Pilgrims on Christ’s Mission

jesuit

Provindo

Iman yang Tumbuh dan Berkembang di Timor

Dalam perjalanan dari Kupang menuju Atapupu, saya berjumpa dengan alam Nusa Tenggara Timur yang sarat dengan teriknya sinar matahari, tanah gersang, sungai kering, pohon meranggas, bukit terjal dan berbatu. Siang terasa begitu panas tetapi malam bisa dingin sekali. Mungkin saja banyak misionaris 140 tahun yang lalu sakit atau meninggal karena kondisi iklim yang ekstrem dan tidak menentu di sana. Kedatangan saya dan Pater Bambang Sipayung, S.J. ke Atapupu untuk memenuhi undangan dari Pastor Paroki Atapupu, Pater Gorys Sainudin Dudy, Pr. Pada kesempatan ini Paroki Maris Stella Atapupu akan memberkati makam dua misionaris Jesuit yang pernah bertugas di stasi Atapupu dan merayakan 140 tahun berdirinya stasi Atapupu. Pater Jacobus Kraayvanger, S.J. dan Pater Augustinus de Kuijper, S.J. adalah dua misionaris Belanda yang dimakamkan di sana. Sebelum ke Atapupu, Pater Jacobus Kraayvanger, S.J. bertugas di Larantuka. Beliau paling setia mengunjungi umat-umat yang ada di daerah Timor sejak tahun 1879. Terkadang, dalam perjalanannya ke Timor, beliau menghadapi angin topan dan angin badai yang ganas. Pater Kraayvanger, S.J. inilah yang meneruskan Pater Dyckman, S.J. dalam mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk memulai stasi baru di Atapupu. Setiap kali melakukan kunjungan, beliau menuliskan surat mengenai kondisi di Atapupu serta meminta ijin untuk membuka stasi ke Uskup Jakarta. Dalam salah satu suratnya kepada Uskup Jakarta pada tanggal 29 Januari 1883, ia mengungkapkan, “Biarpun perut saya masih tetap bengkak dan penyakit liver saya belum sembuh betul, saya merasa sudah agak baik. Saya tidak berkeberatan untuk memulai karya misi di stasi baru, di Atapupu itu. Malah saya rindu untuk kembali ke sana. Untuk memulai karya misi di Timor, saya terpaksa mengorbankan gaji saya. Itu tidak menjadi soal. Semuanya ini saya serahkan kepada Tuhan.” Gubernur Batavia saat itu akhirnya menyetujui didirikannya stasi di Atapupu untuk melayani umat yang ada di Timor terutama di wilayah Jenilu dan Fialaran (Lahurus). Persetujuan pendirian diberikan per 1 Agustus 1883. Pater Kraayvanger, S.J. bersama Br Vermeulen, S.J. memulai misi di Timor dengan membeli sebuah rumah dari orang Tionghoa yang digunakan sebagai kapel dan juga rumah pastoran. Kemudian Br Vermeulen, S.J. mulai membongkar rumah yang dibeli untuk dibangun menjadi gereja. Pater Kraayvanger, S.J. menjadi pastor stasi pertama dan pelopor misi Timor. Akhir tahun 1886, datang Pater Augustinus de Kuijper, S.J. sebagai pastor pembantu paroki Atapupu. Kehadiran Pater Kuijper, S.J. memperingan tugas-tugas Pater Kraayvanger, S.J., terlebih ketika penyakit yang dideritanya kambuh. Beliau dikenal sebagai “baja” karena kesehatannya yang sangat baik. Akan tetapi, setelah mengunjungi Lahurus pada tahun 1888, Pater Kuijper, S.J. jatuh sakit cukup parah. Tak lama setelah itu beliau meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di dekat situ yang kemudian dikenal sebagai bukit Kalvari. Beberapa imam baru pun datang untuk membantu, yaitu Pater Willem Vogel, S.J. dan Hendrik Jansen, S.J. Setelah kepergian Pater Kuijper, S.J. kesehatan Pater Kraayvanger mulai memburuk dan beliau meninggal pada 6 Februari 1889, sebulan setelah diresmikannya gedung gereja stasi Atapupu yang baru. Beliau dimakamkan tepat di sebelah makam Pater Kuijper, S.J. Gedung gereja Atapupu sempat pindah tempat beberapa kali karena kondisi iklim yang tidak