Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

English

“By Healing the World, We Rise Together”

Eucharist of The Youth of Johar Baru 2025: On Saturday, May 17, 2025, the Scholasticate of Johar Baru, Jakarta, hosted EKM (Eucharist Youth Movement) that focused on faith and contemporary life. The theme, “By Healing the World, We Rise Together,” highlighted the Society of Jesus’ preference to care for our planet. Approximately 120 participants from various communities attended, including members from Jesuit Vocation Promoters, MAGIS Jakarta, and Atma Jaya University of Jakarta. The diversity of the participants made the EKM a lively and relevant celebration.   The event began with a Creative Mass led by Fr. Effendi Kusuma Sunur, S.J., who urged participants to think about love in ecological terms. He stressed that indifference is a greater problem than hatred when it comes to environmental harm. Fr. Effendi’s message encouraged attendees to reflect on their habits and recognize that loving God also involves caring for His creation. The liturgy was enhanced by the presence of Sisca Saras, a former JKT48 member, who performed as the psalmist and contributed to a prayerful atmosphere.   A notable feature of this year’s EKM was the altar made from 86 Eco-bricks, created by the Johar Baru brothers. These Eco-bricks are constructed using plastic bottles filled with non-biodegradable waste. This project demonstrated a practical commitment to ecological care.   After the Eucharist, participants engaged in small group discussions. Each session began with an ecology video, followed by three rounds of sharing. The first round prompted individuals to consider their ecological lifestyles. The next encouraged empathy by sharing experiences, and the final round asked each participant to commit to specific ecological actions as a result of their involvement. This format provided a reflective space to enhance ecological awareness and drive lifestyle changes.   The mood shifted to celebration with a People’s Party and Art Performance, where communities showcased music, poetry, and other artistic contributions. This demonstrated that young people’s faith is vibrant, creative, and joyful. Local micro and small enterprises set up stalls, which supported the local economy. Such initiatives highlight that caring for the earth includes building connections with others.   Towards the end of the event, Gobind Vashdev, a writer and ecological facilitator, spoke about the root of ecological issues being a spiritual crisis within humans. He explained that environmental degradation often stems from greed and a lack of gratitude, suggesting that when people forget to be content, they harm the earth. Gobind urged participants to reflect on their inner selves before blaming external factors. He emphasized that unsustainable behavior towards nature is often a sign of an unfulfilled spirit.   The Jesuit scholastics involved in organizing the EKM learned valuable lessons in listening, teamwork, and fostering ecological awareness among youth. They recognized that the event was not merely a celebration but also a key aspect of their formation as “Men for Others.” The Eucharist represents an ongoing journey of growth, ecological responsibility, and an expression of faith, rather than just an annual event.   Contributor: Sch. Ignatius Dio Ernanda Johandika, S.J.

English

Nurturing A Culture of Vocation Promotion

Vocation Sunday Reflection 2025 On Sunday, November 5, the Universal Church celebrated Good Shepherd Sunday, also known as Vocation Sunday, which focuses on promoting religious vocations. The Vocation Promotion Team received invitations to participate in various activities at several parishes in the Archdiocese of Jakarta (KAJ) and the Archdiocese of Semarang (KAS). Jesuit scholastics, brothers, and priests participated in live-in experiences, informal meetings like ‘Ngopi Bareng Jesuit,’ interactions with young people, and gave homilies during Eucharistic Celebrations. In Jakarta, the activities took place primarily at Kolese Hermanum. More than ten parishes, including the Cathedral and Kramat, invited Jesuits to engage in activities like live-ins, choir, and providing vocation talks for youth. They also helped distribute communion and shared personal vocation stories in their sermons.   In the Archdiocese of Semarang, activities were centered at the College of Saint Ignatius in Yogyakarta. Jesuits participated in events across ten parishes, including Babadan and Warak. They engaged in various events, like live-ins at parishioners’ homes, environmental cleaning initiatives, pilgrimages, and assisting priests with communion and homilies.   Several participants shared their positive experiences. A parishioner from St John Paul II Parish in Yogyakarta expressed gratitude for meeting Jesuits, hoping it would inspire more local interest in religious vocations. A child from Christ the King Parish in Solo Baru also shared joy in meeting Jesuit Brothers and receiving promotional items, expressing a desire to become a priest. Sr. Colleta from Wedi Parish highlighted the Holy Spirit’s role in inspiring attendance and praised the Jesuits for enhancing their community activities. Fr. Arturo Sosa emphasized the significance of promoting the Jesuit vocation in a letter to Major Superiors in 2021. During a session about Priesthood Month 2025, Fr. Benedict Hari Juliawan stressed that parishes play a significant role in fostering vocations. He noted the ongoing collaboration between the Society of Jesus and various dioceses, which often leads to new vocations for the Society.   Pope Francis, in Evangelii Gaudium (EG 107), points out the decline in vocations to the priesthood and religious life, often due to a lack of enthusiasm within communities. He emphasizes that fostering fraternal life and community in parishes can inspire young people to dedicate themselves to God. Vocation safaris seem to present religious figures for observation, yet they serve a deeper purpose. These events allow religious individuals to engage with youth and encourage them to be open to God’s call, particularly towards religious life. The approach taken influences how vocations are promoted, especially within the Society of Jesus. In a time when the call to vocation is often overlooked, Jesuits participating in these safaris can inspire young people to consider their life vocation. Thus, creating a culture of vocation promotion is a crucial pastoral effort, helping to develop sensitivity to God’s voice amidst distractions, as the Society of Jesus works to prepare hopeful young Jesuits.   Contributor: Sch. Tomas Becket Pramudita, S.J. and Ignatius Dio Ernanda Johandika, S.J.

