Pilgrims on Christ’s Mission

Provindo

Provindo

Kaul Akhir Serikat Jesus

Pada Senin, 25 Juli 2022 Serikat Jesus Provinsi Indonesia berbahagia atas pengucapan kaul akhir Pater Bruno Herman Tjahja, S.J., Pater Justinus Sigit Prasadja, S.J., dan Bruder Franciscus Xaverius Marsono, S.J.. Pengucapan kaul akhir ini istimewa karena diselenggarakan bersama dengan Forum Provinsi hari pertama di Kapel Santa Perawan Maria, RR Panti Semedi Klaten. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Provinsial, Pater Benedictus Hari Juliawan S.J., dan dihadiri oleh keluarga kaules serta rekan-rekan Jesuit yang hadir dalam Forum Provinsi. Melalui kaul akhir, para Jesuit ini mempersembahkan diri untuk sepenuhnya menggabungkan diri atau berinkorporasi ke dalam Serikat Jesus. Kontributor: Tim Komunikator

Provindo

Nostalgia di Panti Semedi, Klaten: Sembilan Kebahagiaan Provindo

REPORTASE FORUM PROVINSI “Forum Provinsi akan diadakan secara luring (offline) di RR Panti Semedi Klaten,” demikian kiranya pengumuman Pater Bambang Sipayung, S.J. melalui mailist [internos] tertanggal 4 Juli 2022. Para Nostri kiranya bersorak, “Akhirnya!” Setelah dua tahun “pertemuan sakral” ini diadakan di rumah masing-masing, Forum Provinsi kembali diadakan secara tatap muka pada tanggal 25-26 Juli 2022. Kendati demikian, tersedia pula ruang perjumpaan online bagi mereka yang berhalangan hadir. Secara umum, suasana terasa membahagiakan dan hangat. Aula tampak penuh sesak dan ramai dengan percakapan sebelum akhirnya Pater Bambang Sipayung, S.J. memulai jalannya Forum Provinsi. Kebahagiaan tampak pula dalam kesempatan makan, break, misa kaul akhir, pesta, dan kesempatan-kesempatan partikular lainnya. Kebahagiaan macam apa saja yang dirasakan oleh para nostri? Berikut inilah Sembilan Kebahagiaan Provindo yang terlahir dari nostalgia di Panti Semedi, Klaten. Tumbuhnya Harapan bagi Misi di Papua Pater Christoporus Aria Prabantara, S.J. Forum provinsi yang baru saja dilaksanakan adalah pertemuan yang sudah lama tidak saya alami, semenjak penugasan di Nabire. Pembahasan beberapa postulata internal provindo memberi harapan pada karya-karya di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Khususnya dalam bidang pendidikan. Diharapkan bahwa melalui pendidikan maka Serikat Jesus dapat menyumbangkan sesuatu bagi perkembanganmasyarakat setempat, sekecil apapun. Hasil yang besar bukanlah target utama di daerah ini, namun kontribusi Serikat Jesus dalam pembangunan masyarakat adalah hal yang lebih utama. Tumbuhnya Kemampuan Merumuskan Prioritas Karya Pater Heribertus Dwi Kristanto, S.J. Saya mengikuti Kongregasi Provinsi sedari awal sebagai anggota panitia persiapan (Coetus Praevius). Di satu sisi, saya ‘gemas’ sambil geleng-geleng kepala karena banyak rekan-rekan Jesuit Provindo yang asal-asalan dalam mengisi blangko SOLI. Ada nostri yang penuh afeksi sehingga membubuhkan ucapan ‘salam hangat plus tanda tangan serta nama’ pada blangko, namun ini hanya membuat suaranya menjadi invalid alias hangus. Ada pula yang terlalu semangat melingkari daftar nama-nama pada blangko; akibatnya baru sampai pada abjad N, mereka telah mencapai batas maksimal 25 nama yang boleh dipilih. Itulah mengapa nostri yang namanya diawali dengan W atau Y sedikit saja terpilih. Di sisi lain, saya bangga sambil mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata betul, dalam hal peraturan dan kearsipan Serikat memang luar biasa. Norma-norma yang mengatur kongregasi ini tidak kurang dari 40 halaman!!! Peraturannya sangat detail dan antisipatif terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi, baik pada tahap persiapan maupun pada tahap pelaksanaan kongregasi. Tambahan lagi, saya bangga karena pada saat mendiskusikan postulata terlihat bahwa banyak nostri yang secara serius memikirkan cara hidup dan relevansi kehadiran Serikat di zaman ini; argumen-argumen yang dikemukakan berbobot dan menunjukkan wawasan mereka yang luas. Seolah ini mengafirmasi bahwa Jesuit itu cerdas. Eratnya Persaudaraan antar Nostri Pater Yusup Edi Mulyono, S.J. Forum Provinsi selalu menggembirakan. Mengapa? Forum Provinsi membantu kita