Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

JCAP

Menjadi Manusia di Zaman AI

Refleksi Pertemuan Scholastics and Brothers Circle 2025 Sebanyak 43 skolastik Jesuit dari 15 negara berkumpul dalam Scholastics and Brothers Circle (SBC) Meeting pada 22–30 Desember 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan ini mengangkat tema “Youth in Relation to the Burgeoning of AI,” sebuah refleksi atas perutusan masa kini di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. SBC 2025 ini menjadi ruang ziarah bersama ketika AI tidak hanya dipikirkan secara kritis tetapi juga dialami secara konkret.   Pertemuan dibuka dengan pengenalan Regio Jesuit Singapore–Malaysia sebagai tuan rumah, sekaligus pemaparan mengenai pelayanan kaum muda oleh P. Francis Lim, S.J. (Superior Regio Singapore-Malaysia) dan P. Alvin Ng, S.J. (Pater Kepala Paroki Saint Francis Xavier). Sejak awal, suasana multinasional terasa kuat. Bahasa Inggris digunakan dalam percakapan sebagai jembatan komunikasi, sementara keterlibatan orang muda Katolik Malaysia dan para teologan Jesuit dari Arrupe International Residence, Manila, memperlihatkan semangat kolaborasi dalam menyiapkan SBC 2025.   Memasuki tema utama, kami diajak mengenal dunia AI (Artificial Intelligence) bersama William Tjhi dari AI Singapore, pengembang proyek SEA-LION. Dengan pendekatan sistematis, ia menjelaskan cara kerja AI, mulai dari sejarahnya sejak Konferensi Dartmouth 1956 hingga pergeseran dari machine learning ke deep learning. Melalui komentarnya atas film AlphaGo dan The Imitation Game, AI tampak sebagai capaian teknologis sekaligus sebagai fenomena yang membawa muatan narasi dan imajinasi manusia.   William menyoroti persoalan bias dalam pengembangan AI global. Dominasi konteks Barat dan Tiongkok menyebabkan Asia Tenggara, dengan keragaman bahasa dan budaya, kurang terwakili dalam data dan model AI. Ketimpangan ini, menurutnya, bukan sekadar persoalan teknis, melainkan soal keadilan representasi. Karena itu, keterlibatan ahli budaya dan konteks lokal menjadi penting agar AI berkembang secara lebih inklusif.   Ia juga mengulas keterbatasan AI, seperti fenomena hallucination, ketidakmampuan AI mengetahui masa depan, serta keterbatasan AI detector yang selalu tertinggal dari perkembangan model baru. Meski AI terus berkembang, William menegaskan bahwa AI tetap tidak mampu hadir secara personal. Manusia, dengan tubuh, relasi, kebebasan, kreativitas, dan keterarahannya kepada Allah, membawa dimensi yang tak tergantikan oleh mesin.     Refleksi kemudian dilanjutkan dengan perspektif etika dan spiritual bersama Benedict Chang, seorang teolog awam dari Singapura. Ia menegaskan bahwa “AI is a tool. It’s amoral, but influential.” AI menawarkan banyak kemudahan, dari bidang medis hingga pendidikan yang dipersonalisasi, namun juga berisiko mengikis nilai-nilai seperti ritme hidup yang lebih lambat, kedalaman relasi, dan ruang hening untuk refleksi.   Benedict menyoroti kegelisahan spiritual kaum muda di tengah dunia yang dikendalikan algoritma. Perhatian manusia dipusatkan dan dikomodifikasi sehingga orang muda kerap diperlakukan sebagai objek konsumsi. Dalam konteks iman, kreativitas dapat menjadi pintu awal keterlibatan, misalnya melalui media digital. Meski demikian, ia menegaskan bahwa iman tidak bertumbuh lewat rangsangan visual semata. Pendalaman iman membutuhkan waktu dan perhatian yang terarah, sebuah proses yang tidak dapat dipercepat oleh teknologi.   Dalam sesi AI Unboxed, Darryl Ma dari CelcomDigi mengajak kami memahami keterbatasan generative AI, terutama dalam bahasa dan makna. AI sering gagal menangkap penekanan kata dan kedekatan personal dalam komunikasi manusia. Karena itu, konteks menjadi kunci. Darryl memperkenalkan kerangka TCREI (Task, Context, References, Evaluate, Iterate) sebagai cara pembuatan prompt secara lebih sadar dan kritis dengan AI.   Ia juga membedakan antara kecerdasan dan kebijaksanaan. AI bisa sangat cerdas secara teknis, tetapi tidak memiliki empati. Contoh mobil dengan mode self-driving yang tetap melaju setelah menabrak rusa menggambarkan tindakan yang efisien namun kosong secara moral. Kesadaran ini diwujudkan secara konkret melalui program sosial “What the AI Can’t Do.” Pada malam hari, kami, dibagi dalam beberapa kelompok, turun ke jalan untuk berbagi makanan dengan mereka yang hidup di pinggir jalan. Perjumpaan sederhana ini menegaskan sikap empati dan kehadiran personal yang tidak dapat digantikan oleh AI.     Refleksi akhir dipandu oleh P. Johnny Go, S.J. (seorang pendidik dan Jesuit dari Filipina). Ia mengajak kami untuk tidak terjebak pada sikap ekstrem sebagai AI optimist atau AI pessimist, melainkan menjadi AI pragmatist: terbuka belajar dan menggunakan AI, namun tetap kritis dan sadar akan dampaknya. Dalam terang spiritualitas Ignasian, proses belajar dipahami sebagai pembentukan diri, bukan sekadar jalan pintas menuju hasil cepat. “Content is cheap, process is precious” ungkapnya.   Dari seluruh rangkaian SBC Meeting 2025, tumbuh kesadaran di antara para peserta bahwa kehadiran AI justru membuat hidup manusia semakin kompleks. Karena itu, kita dipanggil untuk terus kembali pada nilai-nilai kemanusiaan. Relasi sejati, seperti digambarkan Martin Buber dalam relasi I–Thou (Aku-Engkau), hanya mungkin terjadi antarpribadi, bukan antara manusia dan mesin. SBC Meeting 2025 tidak menawarkan jawaban final tentang AI. Sebaliknya, pertemuan ini meninggalkan kepekaan dan kesadaran bersama. Dalam semangat universalitas Serikat Jesus, kami diajak untuk terus belajar menggunakan AI demi kebaikan bersama, sambil tetap berakar pada panggilan terdalam sebagai manusia yang hidup dalam relasi dan pengharapan.   Kontributor: Sch. Laurensius Herdian Pambudi, S.J.