Pelayanan Masyarakat

Senja di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah

Minggu, 27 April 2025, adalah hari yang dinantikan oleh para volunteer Perkampungan Sosial Pingit (PSP). Jam 16.00 WIB, volunteer PSP dan frater pendamping berkumpul di Pingit dan berangkat. Perjalanan yang ditempuh tidaklah jauh namun cukup tricky bagi pendatang pertama kali karena harus memasuki kampung daerah Cokrodiningratan yang banyak belokan. Lokasinya yang bisa dibilang tersembunyi pada sebuah kampung di belakang projek bangunan mangkrak seakan menyiratkan makna: ada sebuah kisah perjuangan hidup dari kelompok yang termarginalkan di balik megahnya kota Jogja yang jarang mendapat sapaan hangat dari masyarakat (atau mungkin sengaja tak disapa oleh masyarakat atas nama kebaikan, atas nama moral, dan mungkin, agama?). Dan di sinilah kami berada, Pondok Pesantren Waria Al-Fatah.   Para santri penghuni Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al-fatah begitu hangat menyambut kehadiran kami yang hendak berdialog sore itu. Adalah Kak YS, seorang transgender perempuan (transpuan) yang sangat excited mempersilakan kami masuk. Kak YS menceritakan banyak hal bagaimana Ponpes Al-Fatah ini didirikan. (Alm) Ibu Shinta Ratri yang merupakan seorang transpuan Muslim sekaligus aktivis HAM mendirikan Ponpes Al-fatah pada tahun 2008. Berjalannya waktu, ponpes ini sempat berpindah-pindah lokasi akibat penolakan warga dan bahkan sempat ditutup akibat persekusi dari kelompok konservatif. Setelah sebelumnya dari Kota Gede, Ponpes Al-Fatah kini berlokasi tak jauh dari Tugu Jogja. Tujuan didirikannya ialah untuk memberi tempat bagi rekan-rekan LQBT, khususnya transpuan, untuk beribadah dengan nyaman serta belajar mengaji dan membaca Al-Quran didampingi beberapa rekan mahasiswa relawan, ustadz, dan bahkan pendeta.   Tak hanya santri yang beragama Islam saja, Ponpes Al-Fatah juga membuka pintu bagi rekan-rekan transpuan yang beragama Kristen. Melihat realita diskriminasi berupa penolakan yang dialami oleh rekan-rekan transpuan, Ponpes Al-Fatah menjadi rumah yang memenuhi kebutuhan afeksi cinta kasih sebagai seorang makhluk hidup. Mereka mendekatkan hati kepada Sang Sumber Kasih itu sendiri. Disela-sela pergulatan hidup dan berbagai tekanan yang dialami, kasih yang mereka terima melalui keluarga Ponpes Al-fatah diwujudkan pula dalam kehidupan sehari-hari. Banyak santri yang terlibat dalam kerja bakti masyarakat dan kegiatan LSM. Ada pula yang belajar make up, pijat, usaha catering, dan berjualan agar mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di tengah keterbatasan akses akibat identitas yang mereka yakini, mereka tetap berjuang hidup mandiri. Beberapa ada yang masih bekerja sebagai pengamen jalanan dikarenakan tidak dapat memenuhi kriteria pekerja di lembaga-lembaga tertentu; mereka tidak memiliki kartu pengenal identitas seperti KTP.   Kak YS berkisah bahwa dirinya dan rekan-rekan transpuan masih saja mendapat stigma negatif dari masyarakat, bahkan dari pemuka agama. Contohnya, dalam sebuah kegiatan seminar edukasi, Kak YS yang mewakili kaum transgender mendapat pengalaman diberi label bahwa sebagai seorang transpuan merupakan perbuatan dosa dan disuruh bertobat, kembali menjadi laki-laki cisgender. “Padahal, aku emang sudah merasa sejak kecil bahwa aku ini perempuan walaupun terlahir sebagai laki-laki. Umur 3 tahun aja aku udah pakai rok. Ada, lho, fotonya!” Di balik diskriminasi yang mereka alami, prinsip hidup yang menjadi langkah awal bagi rekan-rekan santri Ponpes Al-Fatah ialah penerimaan diri. “Tetap akan selalu ada orang-orang yang menuntutmu menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Tapi selama kamu jadi diri sendiri, keinginan pribadi mereka tidak akan menggoyahkan dirimu. Dan langkah awalnya adalah menerima diri apa adanya, siapa pun diri kamu,” tutur Kak YS dengan mata berkaca-kaca.     Arif Nur Safri, ustadz yang mendampingi para santri belajar agama, memberi kami nasihat untuk berpikir lebih kritis dengan stigma dan label yang ada terhadap rekan-rekan transgender. Mungkin kita pernah mendengar stigma soal waria, banci, bencong atau apa pun sebutannya itu yang kemudian tanpa sadar pikiran mengadopsinya menjadi asumsi negatif terhadap kelompok-kelompok tertentu. Membaca dan berdialog memampukan kita agar menjadi pribadi dengan pemikiran yang mandiri. Diskriminasi itu terus mereka alami selama masih belum banyak orang yang terbuka dan teredukasi bahwa tiap individu memiliki hak atas identitas pribadinya masing-masing.   Momen dialog ini memang momen yang kami nantikan. Seminggu seusai perayaan Paskah dan kurang dari sebulan perayaan Idul Fitri. Momen dialog yang menggugah kesadaran kami soal kasih, yaitu nilai utama yang Yesus ajarkan melalui pesan wafat-Nya di kayu salib. Perlu ada perspektif kasih dalam memandang kelompok tertentu yang termarginalkan. Sebagaimana Yesus yang selalu berpihak kepada orang miskin, lemah, dan tersingkir, kita diutus pula untuk merengkuh mereka dengan penuh kasih sebagai seorang sahabat yang sederajat, bahkan saudara. ”Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Injil Markus 3:35 mengajarkan bahwa persahabatan dan persaudaraan tidak hanya sebatas hubungan darah. Kita semua adalah anak-anak Allah jika hidup dalam kebaikan. Apalagi melakukan perbuatan yang dikehendaki Allah seperti mewujudkan cinta kasih, keadilan, dan perdamaian bagi sesama tanpa membeda-bedakan gender, agama, suku, dan lainnya.   Waktu terasa sangat singkat. Matahari mulai terbenam diiringi suara adzan maghrib. Kami pamit untuk kembali ke kesibukan kami masing-masing, namun dalam hati berjanji untuk tidak sibuk sendiri. Masih banyak teman-teman kami yang masih terpinggirkan oleh dunia. Satu hal yang menghidupkan kembali semangat kepedulian kami terhadap sesama yang terpinggirkan dengan menjadi volunteer mengajar anak-anak di Pingit. Kakak-kakak santri yang senyumnya tidak pernah lepas melepas kepulangan kami. Kami menghaturkan rasa terima kasih atas dialog singkat yang manis sore ini. Terima kasih atas inspirasi yang nyata bahwa keadilan dapat sungguh-sungguh diperjuangkan dengan penuh kasih.    Dan senja yang hangat sore itu mengantar kepulangan kami selepas bercengkrama bersama santri transpuan di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah.   Kontributor: Basilika Rain (volunteer pengajar Perkampungan Sosial Pingit)

