Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Dari Wayang Hingga Gamelan, SMA Kolese Loyola Tumbuh dalam Keberagaman

Ada anggapan bahwa kesenian tradisional itu kuno dan ketinggalan zaman, apalagi untuk remaja milenial yang sudah serba digital ini. Namun anggapan ini sedikit demi sedikit mulai pudar. Kini makin banyak inovasi kesenian yang menggabungkan konsep tradisional dan modern. Pada hari Jumat, 12 Agustus 2022 lalu, Kota Semarang digegerkan dengan adanya perhelatan Wayang on The Street. Acara ini tidak luput dari perhatian warga Semarang, sebab ini merupakan rangkaian acara seni budaya road to Festival Kota Lama Semarang. Acara ini digelar di Kawasan Kota Lama, tepatnya di Parkiran Laroka. Mengangkat tokoh utama wayang Mahabarata yakni Bima, lakon ‘Cerita Sang Bima’ menampilkan live gamelan serta 77 talent yang berasal dari Sanggar Laskar Muda Ngesti Pandowo Semarang. Sanggar ini bergerak di bidang pertunjukan seni tradisional Wayang Orang (WO) profesional. Tidak hanya itu, acara pun dimeriahkan oleh para tamu undangan dari berbagai instansi, sekolah, maupun kelompok kesenian yang mengikuti parade wayang serta flash mob opening. Para peserta yang kebanyakan adalah remaja diharuskan mengenakan kostum wayang atau busana etnik Jawa. Tak mau ketinggalan, SMA Kolese Loyola turut memeriahkan acara parade wayang dengan mengirimkan empat KKL atas nama Rajendra sebagai Bima, Giasinta sebagai Arimbi, Johan Felix sebagai Rama, dan Avelia sebagai Shinta. Keempat peserta mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir dan dua diantara mereka yakni Rajendra dan Giasinta berhasil menyabet penghargaan medali untuk ‘Kostum Terbaik Kategori Busana Wayang.’  Satu hari setelahnya yakni Sabtu, 13 Agustus 2022, Gamelan Soepra Loyola mendapat kesempatan berharga untuk berpartisipasi dalam acara Konser Rapsodia Nusantara yang digelar oleh pemerintah kota Semarang di Sam Poo Kong. Konser yang digelar dalam rangka perayaan HUT ke-72 Jawa Tengah ini menampilkan pertunjukan orkestra yang berpadu dengan kolintang serta gamelan di bawah arahan Dwiki Dharmawan. Para KKL kelas XI mampu tampil dengan apik dan memuaskan. Latihan yang telah mereka jalani tidak sia-sia meski awalnya konser sempat tertunda selama dua jam karena hujan yang mengguyur Semarang. Parade Wayang dan Konser Rapsodia Nusantara hanyalah dua dari sekian banyak kegiatan yang diikuti oleh para KKL di SMA Kolese Loyola dalam bidang kebudayaan. Para KKL diajak melihat keberagaman seni tradisional yang kini mulai terkikis zaman. Dengan adanya kegiatan kolaborasi, diharapkan akan menumbuhkan semangat KKL dalam hal kebudayaan. Bahwa ternyata kesenian tradisional seperti Wayang Orang dapat dikemas dengan menarik melalui parade dan flash mob. Lalu alat musik tradisional seperti kolintang dan gamelan mampu bersanding dengan orkestra untuk menciptakan harmoni musik yang indah. Budaya tidak pernah berakhir, selalu ada yang baru. Selalu ada bentuk kesenian yang baru, gerak tari, lagu, lukisan. Budaya adalah kisah tanpa akhir. Malsie Junardy Kutipan di atas menggambarkan bahwa seni dan budaya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Gairah kebudayaan dapat disebarkan melalui pertunjukan seni yang dikemas secara apik dan ditampilkan oleh para seniman kondang. Akan tetapi lambat laun, kesenian tradisional mulai dipinggirkan oleh perubahan generasi yang menyukai musik serta pertunjukan seni modern seperti misalnya konser K-Pop, Jazz, Rock, dan lain sebagainya, sehingga sulit bagi kesenian tradisional untuk mendapat tempat di hati para kawula muda. Kesenian tradisional bisa saja disebut ketinggalan zaman, namun kreativitas para seniman tidak bisa diragukan begitu saja. Mereka terus berinovasi menciptakan ragam seni yang baru. Ambil saja contohnya dari kesenian gamelan dan wayang yang mungkin tak banyak diminati anak muda masa kini karena terkesan tua bahkan kuno. Dengan adanya inovasi karya dan kolaborasi, yang tadinya terkesan kuno, kini bisa menjadi sebuah kebanggan bersama. Kontributor: Veronika Oktaviani Astuti, S.Pd. – Guru SMA Kolese Loyola

Karya Pendidikan

Dirgahayu RI: “Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Lebih Kuat”

Keluarga Besar Kolese Kanisius Jakarta menyelenggarakan kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-77, Rabu, 17 Agustus 2022 dengan penuh semarak di tengah kekhawatiran akan kasus covid-19 yang mulai meningkat lagi. Walaupun kegiatan tidak dirasakan oleh semua siswa secara langsung, namun tradisi perayaan Dirgahayu RI dengan upacara bendera dan pesta rakyat setidaknya tetap diusahakan.  Kegiatan perayaan HUT RI di Kolese Kanisius dilakukan di dua lokasi berbeda, yaitu di Kampus Utama: Kolese Kanisius di Menteng dan di Kampus Dua: Pusat Pengembangan Edukasi di Karanggan Gunung Putri. Kampus dua ini sering digunakan para siswa Kolese Kanisius untuk kegiatan-kegiatan leadership dan pengembangan diri. Hanya perwakilan siswa saja yang bisa menghadiri kegiatan-kegiatan ini secara luring, sedangkan siswa lainnya tetap berada di rumah dan mengikutinya secara daring. Diskresi ini diambil untuk tetap memperjuangkan protokol kesehatan dan kenyamanan bersama. Di Kampus Utama Menteng Raya, Peringatan Kemerdekaan RI dilangsungkan dengan sangat sederhana, yaitu upacara bendera dan makan bersama. Sebagai inspektur upacara, Pater Leonardus Evert Bambang Winandoko, S.J. – Ketua Yayasan Budi Siswa, menyampaikan bahwa secara umum seluruh masyarakat Indonesia dan khususnya para Kanisian harus bersyukur dengan situasi bangsa dan negara saat ini yang masih memungkinkan kita bergerak bebas dan melakukan aktivitas harian kita dengan baik tanpa gangguan-gangguan yang mengancam.  Situasi ini sangat berbeda dengan teman-teman Kolese kita yang berada di negara lain, dimana mereka sedang mengalami teror, penggeledahan, dan beragam intimidasi. Kondisi demikian membuat mereka tidak bebas melakukan aktivitas sekolah  dengan aman dan nyaman. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Indonesia wajib bersyukur karena berada dalam kondisi yang lebih baik. Dengan rasa syukur kita didorong untuk memanfaatkan kondisi ini dengan baik dan secara optimal mengembangkan diri dengan semangat Magis, memperdalam ilmu pengetahuan dan pemahaman yang memampukan kita berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara menjadi lebih baik. Sedikit berbeda dengan kampus Kolese Kanisius di Menteng, perayaan HUT RI di kampus Karanggan Gunung Putri disemarakkan dengan aneka macam lomba dan kemeriahan lainnya, seperti lomba menangkap ikan, panjat pinang, sepak bola, band, dan lain-lainnya. Pusat Pengembangan Edukasi yang memiliki lahan seluas kurang lebih 20 h.a menjadi aset yang memungkinkan sekolah dalam mengembangkan pendidikan holistik secara lebih optimal. Kampus Menteng akan menjadi pusat keunggulan akademis sedangkan kampus Karanggan lebih mengembangkan sisi karakter dan kepemimpinan. Lokasi Pusat Pengembangan Edukasi yang luas dan leluasa memungkinkan sekolah mengadakan kegiatan Dirgahayu RI secara luring walaupun dengan kuota siswa yang dibatasi. Melalui perayaan HUT kemerdekaan RI ini, para siswa diharapkan merasakan pengalaman otentik terkait nilai-nilai yang dikembangkan sekolah, yaitu: nasionalisme, patriotisme, perseverance, magis, dan brotherhood. Semoga pengalaman mendorong siswa untuk semakin semangat dalam belajar dan berlatih. AMDG. Kontributor: Paulus Edy Sucipto – Humas Kolese Kanisius

Pelayanan Gereja

Menampilkan Wajah Mengasihi Penuh Ketaatan

Paroki Tangerang mengadakan misa syukur HUT RI ke-77 yang bertemakan “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat” pada Selasa, 17 Agustus 2022 pukul 08.30 WIB. Misa yang sederhana namun khidmat ini dihadiri oleh segenap umat Gereja HSPMTB. Ekaristi  yang dipimpin Pater Ignatius Suryadi Prajitno, S.J.  ini dibuka dengan mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Di dalam perayaan ini, tampak Pastor Kepala, Pater Walterus Teguh Santosa, S.J. berada di tengah-tengah kursi umat. Di dalam kotbah, Pater Suryadi mengungkapkan bahwa melaksanakan arahan pemerintah terkait protokol penanganan pandemi COVID-19 menjadi bagian dari pelaksanaan prinsip keadilan serta menampilkan wajah mengasihi dengan penuh ketaatan. Terlebih dalam iman kita, menampilkan wajah mengasihi yaitu mengasihi kehidupan dan sesama serta menjadi berkat bagi semua orang. Di penghujung perayaan Ekaristi sebelum berkat penutup, Pater Suryadi mengajak semua yang hadir untuk mengikuti upacara detik-detik proklamasi yang disiarkan langsung dari istana merdeka Jakarta melalui layar videotron yang terpasang di dalam gereja. Kontributor: Redy – KOMSOS Tangerang

