Pilgrims on Christ’s Mission

Pelayanan Masyarakat

Pelayanan Masyarakat

Cerita dari Shelter Kampoeng Media

Ketika pandemi Covid-19 mulai menjalar di Indonesia dalam bulan Maret 2020, kampung-kampung di Sinduharjo  mulai mengunci diri, termasuk kampung Jaban, tempat Kampoeng Media (SAV dan PT. Alam Media) berada. Aneka kegiatan yang sudah direncanakan sepanjang tahun dan melibatkan banyak orang, terpaksa dibatalkan. Kompleks penginapan yang baru saja selesai direnovasi urung digunakan. Staf pun mulai bergiliran masuk kerja.  Kami (Rm. Murti dan Rm. Iswara) gelisah. Apa yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat pada masa krisis ini? Salah satu kemungkinan adalah Penginapan Kampoeng Media yang kosong dijadikan Shelter bagi para tenaga kesehatan, tetapi RT/RW setempat tidak memberi izin karena mereka tidak ingin orang luar masuk kampung dan membawa virus. Pada saat Pandemi Covid-19 gelombang pertama, kami hanya bisa membantu sembako bagi orang-orang yang terdampak Covid-19 dan sumbangan untuk keperluan pencegahan Covid-19 di Kampung Jaban. Shelter Kampoeng Media Pada awal Mei 2021 program-program pelatihan yang menggunakan penginapan Kampoeng Media sudah bisa dibuka kembali, tetapi ternyata dalam bulan Juni 2021 kasus infeksi C-19 kembali meningkat tajam. Pandemi gelombang kedua mulai merebak. Banyak rumah sakit mulai kewalahan menangani pasien. Masa darurat ditetapkan oleh pemerintah.  Program-program dibatalkan dan Kampoeng Media kosong lagi. Kami gelisah lagi. Namun SAV masih bisa secara rutin memberi pencerahan terkait kesehatan dan bagaimana memaknai masa krisis ini melalui Bincang MoTV dan Program Katekese Bener 20 yang disiarkan lewat Youtube. Apalagi yang masih bisa kami buat? Kebetulan pada akhir Juni Romo Provinsial menanyakan kepada Rm. Murti apakah Kampoeng Media bisa digunakan sebagai tempat isolasi mandiri?  Kami berdua berdiskresi. Jawaban kami: bisa, tetapi kami harus minta  persetujuan  RT/RW lebih dulu.  Ide dasarnya adalah  Shelter Kampoeng Media diprioritaskan 50% untuk warga sekitar, dan 50% mitra kerja kami (guru-guru SD Kanisius, karyawan lingkungan Yayasan Pusat Kateketik, Yayasan Sanata Dharma, dan karyawan PT Kanisius). Tujuannya adalah mengurangi beban rumah sakit dan memisahkan orang sakit dari orang sehat, terutama mereka yang di rumahnya tidak ada tempat untuk isolasi. Saat itu kami hanya punya modal tempat, sedangkan relawan, tenaga kesehatan, dana, peralatan, dan pengalaman belum kami punyai.  Langkah pertama adalah berdialog dengan Ketua RT 03 Jaban dan RW 25. Saya mendatangi Ketua RT 03 dan berdialog dengan beliau. Ternyata pak Ketua RT 03 sepaham dengan gagasan di atas. Kalau pada awal 2020 virus masih jauh, sekarang virus sudah ada di tengah warga Jaban, maka perlu dicari solusi agar warga yang terpapar mendapat pertolongan. Pak Ketua RT 03 berjanji untuk berembug dengan pengurus RT yang lain. Setelah berembug hari itu juga, mereka semua mendukung. Termasuk pak Ketua RW 25 pun setuju.  Pak Ketua RT 03 meminta agar semua rencana dituangkan dalam surat proposal secara terperinci untuk disampaikan kepada Lurah Sinduharjo, Satgas Covid-19 Kelurahan Sinduharjo, dan Puskesmas Kecamatan Ngaglik.  Sementara itu, Rm. Murti sebagai PIC Shelter Kampoeng Media telah menjalin komunikasi dengan Sonjo (Solidaritas Yogya) yang sudah merintis shelter untuk warga. Rm. Murti juga menghubungi RS Panti Rapih untuk mendapatkan masukan tentang tata cara mengelola shelter dari segi kesehatan, sekaligus mencari bantuan dokter atau tenaga medis lainnya sebagai konsultan bagi para Isoman.  