Pilgrims on Christ’s Mission

Penjelajahan dengan Orang Muda

Penjelajahan dengan Orang Muda

Bahagia Berjalan Bersama Orang Muda

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Mazmur 119 Pada waktu itu di tahun 2000, angin malam terasa dingin dan suasana gelap gulita karena listrik padam. Di rumah formasi Jesuit, tepatnya di atas dak, di jalan Salemba Bluntas, Jakarta saya memandang langit yang dipenuhi bintang sambil melakukan percakapan antar sahabat. Dalam percakapan tersebut saya mengungkapkan minat mendalam untuk terlibat aktif mendampingi kaum muda. Bagi saya kaum muda adalah recup atau tunas yang bertumbuh. Recup itu perlu dipelihara, dipupuk, dan disiram agar dapat bertumbuh optimal. Berdasarkan diskresi, saya kemudian mengajukan usulan kepada Pater Rektor Kolese Hermanum, agar diperkenankan mendampingi orang muda, khususnya para mahasiswa di PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta) unit Selatan. Di PMKAJ Selatan para intelektual muda berkumpul menimba ilmu di kampus-kampus besar yang berada di wilayah Depok dan sekitarnya. Perjumpaan dengan orang muda membuat saya mengerti betapa mereka membutuhkan perhatian, dan kepedulian mentor yang bersedia menemani perjalanan mereka. Saya, pada waktu itu sebagai frater Jesuit, lebih mudah menyesuaikan diri dengan cara bertindak orang muda. Melalui diskusi-diskusi yang panjang bersama mahasiswa, kami membuat aneka kegiatan seperti temu mahasiswa tahun 2000, napak tilas setelah malam Kamis Putih dari Wisma SJ Depok ke Katedral Jakarta pada tahun 2001; lalu pada tahun yang sama membentuk Ignatian Study Club. Aneka kegiatan yang dilakukan membuat saya semakin mengenali dan memahami kebutuhan orang muda yang sedang bertumbuh menjadi pribadi dewasa dan bertanggungjawab. Perjumpaan yang intens dengan mereka, menginspirasi saya untuk melakukan pendampingan yang pas sesuai kebutuhan mereka. Dalam analisis Buckingham (2008), orang muda perlu dilatih untuk mengetahui cara mengelola hidup, memimpin diri sendiri atau orang lain, dan mempertahankan serta sekaligus mengembangkan apa yang dimiliki orang muda. Menurut Lowndes (2014) orang muda perlu dilatih dan dikembangkan agar mereka yakin dan memiliki kepercayaan tinggi dalam meraih kesuksesan di masa depan. Orang muda yang terlatih akan merasa optimistis, bahwa hidup yang bernilai baik dan mulia layak diperjuangkan. Perasaan dominan berjalan bersama orang muda adalah sukacita. Orang muda mempunyai energi besar untuk bertumbuh. Dalam rentang tahun 2000-2019 saya mengalami interaksi langsung secara intens dengan orang muda di Wisma SJ Depok, Kolese Le Cocq d’Armandville, dan Civita Youth Camp. Semua daya upaya saya lakukan dalam mendampingi orang muda. Hasil pendampingan yang dirasakan tidak didapat secara langsung, tetapi kalau dilihat dari wajah-wajah mereka, setelah melalui proses pendampingan, tampak gembira. Tahun 2019 hingga sekarang, saya tidak lagi secara langsung mendampingi orang muda. Fokus saya sekarang menemani perjalanan para pendidik atau guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK di Perkumpulan Strada. Mereka didampingi agar dapat bekerja melayani secara efektif, efisien, dan mendalam saat mereka mendampingi para murid, generasi muda. Pengalaman puluhan tahun mendampingi orang muda sungguh berguna dalam memberikan aneka inspirasi berupa tulisan opini, kajian, lumbung gagasan, seminar, podcast, semi-lokakarya, dan pendampingan langsung pada guru dan unsur pimpinan di Perkumpulan Strada, khususnya bagaimana menemani perjalanan orang muda. Berdasarkan gagasan C.P. Varkey, S.J. (2012), kekuatan doa mengalir pada realitas. Dia menegaskan bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Oleh karenanya, lewat doa dan mengandalkan Tuhan, saya merasa mendapatkan energi yang besar dari orang muda yang dijumpai. Selama mendampingi orang muda, saya mendapat begitu banyak insight pembelajaran. Mereka memberikan energi positif pada saya untuk terus bertumbuh bersama mereka. Dalam gagasan Herbert F. Smith, S.J., diungkapkan bahwa pengalaman yang membahagiakan karena dibimbing Roh Allah bergerak menuju pada persatuan lebih mendalam dengan Bapa, menyangkut tindak perilaku tertentu, yang menyatukan saya sebagai person lebih intim dengan Putra yang wafat dan bangkit. Cara bertindak yang didasari kasih Allah, membuat saya belajar banyak hal dari kaum muda. Membuka telinga dan hati yang lebar pada kehidupan mereka, rasa kesatuan relasi menjadi utuh, bukan lagi saya dan dia; atau kami, dan mereka tetapi kita. Coutinho, S.J. (2016) memberikan analisis bahwa manusia itu diberi kebebasan. Dalam kebebasan, orang mempunyai aneka pengalaman ilahi yang mengantar pada perbuatan-perbuatan baik. Tantangan zaman sekarang dan di masa depan sebenarnya merupakan realitas berulang dalam kualitas dan konteks yang berbeda. Pendampingan terhadap orang muda bukanlah segalanya dalam formasi. Akan tetapi, menemani secara formatif perjalanan orang muda sangat bernilai karena dinamika duniawi kerap berubah. Perubahan itu perlu dijawab dengan kematangan berpikir dan bertindak, maka selayaknya sahabat mentor perlu membantu orang muda dalam mengatasi persoalan hidup yang mereka alami. Ada empat pokok persoalan sebagai tantangan orang muda di zaman now, yaitu terkait masalah fondasi hidup, harga diri, relasi, dan orientasi masa depan. Pertama, di era modern banyak orang yang merasa kesulitan untuk menentukan fondasi yang menjadi arah tujuan hidup dalam mencari makna. Terkadang, orang muda merasa kehilangan arah dan bingung dengan apa yang seharusnya dilakukan. Hal ini dapat menyebabkan kecemasan, depresi, atau bahkan ketidakbahagiaan. Kedua, masalah harga diri terkait dengan kepercayaan diri seseorang. Banyak orang merasa tidak cukup baik atau kompeten dalam hal-hal tertentu dan ini dapat menyebabkan keraguan diri dan kecemasan. Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial juga dapat mempengaruhi harga diri seseorang terutama jika mereka merasa tertekan untuk terlihat sempurna atau mendapatkan persetujuan dari orang lain. Ketiga, di era digital seperti sekarang, relasi atau hubungan menjadi hal yang sangat penting. Meskipun teknologi memudahkan orang muda untuk terhubung dengan orang lain, terkadang sulit membangun hubungan yang sehat dan bermakna. Banyak orang muda merasa kesulitan dalam membangun hubungan, baik itu dengan teman, keluarga, maupun pasangan. Tantangan ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, termasuk perbedaan budaya, pola pikir, dan kesulitan berkomunikasi. Keempat, masalah orientasi masa depan bagi orang muda berkaitan dengan kekhawatiran apakah impian hidup mereka tercapai atau tidak. Dalam dunia yang terus berubah dan berkembang, banyak orang muda mengalami kesulitan membuat rencana atau menentukan arah hidup. Sebagian dari orang muda tidak terlalu yakin dengan karir atau pekerjaan yang cocok, bahkan di antara mereka ada yang tidak mengetahui bagaimana mencapai tujuan hidup mereka. Blanchard, Olmstead, & Lawrence (2013) memunculkan gagasan ABCD (Able, Believable, Connected, dan Dependable). Melalui gagasan mereka, saya terinspirasi bagaimana mendampingi orang muda agar mereka memiliki kemampuan olah diri yang baik, dapat dipercaya, terhubung satu sama lain, dan dapat diandalkan. Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan kami membuat aneka bentuk kaderisasi berupa Latihan Kepemimpinan Ignatian, Rekoleksi, dan Retret Orientasi Hidup bagi orang muda. Dalam

