Pilgrims on Christ’s Mission

Provindo

Provindo

Komitmen Serikat Jesus akan Budaya Aman

Sebagai bagian dari komitmen Serikat Jesus dalam budaya aman (safeguarding) dan perlindungan terhadap anak dan orang dewasa rentan di setiap institusi karya di bawah Serikat Jesus, diadakan Workshop Lanjutan terkait Safeguarding di Griya Paseban Semarang, 12-14 Mei 2023. Workshop lanjutan ini merupakan tindak lanjut dari Basic Orientation Workshop on Safeguarding Vulnerable Persons (BOWS) yang telah berlangsung di Bali pada 1- 10 September 2022 yang lalu. Tujuan dari workshop ini adalah melihat perkembangan pelaksanaan budaya aman di tiap institusi karya setelah BOWS tahun lalu. Workshop lanjutan ini juga menjadi sarana untuk menyatukan gerak bersama dan saling belajar dalam usaha membangun budaya aman dalam dan antar institusi karya SJ terlebih bagi institusi karya yang belum mengikuti BOWS di Bali yang lalu. Setiap institusi mengirimkan wakil dari anggota tim atau satgas yang ditugaskan untuk menjadi koordinator atau animator budaya safeguarding di institusinya. Dalam workshop ini, kebanyakan peserta datang dari institusi pendidikan di bawah SJ. Selain para peserta BOWS tahun lalu, mereka antara lain adalah perwakilan dari Yayasan Kanisius, Universitas Sanata Dharma, Politeknik ATMI Cikarang, Politeknik ATMI Solo, Tim Komunikator Provindo, dan delegat Komisi Pendidikan SJ. Ada 31 peserta yang hadir secara tatap muka dalam workshop ini; peserta lain yang berhalangan mengikutinya secara daring. Ada tujuh anggota Tim Safeguarding Provindo hadir menjadi fasilitator dalam workshop ini. Sebelum workshop ini berlangsung, para peserta terlebih dahulu diajak untuk mengidentifikasi situasi aktual di masing-masing institusi karya dan kebutuhan yang mendesak terkait penciptaan budaya aman. Masing-masing institusi karya dibantu untuk mengenali situasi aktualnya dengan melihat empat pokok berikut: Satu, Pasca BOWS: Apa hal pokok yang Anda bisa terapkan di institusi atau lembaga karya Anda, dari Workshop Safeguarding BOWS yang lalu? Hal apa yang sudah Anda kerjakan secara konkret setelah Workshop tersebut? Dua, sesuai dengan standard SJ: Apakah dalam institusi Anda SUDAH memiliki dan menerapkan protokol perlindungan (yang terdiri atas Kode Etik, Sistem Pelaporan, dan Pendampingan kepada Korban)? Tiga, Kesulitan dan tantangan: Tantangan dan kesulitan macam apa yang Anda hadapi terkait membangun budaya aman dan implementasi kebijakan safeguarding di tempat karya atau institusi Anda? Empat, harapan untuk Tim Safeguarding Provindo: Bantuan dan dukungan seperti apa yang diharapkan dari Tim Safeguarding Provindo? Sebagian besar peserta yang hadir merupakan peserta yang baru sekali mengikuti seminar terkait safeguarding semacam ini. Mereka semakin menyadari bahwa safeguarding pertama-tama bukanlah terkait penanganan kasus pelecehan semata, melainkan juga sebuah usaha proaktif untuk menciptakan lingkungan yang aman di mana setiap orang dihormati martabatnya sebagai pribadi. Mereka merasa terbantu dan bersemangat untuk menjadikan budaya aman sebagai bagian integral dari pelayanan di institusi mereka. Para peserta juga bisa belajar dari institusi lain yang telah mempunyai sistem dan infrastruktur yang jelas terkait penciptaan budaya aman. Workshop diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut dalam masing-masing institusi karya. Di akhir workshop, para peserta menerima sertifikat keikutsertaan. Workshop semacam ini akan diadakan secara rutin sebagai bagian dari pencegahan dan pelatihan terkait safeguarding dalam tiap institusi SJ. Rencana selanjutnya adalah mengadakan workshop sejenis untuk paroki-paroki yang dikelola oleh SJ. Untuk paroki, tentu agak berbeda situasinya karena setiap paroki mengimplementasikan kebijakan yang telah dirumuskan oleh masing-masing keuskupan. Pelatihan dan usaha pencegahan semacam ini diharapkan menjadi bagian dari komitmen untuk budaya aman ini bisa terus dijalankan dan dihidupi dalam institusi karya SJ. Hal ini juga menjadi langkah konkret kita untuk mewujudkan preferensi kedua dari Universal Apostolic Preferences SJ, Berjalan bersama kaum miskin, mereka yang terbuang di dunia, mereka yang martabatnya dirusak, dalam pelayanan rekonsiliasi dan keadilan.” AMDG Kontributor: Pater Y. Eko Sulistyo, S.J. – Delegat Safeguarding

