Pilgrims on Christ’s Mission

Tahbisan

Imamat yang Bersahabat

Rabu, 27 Juli 2022 merupakan hari yang penuh rahmat bagi Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Pada hari tersebut, dua orang diakon yakni Diakon Paulus Hastra Kurdani, S.J. dari Paroki St. Petrus Kanisius, Wonosari dan Diakon Yohanes Harry Kristanto, S.J. dari Paroki St. Yosef, Pangkalpinang menerima tahbisan imamat. Bersama dengan mereka, tiga frater menerima tahbisan diakon, yaitu Frater Agustinus Daryanto, S.J. dari Paroki St Isidorus, Sukorejo, Frater Antonius Siwi Dharma Jati, S.J. dari Paroki St. Maria Assumpta, Gamping, dan Frater Yulius Suroso, S.J. dari Paroki St. Maria Bunda Penasehat Baik, Wates. Mereka berlima menerima rahmat tahbisan dari tangan Uskup Keuskupan Purwokerto, Mgr. Christophorus Tri Harsono di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta. Sebagaimana semula direncanakan, Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, akan menahbiskan kelima orang saudara kita. Akan tetapi, dua hari menjelang hari-H, Mgr. Ruby beserta kuria Keuskupan Agung Semarang terpapar Covid-19 sehingga tidak dapat menahbiskan mereka berlima. Syukurlah bahwa di tengah-tengah kesibukan, Mgr. Tri bersedia meluangkan waktu untuk menggantikan Mgr. Ruby. Dalam situasi transisi pandemi Covid-19 yang berangsur-angsur mereda, acara tahbisan kali ini dihadiri sekitar 430 tamu, yang terdiri dari antara lain para nostri imam, bruder, dan frater; keluarga, sanak saudara, dan kerabat para tertahbis; serta donatur dan para pemerhati Serikat Jesus. Semua hadirin mengikuti rangkaian acara tahbisan dengan mematuhi protokol kesehatan ketat. Sementara itu, Ekaristi tahbisan sendiri yang mengusung tema “Lebih Mencintai dan Mengikuti Kristus sebagai Sahabat” berlangsung khidmat dan khusyuk selama kurang lebih dua setengah jam (09.00-11.30 WIB). Dalam homilinya, Mgr. Tri menyampaikan pesan yang amat penting untuk direfleksikan, tidak hanya bagi para tertahbis, tetapi juga bagi semua Jesuit. Menurut Mgr. Tri, menjadi imam Jesuit bukan pertama-tama menjadi orang hebat, pengajar yang termasyhur, atau atribut-atribut lainnya. Esensi pokok seorang imam Jesuit adalah imam yang setia dan sepenuh hati melaksanakan tritugas Kristus: menjadi imam, nabi, dan raja. Itulah yang dibutuhkan dunia pada zaman ini. Tentu saja, itu bukan berarti “asal” atau “pokoknya” menjadi imam, melainkan tetap berusaha menghayati apapun tugas perutusan yang diterima dengan semangat magis tanpa meninggalkan panggilan dasar imamat dalam Gereja Katolik. Ketika para imam Jesuit menghayati panggilan dasarnya dengan kerendahan hati; tidak sekadar ingin didengarkan, tetapi juga mau mendengarkan; tidak sekadar pandai mengajar, tetapi juga mau belajar; bukan ingin dilayani, tetapi juga mau melayani; di situlah arti sejati rahmat “imamat yang bersahabat”. Selepas Ekaristi, para tamu diundang masuk ke dalam kompleks Kolsani untuk bersyukur bersama dengan ramah tamah. Sembari menyantap hidangan yang disediakan, para tamu dihibur dengan penampilan band SMA Kolese de Britto dan OMK Paroki Kotabaru. Tak ketinggalan, Pater Aria Dewanto, S.J. bersama duet Teras Kamar turut mempersembahkan lagu “Hidup ini adalah Kesempatan” dan “Laskar Pelangi” secara khusus bagi para tertahbis. Sekitar pukul 14.00 WIB, rangkaian acara tahbisan berakhir ditandai dengan para tamu yang meninggalkan kompleks Kolsani. Berikut adalah informasi tentang perutusan baru para tertahbis: Kontributor: Amadea Prajna Putra Mahardika, S.J.

Provindo

Kaul Akhir Serikat Jesus

Pada Senin, 25 Juli 2022 Serikat Jesus Provinsi Indonesia berbahagia atas pengucapan kaul akhir Pater Bruno Herman Tjahja, S.J., Pater Justinus Sigit Prasadja, S.J., dan Bruder Franciscus Xaverius Marsono, S.J.. Pengucapan kaul akhir ini istimewa karena diselenggarakan bersama dengan Forum Provinsi hari pertama di Kapel Santa Perawan Maria, RR Panti Semedi Klaten. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Provinsial, Pater Benedictus Hari Juliawan S.J., dan dihadiri oleh keluarga kaules serta rekan-rekan Jesuit yang hadir dalam Forum Provinsi. Melalui kaul akhir, para Jesuit ini mempersembahkan diri untuk sepenuhnya menggabungkan diri atau berinkorporasi ke dalam Serikat Jesus. Kontributor: Tim Komunikator