Feature

That’s How Our Love Is

Sayup-sayup bunyi kereta api perlahan menyambutku setelah helm dan motor bututku terparkir rapi di parkiran Stasiun Tugu. Setiap Sabtu siang paruh semester ini, aku memiliki suatu kebiasaan baru, yaitu membelah kota Jogja dari Jalan Kaliurang hingga Stasiun Tugu. Lingkungan depan Stasiun Tugu itu dikelilingi oleh hotel-hotel berbintang dan juga ruko-ruko mewah yang mungkin hanya dikunjungi oleh orang-orang yang berada. Orang-orang di sana ramai berlalu lalang dan sibuk dengan perjalanannya. Namun sayangnya, bangunan-bangunan yang tampak megah itu seakan menutup suatu realita lain di sekitar stasiun tugu. Apabila kita berjalan ke arah timur, kita akan berjumpa dengan pemukiman padat penduduk yang dikenal sebagai salah satu area lokalisasi yang bernama Bong Suwung. Nama “Bong” atau “Ngebong” tak terlepas dari sejarah daerah tersebut yang konon katanya merupakan bekas makam orang-orang Tionghoa. Sebenarnya, tempat tinggal yang mereka huni sekarang juga merupakan bangunan yang berdiri di atas tanah milik PT KAI. Jujur, karena sudah lama berdinamika dengan mereka, ada satu ikatan emosional yang membuatku sedikit khawatir, bagaimana jika sewaktu-waktu PT KAI meminta hak mereka dan menggusur secara paksa orang-orang yang ada di situ. Perjalanan dinamika bersama teman-teman di Bong Suwung dimulai dari kami, para mahasiswa semester 5 Fakultas Teologi Wedhabakti, yang mencari tempat untuk pengabdian sosial. Waktu itu, salah satu rekanku yaitu Fr. Aang secara kebetulan melihat postingan temannya di Instagram yang mengunggah kegiatan mengajar anak-anak di Bong Suwung. Melihat peluang ini, kami pun langsung tertarik untuk bergabung dengan para volunteer yang mengajar di sana. Kami kemudian diminta untuk menghubungi Pater Pieter, S.J. yang merupakan penanggung jawab Yayasan Realino, sebuah yayasan dari Kongregasi Serikat Jesus yang menaungi kami dalam kegiatan mengajar di Bong Suwung. Pertemuan dengan Pater Pieter bagiku secara pribadi merupakan satu pertemuan berahmat karena beliau adalah pribadi yang sangat easy going dan humble serta banyak mengajarkanku hal-hal yang secara langsung mungkin tak disadari olehnya. Singkat cerita, Pater Pieter sangat terbuka dan senang dengan kehadiran kami untuk bergabung bersama mereka. Kami kemudian diberi kesempatan untuk berdinamika bersama dengan anak-anak di Bong Suwung setiap Sabtu dan di daerah Jombor setiap Kamis. Di Jombor hal yang diajarkan adalah pendidikan Bahasa Inggris dasar untuk anak-anak SD. Selain itu, para voluntir di sini juga memfasilitasi pembelajaran bahasa Inggris untuk beberapa anak yang sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sedangkan di Bong Suwung, kami diminta untuk mengajarkan kemampuan-kemampuan dasar dalam mengembangkan keterampilan dan kreativitas seperti melipat origami, membuat pigura dari barang-barang bekas, menuliskan dan menggambarkan cita-cita mereka, dan lain-lain. Dalam setiap dinamika yang ada, kami selalu berusaha memberikan suasana keceriaan dengan mengadakan beberapa game sederhana serta reward kecil-kecilan untuk mereka yang sudah hadir. Dari kedua tempat itu, jujur Bong Suwung lebih menantang untukku. Anak-anak di sana sangat aktif, terlampau aktif maksudnya. Kami harus sedikit bekerja keras untuk bisa membangun suasana yang kondusif di Bong Suwung. Mereka adalah anak-anak yang notabene berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Latar belakangnya pun berbeda-beda. Ada yang sudah putus sekolah. Ada yang bapaknya entah di mana. Ada yang diasuh oleh neneknya