Imamat yang Bersahabat

Date

Rabu, 27 Juli 2022 merupakan hari yang penuh rahmat bagi Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Pada hari tersebut, dua orang diakon yakni Diakon Paulus Hastra Kurdani, S.J. dari Paroki St. Petrus Kanisius, Wonosari dan Diakon Yohanes Harry Kristanto, S.J. dari Paroki St. Yosef, Pangkalpinang menerima tahbisan imamat. Bersama dengan mereka, tiga frater menerima tahbisan diakon, yaitu Frater Agustinus Daryanto, S.J. dari Paroki St Isidorus, Sukorejo, Frater Antonius Siwi Dharma Jati, S.J. dari Paroki St. Maria Assumpta, Gamping, dan Frater Yulius Suroso, S.J. dari Paroki St. Maria Bunda Penasehat Baik, Wates. Mereka berlima menerima rahmat tahbisan dari tangan Uskup Keuskupan Purwokerto, Mgr. Christophorus Tri Harsono di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta.

Sebagaimana semula direncanakan, Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, akan menahbiskan kelima orang saudara kita. Akan tetapi, dua hari menjelang hari-H, Mgr. Ruby beserta kuria Keuskupan Agung Semarang terpapar Covid-19 sehingga tidak dapat menahbiskan mereka berlima. Syukurlah bahwa di tengah-tengah kesibukan, Mgr. Tri bersedia meluangkan waktu untuk menggantikan Mgr. Ruby.

Dalam situasi transisi pandemi Covid-19 yang berangsur-angsur mereda, acara tahbisan kali ini dihadiri sekitar 430 tamu, yang terdiri dari antara lain para nostri imam, bruder, dan frater; keluarga, sanak saudara, dan kerabat para tertahbis; serta donatur dan para pemerhati Serikat Jesus. Semua hadirin mengikuti rangkaian acara tahbisan dengan mematuhi protokol kesehatan ketat. Sementara itu, Ekaristi tahbisan sendiri yang mengusung tema “Lebih Mencintai dan Mengikuti Kristus sebagai Sahabat” berlangsung khidmat dan khusyuk selama kurang lebih dua setengah jam (09.00-11.30 WIB).

Dalam homilinya, Mgr. Tri menyampaikan pesan yang amat penting untuk direfleksikan, tidak hanya bagi para tertahbis, tetapi juga bagi semua Jesuit. Menurut Mgr. Tri, menjadi imam Jesuit bukan pertama-tama menjadi orang hebat, pengajar yang termasyhur, atau atribut-atribut lainnya. Esensi pokok seorang imam Jesuit adalah imam yang setia dan sepenuh hati melaksanakan tritugas Kristus: menjadi imam, nabi, dan raja. Itulah yang dibutuhkan dunia pada zaman ini. Tentu saja, itu bukan berarti “asal” atau “pokoknya” menjadi imam, melainkan tetap berusaha menghayati apapun tugas perutusan yang diterima dengan semangat magis tanpa meninggalkan panggilan dasar imamat dalam Gereja Katolik. Ketika para imam Jesuit menghayati panggilan dasarnya dengan kerendahan hati; tidak sekadar ingin didengarkan, tetapi juga mau mendengarkan; tidak sekadar pandai mengajar, tetapi juga mau belajar; bukan ingin dilayani, tetapi juga mau melayani; di situlah arti sejati rahmat “imamat yang bersahabat”.

Selepas Ekaristi, para tamu diundang masuk ke dalam kompleks Kolsani untuk bersyukur bersama dengan ramah tamah. Sembari menyantap hidangan yang disediakan, para tamu dihibur dengan penampilan band SMA Kolese de Britto dan OMK Paroki Kotabaru. Tak ketinggalan, Pater Aria Dewanto, S.J. bersama duet Teras Kamar turut mempersembahkan lagu “Hidup ini adalah Kesempatan” dan “Laskar Pelangi” secara khusus bagi para tertahbis. Sekitar pukul 14.00 WIB, rangkaian acara tahbisan berakhir ditandai dengan para tamu yang meninggalkan kompleks Kolsani.

Berikut adalah informasi tentang perutusan baru para tertahbis:

  • Pater Paulus Hastra Kurdani, S.J. menjadi Moderator SMP Kolese Kanisius Jakarta
  • Pater Yohanes Harry Kristanto, S.J. menjadi Vikaris Parokial Paroki St. Robertus Bellarminus Cililitan
  • Diakon Agustinus Daryanto, S.J. melanjutkan studi lisensiat di Fakultas Teologi Wedabhakti
  • Diakon Antonius Siwi Dharma Jati, S.J. menjalani diakonat di Paroki St. Theresia Menteng Jakarta sembari mempersiapkan studi lanjut
  • Diakon Yulius Suroso, S.J melanjutkan studi lisensiat di Fakultas Teologi Wedabhakti

Kontributor: Amadea Prajna Putra Mahardika, S.J.

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.