bersahabat, yaitu di Ularo lalu kembali lagi ke Atapupu. Para misionaris yang datang dan bertugas di sana pun banyak yang akhirnya kembali ke Jawa untuk pemulihan kesehatan karena sakit akibat iklim dan penyakit malaria yang ganas. Kurangnya tenaga, iklim yang tidak menentu, dan umat yang semakin banyak, membuat Serikat Jesus memutuskan untuk menyerahkan misi Timor ini ke Serikat Sabda Allah (SVD) pada tahun 1913. Selama 30 tahun Jesuit melayani di Timor sampai saat diserahkan kepada tarekat SVD, umat berkembang menjadi 2500 jiwa. Di Atapupu kami juga bertemu dengan Suku Bunda’o, salah satu suku asli Nusa Tenggara Timur yang tinggal di kawasan Atapupu. Suku inilah yang menerima para misionaris ketika mereka datang dari laut pada waktu itu. Leluhur suku ini berjanji bahwa suatu saat akan membangunkan rumah untuk makam misionaris. Kondisi makam yang sebelumnya dengan salib kayunya yang mulai keropos, cukup memprihatinkan dibandingkan dengan makam-makan di sekelilingnya. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk menepati janji ini. Berbagai pergulatan pun mereka hadapi dari desain bangunan yang sulit, dana, dan SDM-nya. Hingga akhirnya tahun ini mereka bisa membangun rumah untuk makam misionaris ini dari hasil swadaya anak suku Bunda’o. Kerinduan yang begitu besar untuk memahami warisan leluhurnya tentang para misionaris ini, juga bisa dirasakan ketika bertemu dengan mereka. Mereka sangat ingin melihat foto kedua misionaris ini. Mereka mencari foto kedua misionaris ini selama bertahun-tahun dan akhirnya mendapatkannya setelah menghubungi media sosial Jesuit Indonesia. Begitu bahagianya mereka bisa mendapatkan foto itu sehingga kedua wajah missionaris tersebut bisa langsung dilukiskan di rumah itu. Mereka juga sangat merindukan kehadiran perwakilan Jesuit ke Atapupu. Mereka juga bercerita bahwa mereka ingin sekali ada Jesuit yang datang ke sana ketika ulang tahun yang ke 100. Setelah 40 tahun berselang, akhirnya ada Jesuit yang datang kemari untuk menengok makam leluhurnya. Salah seorang umat berkata, “Terima kasih Pater, dari Jesuit kami mengenal Yesus”. Ketika mendengar hal ini saya langsung terdiam dan terharu. Terasa sekali bagaimana rindunya mereka akan kehadiran Jesuit di tanah Timor ini. Pada 31 Juli 2023, Pater Bambang Alfred Sipayung, S.J. bersama dengan Romo Yosef Tae Bria, Pr memberkati makam misionaris ini. Hari itu bertepatan dengan pesta Santo Ignatius Loyola dan datangnya Pater Kraayvanger, S.J. atau sehari sebelum misi Timor dimulai. Sehari setelahnya umat merayakan 140 tahun Stasi Atapupu dan pusat misi Timor. Perayaan ini diselenggarakan secara konselebran di Gereja Stella Maris, Atapupu dan dipimpin oleh Mgr Dominikus Saku, Pr, Uskup Keuskupan Atambua, Pater Gorys Sainudin Dudy, Pr, pastor Paroki Stella Maris Atapupu, Pater Bambang Alfred Sipayung, S.J. sebagai perwakilan Provindo serta beberapa romo lain yang pernah berkarya atau berasal dari Atapupu. Dalam kotbahnya Mgr. Dominikus Saku, Pr mengatakan bahwa Pater Kraayvanger dan Kuijper melalui banyak sekali tantangan selama menjalankan misi mereka di sini. Kecewa, gagal, senang, sedih, marah dilalui namun mereka tidak menyerah. Mereka tetap setia. Kesetiaan mereka ini berasal dari cinta mereka untuk umat Atapupu. Pater Kraayvanger, S.J. dan Pater Kuijper, S.J. sungguh dicintai oleh umatnya karena mereka melihat bahwa kedua Pater ini sangat mencintai mereka. Cinta yang mereka tanamkan di Timor menumbuhkan iman yang semakin berkembang dan tumbuh. Setelah 140 tahun berlalu

JCAP

Pertemuan Para Pengelola Arsip Serikat Jesus di Asia Pasifik

Untuk pertama kalinya setelah masa pandemi Covid-19, para pengelola arsip atau archivist Serikat Jesus yang berada dalam konferensi Asia Pasifik (Jesuit Conference of Asia Pacific/JCAP) bertemu tatap muka. Agenda besar dalam pertemuan ini ialah belajar dan diskusi bersama mengenai pemeliharaan dan digitalisasi arsip. Pertemuan ini diikuti oleh para Jesuit dan rekan awam dari Vietnam, Filipina, Indonesia, Kamboja, China, Australia, dan didampingi oleh Archivum Romanum Societatis Iesu (ARSI). Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 3 – 5 Juli 2023. Hari pertama dibuka dengan kunjungan ke beberapa tempat penyimpanan arsip, yaitu University Archives of Ateneo de Manila University, Manila Observatory, Archives of the Philippine Province of Society of Jesus, dan Recollect Archives at Recollect Theologate Manila. Di sini para peserta belajar bagaimana katalogisasi arsip yang tepat agar koleksi yang dimiliki dapat diketahui dengan mudah. Selain itu, peserta juga melihat secara langsung bagaimana proses konservasi pada beberapa koleksi yang rapuh. Hampir di setiap tempat arsip dalam kunjungan ini, memiliki laboratorium kecil untuk proses konservasi dan digitalisasi pada dokumen-dokumen arsip yang mereka miliki. Di hari kedua, peserta diajak untuk mendengarkan presentasi dari Dr. Francis Navarro, PhD sebagai archivist dari University Archives of Ateneo de Manila University dan Ian Saulog sebagai archivist dari De la Salle University. Materi yang disampaikan oleh kedua narasumber ini ialah apa saja yang harus dikumpulkan sebagai barang arsip atau koleksi beserta alasan dan kebijakan apa yang harus diterapkan agar dapat bertahan lama; apa yang harus dilakukan untuk melestarikan dokumen dan materi lain; dan yang terakhir bagaimana pengaturan koleksi yang tepat. Selain itu, mereka juga menjelaskan bagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi atau digitalisasi untuk bidang kearsipan sekarang ini. Pada hari terakhir, para peserta melakukan kunjungan ke Rizal Library yang terletak di dalam kompleks Ateneo de Manila University. Setelah itu, para peserta berdiskusi bersama dengan staff ARSI dari Roma terkait pelatihan khusus bagi archivarist. Di beberapa provinsi, archivarist sudah berumur lanjut bahkan sudah menjelang pensiun. Sementara itu di tempat lain, ada archivarist muda dan belum berpengalaman. Beberapa kelompok awam telah tergabung dalam pengelolaan arsip tetapi masih memerlukan pelatihan terus menerus. Secara umum para peserta banyak belajar dan mengambil manfaat dari kunjungan ke lima tempat arsip dan pemaparan narasumber. Meskipun Serikat telah menerbitkan beberapa pedoman dan arahan umum, namun pengarsipan harus terus beradaptasi dengan tantangan unik dalam pengumpulan (collection), pelestarian (preservation), dan persebaran arsip di lokasi tertentu (dissemination). Pertemuan seperti ini menjadi kesempatan bagi para archivarist dari berbagai provinsi untuk saling berbagi cerita, pengalaman, kesulitan dalam memelihara arsip yang menjadi memori Serikat Jesus selama ini. Pertemuan ini juga menjadi kesempatan belajar bersama dalam menyimpan dan merawat arsip ataupun koleksi, memberi akses yang lebih luas bagi banyak orang, dan pemanfaatan teknologi.  Kontributor: Antonia Adinda – Arsip Provindo

