Pilgrims on Christ’s Mission

Provindo

Provindo

Pertemuan Superior 2025

Pada tanggal 19-21 Juni 2025, Provinsi mengadakan acara untuk para superior. Pertemuan ini cukup baru karena selama ini pertemuan superior digabungkan dengan pertemuan direktur karya. Jumlah superior komunitas 16 orang, Socius termasuk di dalamnya karena menjadi superior komunitas Rumah Provinsialat. Dari jumlah 16 orang, 2 orang superior berhalangan karena harus mengikuti pertemuan di tempat lain. Tema besar pertemuan ini adalah Personal and Apostolic Care. Tiga narasumber yaitu Bapak RY. Kristian Hardianto dan Provincial serta Socius sendiri. Lewat banyak pengalamannya memimpin perusahaan, Pak Kristian membagikan bagaimana memperhatikan kesejahteraan lebih dari 1.000 karyawan, menciptakan budaya suportif di lingkungan perusahaan, dan mendidik karyawan dengan proses formasi.   Pater Provincial mengajak para superior berbagi pengalaman terkait usaha-usaha untuk menemani para anggota komunitas, sekaligus suka-duka masing-masing. Sebelumnya,Pater Socius menyegarkan pengetahuan tentang guidelines sebagai seorang Superior. Di sela-sela pertemuan, diadakan jeep-tour dengan rute menjelajahi kaki gunung Lawu dengan beberapa perhentian: Air Terjun Jumog dan Candi Sukuh. Para superior sangat menikmati dinamika pertemuan ini. Harapannya, semoga pertemuan ini menyemangati para superior dalam melaksanakan perannya di komunitas masing-masing.   Kontributor: Tim Komunikator Jesuit Indonesia

