Pendidikan Seminari: Masa Mempersiapkan Perubahan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Saya memulai cerita ini dari latar belakang keluarga terkait dengan pentingnya pendidikan dalam keluarga besar. Tradisi di dalam keluarga besar kami, setiap anak setelah lulus sekolah dasar akan dikirim ke Seminari untuk pendidikan lanjutan untuk anak laki-laki dan ke sekolah berasrama putri untuk anak perempuan. Pendidikan berasrama dalam tradisi katolik memiliki satu kelebihan yaitu membangun mental dan kemandirian anak. Sekolah, dalam keluarga kami itu ya pendidikan Katolik yang berasrama. Saya sendiri, selepas SD langsung masuk ke sebuah asrama di Blitar untuk menempuh pendidikan lanjutan. Kita bisa paham hal-hal ini terjadi karena orangtua pada saat itu tidak terlalu berpikir kompleks. Mereka banyak memutuskan persoalan secara sederhana saja, yaitu kalau mau menjadi anak yang baik harus dididik di asrama, bukan dididik sendiri di rumah. Pendidikan adalah warisan bagi anak yang sangat bernilai dan tak tergantikan oleh apapun.

Namun bagi saya pribadi, dulu dan sekarang, walau sudah banyak perubahan, esensi pendidikan di Seminari masih tetap sama. Saya memiliki seorang anak yang dididik juga dalam Seminari dan sampai saat ini masih menjalani masa formasinya menjadi seorang imam. Saya percaya Seminari “mendidik” seorang anak secara berbeda dengan pendidikan di luar, terutama dalam hal karakter dan membentuk kepribadian anak. Pendidikan memang menjadi sebuah proses bagi individu untuk berkembang dan menjadi pribadi dan individu yang berkualitas. Namun di Seminari, perkembangan seorang anak sangat diperhatikan dan dijaga sehingga sebagai orangtua saya tidak khawatir kalau anak saya akan menjadi buruk. Saya percaya, tradisi yang ada di asrama itu mendukung untuk maju dan berkembang seperti bagaimana interaksi antar seminaris, interaksi dengan dunia luar Seminari, juga pengalaman live in di rumah penduduk.

Pendidikan Seminari zaman ini memiliki tantangan yang berbeda dengan zaman dulu. Di zaman sekarang yang disebut dengan zaman digital, salah satu yang berubah adalah pola interaksi antar individu dan pribadi. Dulu orang tua kurang tahu apa yang terjadi dengan anaknya di Seminari. Ada unsur kepercayaan dan mungkin bisa disebut “iman” katoliknya. Saat ini, dengan perubahan pola interaksi karena kemajuan teknologi, orangtua pun juga semakin demanding terhadap apa yang terjadi pada anaknya di Seminari. Pendidikan di Seminari memang mempunyai tujuan khusus yaitu menyiapkan calon imam meskipun tetap ada seleksi terhadap siapa yang boleh lanjut atau tidak boleh lanjut. Hal ini menjadi kekhawatiran orangtua dengan logika sederhana bahwa anak saya sudah kehilangan waktu dan tertinggal dari teman-temannya di sekolah umum. Secara logika, kekhawatiran tersebut benar tetapi kurang tepat. Ada yang luput dari pemahaman tersebut, yaitu peran orang tua dalam mendampingi anak selama di Seminari. Dengan segala kondisi plus/minus pendidikan di Seminari, saya menjadi paham dan mengerti kalau pendidikan Seminari itu memang sangat on the right track dan masih sama sampai hari ini secara esensial. Kalau perlu dilakukan perubahan program pun adalah pada bagian mendidik orangtua supaya memiliki kesadaran dan pemahaman akan peran sosial seorang imam dan calon imam katolik.