Penjelajahan dengan Orang Muda

Menemani Orang Muda di Karya Kerasulan Jesuit

Nama saya Anton, seorang bapak usia 40-an. Saat ini saya bekerja di Universitas Sanata Dharma (USD), sebuah universitas Jesuit di Yogyakarta. Ketika redaksi INTERNOS menghubungi saya untuk menjadi salah satu kontributor tulisan edisi khusus tentang Orang Muda, saya merasa sangat senang. Rasa senang tersebut hadir bukan karena saya merasa mempunyai banyak pengalaman bersama-sama dengan orang muda, namun karena dari pengalaman-pengalaman tersebut saya belajar dan tumbuh sebagai manusia dewasa. Oleh karenanya, tulisan sederhana ini hanyalah sekadar sharing atas refleksi pribadi saya yang pernah menjadi orang muda, berjumpa dengan para Jesuit, dan sekarang menemani orang-orang muda serta bekerja sama dengan para Jesuit dalam tugas saya sehari-hari di perguruan tinggi. Menjadi Orang Muda, Menjumpai Allah yang Berkarya Lewat Pengalaman Hidup Jika ditanya perasaan dominan saya mengemban tugas perutusan melayani orang muda bersama para Jesuit, tentu jawabannya adalah perasaan bersemangat. Sebelum bekerja di USD, saya pernah menjadi orang muda yang didampingi oleh seorang Jesuit dan pengalaman tersebut sangat mengesankan. Sekira 25 tahun yang lalu, saat saya menjadi mahasiswa di sebuah universitas negeri, saya bertemu dengan seorang pastor Jesuit yang caranya memandang dunia dan cara hidupnya banyak mempengaruhi hidup saya. Dari beliaulah, di kemudian hari saya mengenal yang disebut sebagai cara bertindak seorang Jesuit. Saya menjadi orang muda di tengah situasi perubahan besar dalam kehidupan bangsa ini: krisis ekonomi, krisis sosial, dan krisis demokrasi. Melalui mata kuliah agama Katolik saya bertemu dengan mendiang Pater Joseph Adi Wardaya, S.J. Saya disadarkan pentingnya ikut serta memperbaiki situasi dengan terlibat lebih jauh pada permasalahan sosial masyarakat dan bagaimana itu semua menjadi perwujudan iman dalam hidup sehari-hari. Saya belajar tentang Analisis Sosial, Gerakan Non-Violence, dan Teater Rakyat sebagai media konsientisasi. Saya terpukau oleh bagaimana iman sangat erat kaitannya dengan keprihatinan hidup masyarakat. Namun lebih daripada itu, saya belajar darinya tentang memelihara iman, menemukan Allah melalui pengalaman dalam hidup sehari-hari, dan refleksi sebagai unsur penting dalam setiap aksi. Sampai akhir hidupnya, Romo Adi, begitu saya biasa memanggilnya, tidak pernah mengatakan – setidaknya secara langsung kepada saya – bahwa cara bertindaknya didasari oleh spiritualitas tertentu. Cara hidupnyalah yang menuntun saya pada akhirnya untuk mencari dan menemukan sendiri dari mana semua itu berasal. Di akhir masa muda saya, saya menemukan bahwa yang menggerakkan semua itu adalah apa yang disebut sebagai Spiritualitas Ignasian. Di masa muda, saya bersyukur karena mengalami perjumpaan dan didampingi oleh seorang Pastor Jesuit sehingga saya bisa menemukan bahwa menjadi (orang) muda adalah sebuah rahmat dari Allah, rahmat untuk terlibat memperbarui situasi hidup bermasyarakat yang juga pada akhirnya membuat dunia selalu menjadi muda. Rahmat Keterbukaan: Keberanian untuk Melangkah Lebih Jauh dan Melompat Lebih Tinggi Bekerja di Universitas Sanata Dharma memungkinkan saya untuk lebih terlibat dan bekerja sama dengan para Jesuit dan orang-orang muda. Kebetulan sebelum di Biro Humas, selama 10 tahun saya bertugas di Campus Ministry dan Asrama Sanata Dharma Student Residence. Jika ditanya suka duka menjadi pendamping orang muda, tentu lebih banyak sukanya, lebih banyak kegembiraan, dan sukacitanya. Di Campus Ministry saya bertemu dengan berbagai komunitas mahasiswa berbasis agama. Pernah dalam sebuah kesempatan camping yang kami laksanakan di bulan Ramadhan, saya sangat tersentuh dengan inisiatif beberapa teman muda Katolik yang ikut menyiapkan menu sahur bagi teman-teman muslim yang sedang berpuasa. Demikian juga ketika persiapan Tri Hari Suci di Kapel Bellarminus, teman-teman lintas iman banyak terlibat. Saya ingat sekali, dalam Tablo Jumat Agung di tahun 2018, banyak teman muda dari berbagai agama ikut menjadi pemeran dan tim produksi. Saya juga belajar banyak dari teman-teman di Asrama Sanata Dharma yang dengan segala kesulitannya beradaptasi di tengah situasi pandemi. Selama dua tahun, asrama kami yang diisi hampir dua ratusan mahasiswa yang berasal dari Papua, Nias, Kalimantan, dan NTT bertahan dan mendisiplinkan diri. Beberapa dari mereka harus menjalani isolasi karena terkena covid, yang lainnya harus menjaga mobilitas, menjaga jarak, menjaga kesehatan, dan terus menjalani kuliah secara online di tengah segala keterbatasannya. Saya sangat memahami bahwa sebagai orang muda mereka mempunyai mobilitas tinggi dan hasrat yang besar untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Namun, hal-hal tersebut di atas tidak mengurangi kehendak mereka untuk bisa mendisiplinkan diri selama kurang lebih dua tahun dengan tidak keluar sembarangan dari lingkungan asrama, beradaptasi dengan perkuliahan online, dan saling membantu sebagai sesama anak perantauan. Apa yang saya pelajari dari pengalaman ini? Saya merasa bahwa orang-orang muda mempunyai kemampuan yang luar biasa di dunia yang terus bergerak dan berubah dengan cepat. Melalui orang muda saya banyak belajar tentang keberanian dan keterbukaan terhadap dunia yang terus berubah. Mereka berani melangkah lebih jauh dan melompat lebih tinggi. Tantangan terbesar orang muda? Tidak dipahami dan dipercaya oleh orang tua. Menemani Orang Muda di Zaman Ini untuk Sebuah Pengharapan di Masa Depan Orang-orang muda di zaman ini adalah mereka yang lahir ketika dunia bergerak sangat cepat berkat teknologi informasi. Mereka banyak disebut oleh para ahli sebagai generasi Z, sebuah generasi yang memiliki karakteristik sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, termasuk generasi saya. Mereka di satu sisi memang sangat terbuka dan toleran dengan perbedaan budaya. Gen Z juga adalah penduduk asli era digital yang tumbuh dengan teknologi, internet, dan sosial media sehingga sering distigma sebagai generasi pecandu teknologi dan cenderung anti sosial. Akrab dengan teknologi dan internet, membuat mereka kaya akan informasi. Namun, ketergantungan terhadap teknologi membentuk karakter yang konon cenderung keras kepala, menyukai sesuatu yang instan, terkesan terburu-buru, dan senang mengumbar hal-hal privat di ranah publik. Sebagai orang yang yang tidak lagi ‘tergolong muda,’ tentu saya harus menerima teman-teman muda ini dengan segala keunggulan dan kelemahannya. Kerendahan hati saya untuk mendengarkan aspirasi mereka dan memahami dunia serta pilihan-pilihan mereka sangatlah dibutuhkan. Orang muda perlu dipercaya. Bahwa dengan segala potensinya mereka bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa (lagi) dilakukan oleh orang-orang tua. Kekuatan utama orang muda adalah kemampuan mereka untuk mengeksplorasi banyak hal. Mereka tidak takut salah, berani terus mencoba dan berusaha. Mereka perlu percaya pada diri, percaya pada kemampuan dirinya, dan terbuka terhadap situasi dunia, serta terhadap rahmat-rahmat Allah yang bekerja dengan caranya sendiri. Sebagai orang yang tidak lagi muda, saya merasa tugas saya adalah menjadi teman seperjalanan mereka. Menemani mereka dalam proses pertumbuhan manusiawi sebagai manusia dewasa agar pada saatnya nanti para pemilik masa