Provindo

Perjumpaan sebagai Jalan Hati

Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia – Indonesia (Pope’s Worldwide Prayer Network – Indonesia, selanjutnya disebut PWPN Indonesia) bersukacita karena bulan Februari lalu, Direktur Internasional PWPN, Pater Cristóbal Fones, S.J. mengunjungi Indonesia. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka mengenal konteks lokal Indonesia dan bagaimana karya kerasulan ini dijalankan, termasuk apa saja yang menjadi tantangan dan peluang untuk pengembangan. Pater Cristóbal Fones, S.J. adalah Jesuit asal Chile yang baru saja resmi menjadi Direktur Internasional PWPN per 1 Januari 2025. Dalam rangkaian kunjungan ke wilayah Asia Pasifik ini, Pater Cristóbal juga mengunjungi Malaysia, Singapura, dan Timor Leste.   Kunjungan di Indonesia berlangsung dari 22-27 Februari 2025. Kegiatan dimulai di Jakarta dengan mengunjungi Paroki Katedral, Terowongan Silaturahim, dan Masjid Istiqlal. Pater Cristóbal juga menjadi konselebran perayaan Ekaristi di Katedral. Esoknya, diadakan sarasehan The Way of the Heart bersama Pater Sindhunata, S.J.. Selain terbuka untuk umum, sarasehan ini juga menjadi kesempatan berkumpul bagi berbagai komunitas yang menghidupi Spiritualitas Ignatian, seperti Magis, Christian Life Community (CLC), Latihan Rohani Pemula (LRP), Schooled by The Spirit (SBS), Aminigo, dan lainnya. Pater Cristóbal juga mengenalkan PWPN pada para siswa Kolese Kanisius. Setelah itu, ia melanjutkan kunjungan ke Yogyakarta untuk bertemu Pater Antonius Sumarwan, S.J., Koordinator Nasional PWPN Indonesia. Di Yogyakarta, Pater Cristóbal diajak mengunjungi Pusat Musik Liturgi, kantor Yayasan Basis yang menerbitkan Utusan sebagai majalah resmi PWPN, dan Omah Petroek yang menyediakan beberapa situs untuk merefleksikan Jalan Hati. PWPN Indonesia juga mengadakan perayaan Ekaristi dan parade lagu di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru. Perjalanan dilanjutkan menuju Jawa Tengah, yaitu ke Seminari Menengah Mertoyudan dan menghadiri misa perdana Romo Petrik Yoga, Pr yang juga terlibat aktif di PWPN Indonesia. Di Wonosobo, Pater Cristóbal mendapatkan hadiah menarik yaitu tarian dari siswi-siswi SLB/B Dena Upakara yang didampingi para Suster PMY. Rangkaian kegiatan ditutup dengan berwisata ke Candi Borobudur.    Dalam rangkaian kunjungan ini, Pater Cristóbal juga banyak berbagi dan mengenalkan apa itu PWPN, dasar spiritualitas, dan misi yang diemban. Tulisan ini akan membagikan hal-hal tersebut.     Persahabatan dengan Yesus Dasar dari segala pelayanan, misi, dan karya PWPN adalah pengalaman persahabatan personal dengan Yesus. Dalam sejarahnya, PWPN memiliki kedekatan dengan spiritualitas Hati Kudus Yesus. Semangat ini pula yang selalu dihidupkan dalam karya-karya PWPN. Spiritualitas Hati Kudus Yesus menyatukan jaringan doa ini yang telah mencakup lebih dari 90 negara dan lebih dari 22 juta umat Katolik di seluruh dunia.   Dalam PWPN, Spiritualitas Hati Kudus Yesus dikenalkan dalam bentuk modul formasi berjudul The Way of the Heart (Jalan Hati). Modul ini terdiri atas 9 langkah permenungan yang membantu kita mengenal Hati Allah Bapa, Hati Allah Putra, dan Hati Allah Roh Kudus. The Way of the Heart menjadi dasar pengolahan hati kita untuk bisa menjalankan misi belas kasih bagi dunia (a mission of compassion for the world).   Sejak tahun 2023, PWPN Indonesia mencoba mengadaptasi modul Jalan Hati sebagai modul retret tahunan. Selain itu, pada Yubileum Hati Kudus Yesus ini, PWPN Indonesia juga menggunakan modul Jalan Hati sebagai tema buklet doa dan bahan permenungan selama setahun. Menggunakan bahan permenungan itu, diadakan olah dan percakapan rohani secara daring pada Senin kedua tiap bulan.   Pater Cristóbal tidak hanya bicara soal persahabatan dengan Yesus, tetapi sungguh menghidupinya. Pada dua kesempatan terpisah, ketika diskusi dengan para siswa Kolese Kanisius dan Seminari Menengah Mertoyudan, Pater Cristóbal mengungkapkan bahwa sahabat terdekatnya adalah Yesus. Ia mengungkapkan dulu ketika remaja sering menulis curhat dengan Yesus dan hingga kini pun Yesus adalah sahabat terbaiknya.     Kerasulan Doa Salah satu penerapan misi utama PWPN adalah mendoakan dan menyebarkan intensi doa Bapa Suci setiap bulannya. Beberapa cara yang digunakan oleh Tim Internasional PWPN adalah dengan membuat video Bapa Suci (The Pope Video) dan membagikan bahan dari aplikasi Click to Pray yang menyediakan bahan doa pagi, siang, dan malam untuk mendukung intensi doa Bapa Suci.    PWPN Indonesia pun bergerak aktif untuk mendukung dua sarana ini. Untuk The Pope Video, PWPN Indonesia berkolaborasi dengan Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia (BN-KKI) untuk memberi subtitle dan menerjemahkan infografis ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa bahan dari Click to Pray juga secara rutin diterjemahkan dan disebarkan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp.    Dalam momen kunjungan kemarin, PWPN Indonesia mengadakan parade lagu, “Senandung Doa untuk Dunia”, setelah perayaan Ekaristi harian di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru. Dikatakan bahwa bernyanyi itu dua kali lipatnya berdoa, maka diharapkan dengan lantunan nada-nada, umat semakin mengenal spiritualitas dan karya-karya PWPN. Pada kesempatan itu, PWPN Indonesia memperkenalkan lagu Doa Persembahan Harian dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang dibuat oleh Ibu Damian Alma, seorang komposer.   Pater Cristóbal juga menggunakan musik sebagai sarana pewartaan. Ia memiliki motto musik sebagai pelayanan iman dan promosi keadilan dan sudah memiliki 12 album. Yang menarik, dalam kunjungan ini ia beberapa kali berkata, “Saya bukan seorang musisi atau penyanyi, saya hanyalah seorang imam.” Musik adalah salah satu bentuk kerasulan dan pelayanannya.     Formasi Orang Muda Misi PWPN juga berkaitan dengan formasi dan pendampingan orang muda. PWPN memiliki komunitas orang muda bernama Eucharistic Youth Movement (EYM), yang di Indonesia dikoordinasi oleh Pater Yohanes Nugroho, S.J.. Kehadiran EYM didasarkan pada pedagogi para murid Emaus, yakni Injil, Ekaristi, dan Misi. EYM ingin mengajak anak muda usia 5-25 tahun untuk hidup dalam cara Yesus, dalam hubungan persahabatan dari hati ke hati dengan-Nya.   Dalam kunjungannya, Pater Cristóbal juga mengenalkan EYM kepada siswa Kolese Kanisius dan Seminari Menengah Mertoyudan. Para siswa pun sangat antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan yang menarik pada Pater Cristóbal, antara lain mengenai iman, panggilan, karya PWPN, serta bagaimana Pater Cristóbal menggunakan musik dalam karya dan pelayanannya.   Selain dua kolese tadi, Pater Cristóbal juga memiliki kesempatan untuk bertemu para siswi SLB/B Dena Upakara di Wonosobo. Para siswi tunarungu ini mempersembahkan tiga tarian. Dibantu instruksi oleh guru, para siswi menari dengan gembira dan penuh sukacita. Perjumpaan dan tarian mereka sangat mengesan bagi Pater Cristóbal dan menjadikan kunjungan ini unik. Bagi Pater Cristóbal, anak-anak ini perlu menjadi perhatian dan ladang pelayanan kita.   Kunjungan Pater Cristóbal membawa semangat baru bagi PWPN Indonesia. Kami diajak sungguh bergerak dari kerja-kerja promosi doa dan menjadi komunitas orang-orang yang menjalankan misi belas kasih

Provindo

Pentakhtaan Relikui St. Ignatius Loyola dan Pemberkatan Gedung Pastoral St. Paulus – Paroki St. Ignatius Loyola, Semplak, Bogor