Karya Pendidikan

Keberanian di Tengah Keraguan

Kita tidak pernah sungguh-sungguh siap menghadapi pengalaman pertama. Seperti yang dilakukan oleh para calon pengurus ORSIKA (Organisasi Siswa PIKA) pada Jum’at, 16 Mei 2025 lalu, kedua belas calon pengurus tersebut menjalani masa pembekalan yang unik. Mereka berdiri di tengah keramaian lalu lintas yang padat pada sore hari, mengambil pengeras suara (TOA), dan mulai berbicara di depan orang asing dalam waktu kurang dari satu menit untuk mendengarkan. Mereka diminta untuk melakukan orasi dadakan di lampu merah. Apa yang awalnya mereka kira sebagai latihan berbicara di depan umum, ternyata malah menjadi momen reflektif tentang seorang pribadi dalam menghadapi ketakutan, mengatasi overthinking, dan menemukan makna tentang pentingnya keberanian.   Mengatasi Ketakutan dan Pikiran Sendiri Saking gugupnya, salah seorang peserta bernama Evelyn sampai mengucapkan ‘selamat pagi’ pada saat membuka orasi di depan para pengendara, padahal ia melakukan itu sore hari. Meski salah, ia mendapat dukungan dari teman-temannya sehingga menemukan bahwa keberanian bukan hanya soal lancar berbicara, tetapi soal mengambil langkah pertama. Ia menyadari bahwa lingkungan berpengaruh besar dalam mendorong tindakannya – bukan hanya niat pribadi. Ketika ada seseorang yang mendukungnya untuk maju, maka ia hanya perlu terus melanjutkan apa yang sedang dilakukan.    Peserta lain bernama Galuh pun merasakannya pula. Ia menemukan bahwa seringkali ia membayangkan risiko-risiko terlebih dahulu seperti takut dimarahi karena salah berbicara. Namun, ketika orasi, tidak ada yang memarahinya. Hal ini membuatnya tampil percaya diri.    Sebagai orang pertama tampil, peserta bernama Saka merasakan lemes, panik, dan malu karena merasa ditertawakan oleh orang-orang. Namun ia kemudian belajar bahwa overthinking semacam itu hanya menghambat. Keberanian justru muncul setelah seseorang melewati perasaan-perasaannya sendiri. Pengalaman pertama harus dialami agar seseorang bisa belajar mengelola perasaan dan pikirannya sendiri.     Percaya Diri Tidak Hadir Begitu Saja Tidak ada orang yang tidak ingin tampil percaya diri. Orasi ini mengajarkan bahwa percaya diri itu tidak datang begitu saja. Meski sudah mempersiapkan materi dengan baik, seorang peserta bernama Isa malah blank. Ia belajar bahwa penguasaan diri dan ketenangan tidak datang secara instan, melainkan melalui latihan. Dengan mengalami sendiri, ia menemukan bahwa terkadang “apa yang kita bayangkan tidak seburuk kenyataannya.”    Refleksi tersebut ternyata juga dirasakan oleh Vania. Awalnya ia mengira bahwa semua akan memalukan, tetapi ketika melihat penampilan teman-temannya yang berusaha untuk tampil percaya diri, ia terdorong pula untuk mencoba. Menurutnya, kemauan dari dalam dan lingkungan yang positif adalah kunci untuk bisa berkembang.    Kevin menyebutkan bahwa pengalaman ini mengubah cara pandangnya tentang kebutuhan akan ‘orang yang dikenal’ saat berbicara di depan umum. Meski awalnya merasa bahwa ia hanya bisa berbicara di depan umum ketika ada orang yang ia kenal, ternyata ia pun bisa bicara bahkan di antara orang asing. Peserta lain bernama Kenzi pun menambahkan bahwa pikiran yang tidak-tidak bisa menghambat kemajuan diri.    