Dengan surat proposal atas nama PT Alam Media yang bekerja sama dengan SAV-USD  dan yang sudah ditandatangani Ketua RT 03 Jaban, kami bertemu pak Lurah Sinduharjo, Satgas Covid Kelurahan, dan Puskesmas Kecamatan Ngaglik. Mereka semua mendukung, terutama pak Lurah sangat bergembira. Pak Lurah telah menghubungi sekolah-sekolah yang ada di kelurahan Sinduharjo, tetapi tak satu pun dari sekolah-sekolah itu merelakan gedungnya untuk dipakai sebagai tempat isolasi mandiri. Ini sangat kebetulan, ada lembaga yang menawarkan diri. Pak Lurah sangat senang, bahkan Shelter Kampoeng Media diakui sebagai satu-satunya shelter di tingkat Kelurahan Sinduharjo.  Puskesmas Ngaglik juga mendukung, tetapi tidak bisa menyediakan tenaga kesehatan, namun berjanji untuk menyuplai vitamin. Setelah ada kepastian izin tersebut, Provinsialat memberi dana awal sehingga kami mulai bergerak untuk mengatur tempat dan juga menyiapkan alat-alat pokok yang diperlukan. Peralatan medis termasuk APD masih terbatas sekali, tetapi sambil jalan dapat dilengkapi. Kami menyiapkan 21 kamar. Sebetulnya setiap kamar bisa diisi dua orang, namun demi efektivitas isolasi para dokter mengusulkan agar setiap kamar hanya diisi satu orang saja. Ternyata ketika kabar bahwa kami mau membuka shelter mulai tersebar, banyak pihak  tertarik untuk membantu. Para relawan bermunculan: dua mahasiswa dari Kerabat Kerja Ibu Teresa, beberapa mahasiswa di Yogya, Suster-suster ADM, Suster-suster FCJ, Frater-frater SJ, dan Staf SAV. Kelompok Sego Mubeng dari Paroki Kotabaru ikut menyuplai makanan siap saji, terutama bila jumlah Isoman melebihi sepuluh orang. Suster CB Syantikara menyiapkan minuman sehat setiap hari. RS Panti Rapih menyediakan tenaga kesehatan termasuk dua dokter yang menjadi konsultan kami. Ada banyak donatur yang silih berganti mengirim sembako, alat-alat kesehatan, obat-obatan, dll. Juga banyak donatur yang mengirim uang entah jumlah besar atau kecil. Semua kami terima dengan senang hati. Berkat kemurahan hati banyak orang, shelter Kampoeng Media bisa membagi sembako dan makanan siap saji bagi warga Jaban RW 25 dan 26  yang sedang isoman di rumah masing-masing. Tanpa upacara macam-macam, Shelter Kampoeng Media  dibuka pada 12 Juli 2021 untuk warga sekitar dan mitra kerja kami (inklusif).  Syaratnya OTG tanpa komorbid dan dinyatakan positif melalui PCR/Antigen serta masih bisa mandiri. Tim Kesehatan RS Panti Rapih menjadi tim seleksi penerimaan Isoman dan sekaligus tim kosultan bagi para Isoman. Setiap hari jumlah Isoman bertambah, sehingga angkatan 1 berjumlah 22 orang.  Angkatan 2 berjumlah 17 orang. Tepat pada tanggal 16 Agustus 2021 sore, semua Isoman sudah sembuh dan Shelter Kampoeng Media ditutup karena tidak ada lagi warga yang hendak melakukan Isoman. Betul-betul para Isoman dan kami semua dapat merayakan Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-76. Pelayanan berbasis WA Pelayanan Shelter Kampoeng Media berbasis WhatsApp baik pada saat pendaftaran, selama berada di shelter, maupun saat para Isoman meninggalkan shelter. Pengelola, tenaga kesehatan, dan para relawan sangat minim berkontak langsung dengan para Isoman. Satu dua relawan saja yang berkontak dengan mereka, yaitu saat kedatangan dan saat mengantar mereka ke Puskesmas untuk mendapatkan tanda lulus. Pelayanan berbasis WA ini dikoordinasi oleh sekretariat (Ibu Elis, relawan dari SAV). Ada tiga group WA di Shelter Kampoeng Media, yaitu Grup Pengelola dan Nakes, Grup Relawan Kampoeng Media dan Pengelola/Nakes, dan Grup Isoman bersama Pengelola dan Relawan.  Sesuai dengan syarat-syarat pendaftaran yang kami sebarkan lewat media