sejak kecil, dan lain-lain. Mereka adalah anak-anak yang sangat butuh untuk diperhatikan. Mereka juga mempunyai kebutuhan akan hiburan dan kebersamaan yang membuat mereka terlampau asyik bila sudah berkumpul dan bermain bersama teman-teman seusia. Terkadang, ada rasa emosi dan gemes dengan tingkah laku mereka. Namun, kami sendiri memang telah sepakat untuk tidak berlaku keras kepada mereka. Misi kami memang untuk mencintai mereka setulus mungkin. Kami tahu bahwa sebagian anak di sana itu dididik dengan cukup keras oleh orangtuanya. Aku bahkan pernah melihat sendiri orangtua yang “ringan tangan” dan “ringan ucapannya” ketika sedang memarahi anaknya. Oleh sebab itu, kami membuat kesepakatan untuk sebisa mungkin tidak menegur anak secara keras, baik fisik maupun kata-kata. Satu pengalaman yang membuatku terkesan berdinamika bersama dengan anak-anak di Bong Suwung adalah ketika kami mengadakan rekreasi bersama di Galaxy Waterpark. Di tempat tersebut, aku sangat terkesan dengan senyum dan kebahagiaan yang sederhana dari mereka. Aku merasa bahwa mereka adalah adik-adikku sendiri. Aku dan para volunteer yang lain mengawasi dan menjaga mereka di kolam sebagaimana seorang kakak menjaga adiknya. Kami tertawa bersama ketika berselancar, memacu adrenalin di sebuah perosotan yang cukup mengerikan di tempat itu. Kebersamaan di Galaxy Waterpark menurutku menjadi sebuah moment untuk melepas kecanggungan-kecanggungan yang masih ada ketika proses dinamika di Bong Suwung berjalan. Terlepas dari itu semua, pernah terbersit di pikiranku. ”Apa sih sebenarnya kegunaan kami di mata mereka? Apakah melipat kertas, membuat baling-baling, mewarnai gambar, merangkai manik-manik akan berpengaruh bagi kehidupan mereka?” Pertanyaan itu kemudian menemukan jawabnya ketika setiap kali aku ke sana dan melihat senyum mereka. Kehadiran kami di sana mungkin tak serta merta mengubah situasi sosial ataupun masa depan mereka. Namun demikian, aku merasa kehadiran para volunteer di sana akan selalu membawa cinta yang besar bagi hidup mereka nantinya. Kesempatan bersama mereka secara pribadi bagiku menjadi sebuah blessing in disguise, rahmat yang tersembunyi. Walaupun aku, secara bebas, telah memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai seorang calon imam di awal Agustus lalu, aku masih diberi peluang rahmat untuk tetap menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarku. Melalui pengalaman mengajar di Bong Suwung, maka cinta, kasih dan kebahagiaan semakin terukir nyata dalam bentuk keterlibatan. Sesederhana melihat anak kecil yang bertengkar, menangis, dan kemudian mudah memaafkan walau nantinya bertengkar lagi. That’s how our love is. Aku menemukan cinta itu ada. Lalu bahagia yang sederhana kemudian memperoleh definisi yang nyata. Aku menemukan bahwa itulah sejatinya arti dari seluruh ungkapan dinamika kami dalam melipat kertas, membuat baling-baling, merangkai manik-manik ataupun menuliskan mimpi-mimpi sederhana dengan dibalut dengan canda, tawa, dan kadang air mata. Aku sangat setuju dengan Ayu Utami dalam novelnya yang berjudul Saman bahwa Paulus menghabiskan seluruh hidupnya untuk berbicara tentang kasih, namun kasih tanpa keterlibatan adalah satu pengalaman yang tak dapat diringkus oleh kata-kata. Aku berharap agar semakin banyak orang mampu untuk menjadi agen-agen kebaikan di manapun mereka berada karena aku selalu percaya bahwa sekecil apapun kebaikan yang diusahakan oleh seseorang, tak pernah mengubah esensi dari kebaikan itu sendiri. Ad Maiorem Dei Gloriam! Kontributor: Yohanes Agil Parikesit