Penjelajahan dengan Orang Muda

Mendampingi Orang Muda Membangun Harapan melalui Pendidikan Tinggi Vokasi untuk Negeri

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia saat ini tidak bisa lepas dari peran dunia pendidikan vokasi. Politeknik Industri ATMI, atau ATMI Cikarang, merupakan lembaga pendidikan tinggi vokasi milik Jesuit yang berfokus pada bidang keteknikan terutama di industri manufaktur. Berbekal pengalaman lebih dari puluhan tahun yang dimiliki Politeknik ATMI Surakarta (ATMI Solo) dan peran para alumninya yang tersebar di berbagai bidang industri, ATMI Cikarang didirikan di kawasan industri Jababeka-Cikarang dua dekade silam. Keberadaannya di kawasan industri ini diharapkan semakin memberikan kesempatan bagi orang muda yang ingin mengembangkan kemampuan dan karirnya di bidang teknologi manufaktur serta mendekatkan diri dengan dunia industri yang kelak akan menjadi tempat bagi para lulusan ATMI berkarya. Memulai karya sebagai seorang instruktur di ATMI Cikarang setelah lulus dari Program D3 Teknik Mekatronika ATMI Solo pada tahun 2011, saya merasa terpanggil bersama para Jesuit dalam proses pendampingan orang muda melalui dunia pendidikan vokasi. Perjalanan karir hingga saat ini menjadi seorang dosen muda memberikan banyak cerita dan pengalaman berharga bagi saya. Tahun pertama berkarya di ATMI Cikarang, saya langsung mendapatkan tantangan dan pengalaman baru dalam mendampingi orang muda yang notabene usianya tidak jauh berbeda dengan saya. Bahkan saat itu, ada salah satu mahasiswa yang ternyata adalah teman seangkatan saya sewaktu di sekolah dasar. Saya pun mencoba memposisikan diri bukan sebagai seorang pengajar, namun lebih seperti kakak kelas yang menjadi mentor dan mendampingi mereka dalam melaksanakan aktivitas perkuliahan. Tahun demi tahun berlalu, saya bersyukur masih dapat mendampingi orang muda di ATMI Cikarang. Melalui refleksi dan evaluasi, saya pun merasakan rahmat dan karunia dari Tuhan melalui proses pendampingan orang-orang muda ini. Semangat jiwa muda yang berani untuk mengembangkan diri dan mencoba tantangan-tantangan baru menjadi salah satu terang dan rahmat yang saya terima dari Tuhan. Puji syukur, pada tahun 2014 saya boleh mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi jenjang S1 Teknik Elektro di Universitas Trisakti – Jakarta dengan beasiswa dari ATMI Cikarang sambil tetap menjadi seorang instruktur. Suka duka bekerja sambil berkuliah tentu menjadi rahmat dan pengalaman tersendiri. Sebagai orang muda, semangat willingness to do and to be more (untuk mau bekerja keras, berbuat lebih, dan berusaha terus belajar) menjadi salah satu pengalaman yang bisa dibagikan dalam proses pendampingan mahasiswa saat itu. Rahmat dan terang dari Tuhan dalam usaha mendampingi orang-orang muda pun kembali saya dapatkan. Tahun 2019 ATMI memberikan saya kesempatan studi jenjang S2 pada bidang Mechatronics and Cyber-Physical System di Technische Hochschule Deggendorf dengan beasiswa dari Jesuit Missionsprokur Jerman. Pengalaman tersebut juga semakin menguatkan dan membuka wawasan saya tentang pentingnya menyiapkan pendidikan yang baik dan berkualitas unggul terutama pada dunia pendidikan vokasi. Jerman-Swiss-Austria adalah contoh beberapa negara maju di Eropa yang memiliki sistem pendidikan vokasi yang kuat yang dikenal dengan model Dual System. Pendidikan vokasi model Dual System, Link & Match dengan dunia industri, menjadi motor bagi perkembangan industri di negara tersebut. ATMI sejak berdiri tahun 1968 hingga saat ini masih mengadopsi model Dual System yang kemudian diterjemahkan menjadi model pendidikan dan pelatihan berbasis produksi atau dikenal dengan Production Based Education and Training (PBET). Model PBET inilah yang sampai saat ini masih menjadikan lulusan-lulusan ATMI siap terjun dan berkarya di dunia kerja dan dunia industri. Selain model pendidikan Dual System, perkembangan teknologi industri di Jerman menjadi salah referensi dan bekal bagi saya dalam mengembangkan karya pendidikan di ATMI Cikarang. Berbagi pengalaman studi, hidup, budaya, dan dinamika bersama orang muda dan masyarakat lintas negara selama dua tahun di Jerman itu, menjadi salah satu usaha yang dapat saya lakukan setelah saya kembali mendampingi para mahasiswa. Saya mengenalkan budaya pendidikan vokasi dan budaya industri di negara maju serta menularkan kebiasaan baik yang ada di sana dalam mendidik orang muda di Indonesia. Tidak dapat dimungkiri bahwa perkembangan teknologi digital di dunia kerja dan dunia industri yang semakin maju, ditambah efek pandemi yang terjadi beberapa tahun yang lalu, tentu menjadi tantangan besar yang akan dihadapi orang muda saat ini. Adanya berbagai kemudahan yang disediakan di dunia digital serta berbagai macam- macam hiburan yang ditawarkan di media sosial memiliki pengaruh yang besar pula pada perkembangan orang muda. Perkembangan teknologi juga memberikan dampak bagi penyediaan lapangan kerja bagi orang-orang muda. Melihat kondisi tersebut, saya sebagai seorang dosen pun merasa harus terus beradaptasi dan mengembangkan diri dalam rangka mendampingi orang-orang muda. Menurut saya, pendidikan yang baik masih menjadi kunci untuk membawa pribadi-pribadi menjadi lebih baik lagi. Sistem pendidikan vokasi mengajarkan orang muda untuk lebih memiliki kemampuan pada suatu bidang keahlian tertentu. Dari sisi pendidikan vokasi model ATMI, standar industri yang ada saat ini masih tetap perlu diberikan supaya mahasiswa semakin siap untuk nantinya berkarya di dunia kerja dan dunia industri. Ditambah lagi, penekanan pada pendidikan karakter sebagai standar pendidikan sekolah-sekolah Jesuit yang berlandaskan pada nilai-nilai Ignatian, 4C (Competence, Conscience, Compassion, Commitment) dan Universal Apostolic Preferences (UAP) juga harus terus dikuatkan dalam setiap proses pendampingan para mahasiswa. Model pendidikan seperti ini diharapkan dapat membentuk orang-orang muda pembaharu dunia yang berstandar industri dan berkarakter unggul. Penghayatan semangat Magis untuk mau belajar, berkreasi, dan berinovasi, serta kemauan untuk selalu menjadi lebih baik perlu terus ditularkan kepada para peserta didik di setiap unit karya pendidikan milik Jesuit. Besar harapannya penghayatan ini akan membantu semakin banyak orang muda yang dapat menemukan potensi-potensi terbaik dari dirinya, membangun harapan baru, dan memberikan manfaat bagi perkembangan dirinya, keluarganya, bangsa, dan negaranya serta ikut berperan menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya di masa yang akan datang demi kemuliaan Allah yang lebih besar. AMDG Kontributor: F.O. Sanctos P. Tukan -Dosen ATMI Cikarang