Pelayanan Masyarakat

Bertualang Menembus Fakta

Tahun 2021, Majalah Basis telah mencapai usia 70 tahun sejak pertama kali terbit pada 1 Oktober 1951. Dalam rangka menyambut ulang tahunnya, majalah sosial budaya ini menyelenggarakan rangkaian kegiatan bertajuk “Sekolah Basis” secara daring melalui platform Zoom (zoominar) pada 1 – 10 Juli 2021 setiap pukul 19.00-21.00 WIB.  Untuk menyelenggarakan kegiatan ini, Majalah Basis tidak bergerak sendiri. Majalah Basis bekerja sama dengan Komunitas Utan Kayu (KUK), Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), TribunNews, Periplus, Bentara Budaya, dan Jesuit Insight. Kesepuluh zoominar Sekolah Basis dengan beragam tema digelar guna “menembus fakta”, menyentuh kedalaman etika, politik, seni, pandemi, ekonomi, filsafat dan teologi. “Selama sepuluh hari kami mengajak para hadirin sekalian untuk bertualang, belajar, mengarungi kedalaman tema-tema seni, ekonomi, politik, filsafat, dan teologi yang menjadi kajian di Majalah Basis,” ujar Dr. A. Setyo Wibowo, Pemimpin Redaksi Majalah Basis.  Sepuluh tema yang ditawarkan adalah 1) Profil Majalah Basis, 2) Estetika Seni Adorno, 3) Etika Komunikasi di Era Digital, 4) Komunisme Masih Hidup?, 5) Albert Camus dan Pandemi, 6) Agama, Rasionalitas, dan Teologi Publik di Zaman Post-Sekular: Berdialog dengan J. Habermas, 7) Retorika, Semiotika, dan Hermeneutika: Belajar dari Intelektual Muslim Fakhr al-Din al-Razi, 8) Estetika dan Rasa, 9) Prospek Demokrasi di Era Kapitalisme Digital, 10) Kilas Balik Majalah Basis. Sementara itu para pembicara dan penanggap zoominar yang diikuti 400-600 peserta ini antara lain Bandung Mawardi, Dr. Rémy Madinier, Goenawan Muhamad, Dr. G.P. Sindhunata, Dr. J. Haryatmoko, Dr. Agus Sudibyo, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, Prof. Hermawan Sulistyo, Ph.D., Prof. Dr. A. Sudiarja, Dr. A. Setyo Wibowo, A. Bagus Laksana, Ph.D, Dr. Fitzerald Sitorus, Dr. J.B. Heru Prakosa, Ulil Abshar Abdalla, Ayu Utami, Dr. B. Hari Juliawan, dan Yustinus Prastowo. Pemimpin Umum Majalah Basis, Dr. G.P. Sindhunata, menceritakan bahwa ketika menggantikan tugas budayawan Dick Hartoko, ia ingin membuat Majalah Basis lebih terkomunikasikan. Format lama Majalah Basis menjelang era Reformasi cukup ketinggalan, maka diganti dengan bentuk seperti sekarang. “Supaya tidak terlalu ilmiah, harus diberi warna yang lebih jurnalistik,” tutur filsuf sekaligus sastrawan dan wartawan ini. Oleh karena itu, Majalah Basis sejak di bawah asuhan Dr. G.P. Sindhunata senantiasa menggandeng para perupa, terutama dari Yogyakarta, yang ikut ambil bagian dalam perwajahan Majalah Basis. Inilah mengapa Majalah Basis mengusung tagline “Jurnalisme Seribu Mata”. “Hal ini juga untuk menghindari kesan elitis. Majalah Basis bukan majalah jurnal, majalah kebudayaan yang kering, atau majalah intelektual yang elitis, tetapi majalah yang mampu mengomunikasikan apa yang sulit, dalam, dan berbobot sehingga bisa dimengerti,” imbuhnya.  Ia pun melanjutkan, “Jurnalis yang mau menggali kedalaman itu bagaikan mempunyai seribu mata. Kita mau betul-betul inklusif, tidak eksklusif. Dengan segala mata yang kita punya, kita tidak meninjau hanya dari satu sudut saja. Maka, semboyannya adalah menembus fakta.” Apa yang ada dibalik fakta dilihat lebih dalam dengan intuisi, pikiran, dan pengolahan. “Dengan seribu mata kita memandang dan dengan kedalaman kita ingin melihat sesuatu,” pungkas penulis novel Anak Bajang Menggiring Angin ini. Selamat ulang tahun ketujuh puluh, Majalah Basis! Kontributor : Willy Putranta

Pelayanan Masyarakat

Festival Paduan Suara “Mutiara Budaya”

