Pilgrims of Christ’s Mission

st ignatius loyola

Provindo

Pentakhtaan Relikui St. Ignatius Loyola dan Pemberkatan Gedung Pastoral St. Paulus – Paroki St. Ignatius Loyola, Semplak, Bogor

“Dengan diterimanya relikui ini, kami berharap Paroki Santo Ignatius Loyola semakin diperkaya oleh semangat Ignatius. Kehadiran relikui ini bukan hanya lambang, tapi juga pengingat akan panggilan untuk hidup kudus, melayani dengan cinta tanpa batas, dan menghidupi semangat ‘Magis’ dalam memberikan yang terbaik bagi Allah dan sesama. Semoga seluruh umat paroki terinspirasi oleh teladan Santo Ignatius Loyola untuk terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Semangat Ad Maiorem Dei Gloriam, demi kemuliaan Allah yang lebih besar, kiranya menjadi pegangan dalam setiap karya dan doa. Kami percaya bahwa dengan menghormati dan dengan perantaraan Santo Ignatius, paroki ini akan semakin diberdayakan untuk hidup dalam terang Injil.“   Pesan harapan itu menjadi penutup surat penyerahan relikui Santo Ignatius Loyola yang dibacakan oleh Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dalam perayaan Ekaristi di Gereja Santo Ignatius Loyola, Semplak – Bogor pada Sabtu, 25 Januari 2025. Usai pembacaan surat, relikui berupa potongan jubah Santo Ignatius Loyola ditakhtakan di altar dengan iringan lagu Amare et Servire (Mencintai dan Melayani).   Umat Paroki Semplak tidak hanya bersukacita atas anugerah penyerahan relikui, tetapi juga bersyukur atas pemberkatan dan peresmian Gedung Pastoral Santo Paulus. Tak hanya itu, umat sekaligus bersukacita atas ulang tahun ke-61 RD. Antonius Dwi Haryanto (Romo Anton) yang sejak tahun 2017 menjadi Pastor Kepala Paroki Semplak. Sukacita-sukacita ini dirayakan dalam Ekaristi yang dipimpin secara konselebrasi oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM (Uskup Keuskupan Sufragan Bogor), Mgr. Christophorus Tri Harsono (Uskup Keuskupan Sufragan Purwokerto), RD. Kol (Sus.) Yoseph Maria Marcelinus Bintoro (Wakil Uskup umat Katolik di lingkungan TNI dan POLRI), Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. (Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia), RD. Antonius Dwi Haryanto (Pastor Paroki Semplak saat ini), dan RD. Ridwan Amo (Pastor Paroki Semplak yang pertama).   Mgr. Paskalis merefleksikan pertobatan Santo Paulus dalam homilinya. Tuhan mengambil inisiatif memanggil manusia untuk berkarya bersama Dia, bahkan hingga saat ini. Ia mengambil tindakan untuk mempertobatkan Saulus, seseorang yang bersemangat menghancurkan pengikut Yesus. Tuhan lalu mengubahnya menjadi misionaris agung yang memberitakan Yesus kemana pun ia pergi. Mgr. Paskalis juga mengambil contoh Mgr. Tri Harsono yang lahir dari rahim paroki Semplak dalam keluarga Komando Pasukan Gerak Cepat Angkatan Udara. Mgr. Tri dipilih Tuhan untuk berkarya memberitakan nama Tuhan dengan menjadi uskup Purwokerto. Mgr Paskalis mengajak umat Semplak, yang memilih St. Ignatius Loyola sebagai pelindungnya, untuk mengikuti Kristus dengan cara Santo Ignatius: memiliki ketaatan total pada Gereja Katolik apapun keadaannya.    Dalam kata sambutannya, Romo Anton berterima kasih kepada seluruh pihak, baik dari Keuskupan Bogor, Pangkalan Udara TNI-AU, dan seluruh umat yang telah terlibat dalam dinamika perjalanan pembangunan paroki ini. “Semua sukacita ini terjadi karena rahmat dan kasih Tuhan yang sangat luar biasa.”   