Makau: Kota Judi dan Kota Tuhan

Beberapa Jesuit, para guru, dan para murid (utusan kedua sekolah Jesuit) berfoto di depan gereja Katedral sebelum prosesi Fatima.
maryfatimaprocessionwith2SJschools

Kali ini saya hendak berbagi kisah tentang Makau, sebuah kota kecil di sebelah Selatan dari negara Cina. Banyak orang mengenal kota ini sebagai “the Las Vegas of Asia”. Pertama, sekilas tentang Makau. Lalu, kedua, tentang karya Jesuit di sana.

Sekilas tentang Makau

Makau adalah daerah khusus administratif dari negara Republik Rakyat Cina. Setelah menjadi koloni Portugis sejak tahun 1557 (setelah Dinasti Ming), pada tahun 1999, kota Makau diserah terimakan kembali kepada Pemerintah Cina dengan penduduk sekitar 670 ribu dan luas wilayah 39,2 km2. Walaupun hanya dengan mengimpor hampir seluruh kebutuhan hidup, Makau adalah salah satu kota dengan tingkat ekonomi tertinggi kedua dan harapan hidup tertinggi keempat di dunia. Uniknya, mayoritas penghasilan kota Makau didapat dari sektor servis (judi) dan pariwisata.

Bangsa Portugis meninggalkan gedung-gedung seperti gereja, museum, dan beberapa gedung lain yang hingga kini masih terawat dengan baik. Demikian juga kegiatan religius yang berupa devosi modern, yaitu prosesi berkeliling kota dengan melibatkan penduduk non Katolik karena umat Katolik di Makau hanya sekitar 4% . Walaupun demikian, prosesi devosional ini menjadi salah satu obyek pariwisata kota Makau. Ada beberapa devosi Katolik yang masih dipertahankan karena bentuk devosi-devosi ini berkembang juga menjadi aktivitas budaya. Devosi-devosi tersebut seperti Devosi Bunda Maria Fatima yang dirayakan setiap 13 Mei. Devosi Yesus memanggul Salib yang dilakukan pada hari sabtu dan minggu di masa Prapaskah pertama. Devosi Yesus yang wafat yang dilakukan setiap Jumat Agung. Terakhir, Devosi Sakramen Mahakudus yang dirayakan pada hari Raya Minggu Tubuh dan Darah Kristus. Selain bentuk-bentuk tersebut masih ada lagi beberapa devosi lokal yang dilakukan oleh masing-masing paroki.

Perarakan Bunda Maria Fatima selalu diawali dengan Doa Novena selama 9 hari yang diselenggarakan dalam misa berbahasa Canton dan Portugis. Perarakan Bunda Maria Fatima ini diawali dari Gereja Katedral dan berakhir di Kapel “La Penha” (di bukit Penha di mana ditinggali oleh para suster Trapistin yang mayoritas dari biara Gedono Ambarawa). Dalam perarakan tersebut, di barisan bagian depan adalah siswa-siswi utusan dari sekolah-sekolah katolik (sekitar 20 sekolah) se-Makau, lalu diikuti umat beriman. Sesampainya di kapel La Penha dan setelah doa bersama, Uskup Makau akan memberkati kota Makau dan warganya dari atas bukit.  

Pelayanan Jesuit di Makau

Saya juga hendak bercerita sedikit tentang pelayanan Jesuit di kota ini. Hanya ada 1 komunitas Jesuit di Makau. Sejak keputusan Pater Jenderal Hans Kolvenbach (alm.), komunitas ini menjadi Argopuro-nya di provinsi Cina. Waktu itu Rm. Suradibrata (alm.) menjadi asisten Jenderal dan sekali berkunjung menemani Pater Jenderal. Dengan demikian, berdasarkan katalog, “seharusnya” romo Provinsial dan Socius terdaftar di situ. Hanya “senyatanya”, mereka berdua tidak selalu berada di komunitas. Bahkan, boleh dikatakan, tergantung dari komunitas manakah mereka tinggal sebelumnya. Provinsial yang sekarang adalah supervisor kedua sekolah di Hongkong, maka beliau tinggal lebih banyak di sana.  

Pelayanan Jesuit di Makau meliputi: a) pendidikan menengah (2 sekolah), b) pendidikan tinggi (universitas dan Ricci Institute, semacam Lembaga Realino-nya), dan c) pendampingan rohani (4 kelompok CLC dan pelbagai bimbingan rohani pribadi dan retret).   

Penutup

Melayani sebagai Jesuit di Makau, sebagai kota judi dan kota Tuhan, adalah sebuah tantangan. Pertama adalah, tentu saja, bahasa. Kedua adalah suasana penduduk yang mapan. Tetapi, satu hal yang menarik: devosi modern yang melibatkan seluruh penduduk, termasuk non Katolik, merupakan kegiatan yang khas karena tidak ditemui dalam karya-karya Jesuit di wilayah lainnya (Cina, Taiwan, dan Hongkong). Bahkan beberapa hari raya Katolik juga menjadi hari libur bersama, walaupun “tak seheboh” di Indonesia yang menjadikan peringatan di setiap agama sebagai hari liburnya. Terakhir, sumber daya manusia Jesuit di Makau sendiri sangat mengenaskan. Tahbisan saya saja pada 2015 dilakukan setelah tahbisan Jesuit Makau pada 2000. Tahbisan Imam baru ada setelah 15. Rata-rata usia (average age) para Jesuit di provinsi Cina adalah 70 tahun. Jesuit tertua berusia 103 tahun dan ia masih aktif menjalankan pastoral care di salah satu rumah sakit di Taipei.

Vincentius Haryanto, SJ

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *