Pilgrims of Christ’s Mission

April 14, 2021

Karya Pendidikan

Relevansi Seminari di Masa Pandemi dan Pasca-Pandemi: Merawat Percakapan Rohani

Suatu saat di kompleks Pejaten Barat 10A seorang seminaris mendekati saya dan bertanya, “Pater, saya butuh bimbingan rohani. Kapankah sebaiknya saya bisa bimbingan rohani dengan Pater?” Saya tertegun atas permintaan dan pertanyaannya. Saya menanggapi begini, “Apakah ada hal mendesak yang hendak kamu bicarakan?” Si seminaris yang masih berseragam SMA itu menjawab, “Tidak mendesak sih, Pater.” “Jika demikian, kita ketemu di hari senin depan setelah jam rohani sore di ruang tamu Gedung Rektorat ya?”, ajak saya. “Baik, Pater. Terima kasih,” jawab si seminaris dengan riang dan melangkah meninggalkan saya. Percakapan dan pertanyaan ini kerap kali terjadi pada saya. Permintaan yang membuat saya merenung sejenak dan bertanya dalam diri. “Mengapa mereka merindukan kesempatan untuk bimbingan rohani? Mengapa seminaris berani berinisiatif untuk merawat hidup dan panggilan mereka secara lebih serius?” Bila membandingkan dengan pengalaman seminaris belasan tahun yang lalu, inisiatif bimbingan rohani lebih banyak datang dari pembimbing. Kini, seminaris memohon langsung. Bahkan mereka dapat mendesak untuk melakukan bimbingan rohani. Beberapa menjawab dengan tegas bahwa mereka perlu segera mempercakapkan persoalan mereka di lingkup bimbingan rohani. Beberapa lainnya mengungkapkan bahwa belum pernah melakukan bimbingan rohani. Peristiwa sapaan di awal tulisan ini memiliki ragam yang berbeda yakni seminaris yang memang mengingatkan bahwa ia butuh bicara personal tentang hidup rohaninya. Golongan kedua adalah seminaris yang butuh pertolongan segera dalam konteks hidup panggilannya. Kelompok ketiga merupakan seminaris yang sama sekali belum pernah mencicipi bimbingan rohani. Tiga kelompok seminaris tersebut membuat saya yakin bahwa bimbingan personal seperti bimbingan rohani merupakan salah satu alat bantu yang penting bagi seminaris dalam merawat hidupnya terutama hidup panggilannya. Mempercakapkan, mendialogkan pengalaman rohani dan hidup panggilan merupakan kebutuhan utama dari seminaris jaman ini. Mereka sungguh menuntut untuk didengarkan secara lebih serius dan utuh. Masih relevankah Seminari di masa kini, khususnya di masa pandemi dan pasca-pandemi? Bagi saya, relevansi seminaris masih lestari. Letaknya ialah pada kualitas relasi antara formator dengan formandi. Orang-orang muda ini butuh disapa secara personal baik itu dari sisi rohani, sosial, dan profesional. Kesempatan tersebut mesti dapat diakses secara struktur formal terjadwal. Lebih dari itu, sapaan yang lebih bersifat informal, spontan, dan sehari-hari juga amat diperlukan. Perjumpaan seperti inilah yang membuat Seminari tetap relevan. Bimbingan rohani dan percakapan personal sejenis mesti perlu dirawat dan dilestarikan. Si seminaris mesti mendapatkan jaminan dan akses untuk mendapatkan layanan itu. Ketika Seminari harus menerapkan formasi dari rumah, tantangan mengemuka. Pandemi mengantar formator dan formandi untuk terpisah jauh. Formator berada di asrama. Seminaris di rumah. Perjumpaan yang selama ini berlangsung di asrama kini berjarak. Seminaris tidak lagi dengan mudah mengetuk pintu kamar formatornya. Seminaris kesulitan untuk menyapa langsung formatornya saat berjalan di selasar. Butuh usaha lebih dengan memanfaatkan gawai masing-masing. Menyiasati situasi berjarak ini butuh inovasi. Ada cara baru agar sapaan tetap berlangsung. Seminaris butuh telinga untuk didengarkan. Seminaris butuh arahan agar ia sampai pada sosok yang memanggilnya. Sama seperti Samuel yang bertanya pada Eli lantaran ia mendengar nama Samuel dipanggil, “Samuel, Samuel”. Butuh tiga kali bagi Eli untuk paham bahwa yang memanggil Samuel ialah Allah sendiri. Eli pun berpesan pada Samuel, “Bila suara itu hadir lagi katakanlah, ‘berbicaralah ya, Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” Pertukaran informasi, pertanyaan, perasaan, pikiran, dan kehendak seperti ini mesti tetap terawat. Pemanfaatan sarana komunikasi digital dapat jadi solusi sementara. Perjumpaan tatap muka memang lebih bernilai dan kaya karena melibatkan semua aspek jiwa raga antar manusia yang saling tatap. Komunikasi digital hanya menampilkan beberapa aspeknya saja. Seminari menjadi tetap relevan dan lestari di masa-masa pandemi ini bila si seminaris memiliki kesempatan untuk berbincang, bercakap, bertukar pikiran-perasaan-kehendak-pengalaman, dan didengar-mendengarkan melalui bimbingan rohani atau pun percakapan personal lainnya. Kontributor: P. Gerardus Hadian Panamokta, SJ Staf Seminari Wacana Bhakti – Jakarta

Karya Pendidikan

Pendidikan Seminari: Masa Mempersiapkan Perubahan

Saya memulai cerita ini dari latar belakang keluarga terkait dengan pentingnya pendidikan dalam keluarga besar. Tradisi di dalam keluarga besar kami, setiap anak setelah lulus sekolah dasar akan dikirim ke Seminari untuk pendidikan lanjutan untuk anak laki-laki dan ke sekolah berasrama putri untuk anak perempuan. Pendidikan berasrama dalam tradisi katolik memiliki satu kelebihan yaitu membangun mental dan kemandirian anak. Sekolah, dalam keluarga kami itu ya pendidikan Katolik yang berasrama. Saya sendiri, selepas SD langsung masuk ke sebuah asrama di Blitar untuk menempuh pendidikan lanjutan. Kita bisa paham hal-hal ini terjadi karena orangtua pada saat itu tidak terlalu berpikir kompleks. Mereka banyak memutuskan persoalan secara sederhana saja, yaitu kalau mau menjadi anak yang baik harus dididik di asrama, bukan dididik sendiri di rumah. Pendidikan adalah warisan bagi anak yang sangat bernilai dan tak tergantikan oleh apapun. Namun bagi saya pribadi, dulu dan sekarang, walau sudah banyak perubahan, esensi pendidikan di Seminari masih tetap sama. Saya memiliki seorang anak yang dididik juga dalam Seminari dan sampai saat ini masih menjalani masa formasinya menjadi seorang imam. Saya percaya Seminari “mendidik” seorang anak secara berbeda dengan pendidikan di luar, terutama dalam hal karakter dan membentuk kepribadian anak. Pendidikan memang menjadi sebuah proses bagi individu untuk berkembang dan menjadi pribadi dan individu yang berkualitas. Namun di Seminari, perkembangan seorang anak sangat diperhatikan dan dijaga sehingga sebagai orangtua saya tidak khawatir kalau anak saya akan menjadi buruk. Saya percaya, tradisi yang ada di asrama itu mendukung untuk maju dan berkembang seperti bagaimana interaksi antar seminaris, interaksi dengan dunia luar Seminari, juga pengalaman live in di rumah penduduk. Pendidikan Seminari zaman ini memiliki tantangan yang berbeda dengan zaman dulu. Di zaman sekarang yang disebut dengan zaman digital, salah satu yang berubah adalah pola interaksi antar individu dan pribadi. Dulu orang tua kurang tahu apa yang terjadi dengan anaknya di Seminari. Ada unsur kepercayaan dan mungkin bisa disebut “iman” katoliknya. Saat ini, dengan perubahan pola interaksi karena kemajuan teknologi, orangtua pun juga semakin demanding terhadap apa yang terjadi pada anaknya di Seminari. Pendidikan di Seminari memang mempunyai tujuan khusus yaitu menyiapkan calon imam meskipun tetap ada seleksi terhadap siapa yang boleh lanjut atau tidak boleh lanjut. Hal ini menjadi kekhawatiran orangtua dengan logika sederhana bahwa anak saya sudah kehilangan waktu dan tertinggal dari teman-temannya di sekolah umum. Secara logika, kekhawatiran tersebut benar tetapi kurang tepat. Ada yang luput dari pemahaman tersebut, yaitu peran orang tua dalam mendampingi anak selama di Seminari. Dengan segala kondisi plus/minus pendidikan di Seminari, saya menjadi paham dan mengerti kalau pendidikan Seminari itu memang sangat on the right track dan masih sama sampai hari ini secara esensial. Kalau perlu dilakukan perubahan program pun adalah pada bagian mendidik orangtua supaya memiliki kesadaran dan pemahaman akan peran sosial seorang imam dan calon imam katolik. Secara pribadi dalam perspektif seorang Ibu, pendidikan Seminari masih penting, yaitu bagaimana mendidik karakter yang berdasar pada nilai-nilai. Para formator di Seminari tentu tidak sembarangan dalam mendidik Seminaris. Bagi saya, pendidikan di Sekolah umum seperti menjadi alat untuk mencapai tujuan yang diarahkan untuk menggapai ke suatu profesi. Tujuan itu tidak salah, tetapi ada yang kurang dari pengarahan pada tujuan profesi yang dimaksud. Para murid belajar mati-matian hingga lulus hanya mengarahkan dirinya pada profesi yang ingin dicapai. Tujuan tersebut penting namun belum lengkap karena hanya menjadikan mereka pribadi yang kompetitif dan keras, bukan mendidik seorang anak untuk berkembang dan menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggungjawab. Maka, pendidikan Seminari menjadi penting karena Seminari masih mendidik manusia menjadi bermartabat karena nilai-nilai yang ditanamkan baik dari segi kognitif, afektif, dan karakter. Peran keluarga di Seminari zaman sekarang ini menjadi signifikan. Keluarga tidak bisa dibiarkan “lepas” begitu saja. Mereka harus memberikan pemahaman juga kepada anaknya bahwa hidup yang dijalani anaknya ini adalah hidup yang tengah mempersiapkan anaknya pada perubahan dari seorang awam menjadi seorang imam yang akan dihormati banyak orang. Maka, orang tua tidak bisa memanjakan anaknya di Seminari dengan meminta perlakuan khusus melalui formatornya atau membela anaknya di depan para formator, melainkan tetap percaya bahwa anaknya akan menjadi seorang imam yang menjadi teladan banyak orang. Dengan demikian, orangtua juga berperan besar dalam membentuk seorang imam yang baikm sehingga Ketika seseorang ditahbiskan menjadi imam tidak seperti OKB (Orang Kaya Baru), melainkan menjadi imam seturut doa yang baik dari orangtuanya dan panggilan imannya. Bagi saya, Seminari adalah masa mempersiapkan perubahan tersebut dan orangtua berperan dalam perubahan tersebut. Masa persiapan ini adalah masa mempersiapkan itu membentuk mental dan memahami panggilan hidupnya. Maka, selain dukungan orangtua, pendidikan Seminari yang sangat baik adalah saat mereka belajar di lapangan tentang apa itu keadilan sosial, yaitu bagaimana hubungan dirinya dengan orang “miskin”, dengan lawan jenis dan lainnya. Lewat pendidikan ini, saya percaya setiap orang dididik untuk menghargai orang lain. Maka, bagaimana seseorang imam memperlakukan orang lain tanpa melecehkan merupakan buah dari pendidikan tersebut. Masa pendidikan ini tentu saja terlihat mengerikan bagi orang tua karena melihat anaknya bergaul dengan gelandangan, orang terbelakang atau perempuan yang cantik. Namun, ketika kita percaya bahwa ini adalah pendidikan yang harus mereka capai, maka kita sebagai orangtua tidak perlu ikut campur atau melarang anaknya untuk tidak melakukan eksperimen yang bagi orangtua dianggap kurang layak tersebut. Kita percaya walau mereka hidup dalam satu rumah yang tertutup namun formator mendidik mereka untuk tidak tertutup dalam berelasi dengan orang lain atau dengan lawan jenis. Usia para Seminaris memang usia krusial secara psikologis karena di usia tersebut mereka sedang mengalami pencarian dan mulai pembentukan jati diri. Jika mereka tidak bisa melampaui masa krusial ini saya yakin bahwa mereka akan menjadi imam yang menyulitkan. Maka, masa yang krusial ini seorang seminaris harus ditemani dengan baik agar mereka bisa menemukan, membangun, dan menghidupkan jati dirinya. Harapannya, ia dapat menjadi seorang imam yang baik serta tidak melecehkan “keimamannya”. Kontributor: Cornelia Istiani – Orangtua Seminaris Foto Cover: Paul Prabowo, SJ