Merayakan Pesta Emas Pusat Musik Liturgi (PML) tentu paling baik dengan Pentas Paduan Suara. Sejak awal tahun 2021 PML merencanakan suatu festival paduan suara dalam dua versi: Versi A secara live pada hari Sabtu, 10 Juli 2021 di Auditorium Puskat khusus untuk paduan suara di Yogyakarta dan sekitarnya; Versi B secara virtual dengan tayangan video dari sejumlah paduan suara di seluruh penjuru Nusantara. Sejak daftar lagu inkulturasi diedarkan melalui Google Form, banyak peserta yang mendaftarkan diri. Bahkan tidak sedikit kelompok paduan suara yang bertanya: “Untuk ikut harus bayar berapa?” Padahal pendaftaran untuk festival ini tidak dipungut biaya sama sekali. Ada pula yang menanyakan juri dalam festival ini, padahal festival ini diselenggarakan tanpa penjurian. Semua peserta yang terlibat akan mendapatkan sertifikat.  Segala rencana di atas tidak dapat berjalan dengan mulus karena situasi pademi Covid 19 yang tidak terkendali mendekati hari pelaksanaan festival. Pada Juni 2021 PML mengajukan izin kepada Satgas Covid 19 setempat untuk mengadakan Festival dengan 200 penonton saja dengan tetap mentaati protokol kesehatan. Proposal tidak disetujui hingga akhirnya pada 3 Juli justru diumumkan adanya PPKM darurat. Panitia dengan sigap terpaksa mengubah konsep festival. Akhirnya festival hanya akan diadakan secara virtual bahkan untuk kelompok paduan suara dari Yogyakarta sekalipun. Setiap peserta terlibat dalam festival ini melalui rekaman video mereka.  Setelah bergulat dengan proses yang panjang, akhirnya acara festival paduan suara “Mutiara Budaya” terlaksana melalui kanal Youtube PML pada 10 Juli 2021 pukul 17.00-19.30 WIB. PML menampilkan video-video paduan suara yang berpartisipasi dalam festival ini kemudian diberikan komentar dan tanggapan dari pihak PML.  Banyak orang terhibur dan bergembira dengan festival model ini meskipun masih ada kendala teknis berupa penggeseran antara gambar dan suara. Maklumlah ini “produksi perdana” dari PML. Banyakan paduan suara yang berpartisipasi dalam festival ini bekerja keras untuk menyiapkan rekaman video secara profesional. Terima kasih! PML pun banyak belajar dari festival virtual ini. Meski tidak sama dengan festival secara langsung, dan terlepas dari kekurangan sana sini yang masih ada, pantas dipuji usaha dan kreativitas terutama dalam mengolah segi visual dari masing-masing peserta pantas dipuji.  Misa Syukur Ulang Tahun Tidak hanya rencana festival paduan suara yang porak poranda, rencana misa syukur pun berantakan. Misa Syukur dengan Paduan Suara Vocalista Sonora, dengan lagu-lagu inkulturasi yang diiringi dengan alat musik tradisional, dilengkapi dengan sambutan Romo Provinsial SJ dan dihadiri oleh ratusan undangan alumni, relasi serta ditutup dengan santapan siang sebagai kesempatan untuk bertukar pengalaman dan bercerita, dibatalkan. Akhirnya pada 11 Juli 2021 jam 10.00 diadakan Misa Syukur secara daring yang “disiarkan” lewat Youtube dan HIDUP TV. Misa ini disemarakkan oleh paduan suara yang hanya terdiri dari 8 orang, staf PML, dan beberapa tamu. Proses streaming dibantu oleh pakar medsos, Bp. Aan, dari Atma Jaya yang didampingi oleh Mas Jati, karyawan PML. Moto PML “Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan” dan moto khusus untuk tahun pesta emas PML “Melalui musik yang bermutu menggerakkan hati orang” turut terpampang lewat banner di bagian latar.  Misa syukur ini diakhiri dengan suatu kejutan yaitu penayangan salam khusus dari Bp. Kardinal Suharyo untuk pesta 50 tahun PML. Beliau masih ingat akan usaha PML dalam membangun inkulturasi sejak tahun 1980an semasa beliau masih kuliah di Fakultas Teologi Wedhabakti (FTW)Kentungan Yogyakarta. Bapak Kardinal juga menegaskan pentingnya karya Pusat Musik Liturgi di masa depan. Selamat Ulang Tahun PML!  Kontributor : Karl Edmund Prier,S.J. – PML Yogyakarta