Membebaskan Diri dari Label dan Ekspektasi Dari hasil sharing, banyak peserta menceritakan bahwa seringkali mereka ragu karena label yang mereka lekatkan pada diri sendiri. Salah satu peserta bernama Joy mengaku bahwa pengalaman pendiam dan menahan apa yang ia ungkapkan saat SD membuatnya menyadari bahwa ia adalah seorang ‘introvert’. Label ini menjadi batas sehingga mekanisme pertahanan diri ini muncul ketika dihadapkan pada rasa tidak nyaman. Dengan bicara spontan saat mengutarakan pendapat ia malah menjadi berani dan merobohkan label yang ia buat.   Peserta lain bernama Brigitta menambahkan bahwa ia mengalami pembebasan dari belenggu ekspektasi orang lain. Ia belajar untuk tidak takut pada pandangan orang lain dan merasa lega karena bisa total tanpa takut dianggap aneh. “Berani tidak disukai justru membebaskan diri,” katanya.   Gio, salah satu peserta, mengingat pengalamannya dahulu saat ia masih pemalu dan membuatnya gagal masuk SMA impiannya. Namun, berkat orasi ini, ia menyadari bahwa ternyata ia pemberani. Ia membuktikan bahwa ternyata Gio bisa lebih percaya diri dan mulai meninggalkan ketakutannya yang dulu karena salah bicara yang sempat membuatnya malu.   Pentingnya Komunitas dan Dorongan dari Sekitar Pengalaman orasi di tengah jalan ini mengajarkan betapa berpengaruhnya lingkungan di sekeliling kita. Jenifer yang punya pengalaman mudah merasa overthinking dan takut dianggap aneh, bisa belajar bahwa orang lain tidak akan terus-menerus mengingat apa yang sudah kita lakukan. Ia merasa disembuhkan oleh kesadaran baru ini dan yakin bahwa tampil di depan umum bukan hal yang memalukan melainkan sesuatu yang bisa dibanggakan.    Dengan jujur, Mulky juga mengakui bahwa meski tidak semua yang telah ia persiapkan dapat tersampaikan dengan baik, ia tidak patah semangat. Dukungan dari teman-temannya membuat ia memiliki semangat dan kekuatan. Ia pun turut menyemangati dan mendukung teman-teman yang lain untuk menemukan potensi yang mereka miliki.    Kesimpulan: Dari Trotoar Menuju Panggung Kepemimpinan Meski hanya berlangsung tidak lebih dari satu menit, ternyata pengalaman orasi berdampak cukup besar dan dalam bagi para calon pengurus ORSIKA. Masing-masing calon pengurus ini menemukan sesuatu yang baru dari dirinya sendiri seperti keberanian, ketenangan, spontanitas, dan penerimaan diri. Bukan hanya soal tampil dan bicara di depan umum, tetapi mereka belajar untuk lebih mengenal diri sendiri dan orang lain.    Dari kedua belas orang tersebut, dari rasa takut hingga rasa syukur, pengalaman ini menjadi awalan baik untuk belajar menjadi pemimpin yang berani. Seorang pemimpin bukan orang yang tidak takut, tetapi orang berani bertindak meski takut. Mereka ingin belajar memimpin bukan karena mampu, tetapi karena berusaha setia pada tugas yang diberikan. Dari lampu merah sore itu, calon pemimpin muda ini telah menunjukkan kita sebuah pertanda bahwa mereka siap untuk melangkah lebih jauh, bukan untuk menjadi pandai berbicara, tetapi membawa pengaruh positif bagi komunitasnya.    Kontributor: Sch. Y. K. Septian Kurniawan, S.J.