semua mengalami perjumpaan dengan saudara seserikat, untuk makin saling mengenal lintas generasi, mempererat persaudaraan dengan percakapan bersama, makan bersama, tukar pengalaman, dan tukar pikiran. Di samping itu, dengan mendengarkan dan mendalami De Statu, kita semua dibawa ke dalam pengalaman bersama sebagai Serikat Jesus Provindo dengan semua segi hidupnya, termasuk konsolasi dan desolasinya. Perasaan dan pengalaman kebersamaan ini meneguhkan masing-masing Jesuit bahwa seperti apapun hidup dan perutusan kita, kita tidak sendiri, selalu bersama Tuhan dan banyak saudara dengan segala talentanya. Mendengarkan rencana strategis provinsi dan dilibatkan dalam diskusi untuk menanggapi yang disiapkan tim perencanaan provinsi, juga sangat positif. Semua dilibatkan dan dapat menyumbang gagasan untuk tubuh Serikat, termasuk anggota termuda yaitu para novis. Yang sangat menggembirakan kita semua adalah perayaan iman bersama yang secara istimewa pada tahun ini ditandai dengan kaul akhir nostri dan tahbisan imamat. Perjumpaan yang Melegakan Kerinduan Fr. Gregorius Agung Satriyo Wibisono, S.J. Setelah dua tahun tidak bertatap muka, tidak mengherankan bila nuansa reuni cukup dominan dalam Forum Provinsi tahun ini. Ada sebuah kerinduan untuk dapat berbincang dan menikmati secangkir kopi di selasar Refter Rumah Retret Panti Semedi, Sangkal Putung. Terdapat berbagai kenangan masa lalu yang diingat, diceritakan, dan dikisahkan kembali. Terdapat pula senda gurau yang agaknya tidak dimungkinkan terjadi jika hanya memanfaatkan kolom chat. Akhirnya, forum provinsi tahun ini menjadi sarana untuk dapat memecah kerinduan pada taraf yang lebih dalam, yaitu mampu berefleksi dan berkontemplasi kemana Sang Raja Abadi menghendaki Serikat Jesus Provinsi Indonesia melangkahkan kaki. Kelugasan Mengambil Keputusan Fr. Jakobus Aditya Christie Manggala, S.J. Dalam Forum Provinsi kali ini saya hanya mengikuti sesi De Statu, pendalamannya, dan makan siang. Dalam waktu yang amat singkat ini atmosfer kebersamaan kembali terasa di antara para Jesuit karena setelah 2 tahun tidak bertatap muka di Sangkal Putung. Tentu ini menjadi perjumpaan yang menarik. Ingatan kembali pada masa menjadi novis dan untuk pertama kalinya mengikuti forum provinsi. Saat itu kami berusaha mengenal para Jesuit senior. Kali ini, ketika sudah teologan, ternyata tidaklah mudah menghafalkan nama – nama para yunior yang jaraknya 6 tahun ke bawah! Pengalaman De Statu kali ini bagi saya adalah yang paling lugas! Saya melihat Provindo yang mulai terbuka dengan berbagai informasi, khususnya mengenai tata kelola keuangan dan karya. Saya merasa penyampaian seperti ini perlu terus dilanjutkan! Keterlibatan Jesuit Muda Fr. Mikael Tri Karitasanto, S.J. Forum Provinsi 2022 kali ini diselenggarakan secara luring. Bagi saya ini sangat berkesan setelah dua edisi sebelumnya diselenggarakan secara daring akibat adanya pandemi covid-19. Sebagai Jesuit muda, saya memiliki kesempatan untuk bertemu dan berbincang secara langsung dengan Jesuit lain yang membuat saya semakin mengenal wajah Serikat. Selain itu, pembahasan dan pendalaman mengenai rencana apostolik provindo juga menjadi agenda yang menarik bagi saya. Melalui sesi ini, tampak bahwa para pembesar Jesuit Provindo memiliki sikap rendah hati dengan mau mendengarkan apa yang disuarakan akar rumput sehingga kegiatan apostolik provindo diharapkan dapat lebih tepat sasaran dan berbuah lebih banyak. Pada sesi diskusi pendalaman rencana apostolik, saya banyak belajar dengan mendengarkan sharing dari Jesuit yang terjun langsung ke lapangan dan berkecimpung di bidangnya. Kegiatan forum ini sangat bermanfaat dan memiliki efek positif. Kebahagiaan Ketujuh: Hospitalitas bagi Rekan Kerja Sdri. Margareta Revita Endah Susanti Forum provinsi tahun ini adalah forum provinsi kedua yang saya ikuti. Untuk pertama kalinya, saya bertemu banyak Jesuit secara langsung. Forum Provinsi tahun ini sangat menegangkan karena saya tidak memiliki bayangan sebelumnya. Sebagai salah satu orang yang mendukung penyelenggaraan acara ini, salah satu hal yang saya khawatirkan adalah jaringan internet karena terdapat

