge.org).   Keberlimpahan informasi membuat seseorang memiliki banyak pilihan, meskipun sebaliknya bisa mengakibatkan kebingungan. Hidup terasa lebih mudah dan nyaman. Media sosial menghubungkannya. Ingin membaca buku, koran, menonton film, video, podcast, pesan makanan, membeli barang, atau curhat dengan teman yang jauh di seberang lautan hingga seberang negara, semuanya terkoneksi.   Dunia virtual memiliki dampak. Banyak dampak yang positif, namun ada juga yang merugikan terhadap individu, kelompok, dan organisasi. Juga dalam berbagai bidang, antara lain pendidikan, politik, ekonomi, dan agama. Dampak positif sekaligus negatif di bidang pendidikan terekam nyata saat pandemi Covid-19 dan setelahnya. Pembatasan di mana-mana. Orang sulit atau bahkan tidak bisa berpindah tempat atau beranjak dari rumah ke pasar, ke toko, apalagi ke luar kota. Media digital menjadi penolong, menerobos jarak dan hambatan tersebut. Pekerjaan kantor, kampus, dan sekolah tatap muka diganti daring. Dosen, mahasiswa, dan siswa tetap berada di rumah, di kos, dan malahan sambil mengerjakan aktivitas lain. Kerugiannya, konsentrasi atau fokus siswa dan mahasiswa terganggu oleh kondisi di sekitar, teman kos, saudara, tamu, termasuk gangguan suara. Dosen ngomong sendiri karena mahasiswa tak ada di layar dengan alasan jaringan terganggu.   Dampak buruk lanjutannya, murid SD makin akrab dengan telepon seluler dan membuatnya nyaris tak terpisahkan. Waktu bermain game lebih banyak ketimbang waktu belajar, apalagi bila tidak didampingi orang dewasa. Situasi ini juga terjadi di kalangan mahasiswa. Sebelum Covid, mahasiswa cukup berdisiplin tidak menggunakan HP di ruang kuliah. Tapi saat ini hampir tak ada mahasiswa yang mau melepaskan gawainya di kelas. Mereka menunduk, sibuk berkomunikasi dengan dunia di luar kelas.   Dampak lanjutannya terus berlangsung. Pertemuan tatap muka di kelas makin tak bernilai karena dianggap bisa digantikan pertemuan dalam jaringan. Laporan UNESCO tentang Pemantauan Pendidikan Global 2023 bertajuk Technology in education – A tool on whose term? mengatakan pentingnya belajar hidup, dengan teknologi digital maupun tanpanya. Namun diingatkan untuk mengambil yang diperlukan dari informasi yang berlimpah, mengabaikan yang tidak dibutuhkan, membiarkan teknologi mendukung, namun tidak menggantikannya. Hubungan antarmanusia tetap menjadi dasar pengajaran dan pembelajaran. Fokusnya harus pada hasil pembelajaran bukan masukan digital. Laporan juga mengingatkan bahwa untuk meningkatkan pembelajaran, teknologi digital tidak boleh menjadi pengganti melainkan pelengkap interaksi tatap muka dengan guru.   Dalam konteks Indonesia, dampak buruk di dunia pendidikan maupun sosial kemasyarakatan telah berjangkit sejak media digital masuk ke negeri kita melalui aplikasi media sosial yang semula terbatas untuk kelompok kecil lalu berkembang untuk jumlah besar. Aplikasi media sosial yang membatasi jumlah huruf atau karakter memaksa pengguna menghemat kata dan kalimat, melahirkan berbagai singkatan yang tidak wajar. Lebih buruk dari itu adalah pemakaian kata dan kalimat tidak baku. Kebiasaan sementara yang terus berulang dari waktu ke waktu membentuk kebiasaan permanen. Menulis dengan buruk, lalu membawanya ke forum resmi di lembaga pendidikan. Tulisan anak sekolah, makalah mahasiswa, artikel jurnal para dosen, hingga komunikasi tulisan di kantor pemerintah, lembaga bisnis, dan masyarakat luas tersusun dengan kacau.   Komitmen sebagai orang terpelajar maupun warga negara untuk menulis secara baku mengikuti kaidah bahasa Indonesia semakin merosot. Jumlah orang yang mengabaikan bahasa tulis standar ini semakin bertambah. Sebagai warga negara, mereka melanggar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Sungguh memprihatinkan karena penyikapan atas pengabaian penghormatan kepada bahasa nasional amat minim atau hampir tidak ada. Semestinya, Bahasa Indonesia yang baku merupakan Bahasa Indonesia yang digunakan orang-orang terdidik serta dipakai sebagai tolak ukur penggunaan bahasa yang benar. Di dalam ragam yang standar ini terdapat sifat kemantapan dinamis dan ciri kecendekiaan. Bahasa selalu mengikuti aturan yang permanen, tetapi terbuka menerima perubahan yang bersistem. Ciri ragam ini dapat dilihat dari kemampuannya untuk mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan (Aminah dkk dalam Devianty, 2021).   2.Situasi dan kondisi komunikasi digital saat ini, khususnya di Indonesia  Dalam pergaulan global, negara kita menduduki posisi keempat terbesar di dunia sebagai pengguna internet setelah China, India, dan Amerika Serikat. Posisi ini membutuhkan sejumlah prasyarat, seperti mengatasi kesenjangan, menjaga keamanan dan kemerdekaan berinternet, dan mengembangkan perekonomian digital.   Merujuk Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), terdapat 221.563.479 pengguna internet dari total populasi 278.696.200 orang dengan penetrasi sebesar 79,5% (apjii.or.id, 7 Februari 2024). Urutan penetrasi tertinggi berada di Jawa (83,64%), kemudian Kalimantan (77,42%), Sumatera (77,34), Bali dan Nusa Tenggara (71,80%), Maluku dan Papua (69,91%), terlemah di Sulawesi (68,35%) (katadata.co.id). Keadaan ini menggambarkan kesenjangan digital. Bagi Afzal dan kawan-kawan (2023), kesenjangan digital (digital divide) menyoroti kesenjangan antara kelompok terpelajar dan tidak berpendidikan. Perbedaan kepemilikan komputer, akses teknologi informasi, dan metrik dasar konektivitas internet yang menjelaskan stratifikasi sosial di tingkat nasional maupun internasional. Maka kesenjangan digital harus diselidiki. Kesenjangan di negeri kita menggambarkan ketidaksetaraan gender karena perempuan memiliki waktu lebih lebih sedikit dalam menggunakan gawai lantaran bertumpuknya pekerjaan.   Kegairahan bermedia sosial (medsos) warga terutama melalui WhatsApp, sebagai aplikasi paling disukai (90,9%), disusul Instagram (85,3%), Facebook (81,6%), TikTok (73,5%), Telegram (61,3%), X atau Twitter (57,5%), Facebook Messenger (47,9%), Pinterest (34,2%), Kuaishou (32,4%), dan Linkedl (25%) seyogianya dibekali dengan keterampilan literasi media. Dalam peristiwa besar pandemi Covid-19 atau pemilihan umum, para ahli dan praktisi komunikasi mendorong masyarakat membekali diri dengan literasi media agar tidak terjerumus ke dalam berbagai kerugian. Literasi digital menjadi aspek krusial saat menghadapi infodemik. Ia mencakup kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijaksana dari berbagai sumber online (Birowo, 2023).