Jesuit Global, Penjelajahan dengan Orang Muda

MAGIS Movement, Gerakan Bersama Orang Muda

Refleksi atas pertemuan MAGIS Think In Meeting di Roma, Italia.   Pada awal Januari 2026, Kuria Roma menjadi ruang perjumpaan dan diskresi bagi para koordinator Pelayanan Orang Muda Serikat Jesus dari berbagai penjuru dunia. Pertemuan yang dikenal sebagai MAGIS Think In Meeting ini menghimpun para koordinator pendamping orang muda tingkat konferensi dari: Eropa, Afrika dan Madagaskar, Asia Pasifik, Asia Selatan, Amerika Utara, dan Amerika Latin (yang diwakili oleh masing-masing Presiden Konferensi), bersama tim dari MAGIS Digital Home–India, serta perwakilan Kuria Roma.   Mereka yang hadir bukanlah para pemimpin karya besar seperti pendidikan atau sosial, melainkan para pendamping yang sehari-hari bergumul dekat dengan realitas hidup orang muda. Yang menyatukan mereka adalah kepedulian bersama, yaitu bagaimana menemani orang muda dewasa di dunia yang dinamis, rapuh sekaligus penuh energi, tetapi juga sarat kebingungan dan pencarian makna.   Membaca Tanda Zaman Bersama Orang Muda Dalam sambutannya, Pater Jenderal Arturo Sosa mengajak peserta untuk berangkat dari realitas konkret dunia hari ini. Ia mengisahkan bagaimana sebuah artikel di harian El País berbicara tentang fenomena yang menarik: mengapa masih ada orang muda yang kembali percaya di tengah krisis. Konteksnya adalah Eropa sekuler, tempat banyak penopang hidup—rumah, pekerjaan, keluarga, kesehatan, ketenteraman, dan rasa aman—mengalami keruntuhan, sehingga melahirkan krisis makna. Dari situ, Pater Jenderal menawarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi para pendamping orang muda: Apakah kita melihat tanda-tanda meningkatnya ketertarikan pada kehidupan batin dan spiritualitas? Apakah ini terjadi di mana-mana, atau hanya fenomena pasca-sekularisasi? Apakah pencarian makna hidup berkaitan erat dengan spiritualitas?   Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi nada dasar refleksi selama pertemuan bahwa pelayanan orang muda dewasa tidak bisa dilepaskan dari konteks global yang ditandai oleh ketidakpastian, konflik, ketimpangan, serta perubahan besar dalam dunia digital dan teknologi.     MAGIS: Gerakan Universal, Bukan Sekadar Global Pertemuan ini berangkat dari keyakinan bahwa kita sedang hidup dalam sebuah kairos, waktu rahmat, bagi pertumbuhan MAGIS. Seperti ditegaskan Pater Jenderal, MAGIS telah berkembang secara kreatif di berbagai belahan dunia, dari bawah ke atas, dengan aneka wajah dan pendekatan kontekstual. Dalam refleksinya, ia mengajak peserta untuk membedakan dua istilah yang tampak mirip namun sarat makna: global dan universal. Mungkin mudah menyebut MAGIS sebagai gerakan global, tetapi dalam terang kharisma Ignatian, istilah universal jauh lebih tepat. Gereja, kristianistas, dan Serikat Jesus sejak awal memahami diri sebagai universal, bukan global. Globalisasi kerap mengarah pada penyeragaman dan pemusatan kuasa; universalisme justru berangkat dari perbedaan, menghormatinya, dan melihatnya sebagai kekayaan bersama. Dengan menggunakan gambaran tubuh, Pater Jenderal menegaskan bahwa tubuh membutuhkan keragaman organ agar dapat hidup. Tubuh yang homogen tidak memiliki kehidupan. Demikian pula MAGIS: bukan keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman yang memberi daya hidup.   