Provindo

De Statu Forum Provinsi 2022: Di Mata Novis

Setelah dua tahun tidak bertatap muka, akhirnya para Jesuit bisa berkumpul bersama di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten untuk menghadiri Forum Provinsi tahun ini. Para novis yang merupakan anggota termuda Serikat Jesus juga diundang untuk mengikuti Forum Provinsi selama dua hari, yaitu Senin-Selasa (25-26/7/2022). Salah satu sesi yang sangat berkesan dan membuat kami semua semakin mengenal Serikat lebih dalam adalah presentasi De Statu 2022 dari Pater Provinsial. Dalam pembahasan awal De Statu, ada pernyataan yang menarik, yakni pandemi membuka mata kita terhadap berbagai macam hal, baik secara pribadi maupun kelompok. Pandemi hendaknya tidak dilihat sebagai sesuatu yang melulu negatif sehingga kita dilingkupi bayang-bayang kecemasan. Pandemi jika dilihat secara lebih jernih dan positif membuat kita menangkap bahwa ada persoalan-persoalan mendasar yang terjadi, yakni ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Ini adalah cara pandemi membuka mata kita terhadap realitas yang ada. Kita tidak hanya berpangku tangan melihat hal ini. Kita dipanggil untuk berperan aktif dalam menangani akar persoalan yang terjadi. Kita dipanggil untuk memberi makna bagi hidup ini. Di bagian promosi panggilan ada bagian yang menarik, yakni ada beberapa calon yang mengenal Serikat melalui media sosial. Kehadiran media sosial saat ini memang sangat sulit untuk dihindari. Namun, kita tidak perlu melihat media sosial sebagai musuh yang membawa arus negatif dan karena itu patut dijauhi. Serikat Jesus menjadikan media sosial sebagai sahabat yang membawa arus positif. Melalui beberapa akun media sosialnya, seperti @jesuitinsight, @prompangsj, dan @jesuitindonesia, Serikat Jesus ingin mewartakan sesuatu yang baik dan berguna bagi sesama. Serikat juga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau kaum muda sehingga bisa mengenal Serikat Jesus dengan lebih dekat dan memiliki semangat untuk mengikuti Yesus di bawah panji salib. Pada bagian karya, melalui Examen Karya yang telah diinisiasi dari tahun 2017, karya-karya yang sekarang ada menjadi lebih terfokus dan terarah sehingga mendukung perkembangan Serikat Jesus Provinsi Indonesia dengan sangat baik. Pater Provinsial juga dengan tegas memberikan pengarahan pada semua pemimpin karya bahwa setiap karya harus mampu membiayai dirinya sendiri, jika tidak mampu maka karya tersebut harus dipertimbangankan lagi, apakah mau dipertahankan atau tidak? Pandemi yang berlangsung lama juga memaksa Pater Provinsial dan tim untuk mengukur kembali setiap karya terutama yang terkena dampak pandemi. Hebatnya, dari karya-karya yang bertahan atau dipertahankan, Serikat Jesus Provinsi Indonesia semakin bertumbuh di tahun ini. Dalam bagian karya juga dibahas mengenai kehadiran Serikat di Papua. Kita bersyukur karena Serikat tidak memperhitungkan soal apakah ada keuntungannya atau tidak. Hal ini memang penting namun bukanlah prioritas teratas. Semangat dasar kehadiran Serikat Jesus di Papua, yakni panggilan untuk mereka yang paling membutuhkan di negeri ini, adalah semangat yang menjiwai tujuan Serikat Jesus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ini juga merupakan gambaran nyata semangat “cuma-cuma.” Semangat dasar tanpa memperhitungkan untung dan rugi demi pelayanan dalam kasih Kristus. Semangat ini pula yang membuat karya-karya Serikat masih tetap eksis sampai saat ini. Karya Serikat Jesus termasuk juga formasi awam, yakni spiritualitas, kaderisasi, orang muda, dengan visi kolaborasi dalam perutusan. Kami menyadari bahwa Gereja bukan hanya milik para imam, melainkan juga umat awam. Melibatkan awam dalam perutusan kita sungguh-sungguh menghadirkan Gereja yang sebenarnya. Ini pun membangun semangat berjalan bersama Gereja (sinodalitas). Umat awam merasakan secara lebih dekat kehidupan bermasyarakat dan dengan melibatkan umat awam kita bisa membangun semangat tersebut. Selain itu, kaum muda juga menjadi bagian yang penting. Merekalah penerus-penerus Gereja masa depan. Bisa juga terjadi dengan melibatkan kaum muda maka akan muncul benih-benih panggilan menjadi imam, biarawan-biarawati. Dalam bagian formasi, Pater Provinsial memberikan update tentang bagaimana perkembangan orang muda serikat yang menjadi tumpuan Serikat di masa depan. Program Formasi yang solid dan formator yang berdedikasi menjadi salah satu kunci keberhasilan formasi di Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Namun, ada juga yang disoroti oleh Pater Provinsial yaitu kemampuan akademis dalam bahasa Inggris dan menulis yang semakin menurun di tengah perkembangan digital. Selain itu, dalam bagian formasi dibahas tentang kelelahan dan kejenuhan selama masa pandemi. Pater Provinsial juga mengatakan bahwa para skolastik menjadi kecanduan internet, mengalami adiksi medsos, dan pornografi. Ini juga ternyata berdampak pada kemampuan akademis tadi. Kehadiran internet dengan daya visualnya yang besar membuat orang muda zaman sekarang menjadi asing dengan hal-hal berkaitan dengan baca tulis. Kejenuhan dan kelelahan ini bisa diolah menjadi sesuatu yang berharga, misalnya olahraga, kerja tangan, dan bermain musik, atau mengembangkan bakat dan hobi yang diminati. Hal ini disimpulkan oleh Pater Provinsial dengan menegaskan pentingnya Serikat mengenal orang-orang muda Serikat di zaman digital ini. Pelaksanaan UAP juga menjadi salah satu sorotan Pater Provinsial dalam presentasi De Statu 2022 ini. Sebanyak 33 karya telah menyusun rencana apostolis untuk implementasi UAP dan akan dilanjutkan dengan perencanaan apostolik di tingkat Provinsi. Dari paparan Pater Provinsial, ada tiga jenis reaksi terhadap UAP yaitu pertama, sekadar menamai hal-hal yang sudah terjadi sesuai UAP; kedua, membuat kegiatan-kegiatan baru; dan yang ketiga, terinspirasi dan melakukan perubahan penting. Ditegaskan juga bahwa reaksi ketiga adalah yang ideal karena UAP ditanggapi sebagai ajakan untuk berubah untuk mencapai cita-cita yang besar melalui proses diskresi bersama. Oleh karena itu, kita semua diajak untuk ikut terlibat dan berani untuk berubah melalui pelaksanaan UAP ini dari lingkup terkecil yaitu diri kita sendiri hingga lingkup yang terbesar. Provindo ternyata juga menjadi bagian yang sangat penting di level konferensi (JCAP). Sumbangan Provindo terhadap konferensi ternyata memberikan dampak kepada negara-negara yang menerima bantuan. Dari program tersiat di JCAP, kuria JCAP, sekretariat sektoral JCAP, dan juga sumbangan dalam bidang formasi yaitu dengan mengirimkan formator ataupun menerima skolastik dari berbagai negara untuk menempuh pendidikan di Indonesia, diantaranya skolastik dari Myanmar, Thailand, MAS (Malaysia-Singapore), Pakistan, dan Timor Leste. Provindo juga akan mendapatkan tanggung jawab Regio Thailand sebagai regio dependent dan juga mendapatkan permohonan untuk membantu misi Pakistan. Pada bagian finansial yang biasanya merupakan bagian yang sensitif pun dipresentasikan dengan sangat jelas dan gamblang oleh Pater Provinsial. Hal membanggakan, bahwa di tengah pandemi dan kesulitan yang dihadapi, Serikat Jesus Provinsi Indonesia masih mampu memiliki financial statement yang sehat dan mengalami keuangan yang surplus. Sebanyak sembilan komunitas dari total 15 komunitas mengalami surplus di tahun 2020. Hal ini tidak terlepas dari peran benefactor dan juga pihak-pihak yang membantu Serikat mengelola investasi keuangan dan menghasilkan keuntungan yang membantu Serikat dalam menjalankan operasional