Karya Pendidikan

United by Value, Moved by the Future

Reportase WUJA (World Union of Jesuit Alumni) United by Value, Moved by The Future menjadi tema kongres ke-10 World Union of Jesuit Alumni (WUJA) yang berlangsung di Barcelona, Spanyol, 13–17 Juli 2022 dan bertempat di Kolese St. Ignatius Loyola, Barcelona, Catalan – Jesuitas de Sarriá San Ignacio. Kongres X WUJA kali ini dihadiri oleh sekitar 300 alumni kolese atau universitas Jesuit dari tujuh benua di dunia. Kongres X WUJA merupakan sebuah momen bersejarah dalam perjalanan AAJI (Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia) sejak berdirinya di tahun 2007. Mimpi untuk bisa mengirim kontingen besar mewakili Indonesia di Kongres WUJA akhirnya tercapai di tahun 2022 ini. Di kongres-kongres WUJA sebelumnya, AAJI hanya mengirimkan satu dua orang perwakilan saja. Secara khusus, pada kesempatan ini kontingen Indonesia memiliki misi khusus untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah kongres WUJA XI. Oleh karena itu, kehadiran kontingen Indonesia dalam jumlah besar selain untuk mengobservasi dan belajar terkait bagaimana menyelenggarakan Kongres WUJA, juga untuk menunjukkan keseriusan Indonesia sebagai tuan rumah kongres selanjutnya. Tidak main-main, pada kesempatan ini, Indonesia diwakili oleh 39 peserta dari delapan Kolese di Indonesia. Yang sangat membanggakan adalah bahwa di antara peserta kontingen Indonesia terdapat satu peserta senior yang merupakan mantan Menteri Pertahanan Indonesia dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Bapak Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D. Berbagai persiapan pun dilakukan agar matang saat menghadiri kongres, misalnya pembekalan rohani (rekoleksi) yang dilakukan sebanyak empat kali sebelum keberangkatan. Setiap peserta juga sudah terbagi ke dalam enam kelompok, dimana setiap kelompok melakukan pertemuan secara virtual sebanyak dua hingga tiga kali dan dibimbing oleh pendamping ahli di setiap topiknya. Hal tersebut dilakukan karena pada saat kongres akan dilakukan diskusi panel yang membahas enam topik, yaitu ecology, migration, role of women, religion, social innovation, dan technology. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Setelah melakukan perjalanan selama lebih kurang 18 jam, pada 13 Juli 2022 pukul 08:35 waktu setempat para peserta tiba di Barcelona Spanyol. Agenda pertama yang dilakukan adalah audiensi dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Kerajaan Spanyol, Bapak Ir. Muhammad Najib, MSc. Selesai audiensi dilanjutkan ramah tamah dan kontingen Indonesia langsung bertolak ke Kolese St. Ignatius Loyola, Barcelona, Catalan – Jesuitas de Sarriá San Ignacio untuk melakukan registrasi ulang dan mempersiapkan diri mengikuti Misa Pembukaan Kongres di sore hari. Misa pembukaan bertempat di Basilica Santa Maria del Mar yang dilakukan secara konselebrasi. Pater Jenderal Arturo Sosa menjadi selebran utama didampingi konselebran Pater Provinsial Spanyol P Antonio España, S.J., P José Alberto Mesa, S.J. – Sekretaris Komisi Pendidikan Serikat Jesus; P William Muller, S.J., – Pembimbing Rohani WUJA; P Enric Puiggròs, S.J. – Delegat Platform Kerasulan Catalonia, dan Rektor Basilika Santa Maria del Mar, Mn. Salvador Pie i Ninot. Dalam homilinya, P Antonio España, S.J. menyampaikan “tiga aspek mendasar” yang harus menjadi panduan Kongres ini, yaitu komunitas, nilai-nilai Ignatian, dan melihat ke masa depan. Di dunia kita saat ini, kita menghadapi tantangan yang begitu kompleks, kita bisa saja diliputi kebisuan, ketakutan, atau kesepian. Mengingat hal ini, kita harus bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa kita tawarkan kepada sesama untuk membangun komunitas baru. Ia juga mengingatkan bahwa “kita tidak dapat berasumsi bahwa karena kita adalah alumni kolese Jesuit, lalu kita sudah tahu nilai-nilai Ignatian dengan baik. Tidak selalu demikian. Nilai-nilai kita harus mengarahkan kita untuk menjadi manusia bagi sesama seperti yang dilakukan P Pedro Arrupe, SJ bertahun-tahun yang lalu. Selain itu juga hendaklah menjadi orang-orang yang teliti, kompeten, penuh kasih, dan berkomitmen seperti dikatakan Pater Kolvenbach, S.J.” Di akhir homilinya, ia berpesan bahwa kita diundang dalam komunitas universal ini untuk memikirkan kembali kontribusi kita berdasarkan nilai-nilai Ignatian untuk masa depan. Pentinglah agar itu dapat dilakukan bersama-sama dan menyadari bahwa kita tidak sendiri. Setelah misa, kegiatan hari pertama ditutup dengan Opening Reception yang bertempat di Palau Requenses. Hari kedua dan ketiga kongres dibuka dengan perayaan Ekaristi di Kapel St. Ignatius yang kemudian dilanjutkan dengan seminar yang membahas enam topik utama Kongres X WUJA. Topik tentang ekologi dibawakan oleh Mary Evelyn Tucker dengan makalah Ecological spirituality and Ecological justice for Our Time; migrasi dibawakan oleh Cristina Mazanedo dengan makalah Contemporary migration and social transformation; dan peran perempuan oleh Nudia Calduch dengan makalah Women-Church-World, a Challenging Triad. Tiga topik lainnya, yaitu teknologi dipresentasikan oleh Albert Florensa – Making sense of Technology; the need for indifference; agama oleh P Laurent Basanese, S.J. – The Potentials of Religions in Reconciliation; dan inovasi sosial oleh Lisa Hehenberger –Empowering people to use their business skills for Social Impact. Setelah presentasi, setiap hari, semua peserta akan dibagi ke dalam kelompok kecil berdasarkan topik yang sudah dipilih kemudian berdiskusi dengan peserta dari negara lain, bertukar pendapat, dan saling menceritakan kondisi di negara masing-masing. Sore pada hari kedua kongres, berdasarkan minat, para peserta melakukan kunjungan ke organisasi sosial yang dimiliki atau dikelola oleh Serikat Jesus. Ada yang melakukan kunjungan ke tempat migran dan pengungsi di Entrecultures dan Fundacion Migra Studium, kaum marginal dan terpinggirkan di Arrels Sant Ignasi dan Fundacion La Vinya, atau sanggar anak-anak di Centre obert Sant Jaume dan Salut Alta Badalona. Sore pada hari ketiga, para peserta melakukan napak tilas perjalanan St. Ignatius Loyola di Barcelona, yaitu di Casp Jesuit Church, Plaza de Sant Agusti Vell, Marcus Chapel, Plaza de la Llana, Basilica of Santa Maria del Mar, Plaza del Angel, Plaza de los Santos Just I Pastor, Royal Chapel of Palau, dan Cathedral, dan ditutup dengan Official Congress Dinner di Taman Kolese St. Ignatius. Highlight utama penulis di hari kedua dan ketiga kongres adalah para pembicara utama yang membawakan topik mereka dengan sangat menarik, antara lain Pater Jenderal Arturo Sosa dengan Ignatian Framework dan Chris Lowney dengan the Professional Environment: After 50 years of “Cannonball Moments,” will the “Sleeping Giant” Finally Wake Up? Secara khusus dalam pidatonya, P Sosa menyebutkan enam poin kunci sebagai bahan refleksi bersama, yaitu (1) welcoming diversity and fraternal dialogue, (2) we can no longer be without others, (3) Cooperation at the heart of mission, (4) Towards a global community, (5) the Universal Apostolic Preferences, the way of serving our mission of reconciliation and justice, dan