“Dengan diterimanya relikui ini, kami berharap Paroki Santo Ignatius Loyola semakin diperkaya oleh semangat Ignatius. Kehadiran relikui ini bukan hanya lambang, tapi juga pengingat akan panggilan untuk hidup kudus, melayani dengan cinta tanpa batas, dan menghidupi semangat ‘Magis’ dalam memberikan yang terbaik bagi Allah dan sesama. Semoga seluruh umat paroki terinspirasi oleh teladan Santo Ignatius Loyola untuk terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Semangat Ad Maiorem Dei Gloriam, demi kemuliaan Allah yang lebih besar, kiranya menjadi pegangan dalam setiap karya dan doa. Kami percaya bahwa dengan menghormati dan dengan perantaraan Santo Ignatius, paroki ini akan semakin diberdayakan untuk hidup dalam terang Injil.“   Pesan harapan itu menjadi penutup surat penyerahan relikui Santo Ignatius Loyola yang dibacakan oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dalam perayaan Ekaristi di Gereja Santo Ignatius Loyola, Semplak – Bogor pada Sabtu, 25 Januari 2025. Usai pembacaan surat, relikui berupa potongan jubah Santo Ignatius Loyola ditakhtakan di altar dengan iringan lagu Amare et Servire (Mencintai dan Melayani).   Umat Paroki Semplak tidak hanya bersukacita atas anugerah penyerahan relikui, tetapi juga bersyukur atas pemberkatan dan peresmian Gedung Pastoral Santo Paulus. Tak hanya itu, umat sekaligus bersukacita atas ulang tahun ke-61 RD. Antonius Dwi Haryanto (Romo Anton) yang sejak tahun 2017 menjadi Pastor Kepala Paroki Semplak. Sukacita-sukacita ini dirayakan dalam Ekaristi yang dipimpin secara konselebrasi oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM (Uskup Keuskupan Sufragan Bogor), Mgr. Christophorus Tri Harsono (Uskup Keuskupan Sufragan Purwokerto), RD. Kol (Sus.) Yoseph Maria Marcelinus Bintoro (Wakil Uskup umat Katolik di lingkungan TNI dan POLRI), Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. (Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia), RD. Antonius Dwi Haryanto (Pastor Paroki Semplak saat ini), dan RD. Ridwan Amo (Pastor Paroki Semplak yang pertama).   Mgr. Paskalis merefleksikan pertobatan Santo Paulus dalam homilinya. Tuhan mengambil inisiatif memanggil manusia untuk berkarya bersama Dia, bahkan hingga saat ini. Ia mengambil tindakan untuk mempertobatkan Saulus, seseorang yang bersemangat menghancurkan pengikut Yesus. Tuhan lalu mengubahnya menjadi misionaris agung yang memberitakan Yesus kemana pun ia pergi. Mgr. Paskalis juga mengambil contoh Mgr. Tri Harsono yang lahir dari rahim paroki Semplak dalam keluarga Komando Pasukan Gerak Cepat Angkatan Udara. Mgr. Tri dipilih Tuhan untuk berkarya memberitakan nama Tuhan dengan menjadi uskup Purwokerto. Mgr Paskalis mengajak umat Semplak, yang memilih St. Ignatius Loyola sebagai pelindungnya, untuk mengikuti Kristus dengan cara Santo Ignatius: memiliki ketaatan total pada Gereja Katolik apapun keadaannya.    Dalam kata sambutannya, Romo Anton berterima kasih kepada seluruh pihak, baik dari Keuskupan Bogor, Pangkalan Udara TNI-AU, dan seluruh umat yang telah terlibat dalam dinamika perjalanan pembangunan paroki ini. “Semua sukacita ini terjadi karena rahmat dan kasih Tuhan yang sangat luar biasa.”   Romo Anton secara khusus berterima kasih kepada Pater Benny dan Pater Windar dari Provinsialat Serikat Jesus Provinsi Indonesia atas anugerah relikui yang diberikan kepada umat paroki Semplak. Ini tak lepas dari orang-orang yang mencintai Santo Ignatius, khususnya pasutri Antonius Imam Toni dan Retno yang telah sekian lama mencari relikui ini dan berhasil mendapatkannya dari Provinsialat Serikat Jesus.   Selayang Pandang Paroki St. Ignatius Loyola, Semplak – Bogor Paroki Semplak adalah bagian dari Keuskupan Sufragan Bogor yang memiliki keunikan tersendiri. Terletak di kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sendjaja, paroki ini tergolong paroki muda karena baru dikukuhkan pada 1 Agustus 2015 setelah sebelumnya menjadi bagian dari karya pelayanan Paroki Katedral Bogor. Komunitas umat Katolik Semplak mulai terorganisasi pada tahun 1964. Kemudian pada tahun 1977 umat Katolik dan Protestan mendapatkan fasilitas gereja oikumene dari pimpinan Pangkalan Udara. Gedung gereja tersebut kemudian difungsikan sebagai kapel Santo Petrus oleh umat Katolik dan menjadi gereja Sola Gratia bagi umat Protestan. Meskipun berdiri di tanah milik TNI AU, umat Katolik Semplak tak hanya berasal dari kalangan kategorial TNI AU tapi juga umat non militer yang tinggal di luar kompleks Pangkalan Udara.   Pertambahan jumlah umat di wilayah St. Petrus Semplak sangat menggembirakan, hingga pada tahun 2005 pengurus wilayah mengajukan pembangunan gereja Katolik kepada Komandan Pangkalan Udara dan disetujui oleh Kepala Staff Angkatan Udara Republik Indonesia. Tanggal 8 September 2006 adalah hari yang sangat bersejarah karena wilayah Semplak dinaikkan statusnya menjadi stasi. Pada hari itu pula, gereja baru diberkati oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM dan diresmikan oleh komandan pangkalan udara Atang Sendjaja, Marsekal Pertama Ignatius Basuki, yang nama baptisnya menjadi inspirasi bagi penamaan paroki Semplak.    Mengutip sambutan Pater Benny, nama Ignatius Loyola adalah nama yang amat tepat bagi paroki yang berlokasi di lingkungan militer ini. Santo Ignatius awalnya adalah seorang prajurit dengan ambisi yang luar biasa. Namun setelah cita-citanya pupus akibat terkena mortir pada pertempuran di Pamplona, ambisi besarnya diserahkan pada apa yang dikehendaki Allah. “Apapun yang aku lakukan adalah demi besarnya kemuliaan Tuhan.”   Pertumbuhan umat disertai juga dengan kebutuhan bangunan untuk memfasilitasi kegiatannya. Dirasa perlu juga untuk membangun pastoran yang dapat ditinggali oleh lebih dari satu orang pastor. Oleh karena itu, sejak tahun 2019 mulai dibentuk panitia pembangunan sarana pastoral, meski pelaksanaan pembangunannya baru bisa terlaksana pada Januari 2024 setelah terbit izin dari Pangkalan TNI AU. Penantian panjang umat paroki Semplak berakhir indah dengan pemberkatan dan peresmian gedung pastoral pada pesta pertobatan Santo Paulus, 25 Januari 2025.   Semoga kehadiran relikui Santo Ignatius Loyola dan peresmian gedung pastoral Santo Paulus semakin menambah semangat kerohanian dan memperkuat iman umat paroki Semplak.   Kontributor: Ignatia Marina