Romo Anton secara khusus berterima kasih kepada Pater Benny dan Pater Windar dari Provinsialat Serikat Jesus Provinsi Indonesia atas anugerah relikui yang diberikan kepada umat paroki Semplak. Ini tak lepas dari orang-orang yang mencintai Santo Ignatius, khususnya pasutri Antonius Imam Toni dan Retno yang telah sekian lama mencari relikui ini dan berhasil mendapatkannya dari Provinsialat Serikat Jesus.   Selayang Pandang Paroki St. Ignatius Loyola, Semplak – Bogor Paroki Semplak adalah bagian dari Keuskupan Sufragan Bogor yang memiliki keunikan tersendiri. Terletak di kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sendjaja, paroki ini tergolong paroki muda karena baru dikukuhkan pada 1 Agustus 2015 setelah sebelumnya menjadi bagian dari karya pelayanan Paroki Katedral Bogor. Komunitas umat Katolik Semplak mulai terorganisasi pada tahun 1964. Kemudian pada tahun 1977 umat Katolik dan Protestan mendapatkan fasilitas gereja oikumene dari pimpinan Pangkalan Udara. Gedung gereja tersebut kemudian difungsikan sebagai kapel Santo Petrus oleh umat Katolik dan menjadi gereja Sola Gratia bagi umat Protestan. Meskipun berdiri di tanah milik TNI AU, umat Katolik Semplak tak hanya berasal dari kalangan kategorial TNI AU tapi juga umat non militer yang tinggal di luar kompleks Pangkalan Udara.   Pertambahan jumlah umat di wilayah St. Petrus Semplak sangat menggembirakan, hingga pada tahun 2005 pengurus wilayah mengajukan pembangunan gereja Katolik kepada Komandan Pangkalan Udara dan disetujui oleh Kepala Staff Angkatan Udara Republik Indonesia. Tanggal 8 September 2006 adalah hari yang sangat bersejarah karena wilayah Semplak dinaikkan statusnya menjadi stasi. Pada hari itu pula, gereja baru diberkati oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM dan diresmikan oleh komandan pangkalan udara Atang Sendjaja, Marsekal Pertama Ignatius Basuki, yang nama baptisnya menjadi inspirasi bagi penamaan paroki Semplak.    Mengutip sambutan Pater Benny, nama Ignatius Loyola adalah nama yang amat tepat bagi paroki yang berlokasi di lingkungan militer ini. Santo Ignatius awalnya adalah seorang prajurit dengan ambisi yang luar biasa. Namun setelah cita-citanya pupus akibat terkena mortir pada pertempuran di Pamplona, ambisi besarnya diserahkan pada apa yang dikehendaki Allah. “Apapun yang aku lakukan adalah demi besarnya kemuliaan Tuhan.”   Pertumbuhan umat disertai juga dengan kebutuhan bangunan untuk memfasilitasi kegiatannya. Dirasa perlu juga untuk membangun pastoran yang dapat ditinggali oleh lebih dari satu orang pastor. Oleh karena itu, sejak tahun 2019 mulai dibentuk panitia pembangunan sarana pastoral, meski pelaksanaan pembangunannya baru bisa terlaksana pada Januari 2024 setelah terbit izin dari Pangkalan TNI AU. Penantian panjang umat paroki Semplak berakhir indah dengan pemberkatan dan peresmian gedung pastoral pada pesta pertobatan Santo Paulus, 25 Januari 2025.   Semoga kehadiran relikui Santo Ignatius Loyola dan peresmian gedung pastoral Santo Paulus semakin menambah semangat kerohanian dan memperkuat iman umat paroki Semplak.   Kontributor: Ignatia Marina

Penjelajahan dengan Orang Muda

Faith in Action: Transforming Lives Through Volunteering with LP4Y Indonesia