Selama pertemuan, para koordinator mendengarkan laporan dari enam konferensi. Meskipun konteksnya sangat beragam, benang merahnya jelas: orang muda dewasa sedang bergulat dengan kompleksitas hidup yang semakin besar. Mobilitas geografis dan sosial sering membawa peluang, tetapi juga kesepian. Kepercayaan pada institusi melemah. Di banyak tempat, kerinduan akan perubahan mendorong keterlibatan sosial dan politik, namun sering tanpa pendampingan diskretif yang memadai. Pandemi COVID-19 meninggalkan luka mendalam, khususnya dalam kesehatan mental. Maka semakin jelas bahwa orang muda tidak hanya membutuhkan kegiatan, melainkan pendampingan, komunitas, relasi yang mendalam, dan ruang aman untuk bertumbuh.   MAGIS sebagai Cara Hidup Salah satu rumusan yang paling mengena selama pertemuan adalah definisi ini, yaitu MAGIS adalah sebuah “cara hidup” yang dihayati orang muda melalui pengalaman dan proses yang berakar pada spiritualitas Ignatian. MAGIS bukan sekadar acara atau pertemuan, melainkan proses yang dihidupi dalam komunitas, idealnya bersama orang muda sebagai rekan seperjalanan dan dalam kebersamaan. Unsur-unsur kuncinya meliputi: doa, perjumpaan dengan realitas, berbagi dalam kelompok, formasi, dan semakin mengenal hati Yesus. Di sini, diskresi panggilan hidup mendapat tempat penting—bukan sebagai rekrutmen, melainkan sebagai pendampingan orang muda untuk menemukan arah hidup mereka di hadapan Allah.   Digital: Medan Baru Perutusan Pertemuan ini juga menyoroti tantangan dan peluang besar dunia digital. Pater Jenderal mengingatkan bahwa dunia digital adalah ruang yang penuh energi dan potensi, namun tidak bebas dari bahaya. Ia mengutip pandangan Paus Leo XIV yang menyebut dunia digital sebagai peluang sekaligus tantangan utama untuk menghadirkan sukacita Injil di dunia yang terluka.   Pengalaman MAGIS Digital Home di Asia Selatan menjadi tanda harapan: ruang digital yang aman, kreatif, dan lintas budaya, dengan ribuan peserta dan tema-tema relevan seperti kesehatan mental, ekologi, karier, dan seni. Dari pengalaman ini, gerakan MAGIS kini sedang menyiapkan langkah baru: pengembangan platform digital yang lebih terintegrasi yang akan diluncurkan saat MAGIS Korea 2027.   MAGIS Korea 2027 dipandang bukan sekadar peristiwa, melainkan tonggak penting bagi MAGIS sebagai gerakan universal orang muda dewasa. Persiapan menuju ke sana mencakup seleksi dan pembinaan peziarah, formasi kepemimpinan, serta keterkaitan nyata dengan komunitas lokal agar dampaknya berkelanjutan.   Para koordinator sepakat untuk memperkuat jejaring lintas konferensi, berbagi sumber daya, dan terus berdiskresi bersama: Apa dan Bagaimana MAGIS semakin dihayati sebagai sebuah gerakan?     Berjalan Bersama dalam Harapan Dalam terang bacaan Kitab Suci dan spiritualitas Ignatian, Pater Jenderal mengingatkan kembali Prinsip dan Dasar, yaitu beriman kepada Yesus Kristus dan saling mengasihi. Dari sanalah diskresi roh menemukan pijakannya. Seperti Yesus yang memulai pelayanan-Nya di masa sulit, demikian pula kita dipanggil untuk berani melayani di batas-batas rapuh kehidupan manusia.   Pertemuan ini ditutup dengan sebuah pertanyaan doa yang sederhana namun mendalam: Di manakah aku menemukan harapan dalam semua ini? Dengan mendengarkan Roh, realitas orang muda, dan satu sama lain, MAGIS melangkah ke depan—sebagai jalan hidup, gerakan universal, dan ungkapan kasih Allah yang terus bekerja di hati orang muda zaman ini.     Kontributor: P. Alexander Koko Siswijayanto, S.J.