Provindo

Nostalgia di Panti Semedi, Klaten: Sembilan Kebahagiaan Provindo

REPORTASE FORUM PROVINSI “Forum Provinsi akan diadakan secara luring (offline) di RR Panti Semedi Klaten,” demikian kiranya pengumuman Pater Bambang Sipayung, S.J. melalui mailist [internos] tertanggal 4 Juli 2022. Para Nostri kiranya bersorak, “Akhirnya!” Setelah dua tahun “pertemuan sakral” ini diadakan di rumah masing-masing, Forum Provinsi kembali diadakan secara tatap muka pada tanggal 25-26 Juli 2022. Kendati demikian, tersedia pula ruang perjumpaan online bagi mereka yang berhalangan hadir. Secara umum, suasana terasa membahagiakan dan hangat. Aula tampak penuh sesak dan ramai dengan percakapan sebelum akhirnya Pater Bambang Sipayung, S.J. memulai jalannya Forum Provinsi. Kebahagiaan tampak pula dalam kesempatan makan, break, misa kaul akhir, pesta, dan kesempatan-kesempatan partikular lainnya. Kebahagiaan macam apa saja yang dirasakan oleh para nostri? Berikut inilah Sembilan Kebahagiaan Provindo yang terlahir dari nostalgia di Panti Semedi, Klaten. Tumbuhnya Harapan bagi Misi di Papua Pater Christoporus Aria Prabantara, S.J. Forum provinsi yang baru saja dilaksanakan adalah pertemuan yang sudah lama tidak saya alami, semenjak penugasan di Nabire. Pembahasan beberapa postulata internal provindo memberi harapan pada karya-karya di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Khususnya dalam bidang pendidikan. Diharapkan bahwa melalui pendidikan maka Serikat Jesus dapat menyumbangkan sesuatu bagi perkembanganmasyarakat setempat, sekecil apapun. Hasil yang besar bukanlah target utama di daerah ini, namun kontribusi Serikat Jesus dalam pembangunan masyarakat adalah hal yang lebih utama. Tumbuhnya Kemampuan Merumuskan Prioritas Karya Pater Heribertus Dwi Kristanto, S.J. Saya mengikuti Kongregasi Provinsi sedari awal sebagai anggota panitia persiapan (Coetus Praevius). Di satu sisi, saya ‘gemas’ sambil geleng-geleng kepala karena banyak rekan-rekan Jesuit Provindo yang asal-asalan dalam mengisi blangko SOLI. Ada nostri yang penuh afeksi sehingga membubuhkan ucapan ‘salam hangat plus tanda tangan serta nama’ pada blangko, namun ini hanya membuat suaranya menjadi invalid alias hangus. Ada pula yang terlalu semangat melingkari daftar nama-nama pada blangko; akibatnya baru sampai pada abjad N, mereka telah mencapai batas maksimal 25 nama yang boleh dipilih. Itulah mengapa nostri yang namanya diawali dengan W atau Y sedikit saja terpilih. Di sisi lain, saya bangga sambil mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata betul, dalam hal peraturan dan kearsipan Serikat memang luar biasa. Norma-norma yang mengatur kongregasi ini tidak kurang dari 40 halaman!!! Peraturannya sangat detail dan antisipatif terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi, baik pada tahap persiapan maupun pada tahap pelaksanaan kongregasi. Tambahan lagi, saya bangga karena pada saat mendiskusikan postulata terlihat bahwa banyak nostri yang secara serius memikirkan cara hidup dan relevansi kehadiran Serikat di zaman ini; argumen-argumen yang dikemukakan berbobot dan menunjukkan wawasan mereka yang luas. Seolah ini mengafirmasi bahwa Jesuit itu cerdas. Eratnya Persaudaraan antar Nostri Pater Yusup Edi Mulyono, S.J. Forum Provinsi selalu menggembirakan. Mengapa? Forum Provinsi membantu kita semua mengalami perjumpaan dengan saudara seserikat, untuk makin saling mengenal lintas generasi, mempererat persaudaraan dengan percakapan bersama, makan bersama, tukar pengalaman, dan tukar pikiran. Di samping itu, dengan mendengarkan dan mendalami De Statu, kita semua dibawa ke dalam pengalaman bersama sebagai Serikat Jesus Provindo dengan semua segi hidupnya, termasuk konsolasi dan desolasinya. Perasaan