Magis Immersion Experiment 2024: LP4Y (Life Project for Youth) adalah sebuah lembaga sosial yang bergerak untuk menemani dan melayani teman-teman muda yang memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan maupun ekonomi. Hari pertama saya mengikuti kegiatan Magis Immersion Experiment ini sudah panik dan bingung, apa yang bisa kami berikan kepada teman-teman muda ini? Begitu celetuk saya kepada beberapa teman circle yang mengambil bagian dalam Magis immersion experiment ini. Pada waktu itu kami ada setengah hari untuk mempersiapkan program apa yang dapat kami berikan kepada teman-teman muda. Kami berdiskusi untuk membuat program dengan tujuan meningkatkan kapasitas teman-teman muda yang menjadi dampingan LP4Y. Akhirnya kami memutuskan untuk memberikan training terkait dengan proses interview bagi teman-teman muda supaya mereka dapat memahami bagaimana proses interview pekerjaan yang baik karena tujuan mereka mengikuti pendampingan di LP4Y adalah menemukan pekerjaan yang lebih baik.           Perjalanan persiapan batin menuju Immersion Experiment akan berbeda bagi kami masing-masing yang berpartisipasi. Namun, malam pembekalan pada 22 Mei 2024 itu menjadi malam yang penuh dengan pergolakan batin bagi kami semua. Saat proses circle-sharing di malam pembekalan, rata-rata dari kami memiliki perasaan dominan yang sama terkait rasa tidak siap dan ketakutan. Lantas, kami bertanya, “Apakah kami akan mampu memberikan yang terbaik dalam waktu yang singkat di LP4Y?”   Perjalanan menuju LP4Y masih diwarnai kekhawatiran, keraguan, dan ketakutan. Ketika memasuki area Kampung Sawah ternyata area itu memiliki gambaran yang cukup bertolak belakang dengan kawasan yang biasa kami lihat setiap hari. Permukiman yang cukup padat di pinggir area jalan tol dengan tumpukan sampah menjadi pemandangan yang biasa. Ada proses pembakaran sampah di beberapa tempat dan menimbulkan bau yang kurang sedap dan juga sungai yang berwarna hitam dengan bau yang khas.   Dalam kondisi lingkungan seperti itu dan keadaan ekonomi yang terbatas membuat kami bertanya-tanya seperti apa youth (sebutan orang muda yang dididik oleh LP4Y) yang akan kami temui. Akan tetapi, sejak awal tiba pertemuan kami dengan satu per satu para youth mengubah segalanya. Sosok demi sosok Youth yang kami temui seakan menampar kami tentang pentingnya mensyukuri apa yang telah kami miliki dan kami jalani. Para Youth memiliki mimpi yang luar biasa di tengah kondisi kehidupan yang mereka jalani. Tidak berhenti hanya dengan memiliki mimpi, tetapi keikutsertaan mereka dalam program LP4Y menggambarkan semangat juang untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bermakna yang mereka yakini akan membawa mereka untuk menggapai mimpi yang mereka inginkan.     Pada malam pertama, saya tinggal bersama dengan orang muda yang kedua orangtua sudah berpisah. Dia tinggal sendiri dan dibantu oleh saudara untuk kebutuhan sehari-hari. Saya tinggal berdua dengan orang muda yang tempat tidurnya berukuran 2×2 Meter. Bagi saya, ini adalah tempat pertama saya tidur dengan ukuran kamar kecil. Saya mencoba merefleksikan apa yang Tuhan inginkan dari saya dengan mengikuti kegiatan Magis Immersion Experiment ini. Saya mengambil sikap doa untuk memohon rahmat Tuhan agar Tuhan membantu dan melancarkan semua kegiatan yang esok akan dijalankan. Ada perasaan gelisah dan ketakutan dengan kegiatan ini karena takut saya tidak dapat mengikuti sampai selesai kegiatan Magis Immersion Experiment ini. Hingga tiba waktunya untuk berinteraksi dengan teman-teman muda dan ternyata apa yang saya takutkan di malam sebelumnya sangat berbeda 180° dengan apa yang saya jumpai. Teman-teman muda yang menyenangkan dan sangat antusias mengikuti setiap kegiatan di LP4Y dan kegiatan yang diberikan oleh teman-teman Magis.   