Pelayanan Masyarakat

Peduli Bencana Siklon Tropis Seroja di NTT

Yayasan Realino Seksi Pengabdian Masyarakat (Realino SPM), karya sosial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, mengadakan aksi penggalangan dana untuk disalurkan bagi korban bencana Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penggalangan ini dimulai sejak tanggal 7 April hingga 17 April 2021. Jumlah donasi yang terkumpul sebesar 82 juta rupiah. Dana ini sudah disalurkan ke Adonara melalui Dekenat Adonara, Keuskupan Larantuka. Pribadi yang menjadi jembatan komunikasi di sana adalah RD Lasarus Laga Koten, Pr (Pastor Dekenat Adonara). Selama proses penggalangan dana, lebih kurang 10 hari, Realino SPM sempat diundang kolaborasi bersama Canon Indonesia dan DOSS. Kerja sama yang dilakukan ketiganya berbentuk kegiatan lelang amal dua buah kamera yang dilaksanakan pada 12-15 April 2021 di akun media sosial @doss.jogja. Total lelang donasi yang terkumpul melalui kerja sama ini sebesar 15 juta rupiah dan semuanya didonasikan untuk bantuan ke NTT. Ada banyak pribadi yang turut peduli dan berbagi kebaikan dalam penggalangan dana ini. Realino SPM bersyukur dan berterima kasih atas kemurahan hati 38orang dan komunitas/lembaga yang ikut berdonasi dan memiliki kepedulian pada situasi pasca bencana Siklon Seroja di NTT. Selain menyalurkan bantuan dana, Realino SPM mengusahakan pula bantuan pakaian layak pakai. Total baju layak pakai yang berhasil dikumpulkan sampai penulisan berita ini sebanyak delapan kardus. Kardus-kardus ini berisi pakaian perempuan, laki-laki, dan perlengkapan sanitasi seperti handuk. Rencananya, bekerja sama dengan Paroki St. Antonius Kotabaru, Yogyakarta, pengiriman donasi pakaian layak pakai ke NTT ini akan dibantu oleh TNI AU menggunakan pesawat kargo lewat Landasan Udara Adisucipto. Kontributor: Absherina Olivia Agatha & Pieter Dolle, SJ – SPM Realino

Pelayanan Masyarakat

Sepekan Skrining Tuberkulosis dari Zero TB di Realino SPM

Realino, Yogyakarta (21/04/2021) — Selama lima hari mulai dari tanggal 13 sampai 17 April 2021, halaman Yayasan Realino SPM menjadi tempat pelaksanaan skrining kesehatan, bagian dari program penemuan kasus Tuberkulosis secara aktif (Active Case Finding Tuberculosis – ACF TB) oleh Tim Zero TB Yogyakarta. Buka dari pukul 08.00 hingga sekitar pukul 15.00 WIB, kegiatan ini merupakan acara bersifat sukarela dan sepenuhnya gratis. Zero TB ini merupakan proyek kolaborasi Universitas Gadjah Mada, Burnet Institute (Australia), Dinas Kesehatan Yogyakarta, dan Dinas Kesehatan Kulon Progo. Melibatkan berbagai pihak turunan, termasuk puskesmas kecamatan dan kader masyarakat (volunteer), Realino SPM pada kesempatan kali ini menjadi tempat pelaksanaan berkat kerja sama dengan Puskesmas Danurejan II. Dalam rangka ekspansi lanjutan, pelaksanaan kali ini menyasar warga Kelurahan Suryatmajan. Prosesnya mudah dan cepat. Warga cukup datang membawa kartu identitas (KTP dan/atau BPJS) kemudian mengikuti alur skrining berupa pendaftaran, wawancara oleh perawat, rontgen dada, pembacaan hasil rontgen, konsultasi dokter, serta pemeriksaan lanjutan (dahak atau tuberculin) sesuai keputusan dokter. Bila ditemukan penyakit TBC, peserta memperoleh penjelasan dari pihak puskesmas dan dapat menjalani pengobatan gratis di puskesmas atau layanan kesehatan umum lainnya. Selama acara berlangsung di halaman Realino SPM, antusiasme warga sangat baik, terlihat dari tingginya jumlah peserta datang setiap harinya. Mulai dari anak-anak sampai kalangan lanjut usia, semuanya mengikuti proses skrining dengan tertib dan cukup kooperatif. Kemudian di tengah situasi ini juga terselip kisah-kisah menarik perihal partisipasi warga saat mengikuti pemeriksaan. Salah satu dan yang paling sering ditemui para nakes yang sedang bertugas adalah ketakutan peserta. Tidak sedikit peserta yang ditemui takut untuk melaksanakan skrining, baik karena terintimidasi prosedur pemeriksaan maupun terbawa kabar burung dan stigma buruk terkait TBC. Lalu ada pula yang mengaitkan proses skrining ini dengan pemeriksaan penyakit lain, seperti Covid-19. Karena itu selain membantu menekan angka TBC, program ini juga diharapkan dapat menurunkan stigma mengenai TBC, terutama mulai dari lingkungan keluarga. Para nakes berharap, warga bisa datang ke acara ACF di lain waktu dengan kesadaran sendiri dan tanpa terbebani. Pun diharapkan mereka mau mengikuti rangkaian prosedur pemeriksaan secara lengkap. Prinsipnya, program Zero TB ini bertujuan demi kebaikan masyarakat. Warga diharapkan tidak takut ataupun ragu mengikuti ACF. Alasannya skrining ini tidak hanya berguna bagi yang sakit, tetapi juga bagi yang sehat. Selain itu prosedur yang dilakukan murni untuk mendeteksi TB dan jika ternyata terdeteksi pun tidak perlu khawatir karena dapat disembuhkan. Kontributor: Absherina Olivia Agatha & Pieter Dolle, SJ – SPM Realino