Provindo

Menggali Kelanjutan Kisah: Misi Para Jesuit di Luar Jawa Abad ke-19

Serikat Jesus Provinsi Indonesia tahun ini merayakan 50 tahun pendiriannya sebagai provinsi. S Kurang lebih seabad sebelumnya para misionaris dari Provinsi Belanda sudah mendahului hadir di Indonesia. Selama dasawarsa-dasawarsa tersebut, sejarah kehadiran para Jesuit di Nusantara berkelindan dengan sejarah perkembangan Gereja Indonesia sendiri.  Atas undangan Vikaris Apostolik Batavia Mgr. P. Vrancken, dua Jesuit Belanda pertama menjejakan kaki di Batavia pada tanggal 9 Juli 1859. Setelah mereka, datanglah menyusul para misionaris Jesuit lain yang tak sampai sepuluh tahun kemudian telah menyebar ke berbagai penjuru nusantara. Menariknya, sebelum awal abad XX, Jawa bukanlah fokus misi Jesuit. Para misionaris Jesuit ini justru membanting tulang di wilayah nusantara yaitu dari Sumatera sampai Kei dan dari Sulawesi sampai Flores Mereka mewartakan Yesus Kristus kepada masyarakat dari beragam suku dan bahasa. Masa inilah yang ditilik oleh Fr. Kefas, Fr. Tete, Pater Dam, dan Pater Hasto sebagai sebuah masa yang jarang diketahui oleh khalayak umum mengingat sudah begitu melekatnya identitas SJ sebagai “Serikat Jawa”. Tilikan tersebut dituangkan dalam webinar “Menggali Kisah: Misi Para Jesuit di Luar Jawa Abad ke-19” pada 12 Juni 2022 kemarin yang dipandu oleh Ketua Museum KAJ Ibu Susyana Suwadie.  Luasnya wilayah misi membentangkan luasnya ragam kisah para Jesuit pula. Di Sumatra, perhatian khusus diberikan pada para buruh migran pada waktu itu yang banyak berasal dari India (di Medan) dan Tionghoa (di Sungai Selan, Bangka). Di pucuk Sumatra, yaitu Aceh yang sedang dilanda perang, para Jesuit memberikan reksa rohani sebagai pastor-tentara. Di Kalimantan, para Jesuit berkarya di antara masyarakat Dayak dengan membangun gereja dan mengajarkan cara-cara pertanian. Di wilayah Minahasa, tantangan terbesar yang dihadapi para Jesuit adalah relasi dengan pemerintah kolonial yang tidak mudah dan gesekan dengan misi Protestan yang sudah hadir terlebih dahulu. Sebaliknya, di Kendari dan Kei, kegiatan misi justru sangat didukung oleh pemerintah kolonial tetapi mendapat tantangan dari raja-raja setempat yang sudah memeluk Islam. Di wilayah Flores dan Timor para Jesuit menikmati hasil manis dari misi yaitu banyaknya jumlah baptisan. Akan tetapi, pada akhirnya Serikat Jesus justru berani melepaskan wilayah tersebut pada saat “buah telah siap dipanen” dan dengan besar hati menyerahkannya pada para pater SVD untuk melanjutkan karya baik di sana. Para Jesuit menyadari bahwa mereka hanyalah para pekerja dan bukannya pemilik kebun anggur. Walau beragam, kisah-kisah para Jesuit ini menunjukkan dedikasi dan perjuangan yang luar biasa bagi perkembangan Gereja di Nusantara dan turut membentuk wajah Gereja Indonesia saat ini. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk memusatkan diri di Jawa yang waktu itu jauh dari gambaran zona nyaman dan sama artinya dengan memasuki ketidakpastian.  Narasi tersebut ditanggapi oleh Sdr. Frangky Wullur, jurnalis Berita Manado yang punya minat pada sejarah Gereja di Minahasa dan Pater A. Eddy Kristianto, OFM, dosen Sejarah Gereja di STF Driyarkara. Pater Eddy, selain memberikan berbagai catatan kritis secara akademik, juga melihat bahwa presentasi tersebut mengambil sikap kesejarahan yang tepat, yaitu tidak hanya mengagungkan masa lalu tetapi menjadi bagian dari cara merumuskan diri untuk langkah laku selanjutnya. Tanggapan Pater Provinsial juga semakin membadankan refleksi keberlanjutan kisah dengan menjelaskan arah perutusan Provindo.  Dengan kembali menilik kisah-kisah mereka, terutama pada peringatan lima puluh tahun sebagai provinsi, Provinsi Indonesia Serikat Jesus di zaman ini masih terus dapat menimba semangat pada para pendahulu. Dengan permohonan agar para Jesuit Indonesia sekarang kembali diminta kehadirannya di tempat-tempat yang dulu telah ditinggalkan, kiranya kisah para pendahulu ini dapat memberi inspirasi ketika kembali ke wilayah yang sama. Kisah di masa lalu masih belum selesai dan sekarang masih akan berlanjut. Akhir kata, dengan bahasa Pater Eddy, kita bisa memandang para Jesuit pendahulu kita tersebut sebagai mereka yang telah menunjukkan “kegigihan, keuletan, pengerahan daya-daya manusiawi setinggi mungkin yang dibalut dengan idealitas, dan mimpi-mimpi luhur mulia tentang totalitas melayani Gereja dengan menyebarkan Injil…” Kontributor : Daud Kefas Raditya, S.J. dan Teilhard A. Soesilo, S.J.

Provindo

Biar Anak-anak Datang KepadaKu

Membaca judul tulisan ini pasti sebagian dari kita langsung terbayangkan pada sepenggal syair nyanyian gerejani dalam Puji Syukur yang berjudul serupa. Awalan syair yang tercipta indah ini memang adalah sabda Yesus sendiri untuk meminta kepada para muridNya supaya tidak mengusir anak–anak yang hendak datang padaNya. Sungguh perbedaan yang kontras dimana para murid melarang anak-anak untuk datang kepada Yesus, manakala saat itu Yesus sedang lelah setelah banyak melakukan pekerjaanNya. Yesus tidak pernah lelah dalam melayani umatNya terutama anak-anak kecil yang hendak datang padaNya karena dari anak-anak kecil inilah sesungguhnya kita belajar tentang sebuah ketulusan dalam menyambut Yesus itu sendiri dalam diri kita tanpa adanya penghalang apapun.  Terkait hal serupa dengan Yesus, kemudian diadaptasi langsung oleh Santo Ignatius Loyola dalam sebuah dokumen pengesahan berdirinya institusi Serikat Jesus yakni dokumen surat kegembalaan Regimini Militantis Ecclesiae yang ditulis oleh Paus Paulus III tahun 1540. Dalam dokumen tersebut dituliskan bahwa siapa saja yang ingin berjuang sebagai prajurit Allah dengan cara menyelamatkan jiwa-jiwa, melalui aneka bentuk pelayanan sabda Allah, diantaranya adalah mengajar agama kristiani kepada anak-anak dan orang sederhana. Dari pengalaman Santo Ignatius pulalah, ketika dirinya berada di Barcelona yakni dengan ikut duduk bersama dalam satu ruangan untuk belajar bahasa latin bersama dengan anak-anak kecil. Hal ini yang mendasari Santo Ignatius Loyola untuk merumuskan Formula Institusi Serikat yakni meminta kepada siapa saja yang ingin bergabung dalam serikat haruslah berkehendak untuk memberi pengajaran agama kristiani kepada anak-anak kecil. Maka sudah sejak awal pendidikan formasi di novisiat para novis diharapkan untuk dapat melakukan hal serupa yakni memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk anak-anak. Dalam hal ini sasarannya adalah anak-anak sekolah dasar yang ada di sekitar novisiat Girisonta. Bulan Mei 2022 yang lalu menjadi kesempatan bagi kami seluruh novis tahun pertama dan kedua untuk merasakan memberi pelajaran kepada anak-anak sekolah dasar. Kegiatan ini dikemas sebagai salah satu praktek dalam studi katekese yang sudah kami pelajari. Sebanyak dua kali dalam bulan tersebut, kami mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk bisa memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti. Sekolah yang kami tuju adalah sekolah SD Kanisius Girisonta dan SD Kanisius Jimbaran. Ada tantangan tersendiri dari masing-masing sekolah tersebut sehingga memunculkan daya kreativitas dari masing-masing novis agar bisa luwes dalam memberikan pelajaran karena sebagian besar dari para novis belum pernah menjadi guru sebelumnya.  Tantangan tersebut yang paling saya rasakan adalah tantangan perbedaan agama yang cukup besar. Saat itu saya diutus untuk mengajar anak-anak kelas satu di SD Kanisius Jimbaran. Saya berpikir akan mudah saja memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk anak-anak di SD Kanisius Jimbaran. Ternyata dari info yang saya dapatkan bahwa hampir tujuh puluh lima persen siswa siswi SD Kanisius Jimbaran memeluk agama non Katolik. Sungguh di luar dugaan saya yang semula mengira bahwa sekolah berlabel SD Kanisius justru sebagian besar siswa siswinya beragama non Katolik. Tantangan lain yang saya rasakan adalah kehebohan dari anak-anak kelas satu yang saya ajar. Ternyata mereka begitu antusias dalam menerima pelajaran. Jadi saya harus mengeluarkan daya-daya kreatif untuk bisa memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti di lingkungan mayoritas non Katolik. Kehebohan yang saya maksud adalah kehebohan yang wajar dilakukan untuk anak-anak usia kelas satu sekolah dasar, mulai dari anak-anak yang sulit diatur, lari sana lari sini, nakal khas anak-anak, hingga mempertanyakan hal-hal diluar dugaan saya misalnya “Bruder itu apa sih..?” “Bruder sekolahnya dimana..?” “Bruder rumahnya dimana…?” dan masih ada pertanyaan lainnya. Tantangan seperti itu tidak lantas menyurutkan niat saya untuk tetap memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk mereka. Justru tantangan ini menjadi gambaran kepada diri saya akan model pewartaan dan perutusan dalam Serikat Jesus kelak. Pada akhirnya saya lebih menekankan akan pelajaran budi pekerti yang lebih pas untuk diserap oleh anak-anak tanpa adanya sekat-sekat perbedaan agama yang begitu kontras. Dikemas dengan aneka kegiatan tematik dan kegiatan bergembira bersama mampu membuat anak-anak lebih mudah menangkap maksud sederhana yang hendak saya sampaikan dalam kelas. Bahkan di hari akhir saya mengajar anak-anak ternyata sangat senang akan pelajaran yangh dibawakan oleh kami para novis dan meminta supaya kami para novis dapat kembali memberikan pelajaran di sekolah mereka.  Inilah gambaran sekelumit cerita pengalaman saya ketika memberikan pelajaran katekese untuk anak-anak. Mereka sangat merindukan sapaan personal dan materi pelajaran yang bisa dikemas menarik. Saya merefleksikan pengalaman ini layaknya seperti pengalaman Yesus sendiri yang diawal tulisan ini meminta supaya anak-anak datang kepadaNya. alam diri anak-anak terdapat benih iman yang murni belum tercemar oleh lewat kemegahan dunia ini untuk menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat mereka. Maka dari itu saya hendak menutup tulisan ini dengan lanjutan syair nyanyian pada awal judul tulisan ini. “Biar anak-anak, datang kepadaKu.” Itu sabda Yesus, Dia memanggilku. Kini aku datang siap mendengarNya, Kini aku datang, Yesus memanggilku. “Biar anak-anak, datang kepadaKu.” Itu sabda Yesus, Dia memanggilku. Dalam kesukaran susah tak terhibur, padaNya kudatang, Yesus memanggilku.     Kontributor : Andreas Elan Budi Santoso, nS.J.