Secara pribadi dalam perspektif seorang Ibu, pendidikan Seminari masih penting, yaitu bagaimana mendidik karakter yang berdasar pada nilai-nilai. Para formator di Seminari tentu tidak sembarangan dalam mendidik Seminaris. Bagi saya, pendidikan di Sekolah umum seperti menjadi alat untuk mencapai tujuan yang diarahkan untuk menggapai ke suatu profesi. Tujuan itu tidak salah, tetapi ada yang kurang dari pengarahan pada tujuan profesi yang dimaksud. Para murid belajar mati-matian hingga lulus hanya mengarahkan dirinya pada profesi yang ingin dicapai. Tujuan tersebut penting namun belum lengkap karena hanya menjadikan mereka pribadi yang kompetitif dan keras, bukan mendidik seorang anak untuk berkembang dan menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggungjawab. Maka, pendidikan Seminari menjadi penting karena Seminari masih mendidik manusia menjadi bermartabat karena nilai-nilai yang ditanamkan baik dari segi kognitif, afektif, dan karakter.

Peran keluarga di Seminari zaman sekarang ini menjadi signifikan. Keluarga tidak bisa dibiarkan “lepas” begitu saja. Mereka harus memberikan pemahaman juga kepada anaknya bahwa hidup yang dijalani anaknya ini adalah hidup yang tengah mempersiapkan anaknya pada perubahan dari seorang awam menjadi seorang imam yang akan dihormati banyak orang. Maka, orang tua tidak bisa memanjakan anaknya di Seminari dengan meminta perlakuan khusus melalui formatornya atau membela anaknya di depan para formator, melainkan tetap percaya bahwa anaknya akan menjadi seorang imam yang menjadi teladan banyak orang. Dengan demikian, orangtua juga berperan besar dalam membentuk seorang imam yang baikm sehingga Ketika seseorang ditahbiskan menjadi imam tidak seperti OKB (Orang Kaya Baru), melainkan menjadi imam seturut doa yang baik dari orangtuanya dan panggilan imannya.

Bagi saya, Seminari adalah masa mempersiapkan perubahan tersebut dan orangtua berperan dalam perubahan tersebut. Masa persiapan ini adalah masa mempersiapkan itu membentuk mental dan memahami panggilan hidupnya. Maka, selain dukungan orangtua, pendidikan Seminari yang sangat baik adalah saat mereka belajar di lapangan tentang apa itu keadilan sosial, yaitu bagaimana hubungan dirinya dengan orang “miskin”, dengan lawan jenis dan lainnya. Lewat pendidikan ini, saya percaya setiap orang dididik untuk menghargai orang lain.

Maka, bagaimana seseorang imam memperlakukan orang lain tanpa melecehkan merupakan buah dari pendidikan tersebut. Masa pendidikan ini tentu saja terlihat mengerikan bagi orang tua karena melihat anaknya bergaul dengan gelandangan, orang terbelakang atau perempuan yang cantik. Namun, ketika kita percaya bahwa ini adalah pendidikan yang harus mereka capai, maka kita sebagai orangtua tidak perlu ikut campur atau melarang anaknya untuk tidak melakukan eksperimen yang bagi orangtua dianggap kurang layak tersebut. Kita percaya walau mereka hidup dalam satu rumah yang tertutup namun formator mendidik mereka untuk tidak tertutup dalam berelasi dengan orang lain atau dengan lawan jenis.

Usia para Seminaris memang usia krusial secara psikologis karena di usia tersebut mereka sedang mengalami pencarian dan mulai pembentukan jati diri. Jika mereka tidak bisa melampaui masa krusial ini saya yakin bahwa mereka akan menjadi imam yang menyulitkan. Maka, masa yang krusial ini seorang seminaris harus ditemani dengan baik agar mereka bisa menemukan, membangun, dan menghidupkan jati dirinya. Harapannya, ia dapat menjadi seorang imam yang baik serta tidak melecehkan “keimamannya”.

Kontributor: Cornelia Istiani – Orangtua Seminaris

Foto Cover: Paul Prabowo, SJ