Kuria Roma

Beatifikasi Misionaris Perdesaan, Pater Philipp Jeningen, S.J.

Dalam bulan Juli ini, ada dua orang Jesuit yang secara resmi diakui sebagai “beato” (yang terberkati oleh Gereja). Pertama, pada 2 Juli lalu Pater Solinas, misionaris Sardinia yang menjadi martir pada tahun 1683 di barat laut Argentina. Kedua, pada tanggal 16 Juli ini, Philipp Jeningen, seorang Jesuit Jerman yang mendedikasikan dirinya untuk kesejahteraan rohani banyak orang di seluruh Bavaria. Philipp Jeningen lahir pada tahun 1642 di Bavaria. Setelah ditahbiskan imam, ia menjadi pengkhotbah yang berkeliling di sekitar wilayah-wilayah tertentu di Jerman. Bertahun-tahun, ia tinggal di residensi Basilika Jesuit di Ellwangen. Ia kemudian meninggal dan dimakamkan di sana pada tahun 1704. Kedua beatifikasi ini semakin menambah kemeriahan saat perayaan Tahun Ignatian yang segera berakhir. Provinsial Provinsi Eropa Tengah, Pater Bernhard Bürgler, menulis “Kehidupan Pastor Philipp Jeningen sepenuhnya sesuai dengan spiritualitas Latihan Rohani Ignatius sehingga ia bisa membantu hidup banyak orang diperbarui oleh Tuhan. Berkat bahasanya yang sederhana, gaya hidupnya yang mendidik, dan kedermawanannya, ia memiliki pengaruh besar ke manapun ia pergi. Orang-orang merasa bahwa ia mempercayai perkataannya. Dan mungkin yang lebih penting, ia tidak menuntut orang lain melakukan sesuatu jika ia sendiri tidak mampu melakukannya.” Keinginan untuk menjadi Jesuit sudah tertanam kuat dalam benaknya sejak ia berusia 14 tahun. Tetapi orang tuanya sangat menentang keinginannya itu sehingga ia harus bersabar hingga tujuh tahun lamanya. Ayahnya berubah pikiran setelah ia sembuh dari sakit kerasnya dan mengizinkan Philipp untuk menjadi Jesuit. Akhirnya Philipp masuk novisiat pada 1663. Setelah menyelesaikan studinya, ia pertama kali ditugasi untuk mengajar di perguruan tinggi dan pada tahun 1680 ia diutus untuk memulai kegiatan misionarisnya di Ellwangen sebagai imam sebuah kapel yang didedikasikan untuk Bunda Maria. Kehadirannya menarik banyak peziarah, dan ia memperoleh izin untuk membangun gereja di Schönenberg. Gereja ini segera menjadi tempat ziarah kepada Bunda Maria. Pada masa tersebut, pusat-pusat spiritual seperti itu jarang ditemukan di Jerman. Pada beatifikasi tersebut, Pater Jenderal Arturo Sosa berpesan kepada para Jesuit dan seluruh keluarga Ignatian demikian: “Dalam batu nisannya, Pater Jeningen digambarkan sebagai ‘misionaris yang tak kenal lelah di paroki-paroki Ellwangen di empat keuskupan.’ Bahkan, pekerjaannya sebagai misionaris perdesaan adalah kerasulan sejati dalam hidupnya. Banyak umat Katolik hidup tercerai-berai dan tidak memiliki gembala sendiri, bahkan gereja-gereja dan paroki-paroki yang dihancurkan membutuhkan renovasi. Pater Philip berkeliling negeri, melaksanakan misi dan memberikan retret kepada para imam. Ia terutama peduli pada tentara, tahanan, dan mereka yang dijatuhi hukuman mati. Terlepas dari kesehatannya yang memburuk, ia menjalani kehidupan yang sangat aktif dan terus-menerus memberikan kenyamanan dan bantuan kepada orang-orang. Ekaristi selalu menjadi santapan rohaninya.” Di saat melakukan aktivitasnya, ia mengalami sakit parah sesaat setelah memulai Latihan Rohani dan meninggal pada 8 Februari 1704. Ia dimakamkan di Basilika St. Vitus, Ellwangen. Gerakan untuk proses beatifikasinya dimulai segera setelah kematiannya. Ia sangat dihormati dan tak terhitung kisah atau cerita tentang doa-doa yang dijawab, kesembuhan atas sakit melalui perantaraan doanya, termasuk kesembuhan yang terjadi pada tahun 1985 dan diakui sebagai mukjizat oleh Gereja. Faktor penentunya adalah bahwa Pater Philip tetap menjadi teladan hidup yang masih memotivasi banyak orang hingga saat ini untuk mewujudnyatakan kasih Tuhan. Meski berbeda dengan saat ini, zamannya juga diwarnai luka mendalam akibat perang dan kekerasan. Ketika dia lahir, Perang Tiga Puluh Tahun berada di tahap akhir, dan ketika dia meninggal, Perang Suksesi Spanyol (1701-1714) baru saja dimulai. Dalam kedua perang tersebut, pertempuran yang menentukan terjadi tidak jauh dari Ellwangen. Beatifikasinya menunjukkan kepada kita bahwa melalui orang-orang yang mendedikasikan hidup mereka kepada Injil dengan segenap kekuatan mereka, harapan dan keyakinan merasuki dunia. Banyak peziarah muda yang mengikuti jejak Pater Jeningen dengan berjalan di sekitar Eichstätt dan Ellwangen hingga hari ini. Semoga beatifikasi yang akan datang meneguhkan kesan kepada mereka tentang ketekunan, keberanian, kepercayaan kepada Tuhan, keterbukaan, kesabaran, kebaikan kepada orang lain, dan kemampuan untuk menanggung kesulitan yang dimiliki oleh misionaris Jerman ini. Semoga beatifikasi yang akan datang menjadi kesempatan untuk pembaruan hidup kita dan pekerjaan kita yang berawal dari semangat Latihan Rohani. Semoga Philip Jeningen, peziarah dengan semangat misionaris yang berapi-api, menjadi teladan bagi kita setiap saat dan dimanapun agar kita bisa membuat hadirat Tuhan semakin terlihat oleh banyak orang dan kita dapat bekerja untuk suatu rekonsiliasi yang lebih mendalam berdasarkan keadilan, iman, dan solidaritas terhadap orang miskin. https://www.jesuits.global/2022/07/15/fr-philipp-jeningen-rural-missionary-is-beatified/ diterjemahkan oleh Tim Sekretariat SJ Provindo, pada tanggal 18 Juli 2022

Kuria Roma

Seri Video Berjalan bersama Ignatius Episode 11: Perutusan Bersama – Pembelajaran Dialog dan Keterbukaan

Ketika seseorang memutuskan untuk bekerja sama dengan orang lain dalam suatu kelompok untuk menyelesaikan suatu proyek atau pekerjaan tertentu, pastinya ia merasa yakin bahwa kemampuan atau talentanya bisa membantu kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama. Kolaborasi diartikan sebagai kemauan untuk saling berbagi demi mewujudkan impian bersama. Dalam iman kristiani, semua orang yang telah dibaptis memiliki panggilan yang sama untuk berkolaborasi atau bekerja sama dalam mengemban misi Kristus melalui panggilan masing-masing. Terutama bagi kita dalam keluarga besar Ignasian, kita memaknai kerja sama melalui pelayanan iman dan perjuangan demi keadilan. Melalui cara ini kita berkontribusi dalam usaha rekonsiliasi dengan seluruh ciptaan di dalam Kristus. Kita sebagai Jesuit telah membuat komitmen untuk berjalan bersama orang lain, menghormati dan memperkaya setiap panggilan sebagaimana Roh Kudus memanggil mereka. Kita juga belajar bagaimana ‘Raja Abadi’ dinyatakan melalui mereka ini. Kita ingin menjadi religius, baik sebagai imam maupun bruder, yang semakin lebih baik, mau bekerja sama dengan para awam, imam setempat, lembaga hidup bakti, anggota komunitas-komunitas kristiani lainnya, umat dari agama lain, dan semua orang yang berkehendak baik yang berkarya bagi dunia di mana kebutuhan untuk rekonsiliasi dengan Tuhan dan semua ciptaan semakin nyata, sebuah tempat tinggal yang semakin menyerupai kerajaan yang telah dipersiapkan oleh Yesus sendiri. Kita sebagai Jesuit percaya bahwa kolaborasi dengan orang lain dalam mengemban misi Kristus itu memperkaya dan membantu kita untuk lebih mengenali alasan atau tujuan khusus panggilan kita, membuat kita lebih menghargai bentuk panggilan lain dalam Gereja, dan semakin teguh dalam komitment untuk semua itu. Mengenali diri bahwa kita adalah rekan berkarya dalam perutusan Kristus akan membuat kita semakin rendah hati dan menyadari bahwa kita hanyalah pekerja di ladang panenan yang sangat luas yang bukan milik kita sendiri, dan tidak bisa kita kerjakan sendirian. Dengan demikian, kita memperbarui komitmen terhadap kerja sama dengan Sang Pemilik kebun anggur sehingga kita bersama orang lain, dan dengan menggunakan segala kemungkinan yang ada, ucapan dan tindakan, mewujudnyatakan impian Tuhan bagi umat manusia. Saya mendorong agar kita semua tidak pernah takut membagikan anugerah dan talenta kita demi bersama-sama melayani perutusan Kristus. Kami mengajak Saudara sekalian untuk berdoa, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam komunitas, menggunakan poin doa pada bagian akhir bab sebelas dari buku Berjalan bersama Ignatius yang ditulis oleh Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. (Lihat: Berjalan Bersama Ignatius karangan Arturo Sosa, S.J. terbitan P.T. Kanisius dan Serikat Jesus Provinsi Indonesia, 2021 hlm. 324 – 326).