Pelayanan Masyarakat

Lokakarya Daring: Pengembangan Pelayanan Pastoral Integral Berdasarkan Inspirasi Ensiklik “Fratelli Tutti”

“Ecclesia semper reformanda est” mencanangkan bahwa “Gereja selalu memperbarui diri”. Semboyan ini pantas kita hayati dengan mengikuti perkembangan zaman seperti diserukan oleh Bapa Suci Fransiskus melalui Ensiklik “Fratelli Tutti” tentang persaudaraan dan persahabatan sosial, yang diumumkan pada 4 Oktober 2020. Ensiklik bertujuan untuk mendorong keinginan akan persaudaraan dan persahabatan sosial. Ensiklik yang dilatarbelakangi wabah Covid-19 menyadarkan kita bahwa “tak seorang pun bisa menghadapi hidup sendirian.” Dengan Lokakarya ini, Pusat Pastoral Yogyakarta ingin mengembangkan pelayan pastoral integral berdasarkan inspirasi ensiklik “Fratelli Tutti.” Pertama-tama, kita sebagai pelayan pastoral mendalami makna ensiklik ini. Kemudian kita mencari hal-hal praktis yang dapat kita laksanakan dalam pelayanan pastoral di tengah umat dan masyarakat. Dengan berlokakarya, kita (pastor, dewan pastoral/paroki/wilayah/lingkungan, katekis, prodiakon, aktivis paroki/jemaat serta tokoh awam dan para pelayan pastoral yang lain) belajar bersama untuk memperoleh semangat baru yang bersumber dari ensiklik “Fratelli Tutti” dan mewujudkan secara integral dalam mengembangkan tugas-tugas pewartaan, pengudusan, persekutuan, pelayanan dan kesaksian Gereja di tengah masyarakat dan bangsa. Lokakarya Pastoral Integral ini diikuti oleh 61 peserta, dengan asal peserta dari kota Padang, Bandung, Jakarta, Bogor, Surabaya, Malang, Solo, Bali, Banjarmasin, Manado, Maumere dan Sentani. 59 orang diantaranya berasal dari Gereja Katolik, dan 2 orang dari Gereja Kristen. Komposisi peserta adalah 19 Laki-laki dan 42 Perempuan. Keterlibatan awam dan tarekat dalam acara ini dapat terlihat dengan komposisi 28 awam peserta, 7 Imam (Diosesan Keuskupan Bandung, Diosesan Keuskupan Surabaya, Diosesan Keuskupan Agung Semarang, Serikat Jesus, dan Serikat Xaverian), 20 Biarawati (OSF dan OSU), 5 Frater dari Bunda Hati Kudus Maumere dan 1 Pendeta. Lokakarya ini dilaksanakan dalam 3x pertemuan selama bulan Februari 2021 secara virtual melalui Zoom Meeting dengan durasi 120 menit. Pada pertemuan pertama (2 Februari 2021) peserta diajak untuk memahami pesan-pesan pokok ensiklik Fratelli Tutti bersama Rm. Nikolas Kristiyanto,SJ, kemudian model pengembangan pastoral integral yang disampaikan oleh Rm. J.B. Mardikartono,SJ dan peserta diajak membaca secara Sapiential Reading bersama Rm. A. Priyono Marwan,SJ. Selama 2 pekan, peserta dibagi 2 kelompok dengan masing-masing pendamping (Rm. J.B. Mardikartono, SJ dan Rm. A. Priyono Marwan,SJ). Di samping tiga pertemuan terjadwal, para peserta diberi kesempatan untuk bimbingan secara pribadi dan kelompok dengan jadwal yang disediakan. Peserta diajak untuk membuat catatan mengenai Spirit (gagasan, pandangan, dan inspirasi yang mencerahkan pikiran dan menggerakkan akal budi), Corde (gerak-gerak hati yang muncul dan dialami secara pribadi: kegembiraan, harapan, semangat, kesedihan, ketakutan, kecemasan dan sebagainya) dan Practice (perbuatan-perbuatan apa yang muncul di hati dan budi dari Spirit dan Corde yang dialami dari bacaan tersebut). Pertemuan kedua dan ketiga diisi dengan sharing dari peserta mengenai Spirit, Corde dan Practice dan tentunya kegiatan bersama yang telah direncanakan. Dari Lokakarya Pastoral Integral ini, para peserta diharapkan mendapat pemahaman mengenai pendekatan pastoral integral, membaca secara bijaksana dan cerdas (Sapiential Reading), pemahaman baru mengenai bagaimana membangun relasi dengan sesama, membuat perencanaan pelayanan di masa pandemi, serta mampu menggugah peserta untuk turut melihat kembali situasi yang dihadapi dan diajak untuk mencari solusi yang tepat Kontributor: Theresa Sadhati – Pusat Pastoral Yogyakarta