Provindo

Penghargaan untuk Para Jesuit

Serikat Jesus Provinsi Indonesia turut bersyukur dan bergembira karena penghargaan yang diberikan kepada dua anggotanya atas dedikasi dan pelayanannya. Pertama, pada tanggal 11 Mei 2023 pukul 09.00 WIB, Pater Karl Edmund Prier, S.J. menerima anugerah gelar Doktor Kehormatan dari ISI Yogyakarta. Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya bagi pengembangan musik terutama musik liturgi Katolik. Dalam acara ini, Pater Prier menyampaikan pidato ilmiah dengan judul “Hidup untuk Musik”. Kedua, pada tanggal 19 Mei Dibyawiyata, S.J. menerima penghargaan “Medalha da Ordem de Timor Leste” dari Presiden Republik Timor Leste atas pengabdian yang luar biasa untuk Timor Leste. Ini adalah penghargaan tertinggi dari negara Timor Leste. Pada kesempatan ini Pater Dibya tidak bisa hadir ke Dili. Oleh karena itu, upacara penerimaan penghargaan ini diwakilkan kepada Superior Regio Timor Leste, Pater Joaquim Sarmento, S.J. Proficiat untuk Pater Prier dan Pater Dibya, semoga penghargaan ini menginspirasi banyak orang untuk mengikuti jejak pelayanan Pater.