Penjelajahan dengan Orang Muda

Membersamai “Si Muda” Menemukan Tuhan melalui Dunia Digital

Tiga tahun ini saya banyak berdinamika dan berproses bersama orang muda di Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang melalui layanan digital di gereja, khususnya multimedia. Mulai dari membuat jadwal tugas, mendampingi anggota baru, hingga mengolah teks misa agar dapat ditampilkan dengan baik dan nyaman di perangkat multimedia gereja kami. Melayani Orang Muda bersama Para Jesuit Berproses bersama Jesuit membuat saya merasa tertantang karena beberapa Jesuit yang saya kenal adalah pribadi yang inovatif meski kadang ide-ide kreatif itu muncul di menit-menit akhir. Dengan perubahan ide-ide yang datang “mendadak” seringkali membuat saya harus memikirkan cara untuk menyampaikannya kepada si muda tanpa mengecilkan apa yang sudah mereka lakukan. Menemani, berproses, dan saling bekerja sama mewujudkan ide-ide tersebut yang dibumbui “sambat” menjadi pengalaman yang menantang sekaligus mengembangkan. Melihat bagaimana para Jesuit bersemangat dan bersukacita dalam melayani umat juga menjadi motivasi tersendiri. Ketika orang mampu melayani dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati maka orang di sekitarnya pun merasakan buah sukacita. Dari pengalaman melihat itu, saya menyimpulkan bahwa ternyata pelayanan membuahkan sukacita baik bagi yang dilayani maupun yang melayani. Terang dan Rahmat Percaya atau tidak, membersamai si muda yang berdinamika dalam iman pun membawa berkat tersendiri bagi kehidupan. Saya dibawa pada ingatan ketika saat-saat pertama saya menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup saya. Misalnya, menemukan Tuhan dalam hal paling sederhana seperti bisa mengerjakan ujian di saat kondisi otak sudah buntu. Menjadi bagian dari kehidupan mereka dalam era digital membuat saya tersadar bahwa menyebarkan sukacita itu bisa sesederhana membuat IG story ‘By His wounds you have been healed. #GoodFriday.’ See! Tuhan berkarya dalam siapa saja bahkan dalam si muda yang belum banyak usianya. Saya tersentil dengan cara yang kadang kocak dan sederhana. Hal ini mengingatkan saya bahwa di dalam diri saya terdapat jiwa muda yang dipelihara oleh Tuhan untuk terus percaya pada-Nya. Tantangan Terbesar Orang Muda Saat ini Siapa itu orang muda? Apakah yang dikelompokkan menurut usia tertentu? Atau orang-orang yang memiliki jiwa muda di dalamnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelitik di dalam pikiran. Terkadang saya menjumpai seorang yang bahkan belum mencapai umur 17 tahun tapi didewasakan oleh perjalanan hidup yang tidak mudah. Kalau di reels Instagram biasanya ditulis “dipaksa dewasa oleh keadaan.” Dia kehilangan binar dan senyum masa muda yang tetap menunjukkan wibawanya. Menjadi muda di era saat ini sangatlah berat terutama berhadapan dengan kondisi dan tuntutan masyarakat. Belum lagi harus menghadapi fase krisis mempertanyakan eksistensi diri, mencari jati diri. Sebetulnya kita diminta jadi apa? Seharusnya langkah apa yang diambil? Apakah ini yang diharapkan untuk memenuhi standar khalayak umum. Menjadi muda saat ini adalah BEBAN! Bergaya dibilang flexing (padahal itu satu-satunya yang dimiliki). Ketika menulis caption “butuh healing” dicap tidak tahu bersyukur atas semua yang diberi. Bikin story Instagram “lelah” pun jadi perkara. ‘Kamu belum tahu zaman kita, dek. Lebih berat! Ini mah belum seberapa!’ Membuat checklist “misa mingguan check” pun dianggap sebagai pamer. Menjadi muda saat ini menguras mental. Jadi, bila kesehatan mental akhir-akhir ini digaungkan pun tidak salah karena menjadi muda yang berbeda, harus memenuhi ekspektasi yang luar biasa dari lingkungan sekitar. Sisi positifnya ialah orang-orang muda ini masih memberi tempat bagi Tuhan. Mereka tahu di bawah sadarnya bahwa mereka harus mengadu ke sana. Itu pula yang menjadi salah satu alasan si muda tidak konsisten dan tidak menindaklanjuti sesuatu yang sudah dipelajari. Mereka cenderung mempelajari sesuatu karena penasaran dan lekas bosan. Beberapa yang bergabung dan telah berlatih untuk bertugas, hanya muncul sebentar lalu menghilang. Mereka hanya penasaran namun kesadaran untuk melakukan pelayanan masih kurang. Mereka lebih memilih untuk bertemu dengan teman daripada harus bertugas sesuai jadwal. Kurangnya motivasi dari diri mereka sendiri membuat pelayanan menjadi tidak menarik dan terasa membosankan. Agaknya bagi mereka pasang IG Story dengan background komputer gereja masih kalah menarik dari background cafe lengkap dengan caption “senja, kopi, dan kamu.” Latar belakang keluarga juga menjadi salah satu faktor yang mendukung anak dalam mengembangkan talenta mereka di gereja. Tidak bisa dimungkiri, keluarga, dalam hal ini orang tua, yang tidak aktif dalam kegiatan menggereja cenderung sulit untuk mendorong anak mereka untuk mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja. Hubungan keluarga yang kurang terbuka juga menjadi hambatan dalam pelayanan di gereja. Beberapa orang muda menggunakan alasan minim dukungan orang tua saat tidak dapat bertugas sesuai jadwal. Usaha dan Suka Duka dalam Menemani Orang Muda Sebagai kolaborator yang juga sedang belajar “lebih dewasa”, menemani orang muda dalam menemukan jalan perutusan melalui pelayanan multimedia di gereja, saya berusaha memberikan pengertian bahwa pelayanan tidak selalu yang “serius” seperti memimpin doa. Saya belajar memberi tanggungjawab dan kepercayaan kepada mereka. Cara pandang bahwa kegiatan gereja akan berjalan lebih baik dan lancar dengan keterlibatan mereka, juga coba saya tularkan kepada mereka. Bahkan memastikan kabel tidak terbakar karena overheat pun termasuk di dalamnya. Saya memberi lebih banyak ruang bagi mereka untuk berdinamika dalam ‘mencari Tuhan’ melalui langkah digital. Membuat konten untuk media sosial, menyiapkan slideshow misa, merekam jalannya tuguran atau mungkin sekadar memastikan bahwa pesan tentang sabda hari ini tersampaikan dengan baik adalah ruang keterlibatan bagi sang muda. Harus kembali ditekankan bahwa melayani Tuhan itu beragam rupanya. Panggilan itu beragam caranya. Bagi saya kolaborator yang menemani si muda dalam ‘mencari Tuhan’ pun diharapkan selalu mengimani dan mendampingi. Si muda adalah energi bukan gulma yang harus dibabat habis. Menemani si muda sebagai kawan perjalanan dalam melayani Tuhan dengan cara yang kreatif tidak lagi harus kaku dan menghakimi. Gereja sebagai wadah pertumbuhan dan perkembangan iman membutuhkan partisipasi mereka sebagai upaya regenerasi. Pada akhirnya masa depan Gereja berada di tangan si muda. Mereka sebetulnya sudah memiliki jawaban dalam diri mereka, mereka hanya butuh waktu untuk menemukannya. Dan tugas kita, menemani. Kontributor: Eugenia Agustina – Koordinator Multimedia Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang

Penjelajahan dengan Orang Muda

Be a Blessing for Others

Menjadi berkat bagi orang lain… Ya, itulah yang ada di pikiran saya selama beberapa tahun belakangan ini. Mungkin ini bukanlah suatu hal yang umum bagi teman-teman seangkatan saya di Polin ATMI Cikarang saat ini. Bagaimana caranya saya bisa memberi dampak positif bagi orang lain? Apa yang bisa saya lakukan supaya hidup orang lain terbantu? Apa sebenarnya tujuan hidup saya di dunia ini? Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Yang terpikir di benak saya adalah saya harus menjadi mapan secara finansial terlebih dahulu untuk bisa membantu orang lain karena menurut saya, banyak hal akan menjadi lebih mudah apabila kita punya uang. Namun, benarkah begitu…? Adakah sesuatu yang bisa saya lakukan saat ini di usia muda untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain? Setelah beberapa hari merefleksikan hal ini, saya mendapatkan pencerahan bahwa ternyata ada banyak hal yang dapat saya lakukan sebagai kaum muda untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain. Dimulai dari hal kecil seperti membantu teman dalam melakukan cleaning (membereskan perlengkapan pembelajaran dan praktek), membantu teman memahami materi perkuliahan, dan sebagainya. Saya merasa kesadaran seperti ini perlu dibiasakan sejak usia muda supaya kesadaran diri terlatih dan siap untuk menghadapi zaman yang terus berubah. Karena menurut saya, masa muda adalah masa yang menentukan arah tujuan hidup seseorang ke depan. Akan menjadi apakah seseorang di masa depan dan karakter seperti apa yang akan dimilikinya, ditentukan oleh masa muda. Masa muda merupakan masa di mana kita harus banyak belajar terutama belajar dari pengalaman diri sendiri dan dari pengalaman orang lain. Namun permasalahannya adalah banyak dari kaum muda yang masih malas untuk belajar. Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah diri kami sendiri. Seringkali kami teralihkan pada hal-hal atau kebiasaan negatif yang menguras waktu dan energi sehingga hilang fokus dalam mencapai tujuan. Seperti misalnya nongkrong hingga larut malam bersama teman-teman, menunda pekerjaan, menonton film biru, dan sebagainya. Bahkan banyak di antara kaum muda yang masih belum tahu arah hidupnya mau ke mana. Hal seperti ini yang harus dijadikan perhatian utama agar para kaum muda dapat lebih terarahkan hidupnya. Saya bersyukur karena jawaban dari problema tersebut perlahan-lahan mulai saya temukan setelah saya masuk ke Polin ATMI Cikarang, salah satu politeknik yang dinaungi oleh Serikat Jesus (Jesuit). Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada banyak orang baik yang sudah membantu proses kuliah saya di sini. Sungguh, tanpa campur tangan Tuhan dan orang-orang baik tersebut, mungkin saat ini saya masih bekerja sebagai staff audit di salah satu perusahaan smartphone di Jakarta dengan kegiatan yang monoton dan melelahkan. Saya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saya berasal dari keluarga yang tidak utuh (broken home) dan saat ini tinggal bersama Ibu dan kedua adik saya. Latar belakang khusus ini membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang khas pula. Dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya tentu bukanlah hal yang mudah untuk saya. Pikiran untuk mengakhiri hidup pun sempat menghampiri tetapi untungnya saya bisa mengusirnya. Itu semua berkat dukungan dan semangat dari orang-orang yang saya cintai serta keyakinan bahwa broken home bukan berarti broken future. Saya juga bersyukur dapat menjadi bagian keluarga besar ATMI. Saya mendapatkan banyak sudut pandang baru dari civitas ATMI, terutama Pater Kristiono Puspo, S.J. yang mengajarkan betapa pentingnya melakukan refleksi diri setiap hari. Beliau mengatakan bahwa hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalankan (begitu kira-kira pernyataan beliau). Maka dari itu, selama enam bulan pertama para mahasiswa tingkat satu diwajibkan untuk menulis refleksi di sebuah buku setiap hari. Tujuannya sederhana, yaitu agar dapat mengevaluasi kembali aktivitas hari ini, melihat kejadian-kejadian yang memberikan pelajaran berharga pada hari tersebut, dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan sebelumnya. Sejauh ini, pengalaman refleksi ini merupakan pengalaman yang paling berkesan selama berdinamika dengan para Jesuit. Kelihatannya sepele, namun dengan melakukan refleksi setiap hari, kita bisa tahu berapa banyak waktu yang kita hemat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan menjadi lebih kenal dengan diri sendiri. Sayangnya, banyak di antara kami yang masih malas untuk melakukan hal tersebut karena masih menganggap sepele kekuatan refleksi. Saya berharap para Jesuit dapat menemukan cara yang semakin kreatif dan tepat dengan perkembangan zaman sekarang dalam mengajarkan betapa pentingnya refleksi harian. Saya juga berharap para Jesuit terus membantu para mahasiswa dalam menemukan arah hidup atau passion masing-masing karena banyak di antara teman-teman (termasuk saya) yang belum sadar apa passion-nya. Dengan mengetahui passion kami, kami akan menjadi lebih terarah dalam melangkah ke depan karena sudah tahu ke mana arah yang dituju dan tentu saja, akan merasa lebih senang dalam menjalani prosesnya. Yang terakhir, sebagai orang muda saya berharap agar 5-10 tahun ke depan Jesuit dapat menjadi berkat yang lebih banyak bagi orang lain melalui karya-karyanya, terutama di bidang pendidikan. Kontributor: Theodorus Nino Alfianto – Mahasiswa Polin ATMI Cikarang