Pelayanan Masyarakat

MALAM PENGANUGERAHAN RUEDI HOFMANN MEDIA AWARDS (FFP KE-6) 2020

        Rangkaian kegiatan Festival Film Puskat (FFP) ke-6 diakhiri dengan Malam Penganugerahan Ruedi Hofmann Media Awards pada Sabtu, 12 Desember 2020 pukul 18.00-21.00. Seluruh acara festival film  – sejak 15 Agustus 2020 –  digelar secara online seperti launching FFP ke-6, Ngobrol Bareng no. 1-3  tentang  acting couch, keartisan dan penyutradaraan film. Demikian juga Puncak FFP ke-6 ini dihadiri secara virtual oleh tamu-tamu undangan, seperti para peserta FFP ke-6, para donatur dan para pemerhati karya SAV Puskat, dan juga Provinsial Serikat Jesus, Rm. Benedictus Hari Juliawan, SJ.           Kali ini, pada Festival Film Puskat ke-6, ada 50 peserta lomba dengan kategori 33 film cerita dan 17 film dokumenter. Semua peserta mampu memproduksi tema “Menjadi Manusia Indonesia” secara kreatif dengan menghasilkan film-film yang berbicara tentang semangat kejujuran, perjuangan hak asasi manusia, perjuangan para penyandang disabilitas, semangat nasionalisme, semangat pejuang pendidikan, semangat berbagi, toleransi dan keberagaman. Tentu saja, panita merasa berbangga dengan kreativitas para peserta apalagi kali ini jumlah peserta yang mengikuti FFP lebih banyak dari tahun sebelumnya dan mereka kebanyakan kaum milenial dengan berbagai latar belakang suku, agama, serta profesi.             Pada tahap Seleksi I, tim juri memilih dua puluh lima (25) film yang lolos. Tahap berikutnya, Seleksi II & III, penjurian diserahkan pada tim ahli terpilih, yaitu Bayu Prihantoro Filemon, Ninnda Raras, dan Rm. Murtihadi, SJ. Berikut ini adalah daftar pemenang FFP 6: Acara Malam Penganugerahan FFP 6 dihadiri secara online oleh 66 orang melalui aplikasi Zoom dan lebih dari 440 pemirsa melalui kanal Youtube. Acara ini diawali dengan Tarian dari Lumbung Artema dan dilanjutkan sambutan Direktur SAV Puskat dan Ketua FFP 6, yaitu Rm. Murtihadi, SJ yang juga menyampaikan pengumuman para pemenang Film Dokumenter dan Film Fiksi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film terbaik dari masing-masing kategori.  Acara yang dilangsungkan secara online ini menjadi semakin meriah berkat Sabina Tisa yang menjadi Master of Ceremony. Ia adalah seorang penari kraton dan juga salah satu artis andalan SAV Puskat. Kesan-kesan menarik tentang acara ini juga disampaikan oleh sineas-sineas muda yang menjadi Sutradara Terbaik dari masing-masing kategori. Kemudian, FFP 6 ditutup dengan sajian lagu-lagu dari Mas Bagus Mazasupa dan Mas Dian.         SAV Puskat sangat bersyukur bahwa di tengah segala kesulitannya masih mampu menyelenggarakan Festival Film sebanyak 6 kali berturut-turut. Melalui Festival Film seperti ini kami bisa berinteraksi dengan orang-orang muda se-nusantara untuk bertukar gagasan dan cita-cita serta memperjuangkan apa yang juga menjadi preferensi Serikat Jesus Universal.          Kami berterimakasih kepada berbagai pihak yang selalu setia mendukung perhelatan ini baik secara moral, spiritual dan finansial, seperti Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Swiss Missionprokur, Komsos KWI, SIGNIS Indonesia, PT. Alam Media, PT. Kanisius dan DIAN-Interfidei. Terima kasih pula kepada Panitia FFP 6 terutama Fr. Martinus Juprianto, SJ serta orang muda dari Paroki Kotabaru dan Balai Budaya Minomartani.            Semoga para sineas muda yang ikut serta dalam festival ini dapat menyebarluaskan semangat meng-Indonesia dan FFP selalu menjadi media pembelajaran dan diskusi untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Puncak acara FFP ke-6 ini merupakan penutup dari rangkaian perayaan Pesta Emas SAV Puskat. Inilah adalah momen penuh syukur kepada Tuhan, sebuah momen untuk berefleksi dan menentukan langkah ke depan. SAV Puskat berkehendak untuk menjadi sahabat di tengah arus perubahan zaman.