Provindo

Kobarkanlah Karunia Allah yang Ada Padamu!

Pada Senin, 26 Januari 2026, bertepatan dengan Peringatan Wajib St. Timotius dan Titus, Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang menahbiskan lima belas frater menjadi diakon. Para diakon baru ini berasal dari Keuskupan Agung Semarang, Tarekat Misionaris Keluarga Kudus, Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria, Ordo Karmel Tak Berkasut, serta empat frater dari Serikat Jesus: Andreas Agung Nugroho, S.J. Amadea P. Putra Mahardika, S.J. Frederick Ray Popo, S.J. Klaus Heinrich Raditio, S.J.   Perayaan Ekaristi Tahbisan dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, yang didampingi oleh Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Pater Alexius Dwi Aryanto, dan Pater Ignatius Triatmoko, MSF. Kehadiran keluarga, kerabat, serta sahabat para diakon turut menyemarakkan dan mengagungkan perayaan tersebut. Mengangkat tema “Kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu!” (2Tim 1:6), seruan Rasul Paulus kepada Timotius dalam bacaan pertama, para frater bertekad untuk secara aktif menjaga karunia Allah yang dicurahkan melalui penumpangan tangan Bapa Uskup, demi pelayanan kepada umat.   Dalam homilinya, dengan berpedoman pada Kitab Suci, khususnya surat-surat St. Paulus, Bapa Uskup Rubiyatmoko menegaskan sejumlah kualitas diakon yang harus terus diupayakan dan dijaga. Pertama, seorang diakon dipanggil untuk hidup yang terhormat dan utuh, tidak bercabang dalam tindakan maupun perkataan. Kedua, ia harus berdikari dan waspada, tidak silau oleh kenikmatan duniawi atau “menggemari anggur,” karena kemabukan duniawi akan memandulkan perutusannya.   Ketiga, sikap kolaboratif sangat penting; ia harus mampu bekerja sama, tidak memonopoli pelayanan untuk agenda pribadi, melainkan berbagi tugas demi kebaikan umat. Keempat, seorang diakon harus menjadi pribadi yang dapat dipercaya, bijaksana dalam menyimpan rahasia iman dan hanya menyampaikan ajaran yang membangun. Terakhir, ia dipanggil untuk hidup kudus dan rendah hati, yang diwujudkan dalam kesabaran, keprihatinan pada kaum lemah, dan jiwa yang senantiasa mengutamakan kerendahan hati.     Dalam perayaan tersebut, setiap diakon mengucapkan janji taat kepada Bapa Uskup atau pembesar tarekatnya. Mereka kemudian menerima penumpangan tangan, busana liturgi (stola dan dalmatik), serta Kitab Suci. Melalui ritus penumpangan tangan, para diakon menerima kewenangan untuk membantu imam dalam perayaan Ekaristi dan mewartakan Injil. Perayaan yang meriah ini ditutup dengan ramah-tamah dan resepsi di komunitas keuskupan atau tarekat masing-masing. Kini, para diakon kembali ke komunitasnya dengan tekad membara untuk mengobarkan karunia Allah, sambil menghayati doa Bapa Uskup: “Semoga Allah yang telah memulai karya baik dalam diri saudara, berkenan menyelesaikannya pula” (Filipi 1:6).     Kontributor: Tim Komunikator Jesuit Indonesia

English

Rest in the Eternal Peace, Father Petrus Pramudyarkara Witonowarso. S.J.