Karya Pendidikan

Semarak Peresmian Eco Camp dan Temu Anak Yayasan Kanisius

Pada 28-29 April 2025, Yayasan Kanisius mengadakan Pesta Nama Santo Pelindung Yayasan, yakni St. Petrus Kanisius. Dalam semangat merawat bumi sebagai rumah bersama dan membentuk karakter anak-anak bangsa, Yayasan Kanisius meresmikan Eco Learning Camp (ELC) di Ambarawa. Acara ini sekaligus dirangkai dengan kegiatan Temu Anak Kanisius 2025 yang diikuti oleh lebih dari 300 murid sekolah Kanisius di wilayah Cabang Semarang.   ELC merupakan inisiatif Yayasan Kanisius untuk menyediakan ruang pembelajaran ekologis dan pembinaan karakter. Lokasinya berada di belakang kompleks SMK SPP Kanisius Ambarawa, tepatnya di Jl. Mgr. Sugiyopranoto No.56 B. Tempat ini didesain sebagai ruang terbuka untuk kegiatan outbound, rekoleksi, pelatihan kepemimpinan, serta pembinaan spiritual dan karakter. Fasilitas yang disediakan adalah joglo, limasan, kamar penginapan, aneka tanaman edukasi, dan tenda kemah.    Peresmian ELC dan Temu Anak Kanisius dibuka dengan Misa yang dipimpin oleh Pater Heru Hendarto, S.J., (Ketua Yayasan Kanisius), bersama konselebran Pater Joseph Situmorang, S.J., (Kepala Cabang Surakarta). Dalam homilinya, Pater Heru menegaskan bahwa Gereja perlu sungguh melayani dan mendukung perkembangan anak-anak, termasuk dalam kurikulum dan sarana pembelajaran.     Pater Heru menggarisbawahi dua warisan penting dari Paus Fransiskus, Fratelli Tutti, yang menekankan persaudaraan universal, dan Laudato Si’ yang mengajak kita mencintai lingkungan. “Rumah Tuhan adalah rumah kita bersama. Maka, Kanisius Eco Learning Camp ini hadir sebagai wujud nyata cinta kita pada bumi dan pada masa depan anak-anak,” ungkapnya.   ELC menjadi sarana belajar sekaligus ruang kontemplatif. Tanaman-tanaman yang tumbuh di area ELC bukan sekadar penghias, tetapi menjadi tanda berkat dan hasil cinta lingkungan yang mencukupi kebutuhan hidup manusia. “Kita harus saling merawat—lingkungan dan sesama,” tambah Pater Heru.   Acara ini dihadiri oleh para murid, guru, pendamping, dari Yayasan Kanisius. Dalam pembukaan, hadir perwakilan dinas pendidikan Ambarawa, guru dan biarawan-biarawati, paroki sekitar, tokoh umat dan masyarakat, Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Suasana semakin semarak dengan penampilan dari anak-anak TK dan SD Kanisius Harjosari.   Temu Anak Kanisius yang diadakan selama dua hari satu malam ini menjadi momentum perdana anak-anak Kanisius menggunakan fasilitas ELC. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengembangkan karakter kepemimpinan, kerja sama, cinta lingkungan, serta mempererat persaudaraan antar sekolah. Selama dua hari, anak-anak diberi kegiatan edukatif luar kelas yang sangat menarik dan berguna bagi perkembangan dan keseimbangan daya-daya manusiawi dan rohani peserta didik. Temu anak dikemas dengan aneka permainan yang efektif karena menggabungkan berbagai macam aspek, mulai dari aspek fisik, aspek mental juga intelegensi.     Kanisius Eco Learning Camp merupakan implementasi dari Prioritas V Yayasan Kanisius: “Yayasan Kanisius semakin mengadopsi teknologi komunikasi digital dan peduli pada lingkungan dan keutuhan ciptaan.” Semangat ini selaras dengan ensiklik Laudato Si’ dan arah gerak Rencana Apostolik Provindo SJ. Yayasan Kanisius berharap bahwa fasilitas baru ini dapat dipergunakan oleh seluruh unsur Kanisius, PIA, OMK, kalangan Gereja, dan masyarakat luas.    Sebagai bentuk kehadiran di dunia digital, Yayasan Kanisius juga meluncurkan video profil Yayasan yang diproduksi sepenuhnya oleh sumber daya Kanisius — mulai dari naskah, pengambilan gambar, musik, talent, hingga proses editing. Video ini dapat diakses melalui YouTube: https://youtu.be/vuMIs_nRKXg?si=fl7XTX85T3yYhlb-   Dengan peresmian ELC ini, Yayasan Kanisius menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang transformatif, ekologis, dan menyatu dengan kebutuhan zaman. ELC bukan hanya tempat, tetapi gerakan. Sebuah gerakan pendidikan menuju generasi yang sadar, peduli, dan mencintai bumi sebagai rumah bersama.   Apabila para Pater, Bruder, Frater, dan sahabat sekalian tertarik mengadakan outbound, rekoleksi, retret, seminar, ataupun berkemah di bumi perkemahan ini, dapat menghubungi contact person pengelola di +62 896-9744-8585 (Yuli).    Kontributor: Th. Surya Awangga, S.J.

Pelayanan Masyarakat

“Sebuah Mosaik Indah: Indonesia di Mata Paus Fransiskus”