dan pengalaman kebersamaan ini meneguhkan masing-masing Jesuit bahwa seperti apapun hidup dan perutusan kita, kita tidak sendiri, selalu bersama Tuhan dan banyak saudara dengan segala talentanya. Mendengarkan rencana strategis provinsi dan dilibatkan dalam diskusi untuk menanggapi yang disiapkan tim perencanaan provinsi, juga sangat positif. Semua dilibatkan dan dapat menyumbang gagasan untuk tubuh Serikat, termasuk anggota termuda yaitu para novis. Yang sangat menggembirakan kita semua adalah perayaan iman bersama yang secara istimewa pada tahun ini ditandai dengan kaul akhir nostri dan tahbisan imamat. Perjumpaan yang Melegakan Kerinduan Fr. Gregorius Agung Satriyo Wibisono, S.J. Setelah dua tahun tidak bertatap muka, tidak mengherankan bila nuansa reuni cukup dominan dalam Forum Provinsi tahun ini. Ada sebuah kerinduan untuk dapat berbincang dan menikmati secangkir kopi di selasar Refter Rumah Retret Panti Semedi, Sangkal Putung. Terdapat berbagai kenangan masa lalu yang diingat, diceritakan, dan dikisahkan kembali. Terdapat pula senda gurau yang agaknya tidak dimungkinkan terjadi jika hanya memanfaatkan kolom chat. Akhirnya, forum provinsi tahun ini menjadi sarana untuk dapat memecah kerinduan pada taraf yang lebih dalam, yaitu mampu berefleksi dan berkontemplasi kemana Sang Raja Abadi menghendaki Serikat Jesus Provinsi Indonesia melangkahkan kaki. Kelugasan Mengambil Keputusan Fr. Jakobus Aditya Christie Manggala, S.J. Dalam Forum Provinsi kali ini saya hanya mengikuti sesi De Statu, pendalamannya, dan makan siang. Dalam waktu yang amat singkat ini atmosfer kebersamaan kembali terasa di antara para Jesuit karena setelah 2 tahun tidak bertatap muka di Sangkal Putung. Tentu ini menjadi perjumpaan yang menarik. Ingatan kembali pada masa menjadi novis dan untuk pertama kalinya mengikuti forum provinsi. Saat itu kami berusaha mengenal para Jesuit senior. Kali ini, ketika sudah teologan, ternyata tidaklah mudah menghafalkan nama – nama para yunior yang jaraknya 6 tahun ke bawah! Pengalaman De Statu kali ini bagi saya adalah yang paling lugas! Saya melihat Provindo yang mulai terbuka dengan berbagai informasi, khususnya mengenai tata kelola keuangan dan karya. Saya merasa penyampaian seperti ini perlu terus dilanjutkan! Keterlibatan Jesuit Muda Fr. Mikael Tri Karitasanto, S.J. Forum Provinsi 2022 kali ini diselenggarakan secara luring. Bagi saya ini sangat berkesan setelah dua edisi sebelumnya diselenggarakan secara daring akibat adanya pandemi covid-19. Sebagai Jesuit muda, saya memiliki kesempatan untuk bertemu dan berbincang secara langsung dengan Jesuit lain yang membuat saya semakin mengenal wajah Serikat. Selain itu, pembahasan dan pendalaman mengenai rencana apostolik provindo juga menjadi agenda yang menarik bagi saya. Melalui sesi ini, tampak bahwa para pembesar Jesuit Provindo memiliki sikap rendah hati dengan mau mendengarkan apa yang disuarakan akar rumput sehingga kegiatan apostolik provindo diharapkan dapat lebih tepat sasaran dan berbuah lebih banyak. Pada sesi diskusi pendalaman rencana apostolik, saya banyak belajar dengan mendengarkan sharing dari Jesuit yang terjun langsung ke lapangan dan berkecimpung di bidangnya. Kegiatan forum ini sangat bermanfaat dan memiliki efek positif. Kebahagiaan Ketujuh: Hospitalitas bagi Rekan Kerja Sdri. Margareta Revita Endah Susanti Forum provinsi tahun ini adalah forum provinsi kedua yang saya ikuti. Untuk pertama kalinya, saya bertemu banyak Jesuit secara langsung. Forum Provinsi tahun ini sangat menegangkan karena saya tidak memiliki bayangan sebelumnya. Sebagai salah satu orang yang mendukung penyelenggaraan acara ini, salah satu hal yang saya khawatirkan adalah jaringan internet karena terdapat