Provindo

Kami Bersatu dengan Myanmar

Kepada setiap orang dengan kehendak baik:  Hari ini, kita mengenang peristiwa dua tahun lalu saat kekuatan militer Myanmar, Tatmadaw, tanpa sungkan-sungkan mengambil alih kekuasaan di Myanmar, menghancurkan pemerintahan rakyat yang dipilih secara demokratis, dan memenjarakan para pemimpin demokrasi mereka. Di tengah-tengah pandemi global, ketika banyak orang menderita dan ketakutan, nyala demokrasi yang sudah dihidupkan dan dijaga agar tetap berkobar, sekali lagi dipadamkam ketika Tatmadaw menebar teror dan kekerasan terhadap warganya sendiri.    Selama dua tahun terakhir, Tatmadaw terus menebar teror, menyerang dan menghancurkan desa-desa, membakar rumah dan gereja, menahan, menyiksa dan membunuh aktivis, mereka yang ikut protes dan warga sipil yang tak bersalah dan tak bersenjata. UNHCR per 23 Januari 2023 mengatakan ada sekitar 1,2 juta pengungsi internal sejak kudeta. Jumlah ini meningkat dari 330,00 pengungsi internal sebelum kudeta. Laporan Bank Dunia tahun 2022 memperkirakan sekitar 40% penduduk atau 22 juta jiwa jatuh dalam kemiskinan, menjadikan indeks kedalaman kemiskinan Myanmar dua kali lebih tinggi dibandingkan bulan Maret 2020. Junta militer menahan para pembangkang dan oposisi, menutup semua saluran komunikasi dan media, menangkapi para wartawan dan memberi izin untuk secara legal menggeledah, merampas, menahan, mematai-matai dan menghentikan semua komunikasi meskipun tanpa disertai surat perintah pengadilan. Sampai hari ini, mereka terus melakukan hal-hal ini.  Hari ini kita merayakan keberanian dan iman saudara dan saudari kita di Myanmar yang meskipun menderita namun tetap kuat dan berteguh dalam upaya mereka agar kehendak rakyat dihargai dan diikuti, dalam perjuangan agar hak-hak dan kebebasan mereka dikembalikan dan dihormati, dalam langkah mereka untuk mendapatkan rasa aman dan perlindungan. Dengan menempuh cara-cara yang damai, mereka telah membuat suara mereka terdengar dengan melakukan protes di jalan-jalan, di desa-desa bahkan melalui media sosial yang menuntut berakhirnya penyalahgunaan dan penaklukan oleh junta militer. Kaum muda Myanmar memimpin semua upaya tanpa kenal lelah dan rasa takut ini untuk bangsa dan rakyat mereka. Kita berdoa bagi mereka yang telah mengorbankan hidupnya untuk menjadikan Myanmar tempat yang lebih baik bagi kehidupan warganya.   Lebih dari sebelumnya, hari ini, kita percaya bahwa seruan bagi sebuah tindakan mendesak dan menentukan untuk mengakhiri krisis tidak bisa menunggu lebih lama. Dalam solidaritas dengan Myanmar, Jaringan Migran dan Pengungsi Asia Pasifik menyerukan diupayakan tiga pokok aksi: Pertama, kepemimpinan ASEAN dan para pemimpin global lainya harus menempuh segala bentuk campur tangan diplomatik yang ada untuk mengakhiri kekerasan dan menegakkan kembali demokrasi di Myanmar dalam waktu sesegera mungkin. Dukungan komunitas internasional menjadi hal mendasar untuk menegakkan kembali perdamaian dan demokrasi di Myanmar. Jadikanlah suara hati dan bela rasa anda menjadi panduan segala macam bentuk negosiasi.   Kedua, kami menyerukan kepada Tatmadaw untuk segera mengakhiri segala bentuk pelecehan, tindakan keji dan kekerasan terhadap para seteru mereka dan warga negara Myanmar yang tidak berdosa. Mereka harus menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bisa dipercaya karena mereka meminta untuk dipercaya – bebaskan tahanan politik dan libatkanlah kembali pemangku kepentingan yang berbeda dalam dialog yang bermakna atas dasar keadilan dan bela rasa. Mereka memilih jalan untuk bertanggung jawab bersama dan aksi yang mengubah arus krisis dan mengakhiri kekerasan dan penderitaan. Janganlah biarkan luka Myanmar membusuk dan tak tersembuhkan.  Ketiga, kami menyerukan setiap individu dan komunitas di berbagai tempat di dunia untuk terus mengungkapkan dan menunjukkan keprihatinan atas Myanmar dengan cara-cara yang bisa anda lakukan. Suratilah pemimpin anda dan buat mereka memahami apa yang anda pahami. Bantuan kemanusiaan sangat dibutuhkan untuk menjamin bahwa rakyat Myanmar menerima layanan dan barang-barang yang menyelamatkan hidup mereka. Kami meminta jalur bebas, aman dan segera bagi bantuan kemanusiaan buat mereka yang sangat membutuhkannya. Namun lebih lagi kami mendesak suatu tindakan bagi kebaikan bersama. Janganlah kita melupakan Myanmar.  Kami tetap menjadi satu kesatuan dengan Myanmar dalam aspirasi mereka untuk menyelamatkan dan membentuk bangsa mereka menjadi lebih baik di kemudian hari. Kami bermimpi bersama dengan rakyat Myanmar untuk suatu masa depan yang lebih baik berdasarkan keadilan dan perdamaian bagi semua orang. Kami bersatu dalam iman dengan para Uskup Katolik di Myanmar dalam permohonan tulus mereka kepada semua pemangku kepentingan di Myanmar – kita telah cukup menderita sebagai bangsa, biarlah semua senjata berhenti menyalak, marilah kita saling merangkul semuanya sebagai saudara dan saudari dan memulai perjalanan suci menuju perdamaian – bersatu sebagai bangsa dan rakyat.   Kepada saudara dan saudariku di Myanmar, tetaplah teguh dalam iman, kami bersamamu. Dunia tidak akan melupakanmu. Hari ini, bersama kalian, KAMI ADALAH MYANMAR. Jaringan Migran dan Pengungsi di Asia Pacific