Karya Pendidikan

Seminaris dan Pandemi

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama 1 tahun. Dan seperti yang kita lihat hampir seluruh aspek kehidupan mau tidak mau harus beradaptasi dengan kondisi ini. Salah satunya adalah dunia pendidikan, para siswa terpaksa melakukan pembelajaran dari rumah dengan tetap didampingi para guru melalui daring. Hal ini pun dirasakan oleh para seminaris, yang biasanya mereka belajar, berdoa, berdiskusi dan berdiskresi bersama di asrama, terpaksa mereka lakukan semua itu di rumah. Apa saja tantangan yang mereka hadapi selama melakukan pembelajaran di rumah saja? Bagaimanakah mereka merefleksikannya? Berikut adalah cerita para seminaris dalam menghadapi belajar dalam kondisi seperti ini. Bahagia itu mudah Rafaelo Dergio Augusto Novaro Rangkuty Seminari Menengah Wacana Bhakti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan kegiatan belajar dari rumah masing-masing termasuk saya yang melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh ini dari seminari. Sebagai seorang seminaris banyak suka-duka ataupun makna pengalaman yang saya alami selama PJJ. PJJ ini mengajarkan saya untuk bisa beradaptasi karena hal ini adalah hal yang baru bagi saya. Selama PJJ, waktu sekolah menjadi lebih singkat dan PJJ juga tidak membuat panggilan saya menurun, melainkan memiliki banyak waktu, saya mempunyai quality time tersendiri dengan Tuhan. Dengan memiliki banyak waktu saya bisa berkomunikasi dengan Tuhan dengan curhat dengan-Nya. PJJ ini mengajarkan saya untuk bisa mencari kebahagiaan dengan Tuhan di tengah keterbatasan, karena sesungguhnya bahagia itu sederhana. PJJ Siapa takut? Aloysius Gonzaga Rikito Teguh Santosa Seminari Menengah Wacana Bhakti Seminari Menengah Wacana BhaktiPembelajaran Jarak Jauh atau PJJ memang merepotkan, terutama di seminari. PJJ sangat mengandalkan komputer dan internet, tetapi di satu sisi, jadwal penggunaan komputer dan internet di Seminari terbatas. Sehingga terkadang saya merasa kesulitan. Tetapi apa yang bisa saya lakukan? Apakah saya akan mengeluh? Sebagai seorang siswa dan seminaris, saya diajak untuk tidak mengeluh. Saya harus tetap bersemangat dan berusaha semaksimal mungkin menghadapi tantangan PJJ ini. Karena saya percaya bahwa Tuhan selalu menyertai saya sepanjang hidup saya dan Tuhan tidak akan memberi tantangan yang melebihi kekuatan saya. Semoga saya semakin dikuatkan dalam menjalani tantangan PJJ ini. Seminari Mengubah Diri Juan Carlo Suban Mukin Seminari Menengah Mertoyudan Hidup di Seminari adalah suatu rahmat yang sangat saya syukuri. Saya telah dibimbing selama kurang lebih tiga setengah tahun oleh para staf Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan Magelang. Berbekal benih yang bernama “panggilan”, saya menyerahkan diri agar “disemai” dan dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik. Percaya diri, tahan banting, dan berkehendak yang kuat, serta banyak hal lainnya dilatih di Seminari. Nilai yang ditanamkan nampak utopis namun dilatih lewat berbagai aktivitas yang sederhana. Perayaan Ekaristi, Kegiatan Belajar Mengajar, dan ekstrakurikuler adalah beberapa rutinitas dari sekian banyak aktivitas yang menanamkan nilai-nilai tersebut. Di Seminari, saya diajak untuk menyadari dan menerima kekurangan diri melalui correctio fraterna (saling memberi apresiasi atau masukan/sumbangan rohani pada teman se-komunitas). Saya jadi memahami bahwa selalu saja ada orang yang tidak cocok atau tidak suka dengan saya. Namun demikian, bukanya mewek atau cengeng melainkan saya berusaha lebih adaptif terhadap situasi, terbuka terhadap masukan yang ada dan tetap menjadi pribadi yang autentik. Saya diundang untuk terus berubah menjadi yang terbaik versi diri saya. Saya yang dulu bukan saya yang sekarang. Saya yang sekarang mempersiapkan diri untuk masa mendatang. Kini “benih” yang sudah dan terus ditumbuh-kembangkan diuji oleh pandemi Covid-19. Saya adalah salah seorang penyintasnya. Kesetiaan terhadap formasi diuji Ketika saya berada di rumah apalagi ketika terjangkit Covid-19. Segala kondisi dan keterbatasan tidak dapat terus-terusan menjadi alasan untuk mengeluh. Usaha untuk menjadi setia, dipadukan dengan pertolongan rahmat melalui doa senantiasa digaungkan. Hanya doa dan usaha yang bisa dilakukan di saat seperti ini untuk setia pada pembentukan diri. Sisanya biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. PENGKONDISIAN (HARUSNYA) BERBUAH DALAM KESADARAN Christofer Edgar Liauwnardo Seminari Menengah Mertoyudan Siapa bilang Formasi Jarak Jauh (FJJ) enggak formatif? Formasi formal di Seminari itu penuh “pengkondisian” yang semakin dirunut semakin berkesan dan membekas. Ada jadwal harian, peraturan, kegiatan komunitas, dan aneka dinamika bersama yang ngangenin. Di rumah, pengkondisian itu berubah bentuk menjadi kontrol pribadi. Alih-alih didesak oleh pengkondisian, aku malah merasa didesak oleh kesadaran penuh untuk mempertahankan tradisi dan pengembangan diri secara holistik. Contohnya, di tengah persiapan Ujian Sekolah, aku mencoba tetap melakukan bacaan rohani di sore hari—salah satu jadwal harian seminaris, karena memang itu sarana baik untuk menegaskan identitasku sebagai calon imam. Kontrol yang lemah hanya akan menghasilkan kebiasaan yang terpaksa dan kurang mengakar. Kontrol internal itulah yang coba kuolah lebih jauh di rumah, tanpa ada penilaian pamong, tanpa dilihat orang lain, seolah-olah melakukan segala-galanya tersembunyi. Bagaimanapun, formasi di rumah—jika dimanfaatkan secara sungguh—bisa menguji benih-benih panggilan dan keutamaan ke arah yang lebih murni. Tentulah bukan pelaksanaan secara idealis dan naif yang diharapkan, melainkan cukup kegiatan formatif yang memang berakar dari kesadaran itu—kalau aku baru memilih bacaan rohani. Sudah saatnya bagi para seminaris untuk mempraktikkan secara proporsional hasil pengkondisian di Seminari dalam pergumulan konkrit di rumah. Kalau toh rumahku juga formatif, kenapa engga? #