Provindo

De Statu Forum Provinsi 2022: Di Mata Novis

Setelah dua tahun tidak bertatap muka, akhirnya para Jesuit bisa berkumpul bersama di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten untuk menghadiri Forum Provinsi tahun ini. Para novis yang merupakan anggota termuda Serikat Jesus juga diundang untuk mengikuti Forum Provinsi selama dua hari, yaitu Senin-Selasa (25-26/7/2022). Salah satu sesi yang sangat berkesan dan membuat kami semua semakin mengenal Serikat lebih dalam adalah presentasi De Statu 2022 dari Pater Provinsial. Dalam pembahasan awal De Statu, ada pernyataan yang menarik, yakni pandemi membuka mata kita terhadap berbagai macam hal, baik secara pribadi maupun kelompok. Pandemi hendaknya tidak dilihat sebagai sesuatu yang melulu negatif sehingga kita dilingkupi bayang-bayang kecemasan. Pandemi jika dilihat secara lebih jernih dan positif membuat kita menangkap bahwa ada persoalan-persoalan mendasar yang terjadi, yakni ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Ini adalah cara pandemi membuka mata kita terhadap realitas yang ada. Kita tidak hanya berpangku tangan melihat hal ini. Kita dipanggil untuk berperan aktif dalam menangani akar persoalan yang terjadi. Kita dipanggil untuk memberi makna bagi hidup ini. Di bagian promosi panggilan ada bagian yang menarik, yakni ada beberapa calon yang mengenal Serikat melalui media sosial. Kehadiran media sosial saat ini memang sangat sulit untuk dihindari. Namun, kita tidak perlu melihat media sosial sebagai musuh yang membawa arus negatif dan karena itu patut dijauhi. Serikat Jesus menjadikan media sosial sebagai sahabat yang membawa arus positif. Melalui beberapa akun media sosialnya, seperti @jesuitinsight, @prompangsj, dan @jesuitindonesia, Serikat Jesus ingin mewartakan sesuatu yang baik dan berguna bagi sesama. Serikat juga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau kaum muda sehingga bisa mengenal Serikat Jesus dengan lebih dekat dan memiliki semangat untuk mengikuti Yesus di bawah panji salib. Pada bagian karya, melalui Examen Karya yang telah diinisiasi dari tahun 2017, karya-karya yang sekarang ada menjadi lebih terfokus dan terarah sehingga mendukung perkembangan Serikat Jesus Provinsi Indonesia dengan sangat baik. Pater Provinsial juga dengan tegas memberikan pengarahan pada semua pemimpin karya bahwa setiap karya harus mampu membiayai dirinya sendiri, jika tidak mampu maka karya tersebut harus dipertimbangankan lagi, apakah mau dipertahankan atau tidak? Pandemi yang berlangsung lama juga memaksa Pater Provinsial dan tim untuk mengukur kembali setiap karya terutama yang terkena dampak pandemi. Hebatnya, dari karya-karya yang bertahan atau dipertahankan, Serikat Jesus Provinsi Indonesia semakin bertumbuh di tahun ini. Dalam bagian karya juga dibahas mengenai kehadiran Serikat di Papua. Kita bersyukur karena Serikat tidak memperhitungkan soal apakah ada keuntungannya atau tidak. Hal ini memang penting namun bukanlah prioritas teratas. Semangat dasar kehadiran Serikat Jesus di Papua, yakni panggilan untuk mereka yang paling membutuhkan di negeri ini, adalah semangat yang menjiwai tujuan Serikat Jesus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ini juga merupakan gambaran nyata semangat “cuma-cuma.” Semangat dasar tanpa memperhitungkan untung dan rugi demi pelayanan dalam kasih Kristus. Semangat ini pula yang membuat karya-karya Serikat masih tetap eksis sampai saat ini. Karya Serikat Jesus termasuk juga formasi awam, yakni spiritualitas, kaderisasi, orang muda, dengan visi kolaborasi dalam perutusan. Kami menyadari bahwa Gereja bukan hanya milik para imam, melainkan juga umat awam. Melibatkan awam dalam perutusan kita sungguh-sungguh menghadirkan Gereja yang sebenarnya. Ini pun membangun semangat berjalan bersama Gereja (sinodalitas). Umat awam merasakan secara lebih dekat kehidupan bermasyarakat dan dengan melibatkan umat awam kita bisa membangun semangat tersebut. Selain itu, kaum muda juga menjadi bagian yang penting. Merekalah penerus-penerus Gereja masa depan. Bisa juga terjadi dengan melibatkan kaum muda maka akan muncul benih-benih panggilan menjadi imam, biarawan-biarawati. Dalam bagian formasi, Pater Provinsial memberikan update tentang bagaimana perkembangan orang muda serikat yang menjadi tumpuan Serikat di masa depan. Program Formasi yang solid dan formator yang berdedikasi menjadi salah satu kunci keberhasilan formasi di Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Namun, ada juga yang disoroti oleh Pater Provinsial yaitu kemampuan akademis dalam bahasa Inggris dan menulis yang semakin menurun di tengah perkembangan digital. Selain itu, dalam bagian formasi dibahas tentang kelelahan dan kejenuhan selama masa pandemi. Pater Provinsial juga mengatakan bahwa para skolastik menjadi kecanduan internet, mengalami adiksi medsos, dan pornografi. Ini juga ternyata berdampak pada kemampuan akademis tadi. Kehadiran internet dengan daya visualnya yang besar membuat orang muda zaman sekarang menjadi asing dengan hal-hal berkaitan dengan baca tulis. Kejenuhan dan kelelahan ini bisa diolah menjadi sesuatu yang berharga, misalnya olahraga, kerja tangan, dan bermain musik, atau mengembangkan bakat dan hobi yang diminati. Hal ini disimpulkan oleh Pater Provinsial dengan menegaskan pentingnya Serikat mengenal orang-orang muda Serikat di zaman digital ini. Pelaksanaan UAP juga menjadi salah satu sorotan Pater Provinsial dalam presentasi De Statu 2022 ini. Sebanyak 33 karya telah menyusun rencana apostolis untuk implementasi UAP dan akan dilanjutkan dengan perencanaan apostolik di tingkat Provinsi. Dari paparan Pater Provinsial, ada tiga jenis reaksi terhadap UAP yaitu pertama, sekadar menamai hal-hal yang sudah terjadi sesuai UAP; kedua, membuat kegiatan-kegiatan baru; dan yang ketiga, terinspirasi dan melakukan perubahan penting. Ditegaskan juga bahwa reaksi ketiga adalah yang ideal karena UAP ditanggapi sebagai ajakan untuk berubah untuk mencapai cita-cita yang besar melalui proses diskresi bersama. Oleh karena itu, kita semua diajak untuk ikut terlibat dan berani untuk berubah melalui pelaksanaan UAP ini dari lingkup terkecil yaitu diri kita sendiri hingga lingkup yang terbesar. Provindo ternyata juga menjadi bagian yang sangat penting di level konferensi (JCAP). Sumbangan Provindo terhadap konferensi ternyata memberikan dampak kepada negara-negara yang menerima bantuan. Dari program tersiat di JCAP, kuria JCAP, sekretariat sektoral JCAP, dan juga sumbangan dalam bidang formasi yaitu dengan mengirimkan formator ataupun menerima skolastik dari berbagai negara untuk menempuh pendidikan di Indonesia, diantaranya skolastik dari Myanmar, Thailand, MAS (Malaysia-Singapore), Pakistan, dan Timor Leste. Provindo juga akan mendapatkan tanggung jawab Regio Thailand sebagai regio dependent dan juga mendapatkan permohonan untuk membantu misi Pakistan. Pada bagian finansial yang biasanya merupakan bagian yang sensitif pun dipresentasikan dengan sangat jelas dan gamblang oleh Pater Provinsial. Hal membanggakan, bahwa di tengah pandemi dan kesulitan yang dihadapi, Serikat Jesus Provinsi Indonesia masih mampu memiliki financial statement yang sehat dan mengalami keuangan yang surplus. Sebanyak sembilan komunitas dari total 15 komunitas mengalami surplus di tahun 2020. Hal ini tidak terlepas dari peran benefactor dan juga pihak-pihak yang membantu Serikat mengelola investasi keuangan dan menghasilkan keuntungan yang membantu Serikat dalam menjalankan operasional