Program di hari Jumat adalah Micro Company Support di mana kami ikut terlibat dalam proses aktivitas persiapan dan penjualan galon air mineral serta program citizenship yaitu melakukan survei terhadap masyarakat di area Center LP4Y. Sedangkan untuk program di hari Sabtu adalah mock interview yaitu melakukan simulasi interview kerja sebagai HRD, job discovery yaitu membuat seperti job fair kecil-kecilan di mana para youth akan secara bergantian mengunjungi booth yang memperkenalkan profil singkat perusahaan kami. Proses pembekalan tambahan ini cukup membantu kami untuk memberikan gambaran terkait apa yang akan kami lakukan di LP4Y.   Di akhir sesi, saat mendengar satu per satu dari mereka menyampaikan kesan berproses bersama, sungguh ini menjadi kado yang memberi kehangatan bagi kami di formasi Magis. Ucapan terima kasih dengan raut wajah malu-malu dan mendengar mereka menyampaikan insight yang mereka dapatkan sungguh di luar ekspektasi kami. Sebagian besar dari kami awalnya berpikir bahwa apa yang kami berikan adalah hal yang “biasa saja” atau hanya “sedikit” dari apa yang dimiliki, namun ternyata berbeda untuk teman-teman Youth. Dampak yang diberikan sangat luar biasa karena kami bisa merasakan bahwa mereka yang sangat membutuhkan hal tersebut.   Banyak canda dan tawa selama sesi. Ketakutan dan kegelisahan yang selama ini saya pikirkan sirna begitu saja karena melihat teman-teman muda yang sangat menyenangkan. Tidak terasa waktu cepat berlalu dan kami menuju Kolese Kanisius untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu pengendapan pengalaman, perasaan, dan rahmat Tuhan yang ditemukan. Dalam dinamika pengendapan ini kami merasakan bahwa rahmat Tuhan benar-benar hadir dalam peristiwa-peristiwa Magis Immersion Experiment ini. Tuhan menunjukkan kasih-Nya dengan luar biasa dan Ia mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya.     Dengan pengalaman, pertemuan, penemanan, dan keterikatan dengan teman-teman muda, ada satu kata yang dapat menggambarkan akan pengalaman ini yaitu “hope.” Teman-teman muda itu bersemangat tinggi, antusias, dan mau belajar. Walaupun itu semua ada keterbatasan tetapi di sini hope memiliki pengaruh krusial bagi teman-teman muda, yaitu membuat orang menjadi optimistis, memiliki motivasi untuk untuk melakukan sesuatu, mampu melihat potensi untuk mengejar cita-cita sesuai kata hatinya.   Sebagai pribadi yang masih belajar dan terus belajar, ada harapan-harapan kecil dari hati kami, yaitu bahwa suatu saat kami dapat kembali lagi ke LP4Y untuk memberikan dan berbagi sesuatu kepada teman-teman muda. Kami bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang sudah menunjukkan jalan yang baik dan mencecap kata hati. Hanya dengan menjadi pribadi bagi orang lain, maka disaat itulah kita bisa menjadi manusia sejati.   “Bukan tentang berapa lama tetapi tentang seberapa dalam.” Kalimat itu menjadi kalimat yang bisa menggambar-kan Immersion Experiment kami di LP4Y. Ketakutan kami tentang keterbatasan waktu yang berakibat akan tidak bisa memberikan yang terbaik ternyata memberikan makna yang sebaliknya. Rahmat yang kami inginkan di awal memulai Immersion Experiment ini berbeda-beda. Namun, di akhir kami menyadari bahwa kami memperoleh rahmat yang sama untuk bisa lebih bersyukur dengan apa yang kami miliki dan apa

Provindo

Latihan Rohani: Panduan Cara Doa dan Cara Hidup St. Ignatius Loyola (2)