Provindo

New Gamaliel Award untuk P James Bharataputra, S.J.

Pada Sabtu, 13 Desember yang lalu, Pater James Bharataputra, S.J. menerima penghargaan sebagai New Gamaliel atas usahanya dalam melayani umat di Indonesia, khususnya dengan membangun Taman Doa Maria Annai Velangkanni di Medan.   Seperti yang sudah dikenal secara luas bahwa taman doa ini menggambarkan kehadiran semua agama di Indonesia yang saling membantu dan menolong. Taman doa ini adalah simbol toleransi. Pater James mengatakan bahwa tujuan ia membangun taman doa ini adalah untuk menarik peziarah dari semua lapisan masyarakat. Ada dua hal beliau lakukan, yaitu membantu peziarah untuk berjumpa dengan Tuhan dan pada saat yang sama, mengingatkan semua peziarah bahwa mereka adalah anak-anak dari satu Tuhan, apa pun keyakinan agama mereka. Hal ini mengajarkan sikap saling menghormati dan mengasihi sebagai saudara laki-laki dan perempuan karena semua manusia adalah anak-anak dari Bapa yang sama di Surga. Pater James ingin mewujudkan doa seorang pemazmur, “Betapa indahnya hidup sebagai saudara laki-laki dan perempuan di rumah Tuhan di bumi!”   Penghargaan kepada Pater James Bharataputra, S.J. sebagai “Gamaliel Tamil Nadu Masa Kini” ini diberikan oleh Asian Centre for Cross Cultural Studies. Upacara pemberian penghargaan ini dilakukan di Basilika Vailankanni, India. Pater James terkejut atas apresiasi yang luar biasa dari Uskup Tanjavur dan juga Kardinal Bo dari Myanmar ini.   Apa sebenarnya maksud dari penghargaan ini? Gamaliel adalah seorang guru atau rabi yang sangat dihormati karena pengetahuan mendalam tentang hukum Taurat dan kebijaksanaannya. Kebijaksanaannya terlihat jelas dalam nasihatnya kepada kelompok Sanhedrin, di mana dia menyarankan untuk tidak menghukum para rasul karena jika pekerjaan mereka berasal dari Tuhan, itu tidak bisa dihalangi. Karena pengetahuan, kebijaksanaan, pengaruh, dan peran pentingnya dalam pendidikan, Gamaliel dianggap sebagai salah satu guru terkemuka dan dihormati dalam sejarah Yahudi dan Kristen. Para panitia Asian Centre for Cross Cultural Studies melihat bahwa apa yang dikerjakan oleh Pater James merupakan karya Tuhan. Ia menyelenggarakan sebuah katekese iman lewat gambaran-gambaran visual yang ada di Taman Doa Maria Velangkani Medan agar setiap orang, terutama umat di Medan, dapat melihat Allah secara lebih konkret secara visual.   Pater James menambahkan bahwa pembangunan taman doa ini berawal dari mimpinya untuk mengajak semua orang bertemu Tuhan. “Saya percaya Tuhan memberi tahu saya perincian tersebut melalui mimpi saya. Kadang-kadang saya terbangun dari mimpi saya dan menuliskan beberapa perincian mimpi saya agar saya tidak lupa. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan pengalaman spiritual yang luar biasa ini, seperti Tuhanlah yang mendiktekan rencana-Nya untuk Taman Doa ini secara terperinci saat saya melanjutkan pembangunannya.”   Baginya, seluruh desain arsitekturnya merupakan hasil dari mimpinya ketika merenungkan misteri Inkarnasi di Minggu Kedua Latihan Rohani. Semua direpresentasikan secara artistik melalui lukisan dan patung bergaya Indo-Saracenic. Taman doa ini menggabungkan sisi kebutuhan dasar manusia yang tergambar dalam ruang bagian bawah. Ruang ibadah dan doa berada di lantai tengah. Bagian tentang misteri ilahi atau surga terletak di atas. Ada tujuh tingkatan yang menggambar-kan tujuh tingkatan surga atau tujuh sakramen. Pater James Bharataputra telah memberikan kontribusinya terhadap keragaman religio-budaya dan pariwisata di Medan karena Tempat Suci ini menarik peziarah dari semua agama. Hidupnya telah menjadi berkat bagi banyak orang.   Mari kita berbahagia atas inspirasi dari mimpi-mimpi Pater James yang luar biasa dan telah diapresiasi oleh banyak orang, terutama para umat katolik di Tamil Nadu, India. Pater Sindhunata juga memberikan apresiasinya yang tertuang dalam buku autobiografi Pater James. Ia menulis: “Keagungan dan keindahan tempat suci ini merupakan perwujudan proses inkulturasi antara tanah kelahirannya, Tamil Nadu, dan tanah Sumatera. Tempat suci ini telah menjadi tempat pertemuan surga dan bumi – tempat yang ilahi dan manusia saling berpelukan – tempat Tuhan ingin bertemu umat-Nya, tanpa memandang ras, kepercayaan, dan bahasa.”   Momen yang luar biasa ini menjadi tanda bagi Pater James untuk kembali ke tanah airnya. Dengan momen ini, ia siap meninggalkan Taman Doa Maria Velangkanni yang mengembangkan iman umat di Indonesia dan siap juga mengakhiri masa misionarisnya di Indonesia. Ia telah menjadi misionaris di Indonesia selama 50 tahun dan telah memberikan banyak kontribusi untuk umat dari berbagai agama di Indonesia. Kini, Taman doa ini dikelola oleh RD Gundo Franci Saragih. Semoga impian Pater James untuk membangun iman umat di tanah Medan tetap lestari bersama RD Gundo.   Terima kasih dan Selamat Pater James atas karya luar biasa dari Allah ini di tanah Indonesia. Selamat kembali menghirup udara segar di Tamil Nadu.   Kontributor: P Ignatius Windar Santoso, S.J.