Komunikator

Bercerita tentang Universal Apostolic Preferences dalam Foto

INTERNOS EDISI KHUSUS Topik: Bercerita tentang Universal Apostolic Preference dalam Foto Latar Belakang: Internos Newsletter merupakan media komunikasi Serikat Jesus Provinsi Indonesia dengan para rekan berkarya yang diterbitkan setiap bulan oleh Kantor Provinsialat Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Selain terbitan bulanan, ada pula terbitan khusus. Internos Edisi Khusus merupakan media yang diterbitkan setiap empat bulan dengan berkonsentrasi pada topik tertentu. Kami, Tim Komunikator, selaku penanggung jawab penerbitan ini hendak mengajak para rekan berkarya untuk ikut serta dan terlibat dalam penerbitan Internos Edisi Khusus bulan Agustus 2022. Internos Edisi Khusus bulan Agustus 2022 hendak mendalami tema Universal Apostolic Preferences (UAP). Tema ini akan disajikan melalui foto (satu foto) atau seri foto (maksimal 4 foto) yang bercerita mengenai pokok-pokok dalam UAP. UAP sebagai proses diskresi Serikat Jesus menjadi dasar Serikat Jesus untuk bekerjasama dalam perutusan Tuhan, melayani Gereja di zaman ini, memberikan sumbangan terbaik dengan semua sumber daya yang kita miliki, dan berusaha melakukan segala sesuatu demi pelayanan ilahi yang lebih besar dan kebaikan yang lebih universal. UAP ini sekaligus merupakan cakrawala yang menuntun Serikat Jesus menuju pada pertobatan dan perubahan dalam pelayanan. Ada empat pilar yang menjadi horizon pertobatan dan perubahan ini yaitu: Bagaimana Anda menceritakan foto-foto itu sehingga berbicara tentang keempat pilar di atas tergantung interpretasi Anda dan pengenalan Anda mengenai Serikat Jesus dan tugas perutusannya. Untuk membantu Anda melakukan proses pendalaman dan interpretasi, Anda bisa menggunakan link berikut untuk memahami apa itu UAP https://uap.jesuits.id/ dan https://www.jesuits.global/uap/introduction/  Sudut Berita: Foto-foto yang bercerita tentang bagaimana UAP menghayati interaksi dan tugas perutusan Serikat Jesus di dalam karya-karyanya seperti paroki, sekolah, karya sosial dan rumah retret. Tema Foto: Foto-foto akan menggunakan topik UAP seperti di bawah ini: Syarat dan Ketentuan: Rewards: Kolaborator: Timeline:  Tanggal Kegiatan 14 – 25 Juni Persiapan Acara & Finalisasi Kegiatan 27 Juni – 8 Juli 20 Publikasi & pendaftaran acara Webinar dan Workshop Fotografi 9 Juli 2022 Webinar dan Workshop melalui ZOOM 8 Juli – 2 Agustus Pengumpulan foto dari para kolaborator 3 – 10 Agustus 2022 Mulai proses penyeleksian foto untuk Majalah Internos oleh Juri 10 – 14 Agustus 2022 Proses pengolahan foto oleh internal redaksi Internos & Tim Komunikator 15 Agustus 2022 Penerbitan Majalah internos edisi spesial UAP di Website dan E-newsletter Contact Person : Whatsapp : Communicator SJ 0813-9885-9305 Email : communicator@jesuits.id; assistant.communicator@jesuits.id