JCAP, Komunikator

Belajar Seni Bercerita Secara Visual

Akhir Juli lalu, Konferensi Jesuit di Asia Pasifik (JCAP) bekerjasama dengan Kantor Komunikasi Jesuit di Roma mengorganisasi sebuah pelatihan bertajuk “Visual Communication Storytelling Bootcamp”. Peserta yang datang dari berbagai provinsi dan regio Serikat Jesus di Asia Pasifik berkumpul di Rumah Retret Jesuit di Cebu, Filipina. Pelatihan selama enam hari ini merupakan kesempatan berharga bagi para peserta untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam narasi film, fotografi, dan bertutur dari orang-orang yang ahli di bidangnya. Pater Harry Setianto, S.J. dan Frater Septian Marhenanto, S.J. menjadi utusan dari Indonesia. Mikolaj Cempla, pemilik humanstories.studio, adalah koordinator utama pelatihan ini. Humanstories.studio adalah sebuah perusahaan multimedia yang membantu Kantor Komunikasi Kuria Generalat Serikat Jesus di Roma dan beberapa provinsi lain. Selain Mikolaj, Ria Limjap (Konsultan Komunikasi JCAP), Pater Vivian Richard, S.J. (Manajer Sosial Media Jesuits Global) dan Fotografer Filipina Bruder Jeff Pioquinto, S.J. berbagi ilmu kepada para peserta. Para peserta diberi bekal teori mengenai berbagai macam keterampilan di pagi hari. Sisa hari dipakai untuk latihan praktik dengan fokus pada komposisi dan tata bahasa komunikasi visual. Selain itu, para peserta juga mempelajari seni pengembangan plot cerita, memahami pengaturan pencahayaan dan suara untuk wawancara audio visual profesional, dan mengembangkan kemampuan foto esai dari street photography. Kegiatan pelatihan menjadi lebih menarik karena para peserta melakukan praktik proyek photo essay untuk street photography di situs-situs bersejarah di Cebu seperti Basilika Minore del Santo Niño, Museum Nasional Filipina cabang Cebu, dan Jesuit House Museum. Yang terakhir ini ialah, sebuah rumah tua peninggalan Jesuit Spanyol yang dibangun pada tahun 1730. Kegiatan pelatihan ini sangat membantu para komunikator provinsi dan karya Serikat Jesus dalam mengembangkan kemampuan bercerita secara visual. Pater John Dardis, S.J. sebagai Direktur Komunikasi Kuria Generalat, mengatakan bahwa kebanyakan informasi yang disebarkan oleh Serikat Jesus universal masih berupa teks tulisan, sedangkan dunia saat ini sangat menantikan informasi yang menarik, padat, dan ringkas dalam medium visual. Oleh karena itu, kegiatan visual storytelling ini diharapkan dapat memantik para komunikator provinsi, regio, dan karya di Asia Pasifik untuk memproduksi cerita dalam bentuk visual yang menarik dan menyentuh hati orang-orang yang melihatnya. Kontributor: S. Septian Marhenanto, S.J. – Komunikator Provindo