On Monday, January 26, 2026, at 10:20 p.m., Father Petrus Pramudyarkara, S. J., passed away at At-Tin Hospital, Bawen, Semarang Regency, at the age of 66. He was a member of the Apostolic Community of St. Stanislaus Kostka College in Girisonta and was known for his contributions to the formation of young people, particularly in the areas of student apostolate and parish ministry. Father Pramudyarkara was born in Ambarawa on October 27, 1960, and was baptized on October 30, 1960. He attended Kanisius Elementary School and Theresiana Junior High School, both in Bedono, and St. Petrus Canisius Minor Seminary in Mertoyudan, Magelang.   He aspired to become a Jesuit and began his novitiate formation at St. Stanislaus Novitiate, Girisonta, on July 19, 1980, and made his first vows on July 16, 1982. After the initial formation, he studied philosophy at the Driyarkara School of Philosophy in Jakarta, did the regency formation for two years as the assistant moderator of the student apostolate of Yogyakarta, and another year at the De Britto College. After completing his regency, he later undertook theological formation at Wedabhakti Faculty of Theology of Sanata Dharma University. He was ordained a deacon on June 3, 1992, and became a priest on July 29, 1992. He underwent his tertian formation at Loyola House of Studies in the Philippines from 1998 to 1999 and took his final vows as a spiritual coadjutor on November 26, 2011, at the Provincial’s Residence in Semarang.   He was known as a passionate figure who accompanied young people and embodied the spirit of Laudato Si through agricultural activities. Father Pramudyarkara passed away after suffering a heart attack. The Requiem Mass was held on Wednesday, January 28, 2026, at St. Stanislaus Church, followed by a funeral at Maria Ratu Damai Cemetery. All members of the Indonesian Province are requested to celebrate the Eucharist for the repose of Fr. Petrus Pramudyarkara’s soul.   Fr. Pramudyarkara’s Apostolic Assignments after the Sacerdotal Ordination 1992-1998 :  Moderator of Student Apostolate at Driyarkara Student Center and Pastoral Work at Gedangan Parish, Semarang. 1998-1999 :  Tertianship at Loyola House of Studies, Quezon City, Philippines. 1999-2000 :  Preparation for special studies and resided at Kanisius College, Jakarta. 2000-2002 :  Pursuing a master’s degree in Political Science at Marquette University, Wisconsin, USA. 2002-2009 :  Assistant Moderator of Student Apostolate in Yogyakarta. 2009-2011 :  Moderator of Yogyakarta Student Apostolate. 2011-2013 :  Acting Parish Priest of St. Ignatius Parish, Danan, Wonogiri. 2013-2016 :  Parish Priest of St. Ignatius Parish, Danan, Wonogiri. 2016-2020 :  Community Minister of Arrupe International Residence, Philippines. 2020-death :  Minister of the Apostolic Community of St. Stanislaus Kostka College, Girisonta.

Obituary

Selamat Jalan Pater Petrus Pramudyarkara Witonowarso. S.J.

Pada hari Senin, 26 Januari 2026, pukul 22.20 WIB, telah dipanggil Tuhan di Rumah Sakit At-Tin, Bawen, Kabupaten Semarang: PATER PETRUS PRAMUDYARKARA, S.J. dalam usia 66 tahun   anggota Komunitas Kolese Santo Stanislaus Kostka, Girisonta. Pater Pramudyarkara telah banyak berkarya dalam formasi orang muda, terutama bidang pastoral kemahasiswaan, pelayanan paroki, dan juga melayani komunitas sebagai minister. Lahir di Ambarawa, 27 Oktober 1960, Pater Pramudyarkara adalah putera dari pasangan suami-istri Bapak Ignatius Mardiatmadja dan Ibu Augustina Maryunah. Ia dibaptis pada 30 Oktober 1960 di Gereja Santo Thomas Rasul, Bedono. Pendidikan dasar dan menengah pertama ia tempuh di SD Kanisius Bedono dan SMP Theresiana, Bedono (1967-1975) dan pendidikan menengah atas ia tempuh di SMA Seminari St. Petrus Canisius, Mertoyudan (1976-1980).   Tertarik menjadi Jesuit, ia melamar ke Novisiat Santo Stanislaus, Girisonta dan diterima. Ia memulai formasi novisiat pada 19 Juli 1980 dan mengucapkan kaul pertamanya pada 16 Juli 1982. Setelah itu, ia melanjutkan formasi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta (1982-1985).   Selesai filsafat, Frater Pramudyarkara menjalani Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) di Wisma Mahasiswa Surakarta sebagai Asisten Moderator Kerasulan Mahasiswa (1985-1987) dan SMA Kolese de Britto, Yogyakarta (1987-1988). Setelah selesai menjalani formasi TOK dan siap menjalani formasi teologi, Frater Pramudyarkara diutus ke Fakultas Teologi Wedabhakti – Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta untuk belajar teologi selama empat tahun (1988-1992).   Tahbisan diakon ia terima pada 3 Juni 1992 dan satu bulan kemudian, 29 Juli 1992, ia ditahbiskan imam di Gereja Santo Antonius Padua, Yogyakarta oleh Bapak Uskup Julius Darmaatmadja. Enam tahun setelah tahbisan imam, Pater Pramudyarkara menjalani formasi tersiatnya di Loyola House of Studies, Filipina pada 1 Juli 1998 hingga 13 Maret 1999 di bawah bimbingan Pater Thomas O’Gorman, S.J. Kemudian pada 26 November 2011, Pater Pramudyarkara mengucapkan kaul akhir di Kapel Santo Aloysius Gonzaga, Provinsialat SJ Semarang dan diterima oleh Provinsial Pater Robertus Bellarminus Riyo Mursanto S.J.   Pater Pramudyarkara ketika muda dikenal sebagai Jesuit yang tekun. Karena itulah beliau diutus untuk studi. Pendampingan kepada orang muda pun dilakukan dengan tekun. Banyak mahasiswa yang terkesan dengan pendampingannya. Ketekunan itu juga tercermin lewat tugas-tugas keministerannya. Beberapa tahun terakhir ini, dia menghidupi semangat Laudato Si, yang terungkap lewat kegemarannya memelihara kambing dan sapi lalu kotorannya digunakan untuk pupuk tanaman.     Riwayat Tugas Pater Pramudyarkara setelah Tahbisan Imam 1992-1998: Moderator Kerasulan Mahasiswa di Wisma Mahasiswa Driyarkara dan Karya Pastoral di Paroki Gedangan, Semarang. 1998-1999: Tersiat di Loyola House of Studies, Quezon City, Filipina. 1999-2000: Persiapan studi khusus dan tinggal di Kolese Kanisius, Jakarta. 2000-2002: Studi khusus bidang Ilmu Politik di Marquette University, Wisconsin, USA. 2002-2009: Asisten Moderator Kerasulan Mahasiswa Yogyakarta. 2009-2011: Moderator Kerasulan Mahasiswa Yogyakarta. 2011-2013: Pelaksana Tugas Pastor Paroki St. Ignatius, Danan, Wonogiri. 2013-2016: Pastor Kepala Paroki St. Ignatius, Danan, Wonogiri. 2016-2020: Minister Arrupe International Residence, Filipina. 2020-wafatnya Minister Komunitas Kolese Santo Stanilsua Kostka, Girisonta.   Senin malam, 26 Januari 2026, Pater Pramudyarkara dibawa ke RS At-Tin, Bawen setelah mengalami serangan jantung dan meninggal dunia di rumah sakit.   Misa Requiem diadakan pada:   hari, tanggal : Rabu, 28 Januari 2026 pukul         : 10.00 WIB tempat        : Gereja Santo Stanislaus, Girisonta dan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Ungaran.  