Karya Pendidikan

Discerning Habit

“Siang malam kuselalu menatap layar terpaku untuk online online online online jari dan keyboard beradu pasang earphone dengar lagu aku online online online online”. Potongan lirik Saykoji (2010) ini terasa sangat dekat dengan hidup harian seminaris Seminari Menengah Mertoyudan saat ini. Sudah setahun pandemi tak kunjung sirna. Setelah libur Natal 2020 yang lalu, para seminaris menjalani Formasi Jarak Jauh (FJJ) dari rumah. Semuanya gagap dan bingung bersikap. Pertanyaan besarnya: apa bentuk program pembinaan yang cocok di tengah pandemi? Semua program kini berbasis virtual. Tak ada pendampingan tatap muka langsung apalagi pengawasan dari kepamongan. Kami merefleksikan bahwa FJJ menjadi momen uji dan pemurnian yang nyata. Justru dalam kebebasan inilah, apakah para seminaris tetap dapat merawat kebiasaan yang sudah baik selama ini dan mampu membuat pilihan formatif bagi hidup dan panggilannya? Never stop learning, because life never stops teaching. Belum lama ini kami mengadakan rekoleksi bertema “Homo Digitalis: Aku Terkoneksi maka Aku Ada”. Rekoleksi ini dimulai dengan webinar tentang media sosial. Seminaris tidak kami minta mematikan HP. Sebaliknya, para seminaris kami ajak untuk mengidentifikasi konten yang sering diakses, unggahan atau komentar di akun medsos mereka lalu merefleksikannya. Bagaimana intensitasnya, apa yang dominan di akses ketika browsing, bagaimana bahasa chat yang digunakan, dst. Lewat pintu inilah kami menjadi partner diskresi sekaligus sahabat seperjalanan di tengah FJJ yang tidak pasti ini. Saya merefleksikan bahwa sudah saatnya para seminaris diajak untuk dapat menghidupi “tegangan” (tension) di tengah kemajuan teknologi komunikasi ini. Tidak menjauhkan diri atau “anti” teknologi. Dibutuhkan pembiasaan dan kemampuan untuk mengambil jarak. Ada satu seminaris yang pernah kami minta untuk tidak mengakses medsos-nya selama 30 hari. Ia sangat gelisah dan bergumul. Namun, dari situ ia belajar untuk mampu mengambil jarak, tidak lekat (addict) dan mampu menggunakannya secara proporsional. Selanjutnya para seminaris perlu ditemani untuk mengenali gerak-gerak batin seraya berani memilih di tengah kompleksitas dunia digital: beragam narasi, bombardir informasi, pornografi, cyber bullying, dst. Film dokumenter Netflix, the Social Dilemma (2020) dengan ciamik memberi gambaran betapa algoritma dan AI memengaruhi para pengguna media sosial dengan cara tak terbayangkan. Tidak diragukan lagi bahwa distraksi terbesar FJJ yang dialami Generasi Z ini adalah sentuhan dengan gawai, apalagi bagi seminaris yang selama di asrama tidak diperbolehkan membawa HP. Kini mereka bisa bebas menggunakan gawai untuk mengakses apapun di dalam genggamannya. Bagaimanapun situasinya, rumah-rumah pembinaan calon imam tetap harus berjalan seiring dengan lahirnya aneka tantangan di tengah arus zaman. Model “parenting” gaya baru dan pendampingan sinergis bersama orang tua juga sangat penting. Di tengah kebebasan pilihannya, tentu ada ekses bagi ruang untuk jatuh sekaligus tumbuh. Di sinilah tugas kepamongan untuk menemani para seminaris secara merdeka dalam proses refleksi, memberi kepercayaan yang disertai nilai tanggungjawab, serta mengembangkan kebiasaan diskresi (discerning habit). Jika seorang seminaris tumbuh berkembang kita apresiasi dan didukung. Sebaliknya, jika seorang seminaris terjatuh, kita ingatkan dengan kasih (tulus) dan membantunya bangkit. Kita mohon rahmat agar Sang Guru menunjukkan jalan-jalan terbaik pendampingan sehingga dapat membentuk para calon Gembala Gereja masa depan sebagai: men of discernment (bdk. RFIS, Pedoman Pembinaan Hidup Imamat di Indonesia, no. 100). Kontributor: P. Paulus Prabowo, S.J. Pamong Medan Utama Seminari Menengah St. Petrus Canisius, Mertoyudan