Formasi Iman

Berjalan Bersama Sahabat Seperutusan

QUINDIN 2023 Pada tanggal 27 Juli – 2 Agustus 2023 para Frater dan Bruder Serikat Jesus Provinsi Indonesia mengikuti rangkaian acara Quindin 2023. Quindin adalah kesempatan rekreasi bersama yang bertujuan untuk membangun komunitas persaudaraan antarskolastik sembari membahas isu yang sedang berkembang. Quindin 2023 dengan tema “Berjalan Bersama Sahabat Seperutusan” ini diikuti oleh 53 peserta. Ada 22 Filosofan, 15 TOKER, 13 Teologan, dan 3 orang Romo). Artificial Intellegence:Berjalan Bersama Dunia yang Berkembang Quindin 2023 diawali dengan kegiatan studi bersama mengenai Artificial Intellegence (AI). AI berkembang pesat dan telah masuk ke semua lini kehidupan mulai dari bidang kesehatan, teknologi, ilmu pengetahuan, eksplorasi, transportasi, industri, bahkan dalam bidang peribadatan. Dalam proses study ini, para peserta Quindin didampingi oleh beberapa akademisi dan praktisi AI profesional. Dr. Ir. Lukas, MAI, CISA, IPM yang merupakan ketua dari IAIS (Indonesia AI Society) menjadi pembicara pertama. Selanjutnya, Pater Hari Suparwito, S.J. menjelaskan etika penggunaan teknologi, khususnya AI. Praktisi AI seperti Yulianus Ladung, Arbain Rambey, dan Yohanes Paganda Halasan Harahap turut berbagi pengalaman penerapan AI dalam bidang seni, fotografi, dan media informasi. Dalam proses study ini, ada antusiasme yang cukup dominan. Para skolastik terlibat aktif dengan menanggapi, melontarkan pertanyaan, dan mempraktikkan materi serta mencoba teknologi VR (Virtual Reality). Seorang skolastik berkomentar bahwa perkembangan dunia digital harus diikuti oleh Serikat Jesus agar relevan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa di era teknologi global zaman ini. AI bisa menjadi ancaman dan peluang untuk sebuah dunia yang lebih baik. Kami pergi ke Bali, sambil Melihat Ke-mbali Rangkaian kedua acara Quindin 2023 adalah rekreasi ke Pulau Dewata, Bali. Dalam perjumpaan antarangkatan skolastik, terlihat jelas keakraban dan keinginan untuk saling mengenal satu sama lain, serta menimba semangat dengan saling membagikan cerita. Selain mengenal keragaman budaya dan karya serikat di Indonesia, Quindin kali ini juga diwarnai dengan aktualia teman-teman ekspatriat dari Myanmar, Thailand, dan Pakistan. Melalui perjumpaan antar skolastik lintas angkatan, lintas negara, serta lintas tugas perutusan ini, kami semakin mengenal satu sama lain. Semoga ini menjadi awal dari persahabatan dan perjalanan bersama sahabat seserikat. Semoga melalui Quindin yang telah diselenggarakan ini, tugas perutusan Allah semakin mampu dilaksanakan dalam semangat Kasih Persaudaraan. Kontributor: SS. Petrus Guntur Supradana, S.J. dan Feliks Erasmus Arga, S.J.

Provindo

Terlibat dan Berkolaborasi demi Kebaikan Bersama

100 tahun sudah Kolese St. Ignasius Yogyakarta berdiri dan melahirkan ratusan imam Jesuit. Sebagai ungkapan syukur, panitia ulang tahun 100 tahun Kolsani menyelenggarakan berbagai acara yang dimulai sejak Februari tahun ini. Dimulai dengan tahbisan Imam Jesuit, Sayembara Cipta Karya 100 tahun Kolsani, Seminar Penelitian, dan Misa serta Puncak Acara. Sayembara Cipta Karya 100 tahun Kolsani ini berupa lomba menulis cerpen, cover lagu, desain poster, dan fotografi yang diikuti oleh orang-orang muda. Puncak acara syukur ulang tahun diselenggarakan pada 25 Juli 2023 di Gereja St. Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta dan kompleks Kolsani. Bersamaan dengan perayaan syukur ulang tahun 100 tahun Kolsani ini beberapa Jesuit juga merayakan pesta Jubilaris. Jubilaris 50 tahun dalam Serikat Jesus PP. Ignatius Loyola Madya Utama, S.J.; Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J.; Antonius Puja Harsana, S.J.; Antonius Sudiarja, S.J.; Fransiskus Xaverius Widoyoko, S.J.; Michael Windyatmaka, S.J. dan Bruder Mateus Sugiyono, S.J. Jesuit yang merayakan 25 tahun dalam Serikat Jesus yaitu PP. Paulus Bambang Irawan, S.J. dan Odemus Bei Witono, S.J. serta 25 tahun menjadi imam Jesuit PP. Nicolaus Dibyadarmaja, S.J.; Fransiskus Xaverius Murti Hadi Wijayanto, S.J. dan Tarsisius Puspodianto, S.J. Perayaan syukur ini dipimpin oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dengan konselebran PP. Paulus Suparno S.J., Andreas Sugijopranoto, S.J., Floribertus Hasto Rosariyanto, S.J., Joannes de Britto Mardikartono Sugita, S.J., Fransiskus Asisi Susilo, S.J. dan Bernhard Kieser, S.J. Setelah perayaan Ekaristi dilanjutkan perayaan puncak di kompleks kolsani yang dihadiri oleh para Jesuit dan tamu undangan. Dalam acara ini dilaksanakan penyerahan hadiah untuk para pemenang lomba Sayembara Cipta Karya 100 tahun Kolsani. Dimeriahkan pula penampilan dari sanggar tari PSP Anak Pingit, sanggar tari Mahasiswa Mentawai, band OMK Kobar, Kolese JB, Volunteer PSP, Realino, Lintas Agama serta OMK, dan organ tunggal Hadi Soesanto. Pada tahun 1921 Serikat Jesus Provinsi Netherland membuat keputusan untuk menjadikan Yogyakarta sebagai pendidikan awal calon Jesuit, agar benih panggilan baik pribumi dan misionaris akrab dengan tanah misi. Pada tanggal 18 Februari 1923 diresmikanlah Kolese St. Ignatius, Yogyakarta sebagai tempat formasi calon imam dari jenjang novis, yuniorat filsafat, dan teologi. Ketika zaman penjajahan Jepang, Kolsani sempat ditutup, namun kemudian dapat direbut kembali oleh Pater Djajasepoetra, S.J. Sejak tahun 1954, Kolsani menjadi rumah formasi dan pendidikan bagi frater yang belajar teologi hingga sekarang. Teologi inilah yang membentuk para Jesuit, mereka diajak untuk terlibat dan berkolaborasi dengan masyarakat. Ciri teologi di Kolsani adalah teologi angkat pantat. Istilah tersebut diberikan oleh Pater Kieser, S.J. agar para Jesuit jangan hanya duduk dan membaca teologi, namun bergeraklah keluar dan terlibat di tengah konteks masyarakat. Kontributor: Margareta Revita – Komunikator Provindo

Provindo

“Tetapi Karena Engkau Menyuruhnya, Aku Akan Tetap Menebarkan Jala Juga” 