Pelayanan Masyarakat

Kolaborasi Lewat Olahraga Virtual Sambil Donasi

Caritas Christmas Cross Challenge 2020 (4C), event olahraga sambal berdonasi untuk Pendidikan. Lebih dari 3000 volunteers yang terdiri Alumni sekolah-sekolah Katholik dan Universitas Sanata Dharma, Klerus dan Awam telah memulai sebuah kolaborasi guna menggalang dana lewat event olahraga virtual dengan tujuan membantu guru-guru honorer di sekolah-sekolah swasta Katholik yang terdampak pandemi, khususnya di luar Pulau Jawa. Hasil penggalangan dana akan diterima dan disalurkan lewat Caritas Indonesia – KAINA, Lembaga Kemanusiaan KWI. Sejak Juli 2020, kerja KARINA bekerja sama dengan Komisi PSE dan KOMDIK KWI, telah menyalurkan Rp 1.249.500 untuk 1.505 guru/staff di 291 sekolah dari 27 Keuskupan di Indonesia. Caritas Christmas Cross Challenge 2020 bergulir dari inisiatif beberapa komunitas lari Alumni sekolah- sekolah Katholik yang tergabung di AAJI (Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia) kini telah menggelinding bak bola salju menjadi aksi solidaritas dengan peserta dari 22 Keuskupan, 7 Kongregasi Suster, 12 Organisasi Katholik, 17 Komunitas Alumni Sekolah dan Universitas Katholik. “Ini sebenarnya berawal dari pengharapan Bapak Kardinal Ignatius Suharyo agar kegiatan ini bisa melibatkan sebanyak mungkin Keuskupan dan organisasi Katholik lainnya. Dengan demikian diharapkan bisa membangun perhatian dan kebersamaan yang bersifat nasional”, ujar Ketua Panitia Pelaksana, Christiano Hendra Wishaka. “Saat ini tercatat 1150 Alumni, sekitar 150 lebih sahabat awam, 1700 lebih Klerus termasuk Bapak Kardinal, 18 orang Uskup lainnya dan 450an Suster. Para volunteers tersebar di berbagai kota dan pulau di Indonesia. Bahkan sebagian peserta adalah warga negara asing seperti dari Myanmar, Thailand, Korea Selatan, Vietnam, Kamboja, Filipina, India, Perancis dan Kenya. Kamipun merasa sangat terhormat dengan keterlibatan Sr. Francesco Marianti OSU (86 tahun) dan beliau menjadi volunteer paling senior (86tahun)”. Event olahraga virtual berdonasi ini akan berlangsung selama 4 minggu kedepan sampai dengan 31 Desember 2020. Menurut Glenn Sebastian, Koordinator Race Management “Sejak beberapa hari lalu, para volunteers akan terus mengajak jejaringnya untuk mendonasikan kelipatan Rp. 50.000 untuk setiap poin kepada Tim yang diwakilinya. Nah, mulai 1 Desember sampai akhir tahun, anggota Tim akan menebus perolehan dengan berjalan (termasuk treadmill) dan berlari atau bersepeda (termasuk sepeda statis). Para sahabat dan jejaring dapat berdonasi secara manual atau elektronik dengan cara penyetoran tunai, transfer ATM atau Mobile Banking, Kartu Kredit, e-Wallet (Ovo/Gopay/Dana/Link Aja, dan alat pembayaran elektronik lainnya). Informasi lengkapnya dapat diperoleh di http://aktivin.id/4c “ujar Glenn menambahkan. Menurut Rm. Widyarsono, Dosen STF Driyarkara dan Pembina panitia event, olahraga virtual berdonasi ini sangat unik. “Lewat gerakan yang sudah bisa disebut nasional ini, pertama tama mari kita berikan perhatian pada sekolah-sekolah pelosok yang diujung tanduk. Dengan modal kebersamaan dan rasa solidaritas, mari kita dukung para tenaga guru honorer agar bisa terus mendidik murid-murid mereka. Kedua, yang tidak kalah penting, lewat keteladanan para volunteers Lari Gowes Caritas Christmas Cross Challenge dan teman-teman, mari kita bangun pola hidup sehat dan bugar lewat olah raga rutin agar bisa menghadapi tantangan akibat pandemi dengan pikiran positif dan optimistik” Tim AAJI