Provindo

PRAKSIS: Langkah Baru Jesuit Indonesia untuk Memajukan Kebaikan Bersama

Pada tanggal 10 Desember 2024, bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia sedunia, Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, P Benedictus Hari Juliawan, S.J., meresmikan pendirian PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus). Sebagai karya baru Jesuit Indonesia, pendirian PRAKSIS merupakan pengejawantahan dari Rencana Apostolik Provinsi Indonesia untuk mendirikan “pusat kajian dan advokasi yang menjadi ‘juru bicara’ Serikat Jesus dalam diskusi publik tentang persoalan kemasyarakatan”.    Acara peresmian diawali dengan Perayaan Ekaristi di Kapel St. Petrus Kanisius, Jakarta. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Pater Provinsial dengan didampingi oleh Pengurus Yayasan serta Direksi PRAKSIS. Dalam homilinya, Pater Provinsial menyatakan bahwa pendirian PRAKSIS mengacu pada panggilan Yesus dalam kotbah di bukit untuk menjadi terang. Panggilan ini diwujudkan dengan mendirikan lembaga penelitian dan advokasi yang dapat menghadirkan gagasan dan perspektif Katolik dalam upaya bersama mendukung proses demokratisasi di Indonesia.   Acara dilanjutkan dengan pemaparan hasil riset perdana PRAKSIS bertajuk “Mencari Demokrasi yang Memajukan Kebaikan Bersama”. Riset ini menyoroti tantangan demokrasi Indonesia dalam dekade terakhir (2014-2024), seperti penyempitan ruang partisipasi warga dan penyusutan kelas menengah. Laporan PRAKSIS kemudian ditutup dengan rekomendasi yang didasarkan pada Ajaran Sosial Gereja, termasuk di antaranya adalah perlindungan martabat manusia, kebebasan sipil, pemberdayaan masyarakat akar rumput, dan promosi kebijakan ekonomi yang adil.   Menghidupkan Misi melalui Riset, Advokasi, dan Edukasi PRAKSIS dirancang untuk menjadi pusat pengetahuan yang memadukan kekuatan analisis ilmiah dengan wawasan iman Katolik. Tiga pilar utamanya adalah: riset, advokasi, dan edukasi. Melalui riset, PRAKSIS menghasilkan kajian inovatif dan implementatif tentang isu-isu sosial, politik, dan ekonomi. Melalui advokasi, PRAKSIS menyuarakan kebijakan yang mendukung kebaikan bersama kepada pemangku kepentingan. Melalui edukasi, PRAKSIS menyelenggarakan seminar, kursus, dan lokakarya yang memperkenalkan Ajaran Sosial Gereja serta membahas tantangan zaman.   Inisiatif ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Dalam keynote speech-nya saat peresmian PRAKSIS, Ibu Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian, menegaskan pentingnya peran lembaga seperti PRAKSIS dalam memperkuat demokrasi.   Program 2025 dan Harapan ke Depan Pendirian PRAKSIS adalah panggilan bagi semua yang berkehendak baik untuk turut serta dalam memajukan kebaikan bersama. Dengan semangat “Fate Chiasso!” atau “Buatlah suara yang menggema!” seperti diserukan Paus Fransiskus, PRAKSIS mengajak Gereja, warga Katolik, dan segenap pihak yang berkehendak baik untuk memajukan kebaikan bersama.   PRAKSIS telah menyiapkan berbagai program untuk tahun 2025. Divisi Riset dan Advokasi akan mengadakan penelitian dengan 4 tema utama, serta secara rutin akan menyelenggarakan Forum PRAKSIS. Sementara itu, Divisi Public Engagement akan menyelenggarakan seminar, kursus, lokakarya, dan retret yang bertujuan untuk menanamkan pemahaman warga Katolik akan iman Katolik, khususnya Ajaran Sosial Gereja. Seminar perdana dari Divisi Public Engagement rencananya akan digelar di bulan Februari 2025. Topik yang diangkat adalah refleksi atas pesan dan dampak Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia pada awal bulan September 2024 yang lalu.   Pendirian PRAKSIS adalah upaya Serikat Jesus untuk berkolaborasi memajukan kebaikan bersama di Indonesia. Persis karena itu, PRAKSIS hendak berkolaborasi dengan semua pihak. Tidak ada kebaikan bersama tanpa keterlibatan bersama.   Kontributor: P Heinrich Angga Indraswara, S.J.