Penjelajahan dengan Orang Muda

Yang Muda Yang Terlibat

Sebagai seorang muda jika ditanya bagaimana pandangan saya tentang masa muda, saya akan mengatakan bahwa masa ini merupakan masa krusial namun potensial. Sependek pengetahuan dan pengalaman saya, masa muda adalah masa di mana kita sedang mengalami banyak perjumpaan dengan hal baru dan masa di mana kita sedang senang mengeksplorasi serta mempelajari banyak hal. Masa itu merupakan saat di mana seseorang secara fisik, mental, emosional, sosial, moral dan, iman sedang berkembangan menuju pendewasaan. Jika menilik pada Kitab Hukum Kanonik Kanon 97 ayat 1-2, seseorang dapat dianggap dewasa ketika berusia genap delapan belas tahun karena dianggap telah mampu menggunakan akal budinya untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Dalam masa ini, begitu banyak impian dan harapan yang dirasakan. Tidak hanya impian dan harapan pribadi tetapi juga menjadi harapan besar bagi bangsa dan Gereja karena orang muda memiliki banyak potensi besar dalam dirinya. Maka dari itu, jika potensi yang dimiliki orang muda mampu dikembangkan secara maksimal, baik potensi fisik maupun kognitif, saya yakin bahwa orang muda mampu menjadi pilar penerus yang kokoh. Namun, untuk menjadi pilar yang kokoh, orang muda tentunya masih membutuhkan bimbingan, arahan, dan pendampingan terlebih dalam perkembangan iman. Sebagai lingkup terkecil dan terdekat, Gereja mengharapkan keluarga mampu mendidik anak-anak yang dipercayakan Tuhan menjadi seorang Katolik yang setia sebagaimana kesediaan yang telah dinyatakan dalam pernikahan. Melibatkan anak sejak dini dalam kehidupan menggereja bisa membantu anak mengidentifikasi dirinya. Gereja pun sebenarnya telah memberikan wadah yang variatif bagi setiap jenjang tumbuh kembang anak, seperti PIA (Pendampingan Iman Anak), PIR (Pendampingan Iman Remaja), misdinar, komsos, lektor, pemazmur, OMK (Orang Muda Katolik), dll. Melalui keterlibatannya, meskipun dalam hal-hal sederhana, orang muda akan mempunyai kesempatan untuk belajar dan melatih diri dalam mengusahakan rasa tanggung jawab, disiplin, mampu berempati, percaya diri, ikhlas, berintegritas, tetap mengandalkan, dan semakin mampu menghadirkan kasih Allah dalam hidup sesuai dengan iman Katolik. Tentunya terlibat dalam hidup menggereja tidaklah mudah. Begitu banyak tantangan yang harus dihadapi oleh orang muda. Beberapa tahun ini, saya memberanikan diri untuk terlibat dalam bidang liturgi di Paroki St. Theresia Bongsari sebagai lektor dan OMK. Sebagai orang muda, tantangan yang terasa pada generasi muda Gereja saat ini terlihat begitu beragam. Sering kali saya bersama teman-teman muda antartim pelayanan nongkrong sembari berbagi perasaan dan pengalaman selama berdinamika sebagai pelayan Tuhan. Sayangnya, terkadang keterlibatan orang muda justru dipandang sebelah mata, dianggap tidak mampu, dan diragukan. Orang muda sering dianggap belum berpengalaman terutama oleh generasi pendahulunya. Hal ini juga menjadi salah satu alasan yang sering saya temukan pada teman-teman muda yang merasa enggan untuk menyampaikan argumennya. Mereka merasa tidak didengarkan sehingga pada akhirnya hanya mengikuti saja apa yang telah diinstruksikan oleh yang lebih senior. Usaha awal kami untuk terlibat dalam pelayanan seringkali dibuat maju-mundur, entah karena takut tidak mendapat penerimaan atau takut karena merasa diri kurang qualified ketika mengikuti tim pelayanan. Adanya kemajuan teknologi memang membawa dampak positif bagi perkembangan Gereja. Pelbagai bentuk pelayanan dalam kehidupan menggereja terus meng-upgrade diri demi tetap bisa memberi pelayanan terbaik bagi umat. Misalnya melalui live streaming perayaan Ekaristi sebagai salah satu bentuk usaha Gereja dalam pemenuhan kebutuhan rohani umatnya. Namun perjuangan selama kurang lebih dua tahun menghadapi pandemi, telah membuat kaum muda semakin nyaman dan terbiasa melakukan berbagai hal secara daring termasuk dalam hal bersosialisasi. Orang muda dengan mudahnya dapat membangun relasi secara daring, tetapi kesulitan membangun komunikasi ketika dihadapkan dalam situasi riil. Tidak sedikit orang muda mulai lebih senang berlindung di zona nyamannya seperti mengikuti berbagai kegiatan daring sehingga saat ini, butuh pendekatan yang lebih personal untuk “menjemput bola”. Padahal sesungguhnya, banyak sumber daya muda yang kreatif dan penuh talenta. Berbagai tantangan dalam pelayanan yang saya dan teman-teman muda rasakan akhirnya membawa saya berjumpa dan berdinamika bersama dengan banyak pihak, terlebih dengan para Jesuit. Memang pada dasarnya konflik adalah hal yang wajar terjadi. Namun, jika konflik secara berkelanjutan tidak disikapi secara bijaksana, yang dikhawatirkan adalah hal ini justru akan menjadi bom waktu yang dapat meledak dan menimbulkan ketidakharmonisan sewaktu-waktu dalam Gereja. Dukungan dari para Jesuit terhadap kami kaum mudalah yang meyakinkan kami untuk tetap tampil percaya diri mengemban tugas pelayanan kami. Kami selalu dipercaya dalam banyak kegiatan oleh para Jesuit. Seperti tidak mengenal bosan, para Jesuit meyakinkan umat untuk percaya pada kemampuan kami. Berulang kali Jesuit menekankan pada umat pentingnya peran kami, orang muda, bagi kehidupan gereja sebagaimana dalam Kitab Suci, Tuhan pun memakai orang-orang muda bahkan dalam karya-karya besar-Nya. Contohnya: Samuel, Daud, dan Paulus. Semangat Jesuit yang memperjuangkan eksistensi orang muda, membuat kami terpacu untuk juga memberikan yang terbaik dalam setiap kepercayaan yang diberikan kepada kami. Tidak mudah dan butuh waktu. Akan tetapi, kepercayaan umat yang semakin tumbuh dari tahun ke tahun membuat kami lebih banyak mendapat kesempatan terlibat dan belajar. Semakin banyak pula wajah orang muda yang muncul dalam karya pelayanan, meskipun tentunya masih banyak lagi orang muda yang perlu dirangkul. Saya bersyukur karena ada banyak pengalaman penemanan para Jesuit yang begitu mengesan bagi kami. Bagi saya pribadi, saya mendapat banyak hal yang bisa saya terapkan dalam hidup bermasyarakat, tidak hanya dalam hidup menggereja. Saya belajar bagaimana caranya berefleksi agar dapat menemukan kasih Allah sekalipun dalam hal kecil dan tidak menyenangkan. Ada sebuah kalimat yang pernah dikatakan oleh seorang Jesuit kepada saya dan masih selalu saya ingat: “Hal baik belum tentu yang terbaik, apalagi jika hal baik itu membuatmu menjauh dari tujuan awalmu.” Berdiskresi, membedakan dorongan roh baik dan roh jahat, tidaklah mudah. Apalagi yang jahat pun dapat menyerupai yang baik agar dapat mengecoh kita. Terlebih dalam pelayanan, terkadang kita perlu lebih dalam menelisik hati kita, “Apakah pelayanan yang kita lakukan sungguh benar untuk kemuliaan Tuhan, atau hanya untuk kemuliaan diri kita sendiri?” Sebagai orang muda, banyak hal yang perlu dipelajari dan dipahami menuju kedewasaan. Terkadang kita mungkin melakukan kesalahan tetapi “it’s okay, people make mistakes sometimes, we should regret it then learn from them.” “Jangan takut, sebab Ia mendahului kamu ke Galilea.” Tuhan sudah berdiri di depan kita, di jalan yang kita lalui dan selalu memastikan semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu melakukan bagian kita dan selalu berpegang pada tangan-Nya. Sebagai orang muda, kami membutuhkan kepercayaan, dukungan, dan ruang untuk mengembangkan potensi