Berbagi Cara Hidup Jika kita memperhatikan hakikat, isi, dinamika, proses, dan asal usulnya, Latihan Rohani adalah sharing pengalaman St.Ignatius dalam perjalanan rohaninya. Kita memahami dan mengalami bahwa Latihan Rohani merupakan penerusan pengalaman rohani St. Ignatius yang tidak hanya menyajikan cara berdoa tetapi juga cara hidup. Diwariskan olehnya pembelajaran dan cara-cara untuk mempersiapkan jiwa serta menyediakan hati supaya orang bersih dari rasa lekat tidak teratur yang menghambat kerja Rahmat Tuhan, keselamatan jiwa, serta rahmat-rahmat lain yang menyertainya (LR 1). Berkenaan dengan Latihan Rohani sebagai sarana untuk membangun disposisi jiwa, mengingat biasanya seseorang tidak memulai dari nol, Latihan Rohani akan menjadi efektif serta berjalan dan menghasilkan buah ketika didukung oleh persiapan berkenaan dengan hal-hal mendasar. Misalnya, membiasakan diri dalam keheningan dan doa batin (lectio divina, meditasi, kontemplasi dan examen conscientiae) serta wawasan Kitab Suci dan mengakrabinya, mengingat bahan utama Latihan Rohani adalah misteri-misteri hidup Kristus.   Demikian yang ditegaskan di nomor pertama sebelum semua proses latihan rohani dijalankan lengkap dengan pelbagai kemungkinan adaptasinya. Dari segi bentuk dan cara berdoa, Latihan Rohani mencakup banyak hal. Hal penting yang ditegaskan oleh St. Ignatius dari pelbagai bentuk latihan rohani adalah fungsinya, membantu membangun disposisi hati untuk rahmat Tuhan. Karena itu, tidak sulit untuk memahami kebenaran makna latihan rohani yang diperluas pemaknaannya dan menjangkau praksis hidup.   “Yang dimaksud dengan kata latihan rohani ialah setiap cara memeriksa hati, meditasi, kontemplasi, dan doa lisan atau batin, dan segala aktivitas rohani lainnya, seperti yang akan dikatakan kemudian. … semua cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa lekat tidak teratur dan setelah itu, mencari dan mendapatkan kehendak Ilahi dalam hal mengatur hidup, guna keselamatan jiwanya” (LR 1).   Sebagai sharing, adalah jelas bahwa St. Ignatius telah mengalami dulu apa yang ditulis di dalam Latihan Rohani. Lebih daripada itu, St. Ignatius telah menggunakannya untuk membantu orang lain, baik akhirnya orang-orang tersebut bergabung serta bersamanya mendirikan dan menjadi anggota Serikat, seperti misalnya St. Fransiskus Xaverius dan St. Petrus Faber, maupun membantu memperjelas dan memperkuat untuk berkomitmen terhadap panggilan pribadinya. Dalam Serikat Jesus selanjutnya Latihan Rohani menjadi cara untuk merekrut para anggota baru. Setelah Serikat dibubarkan pada 21 Juli 1773 oleh Paus Klemens XIV dengan bulla Dominus ac Redemptor, dan kemudian direstorasi serta dikembalikan lagi oleh Paus Pius VII pada 7 Agustus 1814 dengan bulla Sollicitudo omnium Ecclesiarum, pelan-pelan Serikat dilahirkan kembali dan dibangun lagi dengan pondasi dasar Latihan Rohani. Para Jesuit yang menghilang selama masa Serikat “tidak ada” dan mau kembali lagi, langkah pertama yang dilakukan adalah menjalani Latihan Rohani. Boleh jadi, dalam hal ini kita bisa berkata, Serikat bisa dibubarkan tetapi Latihan Rohani sebagai rahim yang melahirkannya tidak pernah mati dan bisa dimatikan.   Membangun Disposisi Batin Dari keterangan apa itu Latihan Rohani (LR 1), ditegaskan pentingnya menyiapkan hati. Selanjutnya bisa dimengerti, ibarat seorang petani, dalam satu arti latihan rohani adalah bagian menyiapkan tanah supaya siap untuk ditaburi benih-benih rahmat Tuhan dan ditanami pelbagai jenis tanaman. Dalam proses itu ada saatnya menghancurkan batu-batu kecil dan menggemburkan tanah. Namun demikian juga ada saatnya sekedar mengaturnya supaya tidak menghambat penanaman dan proses tumbuh. Ketika memang ada batu besar yang tidak bisa dihancurkan dan diubah menjadi tanah, Latihan Rohani membantu meletakkan pada tempatnya dan tidak membodohi diri atau menghibur diri mengatakan bisa mengubah batu menjadi tanah subur. Dalam hal ini, Latihan Rohani membantu mengenal dan menerima diri lalu berjalan dengan menjadi optimal dalam segala keterbatasannya. St. Ignatius bahkan secara istimewa bisa menerapkan hal ini kurang lebih saat membimbing St. Petrus Faber. Pelbagai kelemahan disposisi psikologisnya ditata sehingga melalui Latihan Rohani dengan persiapan lebih dari tiga tahun, St. Petrus Faber terbantu menjadi pemberi Latihan Rohani terbaik menurut St. Ignatius (bdk. L. A. Sardi, S. J., Jesuit Magis, Pengalaman Latihan Rohani 6 Jesuit Awal, Kanisius, 2023, “Pengalaman Latihan Rohani Petrus Faber, 133-150).   