English

A Journey of Realino Volunteers

From Fear to Responsibility In a pragmatic world, volunteering is often undervalued, seen merely as a light activity lacking serious commitment. Many view it as a way to kill time or enhance their resumes, leading to fatigue and disconnection among volunteers. This perception drove me to join the Realino Volunteer Community in Yogyakarta, where my journey began with an introduction from Father Pieter Dolle S.J., which sparked my interest. I quickly engaged in the Realino Learning Community during my first semester in college. My initial volunteer experience in the Bongsuwung and Jombor communities was challenging. I experienced fear and confusion due to my inexperience with children in a learning environment. Gradually, I developed the ability to build relationships, creating a nurturing atmosphere. This experience taught me that service is more about growth and communal learning than merely giving.   In my second semester, I unexpectedly became the Deputy Volunteer Coordinator, a role proposed by Ms. Luci and Father Pieter. Initially, I was apprehensive, but this opportunity sparked a significant transformation in my perspective on volunteering. I recognized that leadership within a volunteer community extends beyond organizational tasks—it entails a deeper responsibility to serve and inspire.   Many students mistakenly believe that coordination involves just issuing directives; however, it is more intricate. A coordinator must navigate community dynamics and inspire enthusiasm, embodying both thoughtfulness and passion. I aligned my understanding of leadership with the spirit of Saint Ignatius of Loyola, embracing the concept of a “servant leader.” True leadership prioritizes the group’s needs, fostering a collaborative environment that nurtures shared responsibility.     I found that camaraderie among volunteers is essential to sustaining enthusiasm. A genuine sense of belonging and affection fosters commitment, transforming responsibility into a desire to serve and grow together. For me, volunteering is a tangible expression of gratitude for the abundance I have received. I view service as a way to reciprocate the love God shows me.   Reflecting on 1 Corinthians 1:27-28, I recognize that overlooked services often convey profound love and connection to God. While these acts may not attract recognition, they are part of a larger divine purpose. As St. Ignatius of Loyola said, “Love must be put more into action than into words.” Volunteering and coordinating require action driven by commitment, not obligation; they are expressions of love.   Ultimately, I learned that commitment to a volunteer community entails a profound responsibility grounded in gratitude, love, and a shared journey with those whom God places in our lives. AMDG.     Contributor: Oddie Christian Tamzil – Volunteer Realino 2024/2025

English

Gonzaga College Sports and Arts Week Brings Together Different Generations

VERA AMICITIA EST INTER BONOS The Gonzaga College Sports and Arts Festival (Porseni) 2025 was celebrated with joy and camaraderie, underscoring its mission to foster cross-generational community bonds among students of grades X, XI, and XII. Beyond a competition, the event served as a platform to strengthen friendships and unity, embodying the spirit that true friendship exists among good people.   Community Structure in Jesuit “Houses” Students participated in a house system rather than competing as class or grade representatives. They were divided into ten large, mixed-gender groups called “Houses,” each named after inspiring Jesuit saints such as Francis Xavier and Peter Faber. This setup promotes interaction and teamwork, with members earning points that benefit their entire House, thereby fostering solidarity beyond individual classes.   Holistic Learning Outside the Classroom During Porseni, the school transforms its environment into a vibrant learning space, featuring a variety of activities that showcase students’ interests and talents. Sports competitions such as basketball, volleyball, and mini soccer promote sportsmanship, whereas chess and wall climbing challenge strategic thinking and physical courage. Creativity is highlighted by a cooking contest, in which dishes are judged on taste and on cultural presentation linked to their House’s patron saint, and by a mural competition that depicts symbols of the saints’ lives and ministries, such as Peter Claver. These activities emphasize both the creative process and meaningful reflection.   Gonzaga Got Talent Porseni organized “Gonzaga Got Talent” to celebrate each student’s unique talents, with students recording and uploading performances in categories such as singing, instrument playing, dancing, poetry, magic, and painting using the “A-Luigi” app. Teacher judges discovered many hidden talents, including a quiet student with a golden voice and a math champion skilled in performing arts. The top ten performers in each category were chosen to perform live, creating a heartfelt event that recognized and appreciated each student’s individuality.     Sharpening the Mind and Team Spirit: Quiz and Group Competition This year, Porseni introduced a new quiz competition in mathematics and general knowledge among the Houses, engaging the entire community and fostering an enthusiastic intellectual atmosphere. The event featured mandatory preliminary and final rounds, with audiences actively participating in solving math problems and cheering. The general knowledge segment was designed to stimulate students’ curiosity about the world and culture. Additionally, group activities, such as vocal and band competitions, helped students from different grades develop teamwork skills despite limited rehearsal time, as they performed both required and chosen songs. The event also featured House mascots, where representatives creatively presented their patron saints’ histories, struggles, and values, adding a fun and educational element to the festivities.   The Peak of Togetherness at the Christmas Vigil Concert The Gonzaga community concluded the semester with a Christmas Vigil Concert at the Ciputra Artpreneur building, reflecting the spirit of Porseni and serving as a moment of gratitude and reflection for the holiday season. The event featured performances by the Gonzaga Big Band Orchestra, which performed “Carol of the Bells,” and the “Suara Gonzaga” Choir, which sang Christmas songs from countries such as Poland, Germany, and the Philippines. Attendees included Father Emanuel Baskoro Poedjinoegroho, S.J., the foundation chairman; Mr. Corneiles Tedjo Endriyarto, the alumni representative; and parents, underscoring the school’s strong community. Principal Father Eduard Calistus Ratu Dopo, S.J., also performed two songs as a heartfelt gesture of appreciation.     From Competition to Community The Porseni 2025 event concluded with House Edmund Campion being named the overall winner; however, the primary achievement was the personal growth experienced by participants. Students developed leadership and service skills, engaged in cross-generational cooperation, and learned to appreciate their own talents and those of others. Reflecting Cicero’s idea of true friendship, the event fostered genuine connections, emphasizing not only skill development but also care and conscience in the Ignatian tradition. These strengthened bonds aim to unite the Gonzaga community in welcoming God and pursuing good intentions in the coming year. AMDG.     Contributor: Gabriella Kristalinawati, S.Pd., M.Si.