Forum Provinsi 2023 | 24-25 Juli 2023 “Saya tidak takut pada dunia yang baru. Yang saya takutkan adalah jika kita para Jesuit tidak punya apa pun untuk ditawarkan pada dunia itu, tidak bisa bicara atau berbuat apa pun yang menunjukkan eksistensi kita sebagai Jesuit.” Kutipan tersebut dibacakan oleh Fr. Septian Kurniawan dalam ibadat pembukaan Forum Provinsi 2023. Acara tahunan ini mengundang semua anggota Serikat Jesus Provinsi Indonesia (Provindo) untuk berkumpul di Rumah Retret Panti Semedi Sangkal Putung, Klaten, Jawa Tengah. Kutipan tersebut dipercaya berasal dari Pater Pedro Arrupe, Jenderal Serikat Jesus ke-28 (1965- 1983) dan masih terdengar aktual dan dapat memberi kerangka bagi Forum tahun ini. Serikat Jesus dari waktu ke waktu berusaha untuk menanggapi situasi zaman. Menjadi makin bermakna dalam Forum kali karena Pater Provinsial Benedictus Hari Juliawan menempatkannya dalam konteks penyampaian Rencana Apostolik Provindo (RAP) 2023-2029 kepada seluruh Jesuit Indonesia. Melalui RAP tersebut, Serikat Jesus Provindo ingin mengalami pertobatan terus-menerus agar semakin dapat dipercaya oleh Gereja dan masyarakat Indonesia, gesit sebagai organisasi, dan berani memeluk tantangan-tantangan dunia secara terukur. Secara lebih spesifik, RAP dibagi menjadi tiga prioritas. Yang pertama adalah prioritas internal, yaitu terkait dengan tata kelola Provindo sebagai lembaga. Berikutnya adalah prioritas keterlibatan Provindo dalam lingkup Asia-Pasifik. Terakhir adalah prioritas eksternal yang menyangkut pelayanan Provindo dan tantangan-tantangan dalam konteks Indonesia yang hendak ditanggapi. Dalam waktu dekat, teks RAP akan tersedia untuk para kolaborator Serikat agar semakin terintegrasi dalam gerak bersama Serikat Jesus Provindo. Para Jesuit yang hadir diberi kesempatan untuk mendiskusikannya dalam kelompok-kelompok kecil dan menyampaikan pertanyaan maupun hasil diskusi pada Provinsial. Harapannya, RAP tidak hanya menjadi tambahan dari sekian banyak dokumen Serikat yang sudah ada, tetapi menjadi sesuatu yang dihayati oleh semua yang terlibat dalam misi Serikat Jesus di Indonesia. Mencermati apa yang dicanangkan dalam RAP, perasaan ragu dan khawatir muncul, namun seperti Simon Petrus di Danau Genesaret, semua yang terlibat dalam tugas perutusan ini mau mengulang apa yang dikatakan Petrus “…tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan tetap menebarkan jala juga.” (Luk 5:5). Selain penjelasan RAP oleh Pater Provinsial, ada acara lain yang khas pada Forum kali ini. Yang pertama adalah pemaparan buah-buah dari Kongregasi Prokurator oleh Pater Bambang A. Sipayung. Kedua, pengalaman pendampingan Kelompok Awam Sahabat Ignatius oleh Pater Ag. Setyodarmono. Secara sederhana, Kongregasi Prokurator adalah konsultasi yang diprakarsai dengan Pater Jenderal untuk mengevaluasi keadaan Serikat Universal (Serikat Jesus di seluruh dunia). Setiap provinsi memilih perwakilannya, yang kemudian disebut “prokurator”. Orang tersebut bukanlah Provinsial dan ia bertugas untuk mengumpulkan informasi soal Serikat dengan mendatangi dan berbicara dengan komunitas dan karya Serikat Jesus di provinsinya. Kongregasi Prokurator yang lalu berlangsung pada 15-22 Mei 2023 di Loyola, Spanyol. Kelompok Awam Sahabat Ignatius merupakan inisiatif Serikat untuk lebih memperkuat jejaring dan pendampingan antara kelompok-kelompok awam yang berbasis Spiritualitas Ignatian. Pater Setyodarmono yang biasa dipanggil Pater Nano, S.J. menyampaikan rasa syukurnya bahwa sejak pandemi sampai sekarang animo akan Spiritualitas Ignatian berkembang pesat. Tampak tren bahwa kelompok-kelompok Ignatian tidak lagi bergantung pada figur seorang Jesuit tetapi para awam sendirilah yang menjadi penggerak dan pengkader. Misa Forum pada tanggal 24 Juli 2023 dipimpin oleh tiga imam baru Jesuit yang ditahbiskan pada 16 Februari yang lalu, yaitu Pater Yohanes Deodatus, Pater Agustinus Daryanto, dan Pater Yulius Suroso. Para novis dari Girisonta mengiringi dengan lagu yang menggugah dan penuh semangat. Keterlibatan para novis dalam Forum merupakan cara untuk memperkenalkan mereka kepada para Jesuit lintas generasi.Terlepas dari acara-acara resmi tersebut, Forum, dari tahun ke tahun, juga selalu menjadi ruang perjumpaan bagi para Jesuit Indonesia untuk menimba lagi semangat dari kebersamaan sebagai satu tubuh apostolik Serikat Jesus. Kontributor: S. Theilhard Aurobindo Soesilo, S.J.