Provindo

Perayaan Jubilaris di Girisonta

Kamis, 8 Desember 2022, Serikat ikut bergembira dalam Perayaan Yubileum yang diselenggarakan di Gereja St Stanislaus Kostka Girisonta. Pesta Yubileum ini dipimpin oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., sebagai selebran utama dan ditemani Pater Markus Yumartana, S.J., Superior Komunitas St Stanislaus Kostka Girisonta serta para Yubilaris. Para Yubilaris yang menjadi konselebran adalah Pater Martinus Sumarno Darmasuwarna, S.J., Pater Gabriel Possenti Sindhunata, S.J., dan Pater Albertus Budi Susanto, S.J. (50 tahun dalam Serikat); Pater Agustinus Budi Nugroho, S.J. dan Pater Yustinus Rumanto, S.J. (25 tahun dalam Serikat); Pater Josephus Darminta, S.J. (50 tahun imamat); dan Pater Agustinus Sigit Widisana, S.J. (25 tahun imamat). Selain itu hadir pula Bruder Martinus Hadiprayitna, S.J. yang merayakan pesta 50 tahun dalam Serikat. Bagi Pater Darminta, S.J., 8 Desember 2022 itu bertepatan dengan 50 tahun ulang tahun tahbisan imamatnya. Beliau pernah menjadi Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia pada tahun 1984-1989. Dalam homilinya beliau bercerita perjuangan dan lika-liku perjalanannya menjadi Jesuit selama 50 tahun ini. Beliau memberi pesan untuk para Jesuit muda agar mau menempatkan dirinya sebagai karya Tuhan, menjadi penolong, dan pembantu Gereja. Di akhir homilinya, Pater Darminta dengan humor khasnya berkata, “Jadi Jesuit itu boboknya kurang, kalau suci sekali dipanggil Tuhan, kalau masih hidup itu artinya belum suci.” Perayaan syukur ini ditutup dengan makan bersama di depan novisiat dan dihadiri oleh para Jesuit dari Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta, keluarga Jubilaris, serta para umat. Ini adalah perayaan syukur kali kedua tahun ini, dimana sebelumnya perayaan diselenggarakan di Gereja Theresia, Jakarta. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator SJ Provindo

Provindo

88 Tahun Julius Kardinal Darmaatmadja

Dalam peristiwa penuh syukur untuk merayakan HUT ke-88 Julius Kardinal Darmaatmadja, Serikat Jesus Provinsi Indonesia menyelenggarakan acara 88+ Jesuit dan Sahabat Berlari. Para peserta berlari sejauh 88 kilometer mulai 27 November-20 Desember 2022. Ada 144 peserta dengan rentang usia 21-88 tahun berpartisipasi dalam even ini. Selain beberapa orang yang biasa berlari marathon internasional dan banyak Jesuit Indonesia, ada pula sejumlah Jesuit dari Myanmar, Thailand, Pakistan, Vietnam, Korea Selatan, Kamboja, dan Kenya ikut memeriahkan acara ini. Salah satunya adalah Presiden JCAP, Pater Antonio Moreno, S.J. Mereka semua berkomitmen untuk berlari atau berjalan sejauh 88 km. Hingga 20 Desember 2022 para peserta telah menempuh jarak sejauh 12.702 km dan itu sudah melebihi target awal 12.672 km. Kegiatan ini sekaligus memecahkan rekor baru dalam sejarah lari Jesuit sedunia. Intensi dari seluruh donasi yang terkumpul dari even ini adalah untuk dana pendidikan atau formasi semua skolastik Indonesia, Myanmar, Thailand, dan Pakistan. Total donasi yang terkumpul sampai saat ini adalah 2,1 miliar rupiah. Melalui acara ini, Bapak Kardinal ingin mendorong tumbuhnya “kaderisasi panggilan” dan berharap bahwa “kado istimewa” ini akan mampu mengetuk lebih banyak putra tanah air agar bergabung dan berkarya bersama Serikat Jesus. Selain 88+ Jesuit dan Sahabat Berlari, diselenggarakan pula Retret Advent Virtual dan Fun Run 8,8 km Girisonta bertema In Nomine Jesu. Setiap minggu, para peserta Retret Advent Virtual diberi bahan doa secara virtual. In Nomine Jesu ini menjadi motto Pater Darmaatmadja semenjak dilantik Kardinal hingga sekarang. Dalam puncta setiap minggu yang diikuti lebih dari 100 orang, setiap peserta retret diajak mencecap semangat atau kharisma hidup dan perutusan Julius Kardinal Darmaatmadja. Di akhir puncta, setiap peserta mendapatkan bahan refleksi dan bahan doa pribadi agar mereka semakin siap menjadi Betlehem untuk bayi Yesus yang segera lahir. Even ini dipuncaki dengan FUN RUN 8,8 Km Girisonta sekaligus merayakan ulang tahun Bapak Kardinal ke-88 pada Selasa, 20 Desember 2022 di Kolese Stanislaus, Girisonta. Lebih dari 100 Jesuit dari Semarang, Jakarta, Surakarta, dan Yogyakarta hadir memeriahkan acara ini. Sebelum mulai start, Pater Effendi Kusuma Sunur, Ketua Panitia dan Koordinator Development Office SJ Provindo, memberi aba-aba “In Nomine Jesu” dan para runners pun berlari sejauh 8,8 km di daerah sekitar Girisonta. Di akhir acara para peserta merayakan ulang tahun dan mendapatkan berkat dari Bapak Kardinal. Ia menyatakan kekagumannya karena banyak orang muda rela bersusah payah dan berpartisipasi memeriahkan acara ini. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para donatur yang telah menunjukkan rasa kasihnya bagi Gereja. Di akhir acara, dilaksanakan peluncuran buku Umat Katolik Memuliakan Manusia karya Julius Kardinal Darmaatmadja. Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator SJ Provindo

Provindo

Perpanjangan Tangan Kasih Allah

Surat Akhir Tahun 2022 Saudara-saudari terkasih, Selamat Natal 2022! Semoga damai dan sukacita kelahiran Kristus memenuhi hidup kita. Di akhir tahun ini rasa syukur terbesar saya adalah surutnya pandemi covid-19 setelah hampir tiga tahun hidup kita jungkir balik. Pandemi telah mengubah kita dalam banyak hal, dan mungkin masih ada rasa takut, penyesalan bahkan trauma. Marilah kita persembahkan seluruh perjuangan itu dan bersyukur agar mampu menatap hari depan dengan harapan baru. Selama satu tahun sejak 20 Mei 2021 Serikat Jesus merayakan Tahun Ignatian, yaitu memperingati 500 tahun pertobatan Santo Ignatius. Peringatan ini ditutup dengan Ekaristi bersama umat di Gereja Paroki Mangga Besar pada tanggal 31 Juli 2022. Selama satu tahun ini hal yang paling menonjol adalah makin besarnya peran awam dalam hidup dan karya Serikat Jesus di Indonesia. Semakin banyak rekan-rekan awam yang tertarik mendalami spiritualitas Ignatian lewat berbagai kegiatan seminar, retret, pelatihan, dan bimbingan rohani. Selain itu, para alumni sekolah-sekolah Jesuit terlibat semakin intensif dalam membantu pengelolaan almamater mereka. Pada bulan Juli yang lalu, Indonesia mengirimkan kontingen untuk hadir dalam kongres World’s Union of Jesuit Alumni (WUJA) di Barcelona, Spanyol. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia adalah kontingen terbesar dan paling “pecah” atau ramai. Tidak heran, setelah itu Indonesia didaulat menjadi tuan rumah kongres WUJA berikutnya pada 2024. Di tahun ini para Jesuit mengadakan Kongregasi Provinsi, acara rutin tiap empat tahun untuk memilih seorang prokurator atau utusan yang akan mengikuti Kongregasi Prokurator tahun 2023 nanti. Pater Bambang Sipayung terpilih sebagai prokurator. Kongregasi Prokurator bertugas menentukan apakah Serikat Jesus perlu mengadakan Kongregasi Jenderal, instansi tertinggi dalam Serikat yang menentukan kebijakan-kebijakan penting dalam Serikat sedunia.  Dalam pemerintahan Serikat Jesus di Indonesia, tahun 2022 ini juga penting karena beberapa hal. Pada bulan Maret Pater Jenderal telah menetapkan bahwa regio Malaysia-Singapore menjadi regio independen, dilepaskan dari kaitan formal dengan Provinsi Indonesia. Sebelumnya, pada bulan Januari Pater Jenderal menetapkan Thailand sebagai regio dependen yang bergantung pada Provinsi Indonesia. Kemudian pada bulan Mei Pater Jenderal meminta Provinsi Indonesia untuk mempertimbangkan mengadopsi Misi Pakistan sebagai bagian dari karya Provinsi Indonesia. Saat ini proses diskresi sedang berlangsung dan harapannya tahun depan kami sudah bisa menjawab permintaan Pater Jenderal tersebut. Kepercayaan seperti ini kadang-kadang terasa berat bila mengingat terbatasnya tenaga dan kemampuan para Jesuit di Indonesia. Akan tetapi kami percaya, Allah yang mengutus kami pasti akan memberikan kekuatan.  Salah satu bentuk rahmat Allah itu adalah tahbisan imam. Tahun ini ada dua orang imam baru yaitu Pater Hastra Kurdani dan Pater Harry Kristanto. Pater Dani kemudian bertugas sebagai moderator siswa di SMP Kanisius Jakarta, sementara Pater Harry menjadi pastor rekan di Paroki Cililitan Jakarta. Jumlah panggilan menjadi imam dan bruder Serikat Jesus beberapa tahun terakhir ini cenderung turun. Kami sedang mencari cara yang lebih efektif untuk mempromosikan jalan hidup yang tidak biasa ini. Selama sepuluh tahun terakhir ini, Serikat Jesus menerima 98 orang novis atau rata-rata sembilan orang tiap tahun. Sebagian besar berasal dari seminari menengah dan hanya sekitar 25 persen berasal dari lulusan perguruan tinggi. Kami merasa perlu lebih serius menawarkan cara hidup ini kepada orang-orang muda yang punya keinginan melayani Gereja dan sesama melalui Serikat. Tim promosi panggilan telah menyusun rencana kerja baru yang masih perlu diuji di lapangan. Kami mohon dukungan dan doa saudara-saudari. Tentu saja yang ada di depan mata adalah orang-orang muda yang telah bergabung dengan Serikat Jesus. Mulai tahun 2022 ini, lima orang frater asal Pakistan bergabung dengan skolastikat Kolese Hermanum di Jakarta. Mereka telah belajar bahasa Indonesia selama beberapa bulan dan langsung mengikuti kuliah filsafat bersama para frater dan bruder dari Indonesia, Myanmar, Thailand, Kamboja dan Timor Leste di STF Driyarkara Jakarta. Kehadiran mereka memperkaya keragaman wajah Serikat Jesus di Indonesia. Di ujung sebaliknya, para Jesuit senior di Wisma Emmaus terus bertambah. Tahun ini ada 13 orang Jesuit yang tinggal di rumah peristirahatan di Girisonta itu. Dalam statistik ada 70 orang Jesuit yang berusia 65 tahun ke atas. Tidak lama lagi mereka akan memerlukan perawatan dan fasilitas di Emmaus perlu diperluas. Saat ini tim khusus sedang dibentuk oleh superior komunitas Girisonta untuk merancang perluasan Wisma Emmaus, baik dalam bentuk bangunan fisik maupun pelayanannya. Kami ingin memberikan penghormatan yang layak kepada saudara-saudara senior kami. Tahun ini ditutup dengan perayaan ulang tahun saudara kami paling senior yaitu Julius Kardinal Darmaatmadja yang berusia 88 tahun. Perayaan berlangsung istimewa karena sekaligus menjadi ajang pengumpulan dana bagi pendidikan para Jesuit muda lewat kegiatan lari virtual selama tiga minggu. Kemurahan hati para donatur, pelari, dan panitia berpuncak pada tanggal 20 Desember saat diadakan lari gembira sejauh 8,8 km di Girisonta dan berakhir dengan pemotongan tumpeng oleh Bapak Kardinal di Wisma Emmaus. Tahun 2023 akan segera tiba. Langit mungkin mendung karena ancaman resesi ekonomi dunia membayangi, tetapi karya Allah di dunia tidak akan pernah berakhir. Marilah kita bersama-sama menyongsong tahun yang baru ini dengan harapan dan menyediakan diri sebagai perpanjangan tangan kasih Allah. Terima kasih atas semua bentuk dukungan saudara-saudari sepanjang 2022 dan selamat Tahun Baru 2023! Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. – Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia

Provindo

Kunjungan yang Tak Terlupakan ke Pakistan

“Yakin??? Semoga tetap selamat!” Inilah yang dikatakan beberapa orang kepada kami sebelum terbang ke Lahore. Sebagai tetangga Afghanistan dan pendukung “undang-undang penistaan agama” yang keras, Pakistan memiliki reputasi yang menakutkan bagi para wisatawan. Dengan mencoba mengesampingkan citra tersebut, pada 30 Oktober hingga 6 November 2022, saya bersama PP Tony Moreno, S.J. dan Kuntoro Adi, S.J. mengunjungi Pakistan sebagai bagian dari proses diskresi peralihan Misi Pakistan dari Provinsi Sri Lanka ke Provinsi Indonesia dan JCAP. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Loyola Hall, Lahore, rumah para Jesuit di Pakistan. Kami disambut oleh P Juan Carlos, superior misi, P Noel Ajanthan, direktur rumah kandidat, dan S Petras George, seorang TOKer. Mereka adalah para Jesuit yang berada di Pakistan saat ini. Satu komunitas yang terdiri atas Jesuit asal Peru, Sri Lanka, dan Pakistan sendiri. Selain mereka, Pakistan memiliki lima orang skolastik yang sedang belajar di Indonesia, dua skolastik sedang dalam Program Juniorate di Sri Lanka, satu Novis di UK, dan satu imam di Roma. Untuk sebuah negara di mana jumlah Katolik hanya kurang dari 1% total populasi, ini menunjukkan adanya panggilan yang sedang tumbuh. Kehadiran Jesuit di Lahore dimulai pada tahun 1961 ketika P Alphonsus Schockaert, Jesuit Belgia yang bekerja di Darjeeling, untuk memulai karya misi Jesuit di kota tersebut. Setelah itu datang bergabung P H. Schultz, misionaris Jerman di Poona, P Robert Bütler, seorang misionaris Swiss di India, dan F de Meyer, bruder Jesuit asal Belgia. Ini merupakan periode ketiga kehadiran Jesuit di Pakistan. Periode pertama yaitu atas undangan Kaisar Akbar dari Dinasti Mughal (1579-1760) dan periode kedua ketika Jesuit bekerja di Karachi dan Hyderabad (1860-1935). Dalam periode-periode yang berbeda itu, karya-karya yang ditampilkan secara dominan adalah karya-karya di bidang dialog antaragama, pendidikan, dan pembinaan kaum awam. Saat ini para Jesuit Pakistan menjalankan berbagai program pembinaan religius dan awam di Loyola Hall. Tempat ini menjadi pusat yang menarik banyak cendekiawan muslim untuk berkunjung dan melakukan penelitian di perpustakaan serta mengadakan seminar-seminar. Loyola Hall dikenal sebagai ruang netral di mana setiap orang dapat merasa aman dan terdorong untuk mengungkapkan pikiran mereka. Kami mendengar kesaksian ini di suatu sore dengan banyak jamuan chai atau teh susu untuk para pemimpin dari beberapa tarekat religius. Di tempat ini, mereka menemukan rumah untuk pertumbuhan iman. Mereka juga mengungkapkan sebuah harapan agar lebih banyak Jesuit yang dapat memberikan retret, kursus spiritualitas dan pembinaan, dan bimbingan spiritual. Harapan senada ternyata juga digaungkan oleh Uskup Agung Sebastian Francis Shaw, OFM dari Keuskupan Agung Lahore ketika kami mengunjunginya. Para seminaris diosesan membutuhkan pembinaan yang berkualitas, baik secara intelektual maupun spiritual. Mereka percaya, para Jesuit dapat memberikan banyak hal dalam bidang-bidang tersebut. Di luar tembok Loyola Hall, para Jesuit menjalankan dua sekolah menengah dan satu Taman Kanak-kanak. Kami bertemu dengan para guru dan para siswa di ruang kelas mereka. Di sekolah ini banyak siswa Muslim dan Katolik. Mereka datang didorong oleh pendidikan yang berkualitas dan biaya terjangkau. Mayoritas siswa berasal dari keluarga pra-sejahtera dan sekolah disubsidi secara besar-besaran oleh misi. Karena kenyataannya, orang-orang Katolik di negara itu terpinggirkan secara ekonomi. Banyak anak yang buta huruf di sana karena akses ke sekolah negeri sangat kecil. Pemerintah menerapkan sistem kuota untuk kaum minoritas. Sementara itu di Pakistan, tidak ada Universitas Katolik selain sejumlah kecil sekolah pra-universitas. Dengan demikian, mobilitas sosial menjadi tidak mungkin dan pendidikan formal yang berkualitas hanyalah milik orang-orang yang mampu saja. Permohonan yang sama ternyata juga ditekankan oleh Uskup Agung Benny Travas dari Keuskupan Agung Karachi dan Uskup Samson Shukardin, OFM dari Keuskupan Hyderabad dalam suatu pertemuan saat kami mengunjungi mereka. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi berbagai model pemandangan, mulai dari hiruk pikuk kota besar seperti Lahore dan Karachi, hingga gurun tandus yang mengelilingi Hyderabad. Juga komunitas yang luar biasa, hasil perpaduan dari berbagai kelompok etnis, terlihat dari wajah dan kostum mereka, melukiskan gambaran warna-warni dari bangsa multikultural. Sepanjang perjalanan kami merasa sangat aman, lepas dari ketakutan saat awal. Kepandaian orang-orangnya benar-benar luar biasa dan kehangatan mereka dengan cepat menghilangkan kekhawatiran awal yang kami alami sebelum kedatangan. Faktanya, P Juan Carlos, seorang misionaris Pakistan selama sepuluh tahun dan seorang veteran misi di Chad di Afrika Tengah, merasa lebih aman di Pakistan daripada di negara asalnya Peru. Kami benar-benar mendapat pengalaman visitasi yang tak terlupakan. Semoga ini akan membuka pintu baru untuk keterlibatan kita lebih lanjut. Kontributor: P Benedictus Hari Juliawan, S.J.