Dalam usaha membangun disposisi ini, salah satu kunci yang penting adalah habituasi, pembiasaan untuk terus membuatnya sehingga tanah yang tidak subur menjadi subur, tanah yang subur dijaga kesuburannya dan dikembangkan. Itulah mengapa Serikat Jesus mewajibkan para anggotanya untuk menjalani Latihan Rohani tahunan selama 8 hari serta banyak sahabat yang terbantu dan terinspirasi oleh spiritualitas Ignatian melakukan retret periodik yang sama dengan pelbagai adaptasinya.   Latihan Rohani untuk membangun disposisi batin ini perlu dimaknai dan ditempatkan juga di dalam proses perjalanan hidup rohani. Karena itu, disposisi tersebut adalah disposisi yang dinamis dan bergerak maju. Disposisi yang terbangun untuk rahmat Tuhan akan membentuk disposisi batin selanjutnya untuk rahmat-rahmat Tuhan berikutnya. Inspirasi ini terkandung di dalam semangat magis (lebih) Ignatian.   Bersama Pembimbing Dalam semua itu, berkenaan buku Latihan Rohani, St. Ignatius telah menjalani lebih dulu dan selanjutnya menggunakannya untuk membantu yang lain dengan bantuan pembimbingnya. Artinya, dalam latihan rohani, salah satu yang juga disyaratkan adalah adanya bantuan pembimbing. Bukan karena Tuhan tidak bisa bertindak langsung tetapi oleh karena yang terjadi di dalam latihan rohani adalah proses olah batin, tepatnya mencermati gerak-gerak roh, diperlukan orang lain untuk membantu menguji, meluruskan maupun menambah wawasan. Secara faktual dan tradisional juga jelas, yaitu bahwa pada dasarnya seperti kelihatan di dalam catatan-catatan pendahuluan Latihan Rohani (1-20), buku kecil ini memang dirancang untuk pembimbing latihan rohani atau dalam Bahasa Spanyol untuk yang memberi bahan-bahan (el que da). Ungkapan ini memuat kebenaran bahwa Latihan Rohani akan menjadi lebih optimal buah-buahnya ketika dijalankan bersama seorang pembimbing.   Pada pengalaman St. Ignatius, peranan pembimbing itu dialami sejak awal pertobatannya, terutama ketika di Montserrat. Untuk pertama kalinya St. Ignatius mengungkapkan pengalaman batinnya dan rencana hidup baru pertobatannya. Ketika itu, pembimbingnya adalah seorang rahib benediktin dan lebih daripada sekadar bimbingan, St. Ignatius mengalami diperluas wawasan rohaninya karena diperkenalkan dengan buku-buku tradisi rohani zamannya, yaitu Devotio Moderna (Bdk. Autobiografi 13-18). Selanjutnya ketika berada di Manresa dengan pergulatan rohaninya yang intens, St. Ignatius dibimbing oleh seorang dominikan dan seperti kita ingat, terutama di dalam keterpilihannya sebagai Jenderal di Roma, St. Ignatius dibimbing oleh seorang Fransiskan. Mengingat di dalam Latihan Rohani seseorang juga menjalankan diskresi, kehadiran pembimbing juga berperan membantu objektivasi pengalaman diskresi.   Penutup Bila kita menempatkan Latihan Rohani sebagai buku istimewa bagi Serikat Jesus dan para anggotanya serta menjadi sarana yang melaluinya

Provindo

Panduan Cara Doa dan Cara Hidup St. Ignatius Loyola (1)

Latihan Rohani Dari perjalanan pertobatannya yang dimulai di Loyola (Autobiografi 1- 12) hingga masa-masa kematangan rohaninya dan wafat di Roma, 31 Juli 1556 sebagai Superior Jenderal Serikat Jesus, St. Ignatius mencatat pembelajaran tentang bagaimana dirinya dididik oleh rahmat-rahmat Tuhan. Narasi bagaimana dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat dia dididik oleh Tuhan tertuang di dalam Autobiografi-nya (Wasiat dan Petuah St. Ignatius, Kanisius, 1996). Sementara cara bagaimana seseorang mendisposisikan diri supaya bisa dididik oleh rahmat-rahmat Tuhan diwariskan di dalam buku Latihan Rohani. Buku kecil ini merupakan buku praktik olah rohani dan berisi cara-cara berdoa serta bahan-bahan doa yang diambil dari Kitab Suci serta bahan-bahan renungan khusus pengalaman St. Ignatius. Sebagai buku panduan praktik (manual), yang melaksanakan pertama kali dari isi buku ini adalah St. Ignatius sendiri. Dalam konteks ini, oleh karenanya, Latihan Rohani bukan hanya buku panduan doa tetapi pada akhirnya adalah juga panduan hidup sebagai orang beriman untuk menjalani panggilannya di tengah dunia. Dan memang begitulah corak kerohanian yang dilatihkan oleh cara-cara doa, yaitu mengantar ke praksis hidup yang oleh Jerónimo Nadal dirumuskan jalinan keutuhannya dengan spiritu (dari Roh), corde (dengan hati), dan practice (dalam tindakan nyata). Dalam bahasa lain dirumuskan bahwa kesempurnaan doa adalah kasih, dan kasih diwujudkan di dalam tindak nyata dan praksis hidup. Jalinan doa dan praksis hidup dengan tegangannya yang sehat dan juga kreatif (healthy and creative tension) ini perlahan-lahan membentuk sikap dan kepekaan rohani seseorang yang kemudian melahirkan kemampuan untuk mengalami kehadiran dan rahmat Tuhan di dalam segala hal (finding God in all things).   Demikianlah kita memahami ketika menjelaskan kepada Gonçalves da Camara, St. Ignatius mengatakan bahwa Latihan Rohani ditulis tidak dalam satu saat saja. “Beberapa hal yang diperhatikan dengan cermat di dalam hatinya sendiri dan yang dipandang berguna , dianggap dapat berguna untuk orang lain pula, begitu ia menuliskannya, misalnya pemeriksaan batin  … bagian mengenai pemilihan (eleksi) diperoleh dari pembedaan dalam roh dan pikirannya yang dialami waktu di Loyola ketika kakinya masih sakit” (Autobiografi 99). St. Ignatius sendiri juga meyakinkan Latihan Rohani yang dijalaninya sendiri lalu dituliskan sebagai panduan menjalaninya untuk orang lain sebagai sarana merasul yang bermanfaat untuk membantu sesama. Dalam suratnya kepada Fulvio Androzzi St. Ignatius menegaskan hal ini (San Ignacio de Loyola, Obras,  1997, 1099-1101 dan di Loyola, Gli Scritti 2007, 1466-1468). “Saudara yang saya hormati, Saudara tahu bahwa ada sarana yang istimewa di antara sarana-sarana yang bermanfaat membantu orang-orang. Yang saya maksud adalah Latihan Rohani. Karena itu, saya mengingatkan Saudara, bahwa Saudara mesti menggunakan sarana Latihan Rohani ini, yang demikian akrab sebagai sarana merasul Serikat Jesus. Minggu Pertama dan beberapa cara berdoa dapat diberikan kepada banyak orang.” Demikian, melalui Latihan Rohani St. Ignatius menyediakan ringkasan kesempurnaan hidup rohani dan menyajikan bagaimana melatihnya di jalan dan keseharian hidup ini. Tidak dalam arti menyediakan program kesempurnaan siap pakai (ready-made), melainkan menyediakan cara dan jalan yang mesti dipraktikkan dan dibiasakan dengan tekun baik sebagai cara doa maupun cara hidup, terutama di dalam menimbang dan membuat pilihan-pilihan atau keputusan. Biasa dikenal dengan berdiskresi dan membuat eleksi (Ignatius Iparraguirre, S. J., A Key to the Study of the Spiritual Exercises, 1959, 38-40). Dengan demikian, kepada orang yang