Feature

Coretan untuk Teman-teman Kecil Saya

Semoga potongan lagu Sahabat Kecil milik Ipank ini mampu mewakili perasaan saya sekarang, Melawan keterbatasanWalau sedikit kemungkinanTak akan menyerah untuk hadapiHingga sedih tak mau datang lagi Bersamamu kuhabiskan waktuSenang bisa mengenal dirimuRasanya semua begitu sempurnaSayang untuk mengakhirinya Suasana pinggir rel kereta di Stasiun Tugu menjadi refren yang saya rasakan setiap akhir pekan. Bau oli dan mesin, riuh pekerja yang sedang beristirahat, dan warga kampung Bong Suwung yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing menjadi pemandangan yang selalu saya lihat. Saya seperti merasakan secara langsung suasana yang terjadi di film Joshua Oh Joshua produksi tahun 2001. Film itu masih terngiang dalam benak saya karena memang berkesan. Keterpesonaan tersebut sama halnya saat saya menemani teman-teman kecil saya di Bong Suwung. Sebenarnya saya ini adalah orang yang mudah sekali tersentuh perasaanya. Ya, anggap saja saya ini orangnya mudah untuk baper.. Maka saat saya harus berinteraksi dengan anak-anak dan tidak sengaja mendengar kisah hidup mereka, ada air mata yang menetes perlahan dalam hati saya.  Perjalanan ini saya mulai saat saya dan keempat teman saya harus menjalani studi lapangan yaitu pengabdian sosial. Singkat cerita, saya mengenal Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat dari salah seorang teman. Orang pertama yang saya tuju adalah Romo Pieter, yang pada saat saya menelepon masih Diakon Pieter. Memiliki kepribadian yang santuy, humble, tetapi juga pakewuhan menjadi first impression saya kepada beliau. Ternyata saat saya bergabung di komunitas ini, saya juga bertemu dengan orang-orang yang hebat menurut saya. Saya mengenal istilah volunteer ya di komunitas ini. Saya terkesan karena masih ada orang yang mau mengatur waktunya untuk nyelakke menemani anak-anak di Bong Suwung dan juga di Jombor. Di saat banyak orang berlomba-lomba menggapai kesuksesan diri, ternyata masih ada orang yang mau untuk memberikan diri untuk mendukung kesuksesan orang lain. Jujur saya terharu, karena bukan sekadar materi, tetapi juga waktu, dan tenaga kalian berikan untuk orang lain. Nais gaessh, kalau kata Romo Pieter. Terima kasih boleh mengenal teman-teman, ada Mbak Lusi, Mbak Ria, Joni, Nervi, Devina, Lintang, Dita, Dhira, Rani, Echa, Mas Wahyu, para Suster ADM, para Frater Scholapio dan juga teman-teman yang lalu lalang hadir. Ingatlah kawan, jerih payah, keringat, serta pengabdianmu mungkin tidak dibalas Tuhan sekarang, tetapi suatu saat pasti Tuhan akan memberikan berkat-Nya kepada panjenengan sedaya yang sudah mau menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya. Bertemu dengan teman-teman kecil saya, terkhusus di Bong Suwung membuat saya selalu bertanya dalam hati tentang bagaimana latar belakang mereka dan apa yang mereka kerjakan di luar kelas ini. Di balik keceriaan mereka, keramaian mereka, dan juga kenakalan mereka tersimpan rapi segala kisah hidup yang pasti lebih berat dari apa yang saya rasakan. Contohnya adalah saat kita rekreasi ke Galaxy Waterpark, saya mendengar anak kecil mengatakan “Wah ini pertama kalinya aku makan KFC” dan saat itu diri saya membeku seketika. Saya ingin menangis rasanya. “Hey nak secara tidak langsung kamu mengajarkanku untuk selalu bersyukur setiap harinya!!!! Bukan soal KFC nya, tetapi soal bagaimana anak itu menerima apa yang didapatkan dari panitia. Saya? Diberi tempe dan sayur saja sudah lari menuju ke warmindo andalan. Tidak cukup dengan itu, saat sesi makan saya harus melihat salah seorang dan juga mbah kakungnya makan suap-suapan beralaskan kardus. Moment tersebut berbicara banyak bagi diri saya. Apakah saya sudah mencintai orang terdekat saya? Apakah saya sudah bersyukur atas pemberian Tuhan setiap harinya? Ya, memang dalam proses ini saya menjadi “guru” bagi teman-teman kecil saya, tetapi justru terkadang saya belajar banyak dari mereka.  Soal ciri khas mereka yang begitu bar-bar saat pelajaran, saat harus diam sejenak, saat untuk diminta memperhatikan sampai diminta baris di akhir pelajaran saja susahnya bukan main. Pasti harus ramai, dan tak jarang kata-kata kasar keluar, serta pukulan yang sepertinya sudah lanyah mereka berikan kepada temannya. Di balik segala keberingasan tersebut, sebenarnya ada perasaan yang mereka harapkan, karena mungkin perasaan tersebut kurang mereka dapatkan dari orang-orang terdekat mereka. Tidak lain tidak bukan adalah perasaan kasih sayang. Kebahagiaan mereka saat didengarkan, dipangku, digendong, digoda, diperhatikan oleh volunteer tidak lain adalah sebuah hubungan sebab akibat dari keseharian mereka di rumah. Harus saya akui bahwa setiap dari mereka memiliki mental baja dan kelak akan menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Perjalanan bersama teman-teman kecil saya merupakan perjalanan membagikan cinta kepada sesama. Cinta tersebut berwujud perhatian yang diberikan kepada anak-anak hebat ini. Levinas dalam teori penampakan wajah mengatakan bahwa tanggung jawab kepada orang lain itu dimulai saat sejak kita bertemu/berhadapan dengan orang tersebut. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa kebahagiaan hidup orang lain, kesejahteraan orang lain, termasuk membantu sesama merupakan tugas dari setiap manusia. Melihat realita yang begitu pedih, hendaknya empati kita digerakkan untuk datang dan memberikan diri kita. Pendidikan merupakan suatu jalan bagi setiap pribadi untuk bangkit dari ketertindasan, baik ketertindasan fisik maupun ketertindasan lainnya yang dialami oleh masing-masing pribadi. Dengan pendidikan, orang tidak hanya menerima materi, tetapi juga digerakkan untuk mengenali diri dan mampu mengalahkan ketertindasan hidupnya dengan kemampuan yang berupa  harta karun di dalam dirinya. Kehadiran para volunteer dapat menjadi fasilitator bagi anak-anak untuk menggapai pendidikan yang layak. Setiap pribadi yang kita temui adalah guru dan setiap waktu yang kita jalani adalah proses belajar.  Di bagian ini, saya ingin mengungkapkan kegelisahan dan harapan saya untuk teman-teman kecil saya di Bong Suwung (dan juga Jombor). “Teman-teman, meskipun kisah hidupmu berat, tetaplah belajar, tetaplah mencari tahu, gapailah harapanmu, dan mimpi-mimpimu. Kisah hidup kalian berbeda dengan cerita dramatis di film ‘Joshua oh Joshua.’ Kesuksesan itu diperjuangkan, bukan sekadar dinanti! Percayalah, kalian tidak berbeda dengan orang lain, kalian sama; kalian berhak untuk sukses dan menjadi orang-orang hebat di masa depan. Kakak percaya, lambat laun kenakalanmu akan luntur seiring dengan tanggung jawab hidup yang akan kalian emban esok. Terima kasih boleh mengenal dan menjadi bagian dari kalian. Sampai bertemu di masa depan dengan segala kesuksesan dan pencapaian kita masing-masing.” Semangat selalu, teman-teman kecilku di Bong Suwung dan di Jombor. Berkibar selalu bendera Realino untuk mewartakan kebaikan!  Kontributor : Aloysius Anggoro Ariotomo – Volunteer SPM Realino