Provindo

“Being before Doing”

Pertemuan Superior Lokal, Direktur Karya, serta Ketua dan Sekretaris Yayasan gelombang kedua dilaksanakan pada 14-15 November 2024 di Rumah Retret Abdi Kristus, Gedanganak, Ungaran. Ada 42 peserta yang hadir. Pertemuan kali ini membahas mengenai Implementasi Rencana Apostolik Serikat Jesus Provinsi Indonesia.   Pertemuan dengan metode presentasi, sharing, dan tanggapan ini dimulai sore hari pukul 17.00 WIB dan selesai setelah makan siang esoknya. Refleksi Implementasi RAP ini berpedoman pada buku Rencana Apostolik Provindo (RAP) dan buku panduan diskresi bersama yang ditulis oleh Christina Kheng.   Sesi pertama dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Pater Agustinus Setyodarmono, S.J. dan dilanjutkan dengan pengantar dari Provinsial Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Pater Beni menekankan tentang pentingnya memahami being sebelum melakukan perencanaan dan implementasi. Ternyata selama ini banyak lembaga karya yang terburu-buru melakukan implementasi atau doing. Meskipun demikian, ini bukan menjadi permasalahan yang tidak bisa diperbaiki. Agar perencanaan dan implementasi RAP di lembaga karya dan komunitas semakin sejalan dengan semangat UAP, semua pihak diajak untuk mempelajari tulisan Christina Kheng yang berjudul Welcoming the Spirit (Menyambut Roh Kudus).     Setelah pengantar, Pater Setyodarmono sebagai delegat implementasi RAP mempersilakan para peserta yang hadir untuk memberi tanggapan atas pengantar yang disampaikan Provinsial. Ada banyak tanggapan yang muncul, terutama atas misi Provindo , yaitu dipanggil bertobat bersama Ignatius agar semakin dipercaya Gereja dan masyarakat Indonesia, gesit sebagai organisasi, dan berani memeluk tantangan-tantangan dunia secara terukur. Landasan teologi yang dijadikan pijakan adalah keyakinan bahwa Tuhan yang diabdi bukanlah sebagaimana dianalogikan sebagai seorang clock maker yang tidak lagi terlibat dengan ciptaannya sebab telah berjalan sesuai dengan mekaniknya.   Ada banyak sharing menarik dalam sesi setelah makan malam dan sesi lain pada hari berikutnya. Komunitas-komunitas dan lembaga karya, baik karya pendidikan maupun karya paroki, telah mengimplementasikan RAP dengan aneka gerakan, termasuk yang terkait dengan lingkungan hidup dan teknologi ramah lingkungan. Tanggapan menarik terkait lingkungan diberikan oleh Pater Setyo Wibowo yang melihat gerakan ramah lingkungan, terlebih teknologi kendaraan listrik, teknologi informasi, dan panel surya dari perspektif lain. Ia menangkap adanya paradoks terkait itu semua sebab emisi karbon yang dihasilkan teknologi ‘ramah lingkungan’ tersebut nyatanya lebih banyak menghasilkan emisi karbon. Ini menjadi catatan untuk dipelajari bersama. Terkait implementasi RAP, sharing dari para Jesuit yang berkarya di Keuskupan Ketapang juga tidak kalah menarik. Ada kisah-kisah menyentuh yang bisa disimak, misalnya terkait medan karya yang sulit dijangkau dan kesan positif dari umat beriman yang dilayani di sana.    Menutup pertemuan ini, Pater Provinsial mengulang pesan Pater Arrupe agar kita jangan mengkerdilkan imajinasi. Meskipun sedikit dan kecil (minima), kita tetap harus berani bermimpi dan melakukan hal yang dikehendaki oleh Allah sesuai perencanaan yang telah kita buat. Semoga kita tidak bertindak untuk diri kita sendiri dengan bahasa yang juga hanya dapat dipahami oleh kita sendiri.   Kontributor: Hermanus Wahyaka – Tim Sekretariat

Provindo

“Dewanto Pastor Bonus”

