Relevansi Seminari di Masa Pandemi dan Pasca-Pandemi: Merawat Percakapan Rohani

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Suatu saat di kompleks Pejaten Barat 10A seorang seminaris mendekati saya dan bertanya, “Pater, saya butuh bimbingan rohani. Kapankah sebaiknya saya bisa bimbingan rohani dengan Pater?” Saya tertegun atas permintaan dan pertanyaannya. Saya menanggapi begini, “Apakah ada hal mendesak yang hendak kamu bicarakan?” Si seminaris yang masih berseragam SMA itu menjawab, “Tidak mendesak sih, Pater.” “Jika demikian, kita ketemu di hari senin depan setelah jam rohani sore di ruang tamu Gedung Rektorat ya?”, ajak saya. “Baik, Pater. Terima kasih,” jawab si seminaris dengan riang dan melangkah meninggalkan saya.

Percakapan dan pertanyaan ini kerap kali terjadi pada saya. Permintaan yang membuat saya merenung sejenak dan bertanya dalam diri. “Mengapa mereka merindukan kesempatan untuk bimbingan rohani? Mengapa seminaris berani berinisiatif untuk merawat hidup dan panggilan mereka secara lebih serius?” Bila membandingkan dengan pengalaman seminaris belasan tahun yang lalu, inisiatif bimbingan rohani lebih banyak datang dari pembimbing. Kini, seminaris memohon langsung. Bahkan mereka dapat mendesak untuk melakukan bimbingan rohani. Beberapa menjawab dengan tegas bahwa mereka perlu segera mempercakapkan persoalan mereka di lingkup bimbingan rohani. Beberapa lainnya mengungkapkan bahwa belum pernah melakukan bimbingan rohani.

Peristiwa sapaan di awal tulisan ini memiliki ragam yang berbeda yakni seminaris yang memang mengingatkan bahwa ia butuh bicara personal tentang hidup rohaninya. Golongan kedua adalah seminaris yang butuh pertolongan segera dalam konteks hidup panggilannya. Kelompok ketiga merupakan seminaris yang sama sekali belum pernah mencicipi bimbingan rohani. Tiga kelompok seminaris tersebut membuat saya yakin bahwa bimbingan personal seperti bimbingan rohani merupakan salah satu alat bantu yang penting bagi seminaris dalam merawat hidupnya terutama hidup panggilannya. Mempercakapkan, mendialogkan pengalaman rohani dan hidup panggilan merupakan kebutuhan utama dari seminaris jaman ini. Mereka sungguh menuntut untuk didengarkan secara lebih serius dan utuh.

Masih relevankah Seminari di masa kini, khususnya di masa pandemi dan pasca-pandemi? Bagi saya, relevansi seminaris masih lestari. Letaknya ialah pada kualitas relasi antara formator dengan formandi. Orang-orang muda ini butuh disapa secara personal baik itu dari sisi rohani, sosial, dan profesional. Kesempatan tersebut mesti dapat diakses secara struktur formal terjadwal. Lebih dari itu, sapaan yang lebih bersifat informal, spontan, dan sehari-hari juga amat diperlukan. Perjumpaan seperti inilah yang membuat Seminari tetap relevan. Bimbingan rohani dan percakapan personal sejenis mesti perlu dirawat dan dilestarikan. Si seminaris mesti mendapatkan jaminan dan akses untuk mendapatkan layanan itu.

Ketika Seminari harus menerapkan formasi dari rumah, tantangan mengemuka. Pandemi mengantar formator dan formandi untuk terpisah jauh. Formator berada di asrama. Seminaris di rumah. Perjumpaan yang selama ini berlangsung di asrama kini berjarak. Seminaris tidak lagi dengan mudah mengetuk pintu kamar formatornya. Seminaris kesulitan untuk menyapa langsung formatornya saat berjalan di selasar. Butuh usaha lebih dengan memanfaatkan gawai masing-masing. Menyiasati situasi berjarak ini butuh inovasi. Ada cara baru agar sapaan tetap berlangsung. Seminaris butuh telinga untuk didengarkan. Seminaris butuh arahan agar ia sampai pada sosok yang memanggilnya. Sama seperti Samuel yang bertanya pada Eli lantaran ia mendengar nama Samuel dipanggil, “Samuel, Samuel”. Butuh tiga kali bagi Eli untuk paham bahwa yang memanggil Samuel ialah Allah sendiri. Eli pun berpesan pada Samuel, “Bila suara itu hadir lagi katakanlah, ‘berbicaralah ya, Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” Pertukaran informasi, pertanyaan, perasaan, pikiran, dan kehendak seperti ini mesti tetap terawat. Pemanfaatan sarana komunikasi digital dapat jadi solusi sementara. Perjumpaan tatap muka memang lebih bernilai dan kaya karena melibatkan semua aspek jiwa raga antar manusia yang saling tatap. Komunikasi digital hanya menampilkan beberapa aspeknya saja.

Seminari menjadi tetap relevan dan lestari di masa-masa pandemi ini bila si seminaris memiliki kesempatan untuk berbincang, bercakap, bertukar pikiran-perasaan-kehendak-pengalaman, dan didengar-mendengarkan melalui bimbingan rohani atau pun percakapan personal lainnya.

Kontributor:

P. Gerardus Hadian Panamokta, SJ

Staf Seminari Wacana Bhakti – Jakarta