Refleksi Lintas Iman atas Warisan Paus Fransiskus dan Harapan akan Kepemimpinan Paus Leo XIV Jakarta, 10 Mei 2025 – Dalam rangka mengenang warisan moral dan spiritual Paus Fransiskus serta menyambut kepemimpinan Bapa Suci Paus Leo XIV, PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus) menyelenggarakan seminar reflektif bertajuk “Sebuah Mosaik Indah: Indonesia di Mata Paus Fransiskus” di Aula Gedung KWI, Jakarta. Seminar ini menjadi ruang perjumpaan lintas-iman dan lintas-sektor untuk merenungkan kontribusi Indonesia dalam visi Gereja universal yang inklusif, damai, dan berbela rasa.   Acara ini menghadirkan tokoh-tokoh terkemuka  Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (Ketua Presidium KWI dan Uskup Bandung) Ignatius Jonan (Ketua Panitia Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia) Prof. Dr. Siti Musdah Mulia (Cendekiawan Muslim) Pdt. Jacklevyn F. Manuputty (Ketua Umum PGI)   Diskusi dipandu oleh Francisia Saveria Sika Ery Seda, Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia.   Dalam sambutan pembuka, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., menegaskan bahwa momen ini adalah saat yang tepat untuk menghormati jembatan spiritual dan sosial yang dibangun oleh Paus Fransiskus, sekaligus menyambut Paus Leo XIV sebagai penerus harapan dunia. “Indonesia adalah sebuah mosaik indah—tempat di mana pesan kasih, dialog, dan persaudaraan menemukan bentuk nyata,” ujarnya. Acara ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya membangun jembatan persaudaraan yang mempersatukan umat manusia.     Mgr. Antonius Bunjamin, OSC menilai bahwa Paus Fransiskus adalah pemimpin yang menyerukan perubahan dari ketidakpedulian global menjadi solidaritas global. Ia juga melihat Paus Leo XIV sebagai penerus visi sosial Fransiskus, dengan nama yang mengingatkan dunia pada semangat Rerum Novarum dari Paus Leo XIII.   Prof. Dr. Siti Musdah Mulia menegaskan bahwa warisan Paus Fransiskus adalah ajakan damai lintas agama. “Agama harus menjadi kekuatan yang mengangkat spiritualitas dan kemanusiaan,” ujarnya. Baginya, mengenang Paus Fransiskus berarti menghidupkan kembali semangat dialog dan perdamaian di tengah dunia yang mudah terpecah. Ini dilakukan dengan menghormati kehidupan dan hak asasi manusia, serta membangun dialog.    Pdt. Jacklevyn F. Manuputty menyebut Paus Fransiskus sebagai “Bapa Gembala Kemanusiaan” yang menghadirkan nilai-nilai profetik dalam realitas konkret. Ia menilai Paus Fransiskus sebagai tokoh spiritual yang mewakili keberpihakan pada dunia yang rentan.   Ignatius Jonan, umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta dan Ketua Panitia Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia, mengajak peserta untuk menyadari penyelenggaraan ilahi dalam kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dan juga dalam konklaf yang memilih Paus Leo XIV. Menurut beliau, Paus Leo XIV bisa jadi dihadirkan oleh Yang Ilahi sebagai ajakan bagi seluruh Gereja untuk bertransformasi.     Seminar ini menjadi momentum spiritual dan moral untuk merayakan jejak Paus Fransiskus di hati bangsa Indonesia, serta menyambut dengan penuh harapan arah Gereja ke depan di bawah kepemimpinan Paus Leo XIV.   Tautan video dokumentasi: https://www.youtube.com/watch?v=wfpI54HoYmQ  dan www.praksis.id   Kontributor: P Angga Indraswara, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

“By Healing the World, We Rise Together”