Pater Tarcisius Dewanto, S.J. dilahirkan pada 18 Mei 1965 di Magelang. Ia masuk novisiat Serikat Jesus di Girisonta pada 7 Juli 1987 dan menjalani dua tahun masa novisiatnya di Girisonta. Ia ditahbiskan menjadi imam di Yogyakarta, Indonesia pada 14 Juli 1999 bersama sepuluh Jesuit lainnya. Setelah tahbisan imam, Pater Dewanto mendapatkan tugas pertama membantu pelayanan pastoral di Paroki Suai, Keuskupan Dili.   Keadaan menegangkan di Suai dan semakin meningkat sejak 4-5 September 1999 setelah jajak pendapat diumumkan. Situasi memanas hingga timbul huru-hara antara kelompok Pro-kemerdekaan dan pro-integrasi. Menjelang sore, tujuh anggota milisi beserta komandannya bersenjata lengkap mengepung Gereja dan Pastoran Suai. Pater Dewanto melihat ada keributan kemudian keluar dan berusaha melerai. Namun seketika itu ia diberondong tembakan dan terlihat orang mengayun-ayunkan parang kepadanya. Penyerangan ini memakan korban jiwa, dua imam diosesan tewas dan satu Jesuit, Pater Dewanto.    Pada 20 Agustus 2024 yang lalu, Pater Sarmento, Jesuit dari Regio Timor Leste, bersama dengan enam orang imam Jesuit merayakan 25 tahun tahbisan di Gereja Santa Perawan Maria Ratu, Jakarta. Berikut ini adalah kutipan homili Pater Sarmento, S.J. dalam perayaan Ekaristi 25 tahun tahbisan Imamat.   Beberapa hari yang lalu, dalam rangka mempersiapkan perayaan 25 tahun tahbisan Imamat, teman-teman mendaulat saya untuk menjadi homilist. Saya mengatakan, kalau Pater Provinsial yang memimpin misa berarti beliau yang akan menyampaikan homili. Namun Pater Provinsial ternyata meminta salah satu dari para Jubilaris untuk menyampaikan homili. Dan saya bilang seharusnya tuan rumah Paroki Blok Q, yaitu Pater Kris. Tapi Pater Kris beralasan umat sudah bosan dengan homilinya. Saya masih menego, “Perintah Provinsial Benny itu ditujukan kepada anggota Jesuit Indonesia, saya kan sudah bukan anggota Provindo, hahahaha.” Dan akhirnya saya menerima, satu lawan enam orang saya tidak bisa. Dan saya menerima ini dengan syukur sebagai tanda kepercayaan. Kalau memilih saya, ya harus siap menanggung risikonya, karena kami orang tinggi ini, untuk bicara pendek itu susah sekali. Pater-pater semakin bertambah usia, semakin panjang bicaranya. Ada yang bicara panjang seperti radio rusak, dicopot baterainya ya tetap bunyi.     Ya, 25 tahun lalu, kami bersebelas ditahbiskan menjadi imam di Yogyakarta oleh Mgr. Ignatius Suharyo, sekarang beliau seorang Kardinal. Dalam perayaan ini hanya 7 orang yang hadir, yaitu PP Adrianus Suyadi,S.J.,  Roberthus Rimmin, S.J., Antonius Widyarsono. S.J., Gregorius Soetomo, S.J., Adrianus Herry Wijayanto, S.J., Augustinus Setyo Wibowo, S.J.,Athanasius Kristiono Purwadi, S.J.,  dan Joaquim Sarmento, S.J.. Pater Gregorius Soetomo, S.J. sekarang ini sedang bertugas di Manila, Filipina, dan Pater Yohanes Sudriyanto, S.J. bertugas di Nabire. Dua orang yang lain, yang satu sudah memutuskan untuk meninggalkan imamat, dan satu lagi tewas terbunuh di Timor Leste pada 6 September 1999 (kurang dari dua bulan setelah ditahbiskan), Pater Tarcisius Dewanto, S.J.   Kurang dari dua bulan usia tahbisannya, Pater Dewanto sudah menjadi martir di Timor Leste bersama satu Jesuit lainnya, Pater Carolus Albrecht Karim Arbie, S.J.  yang saya lihat namanya diabadikan di sebelah Gereja Blok Q ini. Sesudah tahbisan, kami bertiga bersama dengan Pater Robert Rimmin, diutus ke Timor Leste. Ketika Dewanto tiba di airport Dili, saya yang menjemputnya terheran-heran karena dia membawa empat koper besar dan satu koper kecil. Saya bertanya, “Kok barangnya banyak banget?’” Ia jawab singkat dalam bahasa Jawa, “Omahku neng kene kok!” (Rumahku di sini kok). Dia sungguh serius tampaknya.   Dia lalu diutus untuk belajar bahasa Tetum di Suai dekat perbatasan, tempat yang suhu kekerasannya tinggi menjelang referendum. Selama terjadi kekerasan setelah pengumuman referendum, dia terkurung di dalam gedung gereja bersama ratusan pengungsi. Ketika datang para milisi untuk mengancam, mereka tidak bisa keluar. Ketika milisi mulai menembak ke dalam, Pater Dewanto keluar untuk menenangkan para milisi. Karena dia orang Indonesia, ia berpikir tidak akan diapa-apakan. Walau ada yang teriak, “Jangan, itu orang kita!” tetapi para milisi tetap menganiayanya hingga mati di dekat pintu gereja. Dia mati untuk melindungi umat di dalam gedung gereja.    Memperingati sepuluh tahun kemartiran dua Jesuit ini (2009), saya mengumpulkan kisah dan kesan, apresiasi dan refleksi dari banyak kalangan dalam sebuah buku kecil dan sekarang sudah diterjemahkan ke dalam Inggris dan Jerman untuk kepentingan penggalangan dana untuk misi, dengan judul “Passion for Christ, Passion for Humanity.” Dalam buku itu, saya memilih untuk judul artikel saya Dewanto Pastor Bonus.   Kita tidak menyangka bahwa misa yang dipimpin Pater Dewanto di Jogja itu adalah misa perpisahannya. Saya tidak menyangka bahwa Pater Dewanto akhirnya memang menjadi ‘pastor bonus’, memberikan nyawanya sendiri demi membela domba-dombanya di tanah di mana dia diutus. Kita tahu, menurut Injil, pastor bonus atau gembala yang baik itu adalah Tuhan Yesus sendiri. Gembala yang baik memiliki delapan peran yaitu mengenal domba-dombanya dan domba-dombanya mengenal dia, berjalan di depan domba-dombanya, membawa ke rumput hijau, menuntun ke air jernih, mencari yang hilang, merawat dan menyembuhkan yang terluka, membela domba-dombanya dari serigala buas, dan mengumpulkan semua domba dalam satu kandang. Pater Dewanto dengan kisah kemartirannya di Timor Leste, telah sungguh mendekati Imam Agung Yesus Kristus, dengan memberikan nyawanya demi domba-dombanya.      Terasa atau tidak, sadar atau tidak, sejak tidak lama sesudah kami ditahbiskan, imamat kami selama 25 tahun ini telah diperkaya, diinspirasi, dan dikuatkan oleh kemartiran sahabat kami Pater Dewanto. Berbicara mengenai kemartiran dalam sebuah misa syukur imamat seperti ini, bukanlah berbicara mengenai dua hal berbeda. Karena imamat pada dasarnya adalah kemartiran itu sendiri. Dalam hidup membiara saja, kita mengenal apa yang disebut ‘kemartiran putih’, yaitu penyerahan diri total kepada Allah walau tidak harus mengucurkan darah seperti Pater Dewanto. Imamat dan kemartiran bertemu dalam sikap penyerahan diri secara total kepada Allah, mempersembahkan korban bukan saja Ekaristi di meja altar, tetapi hidup kita seluruhnya. Imamat pelayanan berarti meneladani Imam Agung dalam peran-perannya yang kita sebutkan tadi, mematikan diri demi pelayanan kepada umat Allah. Pater Dewanto telah memberikan contoh nyata kepada kita dengan kemartirannya.   Kita semua umat Allah. Sekali menerima sakramen pembaptisan, kita diikutsertakan dalam fungsi-fungsi Kristus sebagai imam, raja, dan nabi. Oleh karena itu, persembahan dan pengorbanan kita sehari-hari, besar dan kecil, kita pahami dan hayati dalam rangka itu.   Saya berterima kasih atas dukungan dan doa bagi imamat saya semua teman-teman Jubilaris. Semoga kami dianugerahi sekurangnya 25 tahun lagi melayani Allah dan umat-Nya. Bukan saja 25