Provindo

Jalan Panjang Misi Jesuit Provindo di Timor Leste

Menemani Rakyat Menuju “Kemerdekaan”  Situasi pelik dan genting di Timor Leste dihadapi oleh setiap Jesuit Provindo yang diutus ke Timor Leste. Namun demikian, keadaan yang menguras emosi itu tak membuat mereka berhenti berkarya. Dengan tetap memperhatikan konteks politik secara cermat, mereka mencoba terus kreatif mendampingi rakyat dan tetap mencari peluang untuk hadir serta terlibat lebih baik lagi. Mereka membangun sikap yang tulus, penuh pertimbangan dan bertindak secara nyata. Totalitas perutusan menjadi modal melakukan perutusan dalam menemani rakyat membentuk identitas mereka sebagai bangsa Timor Leste. Seri webinar ketujuh dalam rangka 50 Tahun Provindo ini berusaha merekam jejak-jejak para Jesuit Provindo di Timor Leste. Nara sumber webinar kali ini adalah Frs. Klemens Yuris, S.J., Vincentius Doni, S.J., Tiro Angelo, S.J., dan Pater Albertus Bagus Laksana, S.J., Hadir sebagai penanggap seperti Pater Joachim Sarmento, S.J. dan Pater L. Dibyawiyata, S.J. yang berada di Timor Leste. Sedangkan Griselda Carlos Moniz, seorang executive communication pada US INGOs Timor menjadi moderator webinar kali ini. Melalui webinar ini diharapkan Provindo dan umat awam yang hadir secara virtual terbantu untuk memetik buah-buah pembelajaran dari perutusan yang menantang dan kompleks itu. Dalam acara yang diselenggarakan secara virtual tanggal 15 Mei pukul 19.30 WIB itu, hadir 65 peserta termasuk Pater Provinsial, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Webinar dimulai dengan pemaparan dari Fr. Tiro mengenai proses pembentukan identitas Timor Leste. Fr. Tiro memaparkan bagaimana sejarah singkat dan pembentukan identitas Timor Leste. Penjajahan Portugal selama dua ratus tahun lebih serta invasi Indonesia turut membentuk identitas mereka. Kesadaran identitas nasional tumbuh di dalam sejarah yang penuh konflik dan kekerasan. Xanana Gusmão dalam pidatonya di hadapan rakyat di tahun 1986 mengobarkan semangat memiliki tanah air Maubere atau persaudaraan. Persaudaraan, di mana setiap orang menjadi “saudaraku”, terbentuk dari sejarah perjuangan dalam penderitaan di bawah penindasan. Pemaparan selanjutnya mengenai memori pengalaman dan keterlibatan para Jesuit Provindo disampaikan oleh Fr. Doni. Dari pemaparannya terungkap bahwa di tengah situasi yang berubah-ubah, para Jesuit tetap setia menggeluti misi di bidang kemanusiaan, pendidikan, pertanian, sosial (pengungsi), dan lain-lain. Situasi yang tidak menentu justru menyebabkan para Jesuit tidak terjebak dalam rutinitas hidup harian mereka sebagai manusia Indonesia, kaum religius yang mengusung nilai-nilai Kristiani, juga manusia biasa dengan seluruh kemanusiaannya. Dengan diskresinya, mereka “masuk” dan “mengakar” dalam perjumpaan dengan rakyat yang menderita dan tertekan. Sikap mau “masuk” ini menjadi pembelajaran penting sebab menjadi wajah pertama yang dilihat rakyat. Di sana ada ketulusan yang akhirnya membuat rakyat di mana Jesuit berada mau mendengarkan suara Jesuit. Sikap ini melahirkan momen-momen perjumpaan sepanjang perutusan yang turut menguatkan hati para Jesuit serta turut membentuk identitas dan kehendak rakyat Timor Leste. Pada sesi ketiga, Fr. Yuris memaparkan bahwa momen-momen perjumpaan itu menghadirkan semangat rekonsiliasi baik pada Jesuit yang diutus dan pada rakyat Timor yang dilayani. Rekonsiliasi yang solid berangkat dari sebuah kedalaman akan kehadiran. Ini adalah usaha dalam rangka mengangkat martabat rakyat. Di samping itu, rekonsiliasi juga berangkat dari inisiatif rakyat yang menjadi korban. Proses tersebut terjadi secara bersama-sama dalam bentuk berbagi perasaan dan rasa kehilangan yang mendalam. Bagi para Jesuit, pemberian diri pada masyarakat yang dilayani mengantarkan pada buah-buah perutusan, yaitu peneguhan untuk terus setia dalam panggilan. Inilah bentuk rekonsiliasi yang autentik yang hadir ketika ada keterlibatan yang penuh. Rekonsiliasi bukan terjadi dalam waktu yang singkat. Yang terpenting adalah keberanian memasukinya sebab akan mengantar rakyat untuk meraih masa depan yang lebih baik. Tugas inilah yang menjadi tanggung jawab setiap Jesuit. Sebagai penutup pemaparan sekaligus tanggapan atas beberapa pertanyaan yang didiskusikan bersama, Pater Bagus menggarisbawahi setidaknya dua hal penting, yaitu pentingnya sikap realisme yang mengandalkan diskresi dan belajar menjadi misionaris sejati. Sikap yang mengandalkan diskresi akan melihat konteks yang terjadi di lapangan, nilai-nilai Kristiani, serta realitas kebutuhan Gereja dan masyarakat. Realisme yang mengandalkan diskresi ditunjang oleh kemauan mendengarkan dan peka terhadap budaya serta rasa perasaan penduduk lokal. Dua hal tersebut adalah perangkat penting bagi seorang misionaris sejati. Dalam situasi yang tidak stabil, Pater Bagus menekankan perjalanan misi Provindo di Timor Leste adalah sebuah milestone dalam “perjalanan waktu.” Buah-buah misi tidak bisa dibekukan dalam periode tertentu, tetapi akan menjadi jelas dalam perjalanan waktu. Dalam konteks “waktu dan proses” para Jesuit Provindo belajar memaknai seluruh keterlibatan dengan sikap rekonsiliatif serta menjadi bekal perutusan di masa-masa mendatang. Sesi tanggapan dan diskusi menjadi sesi berikutnya sekaligus penutup. Para penanggap seperti yang disebutkan di atas memberikan tanggapan atas pemaparan misi Provindo di Timor Leste. Beberapa hal yang digarisbawahi dalam sesi ini adalah Provindo telah menjadi bagian sejarah Timor Leste yang tentunya berperan dalam membentuk identitas mereka sekarang ini. Aspek kemanusiaan yang ditanamkan dalam setiap ranah perutusan menjadi pendorong dalam pembentukan identitas itu. Bagi Provindo sendiri, misi ini menjadi sebuah rekaman sekaligus refleksi bahwa Jesuit Provindo mampu berkiprah dengan totalitas dalam situasi perutusan yang tidak mudah. Tentunya ini menjadi satu pemantik akan kesiapsediaan menyongsong perutusan serupa sambil memperdalam sebuah perancangan matang akan perutusan di masa depan. Di bagian akhir Pater Provinsial Benedictus Hari Juliawan menegaskan bahwa kita sebagai Serikat Jesus Provindo selalu siap diutus kembali ke Timor Leste bila nanti dibutuhkan. Sejarah memang telah terjadi, namun darinya kita belajar bersama-sama menatap hari depan yang lebih baik. Kontributor : Fr. Vincentius Doni E.S., S.J. – Skolastik SJ