Ekaristi Kaum Muda Johar Baru 2025 Sabtu, 17 Mei 2025, Skolastikat SJ Unit Johar Baru kembali menggelar Ekaristi Kaum Muda (EKM) sebagai bagian dari tradisi kreatif dan reflektif komunitas skolastik SJ Unit Johar Baru. Lebih dari sekadar perayaan liturgi, EKM menjadi ruang spiritual yang mengajak kaum muda untuk merenungkan iman mereka dalam konteks kehidupan masa kini. Dengan tema “By Healing the World, We Rise Together,” kegiatan EKM menggemakan Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus, khususnya ajakan untuk berkolaborasi dalam merawat rumah kita bersama. Ekaristi Kaum Muda Johar Baru tahun ini diikuti oleh sekitar 120 peserta dari berbagai komunitas, seperti Prompang SJ, MAGIS Jakarta, PMKRI, ATMI Cikarang, Kolese Kanisius, PMKAJ Unit Selatan, PMKAJ Unit Barat, OMK Paroki Kampung Duri, Sant’Egidio, Universitas Atma Jaya Jakarta, OMK Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Tangerang, STF Driyarkara, serta kolaborator dari kongregasi, dan lembaga mitra lainnya. Keberagaman latar belakang, dan semangat yang dibawa para peserta, menjadikan EKM sebagai perayaan yang sungguh hidup, relevan, dan menyentuh realitas zaman.   Rangkaian kegiatan dibuka dengan Misa Kreatif yang dipimpin oleh Pater Effendi Kusuma Sunur, S.J. Dalam homilinya, Pater Effendi mengajak para peserta untuk merenungkan dimensi kasih dalam konteks ekologis. Ia menekankan bahwa lawan kata dari kasih bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian. Banyak kerusakan lingkungan yang terjadi bukan karena kebencian aktif, melainkan karena sikap pasif, dan tidak peduli. Seruan tersebut menggugah hati para peserta, untuk melihat kembali gaya hidup mereka, serta membangkitkan kesadaran, bahwa mencintai Allah berarti juga mencintai, dan peduli pada ciptaan-Nya. Ekaristi semakin syahdu dengan kehadiran Sisca Saras, mantan anggota JKT48, yang tampil sebagai pemazmur. Dengan suara dan pembawaannya yang tenang, Sisca membantu menghadirkan suasana doa yang mendalam dalam Liturgi Sabda. Ia juga membawakan dua lagu dalam sesi ramah tamah.    Salah satu bentuk konkret komitmen ekologis dalam Ekaristi Kaum Muda Johar Baru tahun ini, adalah penggunaan meja altar dari 86 Eco-brick, yang dibuat secara mandiri oleh para frater Johar Baru. Eco-brick adalah botol plastik bekas, yang diisi padat dengan sampah anorganik tak terurai, seperti: plastik pembungkus, kresek, dan styrofoam. Melalui proses yang tekun dan kreatif, sampah-sampah anorganik tersebut dapat diubah menjadi barang, yang memiliki nilai guna.      Setelah perayaan Ekaristi, para peserta mengikuti sesi sharing dalam kelompok kecil, yang dibagi dalam tiga putaran. Sesi sharing didahului oleh penayangan video pendek, tentang ekologi yang telah disiapkan panitia. Putaran pertama mengajak peserta merefleksikan kehidupan pribadi mereka: Sudahkah aku hidup secara ekologis? Putaran kedua mendorong empati masing-masing peserta untuk mendengarkan, dan menangkap pembelajaran dari sharing teman lain. Pada putaran terakhir, masing-masing peserta diajak merumuskan satu kehendak konkret, sebagai buah dari keterlibatan mereka di EKM ini. Proses tersebut menjadi ruang refleksi bagi masing-masing peserta, untuk membangun kesadaran ekologi, dan mengarah pada transformasi gaya hidup yang lebih ekologis.    Setelah sesi sharing, suasana beralih ke nuansa perayaan dalam bentuk Pesta Rakyat dan Pentas Seni. Komunitas-komunitas peserta menampilkan karya seni mereka: musik, puisi, dan lain-lain. Semangat partisipasi dari para peserta menjadi tanda; bahwa iman kaum muda adalah iman yang hidup, kreatif, dan penuh sukacita. Tak ketinggalan, kehadiran stan UMKM dari warga sekitar, menjadi dukungan nyata terhadap ekosistem ekonomi lokal. Aksi kecil seperti ini menunjukkan, bahwa merawat bumi bukan hanya tentang menanam pohon atau mengelola sampah, tetapi juga tentang membangun solidaritas dengan sesama manusia.   Menjelang akhir acara, peserta diajak mendengarkan Gobind Vashdev, seorang penulis, dan fasilitator transformasi kesadaran dalam hal ekologi. Dalam talkshow-nya, Gobind berbicara tentang akar terdalam krisis ekologis: krisis spiritual. Ia menyampaikan bahwa krisis lingkungan adalah cermin dari ketidakseimbangan dalam diri manusia. “Ketika manusia lupa akan cukup, lupa bersyukur, dan hidup dalam ketamakan, maka bumi pun akan terluka,” katanya. Kata-kata Gobind menantang peserta untuk melihat ke dalam, sebelum menunjuk keluar. Ia mengajak para peserta menyadari bahwa perilaku eksploitatif terhadap alam, lahir dari jiwa yang kosong, jiwa yang tidak puas, tidak tahu cukup, dan tidak mampu bersyukur atas yang sudah dimiliki. Ketika manusia kehilangan rasa cukup (sense of enough), maka alam menjadi korban kerakusan yang tak berujung.     Sebagai skolastik Jesuit, kami yang terlibat sebagai panitia Ekaristi Kaum Muda Johar Baru 2025 tidak sekadar menyelenggarakan sebuah acara, tetapi juga belajar banyak dari pengalaman ini. Kami belajar mendengarkan, berkolaborasi dengan banyak komunitas, serta menggerakkan semangat ekologis secara nyata pada kaum muda. Semua ini menjadi bagian dari formasi kami, untuk menjadi “Men for others.” Akhirnya, Ekaristi Kaum Muda Johar Baru 2025 bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah proses formasi, aksi ekologis, dan pewartaan iman yang hidup.   Kontributor: Sch. Ignatius Dio Ernanda Johandika, S.J.  