English

Those Who Fall Will Rise Again

The 30-kilometer trek for 50 Catholic Youth (OMK) from the Diocese of Ketapang in Borneo transformed into a daunting 4-hour journey due to heavy rain and muddy roads as they traveled to St. Maria Botong Parish. This pilgrimage marked their preparation for World Youth Day.   On November 22, 2025, the group, including Father Alle, Sister Regina, and Fathers Sandro and Donatus, embarked on this challenging journey from Balai Berkuak. The once-manageable trail became slippery, testing their endurance and camaraderie as they navigated steep, muck-laden terrain. Yet, amid hardships, they shared joyous moments, recording vlogs that captured their spirited reflections. OMK member Okra excitedly exclaimed the thrill of the experience, while others humorously acknowledged the challenges, with one youth characterizing the falls and slips as part of the adventure, stating, “Yes, it’s normal; the road isn’t as good downstream, so don’t expect too much.” This banter highlighted their resilient mindset.   As they faced deep mud puddles, the importance of vigilance and support was emphasized. Instances of motorcycles getting stuck and near falls brought the group closer, reinforcing solidarity and the spirit of cooperation. Their struggle transcended mere physical hardship, becoming a profound lesson in unity and mutual assistance.   On November 23, the first tangible blessing was their safe arrival at the parish, coinciding with the Feast of Christ the King and World Youth Day. The warm reception from the St. Maria Botong Parish community resonated deeply, reiterating their shared faith despite geographical challenges. The gathering featured local delicacies such as fern vegetables, river snails, and fish, symbolizing a sense of communal bond within the Church.     That evening, the cool air brought members together at Dangau (hut) St. Yusuf, facilitating reflection on their arduous pilgrimage. Ronald, the OMK chairman, pointed out that the journey mirrors the local community’s daily experiences. Those from well-connected areas were encouraged to empathize with the local hardships, viewing the difficult conditions as lessons in resilience and community strength. He articulated how the muddy paths became practical mentors, teaching the significance of assisting one another.   Father Philipus Bagus Widyawan, the parish priest, imparted reflections during the Eucharist on embodying faith through various forms of witness: life, gospel proclamation, love, fellowship, and sacrifice. This message catalyzed tangible action, as the OMK members joined efforts to repair the road after Mass, symbolizing the essence of their faith in action. By collecting and piling stones at slippery sites, they practiced the witness of service, reinforcing the road’s foundation for the community’s benefit.   The challenging journey highlighted an important lesson: everyone has a role in contributing to the common good, regardless of how modest it may seem. Some pushed motorcycles, others prepared meals, and many worked together to improve the roads. This collaboration demonstrated the collective spirit of working toward a shared goal, emphasizing that each individual’s efforts, regardless of scale, hold immense value.     By aligning their actions with a unified spirit, the youth acknowledged the diverse challenges they face in everyday life. Mirroring Jesus’ humility and sacrifice, they committed to walking together persistently, fostering hope, and making a positive impact on their communities. The experience of navigating muddy roads reinforced the message of perseverance and unity, reinforcing their collective identity as agents of change within the Church and society.   Ultimately, the pilgrimage exemplified not only a tangible act of faith but also an enriching learning experience, nurturing connections among the young Catholics amidst their shared struggles. The metaphor of the journey served as a reminder that everyone’s contributions matter in the larger narrative of faith, fostering a sense of purpose and belonging in their community.   Contributor: F. Nicolaus David Kristianto, S.J.