Karya Pendidikan

Jendela Toleransi: Bakti Sosial PIKA ke Pondok Pesantren

Pada hari Rabu, 27 Maret 2024, kami para Pengurus ORSIKA (OSIS SMK PIKA) mewakili sekolah melakukan kegiatan bakti sosial. Kami mengunjungi lokasi yang terdampak banjir di area Demak dengan didampingi oleh Staf Kesiswaan yaitu Pak Divo dan Frater Septian. Lokasi yang akan kami jadikan kegiatan aksi bakti sosial adalah di Pondok Pesantren Roudlotus Sholihin, Jl. KH. Noer, Loireng, Kecamatan Sayung, Demak.   Dalam kegiatan Bakti Sosial ini, kami membawa beras, gula pasir, mie instan, dan sejumlah uang yang diserahkan kepada pengurus Pondok Pesantren Roudlotus Sholihin. Barang-barang tersebut merupakan hasil kegiatan Aksi Puasa Pembangunan di sekolah setiap hari Rabu selama masa Prapaskah.   Sesampainya di Pondok, kami disambut oleh Frater Wahyu, S.J. dan Gus Khodir. Gus Khodir merupakan kyai/guru penanggung jawab pondok. Frater Wahyu tinggal di pondok selama dua tahun. Saat ini ia sedang menjalankan tugas perutusan di pondok pesantren tersebut dalam rangka mendalami dialog lintas agama. Frater Wahyu juga menjadi guru di SMP Roudlotus Sholihin. Di sana kami mendapatkan cerita-cerita menarik tentang kehidupan para santri pondok.     Salah satu cerita yang menarik bagi kami pada saat itu adalah saat Gus Khodir berbagi cerita mengenai radikalisme di lingkungan sekitar dan toleransi terhadap sesama. Misi yang mereka sedang jalankan adalah menjunjung tinggi toleransi dan mengurangi sikap radikal terhadap agama lain. Gus Khodir pun memberi pembelajaran kepada para santrinya tentang toleransi. Beliau mengajak para santri untuk membuka hati dan mau menerima orang walaupun berbeda agama. Apalagi di sekitar kita masih banyak remaja dan orang tua yang masih bersikap ‘radikal’ terhadap agama lain dan mereka ini juga memiliki paham-paham tersendiri. Cara yang mereka lakukan ialah mengunjungi tempat ibadah agama lain seperti pura, wihara, gereja Kristen, dan gereja Katolik. Bahkan dengan agama lokal pun mereka sering melakukan sharing antaragama.   Namun, di balik kerukunan itu, mereka juga merasakan adanya gejala radikalisme yang mencoba merayap di tengah-tengah masyarakat. Pesan-pesan yang bertujuan untuk memecah belah, menghasut, dan menciptakan konflik seringkali tersebar dengan cepat, terutama di era digital ini. Ketika radikalisme merasuki bahkan tempat yang seharusnya dianggap sebagai oase kedamaian seperti pesantren, kesadaran akan urgensi toleransi semakin menonjol. Aksi bakti sosial di pesantren mengajarkan kepada kami bahwa kegiatan sosial bukan hanya tentang memberi bantuan materi, tetapi juga membangun hubungan yang kokoh antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Dalam menghadapi maraknya radikalisme, kita perlu bersama-sama menyadari bahwa pendekatan pendidikan, dialog, dan kolaborasi adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang inklusif dan berbudaya damai.   Pengalaman ini telah mengingatkan kami bahwa kegiatan bakti sosial bukan hanya sekadar memberi tetapi juga belajar dan membawa perubahan. Dalam melangkah maju, mari kita terus menjadi agen-agen perdamaian yang gigih, membawa terang di tengah gelapnya kebencian, dan meneguhkan komitmen kita untuk menjaga keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.   Kontributor: Rayyan dan Ansel – PIKA 51

Pelayanan Gereja

VISUALISASI JALAN SALIB HIDUP 2024: [sudah selesai]

Di kayu salib, sebelum Ia menghembuskan nafas terakhir-Nya berserah dan berkata, “Sudah selesai.”   Apakah ini berarti kekalahan? Apakah Yesus kalah karena pada akhirnya Ia menyerahkan diri untuk di salib dan menebus dosa kita?   Sebaliknya, kalimat ini bermakna Yesus telah menang!   Ia menang atas besarnya kasih yang diberikan bagi umat manusia dan ketaatan-Nya kepada Bapa hingga akhir hidup-Nya. Sesungguhnya inilah kasih yang taat sampai mati.   Kita pun memanggul salib kehidupan kita masing-masing, yang seringkali wujudnya tidak nampak. Namun, apakah kita siap memenangkan diri kita atas hal-hal dan perbuatan baik?   -terinspirasi dari homili Pater Dodo, S.J.   Visualisasi Jalan Salib Hidup | 29 Maret 2024 | 10.00 WIB | OMK Paroki St. Yusup Gedangan | Halaman Bintang Laut – TK Theresia – SD Marsudirini – Susteran OSF                 Kontributor: Gedangan Muda

Pelayanan Gereja

Visualisasi Jalan Salib dan Pesan Kemanusiaan di Gereja Bongsari: ENGKAU IKUTLAH DENGAN-KU

Gereja Bongsari, yang berada di bawah penggembalaan Serikat Jesus, terus mengekspresikan keberanian dan inovasinya dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang mendalam dan relevan. Salah satu ekspresi dari semangat ini adalah melalui visualisasi jalan salib yang dipersembahkan oleh orang muda Katolik. Visualisasi ini bukan hanya sebuah sarana keagamaan tetapi juga menjadi sebuah medium untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan realitas sosial dan spiritual di sekitar kita.   Dengan tema Paskah yang menggugah hati, Engkau Ikutlah dengan-Ku, jalan salib dipentaskan oleh lebih dari 60 orang muda Katolik (OMK) di Gereja Bongsari. Ini tidak hanya sekadar pertunjukan visual. Jalan salib ini mencerminkan semangat kebangkitan dan harapan yang terus dinyalakan dalam iman Katolik. Teman-teman muda tidak hanya menghadirkan visualisasi yang memukau tetapi juga menyampaikan pesan-pesan yang mengajak untuk bertindak lebih empatik, mengatasi ketidakpedulian, dan meningkatkan kepedulian antarsesama.   Visualisasi jalan salib ini bukanlah semata-mata untuk dinikmati secara estetis. Di balik setiap gerakan dan simbol, terdapat pesan yang dalam tentang pentingnya kemanusiaan dan empati dalam kehidupan sehari-hari. Orang Muda Katolik yang menjadi bagian dari visualisasi ini bukan hanya sebagai aktor, melainkan juga sebagai pembawa pesan tentang bagaimana menghadapi tantangan ketidakpedulian dan kurangnya kepedulian antarsesama di lingkungan sekitar.     Dalam konteks ini, visualisasi jalan salib di Gereja Bongsari tidak hanya menjadi ekspresi keagamaan, melainkan juga refleksi komitmen Gereja dalam memperkuat iman dan memancarkan dampak positif bagi masyarakat. Pesan yang disampaikan melalui visualisasi ini mengajak umat Katolik untuk mengikuti jejak Kristus dalam tindakan nyata, khususnya dalam hal empati, mengatasi ketidakpedulian, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.   Melalui tema Engkau Ikutlah dengan-Ku, Gereja Bongsari membangun panggung untuk mengajak para umat bertindak lebih aktif dalam menyebarkan kasih dan keadilan di dunia ini. Pesan kebangkitan dan harapan yang disampaikan melalui visualisasi jalan salib ini menjadi inspirasi dan panggilan setiap individu untuk berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih baik, yang dipenuhi dengan tindakan-tindakan empatik, dan kepedulian yang berkelanjutan. Dengan demikian, visualisasi jalan salib di Gereja Bongsari bukan hanya menjadi pertunjukan keagamaan, tetapi juga menjadi perwujudan nyata nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sesama yang menjadi inti ajaran Kristiani.   Kontributor: Bonaventura Satria Hagi Putra – OMK Bongsari