Karya Pendidikan

Sertijab Yayasan Karya ATMI

Rabu, 8 Juni 2022 menjadi salah satu momen bersejarah di dalam perkembangan dan perjalanan (‘pelayaran’) Yayasan Karya ATMI (ATMI Cikarang). Yayasan Karya ATMI akan memulai babak baru dengan ‘nakhoda’ yang baru pula. Pater Yakobus Rudiyanto, S.J. (Rudi, S.J.) mendapatkan tugas dan perutusan untuk menahkodai dan melanjutkan apa yang telah Pater Benedictus Bambang Triatmoko, S.J. (Moko, S.J.) mulai sebelumnya. Tanggal 8 Juni upacara serah terima jabatan telah dilakukan di Aula Xaverius Dormitory dan dihadiri langsung oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. selaku Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, perwakilan Anggota Yayasan Karya ATMI, perwakilan IKAMI, dan Direksi Polin ATMI Cikarang. Sebagai simbolisasi serah terima jabatan, Pater Moko, S.J. menyerahkan bukti cetak berupa dokumen kepada Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. yang kemudian diteruskan kepada Pater Rudi, S.J. sebagai ketua Yayasan Karya ATMI yang baru. Dalam upacara serah terima jabatan, Pater Moko, S.J. melaporkan pertanggungjawabannya selama menjabat sebagai Ketua Yayasan Karya ATMI. Pater Moko, S.J. memberikan salam kemudian menceritakan kembali ‘Genesis’ asal mula pendirian bagaimana ATMI Cikarang dapat terbentuk, dibangun, dan sedang berjalan selama 20 tahun. Dalam sharing tersebut, Pater Moko, S.J. juga menyebutkan dan menegaskan kembali bahwa pada mulanya Pater Casutt, S.J. membangun atau mempunyai cita-cita yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia. Selain dalam dunia pendidikan, orientasi mula berdirinya ATMI Cikarang adalah membantu para pekerja (kawasan industri) dalam mengolah dan upgrade skillnya. Dalam penyampaiannya, Pater Moko, S.J. mengatakan banyak dinamika (terlebih dalam hal keuangan) naik-turun yang telah terjadi selama 20 tahun ini. Di akhir apa yang disampaikan, Pater Moko, S.J. juga memberikan pesan kepada Yayasan Karya ATMI dan semua yang ada di dalamnya untuk ‘nguri-uri’ apa yang telah dimulai dan yang sekarang sedang diperjuangkan.  Pater Benny, S.J. juga memberikan sambutan atas peristiwa serah terima jabatan yang terjadi. Dalam sambutannya, Pater Benny, S.J. pertama-tama menggarisbawahi bahwa upacara (‘Sertijab’ dalam konteks ini) adalah tanda peristiwa. Pater Benny, S.J. kemudian menegaskan bahwa yang terpenting dari sebuah ‘upacara’ (tanda peristiwa) adalah penegasan akan apa yang sebelumnya terjadi dan apa yang sesudah ini akan dilakukan. Pater Benny, S.J. menambahkan selama 20 tahun berdirinya ATMI Cikarang telah banyak niat baik dan dalam dinamikanya ada keberhasilan dan kegagalan. Jumlah mahasiswa dan jumlah lulusan selama ini merupakan data signifikan yang harus dipegang dari ATMI Cikarang sebagai Lembaga pendidikan.   Ada dua hal penting yang Pater Benny, S.J. tegaskan yang menjadi inti dari pesannya. Pertama, perihal mahasiswa baru. Mahasiswa adalah pusat dari sebuah lembaga pendidikan. Kondisi sekarang adalah turunnya jumlah peminat untuk mendaftar di ATMI (pendidikan vokasi). Peningkatan jumlah pendaftar yang akan masuk harus menjadi fokus dalam proses keberlangsungan pendidikan. Kedua, usaha untuk memperbaiki kinerja PT ATMI Cikarang. Apabila kembali ke tujuan awal, PT ATMI Cikarang adalah bentuk teaching factory. Seharusnya, PT ATMI Cikarang kembali ke core-nya yakni ‘mengabdi’ ke pendidikan.  Pater Benny, S.J. menambahkan, yang tidak kalah pentingnya adalah juga mengingat kembali dan meneruskan cita-cita dari Pater Casut, S.J.. “Pater Casutt, S.J. ‘kurang dihargai’ (secara jasa dan karya-karyanya) oleh bangsa ini. Kitalah yang pertama-tama harusnya menghargai dengan segenap hati, budi, pikiran dan energi untuk meneruskan cita-citanya. Tetapi, jangan terlena, kita harus realistis,” tutur Pater Benny, S.J.. Selain itu, pesan Pater Benny, S.J. kepada Kepengurusan Yayasan yang baru adalah juga soal memetakan harapan-harapan orang banyak. Struktur Yayasan harus ‘diubah’ dan mempunyai jiwa dan semangat keterbukaan serta mau minta tolong apabila membutuhkan pertolongan yang mengarah pada perubahan.  Sambutan terakhir diberikan langsung oleh ketua Yayasan yang baru yakni Pater Rudi, S.J.. Ia mengumpamakan bahwa menerima berkas dokumen atau tinggalan dari kepengurusan sebelumnya ibarat menerima aji-aji. Pater Rudi, S.J. menyatakan, “Aji-aji itu harusnya ampuh. Tergantung kitanya. Kita ‘jelas harus ke mana’ tetapi kepiye carane (bagaimana caranya).” Dalam sambutannya, Pater Rudi, S.J. juga menceritakan pengalaman diutus di ATMI Cikarang ini juga memunculkan dan mengobati kerinduannya kembali soal hidup berkomunitas karena hidup berkomunitas tentu menuntut sampai pada cara bertindak. Di akhir sambutannya, Pater Rudi, S.J. mengumandangkan pesan untuk  pelayanannya ke depan. “Harusnya perutusan ini dijiwai oleh semangat, keinginan melayani, keterbukaan, dan tidak lupa juga soal kerendahan hati. Biarlah Tuhan melengkapi yang lain-lain,” begitulah semangat yang disampaikan Pater Rudi, S.J.. “Susah iku aja suwe-suwe. Seneng e wae sing akeh,” tambah Pater Rudi, S.J..  Acara sertijab pun diakhiri dengan foto bersama dan juga ramah tamah bersama para tamu yang hadir. Yang juga menarik di akhir adalah isi doa yang dituturkan oleh Pater Istanto, S.J.. Ada harapan yang ingin disampaikan agar direstui oleh Tuhan yakni tentang apa yang telah dimulai dan telah dijalankan dengan berdarah-darah semoga kelak akan menjadi semangat yang berkobar-kobar dan berguna bagi sesama dibarengi dengan kerja sama dan keterbukaan.  Kontributor : Pater Kristiono Puspo, S.J.