Prompang

Merawat Kultur Promosi Panggilan

Refleksi Minggu Panggilan 2025 Pada Hari Minggu (11/5), Gereja Universal merayakan Hari Minggu Paskah IV, yang juga dikenal sebagai Hari Minggu Gembala Baik. Dalam tradisi Gereja, hari ini secara khusus dirayakan sebagai Hari Minggu Panggilan. Tim Promosi Panggilan menerima undangan dari beberapa Paroki di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan Keuskupan Agung Semarang (KAS). Para frater, bruder, dan imam Jesuit turut ambil bagian dalam memeriahkan beragam kegiatan seperti live in, “Ngopi Bareng Jesuit”, dinamika bersama orang muda, hingga menyampaikan homili dalam Perayaan Ekaristi. Tulisan ini merupakan refleksi sekaligus dokumentasi atas keterlibatan tersebut.   Safari panggilan di KAJ terpusat di Kolese Hermanum (Kolman), Jakarta. Lebih dari sepuluh paroki di KAJ mengundang para Jesuit untuk terlibat. Paroki-paroki tersebut antara lain: Paroki Katedral, Kramat, Rawamangun, Serpong, Toasebio, Kranggan, Pamulang, Blok B, Bekasi Utara, Tangerang, Kampung Sawah, dan Mangga Besar. Para Jesuit terlibat dalam sejumlah kegiatan mulai dari live in, mengisi paduan suara, menyanyikan Mazmur Tanggapan, sesi “Ngopi Bareng Jesuit,” talkshow panggilan dengan kaum muda, membantu membagikan komuni, dan berbagi kisah panggilan dalam homili.   Di wilayah KAS, safari panggilan terpusat di Kolese Santo Ignatius (Kolsani), Kotabaru, Yogyakarta. Sebanyak sepuluh paroki mengundang para Jesuit untuk terlibat. Paroki-paroki tersebut antara lain Paroki Babadan, Warak, Boro, Gedangan, Purbayan, Solo Baru, Palur, Brayut, Wedi, dan Kotabaru. Para Jesuit terlibat dalam sejumlah kegiatan mulai dari live in di rumah umat, memilah sampah dan membersihkan lingkungan, ziarah ke Gua Maria, sesi “Ngopi Bareng Jesuit,” rekoleksi PIA/PIR, dan membantu imam untuk asistensi membagi komuni atau menyampaikan homili.    Seorang umat dari Paroki St. Yohanes Paulus II, Brayut, Yogyakarta, sangat bersyukur karena umat bisa berjumpa dengan para Jesuit dan perjumpaan itu sangat bermakna. Paroki tersebut belum memiliki biarawan-biarawati asli Paroki Brayut. Umat tersebut menambahkan, “Dengan kehadiran para biarawan-biarawati, diharapkan tumbuh ketertarikan untuk mengikuti mereka, bekerja bersama umat Allah untuk masa depan Gereja.”   Seorang anak dari Paroki Kristus Raja, Solo Baru, juga bersyukur bisa berjumpa dengan para Jesuit dan mendapatkan banyak merchandise menarik seperti kaos, gantungan kunci, dan kertas doa. Anak tersebut memiliki panggilan untuk menjadi seorang imam. Kehadiran dua Frater Jesuit di Paroki Kristus Raja Solo Baru membuatnya bersukacita karena bisa berjumpa dan berbagi pengalaman.   Sr. Colleta, AK, dari Paroki Wedi, Klaten, memberikan kesaksian demikian. “Kehadiran semua peserta live in di paroki wedi adalah karya Roh Kudus yang menggerakkan umat untuk hadir. Kehadiran dua Frater Jesuit melengkapi dinamika kegiatan kami. Terimakasih atas kebersamaan selama live in, ziarah ke Gua Maria Giri Wening, dan kegiatan bersama anak-anak. Semoga tumbuh benih benih panggilan dari Paroki Wedi.”   Pada 12 April 2021, Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. menulis kepada seluruh Superior Mayor mengenai pentingnya meningkatkan usaha-usaha dalam mempromosikan panggilan Serikat Jesus. Hari Minggu Panggilan menjadi momen istimewa bagi para Jesuit untuk merawat kultur promosi panggilan sebagaimana diamanatkan oleh Pater Jenderal.    Dalam sebuah sesi dalam momen Bulan Imamat 2025, Pater Benediktus Hari Juliawan, SJ, menyampaikan bahwa Paroki sangat berperan penting dalam menyuburkan benih panggilan hidup membiara. Kita patut bersyukur karena Serikat Jesus Provindo masih mendapatkan kepercayaan dari sejumlah Keuskupan untuk berkarya di Paroki, yang dalam banyak kasus menjadi sumber panggilan baru bagi Serikat.    Paus Fransiskus, dalam Evangelii Gaudium, menulis, “Banyak tempat sedang mengalami kelangkaan panggilan imamat dan hidup bakti. Hal ini seringkali disebabkan oleh kurangnya semangat kerasulan yang menyebar ke dalam komunitas-komunitas yang mengakibatkan dinginnya semangat dan daya tarik. […] Bahkan di paroki-paroki…hidup persaudaraan dan semangat komunitas dapat membangkitkan dalam diri kaum muda keinginan untuk mempersembahkan diri mereka sepenuhnya kepada Allah,” (EG 107). Secara kasat mata, safari panggilan seolah-olah menempatkan para religius sebagai objek yang bisa ditonton, dipertunjukkan, mendapatkan tepuk tangan dan lain sebagainya. Akan tetapi, lebih dalam dari itu, safari panggilan ke paroki justru menempatkan para religius sebagai subjek evangelisasi yang mampu menggerakkan orang muda untuk lebih peka mendengarkan panggilan Tuhan, khususnya panggilan hidup membiara. Perspektif mana yang kita pilih menentukan cara kita untuk merawat kultur promosi panggilan, khususnya bagi Serikat Jesus. Di tengah arus zaman yang seringkali sunyi akan suara panggilan, kehadiran para Jesuit di paroki-paroki dalam safari panggilan menjadi kesaksian hidup yang mampu menggugah hati dan mengajak orang muda bertanya, Tuhan memanggilku untuk apa? Oleh karena itu, membangun kultur promosi panggilan bukanlah semata strategi komunikasi, melainkan tindakan pastoral yang mendalam, yaitu menumbuhkan kepekaan akan suara Tuhan yang tetap memanggil di tengah riuhnya zaman.   Dengan semangat ini, Serikat Jesus Provindo dapat terus melangkah, mempersiapkan para Jesuit muda untuk menjawab panggilan dengan hati penuh harapan.   Kontributor: Schs. Tomas Becket Pramudita, S.J. dan Ignatius Dio Ernanda Johandika, S.J.