Kuria Roma

KITA TIDAK BISA TINGGAL DIAM

Perang di Gaza telah berlangsung selama hampir enam bulan dan dentuman meriam serta desingan peluru belum berhenti. Kita para Jesuit, sebagaimana banyak umat Katolik, perempuan dan laki-laki dari semua agama, dan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan, menolak untuk diam. Kita senantiasa mendaraskan doa, melontarkan ratapan dan protes atas begitu banyak kematian dan kehancuran yang terus terjadi di Gaza dan wilayah-wilayah lain di Israel atau Palestina, dan meluas ke negara-negara tetangga di Timur Tengah.   Paska serangan mengerikan terhadap Israel Selatan pada 7 Oktober 2023, Israel melakukan pemboman besar-besaran di Jalur Gaza dan melancarkan serangan darat yang membuat sebagian besar Jalur Gaza luluh lantak. Kini kita menyaksikan terjadinya kelaparan dan penyebaran wabah penyakit di Gaza. Puluhan ribu orang tewas, hampir 1.800 orang Israel dan lebih dari 32.000 orang Palestina (belum termasuk mereka yang masih harus digali dari bawah reruntuhan). Selain kematian, ada ratusan ribu jiwa yang hancur, terluka, kehilangan tempat tinggal, dan kini kelaparan dan terserang penyakit.   Kita menegaskan kembali komitmen untuk tidak tinggal diam. Tidak dapat diterima bahwa, meskipun sudah ada upaya, hampir enam bulan memasuki babak konflik tetapi tidak ada yang mampu menghentikan kematian. Memalukan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bahwa penduduk Gaza memiliki cukup makanan. Memalukan bahwa tidak ada yang mampu meminta pertanggungjawaban atas para penghasut. Dan yang lebih menyedihkan, kita tahu bahwa konflik berdarah di “tanah suci” ini telah dibiarkan terus berlanjut dan menjadi luka yang menganga dan membusuk pada wajah Timur Tengah.   Kita telah melibatkan diri selama puluhan tahun dalam komunitas dan masyarakat di Timur Tengah. Kita ingin mengatakan bahwa peperangan semacam itu tidak seharusnya dibiarkan. Kita tidak bisa lebih memilih kematian daripada kehidupan, balas dendam daripada rekonsiliasi, mencari kesalahan daripada keadilan, mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama, dan kekerasan daripada dialog. Itu semua bukanlah takdir, melainkan sesuatu yang sengaja kita pilih. Tentu ada pilihan-pilihan lain yang bisa diambil dan kita akan terus memupuk mimpi akan masa depan yang berbeda, yaitu masa depan yang telah diramalkan oleh para nabi dalam Kitab Suci. “Mereka akan mengasah pedang mereka menjadi mata bajak dan tombak mereka menjadi mata pisau. Bangsa tidak akan mengangkat pedang melawan bangsa lainnya dan mereka tidak akan belajar berperang lagi.” (Yesaya 2:4)   Kita satukan suara bersama Bapa Suci, Paus Fransiskus, yang telah berulang kali memperingatkan bahwa perang adalah kekalahan! Setiap perang adalah kekalahan! (Angelus, 8 Oktober 2023). Kita ulangi seruan agar gencatan senjata segera dilakukan. Agar semua sandera 7 Oktober dibebaskan. Agar terjadi negosiasi demi memulai proses yang akan membawa kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan bagi semua orang di Timur Tengah. Inilah satu-satunya jalan menuju perdamaian sejati.   Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel “We Cannot be Silent” dalam https://www.jesuits.global/2024/03/29/we-cannot-be-silent/ Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo pada tanggal 1 April 2024.