pernah mendengar nama Latihan Rohani St. Ignatius Loyola dan berkenalan dengan Serikat Jesus atau karyanya, tetapi diganggu oleh rasa ingin tahu tentang Latihan Rohani dibukakan salah satu jawaban penting dan strategis, yakni  Latihan Rohani dimengerti untuk dipraktekkan atau dipahami dengan dijalani. Bagi kehidupan rohani, buku kecil ini  menempatkan supremasi praktik dan latihan. Artinya, buku merupakan panduan untuk menjalani latihan rohani yang isinya membiarkan diri dibimbing oleh rahmat-rahmat Tuhan yang diyakini terus bekerja. Letak rahasia dan efektivitasnya adalah ketika seseorang bertekun melatih dan mempraktekkannya dengan bantuan seorang pembimbing.    Cara-cara dan bahan doa Latihan Rohani memuat cara-cara doa, bahan-bahan doa beserta tuntunan dan panduan serta dinamikanya. Dimulai dengan catatan pendahuluan yang terdiri atas dua puluh nomor. Catatan-catatan ini memberi keterangan mengenai apa itu Latihan Rohani, bagaimana menggunakannya, sikap-sikap apa yang mesti dimiliki supaya Latihan Rohani yang dijalani tertata, efektif sekaligus dinamis dengan buah-buah yang diharapkannya. Keterangan dua puluh nomor (LR 20)  juga menyebut syarat-syarat untuk menjalani latihan rohani dari sisi usia dan kekuatan, pendidikan, kemampuan dan kesibukan. Bisa dibayangkan disini beragam pelaku Latihan Rohani dan latar belakangnya, tetapi satu tujuannya, menaklukkan diri dan mengatur hidup supaya selaras dengan kehendak Tuhan serta membangun disposisi untuk rahmat-rahmat Tuhan.   Catatan-catatan tersebut seperti pedoman melangkah dalam Latihan Rohani yang perlu   diperhatikan dan ditepati secara teliti supaya proses Latihan Rohani berjalan efektif dan orang mengalami banyak rahmat bimbingan Tuhan. Setelah Latihan Rohani berjalan pun, untuk mengawal kesungguhan, kedisiplinan dalam menjalani latihan rohani St. Ignatius menyajikan sepuluh aturan tambahan (LR 73 -90). Dikatakan bahwa aturan ini dimaksudkan supaya seseorang dapat lebih baik dalam melakukan Latihan Rohani dan mendapatkan rahmat yang diinginkan. Isinya antara lain preparasi doa meditasi dan kontemplasi serta refleksi; Misalnya, ketika seseorang telah menetapkan akan melakukan doa pada pagi hari dengan bahan Kitab Suci, pada malam hari sebelum tidur sudah mempersiapkan dan mengingatnya. Lalu pada saat bangun segera mengarahkan perhatian pada bahan yang akan direnungkan (LR 73-74). Untuk selalu menyadari kehadiran Tuhan, setiap kali memulai doa dan berada di tempat meditasi atau kontemplasi, sejenak  mengarahkan hati serta menyadari bahwa kita berada di hadirat Tuhan dan menyadari bahwa “Tuhan memandangku”,   lalu membuat penghormatan (LR 75). Mengenai refleksi, dikatakan bahwa setiap kali selesai latihan rohani mengambil waktu untuk melihat proses dan isi latihan rohani serta memperbaiki yang kurang dan mensyukuri serta mempertahankan yang sudah berjalan baik (LR 77).    Setelah catatan pendahuluan (LR 1-20), dan masuk ke bahan pertama “Asas dan Dasar” (LR 23) yang menegaskan tujuan hidup, sikap terhadap ciptaan, serta ajakan untuk selalu memilih yang lebih (magis) mendukung tujuan diciptakan, St. Ignatius menyajikan dua nomor penting, tujuan Latihan Rohani serta suasana relasi dan komunikasi di dalam bimbingan Latihan Rohani. Dirumuskan dengan jelas bahwa tujuan Latihan Rohani adalah menaklukan diri dan mengatur hidup.  “Tujuan Latihan Rohani adalah menaklukan diri dan mengatur hidup sehingga tidak ada keputusan diambil di bawah pengaruh rasa lekat tidak teratur mana pun juga” (LR 21). Disadari bahwa di dalam mengolah hidup rohani, ada cacat