Provindo

Kudengar SuaraMu Tuhan

Bertepatan dengan perayaan Bunda Maria Diangkat ke Surga pada 15 Agustus 2024, dua imam Jesuit mengucapkan kaul akhir di hadapan Provinsial Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. di Gereja St. Yusup, Gedangan, Semarang. Para kaules ini adalah Pater Benedictus Cahyo Christanto, S.J. dan Pater Aluisius Pramudya Daniswara, S.J. Perayaan Ekaristi dihadiri oleh keluarga, nostri, perwakilan umat Paroki Blok B, Paroki Hati SPM Tak Bernoda, Tangerang, Paroki Blok Q, Paroki Gedangan, dan para tamu undangan. Perayaan Ekaristi ini istimewa karena dimeriahkan oleh paduan suara St Yusup Gedangan dan iringan Bongsari Music Ministry.   Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga sering menjadi hari pilihan favorit para religius untuk mengucapkan kaul. St Ignatius dan para Jesuit pertama juga mengucapkan kaul pada 15 Agustus 1534 di Kapel St Petrus, Montmartre. Oleh karena itu, secara tidak langsung, perayaan Bunda Maria Diangkat ke Surga menjadi tanggal yang istimewa terutama bagi Serikat Jesus. Pada tahun-tahun berikutnya, teman-teman St Ignatius juga memperbarui kaul-kaul mereka di tanggal yang sama.   Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga menjadi hari pilihan favorit para religius untuk mengucapkan kaul. Seperti St Ignatius bersama dan para Jesuit pertama, mereka mengucapkan kaul pada 15 Agustus 1534 di Kapel St Petrus, Montmartre. Secara tidak langsung perayaan Bunda Maria Diangkat ke Surga menjadi tanggal yang istimewa terutama bagi Serikat Jesus. Lalu pada tahun-tahun berikutnya, teman-teman St Ignatius memperbarui kaulnya di tanggal yang sama.   Perayaan Bunda Maria Diangkat ke Surga baru diresmikan Gereja pada tahun 1950 oleh Paus Pius XII. Bunda Maria menjadi teladan para Imam dalam menghayati kesetiaan, kesederhanaan, dan kesuciannya. Diharapkan para imam dengan sungguh-sungguh mengupayakan kesucian hidup sehari-hari dalam segala kondisi, dalam percakapan, dan perjumpaan.   Sebelum berkat penutup, Pater Cahyo mempersembahkan lagu ciptaannya “Kudengar suara-Mu Tuhan.” Pater Cahyo menyanyikan lagu ini diiringi petikan gitarnya dan alunan nada dari Bongsari Music Ministry. Suara yang merdu dan alunan musik yang indah menghipnotis umat yang hadir. Setelah berkat penutup diadakan ramah tamah di gedung Bintang Laut.   Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator Jesuit Indonesia