Provindo

Merayakan Kolaborasi

Tanggal 31 Juli selalu menjadi hari istimewa bagi semua Jesuit di seluruh dunia karena pada tanggal tersebut dirayakan pesta Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus. SJ Provindo merayakannya dengan mengadakan misa kudus yang dihadiri oleh para kolega dan sahabat. Perayaan ini diadakan terpusat di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Jakarta. Misa dipimpin oleh Vikjen KAJ, Romo Samuel Pangestu, Pr. dan didampingi oleh Provinsial SJ Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Pater Agustinus Purwantoro, S.J., Pater Paulus Hastra Kurdani, S.J., dan Pater Yohanes Harry Kristanto, S.J. Selain dihadiri oleh para Jesuit, hadir pula alumni kolese-kolese Jesuit, para donatur, dan kelompok-kelompok pegiat spiritualitas Ignatian, misalnya Magis, SBS (Schooled by the Spirit), CLC (Christian Life Community), dan LRP (Latihan Rohani bagi Pemula). Semua yang hadir merasa sangat gembira dan bersyukur karena hal ini menjadi perjumpaan langsung sejak adanya pandemi. Selain itu, antusiasme ini menunjukkan bahwa hidup Santo Ignatius dan Latihan Rohaninya telah berdampak bagi hubungan mereka dengan Tuhan. Pecahan peluru meriam yang telah melukai kaki Ignatius 500 tahun yang lalu sungguh merupakan campur tangan ilahi yang penuh berkat bagi siapa saja yang menapaki jalan Ignatian. Perayaan ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi sebagaimana ditekankan oleh Pater Jenderal Arturo Sosa. Jesuit tidak bisa berjalan dan bekerja sendirian dalam melaksanakan perutusan menyelamatkan jiwa-jiwa (ayudar a las almas). Kehadiran para rekan berkarya sungguh menjadi dukungan luar biasa bagi pelayanan para Jesuit, khususnya di Provinsi Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Pater Agustinus Setyodarmono, S.J. menceritakan pengalamannya menemani umat awam yang belajar Spiritualitas Ignatian. Dia sangat terkesan saat berjalan bersama banyak orang yang hidupnya diubah oleh spiritualitas Ignatian. Pater Setyodarmono atau Pater Nano mengedit sebuah buku berjudul Jejak yang merupakan kumpulan kesaksian dan refleksi dari mereka yang belajar spiritualitas Ignatian di bawah asuhannya. Dalam buku tersebut, kita dapat menemukan belas kasih Allah terutama dalam saat tergelap kehidupan kita. Salah satu perwakilan rekan berkarya kita, Meifung, berbagi pengalamannya menghidupi semangat Ignatian. Sebagai seorang selibater awam, ia sangat bersemangat dengan spiritualitas Ignatian. Perjumpaannya dengan Allah melalui spiritualitas Ignatian telah memotivasi dirinya untuk mengabdikan diri dalam komunitas SBS agar bisa berbagi berkat dengan banyak orang. Santo Ignatius telah mengajari kita untuk melakukan yang terbaik demi mewujudkan impian. Tetapi di sisi lain, kita harus menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Allah. Inilah yang dinamakan menghidupi tegangan antara tindakan dan kontemplasi di tengah ragam tantangan hidup. Meifung juga menekankan, “upacara penutupan tahun Ignatian bukanlah akhir melainkan permulaan babak baru untuk membawa sukacita bagi mereka yang membutuhkannya.” Pada kesempatan penutupan Tahun Ignatian ini, Serikat Jesus di seluruh dunia mengulang kembali persembahan Serikat Jesus kepada Hati Kudus Yesus. Pater Jenderal meminta semua Jesuit untuk mengulang komitmen pembaktian Serikat Jesus ini sebagaimana pernah dilakukan oleh Pater Jenderal Pedro Arrupe 50 tahun lalu. Kontributor: Alexius Aji Pradana, S.J. & Engelbertus Viktor Daki, S.J.