Penjelajahan dengan Orang Muda

Welcoming New Members OMK Santa Theresia Jakarta

Orang Muda Katolik (OMK) Santa Theresia Jakarta menggelar acara Welcoming New Members di Ruangan Yakobus dan Yohanes pada Sabtu 11 Maret 2023 yang dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi bersama pada pukul 18.00 WIB. Ketua seksi Acara Welcoming New Members OMK 2023 Gereja Santa Theresia, Michael Bima Radhitia, mengungkapkan bahwa pelaksanaan kegiatan ini sebagai bagian pengenalan serta pembekalan kepada anggota yang baru bergabung di OMK Santa Theresia Jakarta. “Anggota OMK yang baru bergabung adalah para Misdinar dari PPA Santa Theresia dan umum, ada sekitar 50 orang anggota baru,” ujar Bima di sela-sela pelaksanaan Welcoming New Member. Lebih lanjut, Bima menjelaskan acara Welcoming New Members OMK ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Mareike Widjaja sebagai Dewan Pendamping OMK dan Christina Ayu Novia (Opi) sebagai Ketua OMK Santa Theresia Jakarta periode 2022-2025. Mareike dan Opi berharap para anggota baru OMK dapat berperan aktif dalam kegiatan Kepemudaan Gereja. Opi juga menambahkan usia anggota OMK Santa Theresia berkisar antara 13-35 tahun. Sementara itu, Dewan Pendamping OMK, Mareike Widjaja dalam acara ini memaparkan tentang kegiatan-kegiatan anak muda menjadi sarana supaya kembali ke gereja. Selain itu, agar mereka dapat aktif bersama sebagai kaum muda, menjadi semangat baru untuk gereja, serta menjadi support system dalam menjalani masa muda yang penuh tantangan. OMK Santa Theresia juga mempunyai berbagai kegiatan seru baik yang sedang berjalan maupun yang akan datang. Kegiatan yang sedang berjalan antara lain: T-Pod (Theresia Podcast) yang tayang di YouTube KomSos Theresia setiap sebulan sekali dengan topik-topik seputar OMK masa kini. Ada juga Persiapan Tablo 2023 untuk Ibadat Jumat Agung 7 April 2023 pukul 08.00 WIB dengan latihan yang dilakukan satu minggu tiga kali (Kamis malam, Sabtu sore, dan Minggu pagi). Adapun kegiatan OMK Santa Theresia yang akan diadakan sepanjang tahun ini antara lain: olahraga badminton bersama, menjaga ketertiban dan keamanan pada Pekan Suci, Harmonisasi Lintas Agama, dan Misa Inkulturasi. Setelah pemaparan kegiatan OMK, acara dilanjutkan dengan nonton bareng (nobar) “A Man Called Otto”. Tentunya juga disuguhkan makanan dan minuman dari UMKM yang dikelola oleh beberapa anggota OMK Santa Theresia sejalan dengan himbauan dari Tim Sinergi Bidang Prioritas Keuskupan Agung Jakarta (TSBP 2 KAJ) untuk mendukung UMKM setempat. Bagi teman-teman yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, apabila ingin bergabung di OMK Santa Theresia Jakarta, bisa menghubungi Calvin 082299553295 atau daftar melalui link bit.ly/kepoinomktheresia sekarang ya. Semoga kita dapat bertumbuh menjadi benih baru bagi Gereja di masa yang akan datang. AMDG. Kontributor: Gregorius Vincent Raka Pratama – Humas OMK St Theresia

Penjelajahan dengan Orang Muda

The First “NOEL”

Natal OMK Mengunjungi Lansia The first Noel, the Angels did say,  was a certain poor shepherd in fields as they lay~ Pasti kita sudah tahu dengan lagu The First Noel ini. Kalimat pertama dari lagu ini mengingatkan kita akan perhatian Allah pada umat-Nya, terutama mereka yang lemah dan tersingkir. Sebagai anak-anak Allah, hendaknya kita juga berlaku seperti sifat Allah yang memperhatikan kondisi mereka. Berangkat dari kesadaran akan tugas sebagai anak-anak Allah dan terinspirasi oleh semangat dasar ARDAS KAJ 2022-2026 untuk semakin mengasihi, semakin peduli, semakin bersaksi, Orang Muda Katolik (OMK) Katedral Jakarta ingin mewujudnyatakannya tidak hanya sebagai semboyan belaka tetapi menjadi sebuah gerakan nyata, sederhana namun kreatif. Pater Hani Rudi Hartoko, S.J. sering mengingatkan perhatian pada yang 4 S+1D (senior, sendiri, sakit, sekolah dan disabilitas). The First “NOEL” (natal OMK mengunjungi lansia) demikian kami menyebutnya. Gerakan ini adalah salah satu “jalan lain” yang dipilih oleh OMK Katedral Jakarta selama persiapan menyambut Natal dan jalan ini adalah sarana untuk belajar tumbuh bersama dan memiliki peran di dalam komunitas di paroki dengan memberikan perhatian kepada para lansia (usia 70 tahun atau lebih), disabilitas, serta mereka yang terbaring sakit dan tidak dapat pergi ke gereja.  Berawal dari obrolan santai sambil ngopi-ngopi dan bertukar pikiran tentang kondisi anak muda, ide untuk bergerak, hadir, menyapa pun muncul. Jika dibayangkan tentulah dalam waktu yang singkat tidaklah cukup (kurang dari 1 bulan): harus membentuk panitia, mengumpulkan data lansia, mengumpulkan donasi hingga sponsorship. Namun kami percaya gerakan baik untuk membantu pasti menular dengan cepat dan kami berpikir untuk berusaha saja dulu, dan kalaupun tidak cukup uang yang dibutuhkan, paroki pasti juga mau membantu. Orang-orang muda mulai tertantang untuk berjalan bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain yang membutuhkan.  Selain menyumbangkan waktu dan tenaga, kami juga menyisihkan sebagian uang jajan untuk berbagi walaupun kecil dan masih jauh dari cukup. Benar-benar tidak terbayangkan semuanya berjalan dengan lancar dan dalam waktu kurang dari 1 bulan: donasi terkumpul dan dapat dibelikan handuk, mug stainless steel dan tas (totebag). Menjelang akhir pun banyak perusahaan maupun individu memberikan donasinya dalam bentuk barang mulai dari minyak “kajoe poetih” Ambon, selimut, puding inaco, biskuit roma, pasta dan sikat gigi dari pepsodent, sensodyne, biskuit dari nutrifood, wings group (emeron, ciptadent, sabun fres). Sungguh kami merasakan rahmat yang begitu besar dari Tuhan. Belum berhenti disitu, selanjutnya kami masih harus berkoordinasi dengan litbang paroki untuk membantu kami mengelompokkan nama-nama para lansia yang akan dikunjungi berdasarkan usia dan lingkungan mereka. Setelah itu meminta bantuan ketua lingkungan untuk menghubungi mereka yang akan kami kunjungi. Kami sedikit berseloroh, “Ah kalau 50 saja mungkin mudah, tapi kalau ada 500 kita harus kunjungi satu persatu kapan selesai ya? Dan bagaimana kalau kami ditolak?”  Pater Bernadus Christian Triyudo Prastowo, S.J., sebagai penasihat, memberikan dukungan dan berbagi pengalamannya. Beliau berkata “Kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi? Inilah momen anak muda bangkit dan bergerak memilih “jalan lain” yang sederhana dan kreatif. Akan ada banyak pengalaman baru dan kita bisa saling belajar.” Ternyata ketua lingkungan juga dengan senang hati membantu kegiatan OMK dengan menghubungi para lansia untuk membuat janji kedatangan, bahkan ikut menemani kami para OMK berkunjung satu per satu dari rumah ke rumah. Blessing in disguise juga loh, di sini kami bertemu dan berkenalan dengan OMK di lingkungan yang belum aktif melayani di paroki.  Pater Yudo, S.J.  mengatakan dalam pembekalan, “Kunjungan ini bukanlah pertama-tama untuk membagikan bingkisan, tetapi untuk hadir bagi para senior di paroki kita yang kadang mersakan kesepian karena ditinggal anaknya. Bisa saja bingkisan ini dikirim oleh kurir, tapi ga ada faedahnya. Berbeda pastinya kalau OMK turun langsung berkunjung dan mengenal para lansia ini. Banyak lansia di paroki kita yang sering merasa ditinggalkan anaknya dan bila kita bayangkan betapa bahagianya mereka kalau ada anak muda yang berkunjung, mendengarkan kisah mereka. Kehadiran orang muda akan membuat mereka merasa tidak sendirian. Selain itu, diharapkan kita orang muda yang ikut serta juga bisa akhirnya menghargai orang tua kita masing-masing serta berlatih menjadi pribadi yang lebih memiliki ‘rasa’.” Selain itu kami juga dibekali mengenai karateristik lansia oleh om Albert Budiman supaya kami tau bagaimana menghadapi mereka, dan apa yang harus kita lakukan saat kunjungan. Beberapa pertanyaan, gerak tubuh yang sopan dan tak lupa mendoakan mereka agar selalu sehat juga diingatkan oleh om Albert dalam pembekalan. Jadwal kunjungan untuk 57 lingkungan dimulai dari tanggal 5 Desember hingga 23 Desember 2022 pukul 17.00 – 20.00 WIB. Bukan waktu yang terlalu ideal memang untuk para oma opa, tetapi sebagian dari kami ada yang masih sekolah, kuliah dan juga bekerja. Puji Tuhan dalam 4 minggu kunjungan ini berjalan dengan lancar. Memang kadang cuaca kurang bersahabat tetapi tidak menyurutkan semangat orang muda untuk mendatangi oma opa yang sudah menunggu kami di rumahnya. Ada senyum bahagia saat oma dan opa menyambut kami, ada yang terbaring sakit namun masih tersenyum dalam keterbatasannya, ada yang masih lincah dan senang bercerita tentang masa mudanya, beberapa di antaranya sudah berkurang pendengaran dan ingatannya, mengeluh kaki sakit dan mata sudah tidak bisa melihat dengan baik, ada yang bermain boneka, bahkan ada pula oma yang meminta salah satu dari kami untuk memanjat pohon jambu ketika kunjungan. Rasanya semua senyum, keceriaan oma opa ini menghilangkan rasa lelah yang kadang harus kami tempuh dalam perjalanan. Beraneka ragam kondisi mereka. Banyak pengalaman yang kami dapatkan dan cerita-cerita menarik serta menyentuh dari teman-teman sesama OMK. Sharing dalam perjumpaan meneguhkan satu dengan yang lain dan semakin meyakinkan bahwa kepedulian perlu diwujudnyatakan dalam langkah sederhana namun terus-menerus. Satu hal yang kami sadari juga bahwa mereka (para senior/lansia) mengajarkan arti kehidupan yang tidak ada dalam buku sekolah atau kuliah. Semangat hidup mereka memberikan bekal nyata bagi anak muda untuk mengarungi kehidupan. Mereka mengajarkan kami untuk terus memiliki rasa. Sungguh pengalaman menyiapkan Natal yang berharga. Kontributor: Xenia dan Stephanie – OMK Katedral Jakarta