Menjadi Manusia di Zaman AI
Refleksi Pertemuan Scholastics and Brothers Circle 2025 Sebanyak 43 skolastik Jesuit dari 15 negara berkumpul dalam Scholastics and Brothers Circle (SBC) Meeting pada 22–30 Desember 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan ini mengangkat tema “Youth in Relation to the Burgeoning of AI,” sebuah refleksi atas perutusan masa kini di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. SBC 2025 ini menjadi ruang ziarah bersama ketika AI tidak hanya dipikirkan secara kritis tetapi juga dialami secara konkret. Pertemuan dibuka dengan pengenalan Regio Jesuit Singapore–Malaysia sebagai tuan rumah, sekaligus pemaparan mengenai pelayanan kaum muda oleh P. Francis Lim, S.J. (Superior Regio Singapore-Malaysia) dan P. Alvin Ng, S.J. (Pater Kepala Paroki Saint Francis Xavier). Sejak awal, suasana multinasional terasa kuat. Bahasa Inggris digunakan dalam percakapan sebagai jembatan komunikasi, sementara keterlibatan orang muda Katolik Malaysia dan para teologan Jesuit dari Arrupe International Residence, Manila, memperlihatkan semangat kolaborasi dalam menyiapkan SBC 2025. Memasuki tema utama, kami diajak mengenal dunia AI (Artificial Intelligence) bersama William Tjhi dari AI Singapore, pengembang proyek SEA-LION. Dengan pendekatan sistematis, ia menjelaskan cara kerja AI, mulai dari sejarahnya sejak Konferensi Dartmouth 1956 hingga pergeseran dari machine learning ke deep learning. Melalui komentarnya atas film AlphaGo dan The Imitation Game, AI tampak sebagai capaian teknologis sekaligus sebagai fenomena yang membawa muatan narasi dan imajinasi manusia. William menyoroti persoalan bias dalam pengembangan AI global. Dominasi konteks Barat dan Tiongkok menyebabkan Asia Tenggara, dengan keragaman bahasa dan budaya, kurang terwakili dalam data dan model AI. Ketimpangan ini, menurutnya, bukan sekadar persoalan teknis, melainkan soal keadilan representasi. Karena itu, keterlibatan ahli budaya dan konteks lokal menjadi penting agar AI berkembang secara lebih inklusif. Ia juga mengulas keterbatasan AI, seperti fenomena hallucination, ketidakmampuan AI mengetahui masa depan, serta keterbatasan AI detector yang selalu tertinggal dari perkembangan model baru. Meski AI terus berkembang, William menegaskan bahwa AI tetap tidak mampu hadir secara personal. Manusia, dengan tubuh, relasi, kebebasan, kreativitas, dan keterarahannya kepada Allah, membawa dimensi yang tak tergantikan oleh mesin. Refleksi kemudian dilanjutkan dengan perspektif etika dan spiritual bersama Benedict Chang, seorang teolog awam dari Singapura. Ia menegaskan bahwa “AI is a tool. It’s amoral, but influential.” AI menawarkan banyak kemudahan, dari bidang medis hingga pendidikan yang dipersonalisasi, namun juga berisiko mengikis nilai-nilai seperti ritme hidup yang lebih lambat, kedalaman relasi, dan ruang hening untuk refleksi. Benedict menyoroti kegelisahan spiritual kaum muda di tengah dunia yang dikendalikan algoritma. Perhatian manusia dipusatkan dan dikomodifikasi sehingga orang muda kerap diperlakukan sebagai objek konsumsi. Dalam konteks iman, kreativitas dapat menjadi pintu awal keterlibatan, misalnya melalui media digital. Meski demikian, ia menegaskan bahwa iman tidak bertumbuh lewat rangsangan visual semata. Pendalaman iman membutuhkan waktu dan perhatian yang terarah, sebuah proses yang tidak dapat dipercepat oleh teknologi. Dalam sesi AI Unboxed, Darryl Ma dari CelcomDigi mengajak kami memahami keterbatasan generative AI, terutama dalam bahasa dan makna. AI sering gagal menangkap penekanan kata dan kedekatan personal dalam komunikasi manusia. Karena itu, konteks menjadi kunci. Darryl memperkenalkan kerangka TCREI (Task, Context, References, Evaluate, Iterate) sebagai cara pembuatan prompt secara lebih sadar dan kritis dengan AI. Ia juga membedakan antara kecerdasan dan kebijaksanaan. AI bisa sangat cerdas secara teknis, tetapi tidak memiliki empati. Contoh mobil dengan mode self-driving yang tetap melaju setelah menabrak rusa menggambarkan tindakan yang efisien namun kosong secara moral. Kesadaran ini diwujudkan secara konkret melalui program sosial “What the AI Can’t Do.” Pada malam hari, kami, dibagi dalam beberapa kelompok, turun ke jalan untuk berbagi makanan dengan mereka yang hidup di pinggir jalan. Perjumpaan sederhana ini menegaskan sikap empati dan kehadiran personal yang tidak dapat digantikan oleh AI. Refleksi akhir dipandu oleh P. Johnny Go, S.J. (seorang pendidik dan Jesuit dari Filipina). Ia mengajak kami untuk tidak terjebak pada sikap ekstrem sebagai AI optimist atau AI pessimist, melainkan menjadi AI pragmatist: terbuka belajar dan menggunakan AI, namun tetap kritis dan sadar akan dampaknya. Dalam terang spiritualitas Ignasian, proses belajar dipahami sebagai pembentukan diri, bukan sekadar jalan pintas menuju hasil cepat. “Content is cheap, process is precious” ungkapnya. Dari seluruh rangkaian SBC Meeting 2025, tumbuh kesadaran di antara para peserta bahwa kehadiran AI justru membuat hidup manusia semakin kompleks. Karena itu, kita dipanggil untuk terus kembali pada nilai-nilai kemanusiaan. Relasi sejati, seperti digambarkan Martin Buber dalam relasi I–Thou (Aku-Engkau), hanya mungkin terjadi antarpribadi, bukan antara manusia dan mesin. SBC Meeting 2025 tidak menawarkan jawaban final tentang AI. Sebaliknya, pertemuan ini meninggalkan kepekaan dan kesadaran bersama. Dalam semangat universalitas Serikat Jesus, kami diajak untuk terus belajar menggunakan AI demi kebaikan bersama, sambil tetap berakar pada panggilan terdalam sebagai manusia yang hidup dalam relasi dan pengharapan. Kontributor: Sch. Laurensius Herdian Pambudi, S.J.