Karya Pendidikan

Pelantikan Pengurus IKAPIKA

Ikatan Alumni PIKA atau yang disingkat IKAPIKA merupakan wadah organisasi bagi para alumnus SMK PIKA Semarang, baik yang dikenal dengan nama STKK/PIKA TINGKAT 1/SMTIK maupun yang terakhir melalui SK Kementrian Pendidikan disahkan dengan nama SMK PIKA. Sebagai sebuah organisasi yang mewadahi para alumni, IKAPIKA mempunyai tanggung-jawab melalui para pengurusnya untuk secara tertib melakukan reorganisasi kepengurusan.  Pada 1 Juni 2022 telah dilakukan Serah Terima Jabatan Ketua IKAPIKA dan Pelantikan Pengurus yang dilakukan oleh Pater Bambang Alfred Sipayung, S.J., Socius Provinsial SJ Provinsi Indonesia. Proses ini tentu saja tidak terjadi secara instan. Melalui Tim Ad-Hoc yang diberi mandat oleh Ketua IKAPIKA periode sebelumnya telah dilaksanakan Pemilihan Umum Ketua IKAPIKA pada 24 april 2022 dengan dua nama calon ketua yang diusulkan oleh sekitar 670 alumnus melalui Google Form. Melalui Pemilu tersebut terpilihlah Sdr. Mikael Ardian Sugito (alumnus angkatan 20) sebagai Ketua yang akan menakhodai IKAPIKA dengan masa bakti 2022-2025. Dengan terpilihnya Sdr. Mikael Ardian Sugito atau yang akrab disapa Pak Ardian ini, ia diberi tanggung jawab untuk membentuk perangkat kepengurusan alumni. Melalui Google Form yang dibagikan muncullah lebih kurang 35 nama alumnus yang bersedia menjadi pengurus. Dari 35 nama tersebut 20 lebih adalah angkatan 30 ke bawah sehingga dapat disimpulkan bahwa antusiasme alumni muda untuk terlibat dalam organisasi dan almamater nantinya cukup tinggi. Dalam sambutannya, Pak Ardian mengajak agar para alumni dari angkatan berapa pun untuk bersinergi dengan baik dan memberikan kontribusi yang nyata bagi almamater dengan sarana dan perkembangan teknologi yang semakin masif. Pak Ardian juga menyampaikan bahwa IKAPIKA siap bekerja sama dan berkolaborasi dengan perhimpunan-perhimpunan lain, secara khusus perhimpunan yang tergabung dalam Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia. IKAPIKA juga siap menjadi kolaborator awam dengan lembaga Serikat Jesus Provinsi Indonesia sebagai rekan seperjalanan dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang lebih mulia demi lebih besarnya kemuliaan Allah.  Acara Serah Terima Jabatan Ketua IKAPIKA dan Pelantikan Pengurus ini juga dihadiri oleh beberapa perwakilan alumni dari masing-masing angkatan yang disebut “Lurah Angkatan” dan para alumni lain yang turut mendukung berlangsungnya acara ini mulai dari angkatan 1 sampai dengan angkatan 46. Hadir pula para ketua dan pengurus Perhimpunan Alumni Kolese lain seperti diantaranya KEKL (Loyola), IKAMI (Mikael), Alumni de Britto, IASM  (Mertoyudan), PAKKJ (Kanisius), dan pengurus pusat AAJI – Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia. Sdr. Glen Sebastian selaku wakil dari AAJI memberikan ucapan selamat, dukungan, dan kesediaan AAJI berkolaborasi bersama dengan IKAPIKA ke depannya. Pater Bambang dalam sambutannya menyampaikan bahwa besar harapan bagi IKAPIKA untuk terus mendukung pelayanan atau misi Serikat Yesus ke depan khususnya menempatkan orang muda sebagai subjek dalam pelayanan. Hal ini seirama dengan Universal Apostolic Preferences (UAP) pokok ketiga – berjalan bersama orang muda. Pater Bambang juga memberikan apresiasi dan penghargaannya kepada kepengurusan IKAPIKA yang juga telah memberi kesempatan bagi banyak orang muda untuk terlibat dalam kepengurusan IKAPIKA ini. Harapannya, agar mereka nantinya dapat menjalin kerja sama dengan alumni kolese lain, almamater dan juga lembaga Serikat Jesus. Kegiatan ini memberikan sebuah benih refleksi bahwa sudah saatnya orang orang muda dengan berbagai macam latar belakang dan kelebihannya diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi kemajuan sebuah organisasi. Namun juga peran serta orang muda bukan berarti menutup kemungkinan bagi para senior untuk juga turut mendukung dengan caranya masing-masing, justru melalui peristiwa ini IKAPIKA mengundang siapapun yang berkehendak baik bagi organisasi dan almamater untuk senantiasa berkolaborasi mengembangkan dan memajukannya bersama sama. “IKAPIKA Rumah Kita Bersama” menjadi tagline yang dipilih oleh Pak Ardian untuk menumbuhkan semangat bagi alumnus dari angkatan 1 sampai dengan 46 dan angkatan 47 yang akan segera menjadi bagian dari IKAPIKA setelah kelulusan untuk terus berusaha merawat, mengembangkan, saling mendukung dan membangun persatuan yang baik demi keutuhan “Rumah” ini. Bravo IKAPIKA Kontributor : Johanes Chaesario Octavianus – Sekretaris IKAPIKA 2022-2025