Provindo

Merayakan Kolaborasi

Tanggal 31 Juli selalu menjadi hari istimewa bagi semua Jesuit di seluruh dunia karena pada tanggal tersebut dirayakan pesta Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus. SJ Provindo merayakannya dengan mengadakan misa kudus yang dihadiri oleh para kolega dan sahabat. Perayaan ini diadakan terpusat di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Paroki Mangga Besar, Jakarta. Misa dipimpin oleh Vikjen KAJ, Romo Samuel Pangestu, Pr. dan didampingi oleh Provinsial SJ Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Pater Agustinus Purwantoro, S.J., Pater Paulus Hastra Kurdani, S.J., dan Pater Yohanes Harry Kristanto, S.J. Selain dihadiri oleh para Jesuit, hadir pula alumni kolese-kolese Jesuit, para donatur, dan kelompok-kelompok pegiat spiritualitas Ignatian, misalnya Magis, SBS (Schooled by the Spirit), CLC (Christian Life Community), dan LRP (Latihan Rohani bagi Pemula). Semua yang hadir merasa sangat gembira dan bersyukur karena hal ini menjadi perjumpaan langsung sejak adanya pandemi. Selain itu, antusiasme ini menunjukkan bahwa hidup Santo Ignatius dan Latihan Rohaninya telah berdampak bagi hubungan mereka dengan Tuhan. Pecahan peluru meriam yang telah melukai kaki Ignatius 500 tahun yang lalu sungguh merupakan campur tangan ilahi yang penuh berkat bagi siapa saja yang menapaki jalan Ignatian. Perayaan ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi sebagaimana ditekankan oleh Pater Jenderal Arturo Sosa. Jesuit tidak bisa berjalan dan bekerja sendirian dalam melaksanakan perutusan menyelamatkan jiwa-jiwa (ayudar a las almas). Kehadiran para rekan berkarya sungguh menjadi dukungan luar biasa bagi pelayanan para Jesuit, khususnya di Provinsi Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Pater Agustinus Setyodarmono, S.J. menceritakan pengalamannya menemani umat awam yang belajar Spiritualitas Ignatian. Dia sangat terkesan saat berjalan bersama banyak orang yang hidupnya diubah oleh spiritualitas Ignatian. Pater Setyodarmono atau Pater Nano mengedit sebuah buku berjudul Jejak yang merupakan kumpulan kesaksian dan refleksi dari mereka yang belajar spiritualitas Ignatian di bawah asuhannya. Dalam buku tersebut, kita dapat menemukan belas kasih Allah terutama dalam saat tergelap kehidupan kita. Salah satu perwakilan rekan berkarya kita, Meifung, berbagi pengalamannya menghidupi semangat Ignatian. Sebagai seorang selibater awam, ia sangat bersemangat dengan spiritualitas Ignatian. Perjumpaannya dengan Allah melalui spiritualitas Ignatian telah memotivasi dirinya untuk mengabdikan diri dalam komunitas SBS agar bisa berbagi berkat dengan banyak orang. Santo Ignatius telah mengajari kita untuk melakukan yang terbaik demi mewujudkan impian. Tetapi di sisi lain, kita harus menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Allah. Inilah yang dinamakan menghidupi tegangan antara tindakan dan kontemplasi di tengah ragam tantangan hidup. Meifung juga menekankan, “upacara penutupan tahun Ignatian bukanlah akhir melainkan permulaan babak baru untuk membawa sukacita bagi mereka yang membutuhkannya.” Pada kesempatan penutupan Tahun Ignatian ini, Serikat Jesus di seluruh dunia mengulang kembali persembahan Serikat Jesus kepada Hati Kudus Yesus. Pater Jenderal meminta semua Jesuit untuk mengulang komitmen pembaktian Serikat Jesus ini sebagaimana pernah dilakukan oleh Pater Jenderal Pedro Arrupe 50 tahun lalu. Kontributor: Alexius Aji Pradana, S.J. & Engelbertus Viktor Daki, S.J.