Pengumuman A24

Pengumuman Kaul Akhir 2023

Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. dalam keputusannnya tertanggal 1 Mei 2023 dan 11 Juli 2023, telah mengundang saudara-saudara kita di bawah ini untuk mengucapkan kaul akhir dalam Serikat Jesus: 1. P Joseph Mangatur Mangisi Tua Situmorang, S.J. 2. P Eduardus Didik Chahyono Widyatama, S.J. 3. P Agustinus Rudy Chandra Wijaya, S.J. 4. P Alexander Hendra Dwi Asmara, S.J. Kita mengucapkan proficiat untuk saudara kita ini dan membawanya dalam doa-doa kita. Tempat dan tanggal pengucapan kaul akhir akan diumumkan menyusul. Bambang A. Sipayung, S. J. Socius Provinsial SJ Indonesia

Pelayanan Masyarakat

Rumah untuk Kembali

Rumah bagiku adalah tempat ternyaman untuk beristirahat setelah bergelut dengan berbagai kesibukan yang menguras energi. Aku menemukan “rumah” keduaku, tempat menenangkan pikiran sejenak setelah satu minggu berkutat dengan angka serta rumus yang memenuhi memoriku. Realino, itulah rumah keduaku yang aku kenal sejak Februari 2023 lalu. Sebenarnya masih terlalu awal untuk mengatakan Realino sebagai rumah kedua, namun itulah yang aku rasakan selama kurang lebih tiga bulan ini. Bermula dengan postingan feeds Realino saat itu melewati beranda eksplore Instagram pribadiku. Postingan itu menarik mataku dan membuat jariku mulai membuka profil serta menelusurinya lebih dalam. Tanpa berpikir panjang dan hanya bermodal nekat, aku langsung mendaftarkan diri menjadi volunteer. Singkat cerita, aku akhirnya bergabung setelah bertemu dengan Pater Fransiskus Pieter Dolle, S.J. dan Mbak Luci. Pertemuan awal itu saja sudah membuatku yakin bahwa aku akan berada di tempat ini. Hari-hari mengajar selalu berlangsung menyenangkan bagiku. Melihat anak-anak yang menyambut kedatangan para volunteer di tempat mengajar membuatku sumringah. Mereka selalu bersemangat dalam mengikuti kegiatan apa pun. Suatu waktu, salah satu anak bersemangat menghampiriku, memegang lenganku kemudian bertanya “Mbak, hari ini kita mau ngapain? Seru-seruan lagi kan?” Luar biasa, pertanyaan sederhana itu mampu membuat energiku penuh kembali untuk menghadapi berbagai peristiwa yang akan datang. Tingkah laku iseng anak-anak selalu mewarnai Jombor di sore hari. Tanpa mereka, Jombor hanya tempat mengajar biasa yang membosankan. Hal-hal kecil yang dilakukan anak-anak itu membuatku ingin kembali ke sana setiap minggunya, bertemu mereka. Tidak hanya anak-anak yang membuat Realino ini aku tetapkan sebagai rumahku. Realino mempertemukanku dengan orang-orang luar biasa yang sebelumnya tidak aku duga akan dapat bertemu. Orang-orang itu yakni Pater Pieter, Mbak Luci, para volunteer, dan mereka yang mampir untuk berbagi kebahagiaan. Mereka adalah orang yang mampu membuatku semangat meng-upgrade diri karena aku merasa “ditemani” berproses bersama mereka. Dari mereka aku belajar banyak hal tentang hidup secara tidak langsung. Di tempat ini aku bertemu orang-orang yang bersedia meluangkan waktu di sela kesibukan demi memberikan tenaga melayani orang lain dengan penuh kasih. Dalam keadaan apapun; hujan-panas, siang-malam mereka meluangkan waktu berkumpul di Jalan Mataram yang selalu sibuk itu. Terkadang keluh kesah terdengar, namun senyum mereka tetap terkembang di wajah lelah mereka. Mereka yang membuatku semakin yakin bahwa aku memang “berjodoh” dengan Realino dan segala isi di dalamnya. Terima kasih Realino. AMDG! Kontributor: Aurelia Pradhita Nareswari Pangarso