Provindo

Belajar dari Kiprah Jesuit Provindo dalam Reformasi 1998

Tragedi kemanusiaan pada peristiwa Reformasi 1998 memanggil para Jesuit untuk turut bergerak dan berjalan bersama orang muda.  Kaderisasi mahasiswa, formasi humaniora, dan eksperimen sosial merupakan beberapa sarana yang dipakai. Proses tersebut membuat para Jesuit belajar bahwa masa depan orang muda ditentukan salah satunya oleh harapan mereka. Kita semua diundang untuk peka mendengarkan “panggilan Raja Abadi” yang menjadi harapan orang muda pada zaman ini dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik.  Paragraf di atas merupakan gagasan utama hasil penelitian yang dipresentasikan pada Seri Webinar VI 50 tahun berdirinya Provindo. Webinar tersebut diselenggarakan pada hari Minggu, 3 April 2022 pukul 19.30-21.45 WIB. Webinar yang dimoderatori oleh Ibu Sri Palupi ini dihadiri oleh 125 peserta.  Webinar dimulai dengan pemaparan hasil penelitian mengenai keterlibatan Jesuit Provindo dalam peristiwa Reformasi 1998. Pater Mutiara Andalas, S.J. membukanya dengan memberikan kerangka umum. Pemaparan inti dari para presentator webinar dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama dimulai oleh Fr. Antonius Bagas, S.J. dengan menjelaskan peran kaderisasi mahasiswa dan formasi humaniora bagi orang muda pada tahun 90an, khususnya kiprah formasi mahasiswa oleh Pater Ismartono, S.J. di Wisma SJ Depok dan (Alm.) Pater Adi Wardaya, S.J. di Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta.  Di sesi kedua, Fr. Engelbertus Viktor, S.J. menjelaskan peran ISJ sebagai sarana bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk learning by experience. Metode ini memungkinkan banyak orang muda untuk terlibat dan mengalami perjumpaan langsung dengan realitas ‘rakyat tersalib” (kemiskinan, penderitaan, dan kemalangan). Dalam konteks berjalan bersama orang muda, kehadiran ikon sebagai perwujudan harapan disadari sangatlah penting. Ikon memberi dan menjaga nyala api harapan, bahwa di tengah situasi yang rumit dan tidak kondusif, selalu masih ada ruang untuk berharap dan berbuat sesuatu yang berdampak dan berdaya guna bagi diri sendiri dan sesama. Fr. T.B. Pramudita, S.J. sebagai presentator ketiga memaparkan instrumen formasi seorang Jesuit dan buah-buah pendampingan bagi para awam. Salah satu instrumen formasi yang paling sering disebut dalam proses penelitian adalah “Meditasi Panggilan Raja.”  Selain itu, formasi sosial seperti Analisis Sosial di Novisiat, turut membakar nyala api keterlibatan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang tidak bersalah dalam peristiwa Reformasi 1998.  Setelah pemaparan hasil penelitian, Pater Paulus Wiryono, S.J. memberikan tanggapannya guna mengkritisi, memperluas, dan memperdalam pemaparan presentator. Pater Wiryono memberikan pemaknaan mengenai resonansi, yaitu getaran sebaran image dan pesan-pesan individu, komunitas, atau intuisi yang dipantulkan oleh sistem-sistem sosial yang memiliki nada perjuangan yang sama.  Webinar semakin diperkaya oleh sharing personal dari Ibu Maria Sumarsih dan Ibu Karlina Supelli. Dengan berkaca-kaca, Ibu Sumarsih menceritakan bagaimana pengalamannya ditemani oleh beberapa figur Jesuit dalam peristiwa Semanggi I yang menewaskan Wawan, putranya. Pengalaman kehadiran dan ditemani oleh para Jesuit memberi kesan mendalam bagi Ibu Sumarsih. Ibu Karlina memberikan beberapa catatan kritis dan menceritakan betapa tingginya komitmen para Jesuit yang ia jumpai dalam peristiwa Reformasi 1998. Sharing dari Ibu Sumarsih dan Ibu Karlina turut memicu diskusi para peserta. Ada yang menanyakan hal-hal informatif mengenai peristiwa Reformasi 1998, keterlibatan figur tertentu, hingga relevansi hasil presentasi untuk zaman ini.  Akhirnya diskusi ditutup dengan refleksi yang dibungkus dalam perspektif salah satu poin UAP “Berjalan bersama Orang Muda.” Keterlibatan Jesuit Provindo dalam Reformasi 1998 menunjukkan salah satunya komitmen pendampingan dan pelayanan untuk orang muda. Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. dalam bukunya Berjalan bersama Ignatius menyampaikan bahwa “…faktor kuncinya adalah kita harus selalu hadir. Untuk melakukan ini, pertama-tama kita harus dekat dengan mereka (orang muda). Dan kedekatan itu hanya akan ada, manakala ada perjumpaan personal dan (dilakukan) melalui tradisi Serikat dalam pendampingan, yakni cura personalis.” Para presentator merefleksikan bahwa Jesuit tidak perlu menunggu momen seperti Reformasi 1998 untuk melakukan penjelajahan bersama orang muda. Jesuit Provindo diundang untuk mendayagunakan karya-karya yang ada seperti kolese-kolese, universitas, kampus mahasiswa, pelayanan pastoral OMK, dan Yayasan Strada-Kanisius untuk bersama orang muda mewujudkan masa depan yang penuh dengan harapan.  Melalui karya-karya tersebutlah kita dipanggil oleh “Sang Raja Abadi” untuk terus peka dan tidak tuli mendengarkan harapan orang muda saat ini. Harapan orang muda untuk mewujudkan perubahan perlu dipupuk melalui solidaritas berjejaring, difasilitasi melalui eksperimen sosial dan humaniora, serta dikobarkan melalui figur inspiratif. Kontributor : Thomas Becket Pramudita Praba Astu, S.J.

Provindo

Webinar dan Bedah Buku Yesuit dan Muslim

Provindo kembali menyelenggarakan webinar (seri kelima), yang mengulas tema seputar dinamika kehadiran Yesuit di tengah kaum Muslim di Indonesia, pada Minggu, 13 Maret 2022 yang lalu. Webinar ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan untuk menyambut perayaan 50 tahun berdirinya Provindo sebagai provinsi mandiri dan 500 tahun pertobatan St. Ignatius Loyola. Dalam rangka ini, Provindo hendak menggali beberapa peristiwa pokok atau periode sosial, historis, dan eklesial yang penting, yang tidak hanya menjadi latar belakang kiprah dan dinamika Provindo, tetapi juga turut membentuk karakter provinsi. Salah satunya terkait dengan pergeseran paradigma (paradigm shift) dalam dialog agama dan budaya di Provindo, secara khusus yang menyangkut Islam.  Pater Heru Prakosa, Frs. Siwi D. Jati, dan Septian Kurniawan diundang sebagai narasumber utama dalam webinar kali ini. Sebelumnya, ketiga nostri ini telah melakukan kajian khusus dan penelitian atas tema terkait dalam rentang waktu antara Maret sampai dengan Juli 2021. Adapun metode yang digunakan dalam kajian dan penelitian ini secara longgar disebut sebagai metode “genealogi” (Paula Saukko, Doing Research in Cultural Studies, 2003: 115-134), yakni dengan cara merunut serpihan-serpihan data, peristiwa, maupun tulisan guna membangun makna tertentu lewat narasi dan refleksi. Metode ini ditempuh dengan mengkaji kepustakaan dan lapangan, melalui tulisan-tulisan yang bisa diakses, baik yang publik maupun yang tidak, juga melalui wawancara dengan pribadi-pribadi terkait, baik Jesuit maupun non-Jesuit.  Hasil dari kajian dan penelitian tersebut kemudian dipresentasikan secara internal di hadapan para dosen dan mahasiswa STF Driyarkara dan Fakultas Teologi Wedabhakti (24 September 2021), lalu dipublikasikan dalam buku Yesuit dan Muslim (Yogyakarta : Kanisius, 2022). Tidak lama sesudah mempublikasikan buku tersebut, para penulis mempresentasikannya dalam webinar “Conversation on Asian Theologies and Cultures” dengan tema “Jesuit-Muslim Relations in Indonesia: A Paradigm Shift” (9 Maret 2022) yang diselenggarakan oleh JCAP-JCSA. Sesudah itu, hasil dari kajian dan penelitian baru secara publik dipresentasikan dalam kesempatan webinar ini. Adapun tahap yang hendak ditempuh oleh para penulis selanjutnya pasca webinar ini ialah membuat terjemahan ke dalam bahasa Inggris dan juga menerbitkan artikel di The International Journal of Asian Christianity (IJAC). Webinar yang dihadiri oleh kurang lebih 190 jendela zoom ini dikemas dalam format bedah buku Yesuit dan Muslim yang memuat narasi dan refleksi atas karya-karya kerasulan para Jesuit dalam menanggapi tantangan seputar relasi dan perjumpaan dengan kaum Muslim di Indonesia, sejak masa lalu—katakan saja sejak Pater van Lith, S.J.—hingga saat ini. Dalam kerangka ini, peran para Jesuit memang perlu mendapat perhatian, mengingat sejak zaman St. Ignatius Loyola, para Jesuit telah memberikan perhatian yang konsisten untuk terus mau bersentuhan dengan dunia Islam.  Dalam buku Yesuit dan Muslim, dijabarkan pula bagaimana para Jesuit melakukan berbagai model pendekatan untuk menyikapi kebersamaan hidup dalam pelbagai bidang karya, seperti bidang formasi atau pembinaan, intelektual, kemasyarakatan, sosial, pendidikan, paroki dan komunitas basis, retret dan spiritualitas, serta komunikasi dan audio visual. Secara umum, dinamika relasi pendekatan yang ditempuh oleh para Jesuit dengan kaum Muslim di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori: (1) keberadaan Islam disikapi dengan semangat mau berjalan sendiri dalam cara pandang “kami di sini dan kamu di sana”; (2) keberadaan Islam disikapi dalam semangat mau berjalan bersama lewat pendekatan tekstual dengan relasi yang lebih bersifat sepihak atau searah; dan (3) keberadaan Islam dipandang secara kontekstual dengan sikap lebih merangkul lewat semangat mau saling belajar—dalam pendekatan dialogis dua arah. Beberapa tokoh akademisi muslim turut diundang dalam webinar ini, antara lain: Dr. Rhoma Dwi Aria Yuliantri (Dosen Universitas Negeri Yogyakarta) sebagai moderator dan Prof. Syafaatun Almirzanah, Ph.D, D.Min. (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta) sebagai penanggap atas pemaparan para narasumber. Selain itu, diundang pula Pater Heri Setyawan sebagai penanggap yang turut memperkaya narasi dan refleksi. Melalui narasi dan refleksi yang termuat dalam buku ini, diharapkan karya kerasulan Provindo seputar dialog dan perjumpaan antar umat beriman di Indonesia pada umumnya, juga antara umat Kristiani dan Muslim pada khususnya, dapat makin berkembang dan berbuah secara positif. Harapannya, pendalaman tema dalam webinar ini mampu mendukung upaya penyemaian nilai-nilai dialog, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan demi terbangunnya persaudaraan sejati di Indonesia, sebuah negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia ini. Tidak dapat dimungkiri bahwa nilai-nilai tersebut menjadi sesuatu yang signifikan dan sekaligus mendesak untuk terus-menerus dibangun baik oleh para Jesuit maupun seluruh umat beriman di Indonesia. Kontributor : Fr. Siwi D. Jati, S.J.