capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

Yang Muda Yang Terlibat

Date

Sebagai seorang muda jika ditanya bagaimana pandangan saya tentang masa muda, saya akan mengatakan bahwa masa ini merupakan masa krusial namun potensial. Sependek pengetahuan dan pengalaman saya, masa muda adalah masa di mana kita sedang mengalami banyak perjumpaan dengan hal baru dan masa di mana kita sedang senang mengeksplorasi serta mempelajari banyak hal. Masa itu merupakan saat di mana seseorang secara fisik, mental, emosional, sosial, moral dan, iman sedang berkembangan menuju pendewasaan.

Jika menilik pada Kitab Hukum Kanonik Kanon 97 ayat 1-2, seseorang dapat dianggap dewasa ketika berusia genap delapan belas tahun karena dianggap telah mampu menggunakan akal budinya untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Dalam masa ini, begitu banyak impian dan harapan yang dirasakan. Tidak hanya impian dan harapan pribadi tetapi juga menjadi harapan besar bagi bangsa dan Gereja karena orang muda memiliki banyak potensi besar dalam dirinya. Maka dari itu, jika potensi yang dimiliki orang muda mampu dikembangkan secara maksimal, baik potensi fisik maupun kognitif, saya yakin bahwa orang muda mampu menjadi pilar penerus yang kokoh. Namun, untuk menjadi pilar yang kokoh, orang muda tentunya masih membutuhkan bimbingan, arahan, dan pendampingan terlebih dalam perkembangan iman. Sebagai lingkup terkecil dan terdekat, Gereja mengharapkan keluarga mampu mendidik anak-anak yang dipercayakan Tuhan menjadi seorang Katolik yang setia sebagaimana kesediaan yang telah dinyatakan dalam pernikahan.

Melibatkan anak sejak dini dalam kehidupan menggereja bisa membantu anak mengidentifikasi dirinya. Gereja pun sebenarnya telah memberikan wadah yang variatif bagi setiap jenjang tumbuh kembang anak, seperti PIA (Pendampingan Iman Anak), PIR (Pendampingan Iman Remaja), misdinar, komsos, lektor, pemazmur, OMK (Orang Muda Katolik), dll. Melalui keterlibatannya, meskipun dalam hal-hal sederhana, orang muda akan mempunyai kesempatan untuk belajar dan melatih diri dalam mengusahakan rasa tanggung jawab, disiplin, mampu berempati, percaya diri, ikhlas, berintegritas, tetap mengandalkan, dan semakin mampu menghadirkan kasih Allah dalam hidup sesuai dengan iman Katolik. Tentunya terlibat dalam hidup menggereja tidaklah mudah. Begitu banyak tantangan yang harus dihadapi oleh orang muda.

Beberapa tahun ini, saya memberanikan diri untuk terlibat dalam bidang liturgi di Paroki St. Theresia Bongsari sebagai lektor dan OMK. Sebagai orang muda, tantangan yang terasa pada generasi muda Gereja saat ini terlihat begitu beragam. Sering kali saya bersama teman-teman muda antartim pelayanan nongkrong sembari berbagi perasaan dan pengalaman selama berdinamika sebagai pelayan Tuhan.

Sayangnya, terkadang keterlibatan orang muda justru dipandang sebelah mata, dianggap tidak mampu, dan diragukan. Orang muda sering dianggap belum berpengalaman terutama oleh generasi pendahulunya. Hal ini juga menjadi salah satu alasan yang sering saya temukan pada teman-teman muda yang merasa enggan untuk menyampaikan argumennya. Mereka merasa tidak didengarkan sehingga pada akhirnya hanya mengikuti saja apa yang telah diinstruksikan oleh yang lebih senior. Usaha awal kami untuk terlibat dalam pelayanan seringkali dibuat maju-mundur, entah karena takut tidak mendapat penerimaan atau takut karena merasa diri kurang qualified ketika mengikuti tim pelayanan.

Dokumentasi: Penulis

Adanya kemajuan teknologi memang membawa dampak positif bagi perkembangan Gereja. Pelbagai bentuk pelayanan dalam kehidupan menggereja terus meng-upgrade diri demi tetap bisa memberi pelayanan terbaik bagi umat. Misalnya melalui live streaming perayaan Ekaristi sebagai salah satu bentuk usaha Gereja dalam pemenuhan kebutuhan rohani umatnya. Namun perjuangan selama kurang lebih dua tahun menghadapi pandemi, telah membuat kaum muda semakin nyaman dan terbiasa melakukan berbagai hal secara daring termasuk dalam hal bersosialisasi. Orang muda dengan mudahnya dapat membangun relasi secara daring, tetapi kesulitan membangun komunikasi ketika dihadapkan dalam situasi riil. Tidak sedikit orang muda mulai lebih senang berlindung di zona nyamannya seperti mengikuti berbagai kegiatan daring sehingga saat ini, butuh pendekatan yang lebih personal untuk “menjemput bola”. Padahal sesungguhnya, banyak sumber daya muda yang kreatif dan penuh talenta.

Berbagai tantangan dalam pelayanan yang saya dan teman-teman muda rasakan akhirnya membawa saya berjumpa dan berdinamika bersama dengan banyak pihak, terlebih dengan para Jesuit. Memang pada dasarnya konflik adalah hal yang wajar terjadi. Namun, jika konflik secara berkelanjutan tidak disikapi secara bijaksana, yang dikhawatirkan adalah hal ini justru akan menjadi bom waktu yang dapat meledak dan menimbulkan ketidakharmonisan sewaktu-waktu dalam Gereja.

Dukungan dari para Jesuit terhadap kami kaum mudalah yang meyakinkan kami untuk tetap tampil percaya diri mengemban tugas pelayanan kami. Kami selalu dipercaya dalam banyak kegiatan oleh para Jesuit. Seperti tidak mengenal bosan, para Jesuit meyakinkan umat untuk percaya pada kemampuan kami. Berulang kali Jesuit menekankan pada umat pentingnya peran kami, orang muda, bagi kehidupan gereja sebagaimana dalam Kitab Suci, Tuhan pun memakai orang-orang muda bahkan dalam karya-karya besar-Nya. Contohnya: Samuel, Daud, dan Paulus.

Semangat Jesuit yang memperjuangkan eksistensi orang muda, membuat kami terpacu untuk juga memberikan yang terbaik dalam setiap kepercayaan yang diberikan kepada kami. Tidak mudah dan butuh waktu. Akan tetapi, kepercayaan umat yang semakin tumbuh dari tahun ke tahun membuat kami lebih banyak mendapat kesempatan terlibat dan belajar. Semakin banyak pula wajah orang muda yang muncul dalam karya pelayanan, meskipun tentunya masih banyak lagi orang muda yang perlu dirangkul.

Saya bersyukur karena ada banyak pengalaman penemanan para Jesuit yang begitu mengesan bagi kami. Bagi saya pribadi, saya mendapat banyak hal yang bisa saya terapkan dalam hidup bermasyarakat, tidak hanya dalam hidup menggereja. Saya belajar bagaimana caranya berefleksi agar dapat menemukan kasih Allah sekalipun dalam hal kecil dan tidak menyenangkan. Ada sebuah kalimat yang pernah dikatakan oleh seorang Jesuit kepada saya dan masih selalu saya ingat: “Hal baik belum tentu yang terbaik, apalagi jika hal baik itu membuatmu menjauh dari tujuan awalmu.” Berdiskresi, membedakan dorongan roh baik dan roh jahat, tidaklah mudah. Apalagi yang jahat pun dapat menyerupai yang baik agar dapat mengecoh kita. Terlebih dalam pelayanan, terkadang kita perlu lebih dalam menelisik hati kita, “Apakah pelayanan yang kita lakukan sungguh benar untuk kemuliaan Tuhan, atau hanya untuk kemuliaan diri kita sendiri?”

Sebagai orang muda, banyak hal yang perlu dipelajari dan dipahami menuju kedewasaan. Terkadang kita mungkin melakukan kesalahan tetapi “it’s okay, people make mistakes sometimes, we should regret it then learn from them.” “Jangan takut, sebab Ia mendahului kamu ke Galilea.” Tuhan sudah berdiri di depan kita, di jalan yang kita lalui dan selalu memastikan semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu melakukan bagian kita dan selalu berpegang pada tangan-Nya.

Sebagai orang muda, kami membutuhkan kepercayaan, dukungan, dan ruang untuk mengembangkan potensi diri kami dalam membangun masa depan yang penuh harapan. Dalam tahap perkembangan Erikson, orang muda sedang berada pada tahap intimacy vs isolation. Jika seseorang memiliki sense of identity yang kuat maka akan bisa survive, sementara jika tidak maka akan cenderung menarik diri. Kami tetap butuh bimbingan, model, serta arahan dalam proses pendewasaan kami, agar identitas diri kami sebagai seorang Katolik yang berintegritas semakin terbentuk. Ajarilah kami agar kami bisa menjadi generasi penerus yang mampu mengembangkan Gereja, terutama dalam beriman pada Tuhan dalam keseharian kami. Ajaklah kami bertukar pandang agar semakin luas cara kami memandang dunia. Kami masih membutuhkan banyak teladan. Tetaplah dengan ketulusan hati bersabar menemani perjalanan kami untuk semakin menemukan-Nya. Hingga masa muda kami pun akhirnya dapat dipakai oleh Tuhan menjadi buah-buah berkat melalui tindakan, perkataan, dan perbuatan.

Terima kasih para Jesuit karena sudah mempercayai kami orang muda dan memberi kami kesempatan bertumbuh melalui dinamika kehidupan menggereja. Harapan saya sebagai orang muda untuk para Jesuit, semoga para Jesuit tetap terbuka, kreatif, dan proaktif dalam merangkul serta mendampingi kami. Semoga kiranya Gereja semakin bisa menjadi rumah, tidak hanya bagi orang muda tapi juga untuk seluruh umat.

Kontributor: Elisabeth Dhea Firstalina – Koordinator Lektor Gereja St. Theresia Bongsari Semarang

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *